Tags

, ,

Banyak orang yang tidak sadar bahwa agama yang dipeluk oleh sebagaian besar penduduk Indonesia sekarang ini adalah merupakan agama asing atau agama import. Indonesia sendiri sebetulnya memiliki agama lokal yang merupakan produk asli Indonesia.

:mrgreen: Agama asli Indonesia? Baru dengar nih Mbah! Agama apaan tuh?

Wajar kalau Sampean tidak tahu. Maklum saja karena pengetahuan semacam ini tidak akan diajarkan di sekolah atau pendidikan resmi. Seperti halnya batik dan warisan budaya lainnya, agama lokal adalah warisan budaya non benda seperti filosofi, lagu daerah, ragam hias yang nyaris terlupakan.

:mrgreen: Untuk apa memeluk agama primitif kalau ada agama baru yang lebih baik?

Lha, agama jangan dipeluk peluk, nanti panas dan meleduk. Semua agama ada sisi indahnya dan sayang kalau sampai tidak tahu. Fanatisme buta menghalangi pengelihatan.

Ibarat pelajaran sejarah, apakah bangsa yang mengaku modern tidak mau belajar dari sejarah primitif? Apakah mempelajari sejarah jaman batu berarti mengajak seseorang untuk menjalankan kehidupan jaman batu? Mengenal agama lama adalah merupakah bagian dari pelajaran sejarah juga dan memahami perbedaan.

Ajaran, kitab suci dan nabi

:mrgreen: Apa sih ajaran, kitab suci serta  nama nabinya Mbah?

Agama lokal tumbuh dan berkembang secara alami di masyarakat, jadi hampir kebanyakan dari agama lokal tersebut tidak memiliki nabi dan juga  tidak sebagian besar juga tidak memiliki kitab suci.  Yang ada mungkin adalah guru atau pendiri dan sepenggal ajaran sederhana.

Filosofi ajarannya umumnya dituangkan dalam bentuk hikayat dan cerita. Kemudian pilar terpenting dari filosofi ajaran lama adalah ritual. Ritual umumnya berkaitan dengan perayaan keberhasilan panen yang berlimpah, tangkapan ikan, ruwat desa, bersih desa dll. Jadi dengan dengan ritual ini maka hubungan manusia dengan alam dan penciptanya akan terus terjaga.

Tentu saja yang saya tulis di atas adalah gambaran secara umum, atau gambaran awal. Sebagian lagi dari agama lokal tersebut ada yang memiliki ajaran yang cukup lengkap layaknya agama modern. Ajarannya umumnya tidak jauh dari 3 aturan dasar tentang hidup yaitu hubungan yang selaras antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya.

Sedikit catatan tambahan untuk sekedar perbandingan bisa saya ambil contoh agama Shinto yang ada di Jepang. Agama Shinto tersebut sama sekali tidak memiliki nabi ataupun kitab suci. Namun dengan segala kesederhanaannya agama asli di Jepang ini yang notabene adalah animisme tetap bertahan dan lestari sampai sekarang.  Tidak dibuang dan dicampakkan seperti yang terjadi di belahan wilayah lain. Selengkapnya tentang agama Shinto klik disini.

Beragam contoh agama lokal

Berikut adalah beberapa contoh agama lokal yang pernah ada ataupun masih ada di Indonesia. Sumbernya diambil dari Wikipedia, kecuali untuk agama terakhir adalah tambahan opini dari penulis.

  • Sunda Wiwitan
  • Agama Djawa Sunda
  • Buhun (Jawa Barat)
  • Kejawen Maneges
  • Parmalim
  • Kaharingan
  • Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara)
  • Tolottang (Sulawesi Selatan)
  • Wetu Telu (Lombok)
  • Naurus (pulau Seram, Maluku)
  • Aliran Mulajadi Nabolon
  • Marapu (Sumba)
  • Purwoduksino
  • Budi Luhur
  • Pahkampetan
  • Bolim
  • Basora
  • Samawi
  • Sirnagalih
  • Agama Bali *)

*) Agama Bali ini sudah berasimilasi  atau bercampur dengan agama asing yaitu Hindu dan secara keseluruhan dianggap sebagai agama Hindu. Namun dari  sudut ritual dan bahkan nama Tuhan sekalipun jelas diambil dari agama lokal. [Opini Wage Rahardjo]

Agama atau kepercayaan ?

:mrgreen: Ah, itu sih bukan agama Mbah, tapi cuma kepercayaan atau bahkan cuma kebiasaan/tradisi   semata.

Apa bedanya? Agama adalah juga merupakan kepercayaan bukan? Agama juga termasuk tradisi bukan? Apakah Hindu dan Buddha adalah merupakan agama atau kepercayaan? Jawabannya menurut Mbah malah lebih ngawur lagi, bukan termasuk agama ataupun kepercayaan tapi hanya sekedar cara hidup (way of life) semata.

Tetangga saya malah memiliki pendapat lebih extrame dan mencengangkan, agama itu cuma ada satu saja dan yang lainnya tidak lebih dari AJARAN SESAT. Nah lho?!

Terancam punah ?

:mrgreen:  Kenapa agama lokal ini tidak populer ?

Salah satu penyebab kurang populernya agama lokal ini adalah tidak lepas karena peraturan atau kebijakan dari pemeritah, yaitu tidak mengakuinya sebagai agama resmi namun menganggolongkannya sebagai kepercayaan semata.  Kemudian situasinya menjadi semakin sulit karena masyarakat sendiri nyaris tidak memberi peluang untuk tumbuh dan berkembanganya agama lama ini bahkan tidak jarang menganggapnya sebagai agama atau aliran sesat.

Mereka jelas bukan ajaran sesat karena keberadaan mereka sebetulnya sudah dijamin oleh UU. Namun UU tetaplah hanya sebatas text dan kata kata semata karena kenyataannya keberadaan mereka adalah terpinggirkan atau bahkan lebih tepat disebut dicurigai. Aktivitas ataupun organisasi mereka dipastikan haruslah terdaftar resmi, mendapat ijin dari berbagai departemen dan istansi. Namun walaupun sudah memiliki ijin resmi, reaksi masyarakat ataupun aparat di lapangan kerap  berbeda.

Pemerintah sendiri dari awal hanya mengakui 5 agama resmi saja. Bebebrapa tahun belakangan ini menambah satu agama resmi sehingga totalnya menjadi 6 agama. Seperti yang sudah diketahui, satu tambahan agama resmi ini lagi lagi adalah agama asing.

:mrgreen: Dari sekian banyak agama lokal yang ada, mana saja yang masih ada dan mana yang sudah punah?

Dari sisi legalitas hukum, semua agama lokal tersebut bisa dikatakan sudah punah. Walaupun kenyataannya masih bisa ditemukan di suatau wilayah yeah dianggap “tidak pernah ada”. Lha, buktinya “agama resmi” yang diakui dan masuk kolom KTP tidak lebih dari 5 atau 6 agama saja dan itupun tidak ada satupun yang termasuk golongan agama lokal alias import semua. Nah bukankah itu namanya sudah dianggap punah?

Untuk mendapat legalitas resmi, beberapa agama tertentu seperti Kaharingan, `terpaksa` harus  bergabung  dengan agama Hindu. Kemudian agama Parmalim di Batak memilih tetap bertahan dengan agama lamanya, namun untuk urusan KTP ya terpaksa harus memilih agama lain sebagai identitas.

…………………………………………………………..

LAMPIRAN: 

Daftar Aliran/Penghayat Kepercayaan Indonesia

DIY Yogyakarta

  1. No. 1.004/F.6/F.2/1980 – Angesti Sampurnaning Kautaman
  2. No. 1.995/F.6/F.2/1980 – Anggayuh Panglereming Napsu (APN)
  3. No. 1.018/F.6/F.2/1980 – Hak Sejati
  4. No. 1.019/F.6/F.2/1980 – Hangudi Bawana Tata Lahir dan Batin
  5. No. 1.025/F.6/F.2/1980 – Imbal Wacono
  6. No. 1.036/F.3/N.1/1982 – Kasampurnan Jati
  7. No. 1.198/F.3/N.1/1982 – Kelompok Setu Pahing
  8. No. 1.054/F.6/F.2/1980 – Mardi Santosaning Budi (MSB)
  9. No. 1.227/F.3/N.1/1982 – Minggu Kliwon
  10. No. 1.060/F.6/F.2/1980 – Ngesi Roso Sejati
  11. No. 1.059.F.6/F.2/1980 – Ngesti Roso
  12. No. 1.067/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Jawi Lugu
  13. No. 1.073/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Kawruh Hardo Puruso

DIY dan Jawa Timur

  1. No. 1.070/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Kebudayaan Jawi (PKD)
  2. No. 1.166/F.3/N.1/1981 – Paguyuban Keluarga Besar Keris Mataram
  3. No. 1.153/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Kerabat Anurogo Sri Sadono
  4. No. 1.085/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Rebo Wage
  5. No. 1.199/F.3/N.1/1982 – Paguyuban Sangkara Muda
  6. No. 1.164/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Tata Tentrem (Patrem Indonesia)
  7. No. 1.087/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Traju Mas
  8. No. 1.100/F.6/F.2/1980 – Perguruan Das
  9. No. 1.108/F.6 /F.2/1980 – Persatuan Eklasing Budi Murko
  10. No. 1.130/F.6/F.2/1980 – Sumarah Purbo
  11. No. 1.135/F.6/F.2/1980 – Tuntunan Kerohanian Sapta Darma
  12. No. 1.141/F.6/F.2/1980 – Yayasan Sosrokatono

DIY Jakarta

  1. No. 1.105/F.6/F.2/1980 – Aliran Kebatinan Perjalanan
  2. No. 1.009/F.6/F.2/1980 – Budi Luhur (Kawruh Kasampurnan Sangkan
    Paran Budi Luhur)(26)
  3. No. 1.013/F.6/F.2/1980 – Forum Sawyo Tunggal
  4. No. 1.014/F.6/F.2/1980 – Gayuh Urip Utami (Gautamai)
  5. No. 1.024/F.6/F.2/1980 – Himpunan Amanat Rakyat Indonesia (HARI)
  6. No. 1.057/F.6/F.2/1980 – Marsudi Kalahuring Budi Pekerti
    (Mekar Budi)
  7. No. 1.218/F.6/F.2/1982 – Musyawarah Agung Warna (MAWAR)
  8. No. 1.053/F.6/F.2/1980 – Ngudi Kawruh Rasa Jati
  9. No. 1.063/F.6/F.2/1980 – Organisasi Kebatinan Satuan Rakyat
    Indonesia Murni (Sri Murni)
  10. No. 1.069/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Kabatinan Ilmu Hak
  11. No. 1.178/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Ki Ageng Selo
  12. No. 1.099/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Penghayat Kapribaden
  13. No. 1.086/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Sumarah
  14. No. 1.079/F.6/F.2/1980 – Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal)
  15. No. 1.093/F.6/F.2/1980 – Pangudi Ilmu Kebatinan Intisarining Rasa (PIKIR)
  16. No. 1.094/F.6/F.2/1980 – Pangudi Ilmu Kepercayaan HidupSempurna (PIKHS)
  17. No. 1.104/F.6/F.2/1980 – Perhimpunan Peri Kemanusian
  18. No. 1.185/F.6/F.2/1981 – Persatuan Warga Theosofi Indonesia
  19. No. 1.177/F.6/F.2/1981 – Pran-Suh (Ngesti Kasampurnaan)
  20. No. 1.110/F.6/F.2/1980 – Purbaning Lampang Sejati
  21. No. 1.124/F.6/F.2/1980 – Sastra Jendra Hayningrat Pangruktining
  22. No. 1.119/F.6/F.2/1980 – Sri Langgeng
  23. No. 1.107/F.6/F.2/1980 – Susila Budhi Dharma (SUBUD)
  24. No. 1.133/F.6/F.2/1980 – Tri Sabda Tunggal
  25. No. 1.134/F.6/F.2/1980 – Tunggal Sabda Jati
  26. No. 1.140/F.6/F.2/1980 – Wisma Tata Naluri

Jawa Barat

  1. No. 1.159/F.6/F.2/1980 Aliran Kepercayaan Aji Dipa
  2. No. 1.195/F.3/N.1/1982 Aliran Kepercayaan Lebak Cawene
  3. No. 1.010/F.6/F.2/1980 Budi Rahayu
  4. No. 1.192/F.3/N.1/1982 Paguyuban Adat Cara Karuhun
  5. No. 1.158/F.6/F.2/1980 Perjalanan Budi Daya

Jawa Tengah

  1. No. 1.007/F.6/F.2/1980 Badan Kebatinan Indonesia
  2. No. 1.144/F.6/F.2/1980 Badan Keluarga Kebatinan Wisnu
  3. No. 1.213/F.3/N.1/1982 Elang Mangku Negara
  4. No. 1.216/F/3/N.1/1982 Hak (Kawruh Hak)
  5. No. 1.021/F.6/F.2/1980 Hidayat Jati Ranggawarsita
  6. No. 1.022/F.6/F.2/1980 Hidup Betul
  7. No. 1.209/F.3/N.1/1982 Himpunan Kebatinan Rukun Wargo
  8. No. 1.193/F.3/N.1/1982 Ilmu Kasampurnan Jati
  9. No. 1.207/F.3/N.1/1982 Jaya Sampurna (Pamungkas Jati Titi Jaya Sampurna)
  10. No. 1.174/F.6/F.2/1980 Kalimasada Rasa Sejati
  11. No. 1.154/F.6/F.2/1980 Kapribaden (Kawruh Kapribaden)
  12. No. 1.115/F.6/F.2/1980 Kasampurnan
  13. No. 1.163/F.3/N.1/1981 Kawruh Naluri Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan Jati
  14. No. 1.045/F.6/F.2/1980 Kawruh Roso Sejati
  15. No. 1.169/F.3/N.1/1981 Kawruh Urip Sejati
  16. No. 1.031/F.6/F.2/1980 Kejaten
  17. No. 1.047/F.6/F.2/1980 Kejawen
  18. No. 1.150/F.6/F.2/1980 Kejiwaan
  19. No. 1.173/F.3/N.1/1981 Langgeng Suci
  20. No. 1.170/F.3/N.1/1981 Mustiko Sejati
  21. No. 1.061/F.6/F.2/1980 Ngudi Utomo
  22. No. 1.187/F.3/N.1/1981 Paguyuban Anggayuh Katentremaning Urip (AKU)
  23. No. 1.217/F.3/N.1/1982 Paguyuban Budi Sejati
  24. No. 1.194/F.3/N.1/1982 Paguyuban Hastho Broto
  25. No. 1.042/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kawruh Kodrating Pangeran
  26. No. 1.075/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kolowargo Kapribaden
  27. No. 1.077/F.6/F.2/1980 Paguyuban Muda Dharma Indonesia
  28. No. 1.223/F.3/N.1/1982 Paguyuban Ngesti Jati
  29. No. 1.175/F.3/N.1/1981 Paguyuban Olah Rasa Mulat Sarira Ngesti Tunggal
  30. No. 1.083/F.6/F.2/1980 Paguyuban Pangudi Kawruh Kasuksman Panungalan
  31. No. 1.102/F.6/F.2/1980 Paguyuban Trijaya
  32. No. 1.167/F.3/N.1/1981 Paguyuban Ulah Rasa Batin (PURBA)
  33. No. 1.186/F.3/N.1/1981 Paguyupan Jawa Naluri
  34. No. 1.206/F.3/N.1/1982 Pangudi Rahayung Budhi (PRABU)
  35. No. 1.095/F.6/F.2/1980 Pangudi Rahayuning Bawana (PARABA)
  36. No. 1.080/F.6/F.2/1980 Papandaya
  37. No. 1.098/F.6/F.2/1980 Pembangunan Kebatinan Kepribadian Rakyat Indonesia Badan Kejawan (PERKRI)
  38. No. 1.188/F.3/N.1/1981 Penghayat Kepercayaan Paguyuban Noermanto (PKPN)
  39. No. 1.106/F.6/F.2/1980 Perjalanan Tri Luhur
  40. No. 1.214/F.3/N.1/1982 Persatuan Resik Kubur Jero Tengah
  41. No. 1.109/F.6/F.2/1980 Pirukunan Kawulo Manembah Gusti (PKMG)
  42. No. 1.222/F.3/N.1/1982 Pramono Sejati
  43. No. 1.210/F.3/N.1/1982 Pribadi
  44. No. 1.111/F.6/F.2/1980 Purwo Ayu Mardi Utomo
  45. No. 1.212/F.3/N.1/1980 Ratu Adil
  46. No. 1.123/F.6/F.2/1980 Saserepam Kepribadian Intisari (SKI‘45)
  47. No. 1.172/F.3/N.1/1981 Saserepan ’45
  48. No. 1.120/F.6/F.2/1980 Satana Dharma Majapahit dan Pancasila (SADHAR MAPAN)
  49. No. 1.126/F.6/F.2/1980 Setia Budi Perjanjian 45 (SBP 45)
  50. No. 1.215/F.3/N.1/1982 Sukma Sejati
  51. No. 1.208/F.3/N.1/1982 Tujuh Mulya
  52. No. 1.196/F.3/N.1/1982 Waspodo
  53. No. 1.211/F.3/N.1/1982 Wayah Kaki
  54. No. 1.139/F.6/F.3/1980 Wratama Wedyanantama Karya
  55. No. 1.171/F.3/N.1/1981 Wringin Seta

Jawa Timur

  1. No. 1.152/F.6/F.2/1980 Aliran Kebatinan Tak Bernama
  2. No. 1.003/F.6/F.2/1980 Aliran Seni dan Kepercayaan TerhadapTuhan YME
  3. No. 1.006/F.6/F.2/1980 Babagan Kasampunan
  4. No. 1.116/F.6/F.2/1980 Badan Kebatinan Rila
  5. No. 1.128/F.6/F.2/1980 Budi Rahayu
  6.  No. 1.011/F.6/F.2/1980 Cakramanggilingan
  7. No. 1.122/F.6/F.2/1980 Dasa Sila
  8. No. 1.155/F.6/F.2/1980 Himpunan Murid dan Wakil Murid Ilmu SejatiR. Rawiro Utomo (HIMUWIS RAPRA)
  9. No. 1.026/F.6/F.2/1980 Induk Wago Kawruh Utomo
  10. No. 1.143/F.6/F.2/1980 Jawi Wisnu
  11. No. 1.027/F.6/F.2/1980 Jendra Hayuningrat Widada Tunggal (PANDHAWA)
  12. No. 1.030/F.6/F.2/1980 Kahuripan
  13. No. 1.157/F.6/F.2/1980 Kapitayan
  14. No. 1.034/F.6/F.2/1980 Kapribaden Upasana
  15. No. 1.037/F.6/F.2/1980 Kasampunan Ketuhanan Awal &Akhir
  16. No. 1.156/F.6/F.2/1980 Kepercayaan Sapta Darma Indonesia
  17. No. 1.049/F.6/F.2/1980 Ketuhanan Kasampurnan
  18. No. 1.050/F.6/F.2/1980 Kodrattolah Manembah Goibing Pangeran
  19. No. 1.055/F.6/F.2/1980 Margo Suci Rahayu
  20. No. 1.066/F.6/F.2/1980 Paguyuban Darma Bakti
  21. No. 1.086/F.6/F.2/1980 Paguyuban Ilmu Sangkan Paraning Dumadi Sanggar Kencono
  22. No. 1.071/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kawruh Batin “101″
  23. No. 1.072/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kawruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan
  24. No. 1.028/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kawruh Kabatinan Jiwo Lugu
  25. No. 1.074/F.6/F/2/1980 Paguyuban Kawruh Murti Tomo WasitoTunggal
  26. No. 1.121/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kawruh Sangkan Paran Kasampurnan
  27. No. 1.191/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kawruh Sasongko
  28. No. 1.051/F.6/F.2/1980 Paguyuban Lebdho Guno Gumelar
  29. No. 1.076/F.6/F.2/1980 Paguyuban Manunggaling Karso
  30. No. 1.078/F.6/F.2/1980 Paguyuban Ngesti Budi Sejati
  31. No. 1.082/F.6/F.2/1980 Paguyuban Pangudi Katentreman (PATREM)
  32. No. 1.176/F.3/N.1/1981 Paguyuban Satriyo Mangun MardikoDununge Urip
  33. No. 1.088/F.6/F.2/1980 Paham Jiwa Diri Pribadi
  34. No. 1.182/F.6/F.2/1980 Panembah Jati
  35. No. 1.092/F.6/F.2/1980 Pangrukti Memetri Kasucian Sejati (PAMEKAS)
  36. No. 1.092/F.6/F.2/1980 Pelajar Kawruh Jiwo
  37. No. 1.101/F.6/F.2/1980 Perguruan Ilmu Sejati
  38. No. 1.103/F.6/F.2/1980 Perhimpunan Kemanungsan
  39. No. 1.180/F.6/F.2/1980 Perhimpunan Kepribadian Indonesia
  40. No. 1.113/F.6/F.2/1980 Purwaning Dumadi Kautaman (PDKK)
  41. No. 1.117/F.6/F.2/1980 Rasa Manunggal
  42. No. 1.132/F.6/F.2/1980 Sujud Manembah Bekti
  43. No. 1.132/F.6/F.2/1980 Tri Murti Naluri Majapahit
  44. No. 1.138/F.6/F.2/198 Urip Sejati

Luar Jawa

  1. No. 1.001/F.6/F.2/1980 Adat Lawas (Kaltim)
  2. No. 1.146/F.6/F.2/1980 Aliran Mulajadi Nabolon 3 (Sumut)
  3. No. 1.202/F.3/N.1/1982 Ata kahfi (NTT)
  4. No. 1.221/F.3/N.1/1982 Babolin (Kalteng)
  5. No. 1.219/F.3/N.1/1982 Babukung (Kalteng)
  6. No. 1.226/F.3/N.1/1982 Basora (Kalteng)
  7. No. 1.225/F.3/N.1/1982 Bolin (Kalteng)
  8. No. 1.020/F.6/F.2/1980 Budi Suci (BALI)
  9. No. 1.161/F.6/F.2/1980 Cahaya Kasuma (Sumut)
  10. No. 1.200/F.3/N.1/1982 Era Mula Watu Tana (NTT)
  11. No. 1.162/F.6/F.2/1980 Galih Puji Rahayu (Sumut)
  12. No. 1.016/F.3/F.2/1980 Golongan Si Raja Batak (Sumut)
  13. No. 1.201/F.3/N.1/1982 Guna Lero Wulan Dewa Tanah Ekan (NTT)
  14. No. 1.163/F.6/F.2/1980 Habonaron Do Bona (Sumut)
  15. No. 1.224/F.3/N.1/1982 Hajatan (Kalteng)
  16. No. 1.023/F.6/F.2/1980 Hidup Sejati (NTB)
  17. No. 1.190/F.3/N.1/1981 Ilmu Goib (Lampung)
  18. No. 1.197/F.3/N.1/1982 Ilmu Goib Kodrat Alam (Lampung)
  19. No. 1.204/F.3/N.1/1982 Jingitiu (NTT)
  20. No. 1.147/F.6/F.2/1980 Kaharingan Dayah Luwangan (Kalteng)
  21. No. 1.029/F.6/F.2/1980 Kaharingan Dayak Maanyan Banna 5, Paju 4, dan Paju 10 (Kalsel)
  22. No. 1.148/F.6/F.2/1980 Kaharingan Dayak Maanyan Piumbung (Kalteng)
  23. No. 1.184/F.3/N.1/1981 Kekeluargaan (BALI)
  24. No. 1.149/F.6/F.2/1980 Kepercayaan A. Halu (Kalteng)
  25. No. 1.015/F.6/F.2/1980 Kepercayaan G. Adat Musi (Sulut)
  26. No. 1.203/F.3/N.1/1982 Lera Wulan Tana Ekan (NTT)
  27. No. 1.032/F.6/F.2/1980 Magapokan (BALI)
  28. No. 1.052/F.6/F.2/1980 Mangimang Sumabu Duata (Sulut)
  29. No. 1.205/F.3/N.1/1982 Marapu (NTT)
  30. No. 1.220/F.3/N.1/1982 Ngoja (Kalteng)
  31. No. 1.081/F.6/F.2/1980 Paguyuban Pendidikan Ilmu Kerohanian (PPIK) (Lampung)
  32. No. 1.127/F.6/F.2/1980 Paompungan (Sulut)
  33. No. 1.165/F.6/F.2/1980 Persatuan Aliran Kepercayaan Krida Sempurna (Sumsel)
  34. No. 1.065/F.6/F.2/1980 Pompungan Waya Si Opo Ompung (Sulut)
  35. No. 1.189/F.3/N.1/1981 Purwo Deksono (Lampung)
  36. No. 1.112/F.6/F.2/1980 Purwo Madio Wasono (Sumut)
  37. No. 1.118/F.6/F.2/1980 Ramuat Ali Marie, Ayas, Ilfried (RAMAI) (Sulut)
  38. No. 1.008/F.6/F.2/1980 Silima/Pamena (Sumut)
  39. No. 1.136/F.6/F.2/1980 Ugamo Parmalin Budaya Adat Batak (Sumut)
  40. No. 1.142/F.6/F.2/1980 Wisnu Budha/Eka Adnyana (BALI)

Lain-Lain

  1. Agama Jawa Asli Republik Indonesia
  2. Dununge Urip.
  3. Ilmu Sejati
  4. Ilmu Sejati Prawiro Sudarso
  5. Kawruh Budhi Jati
  6. Kawruh Guru Sejati Kawedar (KGSK)
  7. Kawruh Kasunyatan Kasampurnan Pusoko Budi Utomo
  8. Kawruh Kebatinan Gunung Jati
  9. Kawruh Panggayuh Esti
  10. Kawula Warga Naluri
  11. Kebatinan 9 Pambuka Jiwa
  12. Maneges
  13. Memayu Hayuning Bawono
  14. Nge`lmu Beja-Mulur Mungkret
  15. Paguyuban Pambuka Das Sanga
  16. Pamengku
  17. Pana Majapahit
  18. Podo Bongso
  19. Purbokayun
  20. Sangkan Paraning Dumadi (Sri Jayabaya) 
  21. Tri Tunggal Bayu

Referensi: Lampiran Data ini didapat/dicopy dari (matur nuwun)

………………………………………………………………………….

SEPENGAL OPINI

  1. Tulisan ini bukan mengajak pembaca untuk beralih ke agama lokal tapi untuk menggugah rasa toleransi tentang keberagaman.
  2. Tulisan ini juga bermaksud memberikan  pengetahuan tambahan pada pembaca tentang warisan budaya spiritual yang hampir dipastikan tidak mungkin tidak didapatkan di bangku sekolah.
  3. Tulisan ini ada baiknya dianggap tidak lebih seabgai dari catatan sejarah belaka. Ibarat pelajaran sejarah jaman batu yang diterima di sekolah bukan berarti mengajak para pelajar untuk kembali ke jaman batu bukan?

Disalin, dirangkum dan disajikan ulang oleh:

. . . . . . . . . o O o . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

About these ads