Hukum Karma (1) Konsep dan Filosofinya

Artikel Unggulan pilihan dongeng budaya

220px-Red_AppleHukum Karma (selanjutnya ditulis Karma) adalah ajaran moral tentang perbuatan, yang umumnya dianalogikan dengan buah (fruit). Karma adalah buah dari perbuatan. Apa yang kita tanam maka buah itulah yang akan kita petik nanti. Istilah lain dari Karma adalah Kamma (bhs Pali) atau Karma Phala (bhs Jawa/Bali kuno).

Phala artinya buah dan kata juga dipakai oleh Gajah Mada saat mengucapkan sumpah terkenalnya yaitu sumpah Phala-pa. Turunan lain dari kata Phala adalah Pahala yang artinya imbalan  yang berhubungan dengan moral (merit, reward).

Konsep dan Filosofi Dasar

Sebab dan akibat, aksi dan reaksi

Perbuatan baik akan menghasilkan buah yang baik dan sebaliknya perbuatan jelek akan menghasilkan buah yang jelek. Ini adalah konsep paling dasar dan sederhana dari hukum karma.  Terlepas dari apapun kepercayaan atau agamanya, percaya Tuhan ataupun tidak, sepertinya hampir semua orang pasti menyetujuinya.

Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Anak yang rajin belajar, ulet dan tahan banting di masa kecil akan berpotensi menjadi anak yang pintar dan sukses di masa depan. Orang yang tidak peduli atau mengabaikan kesehatan di masa muda akan menderita  masalah kesehatan di hari tua.

Cepat atau lambat pasti akan berbuah

Setiap perbuatan, cepat atau lambat akan memberikan efek bagi yang melakukan.  Efeknya bisa cepat dan seketika ataupun lambat. Contohnya adalah orang makan cabai., langsung pedas setelah dimakan. Kemudian pola hidup tidak sehat,  makanan  berlemak dan berkoleserol tinggi akibatnya akan terasa disaat  tua nanti.

Tidak akan hilang atau terhapus

Karma adalah hukum alam yang tidak akan bisa dihapus atau dibatalkan.  Sang Pencipta adalah Maha Pengasih dan Penyayang tapi  karma atau perbuatan itu sendiri dilakukan oleh manusia bukan oleh Sang Pencipta jadi  tanggung jawab sepenuhnya ada pada manusia pelakunya.

Sembahyang atau berdoa memohon ampunan  pada Tuhan adalah penting tapi tetap saja tidak akan bisa menghapus karma. Doa hanyalah sebagai janji atau ikrar pengingat agar tidak mengulanginya, membuat jiwa menjadi lebih tenang dan jernih bukan memohon agar dosa terhapus, yang sama artinya memohon dunia berhenti berputar. Berdoa pada orang sakit atau diri sendiri adalah agar kuat menghadapi rasa sakit bukan agar dijauhi dari rasa sakit atau bahkan agar tidak memiliki rasa sakit, itu sama saja dengan mendoakan kematian.

Karma tidak bisa dihapus tapi hanya bisa diringankan dengan melakukan perbuatan baik. Contohnya kata kata pedas dan menyakitkan pada orang tua, istri atau  sahabat tetap akan membekas. Satu satunya cara hanyalah diringankan dengan melakukan kebaikan dalam bentuk lain yang jauh lebih banyak.

Tidak ada Dosa dan Pahala

Hukum karma menghindari penggunaan kata kata surga dan neraka, dosa dan pahala, sebagai gantinya digunakan kata  sebab dan akibat alias konsekuensi dari perbuatan. Karma juga tidak mengenal konsep Perintah dan Larangan, yang ada adalah himbauan.  Himbauan untuk berbuat baik, himbauan untuk tidak membunuh, himbauan untuk tidak mencuri dst. Bagaimana kalau dilanggar? Ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh pelakunya.

Posisi Tuhan menurut hukum karma adalah netral. Tuhan tidak akan menghukum seseorang karena berbuat jahat, tapi perbuatannya sendirilah yang akan menghukumnya, demikian juga sebaliknya untuk kebaikan. Jadi  Karma lebih menekankan pada KESADARAN dan rasa TANGGUNG JAWAB. Tanggung jawab kepada siapa? Ya, tentu saja kepada diri-nya sendiri, bertanggung jawab terhadap perbuatan yang telah dilakukannya sendiri.

Hukum Karma adalah Hukum Turunan?

:) Mbah, dari tadi aku belum menemukan sedikitpun penjelasan tentang dosa turunan. Apakah hukum Karma bisa menurun dari orang tua ke anaknya?

Hukum Karma memiliki banyak versi, ada yang percaya Karma turunan ada juga yang menolaknya. Beragam versi hukum karma saya tulis pada Hukum Karma II. Di tulisan ini saya menggunakan pendekatan versi yang menolak konsep Karma Turunan yang sekaligus juga berarti  menolak konsep Takdir dan Nasib.

Konsep dan Filosofi Advance

Sebab dan Akibat bukan Benar dan Salah

Di bagian atas saya sudah menulis konsep sederhana dari Karma yaitu  sebab dan akibat dalam arti sempit yaitu berhubungan dengan perbuatan baik atau tidak baik. Untuk definisi yang lebih luas, istilah  benar dan salah sama sekali tidak digunakan. Berikut adalah beberapa contoh.

Seorang anak menderita penyakit AIDS. Si anak salah? Jawabannya adalah TIDAK, karena si anak tertular dari ibunya saat melahirkan. Si ibu adalah wanita jalang? Tidak, karena si ibu adalah wanita baik hati yang tertular dari suaminya. Suami selingkuh atau suka jajan diluar? Tidak juga karena si Suami adalah orang soleh dan rajin sembahyang namun tertular saat melakukan tranfusi darah dikala opname saat kecelakaan diseruduk truk yang remnya blong.  Rumah sakit salah? Tidak juga karena ilmu kedokteran saat itu belum tahu tentang AIDS atau peralatan medisnya kurang. Jadi siapa yang benar dan siapa yang salah? Jawabannya adalah tidak ada, yang ada adalah hukum sebab akibat.

Contoh kedua, kalau mobil meluncur kencang ke sebuah warung penuh pengunjung, maka tidak ada istilah orang baik dan orang jahat, semuanya berpotensi kehilangan nyawa. Si sopir bisa jadi salah,  tapi apa urusannya dengan para korban?  Nyawa tetap saja tidak kembali. Takdir? Ini adalah jawaban paling mudah dan sering digunakan. Hukum Karma jelas jelas menolak  konsep takdir.  Tuhan tidak akan menciptakan takdir tapi manusialah yang membuatnya.  Jadi jawaban yang digunakan adalah sebab dan akibat.

Tiga Ruang Waktu Yang Selalu Berkaitan

Hukum Karma bekerja melalui 3 ruang waktu yang saling berkaitan yaitu masa lalu,  masa sekarang dan masa yang akan datang.

  1. Waktu Sekarang
    Dalam pengertian sempit, waktu sekarang bisa berarti detik ini,  hari ini, bulan ini, tahun ini dst. Sedangkan untuk pengertian yang luas, waktu sekarang berarti kehidupan di dunia saat ini.
  2. Waktu Esok
    Dalam pengertian sempit waktu esok bisa berarti minggu depan, tahun depan dst, sedangkan pengertian luas berarti dunia akhirat, surga atau neraka.
  3. Waktu Lampau
    Dalam pengertian sempit, waktu lampau berarti hari kemarin, minggu lalu, tahun  lalu dst, sedangkan untuk pengertian luas berarti kehidupan di masa lampau, kehidupan sebelum kita lahir alias `dunia Akhirat` juga.

`Akhirat masa lampau` ini mungkin tidak dikenal pada ajaran agama Abrahamik  jadi mereka hanya percaya 2 ruang waktu saja, yaitu hari ini dan hari esok  sehingga muncullah istilah Takdir atau Nasib. Dengan konsep 3 ruang waktu ini maka  kepercayaan tentang Takdir atau Nasib disingkirkan dan diganti dengan konsep Karma yaitu sebab dan akibat. Tidak ada kejadian tanpa sebab, bahkan kejadian alam, perubahan cuaca dst juga tidak lepas dari hukum sebab akibat.

Sekali lagi posisi Tuhan menurut Karma adalah NETRAL. Tuhan tidak akan membagi bagikan LOTRE KEHIDUPAN pada manusia dengan jalan membuat seseorang lahir di keluarga miskin atau kaya, lahir di keluarga raja atau lahir dari ibu seorang wanita tuna susila. Apakah si anak memilih kelahirannya atau Tuhan yang memilihkannya? Versi hukum Karma menjawab tidak, semuanya ditentukan oleh Karma.

Namun hukum Karma tidak bisa diterjemahkan serampangan.  Apakah orang yang lahir miskin dan menderita berarti dulunya jahat? Jawabannya sama dengan pertanyaan, “Apakah pelajar yang belajar keras, berpusing ria, menderita bangun pagi setiap hari adalah siswa jahat, sedangkan siswa yang malas dan bersenang senang adalah siswa baik?”. Artinya, untuk meraih kebahagian yang lebih tinggi, sesorang terkadang akan menjalani kehidupan yang “lebih rendah” dan menderita.

Masa Lalu atau Masa Sekarang?

:) Apakah penderitaan saya saat ini karena perbuatan saya di masa lalu atau cobaan untuk masa depan ?

Jawab: Tidak tahu. Karma bisa terjadi karena buah dari kejadian masa lalu jadi perbuatan negatif masa lalu berbuah sekarang.  Jadi hukum Karma bergerak ke belakang. Namun dilain pihak Karma juga bisa bergerak ke depan yaitu penderitaan yang kita alami saat ini kalau disikapi dengan bijak, tetap semangat dan pantang menyerah ataupun dijalankan dengan berbagai kegiatan positif lainnya maka dipastikan akan berbuah manis di masa depan.

Depan atau belakang, masa lalu atau masa kini, hanyalah sekedar istilah saja yang dibuat oleh si Mbah agar mudah dipahami. Apa itu depan dan apa itu belakang, sesungguhnya adalah tidak ada. Pada ajaran Karma mengenal konsep Maya atau Illusi kehidupan. Hari ini akan menjadi masa lalu di hari esok, hari esok juga akan menjadi masa lalu beberapa hari lagi. Jadi apa itu masa depan dan masa lalu? Jawabannya adalah Maya atau illusi alias tidak ada.

Kesialan kita saat ini seperti tewas diseruduk truk tanpa sebab bisa jadi akan melahirkan mukjizat di kehidupan yang akan datang. Dalam beberapa kecelakaan fatal dan mengerikan sering terjadi kasus korban yang selamat. Jadi hukum Karma bergerak ke depan. Orang yang sudah tua renta tapi masih semangat belajar hal baru dipastikan akan beraibat baik di kehidupan yang akan datang, seperti pintar sejak kecil dst.

:) Mbah, aku semakin bingung Nih! Aku sih setuju saja dengan konsep hukum Karma. Tapi masalahnya aku rada sulit untuk percaya dengan adanya kehidupan masa lalu alias reinkarnasi.

Reinkarnasi tidak perlu dipercayai tapi cukup dipahami esensinya saja yaitu mengajarkan seseorang untuk berbuat baik. Percaya ataupun tidak adalah kagak penting karena intinya tetap saja harus berbuat baik bukan? Ibarat proses terjadinya hujan, kadang kita sama sekali tidak peduli dengan prosesnya, karena yang lebih penting adalah agar tidak kehujanan seperti bawa payung dst. Percaya ataupun tidak percaya, hukum sebab akibat tetap akan bekerja sesuai dengan aturannya.  Tulisan di atas sudah saya bagi menjadi 2 yaitu konsep dasar dan advance jadi tinggal diambil bagian dasarnya saja dan buang bagian advance. Beres bukan?

OPINI PENUTUP

Apapun yang anda percayai intinya adalah sama saja dan yaitu tetap berbuat kebaikan dan selalu berfikir positif untuk hari esok.  Kepercayaan tidak akan mengirim Anda menuju Surga atau Neraka tapi Aksi atau perbuatannlah yang menyebabkannya. Perbuatan positif akan menghasilkan buah yang positif dan sebaliknya untuk perbuatan negatif.  Inilah esensi terpenting dari Hukum Karma. Anda setuju bukan?

Sumber image : Wikipedia, lychee tree

Catatan : Tulisan ini saya dedikasikan untuk seorang sahabat saya yang sedang berjuang melawan penyakit lever akut. Putra seorang pejuang kemerdekaan yang terlupakan  dan saat ini sedang bergulat menghadapi berbagai tekanan hidup yang nyaris tidak  bisa saya bayangkan. Tulisan ini juga dibuat atas permintaan beliau.

Catatan 2 : Tulisan telah diedit ulang tanggal 15 Oktober 2011. Bagian dosa/Karma Turunan dihapuskan dan dipindah ke : Hukum Karma bagian-2

About these ads

33 comments on “Hukum Karma (1) Konsep dan Filosofinya

  1. Al-haqq says:

    Semua ulasannya sungguh bermanfa’at bagi diri yg awam ini.

    Salam.

  2. andree vincentius says:

    salam… wah wah wah poro pinisepuh disini pembicaraannya berat menyentuh ma’rifat… saya jd seperti pohon kangkung .. menjadi bingung mencari intinya (galih)….

  3. Paman Dalbo says:

    Nuwun sewu..Merry Christmas ..

    @ Sdr Andree salam kenal..dan slamat bergabung di padepokan orang2 serba serbi ini,
    Galihe kang kung adalah awang uwung, kosong tapi ada, tapi kosong, meliputi segala wilayah ruang dan waktu.
    semoga bermanfaat.

    Asah asih asuh

    PD

  4. andree vincentius says:

    @Paman Dalbo.. matur nuwun sanget penjabarannya paman.. nambah bekal meneruskan perjalanan mencari sudutnya bola ping pong, … semangat…

Forum diskusi warga abal-abal.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s