Hachiko, Kisah Tentang Kesetiaan


True story. Dikalangan penduduk Jepang, sepertinya hampir tidak ada orang yang tidak mengenal nama anjing Hachiko.

Kisah nyata yang sangat mengharukan sehingga Departemen Pendidikan di negara tersebut sampai merasa perlu untuk memuat kisahnya pada buku pendidikan moral untuk anak sekolah di negeri tersebut. Sejumlah penulis asing juga beberapa kali pernah menuliskan kisahnya dan terakhir dirilisnya film “Hachi, A Dog’s Tale” yang dibintangi oleh aktor tenar Richard Gere, sehingga

membuat kisah anjing setia ini menjadi semakin terkenal.

Di salah satu stasiun kereta api di jantung kota Tokyo yaitu Shibuya, tempat kisah anjing ini terjadi, terdapat monumen patung Hachiko, sebagai penghormatan dan tanda simpati pada anjing setia ini. Kemudian National Science Museum of Japan pun bahkan merasa perlu untuk menyimpan dan mengawetkan kulit luar dari tubuh anjing tersebut.

:) Seperti apa sih kisahnya Mbah,  koq sepertinya heboh sekali? Lagian khan cuma seekor anjing?

Benar Nak, cuma kisah dari seokor anjing jadi tidaklah penting-penting amat. Bagi yang suka anjing ya tentu saja akan mengatakan kisahnya mengharukan, tapi bagi yang tidak doyan anjing atau bahkan benci ya kisah ini tidak ngaruh alias tidak memiliki efek atau pelajaran apapun. Nah agar tidak panjang, berikut adalah copy paste berikut ini.  Selamat mambaca !

Hachiko

Penulis : Unknown
Sumber : Unknown (terima kasih untuk penulis atau penerjemahnya)

Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api.. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.

Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.

Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko. Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.

Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.

Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan, “Saya akan menunggu tuan kembali”. “Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!” teriak pegawai kereta setengah berkelakar.

Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras, “guukh!” Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.

Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang
kebetulah lewat koridor kampus.

Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia. Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya..

Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian  dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.

Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.

Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.

Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.

Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya.. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.

Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang.. Akhirnya patung Hachiku pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati.

[END].

.

Foto dokumentasi (asli) anjing Hachiko


Posisi duduk Hachiko saat manunggu tuannya pulang


Menunggu dan mengunggu


Berkeliaran di sekitar stasiun. Kesetiaannya mulai menarik perhatian banyak orang. Sedikit perlu dicatat bahwa kisah ini terjadi di tahun 1930an. Di masa sekarang kisah ini tidak akan mungkin bisa terjadi karena anjing tidak boleh berkeliaran tanpa tali pengikat walaupun sudah  ditemani pemiliknya.


Foto setahun sebelum kematian. Lokasi pemotretan di kantor ruang stasiun

Setelah kematian


Masyarakat umum dan petugas stasiun memberikan penghormatan terakhir


Stasiun Sibuya di era tahun 1930an

Sumber image : Wikipedia
Kisah dokumentasi lengkap dan tahun kejadian bisa dibaca di Wikipedia

Richard Gare dengan anjing jenis Akita, ras yang sama dengan Hachiko.

Info Tentang Anjing Ras Jepang

Akita

Akita adalah nama ras anjing asal daerah Akita, salah satu wilayah sebelah utara Jepang. Anjing jenis ini adalah tipe anjing penjaga dan pekerja bukan anjing mainan  (toy dog) Berpostur besar, berkarakter keras  dan  sangat mandiri atau independen  relatif susah untuk dilatih dan tidak aman untuk orang atau binatang peliharaan lain. Video Akita.

Namun  karena type anjing penjaga  maka  Akita  adalah type anjing sangat setia pada majikan. Akita akan melindungi  habis habisan semua anggota keluarga pemiliknya dari bayi sampai orang tua, tanpa perlu dilatih sama sekali.  Kalau ada orang asing yang memukul salah satu anggota keluarga  atau bahkan memasuki daerah teritori-nya maka Akita bisa menyerang  tanpa  diperintah. Jadi Akita sangat tidak disarankan untuk dimiliki oleh para pemula.

Tentu saja si anjing sangat aman untuk anak sendiri [Video] tapi sangat tidak aman untuk anak tetangga, terlebih kalau si anak suka berkelahi, maka si anjing akan selalu datang melindungi majikannya.

Kesetiaan pada majikan  inilah  (mungkin) salah satu penyebab anjing Hachiko sulit untuk diadopsi oleh keluarga lain dan harakter-nya  independen diduga menyebabkan anjing ini mampu  secara rutin dan mandiri  tetap kembali ke stasiun  pada waktu jam karyawan pulang kerja, menunggu tuannya pulang, dengan posisi duduk yang selalu sama. (penerawangan versi Mbah)

Shiba

Ras anjing lain yang juga asli  negara tersebut adalah Shiba, yang memiliki penampilan sangat mirip dengan Akita tapi memiliki postur tubuh lebih kecil  dan mudah dipelihara.

Referensi :

About these ads

18 thoughts on “Hachiko, Kisah Tentang Kesetiaan

  1. Yth, Mbah Wage,
    Wah Saya Benar2 Salut Sekali untuk artikel tersebut……Kiranya Kita bisa mengkaji diri sendiri Loh Pak,Loyalitas juga Kesabaran dan keberanian yg bermakna ada dlm kandungan Artikel tersebut dan Pantas Kita tiru,krn sdh jarang Kita Para Manusia yg Amanah dan jg menjunjung tinggi apa yg dibahas dalam Artikel tersebut loh….Kiranya Para Manusia Malu pada Diri sendiri.!!
    Binatang Aja bisa kenapa Manusia tidak bisa Padahal Kita Berakal dan Berbudaya…
    Mhn Maaf bukannya Saya menginprooff org akan menjadi Anjinggnya,he.he.he….
    2 Thumbs Up for this……….Thank’s

    :)Reply: Sesama mahluk hidup sepertinya kita harus saling belajar.

  2. Manusia diberikan nalar yang lebih dibandingkan dengan mahkluk lain dimuka bumi ini, tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar dari mahkluk lain. Saya suka sekali dengan kisah ini, menujukan character kesetiaan yang sangat tinggi yang tanpa pamrih. Seharusnya kita bisa belajar dari Hachiko.

    Tulisan Mbah selalu menarik….

    :lol: Reply: Asukirik, beribu ribu terima kasih atas kunjungannya. Si Mbah kadang berfikir, anjing sepertinya lebih tahu diri dibandingkan dengan manusia. Salam

  3. ternyata mengharukan ya…………. sampai saya mengeluarkan air mata

    ;)Reply: Kisahnya memang sangat mengharukan. Saya yang cowok saja berulang kali menangis membacanya. Terima kasih atas kunjungannya. Salam

  4. cerita yang mengharukan
    saya sangat kagum dengan kesetiaan hachiko
    saat ini saya membaca dan menulis komentar sambil menangis…….

    dulu saya juga punya anjing,,,,, kesetiaannya yang membuat saya tidak bisa melupakannya,,, umurnya 1 tahun lebih tua dari saya, namanya Boy…. dia sudah saya anggap sebagai anggota keluarga,

    waktu itu saya masih tk, ketika saya harus pulang dari rantauan bersama keluarga, saya berngkat tanpa membawa boy… org tua saya tidak mengijinkan untuk membawanya. mereka bilang, saya bisa menemui boy lagi..
    karena saya belum bisa berpikir, saya percaya, saya hanya pergi sebentar dan bisa kembali lagi ke sana. tapi kenyataannya saya pergi untuk waktu yang lama…….. Boy dititip di sana, tetangga saya yg iba bergantian merawatnya bahkan kadang tidak ada yg memperhatikannya…saya yakin itu.
    saya sangat menyesal, karena saya sangat bodoh,, saya meninggalkan boy, sahabat saya dari kecil.

    setelah 7 tahun,, saya kembali untuk berkunjung, saya sangat senang karena kemungkinan saya bisa bertemu dengan boy lagi.
    tapi Boy sudah meninggal. ada fotonya saat dia selalu menunggu di depan rumah yang saya tempati dulu. dia meninggal seperti hachiko..

    tidak ada teman yg sperti boy….
    maaf… jika komentar saya sangat panjang…..

    :lol: Reply: Terima kasih Sdri Abdi Rossa atas kunjungan dan komentarnya yang Ok. Komentarnya walau panjang namun enak dibaca. Cerita Hachiko ini memang akan lebih menyentuh dan menorehkan kesan mendalam bagi mereka yang pernah memiliki binatang peliharaan. Berbahagialah bagi mereka yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang terhadap mahluk hidup lainnya. salam wage

  5. Terharu banget baca cerita ini…
    bener” gag xangka ad anjing yg bgitu setia dengan majikannya…
    andai ada org yg memiliki sifat sperti Hachiko yg begitu setia..

    :lol: Reply: Maturnuwun Sdr Sisca. Anjing setia pada majikan, semua penggemar anjing juga tahu. Tapi cerita Hachiko adalah ajab dan telah memberikan pelajaran berharga bagi banyak orang. salam

  6. tak terasa air mata ini tak sanggup tertahan terberai bersama nurani begitu pekahnya insting seekor anjing sekian lama menunggu sang tuan hingga akhir hayatnya…filem ini sesekali kubuka lagi jika aku sudah terlalu jauh pergi dari hati dan selalu berkiprah pada nurani…

    Reply: :lol:

  7. Jadi ingat anjingku Mbah, di kampung…dia juga sangat setia…seperti Hachiko…namun makna yg lbh dalam…nilai sempurna utk sebuah “kestiaan”…salam…

    :mrgreen: Reply: salam juga bang abal. Beruntunglah abang telah dikarunia memori yang indah tentang kehidupan.

  8. Salam Mbah Wage……….

    Subhanallah….Allah hu Akbar….Tuhan Maha Besar…..contoh suri tauladan yang datang dari Tuhan dari binatang yang diharamkan suatu agama……

    Ketika saya nonton film ini sempat mengeluarkan air mata , sangat terharu dan bahkan ketika membaca artikel diatas tetap saja air mata akan keluar…….hhmmmm .cengeng

    Artikel diatas ibarat kesetiaan jasad kita yang selalu menenami kita dalam hidup sehari hari maka dan wajib hukumnya jasad untuk setia kepada kata hati nurani dan juga sebaliknya kita yang menjaga tubuh jasad kita, saling setia supaya menemukan makna kesadaran dan hakekat hidup…….salam setia sampai ajal menjemput…..

    • Cerita dan terlebih lagi kalau ditambah dengan nonton filmnya Hachiko maka dijamin akan menguras air mata, terlebih lagi bagi para penyayang binatang, mereka yang (masih) memiliki nurani dan bagi mereka yang … cengeng dan sentimentil…wakakakkk.

      Tapi kalau nurani babal dan tumpul, yang keluar cuma air mata buaya. ha…ha….

      Sedangkan bagian bahasan lanjutannya tentang kesetiaan jasad, hanya bisa menyimak doang tanpa bisa menanggapi. Ini bukan komentar biasa lagi tapi sudah masuk tahap ilmu GEROBAK DEWA nih. Asik, ilmunya mulai dibuka sedikit demi sedikit. salam

    • Salam Mbah Wage……

      Waaah, urusan kesetiaan jasad….he he he tidak bisa diceritakan. itu hanya cerita dongeng saja , peristiwanya tidak bisa dinalar , materi kurikulum ilmu ini dihapus saja , bikin kepala kliyengan…..salam rahayu..

  9. @Mas gerobak,

    Anda ini diminta untuk … mendongeng saja lho …. Dongeng kan bisa, itu tadi, dongeng saja. Dan dongeng kan tidak harus di … nalar ! We lha, diminta mendongeng saja kok jadi … kancilen bin kliyengan ! …(-:

  10. Hachiko : Saya jadi ingat (alm) anjing herder saya dulu. Dia kena kanker stadium … akhir setelah bersama kami selama sebelas tahun lebih. Karena tak tahan melihatnya menderita – pendarahan dan kelumpuhan,plus matanya gak bercahaya lagi – saya terpaksa,menurut saran dokter hewan, meng ‘euthanasia’ nya, disuntik supaya … mati …..,untuk mengakhiri penderitaannya. Lalu dia dikremasi, abunya sampai sekarang masih saya simpan di kandangnya. Sang anjing masih bersama kami, di belakang rumah, di kandangnya. Cuma, dia gak kelihatan … Paling tidak dia masih hidup di … hati saya/kami .

  11. Meski sudah puluhan kali baca ceritanya n nonton filmnya, tp perasaaannya slalu sama..selalu sedih. Kapan ya saya bisa belajar jadi setia..gampang diucapkan namun selalu susah untuk dipraktekan..hmmm :(

    • Kisah tentang Hachiko memang menguras air mata. Namun bagi yang tidak suka dengan anjing ya mungkin saja tidak ngaruh. Selamat datang Sdr Ryo

  12. Kisah yg benar” menitikan air mata,bagi yg berpikir tentu tak sedikit hikmah yg bisa di ambil.
    Tapi bener kata Kang Wage,,Bagi pendogma yg memang dari sononya gak suka anjing.gak akan ngaruh.

    Salam Rahayu.

Mail, website dan/atau nama boleh dikosongkan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s