Sejarah Kebatinan Indonesia

Aliran kebatinan, Kejawen ataupun Kelompok Penghayat Kerpercayaan terhadap Tuhan YME adalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari spiritual masyarakat Indonesia. Yang menjadi pertanyaan menarik adalah sejak kapankah aliran kebatinan ini ada di Indonesia?

Pertanyaan ini sepertinya sangat sulit untuk dijawab, namun yang jelas, menutut catatan yang dibuat oleh peneliti asing seperti  S. De Jong, mencatat bahwa  di tahun 1870, untuk  propinsi Jawa Tengah tercatat sebanyak 286 organisasi kebatinan.  Kemudian di tahun 1970, untuk wilayah  Surakarta saja ada 13 organisasi kebatinan. Jumlah anggotanya beragam dan tidak jarang hanya beberapa kepala keluarga saja, walau ada juga kelompok kebinan yang memiliki anggota lebih besar. (S. De Jong)

Pada tanggal 19-20 Agustus 1955 di Semarang, sejumlah tokoh Kebathinan berkumpul dan mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 2.000 peserta yang mewakili 100 organisasi. Berawal dari pertemuan inilah akhirnya berhasil dibentuk suatu organisasi bernama Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI).

Beragam Aliran Kebatinan

Sejumlah nama kelompok Kebathinan yang bisa dicatat adalah:

  1. Hardapusara dari Purworejo
  2. Susila Budi Darma (SUBUD) yang asalnya berkembang di Semarang,
  3. Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) dari Surakarta
  4. Sapta Dharma
  5. Paguyuban Sumarah dan Sapta dari Yogyakarta.
  6. Penunggalan,
  7. Perukunan Kawula Manembah Gusti,
  8. Jiwa Ayu dan Pancasila Handayaningratan dari Surakarta,
  9. Ilmu Kebatinan Kasunyatan dari Yogyakarta,
  10. Ilmu Sejati dari Madiun; dan
  11. Trimurti Naluri Majapahit dari Mojokerto dll.

Daftar lengkap aliran kebatinan/Kejawen/ penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME bisa dilihat di link berikut: Ringkasan Agama Asli Indonesia. Dari sekian banyak kelompok kebathinan di atas, saya akan mencoba menuliskan beberapa saja yaitu: (Mohon  dikoreksi kalau ada kesalahan).

Hardapusara

Terbentuk tahun 1895 oleh Kyai Kusumawicitra, seorang petani desa kemanukan dekat Purworejo. Ia konon menapatkan ilmu dari menerima wangsit dan ajaran-ajarannya semula disebut Kawruh Kasunyatan Gaib. Para pengikutnya mula-mula adalah seorang priyayi dari Purworejo dan beberapa kota lain di daerah Bagelan kemudian berkembang dan memiliki cabang di berbagai kota di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jakarta. Jumlah anggotanya konon sudah mencapai beberpa ribu orang. Ajaran-ajarannya termaktub dalam dua buah buku atau kitab yaitu Buku Kawula Gusti dan Wigati.

Susila Budi  Dharma (SUBUD)

Didirikan pada tahun 1925 di Semarang, pusatnya sekarang berada di Jakarta. Kolompok ini enggan disebut budaya kebatinan, melainkan menamakan dirinya “Pusat Latihan Kejiwaan”. Anggota-anggotanya yang berjumlah beberapa ribu itu tersebar di berbagai kota diseluruh Indonesia.  Doktrin ajaran organisasi itu dimuat dalam buku berjudul Susila Budhi Dharma; kecuali itu gerakanan itu juga menerbitkan majalah berkala berjudul pewarta Kejiwaan Subud.

Diantara beragam kelompok kebatinan yang ada, Subud mungkin adalah satu satunya yang kelompok yang sukses dan mampu berkembang sampai ke luar negeri. Saat ini Subud memilki hampir 87 cabang di luar negeri.

Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu)

Pangestu didirikan di Surakarta pada bulan Mei 1949. Dasar ajarannya adalah berdasarkan wangsit yang diterima oleh tokoh bernama Soenarto. Wangsit tersebut oleh 2 orang pengikutnya kemudian dicatat dan diterbitkan menjadi sebuah buku/kitab yang disebut  Sasangka Djati.

Anggotanya cukup banyak yaitu berjumlah sekitar 50.000 orang tersebar di banyak kota di Jawa, terutama berasal dari kalangan priyayi. Namun anggota yang berasal dari daerah pedesaan juga banyak yaitu yang tinggal di pemukiman transmigrasi di Sumatera dan Kalimantan. Majalah yang dikeluarkan organisasi itu Dwijawara merupakan tali pengikat bagi para anggotanya yang tersebar itu.

Paguyuban Sumarah

Dibentuk oleh R. Ng. Sukirno Hartono dari Yogyakarta. Ia mengaku menerima wahyu pada tahun 1935. Pada kahir tahun 1940an gerakan itu mulai mundur, namun berkembang kembali tahun 1950 di Yogyakarta. Jumlah anggotanya kini sudah mencapai 115.000 orang baik yang berasal dari golongan priyayi maupun dari kelas-kelas masyarakat lain.

Sapta Dharma

Sapta Darma adalah yang termuda dari kelima gerakan kebatinan yang terbesar di Jawa yang didirikan tahun 1955. Yang unik, pendirinya yaitu Hardjosapoero atau nama panggilannya Pak Sapuro lahir pada tahun 1910 yang berasal dari Desa Sanding, daerah Kediri. adalah seorang BUTA HURUF! (Sumber:  Wikipedia).

Berbeda dengan keempat organisasi yang lain, Sapta Darma beranggotakan orang-orang dari daerah pedesaan dan orang-orang pekerja kasar yang tinggal di kota-kota. Walaupun demikian para pemimpinnya hampir semua priyayi. Buku yang berisi ajarannya adalah Kitab Pewarah Sapta Dharma.

Demikianlah sekilas info tentang budaya kebatinan. Semoga ada manfaatnya.

Tulisan ini adalah ringkasan atau editan, yang sumbernya sebagian besar diambil dari http://www.kejawen.co.cc. Jadi bagi yang berniat mencopy paste, silahkan menuju ke link asalnya.

Referensi :

Sumber image : unknown (terima kasih untuk fotografer dan pemilik image)

About these ads

2 thoughts on “Sejarah Kebatinan Indonesia

  1. Wah ternyata yg ditunggu2 Tulisannya muncul Jg ya Mbah Wage?duh benar2 pengetahuan bgt bs tau ternyata Kebathinan ini sdh ada sejak lama ya Mbah?saya ketinggalan donk,he.he.he,tp Super Salut Bwt Mbah Wage krn bs dpt intisari2nya dan kl saya lihat lg justru GURU besarnya kebathinan ya Mbah Wage ini Sumpah bkn bohong kok!

    :lol: Reply: Weleh, pak Budi ini ada ada saja. Guru abal abal dan tukang copy paste. He..he..

    • Mbah,

      Sebenarnya cara menyembah Tuhan/dewa2/leluhur itu kan urusan yang menyembah dengan Tuhan/dewa/leluhur nya.Nusantara termasuk satu diantara banyak negara – Iran,Arab Saudi,Malaysia,dll – yang tidak memberi kebebasan …beragama/kepercayaan pada rakyatnya . Agama2 yang resmi diakui pemerintah cuma enam saja – Islam,Katholik,Kristen,Hindu,Buddha, dan Konghucu.

      Sebenarnya beragama apa saja itu kan … hak asasi manusia. Misalnya, kalau kita bikin agama sendiri, pengikutnya cuma satu atau segelintir orang, kan boleh2 saja ?! Secara moral dan kontitusional negara sebenarnya TIDAK mempunyi hak untuk mencampuri urusan beragama/berkepercayaan rakyatnya. Cuma, di negara2 yang kurang/tidak ada kebebasan ya hak2 individu ini dikebiri. Kalau toh ajaran agama/kepercayaan bikinan sendiri itu.. sesat, biar Tuhan,dewa2 atau alam yang menghukum ybs. Kita manusia kan tidak bisa main hakim, eh main Tuhan,dewa,alam ?!

      Di Nusantara banyak kekerasan dilakukan atas nama agama (resmi). Orang2 yang dianggap nyleneh, menyimpang dari agama ditindas …digebuki, padahal secara hukum sah2 saja – yang nyleneh ini tidak mencuri, korupsi, atau membakar rumah2 orang. Kata siapa itu ya, pencuri ayam digebuki sampai mati, tapi pencuri kelas kakap,koruptor,diapakan ? Apa ini yang namanya Keadilan Sosial, ataukah Kemanusiaan yang adil dan beradab ?

      Salam keadilan dan kemanusiaan

      Reply dari wage : :mrgreen: Cuma bisa urut dada.

Comments are closed.