Fakir Miskin dan Anak Terlantar Dipelihara Siapa?

Penulis : Wage Rahardjo. Edisi revisi. Setelah lama bergumul dengan topik dunia akhirat yang tidak jelas juntrungnya, di awal bulan ini saya  break sejenak  dan beralih membahas topik yang lebih membumi yaitu tentang fakir miskin dan anak terlantar.

“Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara siapa?” Ah, pertanyaan yang  tidak terlalu susah bukan? Sepertinya sebagian besar orang akan memberikan jawaban yang seragam  : “Dipelihara oleh negara!”.  Jawabannya yang tentu saja tidak salah. Namun masalahnya, dipelihara dengan cara apa? Siapakah yang disebut dengan fakir miskin? Apakah semua orang yang hidup di bawah jembatan digolongkan sebagai fakir miskin sehingga wajib dipelihara negara, diberi rumah, makan dan anak-anaknya disekolahkan? Nah, lewat artikel ini saya mencoba menuliskan opini aal-abal saya.

Fakir miskin dan orang miskin

Sebatas yang saya tahu, fakir miskin dan orang miskin adalah dua hal yang berbeda dan memerlukan perlakuan yang juga berbeda. Dimana letak perbedaannya? Pokoknya beda. Beda ya beda ! (Diskusi kepala batu ala mbah wage ). Miskin atau yatim piatu karena bencana alam, miskin karena kekeringan yang panjang adalah kemiskinan yang layak dipelihara negara. Miskin karena datang mengadu nasib ke kota namun tanpa keahlian, miskin karena punya banyak anak sehingga berkeliaran di jalan, tentu juga wajib dipelihara negara, namun dengan metode pemeliharaan yang berbeda.

Dipelihara berarti mengubah pola pikir

Dipelihara negara  bukan berarti memberi rumah, makan kemudian anak-anaknya disekolahkan, diberi uang saku dll. Ini namnya bukan memelihara tapi menernakan orang miskin. Anak anak tetap adalah tanggung jawab orang tua dan hanya dalam kondisi tertentu seperti yatim piatu karena kecelakaan atau bencana, menjadi tanggungan pemerintah.

  • Dipelihara artinya diberikan pekerjaan Mbah !

Benar, namun yang jelas bukan meminta pekerjaan pada pemerintah. Aduh Nak, kalau Sampean minta pekerjaan pada pemerintah artinya cuma satu yaitu jadi pegawai negeri. Nanti anak cucu juga akan minta jadi pegawai negeri. Lama lama pemerintah akan pusing sendiri karena jumlah pegawai negeri sudah membludak.  Memberi uang tunai, bantuan pangan atau perumahan mungkin adalah satu solusi namun hanya bersifat sementara.

Jadi memelihara orang miskin dengan cara apa? Cara yang lebih tepat menurut saya adalah dengan cara memajukan iklim usaha. Kalau iklim usaha sehat, lapangan pekerjaan otomatis akan tercipta dan fakir miskin akan bisa dikurangi. Bagaimana caranya memajukan iklim usaha? Caranya, mislanya dengan memperbaiki dan meningkatkan infrastuktur seperti jalan, stabilitas keamanan, hukum, memperbaiki regulasi dll. Kalau negeri aman, perjalanan lancar karena tidak terjebak kemacetan, maka iklim usaha akan tumbuth dan berkembang. Itu artinya menciptakan lapangan kerja baru.

Inilah arti “dipelihara oleh negara” versi saya.  Tentu saja, memelihara orang miskin tidak cukup hanya dibebankan pada negara saja. Masyarakat, badan amal, yayasan dan lembaga agama juga memiliki kontribusi yang besar.

Saya percaya bahwa fakir miskin dengan kegairahan dan fanatisme kehidupan beragama di negeri ini yang luar biasaa maka kasus fakir miskin dan anak terlantar akan bisa diselesaikan dengan mudah lewat peran para tokoh agama serta organisasi agama. Kenapa? Lha, namanya juga organisasi agama jadi untuk urusan kemanusiaan dipastikan hatinya akan mudah terketuk bukan? Untuk kasus kemanusiaan seperti di Gaza misalnya, sumbangan bisa dikumpulkan dalam jumlah besar dalam sekejap, jadi untuk kasus anak terlantar tentu akan jauh lebih mudah lagi bukan? Kalau ada kepedulian dan sedikit nurani, sepertinya tidak susah.

Tentu saja, saya tidak menutup mata dengan mengatakan organisasi agama tidak peduli fakir miskin dan anak terlantar. Aktivitas semacam itu jumlahnya sangat banyak. Namun dibandingkan dengan  hiruk pikuk kehidupan beragama yang ruarrr biasa marak,  tingginya “level” pendidikan agama sebagian orang serta populasi yang sangat besar maka jumlah organiasi agama yang bergerak di bidang sosial terasa terlihat relatif kecil.

RINGKASAN

  1. Fakir miskin bukan berarti orang miskin yang hidup di kolong jembatan di kota besar. Dipelihara negara bukan berarti diberi makan, rumah dan uang saku gratis.
  2. Mengharapkan bantuan gratis dari pemerintah, mengharapkan belas kasihan dengan meminta minta dari orang lain, mengharapkan bantuan atau hibah dari negara lain hendaknya tidak dibiasakan atau dibudayakan.
  3. Memelihara fakir miskin bisa dilakukan dengan banyak cara. Cara paling mudah adalah dengan berhemat dan kedua adalah memajukan iklim usaha.

Opini Penutup

Jadi kesimpulan terakhir, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara siapa? Jawaban ya, seperti yang sudah saya tulis di atas, yaitu dipelihara oleh semua orang yaitu pemerintah, masyarakat, organisasi massa dan organisasi agama.

Namun, mungkinkah? Ketika para pejabat kerajaan asik berdagang sapi politik, ketika para tokoh agama juga sibuk berdagang kitab suci maka fakir miskin dan anak terlantar tetap saja akan terlantar. Jadi fakir miskin dan anak terlantar dipelihara siapa? Jawaban yang paling realistis adalah : “Semua orang harus memelihara diri sendiri !”

  • :mrgreen: Duh, kesimpulannya sangat  mengecewakan Mbah!

Lha, emang Sampean mengharapkan kesimpulannya seperti apa? Hidup di negeri Kurawa memang seperti itu khan? Kalau bukan  diri sendiri, dipelihara olah siapa hayo? Dipelihara oleh Mbahmu? Susah Nak, Mbahmu bukan konglomerat tapi penulis blog melarat, nulis kagak dibayar. Boro-boro dapat duit, yang ada malah keluar duit bayar ongkos Wartel, beli aqua, rokok dan nasi bungkus juga bayar sendiri.  Ha…ha…

Sumber image 1: Wikipedia, image 2: unknown
WARTEL=warung telekomunikasi

. . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . o O o . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . .

About these ads

9 comments on “Fakir Miskin dan Anak Terlantar Dipelihara Siapa?

  1. smp says:

    Salam Kang Wage.
    Salut kang…..tulisan yg sangat menarik “miskin dipelihara oleh pola pikir” serta “kemiskinan adalah pemahaman”…benar-benar tepat mengena.. pemahaman yg cemerlang kang.
    ( “—Berbicara tentang orang miskin (harta), nyaris semua orang merasa diri miskin, jangankan anda, pejabat yang berperut buncitpun merasa diri miskin dan masih kekurangan. Mobil cuma satu, rumah cuma satu —–” )
    Kalau berkenan…saya menambahi sedikit kalimat pada: kemiskinan adalah pemahaman (dan tergantung dari perspektif sudut pandang yang menilainya), orang lain menilai bahwa kita sudah cukup kaya tetapi (–nyaris semua orang merasa diri miskin, jangankan anda, pejabat yang berperut buncitpun merasa diri miskin–)
    Mohon maaf kang…. ada sedikit yg kurang pas…ada kontradiktifdg tulisan berikutnya (“—-“Negeri kita adalah negeri miskin”. Moto ini harus diajarkan pada semua orang, terlebih lagi untuk para pejabat.—-“) pernyataan inilah yang membuat orang yang sudah kaya tetapi masih merasa miskin …merasa masih kurang sehingga tidak mau berbagi.
    Sekali lagi mohon maaf kang.

    :mrgreen: Reply wage : Kang SMP, Matur nuwun. Koreksi yang sangat tepat. Tulisan sudah diedit dengan tambahan //((dan tergantung dari perspektif sudut pandang yang menilainya)//,

    Kalimat //Negeri kita adalah negeri miskin//, adalah sindiran atau keluhan untuk pejabat kerajaan yang tidak beerprilaku hidup hemat. Agar tidak membingungkan, kalimat tersebut saya hapus…..

    Berbagi adalah urusan privat (kerelaan) jadi orang kaya tapi merasa miskin dan tidak mau berbagi (menurut sudut pandang saya) adalah prilaku yang sama sekali tidak bisa disalahkan.

    salam. wage

    • smp says:

      Terima kasih kang Wage.
      Ahh..memang benar…berbagi adalah urusan pribadi dan tidak bisa disalahkan.
      Cuma..sedikit himbauan.. yg mungkin akan berbuah kebaikan baginya di masa depan.

  2. smp says:

    Sebuah Puisi ….ahhh…saya kok jadi sedikit melankolis.

    Kemiskinan dan Ketelantaran.

    Kawan…
    Kemiskinan hanyalah sebuah pemahaman.
    Sebuah rasa yg timbul dari dalam diri sendiri.
    Sebuah rasa yg masih serba belum bisa mencukupi.
    Menumpuk harta karena rasa kekuatiran.
    Takut kekurangan di masa depan.
    Akibatkan hilangnya kepedulian.

    Kawan……
    Ketelantaran hanyalah sebuah perhatian.
    Ketelantaran tak harus tak punya ayah-bunda.
    Menimpa anak siapa saja.
    Yang ayah-bundanya sibuk mencari harta.

    Kawan…….
    Hilangkan segala kekuatiran.
    Esok pasti akan ada riski bagi siapa saja
    Yang masih sanggup berbagi.
    Paling tidak..bagilah perhatian.

    Simpang.

    Reply wage :

  3. Wisnu Tiang Jawi says:

    Menurut saya Miskin/Kaya itu di bagi 2
    1. Miskin/Kaya secara materi
    2. Miskin/Kaya secara Spiritual/hati
    Anda di level mana?? 1.Kaya materi tp miskin spiritual/hati.2 miskin materi tp kaya spiritual/hati.3. Kaya materi dan Kaya spiritual/hati.4. Miskin materi dan miskin spiritual.
    Menurut UUD 45 “fakir miskin dan anak2 terlantar di pelihara oleh negara…” Disini sebenarnya Negara sudah melaksanakan amanat drpd UUD’45 cm masalahnya adlh Negara memelihara dgn cara2 yg tidak manusiawi istilahnya memelihara spt hewan…” contoh: para Gepeng di biarkan di jalan2…. istilahnya klo memelihara hewan ya cm di umbar…..dan dibiarkan cari makan sendiri, seperti ayam tetanggaku,,,,,xixixixi,
    Lebih baik miskin Harta drpd Miskin Hati….

    :mrgreen: Reply wage : Mas Wisnu TJ, matur nuwun. Miskin/kaya spiritual/hati, komentar yang menarik. Saya juga tertarik untuk memasukkan unsur spriritualnya, namun sayang kemampuan saya kagak nyampai. Tanda orang miskin hati he…he..

    salam.

  4. Saya janji, Mbah, kalau sudah sela, akan bikin tanggapan. Tapi yang menarik untuk direnungkan adalah, apakah pemeliharaan fakir miskin dan anak terlantar ini membuat negara sepenuh hadir dalam penghapusan kemiskinan atau justru melestarikan kemiskinan agar negara punya peran? Atau, apakah kemiskinan itu harus dirawat sehingga ada pahlawan anti-kemiskinan, ada orang kaya yang akhirnya masuk sorga lantaran getol bersedekah? Nanti, ya, Mbah. Dua postingan terakhir belum sempat saya komentari karena mengetik komentar sembari berlagak intelek itu membutuhkan ketahanan lumbung dan lambung juga, Mbah… hehehehehe…

    Salam, seperti biasa, tulisan Mbah Wage selalu mengajak pembaca untuk berpikir dengan cara yang berbeda.

    :mrgreen: Reply wage : Nak Olsy, matur nuwun. Walau sibuk masih tetap meluangkan waktu untuk singgah. Komentar bisa ditulis kapan saja, dan itupun dengan catatan, tulislah disaat hati senang. Semoga sehat.

  5. Suparto says:

    Salam mbah wage.
    Wah kangen banget nih ma tulisan tulisan mbah wage lama banget gak bisa ngintip blog abal-abal punya mbah wage, alhamdulillah ni sempat ngintip sedikit hehehe….

    Mungkin orang-orang fakir dan orang-orang miskin tuh perlu dipelihara oleh kesadaran mbah, kesadaran untuk berbagi. Si kaya berbagi dengan hartanya untuk memberikan suatu permodalan. Sang profesor berbagi ilmunya agar yang kurang beruntung dalam ilmu bisa juga merasakan ilmu sehingga tidak setiap orang dapat membodohi diri yang sudah bodoh. ( Ya mudah saja membodohi orang yang bodoh hehehe….) Sang ahli berbagi ketrampilannya supaya yang belum mempunyai ketrampilan bisa mempraktekan ketrampilannya dan penghasilanpun mengalir dengan derasnya.

    Yang punya informasipun juga bisa berbagi supaya yang lagi bingung tak tahu arah dapat dengan mudah mengatasi masalahnya. Hehehe… ngomong-ngomong tentang berbagi akan lebih asik kalo lihat-lihat blog punya mbah wage sambil dengerin streaming radio. Maaf mbah mohon ijin berbagi http://yatain.org/
    semoga bermanfaat.

    Salam

    :mrgreen: Reply wage : Mas Suparto, selamat pulang kembali ke rumah. Seperti biasa komentarnya selalu apik. salam

  6. js says:

    Salam dan hormat tabik untuk Mbah Wage……..

    Melampirkan kembali opini dari Mbah Wage…..

    Jadi kesimpulan terakhir, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara siapa? Jawaban ya, seperti yang sudah saya tulis di atas, yaitu dipelihara oleh semua orang yaitu pemerintah, masyarakat, organisasi massa dan organisasi agama……

    Suatu hal yang mungkin sedang melanda manusia yaitu penyakit menular yang sangat cepat menjalar…yaitu sifat tidak mau tahu keberadaan sesama manusia disebelahnya….para manusia lain yang sebagai tetangga.. kerabat….teman…kampung atau desa sebelah…dan manusia lain yang ditempat agak jauh dan menyebar sebagai manusia sebangsa dan setanah air……..

    Sudah sangat banyak contoh peristiwa ….manusia yang sudah kehilangan sifat natural kodrat fitrah dirinya…mereka sudah tidak peka lagi…tidak perasa… manusia lain sudah tidak dianggapsebagai para saudara sendiri dan bahkan dianggap sebagai pesaing dan musuh dalam berebut hidup……

    Para fakir miskin adalah manusia yang harus dipelihara dengan pola pikir……
    Pola pikir yang bermaksud sebagai ilmu pengetahuan…pendidikan…kecerdasan..semangat….cita cita…..pola pikir ini yang harus dimiliki secara perorangani…kelompok atau negara……

    Lalu bagaimana kira kira pola pikir manusia yang hidupnya sudah mapan dan bagaimana pola pikir manusia yang rumahnya berdinding papan ( tidak mapan ) dan banyak bolongnya… …..tentunya sangatlah beda….
    Bagi para fakir miskin harta…mereka pasti disibukkan oleh perutnya…perut mereka yang sering puasa..hik hiks…ingin makan tetapi tidak bisa….bukan dilarang tetapi memang tidak ada yang dimakan……..
    Orang miskin bukan tidak bisa mikir…bukan karena keplek bodoh…tapi males saja karena perutnya kosong…..mereka lebih suka berjihad dan berjuang untuk hidup….untuk mencapai menuju kemerdekaan……he he he merdeka dari perut mules…merdeka dari rasa lapar…..;perjuangan abadi dalam hidup…….lalu apakah siperut gendut kekenyangan tidak malu atau memang sudah tidak tahu malu lagi ketika bertemu dengan manusia yang langsing karena kurang makan??…….lalu apa yang sedang diperjuangkan si perut gendut selama itu sehingga perutnya jadi gendut…….mbuh ora weruh

    Mbah Wage…nanti disambung lagi…..masih mikir lanjutannya……..salam perut lapar…..

    • :mrgreen: Reply wage : Tabik Kang JS. Tambahan yang sangat mengena dan sangat realistis.

      Perut lapar – susah kerja – susah mikir – gaji kecil – tidak cukup makan – perut lapar lagi- demikian seterusnya. Awalnya tulisan versi awalnya menuliskan hal yang kurang lebih sama dengan penjelasan Akang tapi akhirnya dihapus karena saya anggap terlalu panjang.

      Jaman gina mana ada orang minat baca tulisan panjang? Jadi tulisan terpaksa dibagi dua dan rencananya mau saya muat di topik terpisah dengan judul lingkaran setan kemiskinan. Baru sadar kalau blog ini belum ada topik setan-nya.

      salam

  7. Alvino says:

    ijin promosi blog gan link

Komentarlah dengan hati senang. Tidak ada paksaan untuk membaca dan juga tidak ada paksaan untuk berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s