Rangkuman Agama Asli Indonesia

sawah2
Ilustrasi. Credit image : travel tourism blog.com

Dongbud – Wage Rahadjo. Banyak orang yang sepertinya tidak tahu ataupun tidak sadar bahwa agama yang dipeluk oleh sebagaian besar penduduk Indonesia sekarang ini adalah merupakan agama asing alias agama import. Dari 6 agama yang diakui secara resmi oleh negara, tidak ada satupun mewakili agama lokal, padahal Indonesia sendiri sebetulnya memiliki beragam agama lokal yang merupakan produk asli Indonesia.

Agama asli Indonesia?  Agama apaan tuh?

Kalau Anda belum pernah mendengarnya ya maklum saja karena istilah atau pengetahuan semacam ini tidak akan diajarkan di sekolah atau pendidikan resmi dan melalui blog abal-abal inilah saya mencoba untuk menuliskannya. Sedikit catatan, tulisan ini sama sekali bukan untuk berpaling dan memeluk agama lokal tapi hanya sekedar menambah wawasan dan kedewasaan pola pikir bahwa disamping 5 agama resmi yang diakui negara sebetulnya masih ada agama-agama lain yang terabaikan. 

Ajaran, kitab suci dan nabi

Agama lokal tumbuh dan berkembang secara alami di masyarakat, jadi hampir kebanyakan dari agama lokal tersebut tidak memiliki nabi dan juga  tidak sebagian besar juga tidak memiliki kitab suci.  Yang ada mungkin adalah guru atau pendiri dan sepenggal ajaran sederhana.

Filosofi ajarannya umumnya dituangkan dalam bentuk hikayat dan cerita. Kemudian pilar terpenting dari filosofi ajaran lama adalah ritual. Ritual umumnya berkaitan dengan perayaan keberhasilan panen yang berlimpah, tangkapan ikan, ruwat desa, bersih desa dll. Jadi dengan dengan ritual ini maka hubungan manusia dengan alam dan penciptanya akan terus terjaga.

Tentu saja yang saya tulis di atas adalah gambaran secara umum, atau gambaran awal. Sebagian lagi dari agama lokal tersebut ada yang memiliki ajaran yang cukup lengkap layaknya agama modern. Ajarannya umumnya tidak jauh dari 3 aturan dasar tentang hidup yaitu hubungan yang selaras antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya.

Sedikit catatan tambahan untuk sekedar perbandingan bisa saya ambil contoh agama Shinto yang ada di Jepang. Agama Shinto tersebut sama sekali tidak memiliki nabi ataupun kitab suci. Namun dengan segala kesederhanaannya agama asli di Jepang ini yang notabene adalah animisme tetap bertahan dan lestari sampai sekarang.  Tidak dibuang dan dicampakkan seperti yang terjadi di belahan wilayah lain. Selengkapnya tentang agama Shinto klik disini.

Berikut adalah beberapa contoh agama lokal yang ada di Indonesia yang masih bertahan sampai saat ini yaitu Sunda Wiwitan, Agama Djawa Sunda, Buhun (Jawa Barat), Kejawen Maneges, ParmalimKaharingan, Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara), Tolottang (Sulawesi Selatan), Naurus (pulau Seram, Maluku), Aliran Mulajadi Nabolon,  Marapu (Sumba), Purwoduksino, Budi Luhur,  Pahkampetan,  Bolim,  Basora, Samawi, Sirnagalih dan Agama Bali. (Sumbernya diambil dari Wikipedia, kecuali untuk agama terakhir adalah tambahan opini dari penulis).

Khusus untuk Agama Bali ini saat ini sudah sudah berasimilasi  atau bercampur dengan agama asing yaitu Hindu, namun sebagain besar ritual, tata cara berpakaian, hari raya serta tempat ibadahpun tetap kental dengan pengaruh lokalnya.  Bahkan sebutan atau nama Tuhan sekalipun menggunakan sebutan lokal. [Opini Wage Rahardjo]

Agama atau kepercayaan ?

= Ah, itu sih bukan agama Mbah, tapi cuma kepercayaan atau bahkan cuma kebiasaan / tradisi   semata.

Apa bedanya? Agama adalah juga merupakan kepercayaan bukan? Agama juga termasuk tradisi bukan? Apakah Hindu dan Buddha adalah merupakan agama atau kepercayaan? Jawabannya menurut Mbah malah lebih ngawur lagi, bukan termasuk agama ataupun kepercayaan tapi hanya sekedar cara hidup (way of life) semata.

Tetangga saya malah memiliki pendapat lebih extrame dan mencengangkan, agama itu cuma ada satu saja dan yang lainnya tidak lebih dari AJARAN SESAT. Nah lho?!

Kalau bagus mengapa tidak populuer?

Salah satu penyebab kurang populernya agama lokal ini adalah tidak lepas karena peraturan atau kebijakan dari pemeritah, yaitu tidak mengakuinya sebagai agama resmi namun menganggolongkannya sebagai kepercayaan semata.  Kemudian situasinya menjadi semakin sulit karena masyarakat sendiri nyaris tidak memberi peluang untuk tumbuh dan berkembanganya agama lama ini bahkan tidak jarang menganggapnya sebagai agama atau aliran sesat.

Dari sisi hukum, mereka jelas bukan ajaran sesat karena keberadaan mereka sebetulnya sudah dijamin oleh UU. Namun UU tetaplah hanya sebatas text dan kata kata semata karena kenyataannya keberadaan mereka adalah terpinggirkan atau bahkan lebih tepat disebut dicurigai. Aktivitas ataupun organisasi mereka dipastikan haruslah terdaftar resmi, mendapat ijin dari berbagai departemen dan istansi. Namun walaupun sudah memiliki ijin resmi, reaksi masyarakat ataupun aparat di lapangan kerap  berbeda. Pemerintahpun sepertinya setengah hati untuk memberikan perlindungan ataupun kebebasan. Jangankan mendapat bantuan dana, tidak di-cap sesat-pun sudah syukur.

Untuk mendapat legalitas resmi, beberapa agama tertentu seperti Kaharingan, `terpaksa` harus  bergabung  dengan agama Hindu menjadi agama Hindu Kaharingan. Kemudian untuk agama Parmalim di Batak memilih tetap bertahan dengan agama lamanya, namun untuk urusan KTP ya terpaksa harus memilih agama lain sebagai identitas.

…………………………………………………………..

LAMPIRAN: 

Daftar Aliran/Penghayat Kepercayaan Indonesia

Lampiran Data ini dicopy dari (matur nuwun) dari http://blogkejawen.blogspot.jp Makalah Bpk Syafi`in  Mansyur MA, Aliran Kebatinan di Indonesia

DIY Yogyakarta

  1. No. 1.004/F.6/F.2/1980 – Angesti Sampurnaning Kautaman
  2. No. 1.995/F.6/F.2/1980 – Anggayuh Panglereming Napsu (APN)
  3. No. 1.018/F.6/F.2/1980 – Hak Sejati
  4. No. 1.019/F.6/F.2/1980 – Hangudi Bawana Tata Lahir dan Batin
  5. No. 1.025/F.6/F.2/1980 – Imbal Wacono
  6. No. 1.036/F.3/N.1/1982 – Kasampurnan Jati
  7. No. 1.198/F.3/N.1/1982 – Kelompok Setu Pahing
  8. No. 1.054/F.6/F.2/1980 – Mardi Santosaning Budi (MSB)
  9. No. 1.227/F.3/N.1/1982 – Minggu Kliwon
  10. No. 1.060/F.6/F.2/1980 – Ngesi Roso Sejati
  11. No. 1.059.F.6/F.2/1980 – Ngesti Roso
  12. No. 1.067/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Jawi Lugu
  13. No. 1.073/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Kawruh Hardo Puruso

DIY dan Jawa Timur

  1. No. 1.070/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Kebudayaan Jawi (PKD)
  2. No. 1.166/F.3/N.1/1981 – Paguyuban Keluarga Besar Keris Mataram
  3. No. 1.153/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Kerabat Anurogo Sri Sadono
  4. No. 1.085/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Rebo Wage
  5. No. 1.199/F.3/N.1/1982 – Paguyuban Sangkara Muda
  6. No. 1.164/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Tata Tentrem (Patrem Indonesia)
  7. No. 1.087/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Traju Mas
  8. No. 1.100/F.6/F.2/1980 – Perguruan Das
  9. No. 1.108/F.6 /F.2/1980 – Persatuan Eklasing Budi Murko
  10. No. 1.130/F.6/F.2/1980 – Sumarah Purbo
  11. No. 1.135/F.6/F.2/1980 – Tuntunan Kerohanian Sapta Darma
  12. No. 1.141/F.6/F.2/1980 – Yayasan Sosrokatono

DIY Jakarta

  1. No. 1.105/F.6/F.2/1980 – Aliran Kebatinan Perjalanan
  2. No. 1.009/F.6/F.2/1980 – Budi Luhur (Kawruh Kasampurnan Sangkan
    Paran Budi Luhur)(26)
  3. No. 1.013/F.6/F.2/1980 – Forum Sawyo Tunggal
  4. No. 1.014/F.6/F.2/1980 – Gayuh Urip Utami (Gautamai)
  5. No. 1.024/F.6/F.2/1980 – Himpunan Amanat Rakyat Indonesia (HARI)
  6. No. 1.057/F.6/F.2/1980 – Marsudi Kalahuring Budi Pekerti
    (Mekar Budi)
  7. No. 1.218/F.6/F.2/1982 – Musyawarah Agung Warna (MAWAR)
  8. No. 1.053/F.6/F.2/1980 – Ngudi Kawruh Rasa Jati
  9. No. 1.063/F.6/F.2/1980 – Organisasi Kebatinan Satuan Rakyat
    Indonesia Murni (Sri Murni)
  10. No. 1.069/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Kabatinan Ilmu Hak
  11. No. 1.178/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Ki Ageng Selo
  12. No. 1.099/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Penghayat Kapribaden
  13. No. 1.086/F.6/F.2/1980 – Paguyuban Sumarah
  14. No. 1.079/F.6/F.2/1980 – Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal)
  15. No. 1.093/F.6/F.2/1980 – Pangudi Ilmu Kebatinan Intisarining Rasa (PIKIR)
  16. No. 1.094/F.6/F.2/1980 – Pangudi Ilmu Kepercayaan HidupSempurna (PIKHS)
  17. No. 1.104/F.6/F.2/1980 – Perhimpunan Peri Kemanusian
  18. No. 1.185/F.6/F.2/1981 – Persatuan Warga Theosofi Indonesia
  19. No. 1.177/F.6/F.2/1981 – Pran-Suh (Ngesti Kasampurnaan)
  20. No. 1.110/F.6/F.2/1980 – Purbaning Lampang Sejati
  21. No. 1.124/F.6/F.2/1980 – Sastra Jendra Hayningrat Pangruktining
  22. No. 1.119/F.6/F.2/1980 – Sri Langgeng
  23. No. 1.107/F.6/F.2/1980 – Susila Budhi Dharma (SUBUD)
  24. No. 1.133/F.6/F.2/1980 – Tri Sabda Tunggal
  25. No. 1.134/F.6/F.2/1980 – Tunggal Sabda Jati
  26. No. 1.140/F.6/F.2/1980 – Wisma Tata Naluri

Jawa Barat

  1. No. 1.159/F.6/F.2/1980 Aliran Kepercayaan Aji Dipa
  2. No. 1.195/F.3/N.1/1982 Aliran Kepercayaan Lebak Cawene
  3. No. 1.010/F.6/F.2/1980 Budi Rahayu
  4. No. 1.192/F.3/N.1/1982 Paguyuban Adat Cara Karuhun
  5. No. 1.158/F.6/F.2/1980 Perjalanan Budi Daya

Jawa Tengah

  1. No. 1.007/F.6/F.2/1980 Badan Kebatinan Indonesia
  2. No. 1.144/F.6/F.2/1980 Badan Keluarga Kebatinan Wisnu
  3. No. 1.213/F.3/N.1/1982 Elang Mangku Negara
  4. No. 1.216/F/3/N.1/1982 Hak (Kawruh Hak)
  5. No. 1.021/F.6/F.2/1980 Hidayat Jati Ranggawarsita
  6. No. 1.022/F.6/F.2/1980 Hidup Betul
  7. No. 1.209/F.3/N.1/1982 Himpunan Kebatinan Rukun Wargo
  8. No. 1.193/F.3/N.1/1982 Ilmu Kasampurnan Jati
  9. No. 1.207/F.3/N.1/1982 Jaya Sampurna (Pamungkas Jati Titi Jaya Sampurna)
  10. No. 1.174/F.6/F.2/1980 Kalimasada Rasa Sejati
  11. No. 1.154/F.6/F.2/1980 Kapribaden (Kawruh Kapribaden)
  12. No. 1.115/F.6/F.2/1980 Kasampurnan
  13. No. 1.163/F.3/N.1/1981 Kawruh Naluri Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan Jati
  14. No. 1.045/F.6/F.2/1980 Kawruh Roso Sejati
  15. No. 1.169/F.3/N.1/1981 Kawruh Urip Sejati
  16. No. 1.031/F.6/F.2/1980 Kejaten
  17. No. 1.047/F.6/F.2/1980 Kejawen
  18. No. 1.150/F.6/F.2/1980 Kejiwaan
  19. No. 1.173/F.3/N.1/1981 Langgeng Suci
  20. No. 1.170/F.3/N.1/1981 Mustiko Sejati
  21. No. 1.061/F.6/F.2/1980 Ngudi Utomo
  22. No. 1.187/F.3/N.1/1981 Paguyuban Anggayuh Katentremaning Urip (AKU)
  23. No. 1.217/F.3/N.1/1982 Paguyuban Budi Sejati
  24. No. 1.194/F.3/N.1/1982 Paguyuban Hastho Broto
  25. No. 1.042/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kawruh Kodrating Pangeran
  26. No. 1.075/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kolowargo Kapribaden
  27. No. 1.077/F.6/F.2/1980 Paguyuban Muda Dharma Indonesia
  28. No. 1.223/F.3/N.1/1982 Paguyuban Ngesti Jati
  29. No. 1.175/F.3/N.1/1981 Paguyuban Olah Rasa Mulat Sarira Ngesti Tunggal
  30. No. 1.083/F.6/F.2/1980 Paguyuban Pangudi Kawruh Kasuksman Panungalan
  31. No. 1.102/F.6/F.2/1980 Paguyuban Trijaya
  32. No. 1.167/F.3/N.1/1981 Paguyuban Ulah Rasa Batin (PURBA)
  33. No. 1.186/F.3/N.1/1981 Paguyupan Jawa Naluri
  34. No. 1.206/F.3/N.1/1982 Pangudi Rahayung Budhi (PRABU)
  35. No. 1.095/F.6/F.2/1980 Pangudi Rahayuning Bawana (PARABA)
  36. No. 1.080/F.6/F.2/1980 Papandaya
  37. No. 1.098/F.6/F.2/1980 Pembangunan Kebatinan Kepribadian Rakyat Indonesia Badan Kejawan (PERKRI)
  38. No. 1.188/F.3/N.1/1981 Penghayat Kepercayaan Paguyuban Noermanto (PKPN)
  39. No. 1.106/F.6/F.2/1980 Perjalanan Tri Luhur
  40. No. 1.214/F.3/N.1/1982 Persatuan Resik Kubur Jero Tengah
  41. No. 1.109/F.6/F.2/1980 Pirukunan Kawulo Manembah Gusti (PKMG)
  42. No. 1.222/F.3/N.1/1982 Pramono Sejati
  43. No. 1.210/F.3/N.1/1982 Pribadi
  44. No. 1.111/F.6/F.2/1980 Purwo Ayu Mardi Utomo
  45. No. 1.212/F.3/N.1/1980 Ratu Adil
  46. No. 1.123/F.6/F.2/1980 Saserepam Kepribadian Intisari (SKI‘45)
  47. No. 1.172/F.3/N.1/1981 Saserepan ’45
  48. No. 1.120/F.6/F.2/1980 Satana Dharma Majapahit dan Pancasila (SADHAR MAPAN)
  49. No. 1.126/F.6/F.2/1980 Setia Budi Perjanjian 45 (SBP 45)
  50. No. 1.215/F.3/N.1/1982 Sukma Sejati
  51. No. 1.208/F.3/N.1/1982 Tujuh Mulya
  52. No. 1.196/F.3/N.1/1982 Waspodo
  53. No. 1.211/F.3/N.1/1982 Wayah Kaki
  54. No. 1.139/F.6/F.3/1980 Wratama Wedyanantama Karya
  55. No. 1.171/F.3/N.1/1981 Wringin Seta

Jawa Timur

  1. No. 1.152/F.6/F.2/1980 Aliran Kebatinan Tak Bernama
  2. No. 1.003/F.6/F.2/1980 Aliran Seni dan Kepercayaan TerhadapTuhan YME
  3. No. 1.006/F.6/F.2/1980 Babagan Kasampunan
  4. No. 1.116/F.6/F.2/1980 Badan Kebatinan Rila
  5. No. 1.128/F.6/F.2/1980 Budi Rahayu
  6.  No. 1.011/F.6/F.2/1980 Cakramanggilingan
  7. No. 1.122/F.6/F.2/1980 Dasa Sila
  8. No. 1.155/F.6/F.2/1980 Himpunan Murid dan Wakil Murid Ilmu SejatiR. Rawiro Utomo (HIMUWIS RAPRA)
  9. No. 1.026/F.6/F.2/1980 Induk Wago Kawruh Utomo
  10. No. 1.143/F.6/F.2/1980 Jawi Wisnu
  11. No. 1.027/F.6/F.2/1980 Jendra Hayuningrat Widada Tunggal (PANDHAWA)
  12. No. 1.030/F.6/F.2/1980 Kahuripan
  13. No. 1.157/F.6/F.2/1980 Kapitayan
  14. No. 1.034/F.6/F.2/1980 Kapribaden Upasana
  15. No. 1.037/F.6/F.2/1980 Kasampunan Ketuhanan Awal &Akhir
  16. No. 1.156/F.6/F.2/1980 Kepercayaan Sapta Darma Indonesia
  17. No. 1.049/F.6/F.2/1980 Ketuhanan Kasampurnan
  18. No. 1.050/F.6/F.2/1980 Kodrattolah Manembah Goibing Pangeran
  19. No. 1.055/F.6/F.2/1980 Margo Suci Rahayu
  20. No. 1.066/F.6/F.2/1980 Paguyuban Darma Bakti
  21. No. 1.086/F.6/F.2/1980 Paguyuban Ilmu Sangkan Paraning Dumadi Sanggar Kencono
  22. No. 1.071/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kawruh Batin “101″
  23. No. 1.072/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kawruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan
  24. No. 1.028/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kawruh Kabatinan Jiwo Lugu
  25. No. 1.074/F.6/F/2/1980 Paguyuban Kawruh Murti Tomo WasitoTunggal
  26. No. 1.121/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kawruh Sangkan Paran Kasampurnan
  27. No. 1.191/F.6/F.2/1980 Paguyuban Kawruh Sasongko
  28. No. 1.051/F.6/F.2/1980 Paguyuban Lebdho Guno Gumelar
  29. No. 1.076/F.6/F.2/1980 Paguyuban Manunggaling Karso
  30. No. 1.078/F.6/F.2/1980 Paguyuban Ngesti Budi Sejati
  31. No. 1.082/F.6/F.2/1980 Paguyuban Pangudi Katentreman (PATREM)
  32. No. 1.176/F.3/N.1/1981 Paguyuban Satriyo Mangun MardikoDununge Urip
  33. No. 1.088/F.6/F.2/1980 Paham Jiwa Diri Pribadi
  34. No. 1.182/F.6/F.2/1980 Panembah Jati
  35. No. 1.092/F.6/F.2/1980 Pangrukti Memetri Kasucian Sejati (PAMEKAS)
  36. No. 1.092/F.6/F.2/1980 Pelajar Kawruh Jiwo
  37. No. 1.101/F.6/F.2/1980 Perguruan Ilmu Sejati
  38. No. 1.103/F.6/F.2/1980 Perhimpunan Kemanungsan
  39. No. 1.180/F.6/F.2/1980 Perhimpunan Kepribadian Indonesia
  40. No. 1.113/F.6/F.2/1980 Purwaning Dumadi Kautaman (PDKK)
  41. No. 1.117/F.6/F.2/1980 Rasa Manunggal
  42. No. 1.132/F.6/F.2/1980 Sujud Manembah Bekti
  43. No. 1.132/F.6/F.2/1980 Tri Murti Naluri Majapahit
  44. No. 1.138/F.6/F.2/198 Urip Sejati

Luar Jawa

  1. No. 1.001/F.6/F.2/1980 Adat Lawas (Kaltim)
  2. No. 1.146/F.6/F.2/1980 Aliran Mulajadi Nabolon 3 (Sumut)
  3. No. 1.202/F.3/N.1/1982 Ata kahfi (NTT)
  4. No. 1.221/F.3/N.1/1982 Babolin (Kalteng)
  5. No. 1.219/F.3/N.1/1982 Babukung (Kalteng)
  6. No. 1.226/F.3/N.1/1982 Basora (Kalteng)
  7. No. 1.225/F.3/N.1/1982 Bolin (Kalteng)
  8. No. 1.020/F.6/F.2/1980 Budi Suci (BALI)
  9. No. 1.161/F.6/F.2/1980 Cahaya Kasuma (Sumut)
  10. No. 1.200/F.3/N.1/1982 Era Mula Watu Tana (NTT)
  11. No. 1.162/F.6/F.2/1980 Galih Puji Rahayu (Sumut)
  12. No. 1.016/F.3/F.2/1980 Golongan Si Raja Batak (Sumut)
  13. No. 1.201/F.3/N.1/1982 Guna Lero Wulan Dewa Tanah Ekan (NTT)
  14. No. 1.163/F.6/F.2/1980 Habonaron Do Bona (Sumut)
  15. No. 1.224/F.3/N.1/1982 Hajatan (Kalteng)
  16. No. 1.023/F.6/F.2/1980 Hidup Sejati (NTB)
  17. No. 1.190/F.3/N.1/1981 Ilmu Goib (Lampung)
  18. No. 1.197/F.3/N.1/1982 Ilmu Goib Kodrat Alam (Lampung)
  19. No. 1.204/F.3/N.1/1982 Jingitiu (NTT)
  20. No. 1.147/F.6/F.2/1980 Kaharingan Dayah Luwangan (Kalteng)
  21. No. 1.029/F.6/F.2/1980 Kaharingan Dayak Maanyan Banna 5, Paju 4, dan Paju 10 (Kalsel)
  22. No. 1.148/F.6/F.2/1980 Kaharingan Dayak Maanyan Piumbung (Kalteng)
  23. No. 1.184/F.3/N.1/1981 Kekeluargaan (BALI)
  24. No. 1.149/F.6/F.2/1980 Kepercayaan A. Halu (Kalteng)
  25. No. 1.015/F.6/F.2/1980 Kepercayaan G. Adat Musi (Sulut)
  26. No. 1.203/F.3/N.1/1982 Lera Wulan Tana Ekan (NTT)
  27. No. 1.032/F.6/F.2/1980 Magapokan (BALI)
  28. No. 1.052/F.6/F.2/1980 Mangimang Sumabu Duata (Sulut)
  29. No. 1.205/F.3/N.1/1982 Marapu (NTT)
  30. No. 1.220/F.3/N.1/1982 Ngoja (Kalteng)
  31. No. 1.081/F.6/F.2/1980 Paguyuban Pendidikan Ilmu Kerohanian (PPIK) (Lampung)
  32. No. 1.127/F.6/F.2/1980 Paompungan (Sulut)
  33. No. 1.165/F.6/F.2/1980 Persatuan Aliran Kepercayaan Krida Sempurna (Sumsel)
  34. No. 1.065/F.6/F.2/1980 Pompungan Waya Si Opo Ompung (Sulut)
  35. No. 1.189/F.3/N.1/1981 Purwo Deksono (Lampung)
  36. No. 1.112/F.6/F.2/1980 Purwo Madio Wasono (Sumut)
  37. No. 1.118/F.6/F.2/1980 Ramuat Ali Marie, Ayas, Ilfried (RAMAI) (Sulut)
  38. No. 1.008/F.6/F.2/1980 Silima/Pamena (Sumut)
  39. No. 1.136/F.6/F.2/1980 Ugamo Parmalin Budaya Adat Batak (Sumut)
  40. No. 1.142/F.6/F.2/1980 Wisnu Budha/Eka Adnyana (BALI)

Lain-Lain

  1. Agama Jawa Asli Republik Indonesia
  2. Dununge Urip.
  3. Ilmu Sejati
  4. Ilmu Sejati Prawiro Sudarso
  5. Kawruh Budhi Jati
  6. Kawruh Guru Sejati Kawedar (KGSK)
  7. Kawruh Kasunyatan Kasampurnan Pusoko Budi Utomo
  8. Kawruh Kebatinan Gunung Jati
  9. Kawruh Panggayuh Esti
  10. Kawula Warga Naluri
  11. Kebatinan 9 Pambuka Jiwa
  12. Maneges
  13. Memayu Hayuning Bawono
  14. Nge`lmu Beja-Mulur Mungkret
  15. Paguyuban Pambuka Das Sanga
  16. Pamengku
  17. Pana Majapahit
  18. Podo Bongso
  19. Purbokayun
  20. Sangkan Paraning Dumadi (Sri Jayabaya) 
  21. Tri Tunggal Bayu

SEPENGAL OPINI

  1. Tulisan ini bukan mengajak pembaca untuk beralih ke agama lokal tapi untuk menggugah rasa toleransi tentang keberagaman.
  2. Tulisan ini juga bermaksud memberikan  pengetahuan tambahan pada pembaca tentang warisan budaya spiritual yang hampir dipastikan tidak mungkin tidak didapatkan di bangku sekolah.
  3. Tulisan ini ada baiknya dianggap tidak lebih seabgai dari catatan sejarah belaka. Ibarat pelajaran sejarah jaman batu yang diterima di sekolah bukan berarti mengajak para pelajar untuk kembali ke jaman batu bukan?

Disalin, dirangkum dan disajikan ulang oleh:

Baca artikel lainnya :

. . . . . . . . . o O o . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

49 thoughts on “Rangkuman Agama Asli Indonesia

  1. rid755 18 August 2011 / 7:41 am

    Dari kesemua agama itu mana saja yang udah punah mbah??

    • REPLY WAGE: Sdr Rid75, Dari sisi hukum dan pengakuan pemerintah, semua agama lokal itu bisa dikatakan sudah punah. Buktinya agama yang diakui adalah semuanya agama asing
  2. Budi Dumadi 28 September 2011 / 6:16 pm

    Kira2 agama2 itu berkembang ditahun berapa Mbah???Saya juga br tau ya banyak jg agama yg ada di Negara Kita…

    • REPLY WAGER : Bpk Budi, Wajar kalau Bapak tidak tahu, karena pengetahuan ini tidak diajarkan di sekolah. Tahun berkembangnya sepertinya siapapun tidak ada yang bisa menjawabnya dengan pasti. Sepertinya agama lokal itu sudah ada jauh sebelum kedatangan agama Hindu Buddha.
  3. Dika Ketut 22 October 2011 / 6:12 pm

    Segala sesuatunya yang bersifat alami dan tanpa adanya kesam pemaksaan dan selalu dengan kesadaran itu adalah sudah sangat baik
    Entah apaun istilah atau nama agama atapun kepercayaannya yang selalu meng hormati leluhurnya ,mengarahkan pada kebaikan sudah sangat mulya

    • REPLY WAGER : Bung Dika, pendapat yang sangat sejuk. Sayang pemerintah memiliki aturan dan difinisinya berbeda. Salam.
  4. Bala(ne)dewa 21 June 2012 / 9:42 am

    Agama bagiku yang terpenting adalah esensinya yaitu hidup senang dan damai. Aku kadang aku merasa, kalau hati sudah terasa senang dan damai, maka label agama sudah tidak penting lagi. (WTR)
    —————————-
    Betul,itu Mbah. Makanya agama saya ya cuma katresnan, pada sesama mahluk – manusia, binatang, setan, dan jin2. Saya mungkin tidak selalu senang. tapi saya selalu berharap ada kedamaian untuk orang lain dan diri saya sendiri. Damai damai damai damai ….

    • :: Wage Rahardjo 21 June 2012 / 10:42 pm

      Mbah salut dan respek dengan agamanya Nak Bala, agama abal-abal tapi terdengar teduh. Mau berbagi dan hidup damai dengan jin dan siMbah setan. Kalau dipikir pikir ada benarnya juga. Setan kalau dimusuhi malah tambah galak jadi kadang ada baiknya diajak damai. Kadang kita sering bertindak tidak adil, selalu menyalahkan setan, menganggapnya tidak bermain fair play, padahal yang tidak fair play itu kadang adalah kita sendiri.

  5. Bala(ne)dewa 21 June 2012 / 9:27 am

    Mbah,

    Sebenarnya cara menyembah Tuhan/dewa2/leluhur itu kan urusan yang menyembah dengan Tuhan/dewa/leluhur nya.Nusantara termasuk satu diantara banyak negara – Iran,Arab Saudi,Malaysia,dll – yang tidak memberi kebebasan …beragama/kepercayaan pada rakyatnya . Agama2 yang resmi diakui pemerintah cuma enam saja – Islam,Katholik,Kristen,Hindu,Buddha, dan Konghucu.

    Sebenarnya beragama apa saja itu kan … hak asasi manusia. Misalnya, kalau kita bikin agama sendiri, pengikutnya cuma satu atau segelintir orang, kan boleh2 saja ?! Secara moral dan kontitusional negara sebenarnya TIDAK mempunyi hak untuk mencampuri urusan beragama/berkepercayaan rakyatnya. Cuma, di negara2 yang kurang/tidak ada kebebasan ya hak2 individu ini dikebiri. Kalau toh ajaran agama/kepercayaan bikinan sendiri itu.. sesat, biar Tuhan,dewa2 atau alam yang menghukum ybs. Kita manusia kan tidak bisa main hakim, eh main Tuhan,dewa,alam ?!

    Di Nusantara banyak kekerasan dilakukan atas nama agama (resmi). Orang2 yang dianggap nyleneh, menyimpang dari agama ditindas …digebuki, padahal secara hukum sah2 saja – yang nyleneh ini tidak mencuri, korupsi, atau membakar rumah2 orang. Kata siapa itu ya, pencuri ayam digebuki sampai mati, tapi pencuri kelas kakap,koruptor,diapakan ? Apa ini yang namanya Keadilan Sosial, ataukah Kemanusiaan yang adil dan beradab ?

    Salam keadilan dan kemanusiaan

    • REPLY WAGER : Pemerintah sangat baik hati, peduli rakyat jadi tidak mau rakyatnya masuk neraka makanya bikan agama sendiri selain agama resmi dilarang. Tapi kalau korupsi boleh-boleh saja.
  6. Wisnu Tiang Jawi 22 June 2012 / 8:20 am

    Matur nuwun mbah atas postingnya, sungguh suatu fakta yg memprihatinkan /membuat prih ing bathin bg qta dimn suatu keyakinan/agama produk asli pribumi berupa ajaran2 luhur dan bernilai tinggi yg nota bene udah ada sblum ajaran2 lain masuk ke bumi nuswantara ini, tetapi harus terpinggirkan atau bahkan tdk dikenal oleh orang pribumi sendiri, namun menurut saya disinilah letak kebesaran nilai2 luhur tertinggi dr ajaran2 para leluhur Jawi dmn ajaran Leluhur Jawi pd intinya menekankan sih katresnan, kesejatian, teposliro ,mengalah untuk menang,,, Jadi di dlm ajaran Kajawi sudah jelas ajaran yg menanamkan nilai2 demokrasi tertua sangat dimungkinkan menjadi tergusur oleh ajaran2 asing dgn karakter dogtrinasi yg sangat populer utk memperbanyak penganutnya, Didalam ajaran kejawen sangat jauh dr doktrinasi krn ajaran yg bersumber dr hati nurani yg tak mungkin lg diplintir2 spt agama2 samawi. Saya acungi jempol 1ooo utk postingannya mbah, krn mau mendedikasikan ajaran2 kejawen yg sudah sangat jauh dikenal oleh org pribumi namun sebenarnya dekat dgn hati nurani qta.

    Salam sih katresnan,
    Rahayu

    • span style=”color:#339966;”>REPLY WAGER : :mrgreen: Malang tidak bisa ditolak, untung tidak bisa diraih dan begitulah adanya. Terima kasih Mas Wisnu TJ atas komentarnya.
  7. nurkahuripan 24 June 2012 / 9:47 am

    Nggih mbah wage,.indonesia adalah INDONESIA..
    agama tidak lain adalah tiap langkah hidup kita,.karena yg mencegah perbuatan yg tiada selaras dgn hukum alam,bukan agama,.melainkan diri kita,dlm setiap langkah hidup kita,.

    Sang non waktu pun tersenyum,.ketika sang waktu mencoba mengangkat diriNya,walau dirinya tiada tempat berpijak..

    • REPLY WAGER : :mrgreen: Matur nuwun Mas Nur. Komentar yang indah. Saya baru sadar, ternyata tempat ini, unsur seni-nya rada kurang. Senang Mas Nur mau mampir. Silakan anggap sebagai rumah sendiri. salam
  8. nurkahuripan 24 June 2012 / 8:46 pm

    Nggiiih mbah,.Matur suwun mbah dan menunduk,.

    • Reply dari wage : :mrgreen:
  9. modernprimate 7 July 2012 / 12:35 pm

    Blog yang Adem buat numpang berteduh…….Numpang mampir Ki….:)

    Hidup sekedar “mampir ngombe/mampir minum” untuk “pulang”….
    Mengambil makna hakiki tentang hidup sebagai petunjuk jalan pulang adalah lebih penting daripada saling gontok-gontokan mempersoalkan orang-orang di sekeliling kita sedang “minum” minuman jenis apa…. Kalaulah merasa bahwa yang sedang “diminum” merupakan sesuatu yang nikmat, maka ketika menawarkan pada orang lain pun seyogyanya dengan cara-cara yang bijak…karena mereka juga mempunyai hak yang sama untuk memilih sesuai dengan selera masing-masing.

    Imagine all the people….living life in peace…..what a wonderful world….:)

    • :: wage rahardjo 7 July 2012 / 3:55 pm

      Kang Modernprimate,

      Selamat datang ke rumah abal-abal ini.
      Silakan mampir kapan saja, nginep juga kagak apa apa.
      Semua orang disini bersaudara.
      Kagak pakai istilah tuan rumah dan tamu
      Kalau lapar dan haus tinggal nyelonong ke dapur.

      Komentar Sampean sangat menarik, menggunakan analogi minuman.
      Agar minumnya tambah adem, kita duduk duduk di bawah pohon aja ya.

      wage

  10. Chris 12 July 2012 / 7:53 pm

    Salam kenal Mbah Wage.

    Artikelnya tentang kepercayaan lokal maknyus sekali. Saya baru tahu ini bahwa banyak sekali kepercayaan-kepercayaan yang ada namanya di Indonesia.

    Banyaknya kepercayaan lokal ini jadi bahan bakar banyak pertanyaan kritis. Misalnya:
    – Mengapa manusia punya kecenderungan membuat hipotesis bahwa ada sesuatu yang mengatur semuanya?
    – Apa manusia tidak bisa hidup tanpa memaknai hidupnya dan lingkungannya?
    – Bila manusia harus memaknai (agar dapat hidup waras), pengetahuan apa yang digunakan untuk memaknai?
    – Apakah pemaknaan manusia (yang akhirnya menjadi kepercayaan) itu sangat tergantung pada pengetahuan yang sudah dimiliki?
    – Bila pemaknaan itu sangat tergantung pada pengetahuan yang sudah dimiliki, kepercayaan apa yang akan muncul dari orang yang mempelajari ilmu pengetahuan modern?
    – dll, dst, dsb… hehe.

    Sekian dulu tanggapan spontan saya yang muncul setelah baca artikel ini…

    • :: wage rahardjo 12 July 2012 / 10:23 pm

      Hallo Mas Chris,
      Komentar yang sangat menarik, khas orang sains. Merupakan suatu kehormatan Mas mau berkunjung. Pertanyaan akan disusul oleh pertanyaan baru dan dengan cara itulah pengetahuan dan peradaban berkembang.
      Semoga sehat selalu ya. wage

  11. nurkahuripan 17 July 2012 / 2:50 am

    Ikut nimbrung mbah wage&mas chris,.
    Nggih mbah,.1 prtanyaan akan menimbulkan prtanyaan lg,.atau 1 tujuan,.akan melahirkan tujuan lg..
    Memang yg terpenting dlm hal apapun adlh “makna”..
    sang makna pun berkata: aku adlh apa yg kau tanam kepadaku.

    • Reply wage:
  12. linggawardanasahajakers 26 August 2012 / 9:57 pm

    permisi lagi mbah…

    waah…pingin tahu kalo mbuat agama ktanya perlu….
    1. Nabi
    2. Kitab
    3. Ritual Peribadatan.
    4.Tempat suci…

    Naah kalo alliran kepercayaan apa yak perlunya??
    heheheee..ga pengen buat kok…pngn tahu aja…
    tahu yang pake kecap pedes sedaaappp..uhuk….
    siapa tahu kalau ada yng tidak terlingkupi agama, atau sempalan dari agama bisa lebih “aman” melakukan ibadat ritualnya…uhuk lagi..

    btw itu sbagian besar aliran kepercayaan diatas thun 1980(ane blum lahir)..skarang ada gak ya nambah??

    ohohoo…

    thanks mbah..

    • :: Wage Rahardjo 27 August 2012 / 1:33 pm

      @ Sdr Lingga,

      aliran kepercayaan itu jelas tidak perlu ada Nabi, kalau ada, nanti dianggap sesat. Tempat ibadah juga tidak perlu, kalau dibangun nanti malah dirusak. Bersaudara 6 agama saja tidak bisa akur, apalagi kalau bersaudara banyak. Baca juga topik tentang Shinto ya, nabi dan kitab malah kagak punya.

      Tahun 1980 belum lahir? telat benar lahirnya Nak…..

    • linggawardanasahajakers 27 August 2012 / 2:53 pm

      hahahaa..iyaa yah…

      belum lahir mbah…masih dibuat ato…. masih menikmati surga…

      Ato pula mungkin masih digoreng di neraka….

      (yaps reinkarnasi mode:on)…

      hmmm..shinto…iya spertinya memang ga ada..cuma tahu memuja Amaterasu kalo gak salah…..

      Harakhiri itu yang mungkin kebudayaan ekstrim…..mungkin terakulturasi dengan budha yang datang belakangan…..
      sepertinya memang menjadi bagian dari naluri atau sifat dasar orang jepang….
      nah indonesia (nusantara) apa yak sifat dasarnya??mudah2an luhur….
      :-)..

  13. Anonymous 28 September 2012 / 10:41 am

    BARU KU TAU KALAU DI INDONESIA ADA AGAMA LOKAL. APA SIH AGAMA LIKAL YANG SEBENARNYA

  14. Anonymous 28 September 2012 / 10:42 am

    APA ITU AGAMA LOKAL??????????????// HELP ME

  15. RIANG 13 December 2012 / 9:05 am

    Jika tak perlu nabi ataupun kitab dari mana kita berpijak dan dengan apa kita bergantung. menghormati dan menghargai kebudayaan leluhur itu penting tapi “kebudayaan” yg seperti apa??
    selaras antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya itupun PENTING tapi dari mana kita belajar tentang pentingnya semua tu jika kita tidak memiliki panduan. semua yg ada semua yg bisa dikerjakan baik bisa dilihat mata maupun kasat mata semua butuh “buku paduan”
    layaknya kita punya handpone baru jelas pasti diberikan buku panduan penggunaan,jangankan menggunakan sebuah benda lah wong sekedar mau buat sayur asem aja itu ada resepnya toh atau yang sepele aja kita beli minuman kotak/susu disitu diberikan petunjuk mana bagian yg untuk dibuka.
    apa lagi jika kita mau dekat dengan Tuhan dan masuk kesurga nya.
    Agama bukanlah kepercayaan semata tapi agama adalah sebuah keyakinan, Keyakinan akan adanya Tuhan.
    APAPUN AGAMA NYA.
    tapi jika tak ada nabi dan kitab dari mana bisa dibuktikan bahwa ajaran2 yg banyak macamnya itu adalah cara mendekat dengan Tuhan.
    saya ga ngerti dengan adanya artikel ini maksudnya apa ya??
    ingin menunjukan budaya leluhur yg terlupakan atau mau “gozul fikri” perang secara pemikiran.

    mohon petunjuknya MBAH……..

    • orang awam 4 January 2014 / 10:59 pm

      kalo menurut saya “agama lokal” itu memang tidak pernah menamai diri sbg agama, tetapi “cuma” ajaran tentang etika manusia berhadapan dengan sesama dan lingkungan dan “pencipta” itupun sesuatu yg tdk bisa dibayangkan.
      Tanpa buku/kitab karena ajaran hidup itu sederhana sekali( bagaimana hidup tidak menyakiti orang lain, tidak merusak lingkungan, ritual berterima kasih ketika panen, bersih desa dsb. tidak ada nabi sbg penuntun, karena tuntunan itu diberikan secara turun temurun oleh yang lebih tua.
      Tidak pernah memikirkan imbalan surga kecuali, urip mung mampir ngombe,tapi waktu yang singkat itu sebaiknya bermanfaat.

    • wager 5 January 2014 / 7:10 am

      @ Orang Awam,
      Nuwun atas tambahannya. apa yang Anda tulis, persis seperti apa yang saya pikirkan. Memang seperti itulah adanya. Tanpa nabi, tanpa kitab dan tanpa label agama membuat “pengikutnya” menjadi lebih bebas untuk belajar hal baru, ilmu baru ataupun mungkin juga lebih bebas untuk berinteraksi dengan kelompok lain…..

  16. IB 18 December 2012 / 12:51 am

    salam kenal mbah. saya ingin mencoba menginformasikan saja mbah,agama lokal yang di pertanyakan oleh sdr rid775 dan jawaban mbah tentang agama lokal sudah punah semua itu belum benar mbah saya contohnya masih menganut agama lokal,setiap tanggal satu suro kami selalu kumpul bersama mbah kalo mbah tidak percaya silakan mbah datang ke acara kami di daerah ngesti harjo wates mbah. dan masih banyak agama2 lokal yang masih eksis mbah Tks salam hormat saya mbah

    • Reply dari wage : :mrgreen: Salam Kenal juga Sdr IB. Pemerintah hanya mengakui 6 agama resmi saja. Dan atas dasar itulah simbah mengatakan atas dasar hukum agama lokal itu sudah “punah”. Kalau masih dilestarikan oleh sejumlah kelompok di sejumlah tempat, ya sukurlah.
  17. RIANG 10 January 2013 / 5:58 pm

    punya saya ga di jawab MBAH

  18. wager 10 January 2013 / 9:00 pm

    Nak Riang yang baik,

    Maaf beribu maaf, bukannya bermaksud mengabaikan pertanyaannya Nak Riang, tapi semata karena siMbah bingung harus jawab apa ya?

    Nak Riang sudah punya keyakinan yang jelas dan juga tegas bahwa manusia ibarat barang produksi yang sudah dilengkapi dengan buku panduan yang disebut Kitab Suci yang disampaikan oleh tuhan ataupun malaikat dengan cara bisik2 pada utusannya yang disebut Nabi. dst..dst…

    Kesimpulannya kurang lebih : “Tanpa buku manual (ataupun agama) maka kehidupan menjadi salah, ngawur atau tanpa arah, ibarat berpergian tanpa peta penunjuk, ibarat masak tanpa resep, dsb”.

    Keyakinan yang tentu saja sangat bagus dan mulia. Jadi saran siMbah, silakan dilanjutkan dan pelajarilah buku manual itu dengan rajin dan tekun serta hiduplah sesuai dengan apa yang tertulis didalamnya. Jadi jangan buang waktu dengan menunggu jawaban dari siMbah sentoloyo ini.

    Bacalah buku manual yang Ananda ngerti jangan baca blog abal-abal yang kagak dimengerti. Cangkir yang sudah penuh tidak akan bisa dituangi minuman lagi……

    salam
    wage

  19. eLeS 11 January 2013 / 2:45 pm

    ikutan ngobrol ya akang2 :D

    kenapa keyakinan lokal kita hampir punah? dan tergantikan oleh agama2 yg hadir di nusantara?
    kira2, menurut saya karena waktu itu budi pekerti masyarakat kita sudah sangat luhur maka apapun agama yang masuk akan diterima dengan senang hati oleh masyarakat kita karena yang hadir pun juga memiliki kesamaan visi dan misi (diluar konteks perpolitikan masa itu).
    seperti mempercayai dan meyakini adanya Tuhan Yang Esa.
    dan ingin membawa manusia umumnya kepada budi pekerti, kebaikan, hidup bersama dengan kemaslahatan masyarakat dan alam raya.

    dan masyarakat masa itu dengan lapang menerima kehadiran agama2 karena kebutuhan identitas, khususnya siapa yang saat itu memimpin suatu wilayah (akuwu/raja, dll) dan menyetujui sesuatu maka masyarakat akan menuruti, selama itu baik.

    seperti kata baginda Bhre Brawijaya, terimalah setiap orang yang masuk kewilayah kita, dan jangan memusuhinya.
    (kira2 begitu)..

    heheheheheheheheee

    salam :)

  20. Mang Urib 16 January 2013 / 3:49 pm

    Kok nggak ada agama Rock ‘n’ Roll yang digagas nabi besar Elvis Praseley muncul dalam ulasan mBah?

    • Reply dari wage : :mrgreen: wakakakkk….Ini lagi bahas agama lokal, sedangan Rock n Roll itu masuk ke halaman sebelah
  21. snowlyjam 7 July 2013 / 1:49 pm

    hello

  22. M. Djayusman 15 July 2013 / 12:18 pm

    Kerokhanian Sapta Darma sejak tahun 1952 menjadi bagian dari agama asli Indonesia, kita semua perlu duduk bersama untuk menjadikan indonesia lebih baik, Pamuji Rahayu Bagas Waras.

  23. putu panji 3 March 2014 / 7:09 pm

    Salam……kalo orang yg suka berkoar2 tentang agama tp hobby bikin rusuh baca hal ini smoga mereka menjadi damai damai dan damai.love indonesia

  24. RP 3 March 2014 / 8:11 pm

    apapun agamanya atau anda bukan seorang yang beragama..yang penting
    baik bener jujur dan lurus

  25. RP 3 March 2014 / 8:18 pm

    SAYA MAU BIKIN AGAMA BARUUUUUU
    haahahahahaaaaaaaa

  26. PASUKAN PANTAI UTARA 3 March 2014 / 8:39 pm

    yang menghalangi DIPERANG..demi AGAMAKU
    yang masuk agamaku seluruh Jin dan Makhluk halus, jika ada yang berontak melawan akan ku musnahkan…dengan apa dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Esa
    tapi Bukan Tuhan seperti orang islam, budha, kristen..
    nanti saya bikin sendiri namanya Tuhan saja
    Tuhan ya Tuhan, ga perlu nama lain lah…
    masa Tuhan 1 nama banyak…
    diislam Allah, di hindu budha Sri Kresna di Kristen Yesus..gimana ini dunia duniaaaaaa

    kalau manusia yang masuk agamaku, harus sembahyang jam 12 malam pake lilin
    sambil baca kitab dari..’ DULU AKU TIADA NANTI AKU SIRNA, JADI AKU HARUS MENSYUKURI NIKMAT TUHAN MENGHIDUPKANKU, YA TUHAN YANG MAHA ESA, AMPUNILAH AKU, ……………………………belum jadi kitabnya brow…
    ………………………………….
    lama lama tak remek bumi ini……buat apa ada bumi dan isinya yang tak berguna……….

    KABAR GELOOOOO

    ada kabar gunung ciremai mau dijual 60 triliyun oleh pemerintah , tadi baca di koran radar cirebon
    katanya kalau kapal gak ada yang lewat ciremai, karena petir ada dari 2 arah atas dan bawah..
    dari sekian banyak gunung didunia hanya gunung ciremai yang punya petir 2, menurut mereka petir dari atas itu biasa, dari bawah luar biasa, mengindikasikan ada EMAS Seperti tambang emas privote,..
    kalau memang ciremai benar benar dijual….wah negara EDAN hahaha

    itu ciremai mau dibeli amerika
    karena amerika boneka dajal, lihat duit dolar tatanan dunia baru, ciremai itu berdiri kimangun tapa dan leluhur ect, mereka menahan gempuran pasukan dajjal
    dari ciremai menjurus lurus ke segi tiga bermuda, makanya sekarang banyak manusia kaya setan kaya binatang, karena hawanya sudah menebal, ……..
    itu petir dari tongkat kimangun tapa, mak lampir saja terbirit birit, atau mungkin sembara dengan acmbuk apinya hahaha…

    GILA INDONESIA KALAU CIREMAI DIJUAL
    BATARA KARANG GUE NTAR SURUH TERBANG BEBAS DONG MANGKANING ADA 9 JUTA..1 BK makan 1000 orang
    gak berlaku darah O semua darah jadi disantap hahaha
    gelo gelooo kalau benar ciremai dijual…
    hahahahahha

    • PASUKAN NUSANTARA 3 March 2014 / 10:33 pm

      Ahhh yang benar broww????…
      Tapi itu urusan kecil broww…
      Tak usah emosi dan merasa kalah sama mereka…
      Nanti amerika dan dajjalnya kita beli saja… ok kan brothers?????
      Tak perlu gelo (sedih) ati browww…
      Kita pasti bisa beli amerika beserta isinya dengan bonus dajjalnya…
      hahahahaha

  27. kasih ayah 20 June 2015 / 7:25 am

    Salut buat tulisannya, Mbah. Bangsa Indonesia sdh terlalu lama terjebak dengan istilah2 ‘agamaku adalah yg paling benar’, ‘sorga’, ‘neraka’, ‘Tuhan harus dibela’, ‘agama harus dibela’, ‘keluar dari agama sebelumnya dicap murtad’……segala hal/tetek bengek yg menurut saya ‘tidak jelas’! Sampai2 mereka lupa esensi beragama itu sendiri adalah menciptakan hubungan yg baik dgn ‘Sang Maha’ ( Tuhan klo menurut agama2 samawi ), dgn sesama dan memelihara alam semesta! Bagaimana seseorang dgn bangga punya gelar keagamaan paling top tapi perkataannya selalu mencaci dan menghina iman/kepercayaan orang lain? bahkan memerintahkan membunuh hanya karena berbeda kepercayaan? dan yg lebih aneh manusia Indonesia yg beratribut keagamaan lengkap tapi buang sampah sembarangan, merokok di sembarang tempat (sama sekali tidak merawat lingkungan). … Manusia Indonesia sedang terserang virus lupa apa sih sejatinya beragama itu!

    • Wage Rahardjo 20 June 2015 / 3:38 pm

      Salam utk Sdr Kasih Ayah,
      Penjelasan yg sangat bagus dan apa adanya tentang kehidupan beragama di negeri ini. yeah, begitulah adanya…..

  28. vid.. 20 June 2015 / 3:17 pm

    kenapa diatur pemerintah?
    karena agama merupakan hal yang sensitif, maka perlu diatur untuk menekan kemungkinan adanya konflik antar agama. Namun begitu, sedikit banyak, akan mempengaruhi kebebasan dalam beragama. apakah ini solusi terbaik dari pemerintah? meskipun kita menjawab “bukan solusi terbaik”, dalam hal ini apakah menjadi kesalahan pemerintah? bila iya, solusi terbaik seperti apa? bila tidak, berarti kita yang salah. lalu salah kita apa?

    sekali lagi, apakah kebebasan beragama akan menjamin bahwa tidak akan terjadi konflik antar pemeluknya?

    salam, vid..

    • Wage Rahardjo 20 June 2015 / 4:10 pm

      Salam utk Sdr/i VId,
      Tepat sekali, agama adalah hal sensitif (di masyarakat kita) jadinya wajar kalau perlu di atur-atur. Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kalau tdk diatur-atur.

      Namun menurut saya, agama adalah ranah spiritual, jadi aturannya juga berorientasi spiritual yaitu mendewasakan. Diatur-atur ya harus, namun sebatas apa dan juga sampai kapan?

      Mungkin banyak orang khawatir, kalau agama tidak diatur maka akan terjadi konflik. Namun menurut saya, konflik terjadi karena ketidakdewasan dalam beragama.

      Di zaman dulu dan juga zaman Belanda, tidak ada aturan agama resmi, KTP juga tanpa kolom agama tapi aman2 saja.

      Di negeri sekuler agama juga diatur, namun agama resmi tidak ada aturannya. Namun konflik agama relatif rendah.

      Jadi kesimpulan abal2 saya, agama boleh saja diatur tapi hendaknya aturan itu untuk mendewasakan iklim beragama bukan membatasi. Kalau membatasi atau mengekang, itu namanya bukan mengatur tapi mengkontrol.

      Kontrol dilakukan karena ketakutan. Salah satu bentuk ketakutan tersebut adalah nantinya banyak pemeluknya yang akan beralih agama. Yeah, maklum saja, pembuat kebijakan itu khan juga orang2 yg taat beragama.

      Hanya sekedar pendapat abal2.

      salam

    • vid.. 20 June 2015 / 4:40 pm

      terima kasih atas jawabannya, ini pertama kali sy mengunjungi blog ini. sy tertarik menambah pengetahuan dalam bidang spiritual, meskipun masih sangat rendah, sy berharap bisa dibimbing agar lebih dewasa. Jadi, tidak perlu sungkan u/ mengkritik sy.

      terkait dg penjelasan Anda, bahwa dalam ranah spritual, solusi terbaik adalah tidak membatasi (mengontrol/mengendalikan) kebebasan beragama sehingga bisa mendewasakan pemeluknya (dan menekan kemungkinan terjadinya konflik).

      menurut sy, hal ini seperti menggabungkan 2 pelajaran sekolah, yaitu kewarganegaraan dan pendidikan agama. pemikiran ini karena (mungkin) ada ajaran agama yang tidak mengajarkan keselarasan hidup antara manusia satu dg yang lainnya, sehingga, pendidikan kewarganegaraan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan tersebut. atau menggabungkan pelajaran lainnya seperti ilmu sosial lainnya, bahwa manusia merupakan makhluk sosial. di sini, sy merasa bahwa pendidikan agama menjadi fokus utama (bagi kebanyak pemeluk agama), entah bagaimana, sy merasa sikap terlalu fokus ini menyebabkan tumbuhnya sikap fanatisme (bahkan berlebih).

      nah, kembali mengenai aturan, apakah ini termasuk cara pemerintah untuk mendewasakan pemeluk agama secara spiritual?

      salam..

  29. Wage Rahardjo 20 June 2015 / 6:01 pm

    Terima kasih dan salam utk Sdr VID,

    Semua yg saya tulis di atas sepenuhnya adalah opini pribadi yg mungkin salah ataupun berbeda dgn opini rekan lain. Jadi jangan sungkan utk “membantah” kaau dirasa ada perbedaan. Di blog abal2 ini perbedaan pendapat sama sekali tidak dilarang atau akan dihapus.

    Menghargai perbedaan, nah juga salah satu kunci menurut saya menuju kedewasaan spiritual versi saya.

    == Nah, kembali mengenai aturan, apakah ini termasuk cara pemerintah untuk mendewasakan pemeluk agama secara spiritual?==VID==

    Jawaban pastinya ya ada di pemerintah, saya hanya bisa menduga2 saja. Dari beragam undang2 tentang agama yang ada, telah dibuat, solusi konflik dll sepertinya tidak beorientasi mendewasakan masyarakat. Undang-undang atau aturan yang dibuat menurut saya cendrung hanya ala khadarnya, kepentingan sesaat atau cari aman.

    Agama sesat dilarang, tapi pola pikir sesat, colong uang negara dibiarkan. Jadi apa dong korelasi agama dengan prilaku kalau korupsi menggurita?

    Jadi UU tentang agama selama ini menurut saya tidak bertujuan utk mendewasan tapi hanya sekedar mengatur hal ritual dan identitas beragama saja.

    Entahlah, mudah2an saya salah duga.
    Salam

  30. Mudiarcana 25 June 2015 / 12:28 pm

    Harus dipelajari sejarah berdirinya Aliran-aliran tsb, yg mengaku sebagai agama Asli. Menurut saya, semua aliran tsb terbentuk untuk mempertahankan Tradisi dan Kepercayaan yg dianut sebelumnya, yaitu Agama Hindu. Seperti diketahui pada abad ke 14-15 setelah Majapahit dan pajajaran Runtuh terjadi peralihan Agama secara masip di seluruh Nusantara (ada yg mengatakan secara damai ada yg mengatakan secara kekerasan). Peralihan tsb dilakukan melalui instrumen Politik dan sampai sekarangpun diskriminasi politik masih dijumpai dibeberapa daerah.Shg para tokohnya mengklamuplasenya dengan Aliran kepercayaan dan KTP ikut sistem penguasa.

    • wager 25 June 2015 / 3:52 pm

      Salam utk Sdr Mudiarcana

  31. cornnuclear 26 June 2015 / 10:41 am

    masalahnya om, agama itu kan menyangkut akhirat yang kehidupannya kekal abadi…
    jadi saya pribadi, ngga mau deh nyoba2 agama leluhur yang om ceritain…karena, agama leluhur kita gak bakalan menyelamatkan kita diakhirat nanti :D
    but after all, nice share om ;)

    • Wage Rahardjo 26 June 2015 / 11:12 am

      Bagus Nak, memang seperti itulah seharusnya dalam beragama. Jangan sekali-kali memeluk agama yang tidak jelas, cuma asal “nyangkut” di akhirat doang. Pilihlah agama yang ada jaminan surga dengan jelas. Jangan ikut simbah yang sesat, nanti bisa nyangkut di neraka lho. salam

  32. Cahyo Dc 26 June 2015 / 12:00 pm

    @salam mbelgedez lover’s
    Wakakakak
    Bener-bener Nasihat yang Bijak Dari Simbah Wager.
    Ngomong -omong Kalau Yang JELAS bukan Abal-abal Tiketnya Mahal Gak mbah?
    Tapi dijamin Gak nyangkut Ya?
    Wakakakak

    Salam Rahayu

  33. AddIttYya 26 June 2015 / 12:15 pm

    Salam Ya Salam.

    Agama leluhur saya itu Dulu bernama adam luhur (adam makna) seiring datangnya zaman. Yang hak mulai pudar. Hingga datangnya utusan utusanNYA. Sampailah agama Alloh disempurnakan yang sekarang ini. Bernama agama Islam.

    “Sesungguhnya selepas pengusiran (bencana) umatku. Islam akan kembali asing, seperti permulaannya. Maka berungtunglah orang orang yang asing itu. Yang tetap teguh memegang ajaran ku.” hadist Nabi Muhammad SAW.

    “Dan kami telah sempurnakan agamamu yaitu islam.” Al-Qur’an.

    Bila tiada, akan kembali ke tiada.
    Bila cahaya matahari akan kembali ke matahari.
    Bila Alloh itu maha Esa.
    Maka tiada dua.
    Tiada aku kecuali diriNYA.
    Jadi wujud ini, wujud Alloh.
    Dia bersemayam pada wujudNya.
    Sama halnya dengan agama. Ksatria yang menitis setiap zamannya akan berganti wadah, sedangkan Inti tetap sama. Maka dari zaman ke zaman, agama Alloh selalu berinti sama. Tapi dengan nama agama yang berbeda. Jadi apa intinya. Agama Alloh SWT.

Komentarlah dgn hati senang, bukan dgn hati terpaksa apalagi dgn hati kotor.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s