Mengapa Saya Tidak Memilih Islam ?

DONGBUD. WAGER – Kawan, masih ingatkah engkau, kala aku dulu sering merepotkanmu dengan meminjam berbagai buku agama Islam-mu? Sampai kamu kewalahan karena saking banyaknya buku yang ingin aku baca. Aku tahu, buku tesebut tidak semuanya adalah milikmu. Sebagian kamu pinjam dari temanmu bukan? Kamu tidak pernah mengeluh bahkan sangat berbaik hati mengantarkannya ke tempat kosku malam malam dikala hujan.

Kamu ingat, disuatu saat kamu meminta waktu yang sangat khusus untuk bicara. Dengan mimik serius, suara mengecil hampir tidak terdengar kamu berkata pelan : “Theo, kalau kamu mau masuk…. Islam, tolong segera disampaikan ya, biar kami bisa menyiapkannya “.

Aku cuma bisa  terdiam sejenak dan akhirnya tertawa. Ya, hanya tawa yang bisa keluar saat itu. Tawa yang sangat keras dan mungkin juga janggal. Aku merasa bersalah karena sampai perpisahan lulus kelas, aku tetap tidak memberikan jawaban apapun. Pada kesempatan ini ijinkan aku untuk menjawabnya. Jawabannya adalah TIDAK. Mengapa?

“Aku tidak memilih Islam karena aku TIDAK lahir dari keluarga Muslim !”

Jawaban asem bin koplak  !!!! Ya, tentu saja. Tapi itulah kenyataannya. Aku tidak bisa memilih tempat kelahiran, suku, keluarga, jenis kelamin dan termasuk juga agama. Kalau aku lahir di keluarga Yahudi ya nyaris dipastikan aku akan beragama Yahudi, kalau lahir di keluarga Kristen maka aka akan menjadi orang Kristen, demikian juga dengan agama lainnya. Kita dilahirkan tanpa bisa memilih agama, orang tua atau orang yang membesarkanlah yang memberikan atau memilihkannya untuk kita.

Jadi siapakah Anda yang dengan congkak merendahkan atau memerangi saudara lainnya hanya karena perbedaan agama alias tempat lahir yang notabene tidak bisa dipilih?

Tentu saja agama bisa diganti ketika kita sudah dewasa, namun untuk apa? Bagi sejumlah orang, pindah agama mungkin penting, meng-agama-kan atau meng-islam-kan orang lain mungkin sangat berpahala, tapi bagiku, semua itu tidak berguna.

Pindah agama tidak akan otomatis membuat seseorang atau masyarakat menjadi baik dan damai. Kalau agama dijadikan acuan baik dan buruk, tentu korupsi tidak akan menggurita di negeri ini.  Kalau agama dijadikan acuan kedamaian, tentu di kawasan Timur Tengah makmur aman sejahtera, tidak akan terjadi perang yang tidak berkesudahanan sejak zaman jahililah sampai sekarang.

Agama bagiku tidak lebih sekedar label atau identitas yang membuat seseorang menjadi MERASA DIRI lebih baik, lebih benar, lebih bermoral, lebih berakhlak atau berTuhan dibandinkan golongan lainnya. Agama hanyalah identitas komunal dan pindah agama hanyalah sekedar pindah identitas, pindah tempat ibadah dan hari raya saja. Jadi daripada pindah agama, menurutku jauh lebih baik pindah kesadaran atau pemahaman. Bagian ini mungkin terlalu susah untuk engkau pahami.

BAGIKU, AGAMA ADALAH BUDAYA

Agama menurut saya hanyalah sekedar budaya. Budaya sesuai dengan keluarga atau tempat kita lahir atau dibesarkan. Bagian ini mungkin sangat tidak engkau setujui. Bagimu, agama jelas bukan budaya tapi wahyu yang diturunkan langsung dari Tuhan, jadi sudah pasti 100% benar, ajarannya 100% cocok untuk semua orang, semua ras, semua bangsa dan semua zaman.

Maaf kawan, bagiku agama sekali lagi adalah budaya, lahir dan berkembang sesuai dengan tempat kelahirannya. Ajarannya, tata cara, bahasa, cara berbusana, cara makan dll semuanya mengikuti budaya tempat agama tersebut dilahirkan. Kalau agama lahir di suku yang tinggal di daerah tandus ya agama juga mengikuti budaya tandus, kalau agama lahir di daerah rawa ya ajaran agamanya juga mengikuti budaya daerah rawa.

Layaknya budaya, ada sebagian ajarannya yang bagus an cocok dipelajari namun juga ada bagian yang layak diabaikan atau bahkan dibuang. Meniru atau menelan mentah mentah budaya lain menurutkan adalah suatu kekeliruan. Meniru budaya lain tanpa menyaring atau menyesuaikan dengan budaya lokal hanya kan menjadi malapetaka, tercabutnya jati diri.

BAGIKU, AGAMA ADALAH KEBEBASAN : BEBAS DARI RASA BENCI

Islam mengajarkan pemeluknya untuk tidak makan daging babi. Akupun sangat setuju, lagian aku juga kagak terlalu doyan makan daging. Tanpa disuruhpun aku tidak akan makan daging anjing. Tapi membenci babi dan anjing? Ogah ah. Kenapa aku harus membenci mahluk lain?

Membenci mahluk hidup adalah sifat yang tidak seharusnya dipelihara dan dilestarikan. Musuh paling berbahaya bukanlah babi, anjing, setan, sekte, mazhab atau bangsa lain tapi KEBECIAN yang tumbuh dan dipelihara dalam diri. Musuh terbesar dari manusia adalah dirinya sendiri.

Tidak bisa dibantah bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Tapi maaf kawan, aku merasa tidak membutuhkan agama yang sempurna dengan kitab atau ajaran yang tebal dan super lengkap. Aku merasa lebih cocok dengan agama kecil dengan ajaran yang lebih sederhana. Agama yang memberikan banyak kebebasan untuk berpikir, bebas mempelajari ajaran atau agama apapun tanpa harus takut dituduh sesat, tanpa harus terpaku pada kitab, dalil dan akhli tafsir, bebas mengambil contoh dari golongan mana saja tanpa harus terpaku pada contoh Nabi atau cerita zaman dulu.

Aku lahir dari keluarga animisme jadi ya wajar saja kalau akhirnya aku beragama animisme. Aku tidak perlu pindah agama atau mengubahnya karena kebetulan merasa cocok.

Dengan kondisiku sekarang, aku bebas mempelajari dan mempercayai ajaran apapun yang aku anggap bagus tanpa harus pusing dengan label akidah, halal haram atau kafir. Lha, emang udah kafir! Aku bisa bebas  menafsirkan ajaran agama tanpa harus takut disebut sesat. Lha, emang sudah sesat !

Aku teringat disaat aku berkunjung ke rumahmu dengan pakaian ala koboi, salah seorang anggota keluargamu berkata : “Sebagus bagusnya tujuan atau perbuatan kalau tidak merujuk apa yg dibuat Rasulullah  seperti ditulis oleh hadis sahih maka hal itu bid’ah !”. Duh, apa jadinya kalau keluargamu tahu aku menggemari tokoh Superman dan sering berpakaian ala cowboy. Keluargamu bisa marah besar melihatnya.  Kemudian di Islam juga ada ajaran yang (kalau tidak salah) melarang meragukan satu ayatpun dari kitab suci. Nah, kalau bagian ini jelas akut tidak bisa. Walaupun aku bukan bermaksud meragukan tapi hanya sekedar memberi TAFSIR berbeda dari tafsir resmi-pun akan bisa menimbulkan polemik. Aku yakin kalau seandainya aku benar-benar masuk Islam maka hampir dipastikan bahwa  kehadiranku kemungkinan besar akan menjadi aib bagi agamamu.

CATATAN PENUTUP

Semua kehidupan atau kelahiran memiliki arti, tidak ada kelahiran yang tidak berguna. Agama juga sama saja. Agama tidak untuk dibangga-banggakan tapi untuk didaya-gunakan, berguna untuk diri sendiri dan berguna untuk lingkungan sekitar. Bagi kebanyakan orang, agama mungkin adalah sesuatu yang sangat penting, wajib dipeluk, dibanggakan atau dibela mati-matian. Namun bagiku:

  • Agama bagiku adalah tentang rasa yaitu rasa senang dan damai. Disaat hati mereka damai maka label agama sepertinya sudah tidak penting lagi. 
  • Agama hanyalah penanda bahwa aku lahir pada keluarga yang beragama A, B atau C. Agama bagiku yang terpenting bukanlah label tapi esensinya yaitu hidup senang dan damai.

Ajaran tentang kebenaran, ketuhanan dll bisa ditemukan di mana saja dan tidak harus membatasi diri pada satu agama saja. Ah, hanyalah sekedar pendapat yang mungkin tidak engkau setujui.

Salam selalu,

:: Wager

Credit photo : iStockphoto

Advertisements

One thought on “Mengapa Saya Tidak Memilih Islam ?

  1. so wise…
    salut..
    ilmu kebijaksanaan yang sendy dapat hari ini mengagumkan..

    thanks udah berbagi ya, Pak Theo..

    mari menjadi bebas yang bermoral dan teratur berdasar hukum alam semesta..
    salam hangat selalu, Pak
    ,, (^_^) ,,


    🙂Reply dongbud : Cuma cerita biasa. Sykurulah kalau bermanfaat.

Comments are closed.