Agama, Warisan atau Kutukan ?

Agama bisa mendatangkan kebahagian bagi umat manusia, jadi itu artinya agama adalah  warisan sejarah peradaban yang sangat mulia. Namun tidak bisa dibantah bahwa agama juga kadang menjadi pemicu kerusuhan dan perang. Gara gara agama, manusia tega saling tusuk dan saling penggal. Ini artinya agama adalah malapetaka peradaban  atau kutukan.

Ribuan tahun lalu, jauh sebelum agama asing masuk ke Nusantara, nenek moyang kita hidup damai tanpa ribut ribut tentang agama.   Apa yang mau diributkan, wong untuk makan saja susah. Jadi kalau ribut paling banter adalah masalah makanan, rebutan wilayah, tawuran antar desa dan rebutan cewek doang. Wajar saja karena semua orang saat itu tidak ada yang sekolah, jadi tidak tidak tahu cara menghargai orang lain, tidak tahu cara bermasyarakat dan bernegara dengan dengan baik dan benar. Tidak tahu yang namanya peraturan dan undang undang.

Lha, sekarang ini, perut kenyang atau perut lapar sama saja. Berpendidikan tinggi atau rendah sama brutal dan sama bahayanya. Sesibuk apapun kalau tawuran  atas nama agama mendadak punya banyak waktu luang., anak istri kadang dibuang atau dilupakan sejenak. Agama menjadi pemicu kerusuhan dengan kerusakan yang jauh lebih besar dan mengerikan. Apa itu bukan kutukan namanya ?

🙂 Yang salah khan bukan agamanya tapi oknum atau orangnya.

Ah, jawaban klise seperti ini sudah ribuan kali  Mbah dengar. Kalau  oknum yang salah maka oknumlah yang harus dihukum, kalau si Kambing hitam yang salah maka Sampean harus mengikat dan menyalahkan si kambing. Pola ini selalu dan terus dilakukan dan masalahpun tidak pernah selesai. Kenapa sekali kali seseorang tidak berpikir bahwa yang salah dan perlu diperbaiki adalah diri sendiri? Ini menurut Mbah jauh lebih murah dan mudah. Mbah kadang pingin memberi usul radikal saat rapat di balai desa bahwa sekali kali seseorang harus berfikir ulang bahwa jangan jangan agama yang salah!

🙂 Hus, itu namanya kualat Mhan. Bisa bahaya besar !

Ah, Mbah juga tahu! Makanya Mbah TIDAK JADI usul, jadi cukup disimpan disimpan dalam hati, diterapkan untuk keluarga dan anak cucu sendiri. Orang lain boleh rusuh, tapi kita tidak boleh ikut ikutan rusuh. Orang lain boleh  teriak teriak tapi kita tidak boleh ikut ikutan berteriak. Kalau semua orang berteriak malah jadi  ramai dan yang kedengaran cuma suara sendiri. Ini mungkin adalah salah satu mengubah kutukan menjadi warisan versi Mbah.

“Agama adalah kutukan” Buktikan bahwa kalimat tersebut adalah salah.
“Agama adalah warisan dan rahmat bagi semua orang” Buktikanlah dengan prilaku dan perbuatan bukan dengan kata kata atau klaim semata.

Credit: Free photos from acobox.com

Advertisements

12 thoughts on “Agama, Warisan atau Kutukan ?

  1. Kalo menurut saya agama nggak salah mbah, oknum juga nggak salah. Jangan-jangan yang salah malah yang bikin agama…! Itu menurut pikiran saya lho mbah, dan pikiran saya juga bisa salah tentunya.  Salam damai dari negara kafir mbah……

    :)Reply: Nah, gini jadinya kalau tinggal di negara kafir, omongan Sampean jadi ngawur, sama persis dengan omongan si mbah, ha..ha.. Kalau sering sering main ke sini, mbah jadi punya teman. Itupun kalau Sampean setuju dan tidak sibuk.

  2. iya mbah saya suka blog nya mbah…..mendewasakan bangsa. Kalo boleh kapan-kapan diangkat masalah LGBT mbah, kayaknya masalah ini bangsa kita, perlu wawasan mbah…..Tapi itu juga kalo mbah ada waktu dan berkenan. salam damai mbah……

    1. Ok, nanti akan ditulis sesuai pesanan dan tanggal terbit akan diatur, yang jelas tidak untuk tahun ini. Kebetulan juga sudah punya draft tulisannya. Tapi janji jangan marah kalau nanti pendapat si Mbah beda ya? Tulisan akan dibuat netral karena memasukkan dua kubu yang berseberangan dan juga seperti biasa disertakan sedikit opini. salam

  3. muantep mbah…

    saya lebih setuju Agama adalah Kutukan.
    dan yang salah adalah Agama nya dan yang paling salah adalah yang buat agama.
    coba si Albert Enstein buat agama, kira2 gimana ya mbah…

    thanks mbah… salam kenyal…

    :)Reply: Salam kenyal juga. Enstein buat agama? duh kagak kebanyang seperti apa….

  4. kalo yg si sy pahami agama HANYA warisan (salah satu karya/buatan) DARI MANUSIA, namun tidak semua orang hingga matinya dapat bebas dari suatu kutukan yaitu terkurung/terbatasi pola pikirnya oleh (ajaran/doktrin/dogma) agama.

    maka ijinkanlah sy mengucapkan salam hormat dan salut kepada para penganut/umat maupun yg masih beragama. _/\_
    semoga kehidupan ini yg terkadang terasa bagai memikul beban,…
    tidak bertambah bebannya oleh kerana menganut dan mengimani……agama.

    btw, FYI, sy resign sbg umat beragama..
    namun hingga saat ini masih berminat ikut serta sebagai peraya saat hari raya khas bbrp agama.
    misalnya saat aidil fitri ikutan silaturahmi, masak makanan khas lebaran maupun halal bihalal, selain itu biasanya meletakkan pohon natal nan “buricak burinong” /berlampu warna-warni kerlap-kerlip pula.. di ruang keluarga selama dua minggu/hingga akhir bulan desember, bagi2 angpao (walopun ndak bnyk/’recehan’ pula)….dan sebagainya.
    yaaa.. ndak setiap tahun..tergantung kalo sy ada duit utk itu sih. (^_^)v

  5. Menarik sekali mendengar cerita Kang O’on yang penuh kelap-kelip. Saya juga waktu kecil juga punya kebiasaan menghias pohon Natal setiap bulan Novembar. Sekarang tidak pernah lagi, yang masih cuma partynya saja. ♪♪ .

  6. Suatu keyakinan yang sangat kuat terhadap sebuah ajaran , maka itulah yang dinamakan dengan agama.
    Islam, Hindu, Budha, kristen, Katolik….itu semua bukan agama, melainkan ajaran.
    Agama bukanlah sebuah kutukan, namun Agama akan menjadi sebuah kutukan jika ajaran yang salah dijadikan Agama.

  7. Pitutur para sepuh tentang proses terjadinya Sunda & Planet Bumi Awalnya Yang Maha Kuasa membentuk “Jagat Suwung”, yaitu ‘sesuatu’ yang gelap, kosong, hening. Tidak ada barat, timur, utara, selatan, singkatnya… sebuah keadaan yang sulit terciptakan (cipta = pikir). Tahap selanjutnya Yang Maha Kuasa menghadirkan suatu suara seperti “Tawon Laksaketi”(berjuta-juta tawon) yang berbunyi “Huuuung…”. Dunia ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai “Suara Kosmik”. Dari pusat suara munculah jentik-jentik sinar cemerlang “Hyang Putih / Ingyang Putih”sebesar ‘sayap nyamuk’. Dalam bahasa ilmu pengetahuan modern model ini disebut “molekul cahaya”. Semakin lama semakin menggumpal, membesar dan terus membesar. Gumpalan, kumpulan molekul (atom ?) itu semakin lama semakin besar dan memadat maka jadilah “Sang Hyang Tunggal”, sebuah sumber cahaya gemilang yang agung dan suci serta tidak ada bandingnya. Atas kehendaknya (Yang Maha Kuasa ?), Sang Hyang Tunggal memecah dirinya menjadi beberapa bagian dan menyebar di Jagat Suwung. Ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai “Big Bang”, istilah itu dipelopori oleh Stephen Hawking. Pecahan dari Sang Hyang Tunggal menyebar mengisi Jagat Suwung dan kembali menjadi jentik-jentik sinar yang berpencar. Saat ini kita mengenalnya dalam tiga (3) kelompok : Kartika(Bintang), Surya (Matahari), Chandra (Bulan) atau sering disebut sebagai susunan “Tata Surya”. Salah satu dari milyaran tata surya pengisi Jagat Suwung adalah Matahari kita yang dikelilingi oleh planet-planet, dan planet-planet tersebut pun hasil pemisahan (ledakan) dari Matahari itu sendiri. Maka, Matahari kita itu merupakan putra dari Sang Hyang Tunggal dan atau cucu dari Hyang Putih. Matahari dikenal sebagai Sang Hyang Manon atau lebih populer disebut Batara Guru yang artinya adalah “yang senantiasa memberikan / menyampaikan penerang sebagaicahaya kehidupan (*gerak)”. 2. Arti Kata “Sunda”. Matahari adalah “api sejati yang sangat besar” dan dituliskan dalam susunan kata SU(sejati) – NA (api / geni / agni) – DA (agung / besar / gede) atau sering disebut sebagaiSUNDA. Kita dapat menemukan istilah “Sunda” dalam beberapa penamaan seperti; Gunung Sunda (+Purba), Selat Sunda, Sunda-Ra, Kepulauan Sunda Besar – Sunda Kecil, dst. Bahkan seorang filsuf Yunani, Plato menyebutnya sebagai Sunda-Lan atau Ata-Lan atau boleh jadi artinya sama dengan Atlan (Atlantis). Maka, Sunda sama sekali bukan nama sebuah ras atau suku pun etnis, apalagi hanya berupa batas wilayah sebesar Jawa-Barat. Sebab, Sunda merupakan tatanan besar yang berlandas kepada nilai-nilai filosofis “ke-Matahari-an”. Betul bahwa pusat “Sunda” itu ada di Jawa Barat hal tersebut karena keberadaan Gunung Sunda Purba / Gunung Matahari / Gunung Batara Guru / Gunung Cahaya, dalam bahasa Yunani kuno disebut sebagai Gunung Olympia (Olympus = Cahaya) dikenal sebagai tempat tinggal para dewa. Hal ini pula yang menyebabkan mayoritas wilayah di Jawa-Barat menggunakan istilah “Ci” artinya “Cahaya”. Istilah ”Ci” tentu tidak sama dengan “Cai” yang berarti kemilau yang dipantulkan dari permukaan tirta / banyu / apah / air. 3. Sang Guru Hyang & Da Hyang Sumbi Dari cerita Wayang Purwa dikisahkan bahwa Batara Guru jatuh cinta kepada Batari Uma / Dewi Uma. Batari Uma berobah menjadi Batari Durga & dikawini oleh Batara Kala. Arti kata “Guru” adalah yang selalu bersinar / senantiasa menerangi / pemberi kebenaran. Sedangkan arti kata “Batara” ialah “yang menyampaikan (yang menyinari) gerak kehidupan”. Dalam pikukuh Sunda keluhuran budi-pekerti & dharma bakti agung pada diri seseorang menyebabkan ia layak (disetarakan) sebagai sosok “Guru”. Adapun derajat yang tertinggi dan paling sepuh disebut Sang Guru Hyang (Sang Guriang) yang artinya adalah Saka Guru(Guru yang Tertinggi / Puncak tertinggi dari segala Guru / Cahaya) dan itu sama denganMatahari disisi lain hal tersebut maknanya sama dengan “Sunda”. Batari Uma (Ma / Umi / Ambu / Ibu / Umbi / Bumi) sesungguhnya merupakan pecahan dari Matahari (Batara Guru / Sunda), didapat dari hasil ledakan besar yang kemudian bergerak mengeliling Matahari menjadi bagian dari Tata-Surya (Solar System). Batari Uma atau Dewi Uma pada mulanya bersinar terang seperti halnya Batara Guru, namun lama-kelamaan sinarnya semakin padam dan permukaannya berobah menjadi tanah yang bergelombang. Tentu saja hal tersebut akibat ia menjauh dari Matahari (Batara Guru), kejadian itu diumpamakan sebagai “kutukan” Batara Guru kepada Dewi Uma yang kemudian berobah nama menjadi Batari Durga yang buruk rupa. Setelah Dewi Uma kehilangan cahaya dan menjadi Batari Durga maka ia dikawini oleh Batara Kala, yang artinya ialah terkena hukum “waktu” maka terjadilah peristiwa waktu & ruang di planet Bumi. Waktu (Kala) ditentukan oleh Matahari Ruang (Pa) ditentukan oleh Bumi Namun demikan, walaupun Dewi Uma telah menjadi Batari Durga ia masih mengandung putra dari Batara Guru dan saat ini kita menyebutnya sebagai “Magma” (api yang ada di perut Bumi) yang kelak melahirkan berbagai jenis batuan serta unsur-unsur lainnya sebagai penunjang kehidupan para penduduk Bumi. Peristiwa tersebut dalam Pikukuh Sunda diabadikan dengan sebutan Bua-Aci (‘buah’-aci) atau lebih dikenal sebagai Sang Hyang Pohaci, yang senantiasa memberikan kesuburan (*kehidupan)kepermukaan tanah. Dari sebutan atau ungkapan tersebut pada saat sekarang membuat kita mengenal istilah “buah” (*phala / pala / pahala) serta istilah “Bua-na” yang kelak berobah menjadiBanua (Benua). Perobahan dari Dewi Uma menjadi Batari Durga (*karena tertutup tanah) menyebabkan perut Bumi harus dapat mengeluarkan panas Bumi (magma), maka lahirlah sebuah “cerobong raksasa” yang disebut sebagai Gunung Sunda (Gn. Batara Guru). Pada dasarnya Dayang Sumbi itu berasal dari kata Da-Hyang – Su-Umbi , yang artinya : Da = Agung / Besar Hyang = Moyang / Eyang / Biyang / Leluhur / Buyut. Su = Sejati Umbi = Ambu / Ibu Dayang Sumbi mengandung makna: Leluhur Agung Ibu Sejati atau setara dengan sebutan Buana / Ibu Pertiwi / Bumi / Earth. Maka jika disimpulkan, kisah / legenda Sang Guru Hyang & Da Hyang Su Umbi itu lebih kurang memaparkan tentang kejadian / hubungan antara Matahari & Bumi, keberadaan “Waktu & Ruang” (Kala & Pa) dan khususnya berceritera tentang “awal kehidupan manusia di muka Bumi” yang intinya menyatakan bahwa “waktu & ruang merupakan hukum kehidupan”. 4. Situmang = Trisula Naga-Ra Dalam kisah Sang Guru Hyang diceriterakan bahwa Dayang Sumbi pada akhirnya kawin (bersanding) dengan Situmang, yaitu seekor anjing yang membantu membawakan gulungan benang yang terjatuh ketika Dayang Sumbi sedang menenun. Perkawinan mereka menghasilkan sosokSangkuriang (Sang Guru Hyang). ‘Sangkuriang’ atau sebut saja Sang Guru Hyang yang ke II ini maknanya adalah kelahiranNegeri Matahari (Dirgantara) sebagai pusat Keratuan / Keraton Dunia, atau kelahiran pola ketata-negaraan yang pertama di dunia yang ditandai oleh Gunung Sunda Purba atau Gn. Matahari / Gn. Batara Guru. Saat ini tersisa sebagai Gn. Tingkeban Pa-Ra-Hu, dan sekarang kita menyebutnya sebagai Gn. Tangkuban Parahu. Setelah keberadaan wilayah beserta penduduknya, bentuk kemasyarakatan diawali dengan adanyaTata / Aturan / Hukum yang berupa Tri Su La Naga-Ra (Tiga Kesejatian Hukum pada sebuahNegara), atau dalam silib & siloka SITUMANG yaitu terdiri dari : – Rasi / Datu berkedudukan sebagai pengelola kebajikan, wilayahnya disebut “Karesian / Kadatuan atau Kedaton”. – Ratu berkedudukan sebagai pengelola kebijakan, wilayahnya disebut Keratuan / Keraton. – Rama berkedudukan sebagai pembentuk kebijakan dan kebajikan, wilayahnya disebut“karamat” atau sering disebut sebagai “kabuyutan” atau wilayah para leluhur / luhur / gunung (*?) = (tanah suci). – Hyang merupakan sumber ajaran kebijakan dan kebajikan, wilayahnya disebut Pa-Ra-Hyang. Adapun sosok binatang “anjing” merupakan metafora atau perumpamaan dari watak “kesetiaan”. Simbolisasi tersebut tentu sangat sesuai dengan kenyataan yang berlaku dan layak dipergunakan sebagai pola tanda seperti halnya Sang Hyang Gana (Ganesha) yang mempergunakan siloka “gajah”, ataupun konsep pemerintahan yang dilambangkan dalam bentuk “harimau” (mang / hitam – ang/merah – ung/putih = maung). 5. Awal Kenegaraan Dunia “Layang Saloka Domas & Saloka Nagara” Secara logika tentu awal keberadaan sebuah negara harus memenuhi beberapa syarat, yaitu : kepastian hukum, keberadaan wilayah, masyarakat, aparatur pemerintahan, serta pengakuan. Tanpa salah-satunya terpenuhi maka tidak layak disebut sebagai sebuah negara. Maka demikian pula dengan kelahiran pemerintahan ditatar Sunda yang konon (*berdasarkan catatan sejarah yang ada hingga saat ini) diawali dengan adanya sebuah Keratuan yang bernama“Salokanagara / Salakanagara”. Tentu ‘kerajaan’ tersebut mustahil ada jika tidak diawali oleh adanya “nilai-nilai ajaran” yang menjadi sebuah peraturan / hukum. Itu sebabnya masyarakat kita mengenal istilah “Layang Saloka Domas” yang artinya : – La = Hukum – Hyang = Leluhur – Sa = Esa / Tunggal / Satu – Loka = Tempat / Wilayah – Domas = Tidak Terhingga / invinity / 8 Arti keseluruhannya ialah : Kesatuan Wilayah Hukum Leluhur (yang) Tidak Terhingga. Adapun Saloka Nagara pada dasarnya merupakan wilayah kekuasaan hukum yang sangat besar.Sa-Loka Naga-Ra (*Salaka Nagara ?) artinya adalah : – Sa = Esa / Tunggal / Satu – Loka = Tempat / Wilayah – Naga = *…lambang penguasa darat & laut (samudra). – Ra = Matahari Saloka Naga-Ra berarti : Kesatuan Wilayah Kekuasaan Darat & Laut (negeri) Matahari. 6. Aki ‘Tirem’ Menyentuh jaman Saloka Nagara tentu tidak terlepas dari keberadaan Aki Tirem yang mempunyai makna sebagai berikut; – Aki = Leluhur / Kokolot / Sesepuh / Tohaan / Tuhaan (‘Tuhan’). – ‘Tirem’ = (…………beberapa kemungkinan arti) : Tarum / Taru-Ma (Kalpataru / pohon hayat / kehidupan). Ti-Rum / Rumuhun Ti-Ram / Rama Jika “Tirem” itu adalah kata lain dari “Taru-Ma” (*taru = tree / pohon, dan ma = uma / bumi / ambu / ibu) maka istilah “Aki Tirem / Taruma” bisa mengandung makna sebagai “Pohon keluarga para leluhur Bumi”.
    cropped-cropped-13690849_110514319386703_1456267114237747261_n.jpg

  8. Awasi pergerakan kaum jahiliyah setelah membaca
    Riwayat Jagad di atas

    Jangan jangan ditulis ulang dalam versi tafsir karangan karepe dewek

    Sungguh terlalu

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s