Mengapa daging Babi haram bagi agama Yahudi ?

Maaf saya tidak tahu jawabannya secara pasti. Lha, wong saya bukan orang Yahudi! Punya sih saya beberapa teman Yahudi tapi abal-abal alias makhluk carnivora pemakan apa saja dan seorang lagi malah penganut vegetarian, jadi kalau ditanya juga sepertinya percuma.

Di tulisan di bawah ini saya cuma berandai andai alias iseng berkhayal “Kenapa sih orang Yahudi tidak makan daging babi atau bahkan sangat membeci binatang babi?” Berikut khayalan saya.

Kondisi alam

Agama Yahudi lahir dan berkembang di daerah padang pasir yang tandus dan nyaris tidak memungkinkan untuk berternak babi. Babi adalah binatang yang memerlukan banyak air, baik untuk berkubang ataupun membersihkan badan terlebih lagi membersihkan kotorannya.

Kotoran unta setahu saya bisa dipakai untuk obat bagi mereka yang modar karena sengatan hawa panas. Caranya sangat sederhana yaitu dengan mencampur kotoran unta yang sudah kering dengan ari dan meminumkannya pada si sakit. Demikian juga dengan kotoran sapi, memiliki manfaat yang tidak kalah besarnya yaitu  bisa dipakai untuk membuat tembok rumah.

Sedangkan kotoran babi, bisa dipakai untuk apa coba ? Setali tiga uang dengan kotoran manusia alias tidak berguna sama sekali ! Lupakan tentang pupuk karena mereka hidup di daerah tandus. Juga lupakan tentang  bio gas karena mereka negara berkubang minyak.

Alasan kesehatan

Ini (mungkin) adalah alasan terbesar dan terpenting dibanding alasan lain. Habitat terbaik dari babi adalah di daerah yang beriklim tropis, lembab dan tersedia banyak air. Di daerah panas dan kering seperti gurun dan padang pasir jelas bukan tempat hidup yang ideal bagi binatang hina ini.

Kemungkinan terserang penyakit menjadi lebih besar. Nah, cerita lanjutannya tentu sudah bisa anda tebak bukan ?  Jadi sesuai dengan konteks dan kondisi, wilayah dan jaman pada waktu itu, anggapan daging babi penuh penyakit dan tidak aman untuk dikonsumi adalah benar.

Namun pada kondisi sekarang ini, menganggap semua daging babi adalah berpenyakitan jelas salah. Ahli kesehatan dan badan perlindungan konsumen di negara maju jelas tidak bodoh, mau meloloskan begitu saja daging penuh penyakit beredar di masyarakat. Tempat pemotongan hewan diawasi dengan sangat ketat dan menjagal hewan tidak bisa dilakukan oleh individu.

Pada masyarakat negara tertentu sejak jaman dulu sudah mengenal budaya menu makanan daging sapi mentah. Daging sapi contohnya bagian tubuh tertentu bisa dimakan mentah. Daging lainnya yang bisa dimakan mentah adalah ayam. Namun khusus untuk daging babi, bagian tubuh manaapun adalah berbahaya untuk dikonsumi mentah. Berbahaya bukan karena daging babi penuh penyakit tapi karena rentan keracunan. Singkong sekalipun bisa modar kalau dikonsumsi mentah atau uring uringan kalau dimasak setengah matang. Tidak percaya? Coba saja.

Jadi manusia sudah memiliki sejarah peradaban yang panjang dalam hal santap menyantap daging, mana yang aman dan mana yang tidak aman dan kiat menghidarinya. Apalagi ilmu kesehatan sekarang sudah sangat maju dan tentu tidak gegabah melegalkan daging berpenyakitan bukan?

Rentan terhadap kegemukan

Bagian ini juga sebenarnya yang paling tepat kalau disebut berhubungan dengan kesehatan. Daging babi memiliki jumlah komposisi lemak yang jauh lebih besar dibandingkan dengan daging hewan lain. Bagi mereka yang masih berumur muda tentu bukan masalah besar, namun seiring dengan umur yang semakin tua maka kemampuan tubuh mengubah lemak menjadi energi akan menjadi semakin berkurang yang akan memunculkan masalah kesehatan. Kegemukan juga kadang berhubungan dengan umur.

Jadi apakah itu berarti mengkonsumsi daging bagi akan membuat seseorang gemuk dan berumur pendek ?  Jawabannya tentu tidak. Sekali lagi ilmu kesehatan modern adalah kuncinya. Dengan pengetahuan dasar tentang kesehataan dan mengolah makanan yang tepat maka kegemukan bisa dihindari.

Tahukah anda bahwa salah satu wilayah negara yang memiliki rata rata penduduk usia tua paling panjang di dunia adalah penduduk Okinawa, wilayah paling selatan dari Jepang.  Tahukah anda penduduk wilayah tersebut mengkonsumsi daging babi dalam jumlah yang luar biasa besar. Kuncinya ternyata terletak pada pola pengolahan makanan mereka yang sangat unggul. Mereka sangat menghindari penggunaan minyak goreng.

Anggapan keliru tentang Binatang

Anggapan sejumlah orang yang mengatakan bahwa babi adalah binatang kotor yang sering makan kotorannya sendiri jelas tidak tepat. Saya yakin orang yang berpendapat atau membuat artikel semacam itu dipastikan sekali tidak pernah memelihara binatang apalagi babi. Ini adalah penggiringan opini yang keliru tentang binatang babi. Binatang apapun kalau dipelihara dalam kandang yang sempit akan stress. Dalam kondisi stress apapun bisa terjadi. Jangankan binatang, manusiapun kalau stress bisa bertindak tidak rasional bukan?

Sebagian orang mengatakan bahwa babi tidak punya leher. Duh, tetangga saya bisa marah besar  kalau mendengar pendapat ngawur ini.  Waktu kecil saya sering melihat orang potong babi. Dengan pisau yang tajam, sekali tusuk  maka babi akan tewas. Ditusuk ke mana? Ke pantat? Ya tentu saja ke lehernya dan darah akan mengucur deras seperti pancuran.  Kalau tukang jagalnya amatir maka darah akan menetes seperti luka. Kalau tidak percaya silakan datang ke rumah jagal agar lebih jelas.

OPINI PENUTUP

Jadi kesimpulannya (menurut saya), daging babi diharamkan oleh agama Yahudi karena memiliki alasan. Saya yakin mereka tidak bodoh dan tahu cara mengkonsumsinya dengan aman namun memilih untuk melarang mengkonsinya. Mirip dengan kasus minuman keras, cara paling mudah adalah  melarang mengkonsumsinya.  Penjelasan seperti : boleh diminum asal cukup umur,  asal tidak berlebihan, asal tahu situasi, boleh dikonsumsi asal dimasak matang dll sepertinya sangat sulit diterapkan terlebih pada masyarakat pada jaman tersebut.

Melarangnya adalah jalan paling mudah dan efektif. Saya sendiri juga cendrung setuju dengan cara tersebut. Waktu saya kecil dulu juga diajar untuk tidak banyak makan daging karena bisa cacingan. Nah, konsepnya adalah sama menurut saya.

Namun sesuai hukum alam, segala sesuatu di dunia ini akan melahirkan dualisme, baik buruk, sisi negatif dan positif atau dalam filsafat Indonesia kuno dikenal dengan nama Rwa Bhineda, dua yang berbeda. Apa itu? Pelarangan makan babi akan memicu orang untuk membenci binatang babi. Rasa kasih sayang dan cinta kasih terhadap mahluk hidup menjadi hilang dan babi akhirnya dianggap sebagai binatang hina dan penuh penyakitan yang harus dikutuk dan dimusnahkan.

Pernyatan ini jelas  menunjukkan rasa tidak hormat pada kehidupan. Lahir bukanlah pilihan. Kalau bisa memilih saya yakin si babi juga tidak akan mau lahir sebagai babi tapi mungkin lebih memilih sebagai burung merak atau burung cendrawasih.

Di sejumlah keluarga, belakangan ini babi mulai dipelihara sebagai pet atau peliharaan, khusunya untuk babi jenis kecil. Kalau dilatih dan diajar, mereka juga akan menjadi peka terhadap rasa kasih sayang, bisa menjukkan rasa senang disaat pemiliknya senang dan juga bisa merasakan kesedihan di saat pemiliknya sedih. Ini berarti binatang juga punya perasaan. Kalau sebatas hidup bersih, pipis di toilet atau tempat yang sudah disediakan, hampir semua binatang kalau diajar pasti bisa. Kucing yang volume otaknya lebih kecil saja bisa pipis di toilet kalau diajar apalagi babi. Jadi kuncinya adalah pendidikan.

Sesungguhnya semua kehidupan punya arti dan berasal dari sumber yang sama.  Sebagain orang menyadarinya namun sebagian mungkin mengingkarinya.

Wage Rahardjo

Sumber image: Unknown (thank’s for photographer)