Kremasi atau Dikubur ?

800px-Helsinki-cemetery-mini-gravestones-1841

Dongbud – Wage Rahardjo. Kubur jenazah adalah tradisi umum yang telah dilakukan berabad abad oleh hampir semua budaya masyarakat negeri manapun. Namun beberapa dasawarsa belakangan ini mucul tradisi aneh dan rada menyimpang yaitu kremasi.

Kremasi artinya  di-abu-kan, jadi jenazah tidak ditanam dalam tanah tapi dibakar alias dipanggang dengan bara api sampai menjadi abu. Duh, amit amit, membayangkan saja sudah sadis dan ngeri bukan?  Tidak ayal fenomena sesat yang menjadi “trend” ini menjadi perdebatan sengit sejumlah orang, antara yang pro dan kontra dan berikut ini saya juga mencoba untuk mengangkatnya menjadi topik tulisan untuk bulan ini.

Keterangan gambar: kuburan model kremasi di kota Helsinki, berukuran serba mini dan kompak. Credit image : wikipedia

Sekilas tentang sejarah kremasi

Menengok sebentar ke catatan sejarah, kremasi sebetulnya bukan metode baru dari pemakaman. Pada jaman peradaban Yunani dan Romawi kuno, kremasi adalah hal yang umum dilakukan. Namun karena kremasi saat itu menggunakan kayu bakar maka biayanya menjadi mahal dan praktis hanya dilakukan terbatas untuk golongan tertentu saja seperti  kesatria, golongan bangsawan dan aristokrat saja.

Seiring dengan kedatangan agama Kristen, praktek penguburan mayat mulai dihapuskan dan bahkan dilarang karena dianggap  tidak manusiawi. Demikian juga dengan agama Abrahamic lainnya hampir semuanya melarang praktek kremasi. Sebagian kalangan agama menganggap kremasi adalah merupakan bentuk pembangkangan terhadap agama, budaya barbar, atheist atau hanya pantas dilakukan untuk pelaku kriminal.

Masalah baru di kota besar: Makam Penuh !

Makam Karet Bivak. Credit image : wikipedia
Makam Karet Bivak. Credit image : wikipedia

Jumlah penduduk terus bertambah dari tahun ke tahun, tapi luas tanah adalah tetap. Ketidakseimbangan ini membuat harga tanah menjadi melambung tinggi dan nyaris tidak terbeli untuk masyarakat berpenghasilan pas kecil. Dengan menggunakan pembangunan ke arah atas, seperti rumah susun maka problem pemukiman otomatis bisa teratasi. Namun bagaimana dengan “rumah” untuk orang meninggal? Membangun tempat makam ala rumah susun jelas sulit untuk dilakukan. Akhirnya masalah tanah kuburanpun menjadi persoalan pelik di hampir semua kota negara maju.

Untuk kota besar seperti Hongkong misalnya, jumlah warga yang meninggal pertahun adalah 42.200 orang pertahun (data 2010) dan untuk menguburkan jenazah dibutuhkan biaya seratusan juta rupiah dan itupun dalam bentuk biaya sewa yang harus diperpanjang secara berkala kalau tidak ingin digusur.  Biaya sebesar ini adalah standard untuk ukuran tanah makam kota besar di negara maju manapun.

Nah, sekarang bagaimana dengan kota besar di Indonesia seperti Jakarta? Tentu saja harga tanah di Indonesia belum semahal di negeri maju namun kasus dasarnya adalah kurang lebih sama yaitu mulai langkanya tanah makam. Untuk membangun atau perluasan areal makam juga bukan hal mudah karena harus bersaing dengan perumahan untuk orang hidup. Gusur menggusur tanah makam-pun bukanlah merupakan berita aneh lagi.

Ketika saya mencoba search lewat google tentang kendala tanah makam di Jakarta maka saya mendapatkan berita yang mencengangkan. [Baca: Kuburan di Jakarta penuh].  Sejumlah berita menyebutkan dalam beberapa puluh tahun lagi diyakini tidak akan ada ruang kosong untuk memakamkan jenazah. google link.

Pemakaman Kremasi adalah solusinya ?

Di sejumlah kota besar negara tertentu, belakangan ini mulai ada kecendrungan menganggap kremasi adalah sebagai  sebagai salah satu solusinya. Kremasi yang awalnya sempat dilarang dan dianggap illegal mulai dilegalkan. Krematorium atau tempat pembakaran jenazah-pun mulai dibangun dan dioprasikan sejumlah tempat. (Keterangan gambar: abu jenazah yang ditaburkan ke laut lepas. sumber wikipedia)

Di sejumlah negara tertentu, dipilihnya pemakaman kremasi sebagai alternatif menggantikan sistem lama yaitu dikubur, prosentasenya cendrung meningkat dari tahun ke tahun. Negara Italia misalnya saat ini  6.5% pemakaman yang dilakukan adalah menggunakan cara kremasi, Amerika 27,12 %, Inggris 70.70% dan negara terbanyak adalah Jepang yaitu hampir 100% . [wikipedia].  [Popularity of Cremation]

Beberapa alasan populernya pemakaman kremasi

  1. Praktis dan hemat biaya. Biaya pemakaman kremasi relatif lebih murah dibandingkan sistem kubur. Pihak akhli waris dipastikan tidak akan tidak akan “direpotkan” dengan urusan pemeliharaan makam, perpanjangana biaya sewa dll.
  2. Sanitasi dan  kesehatan dan kebersihan air tanah. Untuk kasus kasus seperti wabah penyakit dll, kremasi dianggap sebagai salah satu cara efektif  untuk menanggulanginya. Di negara seperti Jepang yang lahanya relatif kecil, kremasi dilakukan untuk menjaga kebersihan atau sanitasi air tanah.
  3. Alasan lain

Kremasi dan agama/budaya

Bagi sebagian orang, kremasi sering dikaitkan dengan agama yaitu Hindu dan Buddha.  Namun sepertinya banyak yang tidak tahu bahwa agama tersebut mengenal 4 cara pemakaman yaitu ditanam, dihanyutkan ke air, dianginkan ataupun dibakar.  Cara manapun yang dipilih adalah dianggap sama dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Mereka percaya bahwa manusia terbentuk dari 5 unsur alam dan disaat kita meninggal maka semua unsur alam itu akan kembali ke asalnya.  Dikubur adalah salah satu cara mengembalikan jasad ke alam namun dengan kremasi atau dibakar prosesnya akan menjadi lebih cepat. Adapun 5 unsur alam dari tubuh manusia tersebut adalah:  Pertiwi (tanah), dari tanah kembali ke tanah, Apah (air) atau zat cair, Teja (api) atau zat panas, Bayu (angin) atau udara dan Akasa (ether) atau zat tanpa udara.

Untuk daerah yang memiliki budaya kremasi seperti Bali misalnya, tanah makam di tiap desa umumnya sangatlah sempit bahkan tidak jarang kurang dari setengah lapangan bola, namun sampai kapapun tidak akan pernah penuh.  Makam di Bali umumnya hanya berisikan beberapa puluh atau belasan jenazah saja dan setelah beberapa tahun akan digali kembali dan kerangka/ tulangnya dikremasikan. Kremasi juga bisa dilakukan secara langsung tanpa proses penguburan.

Jadi kremasi bukanlah perintah atau keharusan tapi pilihan. (Di kedua ajaran agama ini sama sekali tidak mengenal konsep perintah dan larangan). Pendeta Buddha di Tibet misalnya umumnya tidak dikremasi atau dikubur tapi dicincang dan dijadikan santapan binatang buas. Kemudian pada budaya Indonesia,  masyarakat Hindu Bali yang tinggal di daerah Trunyan, di kaki gunung Batur juga tidak mengenal budaya menguburkan jenazah ataupun kremasi. Jadi kremasi adalah pilihan dari sekian banyak cara pemakaman yang ada yaitu dikubur, dihanyutkan,  di-anginkan atau dibiarkan di udara terbuk.

Video berikut adalah contoh pemakaman kremasi di alam terbuka warga Russia dari sekte (Hindu) Hare Krisna. Unik dan janggal karena tidak ada isak tangis yang berlebihan dan juga tidak ada pakaian hitam tanda berkabung. Video ditampilkan sekedar sebagai gambaran tentang perbedaan budaya perlakuan jenazah. WARNING: menampilkan image yang mungkin tidak berkenan. Jangan diplay kalau tidak setuju.

OPINI PENUTUP :

Kremasi atau dikubur adalah dua hal yang tidak perlu diperdebatkan terlebih lagi kalau sudah melibatkan wilayah agama dan kepercayaan maka jawabannya menjadi sudah sangat jelas. Kremasi hanyalah salah satu solusi alternatif dari sekian banyak solusi yang ada. Keterbatasan tanah lahan pemakaman bukanlah merupakan kendala besar karena bisa diatasi dengan relatif mudah yaitu:

  1. Membuka kuburan baru, di luar kota atau di tanah yang tidak produktif
  2. Menguburkan kerabat di desa atau di pemakaman pinggir kota yang umumnya lahan kuburan masih relatif luas.
  3. Menggusur atau merehabilitasi makam lama “tidak aktif”, tidak memiliki ahli waris atau sewa lahan sudah tidak diperpanjang.
  4. Sistem Tumpuk artinya satu makam atau lobang diisi beberapa jenazah. Cara yang relatif aneh dan membuat miris banyak kalangan namun mau tidak mau  tetap harus diterima sebagai suatu kenyataan.

Jadi sekali lagi, “dikubur atau kremasi” sebetulnya bukanlah merupakan suatu polemik yang harus diperdebatkan. Agama atau “Tuhan” bisa saja mengaturnya, namun terkadang alam atau nasib juga yang akhirnya memutuskan.

= Lho, maksudnya apa  Mbah?

Ya, jelas toh, walau agama melarang kremasi, tapi kalau meninggal karena kebakaran, pesawat jatuh dst, ya mau tidak mau ya akan mengalami proses kremasi bukan?  Jadi menurut saya, pemakaman haanyalah suatu proses hidup, seperti halnya kelahiran dan kematian yang terkadang tidak bisa dipilih, terpaksa harus diterima sebagai suatu kenyataan,

wager.png

Bacaan tambahan :

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Cremation
  2. Makam di sejumlah kota besar mulai penuh
  3. Cremation in the Crishtian World

21 thoughts on “Kremasi atau Dikubur ?

  1. ..kremasi atau dikubur kadang tergantung pada NASIB…
    ————————————————
    FYI..agar sy tak bikin repot orang lain, maka..
    sy beli sebidang denah dilokasi yg layak,
    pistol rakitan harus sy pastikan berfungsi..
    rencana sih, (jika tiba saatnya) sy ingin mampus oleh sy sendiri di dlm denah/tanah yg telah sy beli itu

    namun yaaaah, jika sy malah mampus scr TIDAK spt rencana sy tsb, maka..
    sy tak akan tahu apakah nanti akan dikubur/dikremasi/dibagaimanapun. ,,(^_^),,

  2. Bagi sebagian kalangan cara mengantar jenasah ke tempat peristilahatan terakhir akan membawa banyak polemik selain budaya dan agama tetapi dari hong sui dan feng sui….maka akan menjadi perdebatan yang tidak jelas. Namun perkara ini tidak berlaku bagi orang miskin, tunawisma atau mereka yang yatim piatu “karena tidak akan ada yg perdebatkan dan bnyk yg tdk ambil pusing soal ini”.

    Di luar dari polemik ini saya pernah membaca tentang perkara tentang mereka yang sembhayang kepada leluhur dan mereka yang memakan hanya sayuran “vegan”….. lalu ada kata kata ” makan bernyawa atau tidak, tak akan membawa kita kepada kerajaan surga”. Mungkin pendapat saya tentang kremasi dan kubur seperti itu, pandangannya cenderung dipengaruhi budaya dan keyakinan lokal. Toh sampai saat ini saya belum pernah membaca kitab, sabda atau wejangan soal hukum atau sanksi antara yang dikubur atau dikremasi. “AWAS JANGAN DIBAKAR NANTI JADI JEJADIAN” mohon maaf bila salah.

    Selamat pagi semua dan semoga sehat selalu agar dijauhi dari kubur dan kremasi sampai waktu yang belum ditentukan, Gbu all

    1. Benar Kang, semuanya kembali ke budaya atau kepercayaan.

      Menurut saya, kalau punya prestasi besar di bidang tertentu ya sepertinya cocoknya ditanam dan dibuatkan makam sehingga bisa dikenang. Namun kalau orang biasa, apalagi tuna wisma ya tentu tidak ambil pusing seperti kata Akang. Bisa makan saja sudah syukur. Mikir hidup saja susah.

  3. Seiring dengan kedatangan agama Kristen, praktek ‘….pengabuan….’ mayat mulai dihapuskan dan bahkan dilarang karena dianggap tidak manusiawi.
    Itu menyesatkan mbahh…
    Wakakakaaa
    Sebetulnya mau d perABUkan atau d pendam itu terserah yg masih hidup/terserah yg mengurusi mayatnya…
    Tohh yg masih hidup juga bernama’abu’…
    Tp klo saya suka yg putih abu2 rambutnya panjang mbah…kulitnya putih+sedikit montog mbah…hihihhiiii

  4. Salam sejahtra & salam mbelgedez …….

    Nuwun sewu Kang Wager…… itu judul di atas Kremasi atau dikubur ?
    Berhubung alternatif lain tidak di kasih tempat…., saya pilih ATAU aja….. ( heheeheeeee……… )

    Krn….. siap tahu saya Moksa/Tilem/Ngahyang, pun Moksa/Tilem/Ngahyang itu pilihan (alternatif) yg relatif paling murah & sensasional dibandingkan di kremasi atau dikubur, namun….. paling suliiit dalam implementasinya, disamping menimbulkan dampak hebat (diprotes/didemo, mangkanya tidak Akang bahas) yaitu akan terjadi pengangguran….. pekerja di tempat kuburan dan/atau di tempat kremasi jadi nganggur…….

    Spt leluhur kita (Nusantara), yg Moksa antara lain : Eyang Prabu Niskala Wastu Kencana, Eyang Prabu Siliwangi, Eyang Prabu Kian Santang, Eyang Patih Jaya Perkasa, termasuk Buyutku, dll.

    Salam mbelgedez…..
    Rahayu

  5. sebelum di.musnah.kan ato di.enyah.kan ato apahlah namanyah kalok bisa ea organ~organ ato piano~piano ato penyonyo~penyonyo.na pada dijadiken pe.coba.an ato praktikum ato pajangan museum antiq ato balsem~balseman ato kunir aseman ato bras kencuran
    heeee
    :-q

  6. News / Megapolitan

    28 TPU di Jakarta Terisi 98 Persen

    Senin, 22 September 2014 | 19:38 WIB

    JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Nandar Sukandar mengatakan sebanyak 28 tempat pemakaman umum (TPU) yang berada di lima kotamadya sudah terisi 98 persen.

    “Saya akui memang sekarang Jakarta sedang krisis lahan kuburan,” kata Nandar di Jakarta, Senin (22/9/2014).

    Ia mencontohkan tiga lokasi TPU di Jakarta Timur, yaitu di Pondok Kelapa, Tanah Merah, dan Malaka sudah terisi semua.

    Hal yang sama juga terjadi di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, yaitu di TPU Karet Bivak dan Tanah Kusir juga sudah terisi semua.

    “Saat ini tanah yang tersisa untuk lahan kuburan hanya sekitar 170 hektare untuk 28 TPU yang ada di lima kotamadya,” ujar Nandar.

    Ia berharap Pemprov DKI Jakarta menyediakan lahan untuk kepentingan warga, misalnya dengan meminta pengembang untuk menyediakan lahan.

    “Angka kematian mencapai 100 sampai 120 orang per hari, jadi kebutuhan lahan kuburan sangat mendesak,” kata dia.

    Alasan lain, kata dia, penambahan lahan adalah banyak kuburan yang sekarang tumpang-tindih dengan kuburan lainnya.

    LINK SUMBER

  7. Kalau menurut saya pihak yang masih hidup yang paling berkompeten untuk berembug mencari penyelesaian perihal pemulasaran jenasah.
    Apakah sebelumnya sudah ada perjanjian dari langit atau hanya murni karena ide mertua misalnya (jika jenasah sudah berkeluarga) .

  8. ‘ I close my eyes, only for a moment
    and the moment is gone … Nothing lasts forever but the earth and the sky …’ *)

    (Kupejam mataku, hanya sekejap, dan sekejap itupun berlalu …Tak ada yang abadi,kecuali bumi dan langit …) **)

    Oom Wager,

    Busyet Oom Wage dah mengangkat topik ini jauh2 hari sebelumnya ! Nih, saya tambahi yang terbaru dari Ditambah cerita.

    Waktu mudik bulan November kemarin saya sempat melayat tetangga. Beliau dikubur di pemakaman lokal. Saya agak heran karena setahu saya pemakaman itu sudah …penuh. Memang sudah, tapi … Ternyata disatukan dengan keluarganya di …SATU lahan ! Makam satu keluarga di …gali lagi untuk, itu tadi, mengubur jenasah yang baru meninggal. Nampaknya, ini bukan hal yang …aneh lagi.

    Beberapa orang tercinta saya sudah mendahului saya dan mereka…dikremasi lalu abunya di’ larung’ , dibuang ke laut – akhirnya ke laut
    , meminjam lirik ‘Bengawan Solo’. Oh, pernah saya tulis di blog mbel ini, anjing saya dulu kena …kanker. Ndak ada harapan …hidup .Terus atas saran dokter (hewan) dia di euthanasia , daripada dia menderita …Da n, jasadnya di kremasi juga. Abunya kami simpan di kandangnya. Sampai sekarang.

    Saya sering jalan2 malam hari. Ada anjing tetangga yang mirip anjing saya yang sudah mati. Anehnya, si anjing tetangga ini sering …mengikuti saya jalan2 sampai saya pulang. Setelah itu saya suruh dia pulang ke rumah tuannya. Ini lumayan sering terjadi. Akhir2 ini saya ndak jalan malam karena sering hujan dan dingin, saya ndak tahu dimana anjing itu sekarang …

    ‘All we are is dust in the wind’ *), kita hanyalah debu yang ditiup angin.

    ————————————————–

    *) Saya curi dari Kansas,’ Dust in the Wind’.
    Bagus lho, bisa dilihat di youtube

    **) terjemahan mbelgedes
    http://megapolitan.kompas.com/read./2015/04/17/22180041/Kuburan.Overload.

    Kuburan “Overload”

    KOMPAS — Suatu saat, warga sebuah perumahan di pinggiran Jakarta panik. Seorang warganya meninggal dan harus dikuburkan. Masalahnya, pengurus tempat pemakaman umum setempat mengabarkan, tidak tersedia lagi tempat untuk makam baru. Alasan lain, TPU tersebut hanya untuk warga daerah tertentu saja.

    Bayangkan, ada orang meninggal dan belum tahu akan dikuburkan di mana karena tempat pemakaman umum (TPU) penuh! Tidak gampang dan banyak pertimbangan religi, adat, dan kepercayaan untuk mengatakan, “Ya sudah, jenazahnya dikremasi saja.”

    Beruntung warga mendapat kabar, kompleks perumahan tempat almarhum tinggal sebenarnya memiliki kawasan pemakaman yang disediakan pengembang. Lokasi pemakaman yang disediakan developer itu letaknya memang lumayan jauh terpencil dan jarang digunakan. Bahkan, pemakaman itu biasa digunakan untuk menguburkan jenazah tak dikenal yang ditemukan polisi.

    Kesulitan mencari tempat memakamkan jenazah seperti itu bisa terjadi di tempat lain di Jabodetabek. Tak heran jika hal itu menjadi peluang bisnis. Tarif pemakaman pun bisa berlipat dari tarif yang ditentukan pemerintah.

    Walaupun tarif sewa resmi tanah kuburan hanya Rp 40.000-Rp 100.000 per tiga tahun, tarif sebenarnya yang dikenakan bisa berkali-kali lipat dari itu. Biaya mendapatkan lahan kuburan bisa mencapai jutaan rupiah. Para tetangga almarhum biasa “saweran” untuk membayarnya. Pilihannya, warga patungan agar jenazah bisa segera dimakamkan atau jenazah dibiarkan berlama-lama di kompleks?

    Buat orang berduit, hal seperti itu mungkin tak jadi masalah. Tidak heran jika kemudian tumbuh tempat-tempat pemakaman, yang mudah diakses dari Jakarta, yang harganya bisa lebih mahal dibandingkan perumahan manusia yang masih hidup. Harga kavling makam di lokasi-lokasi memorial park semacam itu bisa mencapai Rp 50 jutaan hingga Rp 2 miliaran, bergantung tipe kavlingnya.

    Biaya pemakaman pun silakan pilih mau yang standar, deluxe, VIP, atau bahkan VVIP. Ibarat kata, yang tidak tersedia hanya tiket jaminan masuk surga saja.

    Di pemakaman umum, bukan rahasia juga, jika kemudian berkeliaran calo-calo yang mengaku bisa mendapatkan lahan kuburan. Bisik-bisik masih ada lokasi kosong dengan harga khusus pun biasa terjadi. Pemakaman yang lama tak ditengok keluarga, atau “tak bertuan”, biasanya bisa “didaur ulang” untuk dijadikan makam baru.

    Apalagi, berdasar peraturan, sewa tanah makam tersebut paling lama tiga tahun, dan apabila tidak diperpanjang dapat digunakan untuk pemakaman ulang. Jangan terlalu berharap, ada yang mengingatkan masa sewa makam sudah habis seperti provider seluler mengingatkan pelanggannya bahwa paket pulsa sudah habis.

    Menurut data Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, setiap hari ada 80-100 orang yang meninggal di Jakarta yang dikebumikan di 78 lokasi TPU seluas 598 hektar di wilayah Ibu Kota.

    Ada juga kavling-kavling makam di TPU yang seolah-olah sudah ada “penghuninya”, padahal masih kosong. Namun, kavling itu sudah dibeli, disiapkan jika ada keluarga atau si empunya kavling meninggal agar tak kesulitan cari lahan kuburan.

    Untuk mencegah calo-calo kuburan itu, dikabarkan Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Utara, misalnya, akan memasang kamera CCTV di lokasi pemakaman. Itu belum tentu efektif karena transaksi bisa saja terjadi di mana pun.

    Perluasan lahan TPU yang tengah diupayakan Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta juga tidak mudah karena harga tanah yang terus melambung. Dari target perluasan 10 hektar tahun lalu, hanya terpenuhi sekitar 2 hektar.

    Orang mati pun susah dapat tempat di Jakarta…

    1. Kang BALANE, ini topik lama yang nyaris tidak pernah diklik. Namun entah kenapa beberapa hari ini trafficnya mendadak tinggi. Sepertinya ada yg pasang link dan mendiskusikannya di tempat lain.

      Masalah kuburan adalah masalah pelik namun sering diabaikan. Maklum saja, banyak orang yg lupa bahwa suatu saat akan mati. Atau mungkin juga karena belum pernah memiliki keluarga yg menginggal sehingga tdk tahu kondisinya. Kondisi dulu tdk sama dengan sekarang. Dulu mungkin mudah, tapi tidak utk masa depan.

      Dulu gubenur Jakarta Ali Sadikin pernah melemparkan wacana gila yaitu (kalau ndak salah) penguburan berdiri. wakakakkk……

      Link Kang Bala ndak berfungsi, jadi agar pembaca tidak kecewa, sebgai gantinya saya copykan artikelnya dibawahnya. Tuh ada yg klik jempok kebalik karena dikira jebakan. salam

  9. Kremasi atau dikubur??

    Seperti digigit nyamuk atau semut mati
    Pagi kena sore mati
    Sore kena pagi mati
    Badan meledak berkeping keping mengandung virus
    Jadi lebih baik KREMASI saja

    Kalah pantengan ma power
    Ada petir menyambar
    Bllaaaa…aaarrrrr!!
    KREMASI KILAT

    Daripada menuh menuhin tempat ga da yang gali kubur atau pemakaman sudah penuh
    Dari pada nemu tulisan di pintu makam
    KAMAR PENUH

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s