Kasta, Agama dan Kebodohan

Sistem kasta atau pembagian kelas atau derajat di masyarakat. Sistem ini hampir bisa ditemukan di negara manapun. Di negara yang menganut sistem pemerintahan monarki atau feodal maka sistem kasta biasanya akan tumbuh subur dan lestari. Raja dan keluarganya memiliki kedudukan istimewa dan menurun ke keturunannya. Semua posisi penting di pemerintahan didominasi oleh golongan berkasta tinggi.

Namun seiring dengan lenyapnya sistem monarki maka sistem kastapun secara perlahan mulai kehilangan fungsinya. Disamping itu, agama juga memberikan andil besar dalam mengikis sistem kasta. Semua orang memiliki kedudukan yang sama di mata Tuhannya. Namun dari beragam agama yang ada, ternyata ada juga satu agama yang justru masih melestarikan sistem kasta.

= Maksudnya agama Hindu Mbah?

Ya tentu saja. Emang ada jawaban lain? Aneh dan susah dipercaya tentu saja, agama yang seharusnya mengajarkan kesetaraan, manusia sama dihadapan tuhan justru malah mengajarkan perbedaan kelas. Tidak ayal lagi, agama Hindu-pun menjadi bahan tertawan dan bulan bulan dari penganut agama lain.

= Ngawur Mbah ! Ini jelas jelas cuma salah paham !

Lha, salah paham gimana?  Apa Sampean ingin menjelaskan bahwa Hindu tidak mengenal sistem kasta dan yang ada adalah sistem Warna (Varna), sambil mengacung ngacungkan tulisan atau ayat tekstual pada kitab suci?

“…….. Kasta dan Varna adalah 2 hal yang tentu saja berbeda. Kasta adalah sistem pembagian kelas sosial di masyarakat berdasarkan garis keturunan, sedangkan Varna adalah pembagian pekerjaan atau semacam job description (penjelasan kerja, tugas dan tanggung jawab).  Jadi kalau pindah pekerjaan, Varna juga berubah, tanggung jawab juga berubah…. dst …..dst.”

Jawaban di atas adalah jawaban klise sekedar membela diri atau untuk menyenangkan diri saja. Ibarat penjelasan tentang agama damai atau agama onar,  yang dibutuhkan bukanlah kutipan ayat tapi penjelasan riil yang ada di masyarakat penganutnya.

Kenyataan yang ada dimasyarakat Hindu saat ini 100% sistem Kasta. Seorang kasta Sudra melahirkan keturunan Sudra, Brahmana akan melahirkan anak brahmana dst. Seberapa pintarpun seorang Sudra tidak akan mungkin bisa menjadi brahmana. Semuanya diwariskan berdasarkan keturunan. Pernikahan dengan kasta yang lebih rendah sangatlah sulit dan riskan atau kadang bisa berakhir dengan kematian. Sistem kasta model ini masih bertahan dan lestari di negara India.

= Itu kasusnya di India Mbah. Di Bali berbeda dan yang jelas tidak ada kasta !

Sudahlah, mari kita belajar untuk jujur. Ini bukan kritik agama tapi kritik budaya.  Kalau kasta berbeda dengan Varna, kenapa profesi brahmana diwariskan? Anak petani yang lulus dan menjadi tentara tetap saja akan berkasta Sudra. Seorang Sudra yang menjadi guru atau penceramah agama statusnya tidak oromatis akan pernah berubah menjadi brahmana.

Banyak orang yang senang mengingkari realitas, mencoba menyembunyikan aib dengan mencoba mecari-cari alasan, misalnya dengan mengatakan pengkritik tanpa paham agama, konspirasi asing, kasta diciptakan oleh orang Inggris untuk memecah belah agama Hindu di India dst dst. Namun yang jelas, penjajah sudah lama pergi namun kasta tetap saja lestari.

Pernikahan beda kasta di Bali juga relatif tidak mudah dan umumnya dihindari atau bahkan ditentang oleh pihak keluarga wanita berkasta tinggi. Sembahyang di pura keluarga aturannya ketat. Bagi wanita yang menikah dengan pria berkasta tinggi maka si wanita dan keturunannya akan pantang untuk sembahyang atau menghaturkan bhakti di pura keluarga leluhur ibunya. Duh, rumit bukan?

Seseorang yang berniat memeluk agama Hindu dan tinggal di Bali akan menemui segudang hambatan. Mereka akan terlempar ke kasta terbawah yaitu Sudra, tanpa peduli apakah orang tersebut adalah pedagang (Weisya) atau tentara (Kesatria). Beralih ke nama Bali akan mendapatkan jatah kasta Sudra, menggelar upacara kematian juga harus dengan pakem Sudra. Pendatang-pun enggan beralih ke agama Hindu dan perkembangan agama Hindupun menjadi ekslusif atau dengan lain kata jalan di tempat.

Seiring dengan perkembangan zaman, sistem kasta di Bali (mungkin) menjadi semakin longgar atau minimal tidak seketat di India. Namun tradisi dasaarnya tetap saja sama. Ritual upacara adat, penggunaan bahasa halus dan kasar serta jatah pendeta tetap tidak bisa diganggu gugat. Penggunaan nama yang berkonotasi kasta rendah seperti Wayan, Made dll mungkin mulai hilang atau tidak digunakan lagi oleh generasi baru, namun semua itu hanya sebatas kulitnya. Kasta di Bali tetap ada dan lestari.

Catatan tambahan : Study banding sistem kasta di Jepang

Beberapa abad lalu, Jepang adalah merupakan masyarakat feodal. Kelas kelas masyarakat dibagi menjadi beberapa kasta dan kasta Samurai memiliki kekuasaan yang besar. Sistem kasta di negeri tersebut salah satunya tampak pada nama keluarga orang Jepang.

Dari nama keluarga bisa ditelusuri asal usul seseorang. Contohnya, mereka yang memiliki nama keluarga bersuku kata kata Yama ( gunung), Kawa  (sungai)  Ta atau Da (sawah), Mo ri (hutan), seperti Yamada, Kagawa, Tanaka, Moriyama dll umumnya berkasta rendah, petani, tukang jagal dll. Nama berkasata tinggi, contohnya menggunakan kata Fuji (Fujiwara, Fujita dll).

Bagaimana dengan kondisi sekarang? Nyaris tidak ada yang peduli. Nama hanyalah sekedar nama sedangkan derajat atau penghormatan sepenuhnya ditentukan oleh kerja keras, kedudukan, uang, prilaku dan prestasi.  Contoh yang mungkin menarik adalah Oda Obunari, dihormati karena prestasinya di bidang olarharaga ice skiting bukan karena leluhurnya yang bekas penguasa nomor satu yang mampu mempersatukan negeri Jepang. Demikian juga dengan gelar pendidikan, nyaris tidak ditemukan dalam kartu nama atau penulisan sehari-hari.

PENUTUP

Jepang saat ini telah menjelma menjadi salah satu negara modern.  Derajat, kasta atau status sosial seseorang bukan ditentukan oleh asal-usul kelahiran tapi ditentukan oleh kerja keras, jabatan atau prestasi. Jepang hanyalah sekedar contoh. Hampir semua negara yang masih menerapkan sistem monarki di Eropa, sistem kastanya mengalami pergeseran.

Bagaimana dengan masyarakat Hindu, bagaimana dengan Bali? Jawabannya sepertinya sudah jelas : Bali bukanlah Jepang. Di Bali tidak ada sistem kasta. Jadi kesimpulannya, tidak ada yang perlu di ubah !!!! Mengubah tradisi adalah hal mustahil. Hanya dua hal yang bisa mengubahnya yaitu keberanian para golongan pendeta melakukan perubahan atau dipaksa berubah alias digilas oleh penyebaran agama lain.

Kalau sistem kasta ini tetap dipertahankan dan dipelihara maka TANPA DISADARI akan membelenggu masyarakatnya dalam keterpurukan atau kemunduran spiritual. Sampean pikir kenapa agama Hindu bisa gusur dengan sangat mudah di tanah Jawa? Salah satu alasannya ya itu tadi : Kasta.

Pelan namun pasti, pengaruh agama lain telah mempengaruhi masyarakat Bali. Budaya, adat dan agama Hindu di Bali menjadi ekslusif hanya untuk orang Bali saja. Keunikan adat budaya Bali yang terkenal seantero dunia tidak mampu menarik minat penduduk pendatang untuk beralih ke agama Hindu Bali. Salah satunya ya kembali lagi ke faktor sistem Kasta tersebut. Apakah dengan masuknya pengaruh agama Kristen dan mungkin juga Islam di Bali akan membuat sistem kasta di pulau tersebut 100% hilang? Jawabannya adalah TIDAK. Kasta adalah merupakan ciri budaya atau masyarakat feodal dan bukan hanya ada di Bali saja.

Di masyarakat feodal manapun, apapun agamanya cendrung membutuhkan pengakuan atau derajat yang lebih tinggi. Pengakuan yang paling mudah dan tradisional adalah gelar raja, bangsawan atau asal usul keturunannya. Khusus untuk kasta di Bali, situasinya sedikit unik dan menarik. Dengan dibungkus oleh adat bercampur agama maka sistem kasta di Bali akan tetap lestari sepanjang massa. Saya tidak akan heran kalau suatu saat akan mendengar nama Anak Agung Muhammad Anu.  Sedangkan nama Antonius I Gusti Made Itu, mungkin sedikit lebih akrab.  Jadi  sistem kasta tidak akan mungkin hilang karena masyarakat membutuhkannya.

Demikianlah tulisan abal2 tentang kasta. Hidup Kasta !!!

Kasta Versi Modernprimate

Diposting di halaman komentar dan karena dianggap layak muat maka dipindah ke bagian atas.

Menurut pemikiran ngawur saya ajaran yang dikemukakan oleh “agama” manapun inti pokok ajarannya adalah membimbing manusia untuk urusan spiritualnya, dengan logika bahwa saat kehidupan spiritualnya “lurus” maka segala baik dan buruk yang dialaminya secara jasmaniah akan bisa dilalui dengan kesadaran yang baik. Jika urusan kasta ini diterapkan pada kehidupan spiritual seseorang maka yang ada adalah:

  • Sudra, budak, taraf berfikir seseorang pada fase ini masih diperbudak oleh ego dan hawa nafsunya
  • Waisya, petani dan pedagang, pada fase ini seseorang yang mengaku “beragama” masih terjebak oleh mentalitas jual beli dengan tuhannya, masih berkutat dengan urusan dosa dan pahala.
  • Ksatria, para ahli tempur untuk memerangi semua keburukan diri sendiri, istilah mbah Wage di blog ini adalah orang-orang yang sudah mampu menertawakan semua “kebodohan” diri.
  • Brahmana,manusia yang sudah mampu membebaskan diri dari segala ikatan duniawiah dan menjadi pantulan semua kebaikan Tuhan bagi manusia di sekelilingnya.

Dan menurut pemikiran saya yang lebih ngawur lagi, fase-fase kasta di atas bukanlah berbentuk linier/anak tangga…..semua kasta tsb ada dalam satu individu…mirip sebuah rumah yang mempunyai empat kamar di dalamnya, dan masing-masing kamar ada di dalam kamar lainnya.

22 thoughts on “Kasta, Agama dan Kebodohan”

  1. Catatan: Sub ini awalnya merupakan bagian dari tulisan utama, namun dengan berbagai pertimbangan tertentu akhirnya dihapus dan dihilangkan dan hanya menyisakan pembahasan kasta di Jepang saja. Agar tidak membingungkan maka bagian yang terhapus ini dipindah ke kolom komentar sbb

    **********************************************************
    Melongok sejenak catatan sejarah di Bali pra Hindu, dari nama para raja atau menguasa jaman itu menunjukkan nama-nama yang sangat sederhana tanpa gelar dan embel embel kasta. Contoh sejumlah nama raja pada masa yang tercatat pada masa itu adalah Udayana, Jayasakti, Jayapangus dll. Beberapa nama raja lainnya hanya menggunakan nama Sri pada bagian depan seperti Sri Kesari Warmadewa atau Sri Wijaya Mahadewi.

    Kemudian setelah era kedatangan Hindu di pulau tersebut, secara perlahan lahan sistem kasta-pun mulai berurat berakar seperti sekarang. Hal ini bisa dilihat pada nama orang dan tingkatan bahasa yang digunakan.
    ************************************************************

    1. suksma kang, artikle yang mencerahkan, wacana yang mungkin di anggap tabu untuk di bicarakan di bali, wacana yang mungkin bisa memancing polemik di bali. perkenalkan saya wayan dari bali. sekedar sharing saja kang, terutama untuk di daerah bali tidak di semua daerah di bali yang menganut agama hindu bali terdapat kasta dalam keagamaannya, ada pengecualian terutama di daerah bali aga, desa2 penduduk bali kuno.

    2. @ Bli Wayan,

      Salam kenal. Terima kasih atas komentar dan kunjungannya. Terima kasih juga atas info tentang daerah Bali Aga. Jujur, saya juga sebetulnya masih memiliki kekrabatan (ikatan darah) dengan penduduk Bali Aga. salam

  2. Jujur saja saya orang bali yang juga mendapat kasta yang cukup tinggi karena lahir di keluarga saya. Tapi saya setuju dengan tulisan bapak, seharusnya kasta itu tidak ada karena hanya akan menjadi batasan dalam memahami kedamaian. Tulisan yang menarik dan menggelitik hati :D

    :mrgreen: Reply: Sdr Ivan, saya sangat terkesan dengan komentar dan juga wawasa pola pikir Anda. Sepertinya Anda dibesarkan di tengah keluarga yang sangat bijak. salam

  3. Memang ada segelintir (mungkin lebih) orang Bali yg masih mengagungkan kastanya… tapi dari pergaulan sehari2 saya, mungkin saya adalah salah satu yg beruntung tumbuh di lingkungan yg tidak terlalu mementingkan kasta, tapi lebih kepada peranannya di masyarakat…

    Mohon jg jangan beranggapan bahwa semua orang Bali seperti penjelasan di atas. Tidak sedikit org yg sudah memahami dan mulai memaklumi…

    Kalau boleh saya berpendapat, mungkin terlalu luas jika menyebut Hinduisme yg seperti itu. Bukan ajaran agamanya yang salah kalau menurut saya, tapi mungkin manusianya yang tidak menjalankannnya dengan semestinya.

    1. :mrgreen: Reply: Sdr Ryujisan, Anda benar bahwa hanya segelitir orang Bali saja yang mengaggungkan kasta. Tapi rusaknya susu sebelangga biasanya karena nila setitik.

      Pembaca di blog ini kebanyakan bukan orang bodoh, jadi mereka pasti bisa memilah dengan cerdas antara agama dan prilaku pemeluknya. Tulisan ini mencoba menjelaskan tentang kasta dengan lebih netral atau apa adanya. Dibanding membacanya di tempat lain, saya memilih untuk menuliskannya di topik blog ini.

      salam

  4. Salam Kang Wage.
    Tulisan yang mengena kang.
    Hmmmmm….kayaknya ….ini yang mendasari akang menulis puisi…Pelangi.
    He…he…he…saya mencoba membalasnya dg puisi di sana kang.

    Reply : Puisi pelangi itu temanya tentang menghargai keberagaman. Keberagaman itu indah, ibarat pelangi. Apa jadinya kalau pelangi itu satu warna?

  5. Menurut pemikiran ngawur saya ajaran yang dikemukakan oleh “agama” manapun inti pokok ajarannya adalah membimbing manusia untuk urusan spiritualnya, dengan logika bahwa saat kehidupan spiritualnya “lurus” maka segala baik dan buruk yang dialaminya secara jasmaniah akan bisa dilalui dengan kesadaran yang baik.
    Jika urusan kasta ini diterapkan pada kehidupan spiritual seseorang maka yang ada adalah:

    Sudra,
    budak, taraf berfikir seseorang pada fase ini masih diperbudak oleh ego dan hawa nafsunya

    Waisya,
    petani dan pedagang, pada fase ini seseorang yang mengaku “beragama” masih terjebak oleh mentalitas jual beli dengan tuhannya, masih berkutat dengan urusan dosa dan pahala.

    Ksatria,
    para ahli tempur untuk memerangi semua keburukan diri sendiri, istilah mbah Wage di blog ini adalah orang-orang yang sudah mampu menertawakan semua “kebodohan” diri.

    Brahmana,
    manusia yang sudah mampu membebaskan diri dari segala ikatan duniawiah dan menjadi pantulan semua kebaikan Tuhan bagi manusia di sekelilingnya.

    Dan menurut pemikiran saya yang lebih ngawur lagi, fase-fase kasta di atas bukanlah berbentuk linier/anak tangga…..semua kasta tsb ada dalam satu individu…mirip sebuah rumah yang mempunyai empat kamar di dalamnya, dan masing-masing kamar ada di dalam kamar lainnya, terlalu rumit untuk digambarkan…….hehe

    Reply : Sebagai penghargaan atas komentarnya yang bermutu dan cerdas. maka komentar ini saya copy paste ke bagian atas, jadi digabung dengan tulisan utama.

    1. Nuwun sewu..
      Sebuah pemahaman yg luar biasa & menarik sekali dr Sdr Modern Primite, Paman setuju juga, ini mengingatkan agar kita selalu a ware untu memahami sesuatu tidak dari perspektif fisiknya saja namun dari segala kemungkinan yg ada sehingga kita perlu menyadari akan adanya mikro dan makro kosmos, jagad alit, & jagad agung, jagad luar, & jagad dalam, yang terlahir dan yg batin, material,& spiritual, karena pd intinya sesuatu yg terlahir pasti terkandung.

      Urang di goreng terigu, tuku uyah nang pasar minggu..
      Jangan bimbang, janganlah ragu, semuanya sdh ada dalam dirimu..

      Paman Dalbo.

    2. Ya benar Paman, saya juga kagum dengan pamahaman dan pola pikir beliau. Kehidupan terus berubah dan bergerak ke depan, demikian juga seharusnya dengan pola pikir. Kang Modernprimate sepertinya telah memberikan salah satu contoh cara berpikir kedepan yang positif. Oh ya, tulisan Paman terbitnya awal bulan ya.

    3. Salam hormat untuk semua…..

      Ikut menyimak tulisan poro sepuh….ngansu kaweruh ilmunya Mas Dalbo juga Mas Modern….nuwun

      Reply :

  6. Oalah….jangan begitu dunk….jadi isin nyonge mau posting lagi kalo para sesepuh membenamkan nyonge dengan pujian semacem ini….hehe…..wong ya kalo dipikir secara jernih semua pemahaman itu sudah eksis di diri kita…..masalahnya tinggal kapan munculnya pemicu kesadaran tersebut by kata2 orang lain ataupun kesadaran langsung dari diri sendiri.

    Blog ini salah satunya. Simbah Wage dan sesepuh lain yg ada di sini saya anggep sebagai saudara saya yg saya butuhkan sentilan dan jitakannya untuk membangunkan saya sendiri yg ndableg dan lebih seneng ngorok tertidur….:)

    bai de way busway….salam dan salim dari saya buat semua sedulur di sini…..maturnuwun

    modernprimate aka munyukmilenium….:D

    1. Pujian emang bikin salah tingkah, bikin terlena terasa di awang awang dan akhirnya jatuh terbanting ke selokan. Pujian bisa membuat kepala jadi besar, helm jadi sempit dan kekecilan dan akhirnya harus beli helm baru lagi.

      Ngomong2 tentang pujian, umat beragama adalah “mahluk” yang paling “rakus” dengan pujian. Kalau pujian tidak bisa didapat dari pihak lain maka mereka tidak segan2 memuji diri (agama) sendiri. Contohnya ada disini : Memuji agama sendiri, tai kambing rasa coklat.

  7. Jujur ya kak saya juga bingung dengan kasta atau wangsa yang berlaku di Bali???
    Bagi banyak orang di Bali kasta memang tidak ada, akan tetapi yang ada adalah wangsa!!

    Menurut banyak orang di Bali, kasta adalah pembagian berdasarkan harta kekayaan, sedangkan wangsa adalah berdasarkan darah keturunan. Jadi kakak menyatakan tentang kasta, di Bali memang tidak ada(100% tidak ada).

    Dan satu lagi ya kak, jika memang dalam Hindu Bali memang harus tidak ada wangsa(yang kakak bilang sebagai kasta), mengapa buktinya banyak/semua yang nikah nyerod itu kepanesan?
    Kalau ada yang bilang ada yang tidak kepanesan itu sama saja bohong(karena kalau ditanya langsung kepada orangnya, pasti orang tersebut merahasyakannya sedikit. Privasi orang kan nggak boleh orang lain ikut campur??)

    Ada juga lagi, ada seorang dari wangsa sudra yang diabenkan, dibuatkan wadah lebih tinggi dari pada wadah wangsa ksatria. Lalu setelah beberapa lama upacara ngaben itu usai, keluarga si sudra itu merasa tidak nyaman, karena merasa terus dihantui oleh roh saudaranya. Setelah dipluasin ternyata rohnya itu kepanesan karena dibuatkan wadah yang tidak sepantasnya dibuat/dipakai, dan meminta untuk mengulangi upacaranya(kalau bisa), atau kalau tidak memohon maaf kepada Bhatar Hyang dan Juga Ida Sang Hyang Widhi. Saya bertanya mengapa hal demikian bisa terjadi? Dan juga kalau wangsa tidak ada, mengapa di Besakih ada pedharman-pedharman? Dan tidak boleh sembarangan pedharman dimasuki, hanya oleh orang-orang dari wangsa tertentu. Mengapa demikian?

    Kalau anda berpendapat itu adalah budaya, maka biarkan, kalau tidak maka boleh dirubah. Budaya”budi” dan “daya”, budi=pikiran yang baik, daya=kemampuan, bakat dll. Jadi budaya itu adalah semacam peraturan yang melekat dalam adat istiadat setiap masyarakat yang berawal dari pola pikir manusia yang luhur dan baik, dan antara budaya masyarakat satu dengan yang lainnya itu pastilah berbeda. Jadi apakah dengan melihat kebudayaan orang lain yang tidak sama dengan kita maka kita akan menyalahkan kebudayaan tersebut, atau menyalahkan kebudayaan kita karena tidak sama dengan kebudayaan orang lain?

    Apalagi kebudayaan hindu Bali berawal dan berasal dari pemikiran-pemikiran suci dan luhur dari orang-orang suci dan luhur(Sulinggih), dan pemikiran orang-orang suci dan luhur(Sulinggih di masa dahulu) itu berawal dan berasal dari Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, berdasarkan wahyu yang diterima dari pendengaran”sruti” dan ingatan atau pikiran”smrti”.
    Saya yakin di India yang dipakai zaman dahulu adalah wangsa(seperti di film-film kan disebutkan wangsa Puru dan Wangsa Bharata dll. Kan nggak ada warna Puru, warna Wresni, warna Bharata, apalagi kasta Puru atau Barata dll). Dan saya yakin juga yang termuat dalam sloka Bhagavad Gita yang dimasukkan di sana adalah wangsa, dan memang ditulis di sana adalah warna. Dan setelah saya telaah lagi sloka Bhagavad Gita, sebagian orang hanya melihat sisi dari kata warna, dan bukan dari sisi kata Aku tidak merubah wujudku. Jadinya sebagian berpikir bahwa warna yang dimaksudkan.

    Dan sekali lagi ya mengenai kelahiran, kelahiran itu berdasarkan dari keluarga itu dan bukan dari keluarga orang lain. Contoh saya adalah berasal dari(numitis) Buyut saya sendiri dan masih dalam ruang lingkup keluarga saya, begitu juga dengan orang lain, pasti berasal dari keluarga itu sendiri dan tidak dari keluarga orang lain(bisa dari kakeknya, buyutnya, kumpinya dll), kan nggak ada dari buyut orang lain?

    Saya juga sebenarnya masih bingung karena banyaknya dan semua bukti-bukti yang berdasarkan Niskala itu membenarkan wangsa, dan hanya sedikit bukti-bukti sekala yang menyalahkannya. Apakah kita memakai patokan adalah sekala atau niskala?
    Dan juga Niskala tidak bisa diajak main-main, kalau sudah salah pasti harus salah, kalau memang benar pasti harus benar.
    Dan mohon penjelasannya berdasarkan apa yang saya tanyakan!!

    Maaf saya hanya berkomentar sekali saja, karena saya nggak mau menambah masalah ini menjadi buruk.
    Mohon maaf apabila ada kata yang sedikit menyinggung. Sekian dan terima kasih

    1. @ Sdr Kusuma Artha,

      Terima kasih banyak atas komentarnya. Komentar Anda adalah merupakan masukkan yang berharga untuk saya dan juga blog ini secara umum.

      Sama seperti halnya dengan Anda, sayapun tidak ingin berpolemik, maka tulisan saya edit ulang dengan menghilangkan sub pembasan kasta di Bali, Varna, Wangsa atau apapun istilahnya dan tulisan yang dipotong tersebut dipindah ke halaman komentar sehingga masih tetap bisa dibaca.

      Jadi tulisan yang ada sekarang hanya membahas kasta secara umum, sesuai dengan latar belakang pembaca di blog ini yang juga umum. Pembahasan juga diharapkan nantinya menjadi lebih positif dan menyentuh langsung pada permasalahan sehari hari untuk ruang lingkup yang lebih umum, bukan untuk lingkup lokal atau kedaerahan.

      Agama, kepercayaan, relegi atau sistem sosial tumbuh, berkembang, dilestarikan ataupun dibuang sepenuhnya tergantung dari masyarakat pendukungnnya. Kalau dianggap benar, bagus atau cocok ya akan dipeluk atau dilestarikan dan kalau dianggap sebaliknya maka akan ditinggalkan.

      Maaf, kalau saya sama sekali tidak menjawab apa yang Sdr Kusuma tanyakan. Roadmap tulisan beberapa bulan depan akan membahas topik tentang LELUHUR dan mudah mudahan mencakup juga pertanyaan yang Anda tanyakan.

      wage

    2. kasta di bali tidak bisa disamakan dengan di india, klo di india kasta masuk dalam ranah agama dan kitab suci tapi di bali yang dimaksud kasta itu adalah budaya layaknya penghormatan rakyat terhadap raja mirip seperti penghormatan rakyat arab terhadap rajanya. sekali lagi di bali tidak ada kasta dalam ranah agama itu cuma budaya karena di bali tidak ada agama yang ada cuma budaya

  8. Ketika kemapanan sudah menjadi sesuatu yang nyaman siapa yang mau berubah? Hanya orang besar hatinya yang mampu…

    Walaupun stratifikasi social ada dimana2 tetap saja kasta menjadi serangan empuk terhadap BALINISME.

    Revolusi atau perubahan perlahan terserah saja yang penting berubah.

    Walaupun kalau masalah kasta sudah selesai tidak berarti masalah BALINISME akan habis.

    1. ///Ketika kemapanan sudah menjadi sesuatu yang nyaman siapa yang mau berubah? Hanya orang besar hatinya yang mampu…//@anjritku///

      Kalimat yang sangat tepat dan nyaris tidak terbantahkan…… Sepertinya Anda adalah termasuk salah satu orang besar tersebut……

Mail bisa dikarang. Komentarlah dgn hati senang.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s