Menemukan Makna Dibalik Cerita Adam dan Eva

Apakah saya percaya kisah Adam dan Eva? Manusia dari tanah, tulang rusuk, menikah dengan saudara sekandung,  ular jahat, dan setan penggoda yang selalu jadi kambing hitam?  Hmmm….. Apakah saya percaya pada teori penciptaan, seperti yang ditulis pada kitab Bible? Dunia diciptakan dengan Simsalabim, selesai hanya dalam waktu beberapa hari? Hhmm…….

🙂 Wah, ini keterlaluan dan kurang ajar Mbah?

Lha, kurang ajar gimana? Apakah Sampean percaya Tuhan itu terbuat dari batu dan bertangan banyak? Kagak percaya bukan? Tidak percaya bukanlah sesuatu sikap yang salah. Tidak percaya bukanlah suatu penghinaan. Pola pikir sempit seperti ini harus diubah. Saya tidak percaya dengan cerita Adam dan Eva tapi  bukan membencinya tapi justru sebaliknya,  saya sangat menyukainya.

🙂 Lho, koq plin plan Mbah, tidak percaya tapi menyukai?!

Lha, bagaimana dengan cerita Malin Kundang, Ramayana atau Mahabrata? Jelas jelas cuma cerita doang digemari oleh banyak orang. Bahkan Mahabrata versi wayang telah dianggap sebagai warisan budaya. Semua kisah dongeng menurut saya adalah merupakan cerita kias yang sangat indah dan cerdas, sarat dengan makna dan pesan moral.  Cerita Adam dan Eva menurut saya adalah sama saja.

🙂 Lho, kisah Adam dan Eva bukan cerita fiksi Mbah, tapi kisah nyata, catatan sejarah dan PASTI BENAR!

Duh, kenapa Sampean belum paham juga? Mau percaya setengah mati, Itu khan ururasn Sampean. Lagian SiMbah khan tidak dibesarkan dilingkungan  penganut agama Abrahamik, jadi tahu nama Adam dan Eva setelah jenggotan, jadi masak main paksa harus percaya? Mbah menyukai ceirta tersebut di atas dan sepertinya itu sedah lebih dari cukup.

Menurut Mbah nih, orang jaman dulu tentu bukanlah orang bodoh. Mereka  mencoba menjelaskan rahasia alam dengan bahasa yang mudah dimengerti yaitu dengan cerita, dongeng dan bahasa kias. Kalau seandainya konsep terciptanya dunia dan awal kehidupan dijelaskan dengan  teori sains, lewat proses panjang jutaan tahun, dijamin semua orang akan  geleng geleng kepala. “Tuhan khan Maha Kuasa, koq perlu jutaan tahun sih menciptakan bumi?” Nah, susah khan?

Nah, dengan mengemasnya menjadi cerita Adam dan Eva, serta merangkainya dengan tambahan ular, apel dan setan maka cerita akan lebih mudah diingat dan dipahami. Cerita tentang terbentuknya dunia yang hanya dalam sekejap adalah merupakan cara jitu untuk menjelaskan tentang kekuasaan dari Tuhan. Gunung dan laut diciptakan dalam waktu sehari, Wow!

Perbandingan Ngawur : Manusia pertama versi Yunani Kuno

Menurut mitologi Yunani manusia pertama kali diciptakan oleh tiga orang dewa yaitu Amos, Promoteus, dan Epimetius. Mereka bertiga mula-mula membuat patung dari tanah liat yang menyerupai dewa. Amos kemudian menghembuskan nafas kehidupan ke dalam hidung patung. Minerva, putri dewa Yupiter menganugrahkan jiwa dan dengan demikian  patung menjadi hidup. [Sumber cerita dan gambar dari Wikipedia]

Adam dan Eva versi agama lain

Versi Hindu menyebtukan bahwa manusia pertama adalah Manu. Ini bukanlah nama orang namun nama mahluk yang memilki kesadaran. Bumi dan beserta isinya diciptakan dan kemudian musnah (pralaya) dan kemudian tercipta kembali. Proses ini terjadi ribuan kalpa. 1 kalpa adalah 1 hari-nya Tuhan atau sama dengan 4.320.000.000 tahun bagi manusia.  (Manusia pertama versi Hinduisme).

Kemudian versi Buddha memberikan penjelasan yang lain yaitu  awal kehidupan adalah nafsu dan keinginan. Keinginan dari mahluk bercahaya yang hidup dan melayang layang di angkasa dan hinggap di tanah. Memakan sari tanah dan setalah jangka waktu yang sangat lama, perlahan lahan mulai menampakan wujud, menyerupai tangan, menyerupai kaki dan wajah dan akhirnya mulai membentuk jenis kelamin dst [Manusia pertama versi Buddhisme]

Ajaran Hindu dan Buddha percaya pada hukum kamma/karma  yang artinya adalah BUAH. dari perbuatan. Jadi istilah buah pada hukum Karma konsepnya rada mirip dengan ilustrasi buah apel pada cerita Adam dan Eva.

OPINI PENUTUTP

Inti cerita paling penting dan utama yang saya tangkap  dari kisah Adam dan Eva adalah tentang persaudaraan. Semua orang berasal dari leluhur yang sama. Apakah leluhur tersebut adalah Adam dan Eva,  Pitecantropus Erectus ataupun kera berjalan tegak, intinya  adalah sama saja yaitu persaudaraan.

Manusia adalah bersaudara. Ajaran yang sangat mulia tapi sepertinya saat ini telah dicampakkan oleh banyak orang. Manusia adalah bersaudara namun hanya sebatas sesama golongan, ras atau agama yang sama saja.

wager.png

Sumber image : Wikipedia
Artikel Terkait : Seandainya Saya Bertemu Adam

Advertisements

16 thoughts on “Menemukan Makna Dibalik Cerita Adam dan Eva

  1. Mantap Mbah, memang kadang2 orang hanya terpaku pada teorinya bukan pada prakteknya, terpaku pada ceritanya sehingga pesannya tidak tersampaikan.

    Manusia adalah manusia, waktu dan tempat yang membuat kita berbeda. Suka atau tidak kita semua bersaudara. Suka atau tidak kebencian ada diantara saudara, seperti Cain dan Abel. Manusia diberikan nalar, so we don’t have to reinvent the wheel. Cukup belajarlah dari Cain dan Abel, tak perlu membunuh saudaramu.

    🙂 Jawab :Bung Asukirik, terima kasih atas komennya yang bermutu. Rupanya kita memiliki pola pikir yang serupa yaitu tidak berpaku pada teori dan dogma dan melupakan makna. Jujur saya rada was was saat menyinggung tentang topik ini namun syukurlah kalau Anda mendukungnya. Salam mbah wage

  2. Bagus Mbah,mengingatkan Kita kembali akan BHINEKA TUNGGAL IKA,berbeda2 tetapi Satu,Jangan ada unsur SARA disini.

    🙂 Jawaban Mbah Wage : Setuju Pak Budi. Jangan kasi ruang pada Sara ataupun si Sarah. Itu lho, tetangga Mbah yang suka bikin onar.

  3. saya suka cara anda memaparkan kembali ide-ide dari berbagai serpihan agama. ini baru awal, nanti saya akan berdiskusi banyak dengan anda, tukar pikiran gituh, hehehe mudah2 anda sedang berdiskusi.

  4. saya seorang muslim, bukannya merasa ingin benar sendiri, dan menyalahkan yang tidak sependapat, hanya saja penolakan anda seyogyanya haruslah diiringi bukti sah! paling tidak anda punya robot yang bernama doraemon lalu dengan mesin waktu saja anda jadi tahu peristiwa yang sebenarnya.

    Intinya baik kebenaran atau hoax-nya cerita di atas sama2 tidak bisa dibuktikan. karena itu semua sebatas cerita. Jadi menolak karena tak mampu membuktikan itu juga bukan sikap orang yang masih bisa berpikir.

    Sekarang saya ingin sedikit berbicara ilmiah saja, manusia bukanlah kita bisa abadi adalah setelah kita mengalami siklus hidup dan mati, artinya kalau ada yang mati pasti ada yang hidup, terus begitu tanpa akhir.

    Lantas bagaimana awalnya?

    Kalau kita asumsikan kita berasal dari ibu bapak maka dari tentu ibu bapak kita dari ibu bapak juga terus begitu. lantas mana awalnya kalo gitu.

    Di Al-Quran diceritakn bahwa pada awalnya Allah mengambil bagian dirinya sendiri nafas/roh sebagai keberadaan yang baru.

    Roh ini kemudian ia dicopy lagi sehingga menjadi ada pasangan baginya. Saat ini belum ada laki-laki perempuan. Lalu dari keduanya ini ditebarkan laki-laki dan perempuan.

    Jadi awalnya roh, dua roh ini bertemu lalu melahirkan laki-laki dan perempuan yang menjadi ibu bapak kita hingga hari ini.

    dengan kata lain isyarat dari Al-Quran ingin mengatakan bahwa Adam dan Hawa itu adalah roh yang tidak berkelamin. Lalu setelah keduanya disatukan kembali lalu muncullah kelamin laki-laki dan perempuan.

    Kemudian keturunan ini dimusnakan oleh Allah karena saling bunuh dan berbuat kerusakan, lalu diciptakanlah adam yang baru yang menjadi khalifah. Sementara hawa yang baru adalah hawa sisa-sisa manusia yang dulu.

    Hanya sampai di sinilah Al-Quran berbicara.

    Adapun cerita yang anda bawakan itu kebanyakan dari bible/injil. Islam tidak menolak bible tapi tidak juga membenarkannya. Memang sih sebagian orang Islam suka latah menerima cerita bible seakan-akan isinya sama dengan AL-Quran,

    Itu aja sih dari saya.

    1. Bpk Orang Bingung,
      Terima kasih telah menulis komentar. Anda benar, tulisan di atas memang mengambil referensi dari Bible sehingga judulnyapu memeakai nama Eva. Terima kasih atas tambahan versi Muslimnya. Salam.

  5. @wagerr

    media yang anda gunakan untuk mendapatkan kebenaran itu apa dan bagaimana cara/ prosesnya?
    contoh saya, bila ingin menemukan listrik, ya tinggal cari colokan, caranya? yang tinggal dicolok aja. sederhana bukan, itu setelah saya tahu apa itu listrik.

    sekarang anda, menurut anda benar itu apa sih? kalo anda sudah punya juntrungannya tentu sangat gampang bagi anda menemukannya dan memprosesnya seperti listrik yang saya katakan tadi. Ingat ya listrik itu bukan keyakinan sepihak tapi semua manusia di dunia!

    so mari kita diskusi di sini, karena rata2 tulisan anda saya lihat selalu kental dengan warna abu-abu. apakah mengaskannya menjadi hitam adalah salah atau menegaskannya menjadi putih bukan yang benar. lalu untung dapat untung setiap waktu dan tidak rugi maka memilih abu2 menjadi aman, begitukah?

  6. Terkadang kita selalu mdebatkan hal yg mnurut pandangan kita belum tentu benar tapi mlupakan substansi dr ajaran itu. Seperti tulisan2 dlm kitab yg dpsoalkan/polemik adalah yg tsurat bkn tsirat….sbab sgala sesuatu diukur o/ logika dan daya pikir pribadi.
    Seperti Adam & Hawa adalah manusia ptama, namun ada bagian lain trnyata d bumi ada manusia lain….mungkin saja benar Adam & Hawa manusia ptama namun bukan berarti Allah tidak mciptakan manusia lain ssudahnya.
    Pemicu suatu pbedaan sbenarnya hanyalah kulit dari ajaran itu, bila seorang benar2 mjalankan firman maka ssungguhnya ia tak akan punya waktu u/ mcari pmbenaran kyakinannya & mcari yg dianggap kkurangan ajaran lain.
    Ada yg mgatakan ” mmakai yg palsu u/ mbina yg sejati” apa yg palsu…? tubuh ini adalah palsu, hidup ini juga palsu. Apa yg sejati? Roh kitalah yg sejati. Basudewa pun mgatakan bahwa tubuh ini akan musnah namun atma tidak akan pernah musnah.
    Iman adalah cara mrasakan kuasa Allah. Agar dapat mrasakan kuasa Allah maka harus tlebih dahulu mcapai kbahagian. Mcari sbuah kbahagian harus mnanamkan rasa syukur dan sabar.
    Bila banyak ajaran coba dpersepsikan mjadi satu, ssungguhnya sia-sia…krn dlm pjalanannya hanyalah saling serang & mnekan, mcari siapa yg tbaik krn manusia terikat oleh keegoisan.
    Sungguh miris bila mlihat kributan / pperangan m’atasnamakan Tuhan…, tanya kmbali dalam hati nurani… tuhan yg mana yg perang harus dbantu? bila Allah yg myatakan perang, ssungguhnya Ia yg mjadi panglima tdepannya…apa buktinya ” bacalah saat Musa mbawa Israel dari Mesir, atau saat perang Bhatarayhuda” bukankah jlas bahwa Allah sendiri yg bperang….!!!
    Mjadi catatan pnting u/ ,jauhi dari pmusuhan yg m’atasnamakan agama “tidak ada dosa dunia mana pun & sperti apapun yg dapat mcemarkan k’agungan Tuhan”, Allah itu Maha Besar tak perlu kita bantu mjadi besar, bila ada manusia yg mhina namaNya biarlah Dia yg mhukum…bukankah Allah itu Maha Adil..!! Adakah hakim yg lebih adil dari Allah?

  7. @Krisna
    Omongan anda barusan buat siapa?
    kalo buat wage lebih baik jangan soalnya saya suka cara ia merajut banyak benang hingga menjadi sebuah simpul. sangat menghibur.
    kalo buat saya maka saya mau bilang, kita ini manusia mahluk berpikir, apapun kita pikirkan, ngga masalah mau mikir begini kek begana kek asal tidak membuat orang tidak paham menjadi marah lantaran ketidakpahamannya atas hal yang tidak ia pahami.

    1. Sdr Orang Stress,

      Dari dulu tulisan saya ya memang seperti itu,tidak tegas tidak jelas junturungnya, muter-muter tanpa kesimpulan. Tulisan yang tentu saja membosankan bagi kebanyakan orang.

      Sebagian besar orang mungkin menyebutnya abu abu ataupun pink, tidak jelas antara merah atau putih, cari aman dll. Mungkin saja dan saya tidak pernah memikirkannya. Saat menulis ya menuls saja. Tentu saja ini adalah salah satu typikal orang goblok.

      Jadi dalam kesempatan kali ini, saya benar-benar merasa sangat beruntung kedatangan orang pintar seperti Anda. Tentang beragam pertanyaan yang Anda ajukan, Jujur saja, saya merasa tidak cukup pengetahuan, tidak mampu menjawab atau lebih jelas lagi menyerah kalah untuk menjawabnya.

      Jadi kalau Anda berkenan, saya akan sangat senang kalau Anda berkenan menyumbangkan satu atau dua tulisan Anda di blog ini. Saya sama sekali tidak keberatan kalau Anda menelanjangi, menyerang ataupun mencaci maki tulisan saya.

      Silakan tulis di kolom komentar dan nanti akan saya pindahkan menjadi artikel tersendiri.

      Salam.

  8. “Sebuah Sejarah Berpotensi Melahirkan Pengamat Sejarah”

    Saya Jadi Teringat Seorang Bapak Berkisah Tentang Perlombaan Melukis

    Seperti Umumnya Perlombaan,
    Para Seniman Menonjolkan Kehebatan Masing-Masing

    Ada Yang Melukis Potret Seakan Hidup Dengan Mata Memandang Kemanapun Kita Beranjak,
    Ada Pelukis Buah Yang Membuat Ingin Mengunyah Lukisanya

    Rupanya Ada Seorang Seniman Yang Dari Awal Sampai Lomba Hampir Berakhir Tak Menemukan Ide

    Lalu Gong Akhir Lomba Keburu Berbunyi

    Saking Terlanjur Ikut Lomba Entah Kode Etik,
    Seniman Itu Menggores Pencil Bututnya Di Kanvas, Sekenanya…Lalu Beranjak Ke Warung Kopi Duduk Dengan Pandang Menerawang Di Bawah Sebatang Pohon

    Tiba-tiba NamaNya Dipanggil Menghadap Meja Penjurian,
    Menghadaplah Dia,
    Dan Para Juri Memutuskan Dialah Pemenangnya

    Alasan Juri Memenangkan Sang Seniman Sangat Sederhana,
    Ia MenCoret Kanvas Dengan
    • Sebuah Lingkaran Sempurna

    ..Inii Ceritaaa Duluu Sekaliiii..
    Adakah Cerita Di Atas Benar Terjadi Tentu Hanya Pelaku Dan Para Saksi Kejadian Yang Tau Sebagai Saksi Hidup Yang Menjalani
    Kebenaran Itu,

    Sedangkan Pembaca Dan Saya Pencerita Ulang Disebut Object Pelaku
    “Katanya-Cerita” Atau
    “Cerita-Katanya” Bukan Pelaku Langsung Kebenaran Itu,

    Terlepas Apakah Benar Atau Tidak Benar Sebuah Cerita Tetaplah Sebatas “KATANYA” Menurut : Buku Cerita,
    Dan HASIL Apa Yang Di munculkan

    Nah Itu Lagi…
    Kebiasaan Lupa Kita Menggebu-Gebu Mendebat Cerita Menganggap Diri Seakan-Akan Pelaku Kebenaran Saat Itu,
    Entah Meminta Bukti Buta Menunjuk Buta Bukti Jaman Lewat Tidak Lagi Hidup Untuk Menjawab Selain Pembenaran Diri Pengekor Sejarah

    Cerita Jaman Entah Sengaja Dibuat Atau Tidak Melahirkan Manusia Modern Yang Meminta Celah Berbangga Diri Hidup Dengan Kebesaran Cerita Di Jaman Kuno

    Lupa Diri Bahwa Hidup Saat Ini Sebagai Penyaksi Kebenaran Yang Ada Saat Ini,..
    Kebenaran Perdebatan.. Kebenaran Bisnis Perang Trilyunan Dollar Menjadi Bisnis Easy Money Di Banyak Negara…
    Kebenaran Jual-Beli Huru-Hara Untuk Pengacau Blau Kepemimpinan Negara…
    Kebenaran Peternak..
    Kebenaran Menang Sendiri..
    Kebenaran Tidak Makmur..

    Namun Karena Alam Kegelapan Bersifat Lupa Membuat Manusia Lebih Memilih Membela Kebenaran Semu, Seperi Kelir-Kuno Wayang-Usang Dimainkan Dalanganyar

    Dan Harus Rela Dan Hanya Berparsah Diri Mengabaikan Kenyataan Tidak Mampunya Si Tuhan Mewujudkan Kemakmuran Nyata Di Jaman Ini

    Namun Begitu,
    Seluruh Karangan Cerita Di Atas Menjadi Kepastian Memaksa Kita Sadar,
    Bahwa Perlombaan Tadi Menunjuk Pada Kebenaran Sangat Sederhana
    Yakni : “HASIL”

  9. Saya percaya dengan ada nya Adam dan Hawa makhluk pertama di bumi.
    Namun saya tidak percaya dengan beberapa bagian kronologi ceritanya.
    Dan menurut saya, di alam ALLAH tidak ada waktu di sana.
    Seribu tahun lagi atau seribu tahun kebelakang di alam ALLAH adalah sekarang.

    Sallam Rahayu Mbah..

  10. ralat Adam & Hawa manusia pertama bukan makhluk pertama.

    GOD
    created Adam & Eve
    NOT
    created Adam & Steve

    hahahahaghh..L.o.L

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s