Bersahabat Dengan Atheis

🙂 Lho, apa judulnya tidak salah Mbah?

Mbah belum pikun,  judulnya  sudah di cek dan tidak ada yang  salah. Kenapa, sampean ketakutan ya? Mbah maklum. Disaat kecil sampai remaja, Mbah juga sama, sangat alergi dan bulu kuduk merinding ngeri setiap kali mendengar kata Atheis.  Namun seiring bertambahnya usia Mbah mulai menyadari bahwa  ketakutan semacam itu adalah tidak perlu dan berlebihan. Sampai saat ini siMbah asik asik saja bersahabat dengan para Atheis.

  • 🙂 Tapi apa tidak takut ketularan Mbah ?

Hus, emang kuman? Atheis juga manusia Nak. Ada yang baik ada juga yang jelek. Ada yang menghargai orang lain dan ada juga yang ngawur, semau gue. Ada yang pendiam dan tidak suka ngomong namun ada juga yang kerjanya cuma mendebat pendapat orang doang.

Manusia yang mengaku bertTuhan juga setali tiga uang khan? Ada yang baik tidak ketulungan tapi ada juga yang  ngeyel dan menyebalkan. Bahkan orang beragama yang  suka ngurusin rumah tangga orang lain, suka berbuat onar bahkan senang main bakar dan main tusuk juga bukanlah hal aneh bukan? Beragama koq malah rusuh? Kalau atheis rusuh ya mungkin masih wajar.

Atheis mungkin adalah seorang pemabuk, tapi golongan orang yang beragama dan pemabuk adalah tidak kalah banyaknya. Pemabuk yang dimaksud bukan karena alkohol tapi mabuk keyakinan. Hasil akhirnya adalah sama saja yaitu onar dan rusuh, jadi apa bedanya? Sama sama mabuk dan sama sama onar khan? Science dan pengetahuan alam juga sebetulnya adalah termasuk katagori atheis juga.

  • 🙂 Benar juga sih Mbah, tapi yang jelas khan paham Atheis dilarang di Indonesia Mbah?

Waduh Nak, kehidupan ini sangatlah luas. Manusia bukan hanya hidup di Indonesia doang. Coba anda pikir, apa nanti suatu saat beruntung ditugaskan jadi musafir di negeri  orang, di negeri para atheis, apakah Sampean akan seharian ngumpet atau bersemedi di dalam kamar? Kalau pola pikir sampean  tidak diubah, maka sampean lama lama akan  benar benar menjadi katak dalam tempurung yang selalu menganggap orang lain adalah salah, sesat dan atheis.

:: T Wage Raharjo

Image source : unknown (thank for photographer)

4 thoughts on “Bersahabat Dengan Atheis

  1. Pak Theo,

    seringkali kebanyakan orang menjatuhkan vonis negatip terhadap sesuatu yang belum mereka buktikan, kebanyakan hanya baru sebatas mendengar-dengar saja.
    Padahal, jika kebanyakan mereka meyakini apa yang telah mereka pilih, mengapa harus alergi terhadap yang di luar pilihan ??
    Terlebih kadang mereka kuatir terpengaruh,,,

    sangatlah bertentangan dengan prinsip sendy pribadi,
    jika memang sendy telah menjatuhkan pilihan terhadap sesuatu yang baik, bukan berarti tidak ada lagi yang lebih baik dan benar. Namanya juga proses pendewasaan.
    dan pula, tidak mungkin jika pilihan kita telah baik dan benar, dapat dipengaruhi oleh sesuatu yang tdk baik dan tidak benar..begitu, bukan, Pak ???

    salam pelangi nusantara, ya
    ,, (^_^) ,,

    Jawab : Sdri Sendy. Anda benar sekali. Saya serasa mendapat pelajaran baru dari Anda. Saya percaya bahwa kehidupan ini sangat adil. Kalau kita berpikir, berkata ataupun berbuat positif maka kita akan menuju ke arah yang positif dan sebaliknya. Theo

  2. Dulu, waktu masih jadi mahasiswa S1, saya dengan bangga berkoar-koar bahwa saya adalah ateis tulen. Lantas, dengan keateisan itu, tentu saja ateis abal-abal karena masih doyan ikut koor di gereja dan langsung ingat Tuhan bila mendadak mendengar geledek, saya mengambil program magister yang ada sangkut-pautnya dengan ateisme-filasafat-teologi dan kebudayaan.

    Pelan-pelan saya menyusun suatu “thesis sentence” bahwa ateisme lebih patut dipandang sebagai sebuah kondisi religiositas manusia. Saya menyebutnya sebagai sebuah kondisi — lantaran berbeda dengan filsafat — ateisme mengambil objek untuk dinegasikan dan diabaikan dari teologi yang berkembang di Eropa; kristianitas. Religiositas dan sistem keimanan di kebudayaan lain kerap kepulung sial karena orientasi ketuhanannya, sebagaimana di Jepang, tidak mengenal tuhan dalam pengertian Abrahamik. Tapi terlalu gegabah untuk menyebut religiositas dan sistem keimanan dalam kebudayaan semacam itu sebagai ateisme.

    Sebagai sebuah kondisi, ateisme lebih mudah dipandang sebagai praksis filsafat, bukan filsafat. Lah wong objeknya gak bisa diukur, diuji dan diperbandingkan dalam kerangka pikir positivisme, kan? Lalu karena dia adalah praksis filsafat, embel-embel isme di belakang kata ateis, secara semantik, sebetulnya sulit dibenarkan meski retorika filsafat bisa dipakai untuk membela bahwa ateisme sekedudukan dengan filsafat (dan teologi). Tapi untuk amannya, daripada kemrungsung bermain kata, tetap saya gunakan “ateisme”.

    Karena menurut saya ateisme adalah kondisi, maka saya bertanya, kondisi apa yang ada pada saya ketika saya menyebut diri saya ini ateis dan menganut suatu praksis filsafat yang bernama ateisme? Dengan pertanyaan ini, saya mulai was-was dengan nilai kebenaran “thesis sentence” tersebut. Mulai berpikir bahwa, jangan-jangan, memang iya bahwa ateisme sekedudukan dengan filsafat tapi bermental pemberontak. Tapi kemudian saya tidak lagi ragu karena pemberontakan menjadi bernama demikian karena ada aksi. Aksi berangkat dari suatu praksis, dan ateis ini, suatu praksis dengan temperamen menegasi dan mengabaikan.

    Singkat cerita, saya bukan seorang ateis namun tidak menegasikan ateis itu lantaran ketika saya berujar bahwa saya bukan ateis, saya berangkat dari suatu kondisi yang memungkinkan saya menolak segala kebenaran tentang tuhan. Tapi pernyataan ini bukan pula dalam rangka pertobatan karena sikap saya yang berkata bahwa saya bukan ateis, justru membuat saya lebih aman, kalau boleh dibilang begitu, untuk menggugat ketuhanan itu sendiri. Artinya, kita gak bisa ngamuk gara-gara sebuah deodoran dengan merek tertentu yang ngakunya bisa mengamankan ketek sepanjang hari dan ternyata hanya beberapa menit efek wanginya hilang, tapi kita tidak menggunakan deodoran merek itu.

    Paling tidak, dalam sudut pandang seperti ini saya membaca Marx dan mengkaji marxisme. Tidak ada yang keliru dari Marx ketika dia dalam buku yang gagasannya dihujat tapi penghujatnya belum pernah membaca, menyebutkan bahwa agama adalah candu kehidupan bagi kehidupan yang tak lagi berpengharapan.

    Kita lihat sekarang, kesalehan dalam sikap yang sangat artifisial menjadi sangat semarak di televisi. Tapi apakah dengan kesalehan serupa itu membuat para penonton terbanggil menjadi saksi Tuhan bagi manusia dan kemanusiaan ketika ada orang yang bahkan untuk mengerangkan pun tak bisa untuk berkata bahwa dia lapar dan sakit? Apakah dengan kesalehan serupa itu membuat orang menjadi tangguh untuk berkata bahwa “perempuan itu selalu dalam keadaan rentan terhadap penindasan dan pelecehan, maka, mari kita melawan ketidakadilan jender untuk menjadi saksi bahwa Tuhan ada bersama kita.” Dan seterusnya….

    Sederhana sekali ketidakateisan saya. Gamblang sekali kedudukan Tuhan bagi saya. Kalau saya sedang capek, sedih, hati tidak karuan, saya ogah ke gereja. Tapi bila saya gembira, saya ke gereja. Dan pada saat itulah, ketika Bapa Kami dan Anak Domba Allah didaraskan, saya menjadi sangat beriman bahwa Tuhan Kasih yang saya ciptakan di hati dan bekerja di pikiran mampu membuat saya gembira. Dan, apa yang membuat saya gembira? Tulisan Mbah Wage ini dilucurkan bertepatan dengan tanggal ulang tahun saya… hahahahahahhaa… Dan Mbah Wage tentu tidak keberatan bila tulisan ini saya klaim sebagai hadiah ulang tahun meski saya baru tahu malam ini hehehehe…

    Reply Wage: :mrgreen: Cerita pengalaman yang sangat menarik, berani dan sangat jujur. Kejujuran yang sepertinya sudah mulai langka di negeri ini. Masih ada sih tapi artifisial, kejujuran artifisial, toleransi artifisial, membela rakyat artifisial dst. NB. Ulang tahun tanggal 2 Aug ya? Ok, dicatat dulu. Nanti akan Mbah buat tulisan yang lebih khusus dan dipublish bertepatan dengan tanggal ulangtahunnya. salam dan semoga sehat selalu.

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s