Terciptanya Kehidupan Versi Buddha

Catatan : Tulisan ini adalah termasuk katagori DOGMA AGAMA alias Didebat kagak guna.

Buddha menjelaskan terciptanya mahluk hidup melalui suatu proses yang panjang, perlahan lahan dan bertahap. Dari mahluk kecil yang bercahaya kemudian mulai membentuk tubuh dan akhirnya membentuk jenis kelamin juga melalui tahapan yang lama.  Teori evolusi ? Mungkin saja, Tapi saya koq malah melihatnya seperti ada kemiripan dengan cerita Adam dan Hawa, cuma lain penyampain saja.

Agganna Sutta Digha Nikaya,

“Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yg lama sekali, dunia ini hancur. Ketika hal ini terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di Abhassara (Alam Cahaya); di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki

tubuh yg bercahaya, melayang-layang di angkasa hidup dalam kemegahan. Mereka hidup seperti itu dalam masa yg lama sekali. Vasettha, terdapat juga suatu saat, cepat atau lambat, setelah selang suatu masa yg lama sekali, ketika bumi ini mulai terbentuk kembali. Ketika hal ini terjadi, makhluk-makhluk yg mati di Abhassara (Alam Cahaya), biasanya terlahir kembali di sini (di bumi) sebagai manusia. Mereka hidup dari ciptaan batin (namo-maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yg bercahaya, melayang-layang di angkasa,  hidup dalam kemegahan. Mereka hidup seperti itu dalam masa yg lama sekali.

Pada waktu itu semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yg nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yg kelihatan; siang maupun malam  belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun-tahun maupun musim-musim belum ada; laki-laki maupun wanita belum ada. Makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk saja.

Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yg lama sekali bagi makhluk-makhluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yg mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti nasi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tanah itu.

Vasettha, kemudian di antara makhluk-makhluk yg memiliki pembawaan sifat serakah (lolajatiko) berkata : “Apakah ini?” Lalu mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, maka nafsu keinginan masuk dalam dirinya. Makhluk-makhluk lain pun mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari-jari mereka. Dengan mencicipinya, maka mereka diliputi oleh sari itu, nafsu keinginan masuk dalam diri mereka. Maka makhluk-makhluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh makhluk-makhluk itu menjadi lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak. Demikian pula dengan siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, musim-musim dan tahun-tahun pun terjadi. Vasettha, demikianlah bumi terbentuk kembali.

Vasettha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yg lama sekali. Berdasarkan atas takaran yg mereka nikmati dari makanan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yg buruk. Karena keadaan ini, maka mereka yg memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yg memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir ‘Kita lebih indah daripada mereka, mereka lebih buruk daripada kita’. Sementara mereka bangga akan keindahannya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka sari tanah itu lenyap. Dengan lenyapnya sari tanah itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratap : ‘Sayang, lezatnya! Sayang, lezatnya!’. Demikian pula sekarang ini, apabila orang menikmati rasa enak, ia akan berkata: ‘Oh lezatnya! Oh lezatnya!’ sesungguhnya apa yg mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan masa lampau, tanpa mereka mengetahui makna dari kata-kata itu.

Vasettha, kemudian ketika sari tanah lenyap bagi makhluk itu, muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (Bhumi Pappatiko). Cara tumbuhnya adalah seperti cendawan. Tumbuhan ini memiliki warna, bau dan rasa; sama seperti jadi susu atau mentega murni, begitulah warna tumbuhan itu; sama seperti madu tawon murni, begitulah manisnya tumbuhan itu. Kemudian makhluk-makhluk itu mulai makan tumbuh-tumbuhan yg muncul dari tanah tersebut. Mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yg muncul dari tanah itu, hal ini berlangsung dalam masa yg lama sekali. Berdasarkan atas takaran yg mereka nikmati dari makanan itu, maka tubuh mereka berkembang menjadi lebih padat, sehingga perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.

Karena keadaan ini, maka mereka yg memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yg memiliki tubuh buruk, dengan berpikir ‘Kita lebih indah daripada mereka; mereka lebih buruk daripada kita’. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yg muncul dari tanah itupun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (padalata) muncul, cara tumbuhnya seperti bambu. Tumbuhan ini memiliki warna, bau dan rasa; sama seperti jadi susu atau mentega murni, begitulah warnanya tumbuhan itu; sama seperti madu tawon murni, begitulah manisnya tumbuhan itu.

Vasettha, kemudian makhluk-makhluk itu mulai makan tumbuhan menjalar tersebut. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar tersebut, hal ini berlangsung dalam masa yg lama sekali.

Berdasarkan atas takaran yg mereka nikmati dari makanan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat; perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Karena keadaan ini, maka mereka memiliki bentuk tubuh indah, dengan berpikir : ‘Kita lebih indah dari pada mereka; mereka lebih buruk daripada kita.’ Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itupun lenyap. Dengan lenyapnya tumbuhan menjalar itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratap: ‘Menyedihkan, milik kita hilang!’ Demikianlah pula sekarang ini, bilamana orang-orang ditanya apa yg menyusahkannya, mereka menjawab: ‘Menyedihkan! Apa yg kita miliki telah hilang!’ Sesungguhnya apa yg mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan pada masa lampau, tanpa mengetahui makna dari kata-kata itu.

Vasettha, kemudian ketka tumbuhan menjalar lenyap bagi makhluk-makhluk itu, muncullah tumbuhan padi (sali) yg masak dalam alam terbuka (akatha-pakho),  tanpa dedak dan sekam, harum, dengan butir-butir yg bersih. Bilamana pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, maka keesokan pagi, padi itu telah tumbuh dan masak kembali; demikian terus-menerus padi itu muncul.

Vasettha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, hal ini berlangsung demikian dalam masa yg lama sekali. Berdasarkan atas takaran yg mereka nikmati dari makanan itu, maka tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthi-linga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sangat memperhatikan keadaan laki-laki, laki-laki pun memperhatikan keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indera yg membakar tubuh mereka. Sebagai akibat adanya nafsu indera tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin (methuna) . . . .
(Agganna Sutta, Digha Nikaya)

Sepenggal Opini :

Setelah membaca terjemahan sutta tersebut, kalau menurut tafsir saya sepertinya  beberapa bagian dari uraiannya memiliki sedikit kemiripan dengan kisah kisah Adam dan Hawa. Ah, masak sih? Ya, sekali lagi menurut saya lho. Misalnya tentang nafsu, keinginan dan godaan keserakan.

Cerita Adam dan Hawa ditulis dengan sangat gamblang dan dikemas sangat menarik, lengkap dengan setan penggodanya sehingga mudah untuk diingat dan dipahami oleh anak anak atau masyarakat pada masa itu. Sedangkan pada penjelasan Sutta di atas, sangat samar, penuh dengan bahasa kias dan perumpamaan yang sulit dimengerti sehingga nyaris tidak menarik untuk masyarakat umum.

Namun sekali lagi,  Buddha adalah ajaran tentang cara hidup dan berprilaku bukan ajaran tentang pengetahuan alam. Seperti sering dikatakan oleh Buddha, semuanya itu tidak ada hubungannya dengan prilaku.

.

Beberapa istilah bahasa Pali :
Maha-Kappa = Satu Siklus Dunia
Asankkheyya-Kappa =  Satu Periode Dunia

Referensi :
Wikipedia: Buddha, The Bigining of Life
Terima kasih pada rekan yang telah membuat  terjemahan berbahasa Indonesia seperti yang saya copy di atas.

Credit photo : Credit: Free images from acobox.com

Advertisements

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s