Menghargai Binatang ala Bali

Apakah yang anda lakukan kalau menemukan ular berkeliaran di pekarangan rumah anda? Sebagaian besar jawabannya mungkin membunuhnya, sebegian kecil lagi mungkin menangkapnya dan menjualnya kalau ukurannya besar.

Apa yang anda lakukan kalau menemukan ular tersebut di lingkungan tempat ibadah? Jawabannya mungkin tetap sama dengan jawaban di atas. Ular ya tetap ular, dimanapun tempatnya dan apapun jenisnya ya tetap berbahaya sehingga harus disingkirkan.

Namun bagi masyarakat Bali, jawabannya bisa jadi akan sangat berbeda. Sebagian besar dari mereka akan berpikir dua kali untuk menangkap atau membunuh binatang melata di tempat ibadah, terlebih lagi kalu ular tersebut berukuran besar, memiliki jenis dan warna yang  tidak biasa misalnya putih, dipastikan tidak akan ada yang bernani menganggunya. Hal ini disebabkan karena mereka memiliki konsep ajaran yang disebut dengan DUE.

Sekilas tentang konsep DUE

DUE kalau diterjemahkan bebas kurang lebih binatang atau mahluk lain yang menghuni tempat suci, tempat ibadah, hutan atau daerah yang disucikan. Dengan penjelasan lebih mudah, binatang tersebut dianggap sebagai  mahluk suci  yang tidak boleh dibunuh ataupun disingkirkan.

Beberapa contoh mudah dari hewan DUE ini adalah kelelawar yang ada di pura Goa Lawah. Di tempat ibadah tersebut memiliki goa besar yang dihuni oleh puluhan ribu ekor kelelawar. Kemudian ada juga pura yang dihuni oleh segerombolan monyet, pura yang dihuni sekelompok sapi putih atau pura di Tanah Lot dengan gerombolan ular-nya. Mata air yang disucikan dan menjadi habitat hidup sejumlah ikan dll.  Semua binatang ini disebut DUE dalam bahasa Bali.

Keberadaan binatang tersebut hanyalah dianggap sebagai bagian atau satu kesatuan dengan tempat ibadah itu sendiri. Konsep memuliakan binatang ini (sepertinya) sudah ada jauh sebelum kedatangan agama asing (Hindu) ke pulau tersebut. Beberapa  tempat ibadah yang ada sekarangpun (sepertinya) sudah ada sebelum kedatangan agama asing tersebut.

Hewan lain yang dianggap membawa berkah

Angsa

Selain hewan Due, seperti yang saya sebut di atas, ada juga sejumlah binatang lain yang memiliki kedudukan istimewa walaupun tidak hidup di komplek tempat suci, seperti contohnya angsa. Angsa dianggap sebagai simbol kebijaksanaan dan kendaraan dewi Saraswati yaitu dewi ilmu pengetahuan.  Seperti halnya orang Islam yang mengharamkan daging Babi, sebagian besar orang Bali mengharamkan makan daging angsa.  Namun tentu saja haram yang dimaksud tentu bukan tidak dimakan kerena dianggap binatang HINA tapi karena dimuliakn dan menghormati.

Burung Bangau

Di desa Petulu, Gianyar merupakah tempat habitat ribuan ekor burung bangau. Burung ini bersarang di tempat ibadah dan pohon yang tumbung di pekarangan rumah penduduk. Keharmonisan hidup antara manusia dan burung bangau ini sudah berlangsung sejak lama.

Anjing

Bagi sebagian orang tua, anjing juga dianggap sebagai binatang suci karena dalam cerita Mahabrata, hewan inilah satu satunya yang paling setia dan mampu menemani Yudistira sampai ke puncak gunung suci pintu sorga. Hal ini membuat sebagain kecil orang Bali  pantang mengkonsumsi daging anjing  menganggapnya sebagai binatang suci simbol kesetiaan. Sedangkan sebagian lagi menganggap sebaliknya, daging anjing dianggap kotor dan tidak layak dikonsumsi. Daging anjing dianggap akan membuat  raut wajah atau Aura seseorang menjadi keruh dan kotor.

Cicak

Cicak dianggap sebagai penanda atau pembenar dari ucapan baik. Jadi dikala seseorang bersumpah atau berkata hal baik dan benar dan tiba tiba suara cicak berbunyi maka perkataan orang tersebut akan dibenarkan oleh para pendengar.

Hari Binatang di Bali

Di Bali, masyarakatnya mengenal hari raya khusus untuk menghomati binatang.  Hari Binatang ini disebut dengan nama Hari Raya Tumpek Kandang dan dirayakan setiap hari Sabtu Kliwon Wuku Uye menurut perhitungan kalender Bali-Jawa.

Karena kalendar Bali atau Jawa adalah merupakan kalender Bulan, maka perayaan bukan setahun sekali, tapi setiap enam bulan  sekali atau setiap 210 hari sekali.Perayaan dilakukan dengan membuat sesajen di setiap kandang binatang atau hewan peliharaan.

Doa sebelum menyemblih binatang

Secara umum, masyarakat tersebut memiliki doa tidak resmi disaat melakukan penyemblihan terhadap binatang. Doa tersebut kurang  terjemahannya lebih sebagai berikut:

“Setiap mahluk memiliki Dharma atau kewajiban. Dharma sebagai binatang adalah menjadi makanan manusia. Semoga berbahagia dan lahir kembali sebagai mahluk utama”.

Kalimat tersebut di atas  bukanlah  mantra karena diucapkan dalam bahasa biasa sehari hari jadi lebih tepat disebut harapan dan percakapan. Tentu saja, doa versi agama  atau versi mantra berbahasa Sansekerta juga ada tapi sepertinya tidak ada seorangpun yang menggunakannya.

Bagaimana dengan Kepercayaan di daerah lain?

Sepertinya menurut saya, menghargai binatang dan alam adalah bagian dari konsep kepercayaan lama atau primitif. Jadi ajaran tentang menghargai binatang sepertinya tidak terlalu susah untuk diterapkan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena masyaraktanya sudah memiliki basic atau dasar dasar tentang cinta terhadap binatang.

Untuk daerah di Indonesia lainya yitu adat Melayu dan Talang Mamak, harimau (Rimau) dianggap sebagai Dewa atau Datuk. Ini juga merupakan salah satu bentuk kepercayaan lama yang primitif namun sukses menjaga keseimbangan kehidupan manusia dan binatang.

OPINI PENUTUP

Menghargai binatang atau alam adalah sangat penting. Kasih sayang universal pada semua mahluk hidup ini hendaknya selalu dipupuk dan diajarkan semenjak dari kecil.

Masyarakat primitif sebetulnya sudah memiliki konsep dan cara dalam mengajarkan kecintaan pada binatang. Cara tersebut mungkin sudah kuno dan ketinggalan jaman atau bahkan tidak sejalan dengan ajaran agama.  Tugas masyarakat modern sekarang adalah menggantinya dengan ajaran baru cinta binatang yang lebih modern atau meneruskan konsep lama dengan melakukan revisi di bagian yang dianggap kurang sesuai.

Hilangnya rasa kasih sayang terhadap binatang akan merupakan awal dari hilangkan rasa kasih sayang terhadap sesama manusia itu sendiri.  Apakah kita harus menjadi MANUSIA  HOMO yaitu hanya mencintai sesama kelompok dan golongan agama sendiri? Kelahiran bukanlah pilihan, lahir sebagai hewan atau manusia kita tidak akan tahu.

Published on : 27 July 2011

Sumber image : wikipedia

Advertisements

5 thoughts on “Menghargai Binatang ala Bali

  1. Memang seringkali kita tidak bisa melihat lebih dari wujudnya sehingga tidak bisa menghargai artinya. Untuk saya anjing itu mahkluk setia, yang rela mati untuk membela tuannya. Saya suka contoh yang Mbah sajikan, anjing yang mendampingi Yudhistira sampai ke surga, yang ternyata adalah penjelmaan Betara Dharma, ayah nya sendiri. Secara tidak langsung ini adalah contoh bagi kita bahwa manusia dapat belajar dari binatang.

    :)Reply: Ternyata tahu cerita wayang juga nih! Tentang anjing, nanti akan saya posting 2 atau 3 kali tulisan topik tentang anjing.

  2. mbah wage ngarang,,,, mbah due to artinya kepunyaan wah ilmunya mbah wage kecil

    😆 Reply: Duh, terjemahannya salah ya? Makasih sudah dikoreksi. Maklum, berkunjung ke Bali cuma 3 hari doang…ha..ha…

  3. sekalian di kupas kearifan lokal tentang ‘Tumpek kandang’ mbah 🙂 …

    andai ada ceremoni khusus untuk menghormati dan menghargai para bangsa binatang ini, alangkah harmoninya alam ini, terlebih jika di lakukan serentak di kebun binatang atau kawasan cagar alam di seluruh Indonesia dan atau seluruh dunia.

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s