Takdir dan Nasib

Penulis : Wage Rahadjo

Takdir atau nasib adalah topik yang mungkin menarik bagi banyak orang. Benarkah Takdir itu ada? Jawabannya sepertinya sudah sangat jelas yaitu tergantung pada siapa orang yang kita tanyakan. Orang yang percaya tentu saja menjawabnya ada dan sebaliknya bagi yang tidak percaya.

Berikut saya mencoba menuliskan kedua perbedaan ini. Dalam banyak kasus terlebih lagi kalau menyangkut agama, PERCAYA tentu saja jauh lebih mudah dibandingkan dengan TIDAK PERCAYA. Percaya konsepnya sangat sederhana dan  nyaris (dianggap) tidak memerlukan penjelasan apapun.

Sedangakan tidak percaya sedikit lebih rumit karena umumnya sering dituntut harus menyertakan alasannya. Inilah yang  membuat bagian Tidak Percaya  ini jauh lebih panjang  untuk ditulis.

Saya percaya Takdir

Hampir kebanyakan penduduk Indonesia adalah beragama Semantik, yaitu Islam atau Kristen jadi (sepertinya) pasti percaya dengan takdir. Takdir yang merupakan bagian dari kekuasaan Tuhan yang harus diimani, dipercaya dan tidak boleh diperdebatakan.  Mendebat takdir artinya sama saja dengan mendebat keberadaan Tuhan. Mungkin begitualh kira-kira penjelasannya. Maaf kalau salah tulis.

Saya tidak percaya Takdir

Kenapa sih tidak percaya dengan takdir? Jawabannya  karena mereka percaya bahwa “Tidak ada kejadian tanpa sebab”  Peristiwa baik atau buruk yang kita alami hari ini  bukanlah  jatuh dari langit begitu saja, tapi kejadian dari hukum sebab dan akibat yang kita buat sendiri. Takdir adalah penggalan peristiwa masa kini, yang disebabkan oleh kejadian masa lalu atau akan berhubungan dengan kejadian masa depan (akhirat).

Tidak ada Takdir, yang ada adalah sebab akibat

Takdir manusia dibuat sepenuhnya oleh manusia itu sendiri yang  dikontrol oleh hukum sebab akibat yang disebut dengan Hukum Karma atau Kamma. Segala tindakan dan perbuatan kita saat ini akan menentukan takdir kita di masa yang akan datang yang sekaligus juga berarti takdir kita saat ini disebabkan oleh perbuatan kita di masa sebelumnya. Jadi konsep menolak Takdir disini berhubungan dengan hukum konsep reinkarnasi.

Penjelasan sederhana tentang konsep reinkarnasi ini adalah ibarat kehidupan kemarin, kehidupan hari ini dan kehidupan hari esok. Kebanyakan orang menganggap kejadian buruk hari ini sebagai takdir, kemudian keberuntungan seseorang dianggap sebagai nasib baik. Berikut hanyalah sekedar contoh sederhana sekedar sebagai ilustrasi semata.

  • Hari ini saya menerima segepok uang dari tempat saya bekerja. Takdir atau nasib baik? Tidak ada takdir-takdiran. Ini murni hukum sebab akibat alias gaji bulanan. Anda menerima hasil kerja keras anda selama sebulan.
  • Hari ini saya menerima segepok uang dari tempat saya bekerja, padahal saya pegawai baru dan belum mulai bekerja sama sekali. Nasib baik? Bukan, itu adalah uang panjar atau gaji yang dibayar di depan. Mulai besok, anda harus bekerja selama sebulan tanpa digaji.
  • Perusahaan sudah menunggak gaji saya selama 3 bulan. Takdir atau nasib? Bolehlah Anda menyebtunya takdir tapi yang jelas itu namanya kriminal. Urusannya dengan hukum. Jawaban untuk hukum sebab akibat, kita tidak tahu kejadian apa dan pelajaran apa yang akan kita dapatkan  di hari depan.
  • Perusahaan bangkrut dan direkturnya melarikan diri. Takdir? Kalau disebut takdir, bolehlah untuk sekedar menghibur diri, tapi hukum tetap harus dijadikan acuan pertama. Kalau hukum tidak dikedepankan maka “takdir-takdir palsu” akan merajalela. Kalau anda percaya hukum sebab akibat, maka disanalah kunci jawabannya. Kita tidak tahu apa yang terjadi di kehidupan lalu, juga kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kehidupan depan. Bisa saja kita mendadak memenangkan undian dalam jumlah besar. itu bukan keberuntungan tapi kompensasi dari nasib sial anda di kehidupan lalu.

Jadi hukum sebab akibat adalah jawaban dari semua kejadian. Tidak ada kejadian yang terjadi secara kebetulan. Jadi selalu berpikir positif adalah kuncinya. Disaat kita mendapat kemalangan, kita bisa saja menganggapnya takdir atau menganggap sebagai hukuman masa lalu, tapi menatap ke arah depan jauh lebih baik. Agar mendapat takdir atau kehidupan yang lebih baik maka kita harus selalu berbuat yang lebih baik.

Bencana alam dan hukum sebab akibat

Bencana adalah kejadian alam. Cepat atau lambat, bencana alam seperti gunung meletus pasti akan datang. Jadi bencana gunung meletus adalah kejadian alam, hukum sebab akibat untuk daerah di sabuk gunung berapi. Bencana gunung berapi menimbulkan tragedi, namun disisi lain gunung berapi juga memberikan berkah kesuburan. Ini juga kembali ke hukum sebab akibat.

a bisa datang lebih cepat, lebih sering dan bahkan lebih ganas misalnya banjir. Ini juga adalah hukum sebab akibat. Tidak ada istilah orang baik orang baik orang jahat, orang beriman orang tidak beriman, kalau sudah sungai dangkal dan tersumbat, air meluap maka bencanapun akan menimpa semua orang tanpa terkecuali. Sekali laigi ini adalah hukum alam, hukum sebab akibat jadi tidak ada istilah takdir, nasib baik nasib buruk.

Takdir Ujian atau Cobaan

Cobaan atau ujian pasti ada dalam hidup, terlebih lagi bagi mereka yang berbuat kebaikan. Ini juga bukanlah takdir tapi konskwensi atau hukum  sebab akibat dari perbuatan baik.  Semakin banyak anda berbuat baik maka semakin berat dan besar  hambatan atau ujian yang akan dihadapi. Ibarat besi, agar menjadi lebih tajam dan bermanfaat harus melewati panas dan tempaan.

Misteri Takdir

Apakah penderitaan bawaan sejak lahir, sakit atau cacat adalah akibat perbuatan buruk masa lalu? Jawabannya adalah misteri alias tidak ada yang tahu. Hukum sebab akibat tidak bisa digunakan atau disimpulkan secara serampangan.

  • Disaat menjumpai seseorang yang kena musibah, kita tidak bisa seenaknya berkomentar dengan mengatakan bahwa itu “Itu adalah hukuman dari perbuatanmu dahulu”. Kalau Anda melontarkan kata tersebut pada mereka yang lahir dalam kondisi cacat mislanya, maka beraarti Anda tidak memiliki kepekaan humanisme. Anda bisa menggunakan bahasa lain yang lebih positif. Kalau musibah untuk diri sendiri bolehlah. Jadi anda harus bisa menempatkan kata dengan lebih bijak. Bedakan antara musibah yang menimpa diri sendiri dengan musibah orang lain
  • Yang jelas, apapun penyebab, kejadiannya tidaklah jatuh begitu saja dari langit. Apapun penyebabnya tetap saja kita harus selalu berjuang, berpikir positif dan berbuat kebaikan.

Nasib Baik dan Nasib Buruk

Apa itu nasib baik dan nasib buruk? Sesuatu kejadian yang tidak sesuai dengan keingian kita disebut nasib baik dan sebaliknya untuk nasib buruk. Kalau kita memakai hukum sebab akibat sebagai acuan dasar maka sesungguhnya kedua kata itu tidak perlu ada. Karya besar dihasilkan dari penelitan yang gagal berulang kali. Apakah kegagalan dan penderitaan ketika mencoba adalah nasib buruk? Apakah keberhasilan adalah nasib baik?

KESIMPULAN

Kesimpulan kali ini sepertinya cukup mudah untuk dibuat dibandingkan dengan tulisan topik lain.

Takdir, percaya ataupun tidak bukanlah hal penting karena walau bagaimanapun juga kita tetap harus berusaha dan berbuat yang  lebih baik.

“Tuhan tidak akan mengubah nasib manusia, tapi manusia sendirlah yang harus mengubah nasibnya” adalah ungkapan yang sangat tepat.  Bagi mereka yang tidak percaya takdir, ungkapan ini tentu tidak diperlukan karena dari awal sudah percaya bahwa takdir disebabkan karena perbuatan diri sendiri.

:: Wage  Rahardjo

.Credit: Free images from acobox.com

Refernesi : http://id.wikipedia.org/wiki/Takdir

One thought on “Takdir dan Nasib

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s