BENCANA ALAM : Hukum Alam atau Kutukan Tuhan?

Beberapa dasa warsa ini, dunia berkali kali dikejutkan oleh bencana besar., gempa bumi, banjir, tsunami dll yang tidak jarang merengut korban jiwa dan harta yang sangat besar.

Hampir semua orang (normal) sepertinya pasti tersentuh nuraninya yang ditunjukkan dengan ucapan simpati ataupun bantuan materi.  Cukup menarik untuk dicatat bahwa selain siraman tanda simpati, beberapa komentar jangal dan aneh kadang juga muncul.

Pada kasus tsunami di daerah Fukushima misalnya sering dikaitkan dengan PD II atau bahkan juga politik. “Rasain lu, cepat bertobat dan insaf, dasar atheis ….dst”.  Masyarakat yang dianggap berprilaku salah dan menyimpang juga kadang dianggap sebagai penyebab dan pemicu terjadinya bencana alam.

Apa itu bencana, apakah penyebabnya dan bagaimana sebaiknya, berikut saya mencoba menuliskannya.

Bencana adalah Hukuman Tuhan

Sebagian orang percaya bahwa bencana adalah merupakan cobaan ataupun hukuman dari Pencipta. Konsep ini tentu saja tidak lepas dari pengaruh agama.  Jadi bencana alam dipercaya sebagai bentuk dari kekuasaan Tuhan ataupun peringatan pada manusia agar sadar dan mawas diri.

Konsep ini sepertinya berumur sudah sangat tua, sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Jauh sebelum agama besar berkonsep monotheisme lahir di Timur Tengah, agama kuno dan animistik  primitif juga mempercayai bahwa bencana merupakan karya Tuhan atau Dewa menurut istilah masa itu. Jadi konsep bencana sebagai hukuman dan cobaan bisa dikatakan merupakan konsep dasar dari peradaban manusia dalam menerjemahkan alam.

Bencana adalah Hukum Alam

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan peradaban maka rahasia alam menjadi semakin tersingkap. Kejadian yang dianggap gaib pada masa lalu bisa diterangkan dengan ilmu pengetahuan.

Bencana alam adalah kejadian alam biasa yang cepat atau lambat bencana pasti akan datang. Dengan melakukan perusakan alam dan tindakan pencegahan yang cukup maka kerusakan yang ditimbulkana akan menjadi semakin besar, rutin dan parah. Banjir di musim penghujan adalah adalah salah satu contohnya. Dengan pengelolaan tata kota yang amburadul serta prilaku anggota masyarakat yang salah maka banjir akan mampir dan menyapa lebih sering.

Pendapat di atas sepertinya sangat ilmiah namunt tidak ayal sering pendapat ini mendapat kritikan dari kelompok agama. Hal ini disebabkan  karena secara tidak langsung telah mengabaikan atau bahkan menghilangkan fungsi dan peran dari Tuhan. Kalangan agama berusaha membuat jalan tengah dengan mempercayai hukum alam namun juga sekaligus tanpa mengabaikan peran Tuhan di dalamnya.

Hukuman Alam ala Agama

Konsep bencana sebagai hukuman sepertinya identik dengan konsep agama.  Namun perlu dicatat bahwa tidak tidak semua agama mengajarkan konsep seperti ini.  Buddha contohnya jelas jelas menolak konsep hukuman Tuhan. Buddha mengajarkan bahwa alam diatur oleh hukum alam yang disebut dengan istilah  Niyama Dharma yang sering dianalogikan dengan jaring laba laba, getaran pada satu sisi akan berakibat juga ke sisi lainya dan manusia berada di salah satu titiknya.  Kemudian konsep Hukum Karma yang banyak dianut oleh filosofi Timur kurang labih memberikan penjelasan yang sama yaitu sebab dan akibat, aksi dan reaksi.

Namun semua ini hanyalah sebatas teori dan filosofi saja karena dalam prakteknya, pada setiap kejadian bencana paling sederhana sekalipun seperti banjir contohnya, secara natural (porsi terbesar) solusi pemecahannya umumnya adalah Doa bersama atau ritual agama. Konsep dari filosfi  hukum karma yaitu aksi dan reaksi yang sudah dipahami di awal kadang tidak lebih hanya filosofi belaka. Aksi penyebab seperti penggudulan hutan ataupun pencegahan sering terabaikan.

OPINI PENUTUP

  1. Apakah anda percaya bahwa bencana merupakan hukuman dari Tuhan, bencana alam biasa ataupun gabungan dari keduanya, sepertinya adalah tidak terlalu penting untuk didebatkan. Yang jauh lebih penting adalah menumbukan rasa humanisme disaat bencana, peduli dengan penderitaan orang lain serta KESIAPAN menghadapi bencana.
  2. Menganggap bencana sebagai hukuman adalah sah sah saja tapi mengeluarkan pendapat dan pernyataan aneh dan melukai pihak lain adalah sangat disayangkan. Apapun penyebabnya dan apapun yang kita percayai hendaknya kita tetap selalu menjaga sikap kondusif dengan tidak membuat komentar konyol dengan menghakimi pihak lain.
  3. Bencana dan tragedi bisa terjadi dimana saja dan kapan saja dan bahkan bisa terjadi pada mereka yang berjuang di jalan Tuhan sekalipun. Tragedi haji di Mekah mungkin adalah salah satu contoh yang bisa direnungkan.

salam

sumber photo : potongan film 2012

Edited : 2012/07/11

Advertisements

2 thoughts on “BENCANA ALAM : Hukum Alam atau Kutukan Tuhan?

  1. Salam Kang Wage.
    —menumbuhkan rasa humanisme, peduli dengan penderitaan orang lain serta kesiapan menghadapi bencana adalah yang utama.–
    —selalu menjaga sikap kondusif dengan tidak membuat komentar konyol dengan menghakimi pihak lain—
    —Bencana dan tragedi bisa terjadi dimana saja dan kapan saja dan bahkan bisa terjadi pada mereka yang berjuang di jalan Tuhan sekalipun—
    Jempol semua buat kang Wage.

    Reply wage : :mrgreen: Terima kasih Kang. Tulisan telah diedit ulang. Dibuat lebih kompak dan mudah dipahami

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s