Antre, Pingsan dan Patah Tulang

Antre adalah aktivitas mudah yang sepertinya siapapun pasti bisa dan biasa melakukannya. Namun walau mudah, kasus tragis, antre yang memakan korban luka atau bahkan nyawa selalu saja terulang nyaris setiap tahun.  Tragedi yang tentu saja mengundang keprihatinan banyak kalangan.

Apakah yang salah dari semua ini? Saya percaya bahwa tulisan ini  tidak lebih hanya sekedar ungkapan perasaan saja jadi tidak akan memberikan manfaat apapun.

Penyebab 1 : Kebanyakan orang merasa diri sudah tertib

Kasus antre yang berakhir rusuh dan memakan korban selalu mengundang komentar banyak orang. Sebagian orang mungkin berkomentar prihatin namun tidak jarang banyak juga yang berkomentar bernada menyalahkan. Cukup banyak orang yang merasa sudah tertibm tidak terkecuali diri saya sendiri. Nah, inilah menurut saya salah satu penyebab awal tragedi antre. Semua orang merasa sudah tertib !

Penyebab 2 : Barang murah dan gratis

Barang gratis? Mau? Semua orang juga pasti mau. Walau harus membayar sekalipun juga tidak apa apa, yang penting harganya murah. Mendengar kata gratis atau murah, mendadak nafsu dan keinginan mulai menjalar ke seluruh tubuh dan membuat susah tidur sehingga rela bergadang seharian mendapatkan antrean paling depan.

Disaat mulai bersinar terik, cuaca menjadi panas, emosi pun secara pelan pelan naik ke kepala. Menjelang detik detik waktu pembagian suasana antrean yang awalnya tampak tertib menjadi gaduh. Terjepit dalam kumpulan orang dalam jumlah besar, cuaca panas, perut lapar,  habis bertengkar dengan istri dan setumpuk masalah hidup lainnya bercampur aduk menjadi satu. Logika, tenggang rasa atau bahkan agama nyaris akan menjadi tidak berguna.

Tragedi antree mudah dikomentari, menyebut pelakunya bodoh hanya untuk berebut barang murah. Namun apa yang terjadi kalau seandinya pembagian barang murah atau gratis ada di dekat rumah? Hampir setiap orang akan tergoda untuk “adu untung”.  Sebagai seorang “penduduk lokal” maka sering sifat arogan muncul. “Saya khan penduduk lokal, masak bisa tidak dapat?”. Nah, kondisi rusuhpun dimulai.

Penyebab 3 : Menggampangkan masalah

Bagian ini sepertinya lebih tepat ditujukan ke pihak panitia, perusahaan penyelenggara atau organizernya. Mereka kadang lupa betapa besarnya tenaga dari “kekuatan massa” tersebut, terlebih lagi kekuatan massa yang lagi kecewa karena tidak dapat bagian…..

KESIMPULAN : Antre belum merupakan budaya

Antre belum merupakan budaya di negeri ini sehingga perlu dibiasakan atau dipelajari sejak dini. Saat ini antre yang dilakukan dengan tertib nyaris hanya bisa ditemukan di tempat tempat tertentu saja seperti pusat pembelanjaan atau bank.

SOLUSI  : Agama adalah solusi ?

Prilaku antre dan agama adalah dua hal yang tidak berhubungan namun bisa dihubung hubungkan (terlebih lagi diblog dongengbudaya). Negeri ini adalah negeri religius,  jadi untuk solusinya, kenapa juga dalam kasus ini kita tidak menggunakan pendekatan agama? Entah bagaimana caranya yang jelas agama adalah merupakan media paling bagus untuk memulai. Agama harus difungsikan dalam kehidupan sehari hari, tidak sebatas dibanggakan saja.

Keterangan gambar di atas adalah antre untuk mendapatkan jatah makanan dan air waktu bencana gempa dan tsunami di negeri lain. Di negeri kafir saja masyarakatnya tertib, seharusnya di negeri religus masyarakatnya 100 kali lebih tertib bukan? Kenapa kasusnya sering malah kebalikannya.

Tapi kalau dipikir pikir, negeri ini nantinya menjadi sangat tertib, semua orang antre berjejer dengan sabar malah sepertinya jadi sedikti aneh, jadi seperti merasa bukan di negeri sendiri….

Wager

Sumber image : Unknown (Facebook ?!)

Advertisements

One thought on “Antre, Pingsan dan Patah Tulang

  1. Tulisan yang juga menarik kang Wage.
    Memang memprihatinkan….dinegara yg kebanyakan penduduknya mengaku religius…budaya antre adalah jadi barang langka…..tak terkecuali disono…ditempat yg katanya paling suci…ditempat orang menirukan melempar syeitan dg batu kerikil…disitu berjejal saling mau didepan….akhirnya banyak jatuh korban meninggal karena terinjak-injak….sungguh ironis.

    Reply dari wage : :mrgreen: Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya Mas SMP. Akhirnya topik ini ada yang berkomentar juga. salam

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s