Agama Dibalik Gulungan Kertas

“Agamo ne napi Pekak ?”(Agamanya apa Kakek ?), Tanya saya pada sang Kakek yang tampak kebingungan. Formulir kartu identitas yang diserahkannya tampak kosong pada kolom agama. Sebagai petugas kantor kependudukan, seumur umur baru kali ini saya menjumpai kasus seperti ini.

Tapi saya berusaha untuk maklum karena desa yang saya kunjungi saat ini untuk sosialisasi pembuatan kartu identitas sistem baru yaitu identitas berbasis elektronik alias E-KTP adalah desa paling terpencil di kabupaten ini yaitu desa Renggong yang terletak di kaki gunung Wales yang penduduknya sebagian besar masih primitif.  Penduduk desa ini tidak pernah terdata sehingga nyaris tidak ada warga yang memiliki KTP.

“Agamo Sambudi Sinulur” Kata si Kakek menjawab setelah sebelumnya beberapa saat terdiam. “Huhhh…..”. Saya hanya bisa menghela nafas panjang.

“Puniko ten agamo patut wastane nanging alias agamo abal abal”
(Itu namanya bukan agama benar, Kek tapi kepercayaan atau agama  abal abal)

“Agama yang benar dan asli itu seperti yang sudah tertulis di formulir ini”
Kata saya sambil memperlihatkan formulirnya. Si kakek tampak kebingungan dan mulut terbuka tanpa bisa menjawab. Sepertinya percuma juga, karena si Kakek tidak akan bisa membacanya. Formulir yang diserahkannya  kemungkinan besar ditulis oleh orang lain.

Ah, penduduk desa yang lugu. Saya jadi kasihan. Jujur, kalau saya menghadapi situasi yang sama, disuruh harus memilih agama, kemungkinan besar juga akan kelimpungan.  Kenapa? Ya karena saya seumur umur tidak pernah memilihnya.  Begitu lahir sudah langsung  beragama dan dengan bangga saya sering berkata “Inilah agama pilihanku!”.

Saya memandang ke arah  para penduduk lainnya. Semua orang tampak berpakaian  nyaris seragam. Semuanya serba batik, walau warnanya kusam tapi terlihat bersih. Kaum laki laki memakai kain batik dan ikat kepala yang terbuat dari batik, sedangakan wanita menggunakan kerudung yang juga dari batik. Mereka tampak antree dangan sangat rapi dan tertib. Oh ya, satu lagi yang hampir lupa, hampir semuanya adalah tanpa sandal, nyakar alias kaki ayam !

“Kakek, di negeri ini semua orang harus memiliki agama tanpa terkecuali. Jadi agama adalah identitas wajib. Prilaku baik saja tidak cukup Kek. Ukuran atau standard acuan manusia baik atau buruk hanya ada satu yaitu beragama atau tidak. Jadi kalau mau disebut sebagai orang baik maka Kakek harus memilih agama”. Kata saya mencoba menjelaskan lebih lanjut.

Kakek ini tampak semakin bingung dengan penjelasan yang saya berikan. Warga lain yang mendengar penjelasan saya tampak terlihat gelisah dan berbisik bisik satu sama lain. Saya mencoba berkonsultasi dengan staff lainnya yang juga tidak kalah bingungnya.  Itulah sebabnya para staff pencatat KTP ini dari dulu enggan datang ke desa ini. Disaat kami sedang kebingungan, tiba tiba salah seorang anak kecil yang ikut berkerumun dekat balai desa berkata nyeletuk “Diundi saja pakai kertas Pak !”.

Saya menoleh ke arah anak tersebut. Duh, kenapa tidak kepikiran dari awal ya? Si kakekpun setuju. Akhirnya dengan menggunakan 6 kertas kecil yang tertulis masing masing agama resmi yang diakui pemerintah maka gulungan kertas itupun saya serahkan ke si Kakek untuk memilihnya.

Dengan wajah harap harap cemas si Kakek menyerahkan satu gulungan kertas pilihannya kepada saya. Saya membuka gulungan tersebut dan membacanya keras keras sambil sedikit menahan tawa : KONG HU CHU !

Semua rekan staff keluarahan tampak tertawa, penduduk desapun tertawa.  Entah apakah mereka mengerti atau tidak yang jelas saat itu hampir semua orang  saat itu tertawa. Si kakek-pun juga tampak tertawa senang dengan agama barunya. Yah, apa boleh buat, yang penting urusan saya dengan si Kakek sudah selesai.

“Antrean no 2 silakan maju ke depan !”
Kata saya dengan suara cukup keras. Seorang nenek yang sudah hampir bungkuk maju ke depan sambil menyerahkan formulir. Saya memeriksanya sekilas.  Dari bentuk hurufnya tampak jelas bahwa formulir inipun ditulis oleh orang yang sama dengan formulir  si Kakek. Kemudian saya memeriksa kolom agama dan  potongan kertas  yang hampir saya buang, buru buru saya kumpulkan kembali.

“Inggih Ibu, silakan pilih agama-nya”
Kata saya sambil menyodorkan 6 gulungan kertas kecil mencoba tersenyum ramah…..

Du jam kemudian, semua penduduk sudah terdata dan juga sudah memiliki agama. Saya benar benar tidak tahu, apakah nanti setelah semua warga memiliki agama maka warga desa itu akan menjadi super baik tidak ketulungan, 2 atau 3 kali lebih baik dibandingkan kondisi mereka sekarang atau sebaliknya, saling cakar dan saling cekik justru karana gara gara agama? Entahlah….

Sumber image: freegreatpicture.com

4 thoughts on “Agama Dibalik Gulungan Kertas”

  1. Mantap mbah…sudah disediakan 6 menu import, emang kalo import pasti bagus kwalitasnya ya mbah? Salam damai…

    😆 Reply: Nak Ecco, tahu sendirilah jawabannya..he… (Tulisan pesanannya, tentang LGBT mohon sabar ya)

  2. Kalau Mbah Wage boleh juga ikut undian agama…… wakak….

    😆 Reply: SiMbah sudah punya agama di KTPnya jadi kalau nanti ikut undian lagi bisa bisa punya 2 agama dong? Rangkap agama khan dilarang di negeri kita tapi kalau rangkap jabatan dan rangkap korupsi ya boleh boleh aja.

  3. Mbah memang hebat….sentilan-sentilannya lembut tapi mengena. Saya juga berpendapat agama sekarang lebih merupakan keharusan, syarat menjadi warga negara Indonesia dan status sosial, jauh meninggalkan fungsi seharusnya…..memanusiakan manusia.

Kolom Nama, Mail atau Web bisa dikosongkan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s