Bahasa Orang Kaya Yang Dipakai Orang Miskin

Setiap orang, setiap kelompok, setiap strata sosial memiliki bahasa tersendiri. Bahasa orang kaya tidak sama dengan bahasa orang miskin. Ah, mungkin lebih tepat disebut gaya bahasa, slank atau ungkapan dibanding bahasa. Ah, apapun istilah atau sebutannya adalah tidak penting karena tulisan ini hanyalah sekedar tulisan iseng tengah bulan yang kagak penting.

Catatan: Orang kaya = Pejabat kaya, Orang miskin =  saya, atau kadang bisa juga berarti anak kecil.

Harta tidak dibawa mati

Siapapun juga pasti tahu dan tidak akan membantahnya, bukan? Tapi  sepertinya koq mubazir kalau saya (baca: orang miskin) mengucapkannya. Emang harta apa yang saya punya? Tahukah anda bahwa lahan kuburan di kota besar sekarang sudah semakin sempit dan mahal? Kalau tidak tahu ya wajar. Lha, boro boro mikir biaya untuk kuburan, mikir biaya hidup hari ini saja masih kembang kempis. Kalau tidak tahu, itu artinya ya miskin.

Bagimana dengan orang kaya atau pejabat pemeritah yang bergelimang harta? Nah, pada kelompok yang berharta inilah sepertinya ungkapan “Uang tidak dibawa mati” lebih tepat diucapkan. Selain orang kaya, kelompok lain yang masih pantas untuk mengucapkan adalah para pejabat, para pengkotbah agama serta anak kecil  yang yang belum tahu susahnya cari duit, perut lapar tinggal sendok nasi di dapur. “Harta tidak akan dibawa mati”. Lha, emang punya harta? Hutang kali.

Uang bisa dicari,  kesehatan lebih penting

Ah, lagi lagi ungkapan yang mubazir. Jutaan penduduk negeri ini rela tinggal di pemukiman kumuh dan bantaran kali.  Apakah mereka tidak  tahu bahaya? Apakah mereka tidak tahu pentingnya kesehatan? Jawabannya sepertinya sudah jelas, sama jelasnya dengan para pejabat kita yang dengan mudah bisa mendapatkan banyak uang hanya dengan membuat sedikit “kesalahan prosedur”.  Nah ini baru namanya “Uang bisa dicari !”.

Makan untuk hidup

Makan untuk hidup? Idealnya ya seperti itu, tapi kenyataannya banyak orang yang hidup hanya untuk makan. Dengan biaya hidup yang terus membumbung tinggi, upah yang diterima nyaris hanya cukup untuk makan doang. Namun dilain sisi, ada sebagian orang berkata “Goblok! Makan adalah untuk hidup.  Manusia bukan binatang yang tidak kenal agama yang hidup hanya untuk makan!” kata Beliau  sambil bersiap studi banding  di tanah suci.

Dunia Panggung Sandiwara

Saya teringat di masa remaja dulu, ada lagu yang sangat populer dari grup musik Godbless yang berjudul “Dunia ini panggung sandiwara“. Lagu yang sangat pas dan dengan lirik yang mengena di hati  dan sepertinya andapun akan setuju bukan? Beragam kekonyolan dalam hidup, intrik di tempat kerja, dagelan politik, jual beli hukum, permainan saham dan beragam kekonyolan lain seolah menguatkan kebenaran ungkapan dunia adalah panggung sandiwara.

Tapi tunggu dulu! Kalau diamati lebih jauh, lagi lagi ungkapan ini lebih tepat diucapkan oleh para pejabat dan orang kaya dibandingkan saya (baca: orang miskin). Yang bersandiwara adalah para pejabat, sedangkan kehidupan saya ya jelas serius dan nyata, kalau sakit ya sakit, tidak punya uang ya tidak bisa berobat, PHK ya tidak makan. Jadi apanya yang panggung sandiwara? Kalau dunia panggung penonton mungkin masih mendingan.

Kemudian ungkapan “Dunia adalah panggung sandiwara” menurut saya rada nyerempet ke filosofi hindu/buddha tentang Maya  alias illusi atau dunia yang tidak nyata. Duh, topik ini sepertinya semakin ngawur saja sehingga perlu cepat cepat ditutup.

CATATAN PENUTUP

Tulisan ini sepenuhnya adalah untuk introspeksi diri saya sendiri  yaitu apa yang saya ucapkan kadang tidak sesuai kenyataan, apa yang saya anggap benar kadang tidak lebih dari kata kata menghibur diri semata. “Harta tidak dibawa mati” contohnya, tidak lebih dari menghibur diri semata. “Dunia adalah panggung sandiwara”, padahal sebetulnya tidak lebih cuma jadi penonton doang.

🙂 Kalau kebalikannya, “Uangkapan orang miskin yang dipakai pejabat atau orang kaya”, apa Mbah?

Bagian ini sepertinya terlalu mudah untuk dijawab  yaitu kurang lebih : “Demi rakyat kecil, Ekonomi kerakyatan, Cintai produksi dalam negeri, Wong cilik, Adil makmur dll”. Semua itu adalah ungkapan orang miskin yang dipakai orang kaya.

6 thoughts on “Bahasa Orang Kaya Yang Dipakai Orang Miskin

  1. Tidak ada catatan empirik, subyektif atau obyektif, mengenai apa yang akan dan telah terjadi setelah kematian oleh orang yang sudah mati. Maka, soal lahan kuburan, saya ingin jasad saya dibakar. Abunya boleh disimpan sebagai kenang-kenangan atau dibuang begitu saja tidak apa-apa ketimbang jasad saya ini malah bikin repot orang yang masih hidup. Sangat baik bila lahan yang sedianya digunakan untuk menanam jasad saya yang tak mungkin tumbuh lagi sebagai saya yang baru itu dijadikan tempat bagi orang yang masih hidup untuk nandur kehidupan.

    Inilah keinginan salah seorang miskin yang hanya bisa jadi penonton dan kadangkala kemiskinannya dijadikan bahan tontonan oleh orang kaya yang ongkang-ongkangan di gedung DPR itu.

    Reply: 😆 Komentar yang menarik. Tapi sepertinya seseorang hanya bisa berkehendak, tapi akhirnya ketika meninggal, pihak keluargalah yang menentukan. ha..ha…Btw, arikel tentang kremasi ada disini:

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s