“Agama Asli Indonesia” Berkembang Pesat di Luar Negeri ?

DONGBUD – Wage Rahadjo. Agama Islam berkembang pesat di Eropa. Ah, itu berita biasa. Hindu berkembang pesat di Russia. Ah, itu juga berita biasa. Namun kalau “agama asli Indonesia” berkembang dan diminati di negara barat, nah itu baru berita LUAR BIASA. Sebagian pembaca mungkin menganggap topik tulisan ini  mengada ada bukan? Ya, terserah, yang jelas saya hanya mencoba menuliskan apa yang saya lihat dan rasakan.

Sebelum lanjut, saya ingin menuliskan sedikit tentang agama asli Indonesia.  Bagi pembaca yang pertama kali berkunjung ke blog abal-abal ini mungkin akan celingukan.”Agama asli Indonesia, apaan tuh?” Jadi agar tidak bingung, silakan dibaca dulu arsip tulisan lama tentang ragam agama asli Indonesia disini. Setelah membaca tulisan di link tersebut, sebagian pembaca mungkin akan kembali protes: “Itu bukan agama tapi  kepercayaan !”.

Anda benar. Semua itu bukanlah agama tapi hanya kepercayaan atau budaya. Namun di tulisan ini saya menggolongkannya sebagai agama. Lha, bukankah agama adalah juga kepercayaan? Ok, agar Sampean lebih nyaman membaca dan tidak protes melulu, maka untuk tulisan ini, kata agama asli Indonesia (untuk sementara) saya ganti menjadi Spiritual Indonesia.

Do you know Subud?

Cerita saya awali dengan perkenalan saya dengan seorang bule yang sedang tersesat di negerri asing, saat siMbah juga sedang tersesat. Jadi ini adalah percakapan dua orang yang lagi tersesat. “Do you know Subud?” Tanya si bule saat tahu Mbah berasal dari Indonesia. Si Bule tampak begitu bergembira ketika akhirnya Mbah (sok tahu) menjawab “Ya, saya tahu”, padahal jujur saja, Mbah sebetulnya tidak tahu apa-apa tentang Subud, selain sebatas nama saja.

Lanjut cerita, kami-pun ngobrol banyak tentang budaya dan Spiritual Indonesia. Ngobrol? Ah, ndak juga karena siMbah lebih banyak dengar dibanding ngomongnya. Lha, apanya yang mau diomongin wong bahasa Inggris siMbah cekak dan berlepotan jadi kata yang keluar dari mulut praktis cuma Yes dan No doang. Namun walau bahasa cekak, ngobrolnya tetap berlangsung meriah dan berulang kali diselingi dengan tertawa ngakak.

Lho, gimana bisa ketawa kalau kagak ngerti? Ah, jawabannya gampang Nak. Kalau si siBule nyengir, Mbah ikut nyengir, ketika si Bule ketawa ngakak, siMbah juga ikutan ketawa ngakak, tanpa paham apanya yang lucu. Asem!

Kembali ke topik, dari perkenalan dengan siBule itulah saya jadi sedikit tahu bahwa agama asli Indonesia eh, maksudnya spiritual Indonesia atau apalah namanya, ternyata cukup populer di negara orang. Sangat ironis tentu saja karena di negerinya sendiri nyaris tidak laku, tidak diminati atau bahkan tidak dikenal sama sekali.

subudjerman2013
Pertemuan rutin keluarga besar SUBUD di Jerman tahun 2013. Credit image : Subud site

Subud misalnya, menurut info yang dirilis dari site Subud menyebtukan ada sekitar 87 cabang di luar negeri dan sekitar 385 grup. Semua kelompok atau grup ini bernaung di bawah satu organisasi tunggal yaitu WSA (World Subud Association). Secara berkala, setiap 4 tahun sekali, mereka menyelenggarakan kongres yang tempatnya bergilir di beberapa negara. Pada tahun 1997 kongres tersebut diadakan di kota Spokane, Washington, Amerika Serikat. Kemudian beberapa negara lain yang pernah menjadi tuan rumah adalah Kolombia, Australia, Inggris, Kanada, Jerman, Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat. Luar biasa bukan?

= Ah, paling juga anggotanya adalah orang awak yang lagi bekerja atau jadi kuli di negeri orang, khan?

Mungkin saja. Tapi coba Sampean pikir pakai logika, berapa persen sih jumlah pengikut penghayat kepercayaan di Indonesia? Kemudian dari jumlah yang cuma segelintir itu, berapa persen yang bisa berpergian ke luar negeri? Jadi ini artinya menemukan orang Indoneia pengikut kebatinan di luar negeri  adalah ibarat jarum ditumpukan jerami.  Untuk lebih jelas, silahkan dilihat pada clip video berikut yang menampilan pertemuan member Subud di negeri Spanyol. Perhatikan tampang atau ras para anggotanya dan Mbah yakin Sampean pasti bisa membedakan antara tampang orang asing dan orang Indonesia bukan?

 

Dari video di atas, sebagian anggotanya yang orang asing tampak begitu bangga dan gagah menggunakan pakaian batik. Uniknya video ini dibuat tahun 1996, jadi jauh lebih awal dari gerakan “hangat-ngangat tai ayam” hari batik yang dislogankan di Indonesia. Yang lebih mencengangkan lagi, ternyata aktivitas sosial  mereka bahkan menyebar sangat jauh sampai ke negara Afrika seperti Congo, Afrika. Ini artinya mereka memiliki organisasi yang cukup solid.

Sekilas tentang Subud

Setelah membaca penjelasan saya di atas, mungkin ada sebagian yang kebetulan pertama kali mendengar Subud akan bertanya : “Subud itu apaan sih?”.

SUBUD atau lengkapnya Susila Budi Dharma adalah salah satu ajaran kepercayaan terhadap Tuhan YME yang didirikan pada tahun 1925 di Semarang. Pendirinya adalah Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo. Dari beragam jenis ajaran kepercayaan yang ada, Subud relatif sukses berkembang dan anggotanya berjumlah relatif banyak tersebar di berbagai kota diseluruh indonesia.

Filosofi Subud

Secara umum, Subud bukanlah agama jadi tidak memiliki ajaran, nabi atau kitab suci. Hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik terbesar sejumlah kalangan khususnya bagi mereka yang tidak mau pusing dengan urusan label dan sekat agama. Secara ringkas, filosofi “ajarannya”  bisa dijabarkan secara sederhana sbb (dicopy dari site Subud):

  1. SUSILA artinya : budi pekerti manusia yang baik, sejalan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa;
  2. BUDHI artinya: daya kekuatan diri pribadi yang ada pada diri manusia;
  3. DHARMA artinya : penyerahan, ketawakalan dan keikhlasan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi pembaca yang akrab dengan aktivitas atau ajaran spiritual sepertinya tidak terlalu susah untuk memahaminya. Namun bagi mereka yang sudah terbiasa atau bahkan terpaku pada agama, kitab dan dogma sepertinya akan kesulitan atau gagal untuk memahaminya.

Catatan : Subud bukan agama !

Sedikit catatan agar tidak terlanjur keliru, Subud menolak menyebut diri sebagai komunitas / organisasi kebatinan, kejawen apalagi agama. Mereka menyebut diri sebagai kelompok LATIHAN KEJIWAAN. Mereka adalah komunitas non sektarian jadi anggotanya memiliki latar belakang agama yang beragam. Mereka percaya pada Tuhan YME, sedangkan nama Tuhan, sebutan dan  tata cara beribadah, dilakukan menurut agama dan kepercayaan masing masing anggota. Sub ini mengkin sedikit kontradiksi dengan judul artikel. Kata “agama asli Indonesia” saya gunakan hanya untuk memudahkan penulisan dan memahami isinya. Namun bagi sebagian orang atau aparat pemerintah, Subud mungkin dianggap sebagai kepercayaan atau agama.

Apapun namanya, agama atau bukan, yang jelas Subud populer di negeri orang. Mengapa Subud diminati oleh orang asing? Jawabannya salah satunya karena ajarannya yang toleran dan non sektarian. Disaat sebagian orang jenuh dengan berita kekerasan berlatar sektarian yang tidak kunjung berakhir, sebagian orang berpaling ke ajaran yang dianggap lebih “damai”. Subud adalah salah satunya. Sedikit berbeda dengan Kejawen yang  terkesan “khusus untuk orang Jawa”, Subud  jauh lebih terbuka dan ini  hal inilah yang membuat peminantnya bertambah besar. Tentu saja faktor  manajemen dan organisasi yang  rapi  menjadi salah satu kunci keberhasilannya.

Opini Penutup

Nusantara adalah negeri yang kaya, bukan hanya kekayaan alam dan budaya namun juga ajaran spiritual atau ketuhanan. Subud adalah salah satu contohnya. Kenapa kekayaan spiritual produk lokal ini justru diminati di negeri asing? Kenapa folosofi lokal sama sekali tidak disediakan sedikit tempat, kolom atau ruang di negeri ini? Mengapa agama resmi yang diakui, dilindungi dan dibela oleh pemeritah cuma 5 agama saja dan semuanya adalah agama asing? Hmmm…. entahlah. Yang jelas sangat ironis bukan?

Saya percaya, kalau pemerintah serius, punya niat baik dengan melindungi dan “meresmikan” statusnya, maka saya percaya beragam agama lokal asli Indonesia ini akan lestari dan bahkan tidak tertutup kemungkinan berkembang ke negara lain. Lha, bagaimana bisa hidup dan berkembang kalau di negerinya sendiri tidak dikenal, tidak diakui atau bahkan dicap sesat? 

Tulisan ini tidak mengajak pembaca untuk membuang agama asing dan beralih ke agama lokal yang mungkin tidak jelas, namun hanya mengajak pembaca untuk menghargai keberagaman. Ada yang suka produk, budaya atau agama impor namun ada juga yang suka produk lokal. Semua itu adalah pilihan masing-masing individu yang tidak bisa dikekang atau dipaksakan. Tulisan ini hanya bermaksud untuk bahawa ada organiasai atau komunitas “ketuhanan” yang berasal dari Indoneisa bernama Subud. Asli Indonesia atau tidak, cocok bagi anda ataupun tidak bukanlah masalah besar.

Ajaran luhur tentang kebaikan, ketuhanan dan sejenisnya bisa ditemukan secara mudah di sekitar kita, jadi tidak perlu belajar atau study banding sampai ke negeri jauh, seperti halnya “segerombolan”  pejabat pemerintah pernah  study banding belajar Etika ke negeri Yunani.  Hah?! Ndak salah nih? Ini namanya mentalitas. Kalau mereka paham dan menghargai budaya lokal, tentu kejadian konyol ini tidak akan terjadi. Dengan menonton pertunjukan wayang kulit dan berbekal camilan seharga tidak lebih dari 10 ribu sepertinya pelajaran tentang etika hidup sudah bisa didapatkan dengan lengkap. Tidak perlu sampai mengeluarkan biaya ratusan juta.

= Hah?! kagak nyambung Mbah !

Biarin, lagian khan Sampean sedang membaca blog dongeng budaya, jadi isinya ya serba kagak nyambung.

wager.png

ARTIKEL TERKAIT :

REFERENSI :

Sumber image: Wikipedia

Advertisements

50 thoughts on ““Agama Asli Indonesia” Berkembang Pesat di Luar Negeri ?

  1. Dua jam setelah tulisan ini diluncurkan, saya membaca dan menulis komentar. Tapi apa daya, ketika hendak mengklik tombol “post comment” pada saat yang sama aliran listrik putus. Dan biasanya orang yang kuminter akan berdalih, “Sialan, padahal tadi saya sudah nulis komentar yang hebat!” Tapi ada dusta dalam “padahal” itu. Sesungguhnya dia tidak menulis komentar yang hebat. Cuma, energinya untuk mengetik panjang yang besar sajalah yang membuatnya tampak hebat hehehehe…

    Nah, yang sebenarnya adalah yang berikut ini: Semenjak batik diakui sebagai warisan budaya dunia, mendadak orang mengenakan batik. Mendadak mereka terlibat aktif dalam industri batik. Namun, nasib simbah-simbah pengrajin batik di pojok-pojok Ngasem dan pengrajin lokal di Lasem tidak berubah keadaan ekonominya. Internasionalisasi batik lebih berpihak pada industri besar ketimbang menempatkan batik sebagai budaya rakyat. Demikian pula internasionalisasi Borobudur dan Prambaban. Industri pariwisata diuntungkan; namun kedaulatan pemaknaan lokal atas candi, atas batik, dan juga atas Subud ini diabaikan.

    Dari video yang diunggah tentang Subud ini, memang tidak ada kemungkinan pola internasionalisasi ala batik dan candi. Namun, banyak orang Indonesia memilih menjadi snob sehingga, setelah melihat bahwa subudisme (boleh gak disebut demikian, Mbah?) dilakoni oleh londo, maka mereka pun melakoninya. Kita cenderung lebih mudah membendakan nilai-nilai filosofis. Serupa memaknai kris, orang kini bertarung memiliki kris dengan karisma hebat tapi abai memaknai spiritualitas yang dilakoni para mpu dalam mengrajin kris. Maka menurut saya, ancaman spiritualitas, lokal ataupun impor adalah memaknainya lewat ragawinya.

    Misalnya, pada bulan-bulan tertentu orang berpuasa dengan alasan kesehatan. Tentu bagus, tapi alasan itu ada dalam nilai yang “aku” dan “aku” dirancang berjarak dengan alam tempat dia mencomot banyak sumber untuk kenyang dan senang. Akan lebih baik bila alasan itu berangkat dari subyektivitas yang berpijak pada kepentingan komunal. Misalnya, saya berpuasa demi sehat, supaya industri farmasi bangkrut; saya berpuasa demi sehat supaya saya punya kekuatan untuk menjagakan orang yang senantiasa tidur dalam keadaan kenyang supaya mereka ingat ada yang tidur dalam keadaan lapar.

    Menyimak alam, seperti yang dilakoni Subud ini tentu membiasakan dan menjaga keawasan kita dalam berelasi dengan alam. Dan bila merujuk pada taoisme, alam itu tidak melulu soal air, tanah, api. Namun setiap individu memuat air, tanah dan api. Artinya, ketika berbicara tentang alam, kita dengan sendirinya berbicara tentang diri kita, sahabat kita, handai tolan kita, bahkan orang yang kita benci. Bahkan orang yang disuruh oleh agama impor untuk kita benci, dibangun oleh struktur yang sama dengan diri kita.

    Jadi, yang saya tangkap dari tulisan ini, dan juga dari rujukan yang ditawarkan Mbah Wage, setiap kita terbuat dari bahan yang sama, karena itu, kalau mau bertengkar, pertengkarkanlah hal-hal yang membuat ketidakadilan berkuasa dalam hidup, bukan bertengkar lantaran kita beriman, beragama, dan menjalankan lelaku spiritual yang berlainan.

    Dan, ketika zaman Orde Baru penguasa sibuk dengan muslihat tentang ekspor non-migas, maka ekspor non-migas itu kini adalah kebaikan dalam Subud ini.

  2. “….Ancaman spiritualitas, lokal ataupun impor adalah memaknainya lewat ragawinya”. Kalimat yang sangat tepat Nak. Selalu berpikir dan menemukan makna yang tersurat adalah kunci kehidupan masyarakat yang lebih baik.

    Ragam hias dan pola gambar pada batik misalnya memiliki makna yang dalam dan mengajarkan banyak hal tentang filosofi hidup. Bahkan toleransi dan akulturasi budayapun ada didalamnya. Sekali lagi, itupun kalau kita mau memaknainya. Kebetulan Mbah dulu 5 tahuan belajar membatik. Terima kasih Nak Olsy atas sumbangsih komentarnya yang selalu ok.

  3. Eh hem, Mbah Wage tidak sedang … mengiklankan Subud kan ? hehehehe … Subud itu memang punya banyak cabang di luar sana – negeri. Tapi, organisasi besar sering … terjebak dalam kebesarannya … Bagus bagi yg suka, bagi yg cocok dengan ‘ajaran’nya. Tapi perlu kritis juga,lho.


    :mrgreen: REPLY WAGER:

    Iklan? Jujur YA ha..ha…. Namun jangan salah arti, diblog abal2 ini, semua agama dan kepercayaan kecil terlebih lagi berbau lokal pati akan diiklankan agar orang pada tahu. Ditulis hanya sisi baiknya saja karena sesuai filosofi blog ini yaitu “menertawakan diri sendiri” jadi BERUSAHA untuk tidak menulis hal jelek tentang pihak lain.

  4. Nggih mbah wage,.
    Seiring dgn berjalanya waktu,.para Indone,eh,.indigo dari tiap2 negara adlh darah yg mengalir dari mbah2 di simbolis dunia ini,.


    REPLY WAGER : :mrgreen: Seiring dengan perjalanan waktu, keindahan Nusantara akan bersemi indah di negeri orang….. Seiritng perjalanan waktu, akankah keindahan ini hilang di negeri khayangan ini?

    1. Pak SUBUH ADALAH PAHLAWAN INDONEIA. JIKA SEMUA ORANG MENGEMPORT AGAMA ASING.PAK SUB UH YG MENGEKSPORT AGAMA JAWA.

  5. Ramalan SABDO PALON (Jawa)
    Sinom :

    Pada sira ngelingana,
    Carita ing nguni-nguni,
    Kang kocap ing serat babad,
    Babad nagri Mojopahit,
    Nalika duking nguni,
    Sang-a Brawijaya Prabu,
    Pan samya pepanggihan,
    Kaliyan Njeng Sunan Kali,
    Sabda Palon Naya Genggong rencangira.

    Sang-a Prabu Brawijaya,
    Sabdanira arum manis,
    Nuntun dhateng punakawan,
    “Sabda palon paran karsi”,
    Jenengsun sapuniki,
    Wus ngrasuk agama Rosul,
    Heh ta kakang manira,
    Meluwa agama suci,
    Luwih becik iki agama kang mulya.

    Sabda Palon matur sugal,
    “Yen kawula boten arsi,
    Ngrasuka agama Islam,
    Wit kula puniki yekti,
    Ratuning Dang Hyang Jawi,
    Momong marang anak putu,
    Sagung kang para Nata,
    Kang jurneneng Tanah Jawi,
    Wus pinasthi sayekti kula pisahan.

    Klawan Paduka sang Nata,
    Wangsul maring sunya ruri,
    Mung kula matur petungna,
    Ing benjang sakpungkur mami,
    Yen wus prapta kang wanci,
    Jangkep gangsal atus tahun,
    Wit ing dinten punika,
    Kula gantos kang agami,
    Gama Buda kula sebar tanah Jawa.

    Sinten tan purun nganggeya,
    Yekti kula rusak sami,
    Sun sajekken putu kula,
    Berkasakan rupi-rupi,
    Dereng lega kang ati,
    Yen durung lebur atempur,
    Kula damel pratandha,
    Pratandha tembayan mami,
    Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.

    Ngidul ngilen purugira,
    Ngganda banger ingkang warih,
    Nggih punika medal kula,
    Wus nyebar agama budi,
    Merapi janji mami,
    Anggereng jagad satuhu,
    Karsanireng Jawata,
    Sadaya gilir gumanti,
    Boten kenging kalamunta kaowahan.

    Sanget-sangeting sangsara,
    Kang tuwuh ing tanah Jawi,
    Sinengkalan tahunira,
    Lawon Sapta Ngesthi Aji,
    Upami nyabrang kali,
    Prapteng tengah-tengahipun,
    Kaline banjir bandhang,
    Jerone ngelebne jalmi,
    Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

    Bebaya ingkang tumeka,
    Warata sa Tanah Jawi,
    Ginawe kang paring gesang,
    Tan kenging dipun singgahi,
    Wit ing donya puniki,
    Wonten ing sakwasanipun,
    Sedaya pra Jawata,
    Kinarya amertandhani,
    Jagad iki yekti ana kang akarya.

    Warna-warna kang bebaya,
    Angrusaken Tanah Jawi,
    Sagung tiyang nambut karya,
    Pamedal boten nyekapi,
    Priyayi keh beranti,
    Sudagar tuna sadarum,
    Wong glidhik ora mingsra,
    Wong tani ora nyukupi,
    Pametune akeh sirna aneng wana.

    Bumi ilang berkatira,
    Ama kathah kang ndhatengi,
    Kayu kathah ingkang ilang,
    Cinolong dening sujanmi,
    Pan risaknya nglangkungi,
    Karana rebut rinebut,
    Risak tataning janma,
    Yen dalu grimis keh maling,
    Yen rina-wa kathah tetiyang ambegal.

    Heru hara sakeh janma,
    Rebutan ngupaya bukti,
    Tan ngetang anggering praja,
    Tan tahan perihing ati,
    Katungka praptaneki,
    Pageblug ingkang linangkung,
    Lelara ngambra-ambra,
    Waradin saktanah Jawi,
    Enjing sakit sorenya sampun pralaya,

    Kesandung wohing pralaya,
    Kaselak banjir ngemasi,
    Udan barat salah mangsa,
    Angin gung anggegirisi,
    Kayu gung brasta sami,
    Tinempuhing angin agung,
    Kathah rebah amblasah,
    Lepen-lepen samya banjir,
    Lamun tinon pan kados samodra bena.

    Alun minggah ing daratan,
    Karya rusak tepis wiring,
    Kang dumunung kering kanan,
    Kajeng akeh ingkang keli,
    Kang tumuwuh apinggir,
    Samya kentir trusing laut,
    Seia geng sami brasta,
    Kabalebeg katut keli,
    Gumalundhung gumludhug suwaranira.

    Hardi agung-agung samya,
    Huru-hara nggegirisi,
    Gumleger suwaranira,
    Lahar wutah kanan kering,
    Ambleber angelebi,
    Nrajang wana lan desagung,
    Manungsanya keh brasta,
    Kebo sapi samya gusis,
    Sirna gempang tan wonten mangga puliha.

    Lindu ping pitu sedina,
    Karya sisahing sujanmi,
    Sitinipun samya nela,
    Brekasakan kang ngelesi,
    Anyeret sagung janmi,
    Manungsa pating galuruh,
    Kathah kang nandhang roga,
    Warna-warna ingkang sakit,
    Awis waras akeh kang prapteng pralaya.”

    Sabda Palon nulya mukswa,
    Sakedhap boten kaeksi,
    Wangsul ing jaman limunan,
    Langkung ngungun Sri Bupati,
    Njegreg tan bisa angling,
    Ing manah langkung gegetun,
    Keduwung lepatira,
    Mupus karsaning Dewadi,
    Kodrat iku sayekti tan kena owah.

    ( Terjemahan bebas bahasa Indonesia )

    1.
    Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

    2.
    Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”

    3.
    Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.

    4.
    Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.

    5.
    Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.

    6.
    Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

    7.
    Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

    8.
    Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

    9.
    Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

    10.
    Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.

    11.
    Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

    12.
    Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.

    13.
    Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

    14.
    Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

    15.
    Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

    16.
    Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.
    17….mbah ,apakah musibah yg terjadi di negeri ini adalah tanda dr beliau? ………apakah sudah waktunya kita kembali keagama budhi (sebutan untuk agma hindu pd jaman majapahit)…?

    1. Mas Ardi, terima kasih telah mampir. Postingannya menawan, mau dipindah dijadikan tulisan utama tapi bingung masukkan catagory mana ya? jadi sementara dibiarkan saja apa adanya.

      “Apakah musibah adalah pertanda ?” Duh, kagak paham baca tanda2 ginian.
      “Apakah sudah waktunya kembali keagama budhi?”. Sudah waktunya kembali ke hati nurani yang senang dan tentram,….

    2. Salam Mbah Wage…….Mas Ardi

      Tadi saya sudah menulis panjang soal yang ditanyakan Mas Ardi tentang apakah akan kembali ke agama budhi hindu di jaman Mojopahit……
      Menulis sangat panjang , hampir 1 jam…eeeh….tahu tahu ” mak bleeb “….tulisan saya hilang…..hati mangkel …jengkel….he he he apakah saya tidak diperkenankan menulis tentang Sabdo palon dan agama Budhi.??…apakah tulisan saya bersebrangan dengan keyakinan faham banyak manusia atau tidak diperbolehkan karena sifatnya ini serius dan bukan abal abal…….entah…saya ora weruh……

      Nanti kalau saya masih ingat dan tidak loyo , akan saya ulangi menulis kembali dan semoga tidak bleeb lagi…..nuwun

    3. Kang Wijil,

      Sekedar berbagi pengalaman, kalau saya biasanya nulis komentar panjang tidak langsung di blog tapi di draft mail, lalu disave tiap 3 atau 4 menit. Jadi kalau listrik padam atau koneksi bermasalah, jerih payah tidak hangus sia sia. Maaf, sekali lagi cuma berbagi.

  6. Mas Widjil,

    Betul itu kata Mbah Wage, di draft mail dulu. Dulu saya juga sering mengalami itu, nulis panjang lebar tahu2 bles, hilang. Hilangnya tulisan gak ada hubungannya dengan tidak ‘diperkenankan menulis topik ini.’ Menurut saya, ini masalah … tehnis saja. Mangkelno,memang. Tapi, kalau bisa ditulis ulang, seingat Mas Widjil. Sayang, kalau tulisan orang ampuh hilang begitu saja …

  7. Waaahh….mantapz nie…bru tau ane nieh…..

    Cina berkembang pesat karena Tao dan Konfcuhu dengan Sun tzu nya…
    Arab penguasa karena Islamnya…
    Barat karena Yahudi dan Kristennya…
    India karena Hindunya….
    Amerika dan sekutunya karena Illuminatinya (yah kira-kira lah)..hehehe..
    Jepang karena Shinto dan Harakirinya….
    Indonesia biar besar bolehlah buat agama asli nusantara…
    Biar jadi penguasa gitu sekali-skali…

    La Wong kata “Tuhan” aja ada di nusantara tow??

    Tapiiiiiii….yah masih ada lah skumpulan “Elit” yang…agama HKW(P)..harta kekuasaan dan wanita/pria…

    Thanks mbah wage..

    oh yaa tak sebarin yaah..IJINNNN…hhihihi..

  8. Agak lucu baca tulisan ini, saran saya tolong jangan campurkan ajaran Hindu-Buddha dengan ajaran Islam..
    Susila ya artinya perbuatan baik, jangan pake embel2 sesuai keinginan tuhan, ntar disuruh jihad bunuh kafir oke2 aja.?? ^^
    Dharma artinya tawakal.?? Darimana dapetnya.??

    Tidak perlu takut mengakui bahwa ada standar kebaikan dan kebenaran yang jauh lebih baik dari Islam tanpa perlu melakukan cocoklogi dan memaksa untuk menghubung2an..
    Ntar jadi rancu..

    Tapi saya salut, setidaknya anda sudah cukup terbuka dan mau mencintai budaya sendiri.. 🙂

    1. @ Mbak Dewi, terima kasih atas komentaranya.

      Namun ada sedikit bagian yang membuat saya bingung yaitu saran agar tidak mencampur ajaran agama. Ini maksudnya ditujukan ke saya atau ke SUBUD?

      Kalau ditujukan ke saya jelas mubazir karena saya hanya menuliskannya saja. Penjelasan pada bagian filosofi, Susila, Budhi dan Dharma saya ambil langsung dari sumber resminya.

      Sedangkan opini saya ada di bagian bawah.
      Semoga sehat salalu. wage

    2. Islam lah hindu lah,,,, sama saja,,, tujuan nya adalah untuk menuntun umatnya ke arah yg lebih baik,,,, saya orang dari bali,,, sya tidak mengakui kalau hindu lah agama yg paling baik / bagus,,, tapi agams hindu lah yg buat saya merasa nyaman ,,,, jadi pilih lah agama yg membuat anda nyaman (y)

  9. yaapzz…tertarik pula dengan pejabat yang ke yunani cma blajar etika…uhuk…

    mau ngubah etika di indo gitu??yaa etika dan susila yg dipunyai sendiri(nusantara) aja kagak dijalani…

    hasilnya???

    belanjaan oleh2 yunani…ihihik..


    :mrgreen: REPLY WAGER :
    Begitulah kondisinya Nak, diomingin juga sebel sendiri

    Rajin main kesini ya, nanti Mbah kasi oleh2
    Rajin2 belajar ya, agar jadi anak pintar. Nih, mbah sediakan teh dan makanan kecil agar betah
    Wage

  10. Saya subud, baru 4 thn, tapi saya tidak menganggap subud agama. Subud hakekatnya, agama saya (kebetulan) islam adalah syariatnya. Subud jiwa dan isinya; agama, raga/jasmaninya. Selama masih hidup didunia ya masih butuh raga/jasmani saya hehe. Itu saya kalau yg lainnya ya tdk tahu.
    Subud bukan agama karena tdk ada sistem teori, tdk ada pelajaran, tdk ada ajaran. Ajaran, teori sudah final diberikan oleh agama-agama. Subud hanya menerima, menerima dari Tuhan YME.

    1. nama saya subudi…berarti bagus dong artinya….
      saya setuju dengan agama lokal, memang kita harus mencintai produk dalam negeri.

  11. Sembahnuwun mbah Wage..ijinkanlah sya latihan kembali agar lebih mudah mendapat pencerahan dari dawuh“ Bapak dan smakin sabar,tawakal iklas. Bagi sya SUBUD adalah akronim Sinau Urip Begja Umur Dawa…disamping Susila Budi Dharma. Nuwun. Wayah mediun.

    1. Sembahnuwun juga Mas Hari,
      Maaf, balas komen-nya telat. Semoga sehat selalu, semakin sabar, tawakal dan iklas. wager

  12. subud itu ya hidup ini…,
    kalau diomong gak bakalan ketemu sekalipun para doktor & profesor sekalipun. lakoni saja …! selesai……..!

  13. I just could not depart your website before suggesting that I extremely enjoyed the usual info an individual provide for your guests? Is gonna be back incessantly to check up on new posts

  14. Salam abal2 dimas Wage,,,kbetulan sy pny teman,org Subud,sdh simbah2 jg spt sy,.,,Kbetulan agama sy&beliau sama,wah kok yg kami rasakan sama,miris bgt liat sdr2 seagama saling hujat,aplg dng lain agama..Knp ya Dimas Wage,org Ind skrg kok keji,bngis,kasar,suka mnghina dst?Klo sdh bicara soal agama,waduh kuping sj risih,aplg hhati.Sy senang ada blog bodoh,ngawur,waton sesat spt ini,bisa senyum&tertawa cekikik,,,seneng polll,ati plong,trnyata bnyk jg ya yg bodoh clingak clinguk spt sy. Salam sesat Dimas,SEjahtera&SehAT

    1. @ Kang Kinanti,
      Terima kasih telah mampir dan syukur serta berharap kalau Akang betah disini. Anda benar, disini emang tempat kumpul manusia sesat, setan dan gundorwo. Namun tenang aja, biar sesat dan bahkan beda kitab, semuanya pada rukun2 koq. Nanti pasti mahluk yang lain gentayangan muncul memberi salam. Xi…xi…xi…

  15. agama dan kepercayaan jelas beda. Belajar lg yg pada bener hayati dgn hati jernih. Semoga tuhan memberkati. Ingat kisah 2 jawara jawa. San ali jabaranta jenar dan sabdopalon,dgn siapa mereka berhadapan? Dgn sihitam sunan x. Sanali dihukum oleh s x. Sabdopalon kebakaran jenggot berhadapan dgn sx. Sabdopalon memilih pergi?karena jika dia berhadapan toh pati jiwaraga pastilah binasa oleh sx. Sifat angkara akan memusnahkan islam?itu adalah iblis wong baladnya setan siluman jin merkayangan..jika san ali jabaranta dan sabdopalon msh ada bgitupun sx. Jika sabdopalon didukung para dewa dan sanghyang . Sx juga sama didukung wali 9 wali7 para seikh dan rijalul ghaib termasuk para nabi?? So itulah baratayuda sesungguhnya. Almahdi vs dajal. Siapa yg diasuh sabdopalon?manusia bermata satu.? Agama budi apakah agama budha? Sy yakin tuan terhormat sidarta goutama tdk sepaham dgn amurka sabdopalon. Akal2an manusia saja yg menerobos sok wahid mumpuni dan bijaksana berani menghujat agama. Akal manusia terbatas. Contoh sanali jenar,benar memang falsafah manunggalnya diri dgn tuhan tp manungsa ya manungsa ada bts akalnya. Sunan x bkn wali2an karena wali sudah diatas magom manungsa biasa hanya wali saja yg faham siapa itu wali. Dhukumnya jenar oleh sx bkn tanpa sebab. Cermati dulu hayati dgn benar. Kamu takut sama jenar dan sabdoplon atau azab tuhan. Akal manungsa lahir dr gutak gatuk sekadarnya. Agama dan budaya beda.maka negara ini hancur karena azab tuhan . Jika kamu mati kepda siapa kamu minta pertolöngan. Suku asmat dan baduy suruh pake plg nanti kalau mau kondangan..hehe. Sunan x tdk segan berhadapan dgn jenar dan sabdopalon. Agama beragamalah yg bener. Jd tdk kabalinger. .sima wiwaha. .

  16. kata sunan x. Waktu sabdopalon sembunyi sambil ngumpat ngarawecoh kalau nongol endase tak getok ..waktu jenar dtanya dmana jenar? Tdk ada jenar adanya allah,dmana allah,tdk ada allah adanya jenar,sunan x lupa bw ketepel,djeplak bibirnya biar monyong hehe.. Itulah budaya indonesia sah2 saja pertahankan dan lestarikan tp kalau sudah mengumpat agama tolol namanya apalagi menyamakan agama dgn budaya, kepercayaan bukan agama.tp agama adalah kepercayaan. .jadi kalau boled direbus sambil ngudud itu baru mantap. Kayanya gng slamet meletus gede2an neh.waspada. Jika tertimpa bencana jgn lupa,ya tuhan ampuni aku,mafkan aku atas kebodohanku lindungilah aku dari godaan hasutan setan. Mafkan aku ,hanya kepadaMU aku berserah diri. Ya tuhan terimalah tobatku ini,aku manusia bodoh ini mafkanlah aku,lindungilah aku, .jangan berdoa sabdoplon lindungi kami dgn payung saktimu,diamah sudah kaburrr.dtk2 menegangkan gng slamet meletus.. India berjaya jadi mahabharata punya siapa? Indo atau india? Ya punya Antv. Haha,,,tgsku mengacaukan pikiran manusia supaya tdk pd bodo..

  17. Bisa dikomentari dengan sederhana kok tidak usah ngaya wara. Baca dan camkan syair lagu kebangsaan Indonesia Raya : ……. Bangunlah JIWANYA, bangunlah BADANNYA……. Jiwa itu apa toh ? Dalam bahasa Jawa itu artinya rasa. Rasa supaya bisa rumangsa alias punya empati. Komunitas yg menggeluti olah rasa itu lazim bagi generasi yg lahir awal abad 20

    1. supaya ga pada pinter kabalinger.mbedain mbe suma kuda ko susah. Sudah jelas siluman sabdopalon dan jenar bisanya ngumpat sambil ngumpet . Lucunya disembur 1 orang sunan kali alias x. Dicontreng “Salah”. Hahaha. Rasamu rasa duren atau terasi?

  18. kalau sisabdopalön nungul lg pasti para wali khususnya paduka sunan x juga akan nongol lg. Emang siluman aja yg bisa hidup ratusan tahun? Jangan berfikir hanya pake roso. Roso roso marijan KO… Jika anda takut siksa kubur gampang..anda ikuti cara agama dibali “ngaben ya? ” mayatnya dibakar. Abunya dilarung kesungai atau laut atau ditawurkan biar from dhust to dhust from earth to earth…belajarlah yang pada bener woi.jangan pandang segala hal hanya dari 1 sisi atau bener SEKAREPMU DEWE..aku datang jika ada a dharma. Ga perlu kau undang atau kau usir. .sikampret kemana neh?namamu ko stres gitu ya haha.dasar kampret.

    1. he KAMPRET hidup ini tak semudah Cocote teguh mari super wkwkwk atau ky ustad2 sok suci. Heh KAMPRET BISANYA MOLOR WAE SIAH. Jadahh. .asu. Wk wk wk.

  19. Sepengetahuan saya Subud tidak mempunyai ajaran atau buku ajaran kusus budipekerti,yang ada tatacara latihan ,pembukaan anggauta baru dan kumpulan ceramah pak Subuh.Pada saat pembukaan/baiat/inisiasi/saktipat calon anggauta baru didampingi anggauta senior/pelatih.Latihan disebut pembersihan dilakukan oleh kekuasaan Tuhan YME ada yang menyebut enersi kundalini,chi atau prana.
    Demikiantambahan dari kami apabila ada kesalahan mohon maaf

    1. Sdr Machali,

      Terima kasih atas masukkannya. Saya mengambil referensinya dari wikipedia. Namun sepertinya Anda bernar dan agar infonya tidak menyesatkan maka maka paragraf tulisan di atas pada bagian “buku”nya saya edit atau hilangkan. Terima kasih.

  20. assalam sederek tua enom semua ajaran budi pekerti baik dan semua versi spiritual baik pula ,karena hidup itu indah dan keindahan itu tercipta dari hati nurani insan masing masing.Manakala kita tidak bisa menikmati keindahan itu ,saat itu pula keadaan seseorang tidak bisa merasakan keindahan dan hilang nalurinya tentang keindahan hidup,hanya satu jalan kita harus mau merubah dari hati nurani yang paling dalam untuk mencapai keindahan yang diinginkan. Satu contoh perbuatan yang gampang kalo memang tidak dapat menjadi pensil untuk menulis kebaikan pada orang lain maka hendalah memilih menjadi penghapus untuk menghapus kepedihan orang lain.WASSALAM .MERDEKA !!!

  21. Kalau menurut saya yang disebut agama yang berkembang pesat ya seperti ini. ORANG LOKAL MEMELUK AGAMA YANG BARU. tapi beberapa fanatikus mengklaim agamanya berkembang pesat, padahal usut punya usut ternyata para imigran yang berbondong-bondong datang dan membawa agama dari daerah asalnya. Satu hal yang harus dicatat semua, orang-orang barat yang berpendidikan, tidak suka fanatik dan mengklaim diri paling benar. mereka butuh bukti real manfaat agama di kehidupan saat ini. bukan janjni-janji.

  22. Mungkin ini bisa jadi masukan dan pertimbangan penulis.

    Sejarah Agama masuk di Indonesia:

    keanekaragaman Agama dan Budaya masuk melalui pendatang seperti; India, Tiongkok, Portugal, Belanda, dan Arab.

    Hindu dan Budha masuk pada abad kedua dan keempat masehi setelah pedagang India datang melalui Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Dan banyak mempengaruhi kerajaan di Indonesia pada waktu itu seperti Kutai, Sriwijaya, Majapahit, Sailendra.

    Islam masuk di Indonesia pada abad ke 14, mrlalui pedagang Gujarat, India. Di akhir abad 15, penyebaran Islam sangat pesat hingga terbentuk 20 kerajaan Islam dan mendominasi Islam di Indonesia

    Kristen Khatolik masuk ke Indonesia oleh bangsa Portugis melalui Flores dan Timor.

    Abad ke 16, Kristen Protestan masuk ke Indonesia diperkenalkan oleh bangsa Belanda, dengan ajaran Calvinis dan Lutheran.

    Setelah kita melihat perjalanan Agama masuk ke Indonesia, kita pelajari sejarah penjajahan di Indonesia yg sangat mempengaruhi agama di Indonesia.

    Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun dengan membawa ikrar GOLD, GLORY, GOSPEL.

    GOLD, mengambil harta/SDA yang melimpah.

    GLORY, kemenangan yang di dapat dr negara yg dijajah.

    GOSPEL, menyebarkan agama dengan ajaran Calvinis dan Lutheran. Dimana agama adalah sebagai alat yang kuat untuk mengatur dan melemahkan.

    Dimasa penjajahan Belanda, Indonesia sangat kuat dengan ajaran agama Islam yang di dominasi oleh 20 kerajaan di Indonesia, yang menjadikan GOSPEL sulit di tembus oleh bangsa Belanda.

    Setelah bertahun-tahun menjajah akhirnya Belanda bisa memasukan GOSPEL dengan melalui ajaran agama yg kuat di Indonesia yaitu Islam. Dengan mempelajari Islam, menganut dan hingga menyebarkan Islam dengan dalih yang berbeda dr dasar ajaran agama Islam.

    Setelah itu banyak bermunculan agama Islam Kejawen, Subud, dll.

    Jadi, apakah Subud agama asli Indonesia? Tentu bukan.

    1. Terima kasih atas tambahannya yang luar biasa menarik dari Sdr Raden.

      Anda benar bahwa Subud bukanlah agama asli Indonesia. Istilah agama-pun dari awal sudah salah namun sengaja saya gunakan untuk memudahkan (saya) saat menuliskannya. salam

    2. kata agama itu bukan berasal dari bhs arab, india, china ataupun eropa.

      tapi dari bhs sansekerta yg artinya ‘a’ = tidak, dan ‘gama’ = kacau, maksutnya suatu ajaran supaya orang berbuat baik dan benar.

      dalam suatu peradaban budaya masing2 punyalah kearifan lokal untuk warganya. agama hanya untuk orang yang selalu berbuat kekacauan dalam hidupnya, tapi jika seeorang sudah mengenal spiritual ia tak membutuhkan label agama, karena hidupnya sudah tidak gama atau tidak kacau.

      ketika leluhur menemukan formula spiritual, mereka sebenarnya masih berjibaku dengan jualan kecap cap agama.

      aneh saja ketika leluhur di katakan tidak punya ajaran agama kalau tidak kedatangan bangsa arab, china, india, eropa.

      bagaimana jika di balik pernyataannya, jika bukan karena leluhur ini mereka tidak akan mengenal yang namanya arti a-gama yang sebenarnya??..

      subud merupakan satu dari sekian aliran a-gama yang kebetulan di anak tirikan di negrinya sendiri.

  23. Sebenarnya gk ada ajaran baru, semua ajaran lama, hilang, datang, hilang lagi, datang lagi ,,,
    andai saja keyakinan org arab masih hindu spt dulu, mungkin akan menyerang org islam sbg pendatang (agama impor) yg dibawa oleh ajaran Muhammad?
    Inyong katakan org arab hindu, krn di arab sana masih banyak ditemukan situs2 kuno spt ka’bah dan batu aqobah (yg dilempari waktu jumroh) ini kan simboh LINGGA-YONI, dan pakaian jumroh pun mirip para pendeta hindu.

    hindu itu artinya keturunan/leluhur
    perbedaan org arab sana dgn org Indonesia yg hindu (keturunan) adalah org islam yg di arab itu tidak bisa meninggalkan nama orang tuanya (ibu/bapak) di belakang namanya, misalnya Umar bin Abu.
    Kalau di Bali, cuma nama Ketut, Nyoman tanpa embel2 nama org tuanya secara lengkap.
    artinya simbol lingga-yoni (sbg simbol asal-usul atau orang tuanya) masih kental dianut/dihargai disana, shg nama org tuanya msh dicantumkan di belakang namanya.
    Kalau masalah panggilan nama Tuhan, mungkin saja pd era dulu (sebelum datangnya nb saw) berbeda dgn panggilan nama Tuhan yg dibawa oleh nb saw? nama2 Tuhan (spt kalimat Basmallah dsb) sesungguhnya ada pada kitab budha dan di jawa pun sptnya nama Tuhan pun mirip?

    Tapi entahlan menurut grup mbah Wage sini ttg tulisan inyong ini …

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s