Tingkatan Keilmuan Bidang Kepemimpinan

Penulis  : Kang Simpang SmP
Alamat blog  : http://leadershipprincipal.wordpress.com

Syari’at dalam perspektif keilmuan (dalam tingkatan spiritual Islam) yang digambarkan dalam bagan Empat Tingkatan Spiritual Umum (tingkat pertama) adalah syariat, tingkatan kedua adalah tariqah atau tarekat dan tingkat ketiga adalah hakikat yang merupakan kebenaran terdalam serta tingkatan keempat adalah ma’rifat yang merupakan wilayah ‘tak terlihat’ yang sebenarnya adalah inti dari wilayah hakikat sehingga mampu mengenali Sang Sumber Keilmuan.

Tingkatan keilmuan dlm keilmuan barat juga terbagi dalam beberapa tingkatan, tingkatan pertama adalah lulus test masuk dan resmi secara hukum sebagai siswa sekolah keahlian tsb (mis: Fak Teknik, Fak Kedokteran, Fak Ekonomi), tingkatan selanjutnya mengikuti/ mempelajari berbagai modul materi keilmuan tsb (kuliah, literatur), tingkatan berikutnya adalah menelti hal yg terkait keilmuannya serta tingkatan tertingginya adalah filosofi keilmuan (pemahaman berdasarkan penelitiannya sendiri tentang hubungan sebab-akibat yg sesuai dg hukum alam) bagi yg telah lulus tingkatan ini digelari PhD (lulusan LN) atau Doktor (lulusan DN).

Tingkatan keilmuan Timur dan Barat ternyata mirip (serupa tapi tak sama) kalau di Timur keilmuan yg masih berkembang terutama bidang Keagamaan tetapi zaman dulu keilmuan Timur berkembang pula dibidang yg lain, sedangkan Barat lebih mengembangkan keilmuan selain bidang agama.

Perbedaan yang lain adalah berhubungan dengan legalitas hukum. Keilmuan Barat (Non Agama) harus sesuai aturan hukum yang dimulai saat lolos persyaratan mengikuti pendidikan-lulus test masuk pendidikan-lulus tataran tingkatan-lulus ujian akhir dan bukti publikasi dalam journal resmi yg diakui dunia Internasional.

Keilmuan Timur (Agama), siapa saja bisa mempelajarinya tanpa harus kuliah di Perguruan Tinggi Agama dan bebas mengaku telah mempelajari tingkatan tertingginya (makrifat) tanpa harus menunjukkan bukti resmi yg mendukungnya, tetapi kini sudah mulai bergeser menuju legalitas hukum (kuliah bidang keagamaan S1 bahkan S2) karena tuntutan zaman (terutama dikota besar) berhubung makin banyak pengguna/umatnya yg juga berpendidikan tinggi dan bagi yang tak lewat pendidikan resmi akhirnya hanya laku di kampung pelosok yang pengguna/umatnya kebanyakan kurang berpendidikan.

Nah, bagaimanakah pendidikan keilmuan bidang kepemimpinan? Secara resmi secara hukum adalah melalui pendidikan yg dikelola negara (STPDN, Akmil, Sesko dll) atau Perguruan Tinggi Negri/swasta terakreditasi atau kursus yg diadakan oleh instansi resmi sedangkan jalur tak resmi ya seperti belajar model Timur alias otodidak.

Sayangnya, sekolah kepemimpinan yang ada saat ini hanya sampai tingkatan syariat dan tarekat sehingga lulusannya tak lebih dari sekedar jadi “mandor” seperti yg ditunjukkan oleh sikap para pemimpin kini.

Apakah ciri-ciri (petanda, marker) dari tingkatan hakekat dan makrifat kepemimpinan?. Sebelum menjawab ini maka harus dipahami dulu tingkatan syariat dan tarekatnya kepemimpinan. Syariatnya adalah sudah jelas diangkat jadi pemimpin (pemimpin diri-sendiri, pemimpin keluarga, pemimpin lingkungan, pemimpin organisasi/ perusahaan/ instansi resmi). Tingkatan Tarekatnya juga mudah dicapai dg mengikuti pendidikan resmi/kursus/simposium atau belajar dari literatur selanjutnya mampu mengatur strategi (management) untuk susksesnya misi dan visi badan/organisasi/perusahaan/instansi yg dipimpinnya.

Tingkatan Hakekatnya adalah kemakmuran/kebahagiaan seluruh anggota tim dan meminimalisir kerusakan internal badan/organisasi yg dipimpinnya yang mana hal ini hanya bisa dicapai oleh pemimpin yg menyatu dg anakbuahnya yang lebih dikenal dg istilah “manunggaling kawulo (anak-buah, karyawan) lan gusti (pimpinan, manager, ketua, komandan). Pemahaman tingkatan hakekat adalah dengan cara menghayati kepemimpinan pada diri sendiri yaitu memimpin raga/badan ini. Seperti pada kata pepatah bahwa “pemimpin itu dilahirkan”, itu memang benar. Saat manusia (juga mahluk hidup yg lain) dilahirkan sebenarnya sudah jadi pemimpin yaitu memimpin badan / raga / wadagnya masing-masing.

Tubuh/wadag ini merupakan kumpulan dari bermilyar-milyar sel hidup yang jenis dan sifatnya berbeda -beda tetapi bersatu-padu dan saling bekerjasama untuk menjaga agar semua sel tubuh ini tetap hidup. Saat dalam kandungan, seluruh kebutuhan hidup (gula /lemak /protein dan oksigen) janin dicukupi oleh ibunya melalui tali pusat. Begitu dilahirkan maka suplai kebutuhan langsung terhenti maka seluruh sel-sel hidup (anak-buah) tubuh bayi tsb kekurangan bahan oksigen dan mengirim sinyal kepada sang pemimpin (mind dari si bayi), berhubung si bayi tidak tahu harus berbuat apa sehingga menumpuklah rasa bingung-sedih-jengkel atas ketidakmampuannya maka si bayi menangis sekeras-kerasnya.

Saat menangis (otot perut, otot dada dan otot leher berkontraksi/mengejang/mengecil/memendek volumenya) maka sisa air ketuban di saluran nafas akan terdorong keluar, setelah otot bantu nafas berkontraksi maksimal akhirnya kelelahan akhirnya otot istirahat/rileksasi sehingga paru-paru mengembang dan otomatis udara mengalir masuk kedalam ruang paru dan terjadilah proses pengambilan nafas yg pertama dan kebutuhan oksigen mulai terpenuhi. Apabila masih kekurangan oksigen biasanya si bayi akan terus menangis sehingga udara akan terpompa masuk ke paru-paru dan oksigen akan terkumpul yg selanjutnya dikirim keseluruh sel-sel tubuh bayi dg bantuan pompa jantung. Pengalaman ini akan terekam dalam memori otak si bayi, demikian pula saat sel tubuh kekurangan sumber kebutuhan hidup (air, gula, lemak, protein) maka akan memberi sinyal lagi yg berupa rasa haus dan lapar, lagi-lagi si bayi menangis sehingga ibunya menetekinya (memberikan kebutuhan sibayi) setelah nyaman maka si bayi akan tenang.

Selain kebutuhan pokok tersebut sel tubuh bayi juga perlu kenyamanan sehingga saat dia kencing akan menyebabkan basah tubuhnya dan timbul rasa tak nyaman maka lagi-lagi si bayi akan menangis, sehingga ibunya akan memeriksa bayinya apa yg membuatnya menangis dan akhirnya si ibu membersihkan dan mengganti popok kering. Nah semua hal yang tak nyaman berubah menjadi nyaman dg cara menangis ini akan terekam dalam otak dan menjadi ilmu yg pertama dari si bayi tentang cara memenuhi kebutuhannya yaitu dengan cara menangis. Dalam perkembangan dan pertumbuhan mentalnya seiring bertambahnya waktu/usia si bayi maka semakin pintarlah dia sehingga akhirnya bisa menggunakan bahasa sebagai sarana berkomunikasi untuk menyampaikan kebutuhan/keinginannya.

Ditinjau dari tingkat perkembangan ilmu kepemimpinan maka sejak saat bayi terlahir hidup itulah merupakan tonggak resmi sebagai pemimpin (tingkat syariat) bagi bermilyar-milyar sel hidup yang bersatu padu dan bekerjasama dalam suatu sistem yg sangat rumit yang membentuk raga/tubuh si bayi dengan satu tujuan agar seluruh anggota sel tubuh tetap hidup.

Dalam perkembangannya si bayi akan terus belajar agar semakin mampu memenuhi segala kebutuhannya dan akan semakin tumbuh pesat pula pertumbuhan badannya dan perkembangan kemampuan otaknya dimana proses ini berlangsung seumur hidup. Nah, tingkatan belajar memenuhi kebutuhan hidup ini berada pada tingkat Tarekat Kepemimpinan.

Masa selanjutnya adalah saat si bayi yg telah tumbuh dewasa maka akan menikah dan melahirkan putranya, maka secara tidak disadari maka ayah/ibunya (yg dulunya si bayi dan tumbuh jadi dewasa serta telah jadi ayah/ibu) telah meningkat taraf kepemimpinannya mencapai tingkat Hakekat tanpa disadarinya (tetapi taraf ini hanya berlaku terhadap kepemimpinannya atas putranya saja). Nah, seperti apakah tingkatan itu? Sebenarnya untuk mencapai taraf Hakekat ini tak harus nunggu berkeluarga dan berputra dan kebanyakan pula meskipun sudah berputra belum bisa mencapai level Hakekat Kepemimpinan.

Agar bisa memahami sehingga mudah mencapai taraf Hakekat Kepemimpinan maka kita perlu mengulang beberapa hal penting diatas. Pada Hakekatnya semua dari kita adalah pemimpin dari bermilyar-milyar sel-sel hidup pembentuk tubuh yang beraneka ragam jenis dan sifatnya yang saling bekerjasama untuk satu tujuan agar seluruh sel tubuh bisa terus bertahan hidup bahkan berkembang. Jadi pada Hakekatnya kita sebagai pemimpin tubuh ini hanyalah sekedar pelayan dari bermilyar-milyar sel hidup pembentuk tubuh/raga untuk mencukupi segala kebutuhan seluruh sel tubuh agar tetap hidup dan terus berkembang.

Bukti bahwa kita sebenarnya adalah cuma pelayan tubuh/raga kita adalah sebagai berikut:

Saat sel tubuh kekurangan air karena kepanasan maka sel tubuh akan mengirim sinyal lewat tenggorokan pada kita yg berupa rasa haus…. kita menurutinya….mencari air untuk diminum. Saat sel tubuh kekurangan bahan bakar (gula) maka sel tubuh mengirim sinyal lewat perut sehingga kita merasa lapar…kita menurutinya…mencari sesuatu yg bisa dimakan. Saat sel otak kelelahan…maka akan mengirim sinyal berupa rasa kantuk…. kita menurutinya pergi tidur. Bahkan kerjaan yg paling bau dan jijikpun akan kita dilakukan saat perut kepenuhan dan harus dikosongkan…. maka larilah kita cari WC.

Saat sel tubuh bagian bawah (telapak kaki) menginjak paku maka akan mengirim sinyal berupa rasa sakit… dan kita akan menghentikan kegiatan kita untuk memeriksa telapak kaki yg sakit selanjutnya mencabut paku yg nancap dan diolesi obat bahkan bila perlu minta tolong ke ahlinya (dokter) agar tidak memicu sakit parah (tetanus) yg bisa membunuh kita. Setelah itu maka kita menyuruh kaki yg sehat untuk memikul seluruh beban berat tubuh sehingga jalan terpincang-pincang untuk sementara waktu agar kaki yg sakit cepat sembuh dan bisa berbagi beban lagi.

Kenyamanan tubuhpun akan kita usahakan….saat jarak tempuh terlalu jauh sehingga otot kaki bakal pegal maka kita memilih naik kendaraan, dan bila ada beaya lebih maka milih yg ber AC …agar sel tubuh yg lain ikut merasa nyaman.

Hal tersebut diatas akan bertambah bebannya saat berkeluarga dan mempunyai anak maka kebutuhan si anak akan lebih diutamakan dibanding kebutuhan tubuh sendiri. Oleh karena itulah maka pemahaman level Hakekat Kepemimpinan ini lebih mudah dicapai bagi yang sudah berkeluarga dan berputra, ibaratnya telah berpraktek dan merasakan langsung jadi pemimpin bukan hanya bagi diri/tubuhnya sendiri tetapi juga memimpin keluarganya. Nah, bagi para bapak/ pemimpin keluarga …pasti sudah merasakan lelah, pusing dan repotnya membesarkan-mendidik/ menyekolahkan bahkan mencarikan pekerjaan agar sang putra bisa mandiri. Itulah sebenarnya Hakekat Kepemimpinan, bahwa pemimpin sebenarnya tak lebih dari wakil atau pelayan dari yang dipimpinnya (anakbuah, organisasi, instansi) agar tercapai tujuan visi dan misi seluruh anggota (anakbuah, organisasi, instansi) yg dipimpinnya.

Tingkatan selanjutnya adalah tingkat Makrifat Kepemimpinan. tingkatan ini merupakan wilayah ‘tak terlihat’ yang sebenarnya adalah inti dari wilayah Hakikat Kepemimpinan yang paling dalam sehingga mampu mengenali Sang Sumber Keilmuan. Bagi pemimpin yang benar-benar telah menghayati Hakekat Kepemimpinan tersebut diatas dan melaksanakan seluruh tugasnya dengan ikhlas (tidak berharap apapun terhadap yg dipimpinnya selain niat tulus agar yg dipimpinnya sukses/sejahtera/bahagia) maka sebenarnya dia telah berperilaku seperti Sang Pemilik Ilmu Kepemimpinan tersebut yaitu Sang Maha Berilmu dan Sang Maha Pencipta.

Kepemimpinan pada taraf inipun sebenarnya pada lingkup kecil (kepemimpinan ayah/ibu terhadap putranya) banyak ditemukan maka sering kita dengar pameo Jawa yg mengatakan bahwa “Bopo/Biyung iku wakile Gusti ing alam ndonyo” atau lebih dikenal dg istilah “Manunggaling Kawulo (manusia/hamba/ciptaan) lan Gusti (Sang Maha Berkuasa/ Maha Pencipta)” sehingga apa yang terucap atau terlintas di hati ayah/ibu terhadap putranya akan terwujud/terjadi dalam istilah lain “Sabdo Pandhito Ratu”, tetapi hal ini hanya berlaku dalam lingkup kecil. Nah, apabila ada pemimpin bangsa yang berperilaku seperti “Bopo/Biyung” terhadap seluruh rakyatnya seperti perlakuan pada putra kandungnya sendiri maka jadilah Sang Pemimpin ini seorang Pemimpin yang benar-benar mencerminkan “Manunggaling kawulo lan Gusti” dalam ruang lingkup yang lebuh besar dan luas maka pastilah lebih “mandi/mujarab” semua ucapan dan isi batinnya terhadap seluruh rakyatnya (tetapi tak berlaku bagi rakyat negara lain).

Demikian sedikit pemahaman tentang Tingkatan Kepemimpinan, dan hal ini berlaku pula buat cabang ilmu yang lain.


http://leadershipprincipal.wordpress.com

Sumber gambar : Wikipedia

9 thoughts on “Tingkatan Keilmuan Bidang Kepemimpinan

  1. Nah, apabila ada pemimpin bangsa yang berperilaku seperti “Bopo/Biyung” terhadap seluruh rakyatnya seperti perlakuan pada putra kandungnya sendiri maka jadilah Sang Pemimpin ini seorang Pemimpin yang benar-benar mencerminkan “Manunggaling kawulo lan Gusti” dalam ruang lingkup yang lebuh besar dan luas maka pastilah lebih “mandi/mujarab” semua ucapan dan isi batinnya terhadap seluruh rakyatnya (tetapi tak berlaku bagi rakyat negara lain).
    ===================================
    Kang SmP,

    Terima kasih atas tulisan di atas. Sekarang, membumi, contoh dari sejarah : Adakah pemimpin kita , dari Bung Karno sampai SBY yang sudah mencapai taraf makrifat itu ? Pemimpin – presiden – manakah selama ini yang mencerminkan ‘manunggaling kawulo lan Gusti’ ??

    Soeharto, sang pemimpin, maju jadi pemimpin melalui … kudeta … Apakah Soeharto ini benar2 mempunyai sifat2 pemimpin itu ? Siapakah yang memilih Soeharto ? Rakyat jelas tidak memilih dia, wong waktu Soeharto mengangkat diri jadi presiden tidak/belum ada pemilu untuk presiden.

    Atau, kalau tidak ada presiden dengan tingkat makrifat, tolong beri contoh SIAPA yang telah mencapai tingkat kepemimpinan makrifat ini.

    Terima kasih lagi.

  2. Salam Kang BD.
    Terima kasih telah menanggapi tulisan abal-abal saya.
    Tingkatan tertinggi yaitu Makrifat kepemimpinan bisa dinilai dari perilaku kesehariannya (behaviour) yang mencerminkan sifat/sikap 1)jujur dan bisa dipercaya, 2) bijaksana, 3) pengasih/penyayang, 4)penyabar, 5)pengertian/”lapang dada”, 6)berkeadilan, 7) visioner, 8) kesanggupan berkorban demi hal yg lebih baik. dll. Meskipun sudah mencapai tingkatan ini tetap saja ada leveling kemahirannya (keahlian/kemahiran bisa berbeda meskipun dalam tingkat yg sama). Nah….kang BD, akang bisa menilai sendiri tingkatan kepemimpinan dari para pemimpin kita dari tingkah lakunya kang.
    Salam membumi.

    1. Agar tidak disebut melarikan diri kayak maling jemuran, maka mbah tuliskan juga sedikit penjelasan …..(Mbah Wage)

      Oom SmP,

      Jangan melarikin diri seperti maling jemuran (mengutip si Mbah lho),hehehehe …

      Saya lumayan telmi. Oom Balane tanya siapa diantara pemimpin kita yang sudah mencapai tingkat makrifat itu ? Kalau sekarang tidak ada, jaman dulu ada kah ? Mosok satupun tak ada ? Mosok Oom SmP tidak bisa bilang ada atau tidak pemimpin dengan taraf makrifat itu. Makasih.

    2. Salam Mas Wong Ie Seng (WiS).
      Waduh…(sambil garuk-garuk kepala)…saya termasuk gagal menerangkan tentang Tingkatan Keilmuan Kepemimpinan agar pembaca mampu mengenali sendiri mana “Pemimpin” yg benar-benar pemimpin dan bukan sekedar “Mandor” tukang “perintah” dan si mandor enak-enakan hamburin uang rakyat, bikin utangan ke tetangga dan senang di “subyo-subyo”.

    3. Mas WiS.
      Sebagai tambahan….. pemimpin sejati pasti akan ditaati oleh rakyatnya dan sang pemimpin ini akan membela rakyatnya habis-habisan karena itulah sebenarnya kakekatnya dia dipercaya sebagai pemimpin.
      Salam…semoga tak tambah binun.

    4. Oom SmP,

      Oom ini seperti politisi, kalau ditanya jawabannya muter-muter . Wong pertanyaannya sederhana : siapa, sopo, who, yang sudah mencapai tingkat makrifat dalam kepemimpinan. Cuma utopia ? Maap lho oom, sy penasaran…

    5. He…he…he…Mas WiS……maap semua orang sebenarnya bermain politik dalam hidup ini….salah satu contohnya yg paling sederhana adalah waktu kita masih kanak-kanak saat menginginkan sebuah mainan maka kita merengek-rengek pada ayah-bunda agar dibelikan mainan tsb dan terkadang kita ngambek bila tak mempan dg cara merengek.
      Jadi sebenarnya melakukan sesuatu sikap agar tidak menyinggung siapapun itu sebenarnya juga membutuhkan kepandaian “berpolitik”……yah seperti mengobral janji yg belum tentu ditepati…..tetapi bila perilaku negatip tadi diteruskan akhirnya pasti ketahuan sebenarnya seperti apa kitanya. Kebanyakan istilah berpolitik ini berkonotasi negatip saat ini karena ulah yang dicerminkan oleh para politisi ini. Sebenarnya pendiri republik kita inipun juga seorang politisi (berjuang melalui forum nasional-internasional) dan mahir menggerakkan massa rakyat. So …politisi itu tergantung niatnya…bisa baik untuk mensejahterakan rakyat atau memanfaatkan suara rakyat untuk kepentingan diri dan golongannya.
      Maap…..silahkan ambil kesimpulan sendiri….kalau masih binun…renungkan dulu….kalau diberitahu/bocoran….wah…tak uuk uuk ..yee.

  3. Kang SmP,
    Kalau seandainya negara dikelola dengan pendekatan ala badan usaha dan para pemimpin menggunakan pendekatan profesi bisa ndak ya?

    Jadi kalau sebagai guru harus profesional di bidangnya, polisi yang jadilah polisi yang profesional, kalau politisi jadilah politisi yang profesional dst. Bosan dengar istilah pejabat yang kompanya berkoar demi rakyat kecil, demi negara dst. Mbah sukanya yang praktis dan realistis saja. Demi profesi sepertinya lebih ralistis. Semua orang terlebih lagi pejabat harus bekerja dengan profesional sesuai dengan profesinya.

    Sepertinya saat ini negeri ini saat ini dijalankan dengan sambil lalu, sambil iseng (politik dagang sapi sehingga sebagian pejabat bekerja tidak sesuai bidang atau kemampuan), aji mumpung atau bahkan terkandang sambil korupsi. Kalau ibarat perusahaan, pemimpin seperti ini sudah harus diPHK. Di negara yang lebih maju sepertinya kurang lebih seperti ini. (asal nebak).

    Mudah mudahan intinya sama dengan yang Akang tulis.

    salam, wage

  4. Salam Kang Wage.
    Tepat kang, semua harus profesional sesuai bidangnya masing-masing serta mendapat imbalan yang sesuai pula. Mencontoh tubuh kita ini yg terdiri dari multi organ yg berbeda dan masing-masing bekerja secara profesional serta tiap organ berisi milyaran sel hidup yg juga semua bekerja secara profesional sesuai peruntukannya. Berbagai aturan dan multisistem yang saling terkait satu sama lain dan bekerja sesuai aturan main (aksi-reaksi dan balancing/homeostasis) yg bekerja secara otomatis. Mengacu pada mekanisme tubuh kita yang semuanya bekerja sesuai aturan dan “mind” sebagai pemimpin hanya bisa mengendalikan tubuh untuk berinteraksi dg dunia luar sedangkan urusan intern dalam negri (dalam tubuh) diatur oleh sistem tsb diatas contohnya “mind” kita tak perlu mencampuri kerja jantung dan nafas yg bekerja secara otomatis, bila kondisi tenang maka detak jantung (normal 60-90 kali/menit) dan irama nafas (normal 16-22 kali/menit) dan bila kondisi genting (fight or flight) maka detak jantung dan irama nafas secara otomatis akan meningkat untuk mempersiapkan “mind”/pemimpin + raga/wadag “seluruh rakyat” untuk berkelahi/perang atau lari menghindar.
    Salam, SmP.

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s