† Mengenal Keunikan Desa Kristen di Bali

Setelah hampir setahun saya menulis blog, akhirnya baru tersadar bahwa saya belum memiliki satupun topik tentang agama Kristen. Tapi mau menuliskannya juga bingung sendiri karena tidak tahu apa yang mau ditulis? Berhubung saya lahir dan besar di Bali, sepertinya cukup menarik kalau saya menuliskan topik tentang komunitas Kristen di pulau tersebut.

Cerita saya awali dengan membahas foto terlampir di bagian atas. Kebanyakan orang pasti akan tertipu dan beranggapan bahwa foto itu adalah prosesi agama Hindu di Bali. Jawaban tersebut ternyata salah. Foto tersebut adalah prosesi perayaan 75 tahun Paroki Tuka di Bali alias prosesi agama Kristen. (Sumber image: parokituka.com. Terima kasih untuk fotografernya).

Membahas tentang agama di Bali,  nyaris tidak ada jawaban lain selain Hindu. Namun sepertinya banyak orang tidak tahu bahwa Bali juga memiliki sejumlah desa Kristen yang artinya penduduknya mayoritas beragama Kristen. Ceritanya menjadi menarik karena warga di desa Kristen tersebut adalah penduduk Bali (bukan pendatang) dan yang lebih menarik lagi mereka tetap tidak meninggalkan adat dan budaya lamanya.  Dua contoh dari desa Kristen tersebut adalah desa Blimbingsari dan Pancasari.

Desa Blimbingsari

Desa yang terletak sekitar 25km ke arah barat pusat kota Negara, Jembrana. Desa Blimbingsari 99% memeluk agama Kristen.   Desa ini didirikan 1939 oleh seorang misionaris Belanda. Dengan dibantu oleh  puluhan pengikut orang Bali yang beragama Kristen melakukan perambahan hutan demi mewujudkan  impian memiliki desa sendiri yang bernuansa Kristen. Jadi tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa merupakan desa Kristen pertama di Bali karena mayoritas penduduknya beragama Kristen (Protestan)

Di desa ini belakangan menjadi populer sebagai daerah tujuan wisata dan dikunjungi oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Sepintas sepertinya nyaris tidak ada bedanya dengan desa tradisional lainnya di Bali, baik dari bentuk bangunan yaitu  khas Bali,  pakaian,  bahasa bahkan nama penduduk di desa ini juga menggunakan nama Bali, Putu, Made, Nyoman dst.  Tentu saja karena seperti telah disebut di awal, penduduk desa tersebut adalah orang orang Bali, bukan pendatang yang datang dari pulau lain, jadi walaupun memeluk agama Kristen, mereka tetap mempertahankan budaya lamanya. Inilah yang membuat desa ini menjadi unik dan menarik.

Pada setiap hari raya penting seperti Natal, masyarakat menyambutnya dengan membuat  hiasan penjor. Penjor adalah hiasan yang umum dibuat oleh masyarakat Hindu Bali menjelang hari raya Galungan. Kemudian disaat kebaktian di Gereja, umat Kristiani datang dengan mempergunakan pakaian adat Bali. Demikian juga dengan  pendeta yang akan  memimpin acara kebaktiaan juga mempergunakan Bahasa Bali. Perayaan keagamaan di gereja juga dilengkapi dengan memperdengarkan gambelan Bali.

Desa Palasari

Desa Palasari terletak di Dusun Palasari, Desa Ekasari, Kecamatan Melaya, Jembrana. Secara geografi, lokasinya bisa disebut bertetangga dengan desa Blimbingsari. Komunitas ini dirintis oleh Pater Simon Buis SVD sejak 1940. Berbeda dengan desa Blimbingsari yang penduduknya adalah Protestan, di desa ini masyarakatnya mayoritas adalah Katholik. Tidak jauh beda dengan desa Blimbimbingsari, di desa ini identitas Bali tetap terasa, dipertahankan dan dilestarikan. Desa ini juga merupakan desa wisata atau tepatnya wisata rohani. Berbagai kegiatan rohani/keagamaan  baik yang berskala daerah maupun nasional sering diadakan di desa ini.

Opini Penutup

Komunitas Kristen di Bali relatif unik. Saya sebut unik karena walaupun sudah “membuang” agama lamanya, namun hal itu bukan berarti “membuang” budayanya.  Mereka masih tetap mempertahankan identitas keBali-annya. Indentitas keBalian yang saya sebut meliputi prosesi budaya, kesenian, pakaian ataupun nama dan panggilan. Kemudian dalam hal arsitektur atau bentuk bangunan gereja, hampir kebanyakan gereja di Bali adalah berasitektur Bali.

Bagi sebagian orang Bali, khusunya yang beragama Hindu, akulturasi budaya ini dianggap sebagai ancaman, ditanggapi negatif dan harus dicegah atau dikritisasi. Namun bagi sebagian orang Bali lainnya, bersikap lebih terbuka atau menganggapnya sebagai hal posiitif.  Tanggapan negatif yang dimaksud adalah ketidaksetujuan dan penolakan tertulis seperti blog dan media masa, bukan negatif dalam arti perusakan fisik. Kalau sampai perusakan itu namanya bukan lagi negatif tapi kriminal dan syukurlah (sepertinya) sampai sekarang kejadian semacam itu belum pernah terjadi di  Bali.

Tulisan ini hanya sekedar berita informasi belaka jadi sepertinya tiak pada tempatnya bagi saya untuk berpendapat. Namun untuk menyebutnya sebagai informasi atau berita sepertinya terlalu berlebihan karena isinya sangat jauh dari kaidah jurnalistik. Maklum saja, ini khan cuma blog abal-abal.

Ditulis dan disusun oleh:

Sumber image: (terima kasih untuk fotografer/pemilik image)
Photo atas : hidupkatolik.com
Photo 2 dan 3  : beritadaerah.com
Photo bawah : Lachlyn Soper

Catatan/Narasumber :
Tulisan ini dibuat dari narasumber pihak ketiga yaitu info media, blog serta  tetangga dan teman kerja (lama) penulis yang kebetulan adalah penduduk asli desa tersebut. Walaupun bukan dari laporan langsung dari lokasi, mudah mudahan tidak mengurangi unsur informasinya.

Referensi :

Advertisements

30 thoughts on “† Mengenal Keunikan Desa Kristen di Bali

  1. Bagi sebagian orang Bali, khusunya yang beragama Hindu, akulturasi budaya ini dianggap sebagai ancaman, ditanggapi negatif dan harus dicegah atau dikritisasi. Namun bagi sebagian orang Bali lainnya, bersikap lebih terbuka atau menganggapnya sebagai hal posiitif.
    ————————————
    Mbah,

    Sang kyu untuk info di atas (-: . Saya juga selama ini mengira di Bali cuma ada Hindu – Hindu Bali, bukan Hindu ala India. Re ancaman : Biasa, Mbah, kurang … PD. Saya jadi ingat dilarangnya Hare Krishna di sana. Blog abal2 ini bisa juga memberi info …. Bravo !

    1. Dalam kehidupan beragama, prilaku negatif dan diskiriminatif pada agama lain bisa ditemukan dimana saja. Perbedaannya hanya kadar negatifnya, ada yang bereaksi secara fisik dan ada yang cuma urut dada. Untuk kasus di Bali, sampai saat ini tidak atau belum sampai menjurus ke arah pengrusakan atau pembakaran tempat ibadah lain.

      Kang Bala benar, masyarakat Bali sepertinya sangat sensitif terhadap kehadiran sekte agama yang dianggap merusak adat budaya Bali dan itulah sebabnya kehadiran sekte Hare Krisna menimbulkan gejolak kecil di masyarakat. Gejolak muncul justru karena sekte baru ini merupakan sekte Hindu, sedangkan untuk agama lain non Hindu, sepertinya beda urusan.

      Secara umum, untuk urusan toleransi beragama masyarakat di Bali relatif cukup bagus bahkan tidak berlebihan kalau saya katakan terbaik untuk ukuran wilayah propinsi di ndonesia.

  2. Secara umum, untuk urusan toleransi beragama masyarakat di Bali relatif cukup bagus bahkan tidak berlebihan kalau saya katakan terbaik untuk ukuran wilayah propinsi di ndonesia.
    ====================
    Setuju,Mbah. Mungkin bukan tanpa alasan Bali disebut pulau Dewata.

    1. Ada benarnya juga Kang. Julukan pulau Dewata sepertinya cukup tepat. Secara umum, toleransi sepertinya bukanlah hal aneh di Bali, terlebih untuk agama Hindu Buddha. Di beberapa tempat ibadah di Bali, kadang juga memiliki tempat khusus untuk Buddha. Arca Buddha juga umum ditemukan pada pura di Bali.

      Tentu saja hal ini terlihat aneh bagi sebagian golongan atau orang luar, namun mau apa lagi, tradisi ini sudah berlangsung sejak lama. Itulah Bali, tempat dimana toleransi diterima dengan lebih alamiah.

  3. ‘LINK’ di atas OK, tapi … terkesan jualan … kecap. Keyakinan itu untuk diyakini,dijalankan… Mana agama yang benar ? Tanya rumput yang bergoyang, dan tanya hatimu sendiri …lah …

  4. Diskusi model diatas -LINK – hmm,apa perlu ya ? Mungkin perlu kalau memang maunya jualan kecap. Buku (suci) ini bilang begini, buku (suci) itu begitu, telur dulu, baru ayam, eh ayam dulu,, baru kemudian telur, dst. Ya nggak ada habisnya …

  5. Nuwun sewu…
    Agama Import dg komposisi spiritual dan budaya lokal serasa lebih Indah dan menarik.
    Paman teringat waktu dulu Orang tua dan mbah2 saya yg Muslim tapi tetap menjalani tradisi dan ritual2 Orang Jawa, seperti: selamatan, bikin sandingan setiap malem Jum’at legi, nyekar ke kuburan dll.
    Hidup berdampingan dg tetengga yg kristen, budha dan hindu namun damai2 saja .
    Ibu yg berpakaian Jarit dan berkebaya dg konde2nya yg unik, Ibu hanya pakai rukuh kalau sholat saja…Tapi itu dulu sebelum kejangkitan Virus Arabisasi, Wahabiisme.

    Paman Dalbo

  6. Salam poro sedereng ingkang minulyo ….sembah sungkem kagem porosepuh……..

    Berbicara tentang agama memang kadang menarik dan menambah wawasan tapi dengan catatan bila yang berbicara dan yang berdikusi adalah para manusia yang sudah mengerti hakekat agama dan tentunya para beliau sudah mendapat pencerahan tentang hakekat menyembah Tuhan……

    Catatan Admin : Maaf, karena suatu sebab dan alasan maka komentar ini terpaksa dipindah ke halaman berikut KLIK

  7. Mas js,Mbah,para sedherek,

    Salah satu kutipan favorit saya adalah, ‘Tuhan selamatkanlah aku dari …. pengikut2Mu …’ Tuhan itu, konon, maha pengasih dan penyayang, tapi lihatlah … sementara pengikut2Nya – suka ngamuk,tawuran,merusak. ….

    Reply wage:

  8. Nuwun sewu..
    P, JS matur nuwun tulisanya…
    Itluah yg terjadi ketika Agama sudah beralih fungsi, yg semula menjadi Ageman, petunjuk atau jalan menuju sepiritual ke Tuhanan, malah berubah menjadi “Tujuan” itu sendiri, sehingga esensi spiritual ke Tuhanannya menjadi tdk penting, akibatnya para pemeluknya berlaku kontradiktf dg keyakinanya sendiri, Merka mengakui Tuhan maha mendengar, namun tetep saja mrk masih menggunakan corong bengak bengok tak peduli yg lainya, merka mengaku Tuhan maha tahu, tapi mereka tetap saja merengek2 pada Tuhan seolah2 mendikte dikte Tuhan, Tuhan Maha Pengasih dan penyayang tapi tetap saja mereka menyatroni ciptaan2 Nya bahkan membunuh dan meminum darahnya sekalipun…

    Sor mejo ono ulane, ojo gelo wis dadi carane…

    Paman Dalbo..

    1. Paman,
      Agama yang beralih fungsi emang menyedihkan atau bahkan menakutkan. Ibarat hutan lindung yang berubah fungsi jadi hutan industri. Omong2 tentang alih fungsi sawah di daerahku sudah beralih fungsi jadi rumah.Siang hari jadi panas sekali.

    2. Nuwun sewu..
      @ Sdr sota soma…hai dari jauh ya..
      Ini ada yg lebih ironis lagi tentang Alih fungsi Agama, kalau dulu konon katanya agama itu di sebarkan melalui dagang, sekarang malah terbalik 180 derajat, ” Berdagang melalui Agama bahkan Agama itu sendiri dijadikan komoditi perdagangan”
      ahhh..jangan2 nanti ada Dwi fungsi Agama” kali ya…tunggu saja Orde yg paling baru.

      Pecut di seblakno…barang wis kebacut di kapakno???

      Paman Dalbo.

  9. salam mbah ..
    keren topiknya, seringkali memang orang menjadi MABOK dengan Agamanya, sehingga ciptaan Tuhan Agamanya sendiripun di benci.

    Tapi mbah, saya kali ini menyalahkan Tuhan mbah, Kenapa Tuhan menurunkan Agama di satu Negara yang punya “kepentingan”, coba Tuhan menurunkan Agama di negara Swiss, Agamanya pasti Netral mbah…. 😀

    Reply wage:
    Nanti ibadahnya sambil main ski dong ?!

  10. nah ini baru asik, apapun agamanya budaya jangan sampe dianak tiri kan, budaya apa pun itu sifatnya pasti baik selama tidak bertentangan dengan hati nurani..
    hmmm.. saya yg KTPnya islam ini suka gerah klo ada uztad doyan obral kata haram, ini-itu haram padahal si uztadnya sendiri pesek tapi.. fenamfilannya sok ke arab2an, sumfah kagak fantes.. xD (lah afa hubungannya ya?)
    saking gerahnya samfe kefikiran balas dendam minta agar Tuhan mengulang ceritaNya, biar Nabi Muhammad dilahirkan di Bali..
    safa tau kan nanti akhirnya orang2 arab sono cowoknya fada doyan fake udeng, dan yang cewe semua fake kemben, wah cantik dan sexy donk! alhamdulillah
    ana jamin si mbah juga fasti suka xDx xD xD..

    Reply wage:

    Ah, nak Yudha tahu aja. Yang jelas mbah bukan batu, ngaku2 tidak suka yang cantik dan sexy.

  11. gak sepenuhnya budaya. krn pilosofi yg mendasarinya berbeda. budaya org jepang minum teh dg seseorg yg kehausan di warung negak teh botol dingin tidak sama walo sama sama minum teh. tapi politik punya 1000 wajah dan dia ada disetiap aspek kehidupan bahkan dalam kehidupan agama sekalipun.

  12. Desa Blimbingsari 99% memeluk agama Kristen (Protestan).  
    ——
    Saya rasa tulisan anda perlu direfisi karna sangat tidak sesuai dengan kenyataan saya berasal dari daerah melaye jembrana. Dan disana tidak hanya didominani kristen .pemeluk kristen disana hanya sebagian kecil penduduknya yang menganut agama kristen sisanya hampir 40% penduduknya memeluk islam yang merupakan penduduk yang hijrah dari jawa banyuwangi,bugis,sulawesi, serta 60% penduduknya beragama hindu.. Saya tau karna saya mengenal betul desa Blimbingsari dan pulasari .!!! Makasi

    1. Sdr/i Sinar,
      Terima kasih atas komentar dan infonya yang sangat berharga. Saya percaya apa yang Anda sampaikan adalah benar. Saya akan sangat senang kalau Anda bisa membantu memberikan beberapa gambar/foto tentang mesjid atau pura yang ada di desa Blimingsari (ada papan namanya). Jadi pembaca bisa bisa mendapatkan info yang lebih valid.

      Artikel sudah saya revisi ulang dan angka 99% saya hilangkan. Beberapa referensi baru juga ditambahkan sehingga diharapkan pembaca memiliki bahan untuk pembanding.

      Salam, wage

    2. Saya juga ingin meluruskan lagi, setahu saya desa Blimbingsari dengan Desa Melaya itu beda, desa blimbing sari itu kecamatannya melaya, jadi perlu dibedakan disini, jadi yg benar memang desa blimbing sari itu 99 % bahkan mungkin lebih memeluk agama Kristen Protestan, saya perlu kalifikasi untuk informasi saja, karena saya memang bukan lahir dan besar disana, tapi saya adalah cucu dari orang yg pertama kali di kirim ke daerah itu utk membuka lahan hutan tersebut, kakek saya adalah Kepala Desa Pertama di desa blimbing sari tersebut, bisa di lihat di sejarah gereja bali (GKPB).

    3. Saya juga ingin meluruskan lagi, setahu saya desa Blimbingsari dengan Desa Melaya itu beda, desa blimbing sari itu kecamatannya melaya, jadi perlu dibedakan disini, jadi yg benar memang desa blimbing sari itu 99 % bahkan mungkin lebih memeluk agama Kristen Protestan, saya perlu kalifikasi untuk informasi saja, karena saya memang bukan lahir dan besar disana, tapi saya adalah cucu dari orang yg pertama kali di kirim ke daerah itu utk membuka lahan hutan tersebut, kakek saya adalah Kepala Desa Pertama di desa blimbing sari tersebut, bisa di lihat di sejarah gereja bali (GKPB).

    4. @ Sdr Amock,
      Terima kasih atas tambahannya. Tapi saya sedikit bingung, ini komentar ditujukan ke saya atau komentar di atas? Saya tidak menemukan ada salah tulis tentang nama desa dan kecamatan?

  13. COPAS artikel dari Indosiar:

    http://www.indosiar.com/fokus/natal-di-bali_26431.html

    indosiar.com, Bali – Warga Kampung Blimbing Sari, Kabupaten Jebrana, Bali yang seluruhnya penganut Kristen Protestan, Kamis (25/12/03) kemarin, merayakan natal dengan upacara adat. Setelah selesai melakukan kebaktian di gereja, mereka kemudian menggelar berbagai macam upacara dan tarian khas Bali.

    Desa Blimbin Sari adalah satu desa dibagian barat Pulau Bali, tepatnya di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jebrana yang seluruh penduduknya beragama Kristen, di tengah-tengah mayoritas penduduk Bali yang beragama Hindu.

    Pada hari natal kemarin, warga desa yang kebanyakan merantau ke daerah lain untuk bekerja atau bersekolah, pulang ke desa untuk merayakan natal bersama. Sejak pagi, ratusan warga desa yang mengenakan pakaian adat Bali, mendatangi Gereja Kristen Protestan di GKPB Nil Blimbing Sari dengan membawa berbagai persembahan sebagai ungkapan rasa syukur mereka kepada Tuhan.

    Mereka melakukan persembahyangan menyambut hari lahirnya Yesus Kristus. Ketua Sidode Gereja Kristen Protestan Bisop Ketut Suyoga Ayub dalam pesan natalnya meminta warga menerima berbagai perbedaan dengan menjadikannya titik awal persatuan.

    Nuansa adat dan budaya Bali tetap lekat dalam keseharian aktivitas warga desa Blimbing Sari, termasuk dalam rangkaian peribadatan mereka. Sebagai media penyampaian firman Tuhan, ditampilkan tari Bali lengkap dengan irama gamelan Bali. Sementara diberbagai sudut desa, puluhan tenjor dan hiasan khas Bali tampak menyemarakan suasana desa kala natal tiba.

    Nama-nama mereka pun menggunakan nama khas masyarakat Bali seperti Made, Ketut dan nama khas Bali lainnya. (Gusti Eka Sucahya dan Mugi Wiyono/Sup)

  14. cuma orang2 yg benci kristen aja yg protes sama blog ini. hahaha itu tandanya iri aloas gak mampu.masyarakat bali kristen gak ninggalin budaya bali. coba kalo itu masyarakat muslim, pasti budaya bali diganti jadi budaya ke-arab”an- iya kan? thanks infonya

  15. Apapun agamanya yang penting ingat leluhur paling tidak setelah pindah agama tetap melaksanakan sembahyang leluhur

    Jadi, untuk hal diatas misalkan sebelumnya hindu/buddha kemudian pindah ke kristen atau pindah ke islam atau agama lainnya tentu tidak masalah karena agama adalah pilihan hidup masing-masing, yang penting tetap melakukan sembahyang leluhur

    Jdi misalkan ada orang beragama hindu kemudian setelah pindah agama kemudian menjadi sakit, bangkrut usaha dsb sebenarny bukan karena pindah agama, tapi karena meninggalkan leluhurnya, tapi meski pindah agama namun tetap menjalankan sembahyang leluhur tentu tidak masalah dan hal2 seperti bangkrut usah atau kena sakit tentu tidak akan terjadi

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s