JS: Tuhan, Agama dan Jeritan Nurani

Penulis : Kang JS

Berbicara tentang agama memang kadang menarik dan menambah wawasan tapi dengan catatan bila yang berbicara dan yang berdikusi adalah para manusia yang sudah mengerti hakekat agama dan tentunya para beliau sudah mendapat pencerahan tentang hakekat menyembah Tuhan……

Sudah sangat jelas dan sejelas jelasnya bahwa keadaan diatas bumi ini ragam faham agama sangat banyak dan logikanya Tuhan seperti berjumlah TIDAK SATU dan anehnya para pemaham agama dan Tuhan tetap dan berkeyakinan dan bersikukuh bahwa Tuhan yang disembahnya itu paling benar dan keadaan kenyataan ini sampai sekarang tidak berubah dan aneh ajaibnya Tuhan tidak pernah protes atau mencak mencak marah dan ngambek.

Bila atau Tuhan itu banyak maka aneh yang lain juga tidak terjadi yaitu terjadi keadaan yang maha dasyat yang dinamakan perang antar Tuhan ….ha ha ha ternyata dan ternyata bumi selalu saja dalam keadaan seperti dulu…selalu bulat..bundar berputar dan aman aman saja selama miliaran tahun….

Apa kesimpulan kita bila kita mau jujur dalam menjawab soal Tuhan dengan dasar dan kenyataan yang ada sekarang ini dan dengan sedikit contoh tulisan diatas ?? …..Tuhan itu ADA atau TIDA ADA….. SATU atau JAMAK…..maka jawaban ada dalam benak dan hati kita masing masing…….

Misalkan diadakan atau dibentuk team peneliti tentang agama dan Tuhan maka kira kira berapa jumlah agama diatas bumi ini lalu berapa puluh atau berapa ratus jumlah Tuhan…..
Misalkan mahluk dan kehidupan lain uga ada selain di bumi dan mereka disana juga terkena wabah budaya beragama maka berapa jumlah agama …sejuta…semiliar lalu berapa jumlah Tuhan….sejuta…se milyard ??……

Ketika kita berpikir dengan kesadaran nurani , kita menjadi sangat aneh dan heran melihat keadaan umat beragama. ketika ajaran agama sudah mengeluarkan jurus mautnya yang tidak terkalahkan dan tidak terbantahkan yaitu dogma dan doktrin maka apa akibatnya??…mereka yang sebenarnya harus menjadi orang waras lha kok berbalik hasilnya…menjadi gila yang berkepanjangan , akhirnya menjadi sangat aneh fungsi agama ini ,disatu sisi diajarkan untuk iman dan sadar melek nurani tetapi disatu sisinya itu disuruh untuk menjadi gila … gelap buta mata dan telinga menjadi buntu dalam waktu yang berkepanjangan , selalu sruduk sana sini….tempat menjadi tidak aman…awut awutan….hidup seperti dalam neraka……tidak aman dan tidak damai hanya karena PERCAYA BUTA…DOGMA ..DOKTRIN…..hanya membaca KALAM TERSURAT ( kitab kumpulan kertas ) dan BUKAN TERSIRAT.( alam semesta dan isinya )…….

Bila agama itu beraneka ragam dan tentunya Tuhan seperti juga beraneka ragam ….ini adalah logika yang masuk akal….tidak terbantahkan dan nyata bila kita mau obyektif dalam menjawab dan ini sebagai penyebab terjadinya tawur massal dan saling menghina . mengejek dan memperolok…..perbuatan yang tidak bernilai baik dan jahat…tidak adil dan dholim terhadap hidup orang lain…….

Ajaran agama adalah sesuatu pengetahuan yang ada diluar diri kita untuk bisa dimasukan sebagai wawasan dan perbendaharaan ilmu pengetahuan yang diharapkan untuk mendidik hati dan mengingatkan kembali kepada manusia bahwa manusia itu sebenarnya punya nilai luhur yang tidak terkalahkan dalam mencapai rasa damai , tentram dan bahagia yaitu NURANI.ketika sedang melek terjaga….damai dan bahagia bukan karena sudah memeluk agama…….

Tuhan tidak kemana mana…tidak jauh dan juga tidak bersembunyi dari kita…lalu kenapa kita sampai ngos ngosan mencari dan mengejar Tuhan….
Tidak ada satupun manusia yang tahu dan mengerti bagaimana ujud Tuhan sebenarnya….Tuhan yang tidak terkiaskan , tidak terbayangkan….tidak tertangkap oleh saraf organ tubuh…..Tuhan yang hanya terasa jelas ada dan hadir bila manusia sudah mau memperhatikan kata nuraninya……..

Para pembaca dan sedoyo sederk porosepuh…mohon maaf bila tulisan saya menjadi panjang…karena saya hanya sedih saja bila melihat orang menjadi kejam dan dholim dengan mengatas namakan Tuhan dan Agama…Agama hanya seperti barang tempelan dan sebagai pengingat supaya kita melek Nurani…..Nuwun….

Tulisan ini awalnya dimuat di kolom komentar topik “Mengenal Kehidupan Desa Kristen Di Bali” dan karena dianggap “salah tempat” maka dipindah dan diposting menjadi artikel terpisah. Tulisan dipublish dengan sedikit editing, pada bagian bawah. Kalimat aslinya berbunyi “Mbah Wage dan sedoyo sederk porosepuh…dst”
Sumber image : memrise.com  (thank you)

…………………………………………………………………………………………….

Catatan Penutup dari Wage

Tulisan ini sepertinya mewakili pendapat sebagian orang yang prihatin dan galau menyaksikan kehidupan beragama di negeri Khayangan ini yang saling cakar berebut Tuhan dan kata kata.  Tulisan indah penuh renungan karya Kang JS.  Terima kasih.

Advertisements

36 thoughts on “JS: Tuhan, Agama dan Jeritan Nurani

  1. Salam Cak JS dan siMbah
    Wahh…. sik..sik… tak lungguh dimik…trus angkat 2jempol tangan dan 2jempol kaki… inginnya sih 4 jempol tangan… sayangnya tangan cuma 2 …kalau 4 …weehh…jadi Bethoro Guru…kaleee…wkkk.

  2. Yang sering saya denger banyak yg membakar rumah saudaranya atas nama agama, tapi gak pernah saya dengar orang yg membangunkan rumah saudaranya atas nama agama. Agama banyak dijual… Saya setuju kang kalo hati nurani mesti dikedepankan pankan …

  3. @ Kang Noer,
    @ kang ABR
    Ada orang kesurupan bakar rumah, kalau Kang JS kesurupan biasanya keluar tulisan jempolan. Mudah mudahan sering2 kesuruapan Kang. Nunggu yang punya lakpak muncul dulu. Sepertinya lagi asik SMSan sama Jeng Dewi. ha…ha….Maaf rahasia dibuka kepublik Kang.

  4. Tidak ada satupun manusia yang tahu dan mengerti bagaimana ujud TUHAN sebenarnya….
    ——————————————————————————
    permisi, sy numpang tanya (baca: curhat) ya Mbah (^_^)v

    siapa sih (manusia) YANG PERTAMA kalinya mengemukakan/mencetuskan itu istilah TUHAN,
    berdasarkan apa atau mengapa istilah itu/tuhan harus ada…
    hingga istilah itu/tuhan dibungkus/sebagai konten pada bbrp agama mainstream/yg telah diresmikan (hususnya di negara ini).

    setahu sy sih, FYI
    Mereka yang terbiasa mempelajari (segala) sesuatu atau sebagai peneliti ilmiah, dasar/objek/wujudnya yg diteliti kan jelas yaitu apa yg dapat kita sebut alam semesta maupun segala kontennya.

    kalau sy bandingkan dgn agama lokal (misalnya sunda wiwitan)…
    toh pada kenyataan sehari2, kita malah sering memuja (bahkan selalu butuh) kekuatan alam semesta dan (sulit untuk melupakan) orangtua atau leluhur…(walaupun apapun agamanya yg tercantum pada KTP).

    malah kalau mau diteliti dgn metode/iptek termutakhir…
    toh orangtua(biologis)lah sebagai pencipta tubuh kita…(aka kita sebagai produk evolusi)
    dstnya kepribadian/sifat seseorang, bukan kah ditentukan berdasarkan apa yg Dia terima/alami selama hidupnya sebelum saat ini.

    oya bagaimana mungkin seseorang dapat hidup (yg konon katanya sih) oleh kerana ada arwah/roh pada tubuhnya,…
    sementara jika pada saat masih janin (dlm kandungan ibu) mengalami kerusakan fisik yg fatal…maka balon manusia itu akan gagal utk terlahir hingga hidup sebagai seseorang.

    maka pentingkah tuhan yang tidak pernah kita ketahui dan pahami wujudnya.
    _/\_

    1. Kang O’ON, Selamat datang dan salam kenal. Senang sekali sekali rasanya Akang bersedia mampir dan berkomentar di blog abal-abal ini. Ditunggu komentar2 mautnya.

      Moof, pertanyaan curhatnya siMbah nyerah deh. Nunggu kang JS aja deh… Kemana ya?!!
      wage

  5. Mbah,

    Kang O’on ini komentator kritis yang sering mampir ke blog tetangga..Akang yg satu ini termasuk salah satu dari mereka yang … tidak mengikuti arus. Hmm, blog si Mbah akhir2 ini banyak didatangi orang2 ampuh ! Pertanda bagus,Mbah ! (-:

    O’On,
    Kumaha ?

    1. Terima kasih Kang Bala atas infonya. Nama beliau unik dan khas, jadi mudah diingat. Saya beberapa kali pernah membaca kometar Beliau di blog sebelah. Emang benar maut. Beruntung blog ini kedatangan orang2 ampuh yang awalnya mulai dari Paman Dalbo…terus kang Bala…..dst.

      Tugas saya sekarang adalah asah celurit, kalau ada komentar yang “ngawur” dan kepanjangan, langsung ditebas..ba….bas… Maksudnya ditebas dan dipindah dijadikan tulisan utama. wakakakkk,

  6. damai dan bahagia bukan karena sudah memeluk agama.. saya setuju dengan itu mbah!
    damai dan bahagia klo bagi saya adalah ketika saya istilahnya “mau/bisa berbuat baik” walau sederhana.. misal menaruh sampah di tempatnya ato sekedar nganterin mbak dian sastro dan luna maya ke pasar hehehe ;3

    1. Semoga sehat Kang Yudha. Lama kagak muncul nih.
      Berbuat baik memang tidak prlu muluk2, dimulai dari hal kecil dan sederhana, Contohnya juga sangat tepat dan enak yaitu ngatar Mbak DIan Sastor dan Luna Maya kepasar. Wakakakkk

  7. waduh,,,
    jian kok yang d ubek” kie masalah sing berat berat tow pk dhe,
    lha klo aku yang ngomong msalah agama opo yow tekan, apa sudah nyampe klo nyoba ikut nimbrung d cini..
    maaf ngapunten poro sedulur handay tolan,
    manusia bin menungso kie yang nggawe yow Tuhan, gk tw mw orang mau nyebut atw manggil apa kepadaNya,
    terserah mau manut atw ngikut wersi mbah darwin, atw ngikut versi mbah adam, tapi agama ada jelas karan tuhan udah mencipta manusia, klo manusia gk ada blum tentu agama atw panutan bin kepercayaan itu ada,
    singkatnya,
    tuhan bikin manungso, manusia bikin budaya krna berkembang biak dan berkelompok kelomp[ok, tiap kelompok punya panutan kepercayaan atw bisa d sebut agama,, entah ateis atw apapun namanya,

    ning memang ironis agama yg punya tujuan bagus, karn rata” semua agama mengajarkan kebaikan, tapi kadang terjadi pertentangan yang banyak makan korban ,,,

    semakin nyoba ngomon n nulis malah gk karuan kie mbah
    jian ra tekan tenan yend ajak ngomong sing abot

  8. salam Kang Js dan yang lain . . . mau ikutan ngobrol aaah tentang ALLAH / TUHAN Pada tahun 2007, otoritas Islam Majelis Agama Negeri Perlis mengeluarkan FATWA bahwa: “Tidak ada yang salah sama sekali dengan non-muslim menggunakan nama Allah.” Gejala fundamentalis demikian memang baru karena orang Arab sendiri baik yang beragama Kristen, Yahudi maupun Islam dari dahulu sampai sekarang menggunakan nama “Allah” itu bersama-sama untuk menunjuk Allah Monotheisme Abraham yang mereka sembah meskipun masing-masing agama memiliki pengajaran (doktrin/akidah) yang berbeda. Sekalipun pengadilan Malaysia dan banyak ulama tidak melarang penggunaan nama itu, namun adanya sentimen kelompok radikal tertentu dalam agama yang memaksa kehendak mereka terhadap kelompok agama lain menjadikan pencekalan dan tindakan anarki itu terjadi. Gejala fundamentalisme demikian juga terjadi di kalangan sekte (bidat) Kristen di Indonesia yang terpengaruh Yudaisme (Gerakan Nama Suci) yang juga memaksakan kehendak mereka dan ada yang menuntut badan-badan Kristen ke pengadilan agar menarik semua Alkitab dan buku-buku Kristen yang memuat nama “Allah”, namun dengan motivasi berbeda. Kelompok sekte Kristen ini mengganggap bahwa nama ‘Allah’ adalah nama untuk mengacu pada Hubal (Dewa bulan) yang disembah bangsa Arab. Jadi menurut mereka nama ‘Allah’ dalam Alkitab sebaiknya diganti dengan nama diri “Yahweh” (YHWH) yang merupakan Elah Yisrael (Allah Israel). Mereka tidak mengetahui dan memahami bahwa sebelum zaman Muhammad dan Islam, orang Arab yang beragama Yahudi dan Kristen sudah menggunakan nama ‘Allah’ untuk mengacu kepada Yahweh (YHWH) dan Yesus Kristus. Jadi permasalahannya bukan terletak pada nama Allah itu sendiri, tetapi kepada Oknum Tuhan yang manakah orang menyembah dengan menggunakan nama ‘Allah’. A. Allah dalam bahasa Arab Apakah nama “Allah” itu milik agama Islam? Kalau benar, mengapa sudah digunakan jauh sebelum agama Islam lahir? Nama Allah sudah ada setua kelahiran bahasa Arab. Jauh sebelumnya di Mesopotamia di mana rumpun Semitik bermula, orang-orang sudah mengenal nama El atau Il sebagai nama dewa tertinggi dalam pantheon Babilonia namun bagi sebagian besar keturunan Sem (di mana nama rumpun Semitik berasal) nama itu dimengerti sebagai Tuhan Yang Mahaesa Pencipta Langit dan Bumi. 1) Nama El berkembang ke wilayah utara dan barat menjadi Ela atau Elah dan di daerah Aram-Siria nama itu disebut Elah/Alaha dan di kalangan Ibrani disebut El/Elohim/Eloah. 2) Nama Il berkembang ke wilayah timur dan selatan menjadi Ila atau Ilah dan di kalangan Arab disebut Ilah/Allah. Catatan tertua pada milenium kedua sebelum zaman Yesus Kristus menyebutkan, keturunan Abraham yang disebut suku-suku Arab, khususnya Ibrahimiyah dan Ismaelliyah yang dikenal sebagai kaum Hanif (jamak: Hunafa) menyebut nama “Allah” sejak berkembangnya bahasa Arab. Ensiklopedia Islam menyebut bahwa: “Gagasan tentang Tuhan yang Esa yang disebut dengan nama Allah, sudah dikenal oleh bangsa Arab kuno…..kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah Hunafa, sebuah kata yang pada asalnya ditunjukan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail.” (hal. 50-51). Inskripsi suku Lihyan mengungkap catatan abad ke-5/6 SM (semasa Ezra) bahwa nama ‘Allah’ sudah digunakan. Ada yang memberi stigmatisasi bahwa “Allah” adalah nama berhala Siria kuno namun kenyataannya inskripsi Lihyan sebagai pusat penyembahan “hlh” sehingga nama ‘Allah’ tidak tertuju untuk “dewa Siria”. B. Allah yang Esa dan Kekal Perlu disadari bahwa inskripsi di Arab utara (Sabean, Lihyan, Tamudic, Safaitic) menunjukan bahwa Lihyan merupakan pusat penyembahan “Allah” dan disana berkembang dialek-dialek Arab yang mana ada yang menggunakan kata sandang “al”, tetapi juga “ha” untuk menunjukan Tuhan yang satu itu. Winnet dalam penelitiannya atas inskripsi Lihyan menyebutkan bahwa pujian kepada Allah dalam inskripsi itu bersifat netral dan bisa diarahkan kepada sesembahan oknum mana saja tetapi teks Lihyan menunjukan adanya kata kunci “abtar” yang hanya ada dalam Al-Qur’an (QS.108) yang mengarah kepada ‘Allah yang Esa dan Kekal’ (QS.112). “Inskripsi Arab utara. …Nama-nama Allah pertama menjadi umum di teks Lihyan. …Bukti ditemukannya nama Allah menunjukan bahwa Lihyan adalah pusat penyembahan Allah di Arab. “Orang Siria menekankan kata benda umum “allah” (‘a’ kecil) menjadi nama diri dengan menambahkan nama elemen “a” : allaha = “the god” lalu menjadi “God” ketika orang Lihyan mengambil alih nama diri Allaha, nama itu diarabkan dengan menghilangkan elemen “a” sehingga menjadi Allah.(F.V.Winnet, Allah before Islam, dalam The Muslim world, Vol.38,1938,hlm.245-248). Inskripsi Lihyan abad ke-5/6 SM berada di Arab utara berasal dari bahasa Nabatea Arami yang letaknya tidak jauh dari Yerusalem yang dikenal Kitab Ezra dan Daniel yang sezaman yang memuat nama Aram “Alaha” yang ditujukan kepada “Elah Yisrael” / Allah Israel. (Ezra 5:1; 6:14). Lagipula, pendahulu suku Lihyan adalah suku Dedan yang adalah keturunan Dedan cucu Ketura, isteri Abraham, tentu ada kaitannya dengan kaum Hanif. Studi yang sama dikemukakan Trimingham dalam bukunya Christianity Among the Arabs in Pre-Islamic Times, yaitu bahwa nama “Allah”, sudah lama digunakan di kalangan suku-suku Arab, termasuk oleh orang Kristen dan berasal dari “Alaha” Aram yang dalam Kitab Ezra ditujukan kepada “Elah Yisrael”. Bahasa Arab diketahui berkembang dari nabati-Aram. (penekanan ditambahkan, Red). Jadi, adanya dugaan bahwa “Allah” sesembahan Lihyan itu adalah Dewa Siria SANGATLAH TIDAK BENAR tetapi telah diketahui bahwa nama itu (Allah) ditujukan kepada “Alaha” Aram yang menunjuk kepada “Elah Yisrael” (Allah Israel). NAMA ALLAH DI KALANGAN ARAB KRISTEN Berbeda dengan anggapan bahwa orang Yahudi dan Kristen Arab semula menyebut Al-Ilah dan baru pada masa Islam mereka dipaksa menggunakan nama “Allah”. FAKTA SEJARAH menunjukan bahwa sejak awal orang Arab beragama Yahudi dan Kristen sudah menggunakan nama ‘Allah’ dalam Ibadat mereka. Nama ‘Allah’ digunakan di kalangan Arab beragama Yahudi dapat diketahui bahwa sebelum Islam lahir ada Imam Sinagoga di Medinah yang bernama Abdallah bin Saba, dan di kalangan Kristen penggunaan nama ‘Allah’ juga banyak digunakan. Kekeristenan di daerah Arab sudah sudah dimulai sedini abad pertama dimana orang Arab sudah mendengar khotbah Yesus (Markus 3: 7-8) dan di hari Pentakosta mereka mendengar dalam bahasa Arab (Kis. 2:11), dan Paulus mengunjungi jemaat Kristen Arab (Galatia 1: 17). Pada tahun 244 seorang Arab Kristen Philip the Arab menjadi Kaisar Roma dan pada Konsili Nicea (325) hadir 6 uskup Arab dari kawasan imperium Romawi dan 3 uskup lainnya dari kawasan Arab non-Romawi. Hal ini menunjukan bahwa umat Kristen Arab dengan bahasa Arabnya sudah menyebar bahkan menduduki jabatan tinggi Kaisar Romawi dan Uskup jemaat Arab. Peter Pacerillo, arkeolog Franciscan menemukan rumah-rumah di Siria, Lebanon dan Palestina dari abad ke-4 (300 tahun sebelum Islam) dengan inskripsi “Bism Ellah al Rahmani al Rahimi” (Dalam nama Allah yang pengasih dan penyayang), sedangkan pada Konsili Efesus (tahun 431) hadir Uskup Arab bernama Abdellas (Abdullah, band. dengan “Wahab Allah” yang diterjemahkan ke bahasa Yunani sebagai “ouaballas”). Dalam fragmen pra-Islam yang ditemukan pada tahun 1901 di Damaskus ada teks LXX Mazmur 78 di mana “hotheos” (Elohim) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab yang ditulis dengan aksara (abjad) Yunani sebagai “allau” (ayat 22, 31, 59), dalam inskripsi itu huruf “ha” Arab ditulis sebagai “upsilon” Yunani. Bambang Norsena SH yang mengambil pascasarjana dalam sastra Arab di Kairo selama 2 tahun, dalam bukunya menyatakan bahwa sebelum zaman Islam, pemakaian istilah ‘Allah’ di lingkungan Kristen bisa dilihat dari sejumlah inskripsi dari masa pra-Islam yang ditemukan disekitar wilayan Siria di mana nama Al-Ilah dan Allah disebut. “Ada 2 inskripsi penting: pertama, inskripsi abad (tahun 512 / abad ke-6) yang diawali dengan rumusan “Bism al-Ilah” (Dengan nama Al-Ilah) yang kemudian disusul dengan nama-nama Kristen Syria dan kedua, inskripsi “Umm al-jimmal” (juga berasal dari abad ke-6 M) yang diawali dengan ucapan “Allahu ghafran” (Allah mengampuni).” (History of Allah, hlm 10). Inskripsi “Allahu ghafran” digambarkan dengan jelas dalam buku Islamic Caligraphy oleh Yasin Hamid Safadi (London: Thames and Hudson Limited, 1978, hlm.6). Noorsena juga menyebutkan bahwa ada teks Aram Suryani masa itu dimana nama Alaha diterjemahkan menjadi teks Allah Arab: “Risalah fit at Tadbir al-Khalash li Kalimat Allah al-Mutajjasad (Bahasa Suryani Arab), karya Mar Ya’qub al-Rahawi (James of Eddesa), Buku ini diawali kalimat: Allah……, menerjemahkan teks asli yang diawali: Alaha….(Teks asli Suryani ditulis tahun 578 M)”. (The History of Allah, hlm.12). Allah sudah dikenal di Arab, Ia adalah satu dari banyak sesembahan yang disembah di Mekah kemungkinan sebagai Tuhan yang Mahakuasa dan tentu saja Tuhan pencipta. Ia sudah dikenal sejak dulu sebagai “Allah,”Al-Ilah (asal kata yang paling mungkin, saran lainnya adalah “Alaha” Aram). (Brill, vol I hlm.406). “Sebagian besar beranggapan nama diri Allah ada asalnya (mushtakk, mankul), kontraksi al-ilah, dan menganggap ilah adalah tiga huruf akar kata.” (Brill, vol III hlm. 1093). “Allah merupakan suatu nama Hakikat atau kepercayaan yang bersifat mutlak. Agaknya kata Allah merupakan pengkhususan dari kata al-ilah, ….Nama Allah telah dikenal dan dipakai sebelum Alquran ada…, Kata itu tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang, oleh umat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan.” (Glasse, Ensiklopedia Islam, hlm.23). Selain dalam inskripsi dan nama, sejak awal Injil bahasa Arab juga menggunakan nama “Allah”. Alkitab Peshita dalam bahasa Aram ditulis pada abad ke-2 di mana El/Elohim/Eloah Ibrani ditulis “Elah/Alaha”. Seperti diketahui dari inskripsi Lihyan abad ke-5/6 dan sejarah bahasa bahwa “Alaha” Aram menurunkan “Allah” Arab Nabatea dan bahasa Arab. Dalam injil karya pernulis Gnostik “Apokrif Infancy Gospel of Thomas” (injil Tomas) pada abad ke-2, ada cerita mengenai Allah yang mengizinkan Yesus membuat mujizat burung dari tanah liat yang akhirnya dikutip dalam injil Anak-anak apokrif dalam bahasa Arab ‘injilu’t Tufuliyyah’ dan kemudian diceritakan dalam Alquran (QS 5 110). Pada abad ke-3 Origenes menulis dalam introduksi Hexapla bahwa ia berkonsultasi dengan salinan bahasa lain termasuk Arab, paling tidak ini berarti bahwa pada abad ke-3 sudah ada fragmen Alkitab dalam bahasa Arab. Data Alquran sendiri mendukung adanya penggunaan nama ‘Allah’ sebelumnya dan menyebut bahwa pada masa Islam, di Gereja dan sinagoga sudah banyak disebut nama ‘Allah’, itu berarti bahwa pada masa pra-Islam nama ‘Allah’ sudah digunakan oleh umat Yahudi dan Kristen. Sebelum menjadi nabi bagi umat Muslim, Muhammad pernah berelasi dengan biarawan Nestorian (bidat Kristen) Waraqah ibn Nawfal yang adalah sepupu Khadijah (Isteri Muhammad). Dari kenyataan di atas kita mengetahui bahwa pada masa dahulu, apalagi pada masa bahasa lisan pratulis, penggunaan nama “Allah” terjadi sebagai derivasi Allaha Aram, padanan/kontraksi Al-Ilah, maupun sebagai nama yang berdiri sendiri. Tetapi menarik untuk disimak bahwa di Timur Tengah, penggunaan nama Allah oleh mereka yang beragama Yahudi, Kristen dan Islam yang berbahasa Arab dilakukan bersama tanpa masalah sejak awalnya PENGGUNAAN NAMA ALLAH DALAM ALKITAB Tidak menutup kemungkinan bahwa di kalangan Arab Lihyan dan Arab Jahiliah pra-Islam, selain kaum Hanif/Hunafa yang menyembah Allah Monotheisme Abraham/Ibrahim, ada juga penyembah-penyembah berhala yang menyebut dewa mereka dengan sebutan ‘allah’ pula (“a”kecil). (penekanan ditambahkan, Red). Dalam sejarah Arab, masa jahiliah pra-islam lah yang disebut sebagai masa sinkretisme yang diimpor berhala asing, sehingga banyak yang menyembah berhala (termasuk dewa bulan “Hubal”). Hubal adalah berhala yang disembah oleh bangsa Arab sebelum zaman Islam. Hubal dilambangkan dengan bulan sabit. Namun, tampaknya pada masa Islam hadir, keyakinan monotheisme kaum Hanif itu dipulihkan kembali. “Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan nama ‘Allah’ sudah dikenal oleh bangsa Arab kuno. …Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah Hunafa (tunggal: Hanif), sebuah kata yang pada asalnya ditujukan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail. Menjelang abad ke-7 kesadaran agama Ibrahim dikalangan bangsa Arab ini telah hilang dan kedudukannya digantikan oleh sejumlah pemujaan berhala,…dalam 20 tahun seluruh tradisi Jahiliyyah tersebut terhapus oleh ajaran ‘tuhan’ yang terakhir, yakni Risalah Islam.” (Ensiklopedia Islam, hlm. 50-51). Di kisahkan bahwa Muhammad dengan para pengikutnya berperang menghancurkan para pemuja berhala dan menghancurkan patung-patung berhala mereka, salah satu diantaranya adalah Hubal. Sekalipun Muhammad menghancurkan segala patung berhala di tanah Arab namun agaknya ia tidak berniat untuk menghancurkan batu Hajar Aswad (batu hitam), yang merupakan batu yang disembah oleh salah satu suku di tanah Arab. Alquran menyebutkan bahwa Muhammad sangat menghormati batu itu dengan menciuminya.(paragraf ini ditambahkan,Red) Kemerosotan dan penyimpangan penggunaan kata ‘Allah’ tidak hanya terjadi di kalangan Arab, sebab dikalangan Israel pun kemerosotan yang sama juga terjadi. “Elohim” di samping untuk menyebut “Pencinta langit dan bumi” (Kejadian 1:1) juga digunakan untuk menyebut dewa “berhala anak lembu” (Keluaran 32: 1.4) dan bahkan juga dirayakan sebagai Yahweh (Keluaran 32:4). Penyimpangan penyembahan bangsa Israel ini mendatangkan murka Yahweh sehingga bangsa Israel menerima hukuman atas dosa besar yang telah diperbuatnya. Jadi disini kita melihat bahwa yang menjadi masalah bukan nama “Elohim/Allah” itu sendiri, melainkan apa kandungan akidah/pengajaran dibalik nama itu yang secara berbeda-beda diajarkan dalam Kitab Suci masing-masing agama. Kebenaran sejarah tidak dapat diubah dan perlu disadari bahwa nama “Ilah/Allah” (Arab) memiliki asal mula yang sama (cognate) dengan El/Elohim/Eloah (Ibrani) dan Elah/Alaha (Aram) ataupun El/Il Semitik (Mesopotamia) yang dipercayai beberapa agama sebagai dewa, tuhan tertinggi tetapi juga digunakan sebagai “Tuhan Yang Maha Esa Pencipta langit dan bumi”. Perlu di sadari bahwa sekalipun agama Yahudi (Tanakh), Kristen (PL+PB) dan Islam (Alquran) dalam bahasa Arab menggunakan nama Allah yang sama dan menyebutnya sebagai “Tuhan Monotheisme Abraham/Ibrahim” ketiganya mempercayai pengajaran (doktrin/akidah) yang berbeda sesuai Kitab Suci masing-masing. Kerancuan terjadi karena mencampuradukkan nama “Allah” sebagai nama sesembahan semitik/abrahamik dalam bahasa Arab dan pengajaran (doktrin) mengenai Allah yang sama itu. Karena itu, kalau mau membandingkan adalah: antara Allah Arab Kristen dibanding Allah Arab Islam. Hal ini agar tidak terjadi kesalah pahaman dan kerancuan. Coba kita simak wejangan Dr Olaf Schuman, teoloh Kristen Jerman yang fasih berbahasa Arab yang selama 3 tahun belajar dan mengajar di Universitas Al-Ashar di Kairo: “Memang tidak dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun, yang menjadi masalah adalah soal dogmatika atau akidah, sebab tiga agama itu (Yudaisme, Kristen, Islam) mempunyai faham dogmatis yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakikatnya maupun pula mengenai cara penyataan dan tindakan-tindakannya.” (Keluar dari Benteng-Benteng Pertahanan, hlm.177). A. Alkitab bahasa Arab Sejak awal, nama Allah terus digunakan dalam Alkitab bahasa Arab, termasuk delapan versi yang sekarang digunakan oleh sekitar 29 juta umat Kristen Arab di seluruh dunia. Pada tahun 1671, gereja Katolik Roma menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Arab di Roma dan terjemahan lengkap terbit tahun 1880, namun yang lebih populer dikalangan Protestan dan gereja Ortodok adalah “Arabic Bible” (Van Dijke, 1865) yang diterbitkan di Beirut. Catholic Translation of the Bible yang diterbitkan tahun 1880 kemudian direvisi pada tahun 1988. New Translation of the Arabic Bible (1988) yang disebut ‘Book of Life, an interpretative translation’ (Kitab Al Hayat, tarjama tafsiria) kemudian menjadi ‘New Arabic Version’ (1992), dan pada tahun yang sama terbit juga ‘Today Arabic Version’ (Good News). Dalam hubungan dengan kaum Muslim, pada tahun 1980-an, di Mesir ada kalangan Kristen yang menerbitkan Perjanjian Baru untuk dibaca oleh kalangan Muslim yang disebut ‘The Noble Gospel’ (Al-Injil Al-Syarif, 1990) dan seluruh Alkitab pada tahun 1999. Ada usaha menarik dari penulis Siria-Arab Mashaz Mallouhi (2008) yang mengumpulkan para pakar Arab Islam dan Kristen untuk duduk bersama membuat terjemahan Kitab Injil dan Para Rasul dengan nama ‘The True Meaning of the Gospel of Chirst’ ke dalam bahasa Arab modern yang ditujukkan kepada orang Arab Kristen ataupun Arab Islam yang sekaligus dimaksudkan sebagai pelajaran sejarah sastra Arab dengan membahas terminology bahasa Arab Alkitab yang sekarang sudah tidak umum digunakan dalam bahasa Arab modern. Semua versi Alkitab Arab hanya mengenal satu istilah untuk Tuhan, yaitu “Allah” (disamping Ar-Rabb untuk menyebut Adonai yang tertuju YHWH/Yahweh). Di Indonesia sejak masuknya agama Islam (abad ke-13) dan Kristen (abad ke-16), nama Allah sudah terserap dalam bahasa Melayu dan kemudian masuk kosa-kata bahasa Indonesia, dan sudah digunakan sedini ditulisnya terjemahan Alkitab Melayu pada tahun 1629 sampai terjemahan Alkitab Indonesia (LAI). Sekalipun Indonesia memiliki populasi Islam terbesar di dunia selama ini tidak ada yang mempersoalkan penggunaan nama “Allah” itu, karena para pakar dan ulama Islam pada umumnya mengerti bahwa nama Allah itu digunakan bersama dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam kecuali dipersoalkan oleh sekelompok kecil fundamentalis tertentu akhir-akhir ini. Di Malaysia, usaha penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu (BM) dimulai pada tahun 1974. Perjanjian Baru diterbitkan pada tahun 1976 dan Perjanjian Lama pada tahun 1981. Alkitab bahasa Melayu (BM) lengkap diterbitkan pada tahun 1987 oleh The Bible Society of Singapore, Malaysia and Brunei. Pada tahun 1990, dimulai penerjemahan ke bahasa Melayu sehari-hari dan pada tahun 1996 terbit Alkitab Berita Baik yang diterbitkan oleh The Bible Society of Malaysia. Semua Alkitab bahasa Melayu menulis nama “Allah”. ASAL MULA NAMA YAHWEH YANG MULAI TERUNGKAP Kisah pertemuan Musa dengan Tuhan menurut Al-Qur’an dan alkitab Al-Qur’an bercerita tentang pertemuan nabi Musa dengan Tuhan, ketika beliau keluar dari negeri Madyan untuk kembali ke Mesir. Di perjalanan, Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa. Al-Qur’an memuat kisah ini dalam 2 rangkaian ayat yaitu pada [QS 28:29-30] dan [QS 20 :9-14] [28:29] Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan”.[28:30] Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam (innii anaa allaahu rabbu al’aalamiina)[20:9] Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? [20:10] Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”. [20:11] Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. [20:12] Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa. [20:13] Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). [20:14] Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa fau’budnii wa-aqimi alshshalaata lidzikrii). Secara jelas Al-Qur’an menginformasikan bahwa Tuhan memperkenalkan diri-Nya dengan nama ‘Allah’ yang tiada ‘ilah’ selain diri-Nya. Informasi ini menunjukkan bahwa nama tersebut merupakan proper name dari Tuhan, bukan suatu istilah atau nama jabatan. Kita menemukan catatan alkitab terhadap peristiwa yang sama pada kitab Keluaran 3:2-14, dengan gaya bahasa yang ‘sangat manusiawi’ dan sedikit agak ‘complicated’ : Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” . Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? –apakah yang harus kujawab kepada mereka?” Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Dalam rangkaian cerita ini terlihat pemakaian istilah untuk Tuhan dengan bermacam-macam sebutan : Malaikat TUHAN, Allah dan TUHAN. Dalam terminologi Kristen, kata Allah adalah nama jabatan, sedangkan kata TUHAN merupakan terjemahan dari nama diri YHWH (sebagian Kristen melafadzkannya dengan Yahweh, sebagian lain Yehova atau Jehova). Tidak jelas apakah ketika Tuhan akan bertemu dengan Musa, malaikatnya ‘mempersiapkan jalan’ terlebih dahulu, lalu baru Tuhan muncul dan menyapa Musa, dan agak aneh juga ketika Musa menjawab ‘ya Allah’, maksudnya tentunya ‘ya Tuhan’ untuk menunjukkan bahwa Musa sudah mengerti yang menyapanya adalah Tuhan, dan dialog ‘nggak nyambung’ kembali terjadi ketika Tuhan melanjutkan dengan ‘Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub’, tentunya ini diartikan ‘Akulah Tuhan dari nenek-moyangmu sebelumnya’. Lagi-lagi dialog ini terlihat tidak nyambung karena dari jawabannya, Musa sudah mengetahui bahwa yang menyapanya adalah Tuhan, artinya Musa tentu memahami kalau Tuhan tersebut juga merupakan Tuhan dari nenek-moyangnya, kecuali kalau Musa memang belum mengerti. Setelah Tuhan menjelaskan siapa diri-Nya dan melanjutkan adanya perintah agar Musa untuk menyelamatkan kaumnya dari siksaan Fir’aun di Mesir, Musa terkesan ragu dan keraguannya tersebut bukan terkait dengan Fir’aun yang akan dihadapi, tapi justru ditujukan kepada kaumnya sendiri, Musa mengatakan ‘apabila aku mendapatkan orang Israel’ menunjukkan prediksi dia bahwa amanat yang akan dia lakukan akan mendapat tantangan dari kaum Israel sendiri, dan tantangan tersebut terkait dengan ‘siapa yang menyuruh Musa’. Kembali dialog terlihat aneh karena Tuhan sudah menyatakan bahwa Dia adalah Tuhannya nenek-moyang Musa sekaligus merupakan Tuhan dari kaum Israel yang akan diselamatkan, lalu mengapa Musa masih meragukan sikap dari kaumnya sendiri..??. Sebagian tafsir Kristen mengungkapkan perkataan Musa selanjutnya soal pertanyaan tentang nama Tuhan : “mah shemo?” [siapakah nama-Nya]. Dalam tata bahasa Ibrani, untuk menanyakan sesuatu atau seseorang, biasanya digunakan bentuk tanya “mi?” Namun penggunaan kata “ma” , bukan hanya bermaksud menanyakan nama secara literal namun hakikat atau pribadi dibalik nama itu. Lalu Tuhan menjawab ‘Aku adalah Aku’ dan ‘Akulah Aku yang mengutus kamu’. Lebih lanjut penafsiran dari link tersebut : “Ehyeh Asyer Ehyeh” yang artinya “AKU ADA YANG AKU ADA”. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan, “AKU ADALAH AKU”. Terjemahan ini tidak tepat. Jika “AKU ADALAH AKU”, seharusnya teks Ibrani tertulis “Anokhi hayah Anokhi”. Kata “EHYEH”, merupakan bentuk kata kerja imperfek [menyatakan sesuatu yang sedang berlangsung atau belum selesai] dari akar kata “HAYAH”. G. Johanes Boterweck dan Helmer Ringren dalam Theological Dictionary of The Old Testament menjelaskan, bahwa kata “Hayah” digunakan dalam Perjanjian Lama dan diterjemahkan dengan opsi sbb: {1} “Exist, be Present” [Ada, Hadir] {2}”Come into Being” [menjadi] {3} Auxilaries Verb [kata kerja bantu][f2]. DR. Harun Hadiwyono dalam bukunya Iman Kristen, menyatakan bahwa kata “Ehyeh” bermakna “Aku Berada” . Namun saya lebih cenderung menerjemahkannya menjadi “AKU [AKAN] ADA”. Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyatakan nama diri-Nya, hal ini berbeda dengan informasi Al-Qur’an yang menyatakannya dengan jelas bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Allah. Penyebutan nama Tuhan berdasarkan Al-Qur’an tersebut juga bukan berasal dari pertanyaan Musa yang ragu akan sikap kaumnya, tapi merupakan ‘inisiatif’ Tuhan sendiri. Al-Qur’an mencatat kekhawatiran Musa tertuju kepada Fir’aun, bukan kepada sikap kaumnya : [20:45] Berkatalah mereka berdua: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas”. [20:46] Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. Alkitab melanjutkan cerita bahwa pengenalan nama Tuhan dilakukan setelah Musa dan Harun menghadap Fir’aun dan meminta agar dia membebaskan kaum Israel dari penindasan, lalu Fir’aun bereaksi mempersulit pekerjaan kaum Israel (Keluaran 5:6-19) sehingga membuat Bani Israel berbalik menyalahkan Musa (Keluaran 5:20-21) lalu akibatnya Musa ‘memprotes’ Tuhan (Keluaran 5 :22-23). Setelah itu Tuhan menjanjikan bahwa Dia akan menaklukkan Fir’aun (Keluaran 6:1) lalu dilanjutkan dengan ‘proklamasi’ nama Tuhan secara berulang-ulang : Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Akulah TUHAN. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku. Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN.” Kata TUHAN merupakan terjemahan dari YHWH, suatu nama yang dianggap merupakan nama diri Tuhan dalam kekristenan. Kisah ini menjelaskan bahwa jawaban Tuhan sebelumnya atas keraguan Musa terhadap umatnya tidak bekerja dengan efektif, pernyataan ‘Aku adalah Aku’ tidak bisa meyakinkan orang-orang Israel begitu mereka mendapat tekanan dari Fir’aun sehingga Tuhan kembali menjelaskan siap diri-Nya dengan menyatakan nama dirinya YHWH, lalu dilanjutkan dengan janji-janji bahwa kaum Israel yang mau mengikuti Musa akan dibebaskan dari perbudakan dan diberikan negeri yang dijanjikan kepada nenek-moyang mereka. Ada satu pernyataan yang menarik disini, ketika Tuhan menegaskan bahwa nama YHWH tersebut belum dinyatakan kepada Abraham, Ishak dan Yakub sekalipun Tuhan telah membuat perjanjian dengan mereka. Lalu dengan memakai nama apa Tuhan membuat perjanjian..?? Katakanlah ada 2 pihak membuat perjanjian, seharusnya masing-masing pihak mencantumkan nama jelas yang menunjukkan identitasnya, lalu keduanya membubuhkan tanda-tangan diatas materai sebagai suatu ikatan yang mengikat bagi masing-masing. Sangat aneh kalau ada salah satu pihak tidak mencantumkan nama jelasnya, itu bukanlah suatu perjanjian. Dan lebih hebatnya lagi, kaum Israel tetap tidak mempercayai nama yang disampaikan Musa (Keluaran 6:9) Alkitab memuat informasi simpang-siur tentang kapan nama YHWH pertama kali diperkenalkan, saya sudah menulisnya disini : Persoalan ini memunculkan banyak teori dari kalangan Kristen sendiri, dan tidak ada satu pihakpun yang bisa memastikan mana dari pendapat mereka yang benar. Teori pertama, dikemukakan oleh John Mc.Faydyen. Menurutnya, para Patriakh atau leluhur Israel, belum mengenal nama Yahweh. Mereka hanya mengenal nama El Shaday. Nama Yahweh baru diungkapkan melalui Musa. Nama Yahweh diambil dari suku Keni dan Midian yang sudah tinggal lama di Horeb. Kemudian nama Yahweh diadopsi menjadi nama bagi Tuhan Israel. Teori kedua, dikemukakan oleh Thomas Scott dan Robert Jamieson. Menurutnya, ungkapan dalam Keluaran 6:3, bukan suatu pernyataan melainkan suatu bentuk pertanyaan, sehingga menghasilkan bentuk kalimat, “Namun dengan Nama-Ku Yahweh, belumkah/tidakkah Aku memperkenalkan diri pada mereka?”. Teori ketiga dari Henry Cowles. Dia menjelaskan bahwa Keluaran 6:3 merupakan kehadiran pewahyuan secara khusus mengenai nama Yahweh, namun bukan berarti untuk pertama kalinya nama Yahweh itu didengar oleh para leluhur Israel. Si penulis lalu menyatakan keberpihakannya kepada teori ketiga dengan menyatakan : Beberapa kesimpulan penting yang dapat kita peroleh dari kajian singkat ini adalah : Pertama, nama Yahweh sudah dikenal sejak zaman Adam [Kej 2:7], Enos [Kej 4:26] dan leluhur Israel Namun pada zaman Abraham, Yitshaq dan Yakob, sebutan El Shadai lebih populer dan familiar untuk menyebut nama Yahweh. Kedua, nama Yahweh disingkapkan secara definit dan ekslusif pada Musa demi tugas perutusannya. Nama Yahweh dihubungkan sebagai nama yang membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, nama yang dihubungkan sebagai pemberi Torah bagi Israel. Ketiga, makna kata “tidak” atau “belum” dalam Keluaran 6:2, bukan bermakna bahwa nama Yahweh sama sekali tidak dikenal. Merujuk pada pengalaman Hagar, yang menamakan Yahweh yang memberi air di padang gurun, sebagai El Roi, maka nama Yahweh sesungguhnya telah dikenal namun lebih familiar dengan sebutan-sebutan pengganti, untuk mensifatkan karakter dan karya-Nya. Dalam diskusi dengan penulis yang bersangkutan, saya menerima jawaban mengapa sampai nama YHWH tersebut tidak familiar dan populer pada jalan manusia sebelum Musa, jawabannya adalah :”Karena manusia semakin jauh terpisah dari Tuhan (Kej 3:24) maka bukan hanya mengakibatkan disorientasi hubungan personal dengannya melainkan pengetahuan mengenai nama pribadinya”. Ini jelas merupakan alasan yang kembali menimbulkan tanda-tanya : 1. Karena Kejadian 3:24 menceritakan Adam dan Hawa, kalau alasan tersebut yang dipakai maka seharusnya pihak yang ‘lupa’ dengan nama Tuhannya adalah Adam dan Hawa, namun pada Kejadian 4:1 justru Hawa-lah yang dinyatakan menyebut nama tersebut. 2. Kalau terkait dengan soal popularitas maka tentunya harus dijelaskan berapa banyak manusia sebelum jaman Musa yang bertindak jauh dari Tuhan dan berapa banyak yang merupakan hamba-Nya yang taat. Hal ini tidak bisa digeneralisir karena toh nama YHWH dikatakan sudah dikenal. Jelas alasan yang dikemukakan sangat lemah, dan teori-teori yang muncul disekitar simpang-siur informasi kapan nama YHWH tersebut pertama kali diperkenalkan tetap menjadi tanda-tanya… Asal-mula nama YHWH dan temuan Arkeologi Dari persepektif Islam, akan muncul pertanyaan :” Kalau Al-Qur’an menyatakan nama tersebut adalah ‘Allah’ sedangkan alkitab menjelaskan nama YHWH, lalu darimana asalnya nama YHWH tersebut..??”. Indikasi tentang asal-mula nama ini bisa kita dapatkan pada temuan arkeologi berupa prasasti yang dibuat dijaman Fir’aun Amenhotep III : Prasasti Amenhotep III Diperkirakan prasasti tersebut dibuat tahun 1400 BC pada pemerintahan Fir’aun Amenhotep III. Fir’aun ini termasuk salah seorang raja Mesir dari generasi ke-18, yaitu suatu generasi raja-raja Mesir yang berhasil melakukan perluasan wilayah kekuasaan menyebar sampai ke wilayah Syria dan Palestina sehingga terbuka kemungkinan untuk berinteraksi dengan suku-suku nomaden yang mendiami wilayah tersebut. Orang Mesir menjuluki suku-suku nomaden tersebut dengan ‘Shahu’. Al-Qur’an dan alkitab mengindikasikan bahwa Shahu ini merupakan kelompok-kelompok penyembah berhala [QS 7:138] dan Keluaran 23:23-24. Prasasti tersebut mengidentifikasi salah satu Shahu yang berada diwilayah Palestina dengan sebutan ‘the land of the Shasu of Yahweh’. Terdapat beberapa analisa dari para arkeolog soal nama ini : Now let us draw some conclusions regarding the Land of the Shasu of Yahweh. Since no geographical term that is anything like Yahweh has been identified, this suggests that the hieroglyphic phrase t3 sh3sw ya-h-wa should be translated as “the land of the nomads who worship the God Yahweh” rather than as “the land of the nomads who live in the area of Yahweh.” In addition, the fact that no geographical term anything like Yahweh has been identified also strengthens the likelihood that the words ya-h-wa in the Soleb and Amarah texts are indeed early mentions of the God of Israel. (Sekarang mari kita menarik beberapa kesimpulan tentang Tanah Shasu Yahweh. Karena tidak ada istilah geografis yang sesuatu seperti Yahweh telah diidentifikasi, hal ini menunjukkan bahwa frase sh3sw hiroglif ya t3-h-wa harus diterjemahkan sebagai “tanah suku nomaden yang menyembah TUHAN,” daripada sebagai “tanah suku nomaden yang tinggal di daerah Yahweh. “Selain itu, fakta bahwa tidak adanya istilah geografis yang mengidentifikasikan Yahweh juga memperkuat kemungkinan bahwa kata-kata ya-h-wa dalam teks Soleb dan Amarah memang awal menyebutkan dari Allah Israel). Para ahli tersebut berusaha untuk memunculkan istilah ‘Yahweh’ tersebut bukan merujuk kepada nama suatu tempat, tapi merupakan nama sesembahan dari suku nomaden tersebut. Amnehotep III berkuasa tahun 1390 – 1352 BC, jauh sebelum masa pemerintahan Ramses II dan Meneptah, berkuasa tahun 1279 – 1203 BC, yang merupakan Fir’aun yang diindikasikan sebagai masa hidupnya nabi Musa dan peristiwa eksodus sesuai informasi alkitab. Penyebutan nama tersebut memunculkan beberapa pertanyaan terkait dengan beberapa hipotesa tentang nama Yahweh dalam Perjanjian Lama : 1. Berdasarkan alkitab, nama Yahweh belum diperkenalkan sebelum peristiwa eksodus, lalu darimana suku nomaden penyembah berhala yang hidup di Palestina mengenal nama tersebut..?? 2. Kalau dipakai hipotesa yang lain yang menyatakan bahwa nama tersebut sudah diperkenalkan namun tidak populer (karena manusia yang hidup telah terpisah dari Tuhan) , lalu mengapa justru nama Yahweh lebih populer dikenal dari suatu suku nomaden penyembah berhala dan bukan didapatkan dari orang-orang Israel yang hidup ditengah-tengah bangsa Mesir sebagai budak..?? Fakta-fakta tersebut memunculkan suatu kemungkinan bahwa nama Yahweh sebenarnya berasal dari nama berhala yang disembah oleh suatu Shasu diwilayah Palestina, lalu orang-orang Israel yang diselamatkan Musa menyeberang ke wilayah tersebut mengadopsi nama itu menjadi nama Tuhan. Apakah ini mungkin terjadi..?? Kedegilan Bangsa Israel Kita harus terlebih dahulu mengungkapkan bagaimana sebenarnya perilaku kaum Israel pengikut nabi Musa ini. Alkitab menceritakan bahwa karakter mereka yang suka membangkang dan tidak tahu berterima-kasih, termasuk kecenderungan untuk menciptakan Tuhan selain Apa yang disembah oleh nabi Musa. Baru saja mereka diselamatkan dari bangsa Mesir dan menyeberang lautan, mereka mulai bertingkah banyak menuntut kepada Musa, bahkan ketika Musa tidak bersama mereka 40 hari karena sedang berada diatas bukti Sinai, mereka membuat patung sapi dari emas lalu menyembahnya, sehingga Musa sampai marah dan membanting loh-loh batu berisi hukum-hukum Taurat yang didapatnya dari Tuhan. Kerepotan Musa terhadap kelakuan kaumnya ini tercatat pada Kejadian 15 s/d 20 dan Kejadian 32. Sampai akhirnya Tuhan dan Musa sendiri menyatakan ‘prediksi’ tentang masa depan bangsa ini : Ini kata Tuhan pada Ulangan 31:16-18 TUHAN berfirman kepada Musa: “Ketahuilah, engkau akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu dan bangsa ini akan bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke mana mereka akan masuk; mereka akan meninggalkan Aku dan mengingkari perjanjian-Ku yang Kuikat dengan mereka. Pada waktu itu murka-Ku akan bernyala-nyala terhadap mereka, Aku akan meninggalkan mereka dan menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, sehingga mereka termakan habis dan banyak kali ditimpa malapetaka serta kesusahan. Maka pada waktu itu mereka akan berkata: Bukankah malapetaka itu menimpa kita, oleh sebab Allah kita tidak ada di tengah-tengah kita? Tetapi Aku akan menyembunyikan wajah-Ku sama sekali pada waktu itu, karena segala kejahatan yang telah dilakukan mereka: yakni mereka telah berpaling kepada allah lain. Ini kata Musa seperti yang tercatat pada Ulangan 31:24-29 : Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum Taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan yang penghabisan, maka Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian TUHAN, demikian: “Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati. Suruhlah berkumpul kepadaku segala tua-tua sukumu dan para pengatur pasukanmu, maka aku akan mengatakan hal yang berikut kepada mereka dan memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap mereka. Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu.” Bahkan sampai dijaman Yesus Kristus, alkitab mencatat kelakuan bangsa Israel ini melalui kecaman Yesus terhadap mereka, seperti yang ada dalam Matius 23:13-36 : Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh, dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? Sebab itu, lihatlah, Aku (coba diganti dengan : Allah) mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!” Informasi ini menunjukkan bahwa keingkaran bangsa Israel terhadap nabi-nabi mereka terjadi terus-menerus mulai dari jaman Musa sampai ke jaman Yesus Kristus. Indikasi alkitab tentang kelakuan bangsa Israel ini dikonfirmasi oleh Al-Qur’an : [7:138] Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”. [7:139] Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Informasi dari alkitab dan Al-Qur’an ini membuka peluang bahwa masuknya Tuhan selain apa yang diajarkan kepada bangsa ini merupakan suatu keniscayaan, bahwa suatu waktu ketika Musa telah meninggal, maka bangsa Israel akan menyembah Tuhan yang lain. Lalu bagaimana cara menjelaskan mengapa nama Yahweh ini bisa masuk kedalam Perjanjian lama..?? Terdapat penelitian para ahli alkitab yang menyatakan bahwa 5 kitab pertama dari Perjanjian Lama yang disebut sebagai Taurat/Pentateuch yang semula diklaim ditulis oleh Musa, merupakan hasil tulisan banyak orang yang dilakukan setelah Musa, sekalipun sebagian isinya memang merupakan ajarannya. Kitab yang berisi informasi tentang pertemuan Musa dengan Tuhan yang memunculkan nama Yahweh bukan tidak mungkin berasal dari orang-orang Israel setelah kematian Musa yang diprediksi sendiri oleh Musa akan melakukan penyimpangan terhadap apa yang sudah diajarkannya. Secara umum Documentary Hypothesis adalah teori yang mengatakan bahwa 5 kitab pertama dalam Alkitab (Pentateukh) tidak ditulis oleh seorang penulis, melainkan dikumpulkan dan diedit dari karya-karya lainnya oleh beberapa orang penulis. Sebagaimana halnya sebuah catatan sejarah, isi dan arah informasi yang terdapat didalamnya selalu terkait dengan kepentingan siapa yang menulisnya. Ketika bangsa Israel memasukkan nama Yahweh kedalam Taurat mereka, maka mereka memperkirakan akan munculnya pertanyaan dari orang-orang :”Mengapa nama tersebut tidak pernah disebut oleh nenek-moyang kita sebelumnya..??”, terlihat kesan bahwa ayat yang berbunyi ‘tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri’ sengaja dicantumkan untuk mengantisipasi pertanyaan ini. Namun penulis yang lain kemungkinan ingin memuat bahwa nama ini sudah dikenal dan disebut oleh nenek-moyang mereka karena nama Tuhan yang tidak dikenal sebelumnya dan tiba-tiba muncul pada jaman Musa terlihat tidak begitu meyakinkan, lalu sipenulis tersebut memunculkan penyebutan nama tersebut pada Kejadian 2:7 dan 4:26. Kelakuan bangsa Israel ini terhadap kitab mereka makin memperjelas bahwa apa yang mereka buat merupakan suatu kitab sejarah yang tambal-sulam. Berdasarkan urut-urutan penjelasan diatas mulai penjelasan alkitab dan Al-Qur’an tentang peristiwa pertemuan Musa dengan Tuhan, pengungkapan beberapa hipotesa terhadap kapan pertamakali munculnya nama Yahweh, temuan dan analisa prasasti Amenhotep III, informasi kedegilan bangsa Israel, pendapat ilmiah tentang sipenulis Taurat/Pentateuch, maka kita bisa menarik suatu benang merah akan kemungkinan nama Yahweh tersebut merupakan nama yang dimunculkan belakangan oleh bangsa Israel, diadopsi dari suatu nama berhala yang disembah oleh sebuah kaum nomaden di wilayah Palestina.. A. Sebutan Tuhan Sahabat-sahabat, kadang kita terlalu cepat ‘memagari diri’ dari istilah-istilah yang kita anggap tidak berada dalam domain yang sama dengan agama kita. Terlalu cepat ‘mengkafirkan’. Bukan mengkafirkan orang lain, tapi mengkafirkan bahasa (lain). Dengan memagari diri seperti ini, apalagi dengan didahului prasangka, maka dengan sendirinya kita akan semakin sulit saja memahami hikmah kebenaran yang Dia tebarkan di mana-mana. Padahal, dalam Qur’an pun Allah menjelaskan bahwa beragam bahasa adalah tanda dari-Nya juga. “Dan diantara ayat-ayatnya ialah menciptakan langit dan bumi, dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat bagi orang-orang berilmu (’Alimiin).” Q.S. 30 : 22. Jika ada orang menyebut tuhannya sebagai Yehovah, Eloh, Eloheim, atau Adonai, mekanisme dalam pikiran kita mendadak seperti mencipta imaji-imaji bahwa ada banyak tuhan yang sedang berjejer, sesuai urutan sesembahan yang ada sepanjang masa. Ada tuhan yang disebut Yehovah, Eloheim, Jahveh, Brahma, Manitou, Zeus, Allah, Tuhan Alah, dan lain sebagainya. Sedangkan yang kita sembah adalah yang disebut Allah, yang lainnya bukan, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tuhan kita dan agama kita. Pokoknya thoghut, atau kafir. Benarkah begitu? Bukankah Tuhan hanya satu? Bukankah ‘Laa ilaaha Ila’Llah’ artinya tiada Tuhan selain Allah? Wallahu ‘alam, meski saya mengerti bahwa Tuhan hanya satu, tapi saya belum mengetahui secara total makna lahiriyah maupun batiniyah dari kalimat syahadat itu. Tapi setidaknya, bukankah cara berfikir yang seperti tadi juga berarti bahwa tanpa sadar pikiran kita telah menyejajarkan Dia dengan selain-Nya? Atau, secara halus dan tersamar sekali, itu artinya kita masih mengakui bahwa ada banyak entitas dalam satu himpunan tuhan, dan Allah adalah salah satu dari yang ada dalam himpunan itu. Bukankah itu keterlaluan? Istilah ‘Allah’ sudah ada sejak sebelum Al-Qur’an turun. Sebelum junjungan kita Rasulullah menerima wahyunya yang pertama, bangsa Arab sudah menggunakan kata- kata ‘demi Allah’ jika mengucapkan sumpah. Hanya saja, mereka juga sering menyebut nama patung-patung mereka, ‘demi Lata’ atau ‘demi Uzza’, ‘demi punggung istriku’, atau bahkan ‘demi kuburan ibuku’, dalam sumpah mereka. Kapan istilah ‘Allah’ pertama kali dikenal manusia? Tidak tahu persis. Diperkirakan tidak akan jauh dari periode kemunculan agama Islam yang dibawa Rasulullah di tanah Arab. Tapi apakah berarti, pada periode sebelum itu, Allah diam saja di langit sana, dan tidak memperkenalkan diri-Nya? Rasanya kok tidak demikian ya. Saya suka bertanya-tanya, misalnya dengan nama apa Allah mengenalkan diri-Nya pada nabi Ya’kub as dan nabi Musa as, nabi bangsa Bani Israil? Karena pada kenyataannya, bangsa yahudi sekarang tidak menyebut nama-Nya dengan sebutan ‘Allah’ yang sesuai dengan bahasa Arab. Kitab suci dari Allah yang kita kenal ada empat: Taurat, Zabur, Injil, dan kitab penutup dan penyempurna semuanya, Al-Qur’an. Taurat, atau Torah, turun kepada Nabi Musa as. Karena Musa adalah orang Bani Israil, tentu kitab yang turun pun berbahasa mereka, Ibrani. Demikian pula Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Semua turun dan disampaikan dengan bahasa penerimanya. Jadi, apakah salah jika orang yang kebetulan beragama lain, menyebut nama Allah dengan nama yang turun pada bahasa kitab mereka? Apakah itu Tuhan yang lain? Belum tentu. Sekali lagi, kita tidak boleh terlalu cepat ‘mengkafir-kafirkan’, termasuk mengkafirkan bahasa dan istilah. Ada banyak sekali irisan kemiripan bahasa-bahasa agama dalam sejarah. Sebagai contoh, nama ‘Allah’, sangat mirip dengan ‘Eloh’. Dalam kitab-kitab Ibrani, Tuhan disebut sebagai ‘Eloheim’. Dari asal kata ini, kita mengerti misalnya arti kata ‘betlehem.’ Dari asal katanya, Bethel dan Eloheim. ‘Bethel’ bermakna rumah, dan ‘Eloheim’ adalah Allah. Rumah Allah. Jika demikian, apa bedanya kata ‘Betlehem’ dengan ‘Baytullah’? Juga ‘Yehova’ atau ‘Yahwe’, sangat mirip dengan ‘Ya Huwa’, Wahai Dia (yang tak bernama). Yang agak ‘mencurigakan’, adalah inti ajaran Socrates, ‘Gnothi Seauthon’, yang artinya adalah ‘Kenalilah Dirimu.’ Dari segi makna, ini sangat mirip dengan inti hadits yang sering diulang-ulang oleh para sahabat Rasulullah maupun para sufi terkemuka, ‘man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu,’ mereka yang ‘arif tentang dirinya, akan ‘arif pula tentang Rabb nya.’ Esensinya sangat mirip: mengenal diri. Dan sebuah fakta yang tak kalah menariknya, sejarah mencatat bahwa Socrates adalah guru dari Plato, Plato guru dari Aristoteles, dan Aristoteles adalah guru dari Alexander of Macedon. Sosok yang terakhir ini oleh sebagian ahli tafsir disamakan dengan Iskandar Dzulqarnayn, sosok panglima yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an. Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua tuhan sama saja, yang berbeda hanya namanya. Atau dewa pada tiang totem yang disembah bangsa indian apache adalah Allah juga. Bukan begitu. Saya hanya mengatakan bahwa kita sebaiknya jangan terlalu ‘alergi’ dengan kata-kata agamis dari agama lain. Kita harus berhati-hati sekali untuk ‘mengkafirkan’ istilah. Sebab kalau ternyata salah, maka artinya kita ‘mengkafirkan’ sebuah hikmah atau sebuah tanda dari-Nya. Maka kita akan semakin jauh saja dari kebenaran. Bukankah Allah pasti menyebarkan jejak-Nya di mana-mana, sepanjang zaman? Dan jangan berfikir bahwa Allah hanya pernah dan hanya mau ‘muncul’ di agama kita saja. Ini berarti kita, sebagai makhluk, berani-berani menempatkan Allah dalam sebuah himpunan, ke sebuah konsep di dalam kepala kita. Himpunan deretan tuhan, atau himpunan kelompok agama. Allah adalah Tuhan. La Ilaha Ilallah. Dia ada di luar himpunan apapun. Dia tak beragama, dan tidak memeluk agama apapun. Karena itu, kita jangan berfikir, baik sadar maupun tidak, bahwa Allah ‘beragama Islam’. Agama diciptakan-Nya sebagai jalan untuk memahami-Nya, memahami kehidupan, dan memahami diri ini. Segala sesuatu Dia ciptakan dan Dia akhiri. Maka Allah adalah sumber dan akhir segalanya. Dua asma- Nya adalah ‘Al-Awwal’ dan ‘Al-Akhir’. Ini pun sebuah kebetulan yang menarik, karena bangsa Yunani kuno, bangsanya Socrates dan Plato, eyang guru dari Alexander tadi, juga menyebut salah satu nama yang dimiliki Tuhan mereka sebagai ‘Alpha Omega’, berarti ‘Yang Awal dan Yang Akhir’ (Alpha = Alif = huruf awal dalam alfabet yunani dan arab, simbol ‘awal’; sedangkan Omega = huruf terakhir dalam alfabet yunani, simbol ‘akhir’). Kemiripan yang sangat menarik, ya? B. Asma-asma Allah. Allah, adalah sebuah zat, sebuah entitas, yang tertinggi. Tak terbandingkan, tak terukur, tak terperi. Lalu apakah kita, sebagai makhluk, memungkinkan untuk menempatkan Dia ke dalam kepala kita, menaruhnya ke dalam sebuah konsep ‘nama’? Tentu tidak. Dia, secara utuh, secara menyeluruh, secara real, sesungguhnya tak bernama. Tak ada apapun yang bisa membungkus-Nya, termasuk sebuah nama. Lalu untuk apakah, atau nama-nama siapakah, yang berjumlah sembilan puluh sembilan sebagaimana diperkenalkan dalam Al-Qur’an, dan disusun sebagai ‘asma’ul husna’? Nah, itu adalah bukti begitu penyayangnya Dia pada makhluknya yang satu ini, manusia. Penjelasannya begini. Dia Yang Tertinggi jelas tak mungkin dibungkus atau terliputi oleh apapun, termasuk sebuah nama. Tapi Dia bersedia ‘menurunkan derajat-Nya’ demi supaya lebih dimengerti oleh manusia. Maka Dia memperkenalkan diri-Nya, bagi mereka yang ingin mengenal-Nya di tahap awal, dengan memisalkan dirinya dengan sifat-sifat manusia. Memisalkan diri-Nya dengan sifat-sifat yang memungkinkan untuk dideskripsikan dalam bahasa manusia. Ambil contoh, Ar-Rahmaan (Maha Pengasih) atau Ar-Rahiim (Maha Penyayang). Kita bisa memahami makna dua kata ini, karena sifat-sifat ini, pengasih dan penyayang, adalah sifat yang ada pada manusia. Tapi dari segi makna, kedua kata ini dalam memperkenalkan sifat-Nya sebenarnya telah mengalami degradasi makna yang amat sangat. Maha Pengasih, atau Ar-Rahmaan, adalah ‘hanya’ bahasa manusia yang paling memungkinkan untuk menggambarkan salah satu sifat-Nya. Tapi kedalaman makna istilah ini telah berkurang jauh sekali, karena Dia, yang Tak Terperi, memisalkan diri -Nya dengan istilah manusia yang jelas tak memadai untuk melukiskan diri-Nya yang tak terbatas. Dalam asma’ul husna, misalkan istilah ‘Ar-Rahim’, sebenarnya ‘hanya’ merupakan sebuah istilah yang masih memungkinkan untuk bisa terpahami oleh manusia. Sifat Penyayang-Nya yang asli, yang real, yang tidak bisa dimisalkan dengan bahasa manusia, adalah jauh, jauh, jauh lebih penyayang lagi, melebihi apa yang tergambar pada sepotong kata ‘Ar-Rahim’. Demikian pula untuk ke-98 asma asma Allah yang lain. Semua nama-nama tersebut, sebenarnya mengalami degradasi makna yang sangat jauh dari aslinya, demi supaya terpahami oleh kita, manusia. Sifatnya yang asli, tak terkira jauhnya melebihi apa yang mampu tergambarkan oleh sepotong kata dalam bahasa kita, manusia. Allah telah berkenan ‘merendahkan diri-Nya’ ke dalam sifat-sifat manusia, yang jauh, jauh lebih rendah dari kedudukan-Nya yang asli. Ia bersedia dipanggil dengan bahasa kita. Ini sebuah bukti kasihsayang-Nya yang amat sangat. Bisakah kita membayangkan, misalnya ada seorang raja yang kerajaannya mencakup lima benua, lalu bersedia turun berjalan di pasar kumuh dan mau dipanggil dengan bahasa pasar, seperti ‘Lu’, ‘Sia’, atau ‘Kowe’? Raja tentu akan sangat murka. Tapi Dia, Allah, tidak. Meskipun Dia Maha Tinggi kedudukannya, tapi Dia bahkan bersedia memperkenalkan diri-Nya lebih dahulu (!), dan membahasakan diri-Nya dengan bahasa manusia, dan mencontohkan sifat-Nya dengan sifat manusia. ‘Dia’ yang asli, sesungguhnya tidak bernama. Lalu istilah ‘Allah’ itu apa? Istilah itu ‘hanyalah’ bagian dari asma’ul husna, pada urutan yang pertama. Istilah ‘Allah’, menurut seorang ahli hikmah, sebenarnya sebuah simbol juga. Menurutnya, istilah ‘Allah’, yang terdiri dari: ‘alif’, ‘lam’, ‘lam’ dan ‘ha’, sesungguhnya merupakan singkatan dari kata bahasa Arab: ‘Al/Alif – li – li – hu/huwa’. ‘Al’ dalam bahasa Arab bermakna kata ganti tertentu, maknanya sama seperti ‘The’ dalam bahasa Inggris, atau seperti ‘El’ dalam bahasa Ibrani dan bahasa Spanyol. Maknanya, katakanlah, ’sesuatu’. Huruf ‘Alif’ bermakna ’sesuatu yang tegak’, ‘Allah’, atau bisa juga ‘yang mengawali’, mirip seperti alpha dalam aksara Yunani. Kata ‘Li’ dalam bahasa Arab bermakna ‘bagi sesuatu’, dan dalam lafaz ‘Allah’ kata ini diulang dua kali. Sedangkan ‘hu’ atau ‘huwa’ bermakna ‘Dia’. Jadi lafaz ‘Allah’, kata yang di dalam Al-Qur’an paling sering dipakai-Nya untuk menyebut diri-Nya, sebenarnya sama sekali tidak mencakup keseluruhan zat-Nya. Lafaz ‘Allah’ sebagai simbol, sebenarnya justru mempertegas bahwa ‘Dia’ adalah tak bernama. Mengapa demikian? Karena jika makna ini dibaca secara keseluruhan, maka “Al, li, li, hu” kurang lebih maknanya adalah ‘Sesuatu, yang baginya diperuntukkan, dan sesuatu ini diperuntukkan, untuk Dia.” Jadi artinya secara sederhana adalah, ‘(simbol) ini diperuntukkan, dan permisalan ini diperuntukkan, untuk Dia (yang tak bernama).” Dia yang asli, sebagai zat (entitas), sama sekali tak bisa diliputi oleh sebuah nama. C. Hadits Rasulullah yang mengandung simbol serupa. Kalau kita teliti dalam memperhatikan hadits berikut ini, kita akan mengerti bahwa Rasulullah bukan orang yang berkata dengan ‘pendapatnya sendiri’. Orang dalam tingkatan maqam seperti Rasulullan saw., tentulah setiap tindak tanduk dan perkataanya sudah sepenuhnya dalam bimbingan Allah swt. Tampak dari demikian akuratnya simbol-simbol yang digunakan, meskipun jika kita baca secara sepintas hadits ini sangatlah sederhana dan tidak bermakna dalam. Hanya kalau kita teliti, betapa dalam dan akuratnya simbol yang Beliau gunakan dalam kata- katanya. Kita lihat hadits berikut ini: Diriwayatkan dari riwayat Abu Hurairah ra.: Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat?” Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama?” Para sahabat menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan?” Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia kelak mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala.” [H. R. Muslim no. 267] Sepintas, hadits ini hanya berisi tentang melihat Allah di hari kiamat. Tapi kalau kita teliti lebih jauh perumpamaan yang digunakan dengan kacamata ilmu astronomi yang pada saat Rasul mengatakan hadits tersebut ilmu ini belum semaju sekarang, sebenarnya hadits ini juga menjelaskan bahwa ada bagian dari ‘Dia’ yang tak akan bisa kita kenali. Kita cermati perumpamaan bulan purnama yang dipakai beliau dalam hadits ini. Sebagaimana kita tahu, pada saat bulan purnama di langit malam yang cerah, kita bisa melihat bulan ’seluruhnya’. Kata seluruhnya ini saya beri tanda kutip, karena memang ’seluruhnya’ itu semu. Kita melihat –seakan-akan– bulan tampak seluruhnya dari mata kita. Kita, saat itu, seakan-akan bisa ‘mengenal’ bulan seluruhnya. Nah, di zaman modern ini, kita tentu mengetahui bahwa bulan adalah sebuah ’satelit,’ sebuah planet kecil yang mengelilingi bumi. Periode waktu rotasi bulan, sama persis dengan periode lamanya bulan mengelilingi bumi. Jadi, permukaan bulan yang menghadap bumi setiap saat adalah sisi yang sama persis, yang itu-itu saja. Tidak berubah. Demikian pula, ada sisi lain di balik bulan yang akan selalu tidak tampak dari bumi, yang setiap saat akan selalu membelakangi bumi, tidak akan pernah terlihat dari bumi. Dengan kata lain, jika kita berdiri di sisi bulan yang terlihat dari bumi, maka meski bulan berotasi sambil terus mengorbit mengelilingi bumi, kita akan selalu terlihat dari bumi. Sebaliknya, jika kita berdiri di sisi bulan yang tidak terlihat dari bumi, maka kita tidak akan pernah terlihat dari bumi pula. Gambar jelasnya seperti ini: Inilah sebabnya, sejak zaman manusia pertama ada hingga sekarang, permukaan bulan yang tampak dari bumi kelihatannya tak pernah berubah, karena sisi yang menghadap bumi senantiasa merupakan sisi yang sama. Di hadits ini, Rasul memisalkan Allah sebagai bulan purnama. Bulan, sebagaimana telah dijelaskan tadi, hanya ada satu sisi yang bisa terlihat oleh kita. Jadi, secara tersirat dalam hadits tadi, Rasulullah juga menjelaskan bahwa sesempurna- sempurnanya pengenalan seseorang akan Allah (seperti orang yang telah mencapai maqam para sahabat Beliau itu), sebenarnya barulah satu sisi dari Dia saja. Sisi yang memang Dia hadapkan sepenuhnya kepada manusia. Sisi inilah yang dalam bahasa agama disebut sebagai “Wajah-Nya.” Tapi sampai kapan pun, akan tetap ada sisi lain dari Dia yang tidak akan pernah terpahami oleh manusia (karena Dia sesungguhnya Maha Tak Terbatas). Dan keseluruhan ‘Dia’ secara utuh, yang bisa dikenali dan yang tidak, dalam bahasa agama disebut “Zat-Nya,” atau entitas-Nya, secara keseluruhan. Jadi sekarang kita bisa lebih memahami, jika dalam Al-Qur’an atau doa yang diajarkan Rasulullah mengandung kata-kata ‘wajah Allah’ atau ‘wajah-Nya (wajhahu)‘, maka itu bukan berarti bahwa Dia memiliki wajah di depan kepala seperti kita. Itu maknanya adalah, konteks ‘Dia’ dalam kalimat itu adalah pada sisi yang masih bisa kita kenali. Sedangkan Zat-Nya yang utuh tidak akan pernah bisa kenali. Mengenai zat-Nya, Al-Qur’an sendiri cukup menerangkan seperti ini: “…laysa kamitslihi syay’un” “… dan tiada sesuatupun yang bisa dijadikan permisalan untuk Dia.” (QS. 42 : 11) Rasul melarang manusia memikirkan zat-Nya, dalam sabdanya, “Berfikirlah kalian tentang makhluk Allah, dan jangan sekali-kali berfikir tentang zat-Nya, sebab kalian akan binasa.” Bahkan Beliau sendiri pun mengakui bahwa dirinya tidak memahami ‘Dia’ dalam konteks zat, sebab dalam sabdanya Beliau menjelaskan, “sesungguhnya aku adalah orang yang bodoh dalam ihwal zat Tuhanku.” Kembali pada contoh bulan di atas. Bulan, sesuai periode edarnya, akan tampak dari bumi bermacam-macam bentuknya, mulai dari bulan hitam (bulan tak tampak), bulan hilal, bulan sabit, bulan setengah, hingga bulan purnama. Sebenarnya demikian pula pengenalan manusia kepada Allah ta’ala. Ada yang tidak mengenal sama sekali (bulan hitam), ada yang pengenalannya setipis hilal, ada yang pengenalannya seperti bulan setengah, dan ada pula yang pengenalannya terhadap Allah telah ‘purnama’. Namun demikian, sebagai zat tetap saja Dia tidak akan pernah terpahami sepenuhnya oleh manusia, karena Dia adalah Maha Tak Terbatas. Dari sini saja, kita bisa mengerti bahwa faham panteisme, atau menyatunya Tuhan dan manusia sebagaimana yang dituduhkan kepada kaum sufi, adalah tidak tepat. Tentu mustahil sesuatu yang tak terbatas bisa terlingkupi oleh sesuatu yang terbatas. Agaknya yang dituduhkan pada kaum sufi sebagai panteisme atau penyatuan, sebenarnya yang terjadi adalah ’sirna kediriannya’. Contohnya seperti cahaya lilin yang akan lenyap cahayanya jika diletakkan di bawah cahaya matahari. Ini masih perlu kita kaji lebih lanjut. Atau paling tidak, agaknya tidak semua sufi meyakini panteisme. Seperti kata teman saya: “Sufi, pantheisme? Sufi yang mana dulu, nih?” Sekarang, dari cara Rasulullah memberikan contoh pada dalam hadits di atas, kita bisa lebih mengerti kira-kira sedalam apa akurasi hikmah dari kata-kata seseorang jika telah ada dalam tingkatan maqam seperti junjungan kita Rasulullah Muhammad saw. Tentu beliau tidak asal ambil contoh saja, seperti ketika kita sedang berusaha menerangkan sesuatu kepada orang lain. Sekarang semakin jelas pula bahwa segala sesuatu dari diri Beliau telah ditetapkan dalam bimbingan Allah ta’ala, bahkan sampai hal ’sepele’ seperti mengambil contoh yang tepat ketika menerangkan sebuah persoalan. Juga sebagaimana hadits Rasulullah tadi, segala sesuatu dalam ciptaan-Nya pun tidaklah semata-mata hanya sebagaimana yang tampak dari luar. Allah tentu tidaklah sesederhana itu. Seperti hadits tadi, segala sesuatu juga mengandung makna batin. Alam semesta, bulan, bintang, batu, hewan, tumbuhan, manusia, syariat (ada syariat lahir dan tentu ada syariat batin), dan lain sebagainya. Sedalam apa seseorang melihat maknanya, tentu sangat tergantung pada kesucian qalbnya, sarana untuk menerima ilmu dari-Nya. Kini kita bisa sedikit lebih mengerti pula, seperti apa kira-kira kesucian qalb Rasulullah saw, jika kata-kata Beliau mampu menyederhanakan kandungan makna yang sedalam itu (itupun baru yang bisa kita ungkapkan) dalam kesederhanaan simbol-simbol yang sangat akurat. Kalau Al-Qur’an? Lebih tak bisa kita bayangkan lagi seperti apa sesungguhnya kedalaman kandungan makna Al-Quran
  9. BANDUNG, KOMPAS.com — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung menilai tindakan polisi yang melarang jemaah Ahmadiyah di Bandung untuk melaksanakan shalat Id dan menyembelih hewan kurban adalah pelanggaran hukum. Polisi seyogianya memberikan perlindungan kepada warga negara, bukan melarang hak warga negara beribadah.

    “Pihak kepolisian tidak ada pembelaan terhadap korban, malah sebaliknya, padahal polisi menyaksikan secara langsung kejadian perusakan itu,” ujar Kepala Bidang Internal LBH Bandung Unung Nuralamsyah kepada wartawan di Bandung, Jawa Barat, Jumat (26/10/2012).

    LBH Bandung menyampaikan pandangan ini menanggapi langkah polisi yang memaksa jemaah Ahmadiyah Masjid An-Nashir, di Jalan Sapari, Kecamatan Astanaanyar, Bandung, untuk menandatangani pernyataan untuk tidak melaksanakan shalat Id dan menyembelih hewan kurban.

    Larangan ini menyusul aksi perusakan masjid oleh sekelompok orang pada Kamis (25/10/2012) malam. Kelompok ini merusak gerbang masjid, memecahkan beberapa kaca jendela, dan mengobrak-abrik barang-barang di dalam masjid yang telah berdiri sejak tahun 1948 itu.

    Menurut Unung, sikap polisi bisa disebut sebagai tindakan menghalang-halangi umat beragama dalam beribadah yang dijamin oleh konstitusi. “Polisi tidak menghormati perbedaan umat beragama,” kata dia.

    Selain itu, lanjutnya, polisi tidak bisa tegas menangani berbagai macam kekerasan yang terjadi di negeri ini. “Ini merupakan bukti bahwa negara ini lemah,” tegasnya.

    Editor :Heru Margianto

    (sumber : http:www,kompas.com)

    Adaa saja orang yang menghalalkan … kekerasan … Kebodohan masal ?

  10. ..ada sisi lain di balik bulan yang akan selalu tidak tampak dari bumi, yang setiap saat akan selalu membelakangi bumi, TIDAK AKAN PERNAH terlihat dari bumi..
    —————————————–
    ingin agar sisi itu dapat terlihat?
    silahkan kalo ada yg akan mendanai, utk proyek (yg berkesan ekstrim) menghentikan rotasi bulan,
    namun konsekuensinya bulan akan semakin cepat (melenceng) menjauhi bumi.

    hanya saja sisi yg selalu membelakangi itu telah/dapat diketahui manusia yang TETAP di bumi pula TANPA menghentikan rotasi bulan,
    simpelnya telah ada gugel erth, (termasuk) gugel mun, gugel mars, gugel skay ,,(^_^),,

    mengapa bisa terlihat hingga sebagai konten software itu?
    karena manusia jika berusaha dapat membuat lebih dari satu SATELIT penelitian,
    agar dapat melihat (maupun scr LIVE) sisi bulan yang TAK terlihat scr langsung/sebelum ada satelit buatan itu.

    dan yg lebih ambisius, sebagian manusia sedang berusaha untuk ‘membongkar’ rahasia apapun agar tidak lagi menjadi misteri sebagaimana khas masa lalu.

    ..Kebodohan masal ?
    —————
    mungkin hati nurani bisa ‘menjerit utk membangunkan’ akal dan pola pikir agar tidak bodoh maupun dibodohi. (^_^)v

  11. Semoga saja negeri ini yang mayoritas islam segera kiamat….negeri ini negeri aneh, sudah banyak setan dan iblis berbentuk manusia , iblis yang mengaku beragama dan mengatakan paling benar diatas bumi…

    Semoga saja Allah tidak menerima perlakuan mereka terhadap agama dan manusia faham lain . semoga Tuhan YME menhukum mereka dengasn memberikan hal yang nganehi nganehi supaya otak dan pola pikirnya tidak bebal dan tidak fanatik karena dogma dan doktrin…gila dan tidak waras karena penyampaian dari para penceramahatau guru agama ecek ecek yang mulutnya selalu keluar kebencian amarah dan dendam….sok benar dan sok suci…tidak ubahnya seperti iblis yang sudah dilaknat dan diusir dari surga…..

  12. Wakakakkk……saya tertawa ngakak membaca komentar Om Setan Pocong. Ternyata Setanpun doyan blog abal2? Seya sih maklum saja dengan komentar Om Pocong yang sepertinya ada benarnya juga dan layak dijadikan koreksi diri, setidaknya koreksi untuk diri saya. Pekerjaan setan sudah mulai diambil alih oleh manusia sehingga membuat banyak setan kehilangan pekerjaan dan akhirnya nyasar ke……blog abal2. wkakakkk……..

  13. Waspada Terhadap Islam Sempalan
    Islam itu sesungguhnya hanya satu, sebagai agama yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya dengan kesempurnaan yang mutlak :
    “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah : 3)
    Islam telah menjawab segala problematika hidup dari segenap seginya. Tetapi di masa kini sedikit sekali orang yang mengetahui dan meyakini kesempurnaannya.Ini sesungguhnya adalah sebagai akibat pengkaburan Islam dari warna aslinya oleh debu dan polusi bid’ah, sehingga mayoritas umat Islam amat rancu permasalahannya terhadap agamanya.

    Allah Ta’ala berfirman :
    “Barangsiapa yang menyimpang dari rasul setelah terang padanya petunjuk itu, dan mengikuti jalannya selain mukminin, Kami akan gabungkan dia dengan orang-orang sesat dan Kami masukkan dia ke neraka Jahannam.” (QS. An Nisa’ : 115)
    Islam itu sendiri adalah Jama’ah (satu kesatuan) dan yang menyimpang dari padanya adalah firqah (perpecahan).
    Allah berfiman :
    “Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan agama Islam ini dan jangan kalian berpecah belah dari agama ini ….” (QS. Ali Imran : 102)
    Sedangkan firqah itu tidak lain disebabkan oleh adanya orang-orang yang mengikut perkara syubhat (rancu) dalam agama ini dan mengekor kepada hawa nafsu.
    “Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (syubhat dan hawa nafsu), niscaya bila kamu ikut jalan-jalan itu akan menyimpangkan kalian dari jalan Allah.” (QS. Al An’am : 153)
    Menyeleweng dari jalan Islam itu berarti menyimpang pula dari Al-Jama’ah, dan sekarang ini orang mengistilahkan dengan Islam sempalan, dalam pengertian sebagai aliran pemahaman Islam yang sesat.
    Menginventarisasi Islam Sempalan
    Untuk melakukan pekerjaan ini, haruslah merujuk kepada ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah Salafus Shalih. Karena mereka mempunyai penilaian yang tegas dengan referensi yang lengkap dan jelas. Juga di dalam masalah ini menyangkut pula identifikasi pemahaman Islam sempalan tersebut.
    Upaya yang demikian ini sangat penting di dalam memberi peringatan kepada umat Islam akan bahayanya penyimpangan dari pemahaman Islam yang benar dari pemahaman yang sesat. Juga upaya ini demikian pentingnya bila dikaitkan dengan kenyataan terlalu banyaknya firqah-firqah yang menyebabkan berbagai pikiran sesat di umat ini.
    Banyaknya firqah-firqah demikian ini karena bid’ah itu akan melahirkan sekian banyak kesesatan. Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    “Sungguh-sungguh akan datang atas umatku sebagaimana yang telah datang pada Bani Israil sebagaimana sepasang sandal yang sama ukurannya, sehingga kalau dulunya pernah ada di kalangan Bani Israil yang menzinai ibunya terang-terangan niscaya akan ada di umatku ini yang melakukan demikian. Dan sesungguhnya Bani Israil telah berpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua mereka bakal masuk neraka kecuali satu golongan yang selamat.” Para shahabat bertanya : “Siapakah mereka yang selamat itu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab : “Yaitu golongan yang mengikuti jalan hidupku dan jalan hidup para shahabatku.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ : 5343)
    Jadi ditegaskan di hadits ini bahwa umat Islam akan tercerai berai menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu golongan. Dan yang dikatakan selamat disini ialah selamat di dunia dan selamat di akhirat dari api neraka. Satu golongan yang tetap istiqomah ini berpegang dengan Al Jama’ah sedangkan yang lainnya menyempal dari Al-Jama’ah sehingga sesat dan celaka. Mereka ini sesungguhnya yang dinamakan Islam sempalan.
    Para ulama Ahlus Sunnah telah banyak menulis buku-buku yang menguraikan berbagai golongan Islam sempalan ini dengan merinci satu persatu masing-masing pemahaman syahwatnya agar umat Islam waspada dari bahaya kesesatan itu. Diantara ulama Ahlus Sunnah yang menulis buku-buku tentang Islam sempalan ini ialah Al-Imam Ibnul Jauzy Al-Baghdadi dengan bukunya yang masyhur berjudul Talbis Iblis dalam satu jilid tebal.
    Beliau menerangkan : “Sesungguhnya kita ahlus sunnah telah tahu adanya Islam sempalan dan pokok-pokok berbagai golongannya, dan sungguh setiap golongan dari mereka terpecah menjadi beberapa golongan. Walaupun kita tidak mampu mengidentifikasi seluruh nama-nama golongan dan madzhab-madzhabnya, akan tetapi kita dapat melihat dengan jelas bahwa induk-induk golongan ini ialah :
    1. Al Haruriyyah
    2. Al Qadariyyah
    3. Al Jahmiyyah
    4. Al Murji’ah
    5. Ar Rafidlah
    6. Al Jabriyyah
    Sungguh para ulama telah menyatakan bahwa pokok berbagai sempalan yang sesat adalah enam aliran sempalan ini. Setiap aliran daripadanya terpecah menjadi dua belas aliran sehingga seluruhnya menjadi tujuh puluh dua aliran.”
    Demikian Ibnul Jauzy menerangkan dalam Talbis Iblis karya beliau halaman 18-19 cetakan tahun 1347 H/1928 M, Darut Thiba’ah Al Muniriyyah.
    Keterangan Tentang Keenam Pokok Aliran Sempalan :
    1. Al Haruriyyah
    Ialah pemahaman kaum Khawarij yang mempunyai pemahaman sesat dalam perkara :
    a. Mengkafirkan Sayyidinna Ali bin Abi Thalib karena mau berdamai dengan Muawiyyah bin Abu Sofyan.
    b. Mengkafirkan Ustman bin Affan karena dianggap membikin pelanggaran-pelanggaran selama pemerintahannya.
    c. Mengkafirkan orang-orang yang ikut dalam perang Jamal (unta), yaitu ummul mukminin Aisyah, Tholhah, Zubair bin Al-Awwam, Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Zubair dan segenap tentara yang terlibat dalam pertempuran.
    d. Mengkafirkan orang-orang yang terlibat dalam upaya perundingan damai antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyyah bin Abi Sofyan. Juga mengkafirkan semua pihak yang terlibat dalam perundingan damai antara Al-Hasan bin Ali bin Abu Tholib dengan Muawiyyah bin Abu Sofyan sepeninggal Ali bin Abi Thalib. Mreka mengkafirkan semua orang pula yang ridha dan membenarkan dua upaya perdamaian di atas atau salah satunya.
    e. Memberontak kepada pemerintahan muslimin yang berbuat dhalim karena pemerintahan tersebut dianggap kafir dengan perbuatan dhalimnya.
    f. Mengkafirkan orang Islam yang berbuat dosa apapun.
    2. Al Qodariyyah
    Ialah pemahaman sesat yang mengingkari rukun iman yang ke enam, yaitu takdir Allah Ta’ala. Mereka mengatakan bahwa perbutan manusia ini adalah murni semata-mata dari perbuatan manusia sendiri dan tidak ada hubungannya dengan kehendak dan takdir Allah.
    3. Al Jahmiyyah
    Ialah pemahaman sesat yang menginginkan adanya sifat-sifat kemuliaan bagi Allah dan mengingkari nama-nama kemuliaan bagi-Nya.
    4. Al Murji’ah
    Ialah peahaman sesat yang mengingkari hubungan antara iman dengan amal, dalam artian iman itu tidak bertambah dengan amalan shalih dn tidak pula berkurang dengan kemaksiatan sehingga imannya Nabi sama dengan imannya penjahat sekalipun.
    5. Ar Rafidlah
    Ialah gerakan pemahaman sesat yang diwariskan oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam dan berupaya menyegarkan pemahamannya yang kafir, yaitu bahwa sayyidina Ali dan anak keturunannya adalah tuhan atau mempunyai sifat-sifat ketuhanan. Rafidhah mengkafirkan Abu Bakar dan Umar bin Khattab dan mengkafirkan pula segenap shahabat Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam kecuali beberapa orang saja. (Minhajus Sunnah Ibnu Taimiyah)
    6. Al-Jabariyyah
    Ialah pemahaman sesat yang meyakini bawa semua apa yang terjadi adalah perbuatan Allah dan tidak ada perbuatan makhluk sama sekali. Manusia tidak mempunyai kehendak sama sekali karena yang ada hanya kehendak Allah. Sehingga semua perbuatan mansuia adalah ketaatan semata kepada kehendak Allah, dan tidak ada perbuatan maksiat. Orang berzina tidaklah dianggap maksiat karena perbuatan zina itu adalah perbuatan Allah dan kehendak-Nya. Semua manusia dianggap sama tidak ada muslim dan kafir, karena semuanya tidak mempunyai usaha (ikhtiar) dan tidak pula mempunyai kehendak apapun. (Talbis Iblis halaman 22)
    7. Al Mu’tazilah
    Di samping enam aliran sesat yang kemudian bercabang menjadi berpuluh-puluh aliran sesat lainnya, juga ada aliran sesat yang besar pula, yaitu mu’tazilah. Aliran ini mengkeramatkan akal sehingga akal adalah sumber kebenaran yang lebih tinggi kedudukannya dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dari pengkeramatan akal ini timbullah kesesatan mereka yang meliputi :
    a. Mengingkari adanya sifat-sifat mulia bagi Allah.
    b. Orang Islam yang berbuat dosa tidak dinamakan muslim dan tidak dinamakan kafir, tetapi ia adalah fasiq. Akan tetapi bila ia tidak sempat bertaubat dari dosanya dan mati dalam keadaan demikian berarti kekal di neraka sebagaimana orang kafir. Orang yang telah masuk neraka tidak mungkin lagi masuk surga, sebagaimana orang yang masuk surga tidak mungkin lagi masuk neraka.
    c. Menyerukan pemberontakan kepada pemerintah Islam yang berbuat dhalim dan pemberontakan itu dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar.
    d. Mengingkari adanya takdir Allah pada perbuatan hambanya.
    e. Al Qur’an itu adalah makhluk Allah sebagaimana pula sifat-sifat Allah lainnya adalah makhluk.
    f. Mengingkari berita Al-Qur’an dan Al-hadits yang menyerukan bahwa wajah Allah itu dapat dilihat oleh kaum Mukminin di surga nanti. (Al-Farqu binal Firaq, Abdul Qahir Al-Isfaraini hal 114-115)
    8. Al Bathiniyyah
    Disamping mu’tazilah, ada juga aliran lain yang bernama bathiniyyah yang sering disebut orang thariqat sufiyyah. Mereka ini membagi syariat Islam dalam dua bagian, yaitu syariat batin dan syariat dhahir. Orang yang menganut aliran ini mempercayai bahwa para wali keramat itu syariatnya syariat batin sehingga tingkah lakunya tidak bisa diamati dengan patokan syariat dhahir.
    Karena syariat batin itu sama sekali berbeda dengan syariat dhahir, maka yang haram di syariat dhahir bisa jadi halal dan bahkan suci dalam syariat batin. Orang-orang awam harus terikat dengan syariat dhahir. Jadi kalau orang awam berzina harus dicela dan dinilai telah berbuat maksiat, karena memang demikianlah syariat dhahir itu meilainya. Tapi kalau wali keramat berbuat mesum di diskotik atau di hotel tidak boleh dicela. Mereka para wali itu tidak lagi terikat dengan syariat dhahir, tetapi terikat dengan syariat bathin, yaitu syariat spesial milik para wali, jadi kalau ada orang yang mau mencoba mengkritik wali keramat itu dan mencelanya, maka ia harus setingkat mereka atau lebih tinggi.
    Syariat dhahir itu diturunkan kepada Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam, sdangkan syariat batin diturunkan kepada para wali kearmat, melalui mimpi atau wangsit (ilham) atau lewat wahyu yang dibawa oleh para malaikat. (Talbis Iblis 162)
    Dari aliran-aliran sempalan di atas terpecahlah sekian banyak aliran sesat yang ujungnya pasti membatalkan syariat Allah dan mengakkan syariat hawa nafsu serta kekafiran. (Al Farqu Bainal Firaq, Abdul Qahir bin Muhammad Al-Baghdadi Al Isfaraini halaman 281-312). Padahal masing-masing aliran yang bersumber dari 8 kelompok sempalan itu tentunya mempunyai pengikut dari umat Islam.
    Demikianlah iblis dan anak buahnya memecah belah umat Islam melaui bid’ah, sehingga umat Islam terpecah belah menjadi beratus bahkan beribu-ribu aliran sesat yang telah menyempal dari Islam, walaupun mereka tetap meyakini keislamannya.
    Tanah Subur bagi Islam Sempalan
    Kalau Islam sempalan itu dimisalkan sebagai tanaman, maka tanah subur tempat ia tumbuh dengan bagus dan cepat ialah kebodohan umat Islam tentang agamanya. Kebodohan yang demikian ini adalah akibat dari semakin rendahnya perhatian umat kepada pentingnya memahami dan mempelajarai hukum agama.
    Para ulama yang bernar-benar memahami agama dan mengamalkannya semakin langka. Yang banyak ialah para ulama karbitan, makelar ilmu yang mencari dunia dengan agamanya. Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    “Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan mencabutnya sekaligus dari hamba-hamba-Nya, akan tetapi dia mencabut ilmu dengan mematikan para ulama, sehingga tidak tersisa seorang ulama pun, maka manusia pun menunjuk para pimpinan mereka orang-orang yang bodoh (tentang ilmu agama), maka mereka pun bertanya tentang agama kepada para pimpinan bodoh ini dan para pimpinan bodoh itupun memberi fatwa tanpa ilmu, akibatnya para pimpinan itu sesat dan menyesatkan pengikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Oleh karena itu, sebagai upaya untuk mengantisipasi bermunculannya Islam sempalan, umat Islam harus dibangkitkan kembali semangatnya dalam menuntut dan mengamalkan ilmu agama. Disamping itu, segala upaya untuk menyebarkan ilmu agama haruslah dipermudah. Penjelasan dan pemahaman agama harus dikembalikan kepada ahlinya dan jangan sembarang orang merasa berhak berbicara tentangnya.
    Apalagi kalau ia sama sekali tidak mempunyai latar belakang ilmu agama. Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kiamat salah satunya ialah ilmu diambil dari orang-orang kecil.” (HR. Ibnul Mubarrak dalam Az Zuhud, lihat Ash Shahihah nomor 696)
    Ketika ditanya kepada Ibnul Mubarrak siapakah orang-orang kecil (Ashaghir) yang dimaksud di sini, beliau menjawab :
    “Orang-orang kecil itu ialah yang berbicara tentang agama dari pikirannya sendiri, adapun orang kecil yang mengambil ilmu dan menyampaikan dari ulama besar, maka tidaklah dia dimasukkan dalam golongan orang-orang kecil.”
    Oleh karena itu orang-orang yang menuntut ilmu agama dan kemudian menyebarkannya haruslah didkukung dan dibela, bila kita tidak ingin umat ini terus menerus diganggu dan dikacaukan oleh gerakan Islam sempalan.
    Penutup
    Mewaspadai gerakan Islam sempalan semestinya dengan ilmu agama yang cukup. Oleh karena itu para ulama ahlus sunnah wal jama’ah haruslah dijadikan patokan untuk menilai sesat atau tidaknya suatu gerakan. Dan jangan pula ulama karbitan dijadikan nara sumber penilaian, akibatnya fitnah yang meresahkan umat Islam terus mencekam dan semakin sulit umat Islam dipersatukan serta dipersaudarakan dengan sesama mereka.

  14. Salam Bapak Rama Wijaya…..

    Terima kasih dengan postingan diatas…meskipun kami belum membacanya tetapi kami bisa menduga kemana arah dari ulasan diatas……

    Negeri akan menjadi damai dan tentram bila hukum agama dan hukum yang lain memang bisa dipakai sebagai landasan terbentuknya moral yang bagus…ahlak tidak tercela dan lain lain……

    Sudah kita ketahui bahwa agama islam tidak sesat dan dipeluk hampir lebih dari separuh jumlah penghuni bumi…..
    Kita hanya berbicara soal manusia dan bukan tentang agama….kami hanya ingin tahu saja kenapa banyak orang jahat padahal mereka memeluk agama dan agama ini resmi dan disahkan sebagai salah satu agama di negeri ini……

    Apa pengertian sesat menurut kehidupan….sesat tidak beragama atau beragama keliru / agama sesat….kalau agama yang diyakini sebagai rahmatan lilalamin lalu kenapa bumi pertiwi ini menjadi sangar dan tidak damai ??…banyak kedholiman dan kenistaan telah banyak terjadi di negeri ini dan hukum sudah sangat loyo…..

  15. Negeri ini kacau balau dan salah satunya yang menbuat kacau adalah perselisihan faham seagama dan lain agama…..dan itu sepertinya tidak terlalu merusak negeri ini …kalau jaman dulu mungkin berbahaya karena ada kelompok islam yang ingin berontak terhadap negeri ini…..

    Negeri ini moralnya bejat dan sangat merosot dan itu bisa kita buktikan dan melihat kasus besar di negeri ini yang tidak pernah selesai dan mungkin tidak ada niat di buka…kenapa apakah menemui jalan buntu atau menemui raksasa besar ??….

    Mereka yang terkena kasus , mari kita telusuri apa agamanya dan apakah mereka memeluk agama sempalan dan sesat…..
    Maka jangan harap negeri ini aman damai dan adil , bila hukum negara dan hukum agama sudah bisa dibeli dengan sangat murah….agama dibuat main main dan bahkan mereka bersembunyi dibalik agama yang sah dan bukan sempalan…..salam agama alam semesta..

  16. Bagaimana dengan Islam abangan atau islam yang tidak berpeci atau tidak bersarung ..tidak bersorban …contoh Islam kejawen yang nyengkelit keris di punggungnya dan berblanglon dan ada bulatan di belakang kepalanya…mencampur baur adat istiadat dan syareat agama…..apakah islam ini juga sesat bila tembang dan nyanyiannya berbahasa jawa dan tidak arab…..lalu apa sebenarnya Islam yang sejati atau islam yang benar itu….

    Aliran yang mana yang sebenarnya benar yaitu salah 1 dari 73 aliran dan faham lalu apakah mereka mau dituduh sebagai sempalan dan bukan sealiran dan sefaham yang sesuai hadist dan pesan Rosul Muhammad…..

    Sepertinya dengan adanya agama maka dunia seperti makin mbulet dan kusut tidak karuan….
    Agama yang itu banyak masalah dan pertentangan dan agama yang itu juga begitu…berantem terus…eyel eyelan…agama yang disono juga sama…..sangat aneh bila agama bisa menelurkan dan berakibat menimbulkan peperangan dan kekacauan…tidak sekarang atau tidak dulu…agama dan para penganutnya tetap saja …berebut benar dan berebut kekuasaan…..mungkin Tuhan dan para malaikat sudah jengkel…lalu membiarkan mereka seperti membiarkan kambing yang adu jotos tanduknya…….

  17. @ Kang O`on,
    Video yang menarik. Temanya tentang Vampir China tapi penyanyinya dan lagunya berbahasa Jepang. Koq amburadul gini ya? Atau mungkin kolaborasi? Ah. kagak penting amat, yang jelas lagunya menghibur dan bikin penontong jingrak-jingrak senang…………..Musik adalah universal……..

  18. Bismillah. Seluruh agama pada dasarnya adalah menyeru kepada manusia untuk berbuat kebaikan, berperikemanusian, berperilaku terpuji dll. Hanya saja karena manusia yang mengisi bumi semakin rendah derajat isi jiwanya, maka pada akhirnya sebagus apapun nasehat-nasehat dalam agama yang dibawa oleh para utusan menjadi tidak berarti. Agama malah dipakai untuk ‘kepruk-keprukan’. Sebenarnya bukan cuma ajaran agama yang dipakai untuk berkelahi. Hampir setiap anugrah yang diberikan untuk manusia malah dipakai untuk berebutan menang sendiri, dipakai untuk melayani kerendahan isi dirinya, bukan dipakai untuk keluhuran jiwa dan berperilaku yang sesuai dengan kodrat kemanusiaan.
    Tentang Tuhan, tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkannya, karena ketika Dia bisa digambarkan oleh makhluk, berarti dia adalah makhluk dan bukan Tuhan yang dimaksud. Karena hanya Tuhan saja yang mengerti tentang DiriNya. Pasrah dan menyerahkan tentang urusan Tuhan kepada Tuhan saja yang bisa dilakukan oleh manusia. Apakah yang saya tulis benar? Ya nggak tahu, hehehe

  19. Sampurasun..
    @ SSP:
    Bismillah. Seluruh agama pada dasarnya adalah menyeru kepada manusia untuk berbuat kebaikan,
    ____________
    Betul nih semua agama menyeru kebaikan?, bagai mana dg agama yg memerlukan korban2 manusia dan juga korban ribuan bahkan mungkin jutaanhewan2 untuk menyenangkan hati Tuhanya, apakah ini juga seruan yg baik?

    Sekarang mari kita bandingkan tulisan itu dengan tulisan yang dibuat di Medina ketikaMuhammad sudah menjadi berkuasa.

    1.Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu.(Q.9:123)
    2.Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.(Q.8:12)
    3.Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima(agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(Q.3:85)
    4.bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka.(Q.9:5)
    5.Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu.(Q.2:191)
    sumber; http://www.scribd.com/doc/29733044/Mengenal-Muhammad-By-Ali-Sina

  20. salam kenal kang JS.. punten nyak haturkeun ide, gagasan pendapat semoga sama” memberi dan menerima dgn hati senang seseuai prinsip komunitas abal”.. hihihi berarti krn koment disini jd termasuk anggota abal abal..

    salam @ sdr Hammer
    sy tdk tahu rujukkan Ayat yg dikutip sama sdr, sy sampaikan ayat terjemahan versi yg sy ketahui dr terjemahan indonesia… semoga menjadi bahan renungan bagi kita krn menurut telaah sy Ayat” Qur’an itu ada yg berdiri sndiri secara mandiri dan ada yg berkaitan satu sama lainnya.. jd biar kita sama” tdk memasuki pemahaman yg sepenggal”… :

    1. Wahai org yg beriman! Perangilah orang-orang kafir disekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah bahwa Allah bersama org yg bertaqwa. (QS 9 : 123)
    2. (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepd pr malaikat, “sesungguhnya aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian)org” briman.”kelak akan kuberikan rasa ketakutan ke dalam hati org” kafir, maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap tiap ujung jari mereka. ..(QS 8:12). /NB1
    3. Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima(agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(QS. 3 :85).. /NB2
    4. Apabila telah habis bulan” harram, maka perangilah org” musyrik dimana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian. jika mereka bertobat dan melaksanakan salat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kpd mereka. sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS 9 :5)…/NB3
    5. Dan bunuhlah mereka dimana kamu temui mereka, dan usirlah mereka drmana mereka mengusir kamu. dan fitnah itu lebih kejam drpd pembunuhan. dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir.

    sy sekedar memberi argumen bukan bermaksud membela si A dan si B dgn stempel agama dipakaian masing” krna makna hidup itu ada dlm nurani sndiri tanpa terikat stempel warna ABCD… ayat” diatas itu punya kaitan dgn ayat sblum dan sesudahnya maka sy sedikit sampaikan catatan bahasan ayat tersebut diatas :

    1. ayat” ini merupakan perintah perang dgn asbab(sebab) muslim telah di tekan/diperangi dengan ini Allah sampaikan mereka untuk memerangi kafir agar kafir itu tahu klo muslim itu tegas mengambil sikap saat diperangi dlm artian tdk diam pasrah menunggu takdir/kematian..
    2. NB1….ayat ini berisi sbh penegasan dlm hal berperang (Perang Badar khususnya krn ayat ini berkaitan dgn itu) tdk boleh ragu (maka Allah teguhkan hati mereka) dan pembelajaran tentang cr berperang melawan musuh yg lebih kuat atw banyak… ingat hanya trjadi di peperangan sasaran yg hrs diambil adlh leher krn itu adlh kelemahan trmudah/ mematikan, efeknya singkat jd tdk menyiksa lawan, akan tetapi apbl lawan memakai baju besi/pelindung sehingga sulit dikalahkan, maka sasaran trmudah adalh tangan/jari” yg memegang senjata pedang, tombak dan sbg agar mudah dilumpuhkan… itu pngertiannya…
    3. NB2.. yg dimaksud islam adlh org yg bersaksi/mengakui adlh Allah YME dan mengambil jalan hidup taqwa (minta tlg penjelasan senior” komunitas abal” yg lebih paham mengenai pngertian TAQWA hehehe) krn ayat ini berkaitan dg ayat (QS 3:84) “Katakanlah (muhamad), ‘Kami beriman kpda apa yg diturunkan kpd kami dan yg diturunkan kpd ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yg diberikan kpd Musa, Isa, dan para nabi dr Tuhan mereka. Kami tidak membeda bedakan seorangpun diantara mereka dan hanya kepadaNYA kami berserah diri’…. dr sini mungkin pembaca bisa menarik kesimpulan apa itu agama Islam/jalan Islam hihihi jd prasangka saya yg disebut Islam adlh ajaran dr Adam sampai Muhamad (rentang antara kehidupan meraka ada ajaran” nabi banyak banget klo disebutin) mengenai Tuhan YME dan ketaqwaan manusia kpd NYA..
    4. NB3… maksudnya adlh saat berperang dan ketika muslim sanggup memerangi, mengepung mereka sesuai syarat diatas bila mereka bertobat (mengambil jalan Islam/mengakui Tuhan YME) dan shalat(beramal sholeh harfiahnya macem” bukan bisa berwujud hub antar manusi, hub manusia dgn alam dan hub manusia dgn Tuhan nya) itulah hikmah Kasih Sayang dan Ampunan Allah.
    5. perintah bunuh dmana kamu temui” pengrtiannya adlh saat perjumpaan perang/katakanlah penjajah yg mengambil daerah/wilayah yg dia dudukki hingga muslim terusir disitulah muslim melakukan itu (pembunuhan/melawan).. ayat ini berkaitan dgn ayat sebelumnya.. QS 2:190 “Dan perangilah di jalan Allah orang” yg memerangi kamu, tetapi jgn melampaui batas. Sungguh Allah tdk menyukai org” yg melampaui batas…. jd maksud ayat 191 tentang pembunuhan ini jelasnya adlh sambungan ayat 190 yg memberi pngrtian sangat jelas maksudnya yaitu bila org” yg sengaja memerangi itu berhak dibalas peperangannya tp tdk boleh melampai batas.. asbab/sebab dan tata caranya jelas ‘di jalan Allah’..

    demikian narasi argumen sy mohon maaf tentang penjelasan sy yg kurang ilmu ini.. tdk bermaksud mencela, provokatif atw membela sdr muslim, skali lg itu argumen sy agar terbaca pngrtian dlm membangun TOLERANSI umat beragama/tdk beragama katakanlah bgtu hehehe… jd penyampain sdr Hammer menurut sy hanyalah sbh prosa yg agresif yg bebas di tanggapi… untuk wawasan komunitas ini hahhaha…

    ngapunten Mbah Wage, Paman Dalbo, Kang JS, pakde ABR…. krn datang” sy ko’ keminter kasih tanggapan komentar org… lha pdhl aw ga ngrti opo’….

    1. Iseng-iseng baca tulisan Kang JS yang lama, ternyata ada beberapa komentar yang terlewatkan tidak terbalas. Salam untuk Mas Andree. Maaf telat, komentar 2 tahun baru terbalas.

  21. Salam kenal kembali dan tidak lupa hormat kami……

    Terima kasih dengan komentar itu dan bisa menambah wawasan ……..
    Apa apa yang kami tulis diatas itulah kejujuran pikiran saya , hanya sekedar tanya jawab kepada diri saya sendiri dan mungkin saja apa yang dimaksud didalam tulisan itu juga ada dan terlintas di benak pikiran banyak manusia di bumi pertiwi ini……..Nuwun…..

  22. trm kasih kang JS…. sy baru membaca Blog dongeng budaya ini trnyata banyak para pemikir hebat krn blog ini memberikan kemerdekaan berfikir dan komentar tanpa ada fanatisme sempit dan keberpihakkan kpd golongan jd sangat bagus untuk wawasan mencari makna hidup hehehe minimal makna hidup abal abal sesuai arahan mbah wage… nuwun kang…

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s