Mangan Ora Mangan Ngumpul

Penulis : Paman Dalbo

Mangan ora mangan ngumpul (Makan tidak makan berkumpul), adalah istilah yang tentu tidak asing lagi bagi orang2 Jawa bahkan  sudah melegenda, hal ini  kalau boleh saya usulkan ke pemerintah agar di jadikan Istilah yg me Nasional.

Kapan dan siapakah yg mencetuskan konsep yang  begitu filosofikal ini, Paman tidak tahu persis, lalu apahkah prilaku ini masih relevan di zamanTablet ini?. Terlepas dari relevansi2nya, itu bukan yg menjadi atensi  Paman.  Bagi Pman yg menjadi daya tarik adalah kata Makan itu sendiri.

“ MAKAN”  siapa sih yang tidak mengerti apa itu Makan, namun tidak se naif yang kalian bayangkan. Kata / istilah “Makan” ternyata mempunyai arti, makna dan fungsi yg bermacam2 bagi bangsa Indonesia khususnya suku Jawa.

Dalam kamus Macquarie yg paman baca “makan” atau “Eat” di terjemahkan sebagai  (To consume or to take into the mouth and swallow for nurishment) terjemahan “mengkonsumsi/ memasukan ke dalam mulut lalu menelanya sebagai  gizi pertumbuhan “

Bagi Manusia Indonesia yg kaya akan tradisi dan budaya, kata “ Makan” berkembang menjadi lebih fariatif,  ketika daya kreatifitas bekerja, maka terlahirlah kata 2 al: “ Makan hati, makan, angin, makan waktu, makan Zaman, makan tempat, makan temanya sendiri  dll”. Waduh rakus sekali bangsa kita ya.. hampir semua aspek mau di makan, kecuali kepalanya sendiri.

Bulik bulik luar negeri  akan tertawa geli ketika kita bicara  “Makan waktu” yg diterjemahkan ke dlam bahasa mereka “Eating time” atau “Makan tempat = eating places”, tentu saja tidak nyambung bagi mereka namun tetap menggelikan. Mereka akan bergumam ,wah pasti orang indonisia kurang kerjaan atau memang sudah betul2 krismon kali ya nggak  puya apa2 lagi yg bisa di makan,

Paman tuliskan ini sekedar sebagai opini menurut pemahaman dan pengalaman Paman pribadi tentang hal 2 makan memakan dan kumpul mengumpul  agar terjadi saling pengertian antara satu dg yg lainya khususnya yg berlainan adat budaya dan keyakinan.

Makan Sebagai Budaya

“Makan” bagi bangsa Indonesia ternyata adalah sebuah budaya itu sendiri atau lebih pasnya Paman sebut saja “Budaya makan” atau “budaya Makanan” coba bayangkan betapa bervariasinya, jenis2 dan cara2 mengolah makanan,  bahkan cara memakannya yg berbeda2 dari daerah ke daerah yg lain,

Ada yg memakai garpu, sendok/pisau, garpu ala orang bule meskipun yg di makan hanya sepotong Lemet ( jajan dari singkong ) ada yg cukup pakaui cakar sambil kakinya nangkring di kursi, ada yg di suapi meski sdh bisa makansendiri, ada yang kecap2 ngunyah berisik sekali sampai tetangganya terbangun dll.

Umat Muslim/kristiani di Indonesia  akan ber do’a dg menyebut nama Tuhan Kristus atau Allah sebelum memulai makan, bahkan umat muslim pun tidak sembarngan makan makanan yg di haramkan oleh ajaranya, sementara saudara 2 kita yg Hindu di Bali lain lagi, mereka akan mengambil sedikit/ secuil makanan lalu di letakan di sampingnya/ di pojok untuk sekedar berbagi pada leluhur/ saudara saudarinya yg telah tiada dan mengajak makan bersama sama.

Untuk orang Jawa/Kejawen biasanya dg menyebut saudara sepiritualnya (Sedulur papat limo pancer) untuk ikut menjaga dan makan bersama sama.

Pada umumnya  masyarakat Indonesia ketika orang hendak mulai makan , pasti menawari atau pamitan orang2 di sebelahnya “ mari makan Pak, bu, mbak mas dll” ini adalah sebagai unkapan solidaritas antar sesama dan hal ini tidak akan di jumpahi di negara2 lain

Dan masih banyak sekali, tradisi2 yg bersangkut paut dengan makan memakan ini. Coba kalian renungkan, dlm permainan catur  saja  pemainya bisa makan kuda, bahkan makan benteng dan  ratu (Star)

(Pesan seponsor: Apapun makananya minumya air putih saja)

Makan Sebagai Sarana Komunikasi

Bagi Bangsa Indonesia, makanan juga bisa mewakili sebagai expresi “Cinta” dlm arti yg luas atau kepedulian terhadap sesama. Di kampung2/desa kalau kita bertamu pada umumnya  si tuan rumah sealau mengajak tamunya makan walaupun hanya sedikit saja, meskipun si tuan rumah sendiri lagi bokek kekurangan, namun masih juga nekad untuk ngutang dulu di warung  sebelah sekedar menghargai tamunya, biaripun kita sudah kenyang pun kita akan di paksa mencicipinya, ini artinya si tuan rumah ingin mengexpresikan kepedulian cinta kasihnya terhadap sesama yaitu tamunya, si tuan rumah pun akan tersinggung berat kalau si tamu menolaknya bahkan bisa stress nggak bisa tidur dan tidak jarang akan menjadi bahan Rasan rasan( gosip ).

Ironisnya hal2 ini sering di kesampingkan oleh kelompok2 Agama  garis keras atau extrimis  fondamentalis agama, jangan lagi mencicipi makanan tuan rumah, makan masakan ibunya sendiri saja sdh tidak mau atau najis karena ibunya tidak lagi se aliran atau sefaham dg dirinya…hhihhh ngeri  dong deh..…Paman percaya dalam kasus ini mereka tidak memahami bahkan tidak mau menyadari bahwa makanan bisa juga menyatukan atau sebaliknya memecah belah umat.

Ada satu lagi Yang juga menarik sekali yaitu pasanagn suamiIstri, di mana ketika sang istri juga secara naluri bawah sadarnya ber interaksi melalui sajian makanan.  Pernakah tiba2 Istri atau pacar anda menyajikan makanan yg terlalu asin  atau terlalu pedas sekali, jangan di kira istri / pacar anda  sdh tidak pecus lagi memasak , itu artinya si dia minta perhatian karena selama ini kurangnya kaci cayang atau jablai kali ya.

Makan sebagai fungsi ritual

Bicara soal makanan bangsa Indonesia,  tentu saja tidak bisa lepas dari “beras”  Beras menempati pada jajaran yg sanagat penting baik pd lingkup jasmani maupun rohani.  Orang2 Indonesia tidak akan menyebut dirinya sudah makan kalau belum makan nasi, meskipun sdh makn sekeranjang kacang goreng, ketika kita  belum makan nasi tidak hanya lahirnya saja yang menderita bukan? btinpun akan terasatersiksa.

Untuk hall2 spiritual, contoh yg paling kongkrit adalah pada acara ritual/upacara2 ke Agamaan,  misalnya di Jawa tradisi menaburkan beras kuning yg di sertai uang ke jalan guna mengiringi jenasah ke kuburan.

Di Bali, orang menempelkan beberapa butir beras di kedua pelipis atau di jidat mereka dg berpakaian adat yg begitu menarik pada saat bahkan setelah sembahyang pun.. Mungkin saudar2 ada yg bertanya mengapa beras?

Jwb: Wah coba bayangkan kalau beras tadi di ganti onde2, nanti dikira orang2 Bali pada kena tumor semua. Dan  tentu kalian juga tidak rela kalau simbul kesejahteraan sosial yang semula Padi dan Kapas diganti “ Onde2 dan kapas” bukan?

Seperti halnya saudar2 kita yg dari Bali dg sesaji sesaji nya yg menggunakan bunga2 dan makanan, di Jawa pun makanan di pakai sebagai simbul2 ritual untuk berkomunikasi dg roh2 leluhur dan saudara2 yg telah tiada bahkan sebagai expresi do’a yg tervisualkan sebagai pengganti  do’a2 yg verbal, ini sering kita jumpai dlam acara2 pernikahan, sunatan dan selamatan2  dan juga tradisi ini yg masih di jalani oleh saudara2 kita dari Batak, Sulawesi dan suku2 pedalaman Dayak, Irian Badui dll.

Di Jawa ritual yg sering kita jumpai dg memanfaatkan makanan  adalah “Tumpengan”  yg sekarang telah dijadikan budaya Nasional,  thaks god…

Ritual2 yg menggunakan makanan ini pada dasarnya adalah sebagai simbolisasi, maka dari itu akan tidak masuk akal kalau kita terjemahkan secara vulgar atau apa adanya begitu saja,masak sih roh2 nenek moyang/ saudara2 kita masih di suguhin makanan2 seperti halnya kita2 yg masih hidup? .Untuk itulah bagi yg berbeda faham agar tidak semudah itu mengadili sebelum menghayati ke kedalaman suatu hakekat spiritualitas.

Paman begitu prihatin sekali ketika ritual2 selamatan di kecam dan  disyirikan oleh golongan2 yg berbeda faham namun tidak syirik kalau mereka mengadakan  Aqiqoh dengan menyembelih kambing dan di makan juga.

Makan sebagai Benteng Pertahanan

Bagi bangsa Indonesia “Makan” adalah benteng pertahanan  yg sangat perlu di perhatikan khususnya oleh pemerintah kalau kita masaihmenghendaki kokohnya NKRI ini,  Para Tentara dan Polri tidak akan mampu menjaga stabilitas Negara RI ini sercara maksimal  kalau kekurangan  makan dan gizi , dan sang istri bisa mencak mencak  kalau   benteng pertahanan dapur tidak lagi ngebul dan yang  jelas akan beruntun ke tragedi robohnya benteng pertahanan negeri ini. untuk itulah Paman mohonkan kepada Pemerintah agar  jatah2 mereka jangan sampai di kentit.

Demikian  juga agar generasi penerus bangsa pun perlu di perhatikan akan kecukupan dan kelayakan gizi makanan agar mereka  kuat  dan mampu menjalankan tugas belajar agar cerdas  tidak gampang di bodohi terus menerus.

Kasus yg sangat tragis sering kita jumpai ketika manusia rela mengorbankan martabat bangsa bahkan  rela Negerinya di injak2 bangsa lain dg imbalan sesuap nasi.

Satu hal lagi yg tidak kalah menyedihkanya di negeri yg tanahnya  voulkanik  begitu suburnya namun ketika para petani sebagai lini paling depan dari benteng negeri ini di bodahkan dg pengguna’an pupuk2 kimia yg memang akan mempercepat hasil produksi namun akan berakibat yg fatal terhadap linkungan hidup dan tanah garapanya, sehingga di jangka panjang tanah tidak lagi produktif , persediaan pangan  dg sendirinya akan semakin berkurang dan terus kekurangan yang  berbuntut pada proyek2 impor beras dimana  ujung2nya ternyata proyek2 komisi dan korup juga.

Lalu ketika harga beras yang di impor  pemerintah ternyata lebih murah dari beras Pak tani negeri sendiri, kemudian apa yg akan di lakukan Pak Tani berikutnya, bekerja di pabrik? sawah ladang di jual di gantikan ruko2 dan real eastate?, dan seterusnya dan seterusnya?cf…wah pokoknya panjang deh buntut nya anda boleh menafsirkan sendiri.

Paman akhiri dulu tulisan ini sebelum di lanjutkan pada seri berikutnya yg membahas ttg budaya “Ngumpul2”,

Paman berharap tulisan yg asal2an yg nulisnya sambil makan kwaci ini memberikan manfaat walaupun sedikit buat para pembaca . “ Mudah2an Allah setuju…”

(with Love)

( catatan: gambar ilustrasi di ambil dari blog orang lain dari bawah http://wayang.wordpress.com/2010/03/07/togog-mbilung-riwayatmu-dulu/
Ucapan maaf dan terimakasih untuk ilustrator-nya.

15 thoughts on “Mangan Ora Mangan Ngumpul

  1. Tulisannya yang sangat mantap dan berbobot. Judulnya terlihat biasa2 saja, tapi isinya luar biasa. Gaya bahasanya dan cara bertutur yang lugas dan apa adanya, seakan menunjukkan kegalaun seorang Paman pada kondisi masyarakatnya.

    Tulisan yang tidak mudah tentu saja karena dibutuhkan pengetahuan budaya dan juga wawasan toleransi yang luas untuk menulisannnya.

    Terima kasih Paman Dalbo

    Dari wage
    with love

    1. Nuwun sewu..
      Untuk Mbah Wage terimakasih banyak kali sudah sudi memuat tulisan ini, dan buat saudara saudariku Sebangsa dan se tanah air, se iman, seagama, yg tidak seiman yg tidak beragama, pokoknya siapa saja deh terimakasih atas komen2nya untuk tulisan ini, tuk sdr/sdri Maya salam kenal, tuk sdri Dewi, Nang endi ae kok suwe ora jamu, is averything alright?

      Paman Dalbo.

  2. Tulisan yg mantap selamat pagi buat bapak Wage dan paman Dalbo

    Dengan judul yg begitu klo saya ingat itu judul ada satu keluarga yg pada dasarnya hidup dgn sederhana dan dgn cintanya pada keluarga sehingga mereka tidak ingin ada salah satu anggota keluarganya yg pergi untuk merantau dan ingin merubah hidup yg belum tentu jg berhasil maka tercetuslah kata 2 ini””Mangan Ra Mangan Sing Penting Ngumpul ” jadi apapun yg terjadi harus ttp utuh keluarganya tapi di jabarkan dgn banyak arti oleh paman Dalbo yg bgtu menarik ternyata banyak jg artiannya…
    It’s very good thanks and good morning

    1. Saya mewakili Paman Dalbo untuk mengucapkan terima kasih atas komentar dan kunjungannya. Senang sekali kalau akhirnya blog abal2 ini memiliki pengunjung cewek. Semoga mbak Maya betah dan kalau tidak betah, mohon dibetah-betahin. ha..ha..

  3. Memang banyak yang terlupa bahwa simbolisme yang sedianya kudu “dimasak” dan “diolah” sebelum dimakan tiba2 saja ditelan mentah2, utuh, bulat2. Bahkan dalam proses makanpun ada kegiatan yang namanya mengunyah…. Bisa dibayangkan seandainya Paman, Simbah Wage, ato sedulur semua yang ada di sini makan onde2 Probolinggo yang segedhe kepal anak2 dengan cara maen telan saja…..apa gak mendelik kelolodan?

    Sepanjang ingatan saya hanya satu jenis binatang melata yang kerjanya maen telan bulat2 seperti itu…..mak lheb!…..abis itu molor……. 😛

    great thread from great author…..thx so much

    salam onde2 & kapas
    modernprimate

  4. Nice writing about mangan or mangan, i really like your genuine and also you put some javanese wisdom…

    Buat mbah Wage, mbak Maya, mas Modernprimate selamat siang semua. Buat paman Dalbo di tunggu tulisan2 selanjutnya…

    Salam thank you,

    Dewi

    1. Waduh, di sini ada makhluk2 Tuhan yang cantik kok ya saya lupa menyapa….maaf

      selamat siang juga mbak Dewi, mbak Maya…….have a nice day, nice weekend, nice life…. 🙂

  5. Salam Mas Dalbo…Mbah Wage….JDD…Mas Modern…Neng Maya……

    Tulisan yang menarik ….saya yang tergelitik dan ingin tahu , kenapa judul mangan ora mangan ngumpul disertakan ada gambar 4 punokawan….sangat cocok…..

    Filosofi makan , bila dikiaskan dalam banyak hal dan ditambah dengan gambar 4 punokawan itu akan menjadi sangat menarik…..penuh daya ilmu hikmah yang perlu kita kupas dan tentunya harus kita makan untuk menjadi sesuatu yang hidup dalam diri ini……perut mungkin bisa makan bermacam makanan dan harus memilah dan memilih untuk kepentingan kesehatan tubuh…ha ha ha lalu makanan apa saja yang harus kita makan agar tubuh dan jiwa kita tidak gonjang ganjing……

    Semar…jiwa yang bersih….spiritual….nurani yang hidup dan terjaga….

    Petruk …si kantong Bolong…..orang yang suka berderma ilmu…pikiran…tenaga…..lambang sebagai rakyat atau pemimpin yang sangat baik……

    Gareng…..perilaku yang seharusnya dijalankan manusia….memilah dan memilih…mana yang halal dan haram…tidak mau dicampur aduk……

    Bagong ….sebagai pengingat bahwa ada sifat negatif dari kita yang perlu kita waspadai…..supaya tidak menyakitkan dan merugikan orang lain……

    Terima kasih Mas Dalbo…Mbah Wage tentang tulisan dan gambar filosofi punokawan……..sNuwun….

  6. Mas js,

    Re Punokawan : Saya senang dengan …’plesetan2′ mereka ! Nampaknya mereka, para punokawan, asli dari Nusantara.(Gak ada di cerita Mahabharata versi,eh hem,aslinya – India.)

    Paman Dalbo,

    Bapak saya dulu sering bilang ‘ora maregi’- tidak membuat kenyang – kalau saya beli jajanan yang manis2, misalnya permen. (Masa kecil saya lumayan baha-hahahaha-gia) Nampaknya, bagi orang Jawa – dan orang Nusantara- ‘kenyang’ sangat penting. Dus, makan sampai kekenyangan, sampai perut rasanya mau meletus.

    Orang China : Mereka nampaknya pinter membuat makanan/masakan yang enak sekali. Bakmi,bakso,capjai,bakpao. hmm, siapa yang gak kenal mereka ? Beda dengan orang Jepang.

    Porsi makanan orang Jepang nampaknya gak sebanyak porsi orang Nusantara. Mereka, orang Jepang, nampaknya tidak se … rakus orang Nusantara …(-: Banyak orang Jepang yang … langsing.

    Orang Nusantara banyak yang suka makan cabe pedas. Orang Jepang tidak, mereka lebih suka wasabi, yang juga pedas.

    Makan untuk menunjang kehidupan, supaya kita tidak mati, ataukah hidup untuk makan ? Saya sering melihat banyak orang yang suka makan ini itu, meskipun tidak lapar … Makan menjadi salah satu kebutuhan dan KESENANGAN hidup .

    1. Nuwun sewu..
      @ Kang JS makasih sdh mau berbagi filsafat ke Puna kawan an ini,enarik sekali untuk di renungkan. mudahan tidak Punah …
      @ Kang Balane Dewi…eh..sory Dewo maksudku..
      Makan untuk hidup? atau hidup untuk makan? itu dua2 saling melengkapi, kita perlu makan untuk kelangsungan hidup dan sebaliknya kita musti hidup supaya bisa makan, lha sampeyan apa pernah lihat mayat yg masih makan?…
      Pesan Sponsor ” Apapun makananya, minumnya terserah sampeyan ya”

      Asah asih asuh
      Paman Dalbo.

    2. lha sampeyan apa pernah lihat mayat yg masih makan? (paman Dalbo)
      …………………………………………………………………….
      Kalau mayat hidup gimana Paman? Hidup artinya memiliki Nurani, kalau hidup tanpa nurani ya sama mayat hidup. Hidup tapi bikin ribut.

      (Pesan sponsor: blog abal2, membahas topik mudah menjadi susah, topik susah ya tambah susah)

      Makan untuk hidup atau hidup untuk makan? Kagak tahulah Paman, yang jelas bagi siMbah, hidup adalah untuk makan Kerja berangkat pagi pulang malam hanya cukup untuk makan. Nah, itu namanya hidup untuk makan.

      wage

  7. Salam Paman Dablo, mbah Wage (yg ga disebut jangan marah..hehe..)

    tulisan mantep paman, topik yg sering sekali kita lupakan, yg sudah mendarah daging ternyata di lingkungan kita.

    Paman begitu prihatin sekali ketika ritual2 selamatan di kecam dan disyirikan oleh golongan2 yg berbeda faham namun tidak syirik kalau mereka mengadakan Aqiqoh dengan menyembelih kambing dan di makan juga.
    _______________________________________________________
    saya lebih melihatnya sebagai KETAKUTAN .
    Dimana Manusia itu sendiri tidak LAGI merasa Mulia sebagai ciptaan Tuhan, tetapi hanya sekedar kewajiban yg tidak bisa dibantah, dilawan (cara pikir Telan Bulat bulat, tanpa diolah).
    Manusia lupa, bahwa sebagai ciptaan (TUhan), manusia tidaklah menjadi sehina itu dihadapan Tuhan. Tuhan menciptakan manusia bukan untuk di siksa, di pelihara, di beri makan, lalu “dipanen”.

    Salam Petani Padi …..

    1. Nuwun Sewu..
      Kang Waji,,salam kembali…dan jgn takut2 ya…kemerdeka’an adalah hak segala Bangsa “T” Oleh sebab itu penjajahan di atas bumi perlu segera di hapsukan, entah bg mn caranya…

      Salam Petani Kapas..

      Paman Dalbo

  8. walah walah,
    ngapunten, permisi,
    nyuwun sewu,,

    lha saya nyoba ngliat, menbaca menyimak dan juga sekarang pingin ikut ikutan menanggapi,,
    berhubung yang di bicarakan kok ternyata menggelitik bikin risi(risi bkan ingin mencela tapi nderek usul, sekedar pingin guyup dengan sederek yang udah duluan),,
    lha pakdhe” kie kok yang d bahas masalah hidup dan kehidupan, yang wlo udah lumayan ada di bicarakan tapi masie saja mbulet, ruwet…

    karena memang banyakl paham yang di sikapie dan d tanggapi oleh para pelakunya sendiri,, tapi sebetulnya yang bikin saya gemes kie katanya negara klita negara yang berbudaya tow pakdhe, ya masyarakat ya tradisi tradisi yang sudah kita warisi dari nenek moyang,
    tapi untuk saat ini yang d uri uri(lestarikan) itu cuman sedikit, yang bagi kalangan tertentu d cab jelek karna tidak ada tuntunan dalam agama yang d anut,,,
    karna gk sesuai ajaran dlll sebab yang berada d belakang…

    kok gk berkaca kita itu hidup d mana, budaya yang melatar belakangie apa dan sebagainya…
    ning ,,, pun bila yang hasil dari budaya juga warisan dari tradisi nenek moyang kita d klaim oleh orang lain kok gk trima,,,
    trus gembar gembor negara yg berbudaya kie adane d mana, d ingkarie(dengan tidak mw atau engan melestarikan) tapi juga d akui(jika ada yang mengklaim serta mengakui bahwa produck budaya tersebut hasil mereka, kita triak triak gk iklas)

    ngapunten segitu aja saya nyalurkan unek”
    kepada pk dhe pk de, kangmas mbakyu, om dan tantye salam kenal,,
    matur suwun juga saya ucapkan kepada mbah wage yang telah menjerumuskan saya kedalam kancah kebudayaan yang katanya adiluhung, dan patut d lestarikan..
    matur suwun

    1. Nuwun sewu..
      Mas Budi yg baik budi,..
      Budaya dan tradisi yg telah di wariskan leluhur untuk bangsa ini tidak perlu di ragukan lagi ttg kekayaan dan keberagamanya, namun yg begitu membuat hati miris adalah sikap dari generasi penerusnya yg begitu gamang, tidak punya ke PD an untuk men
      jadi dirinya sendiri, tdk punya ke PD an untuk bangga dg budaya sendiri,
      Banyak faktor2 yg menyebabkan kenapa jadi begitu, satu di antaranya adalah karakter asasinasi yg telah lama di lakukan oleh pera penjajah, baik penjajahan, fisik, moral atau penjajahan cara berfikir, penjajahan juga sering di lakukan melalui Idiologi2 dan agama.

      Asah asih asuh.

      (Paman Dalbo)

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s