Benci China atau Yahudi? Ini Dia Jawabannya

bayi998empowermagazine

Penulis: Wage Rahardjo – Apakah anda adalah orang Jawa, Sunda,  Batak dll dan dan sangat bangga dengan  asal-usul  dan budaya daerah Anda?  Wajar tentu saja, siapa lagi yang harus membanggakan budaya daerah Anda selain diri sendiri…….

Anda orang pribumi, Indonesia asli dan sangat BENCI dengan orang China? Asem!! Saya yakin Anda pasti bukan orang yang berpadangan picik seperti itu bukan? Okey agar tidak asem, pertanyaan diganti menjadi: “Apakah Anda orang China dan BENCI dengan orang pribumi?”

  • Ha..ha… dasar siMbah sentoloyo! Ini lagi ngomong apa sih Mbah?

Tulisan kali ini membahas topik tentang konsep Jiwa dan hubungannya dengan kekerasan agama dan  primordial.  Cukup menarik untuk direnungkan bahwa kekerasan rasial yang sudah ada sejak zaman kapak genggam, namun tetap marak di zaman telephone genggam. Wakakakk…… zaman semakin maju tapi ajaran humanisme malah berjalan mundur.  Agama yang muncul belakangan bukannya membuat susasana menjadi adem dan tentram namun malah menambah situasi panas menjadi semakin panas dan alot.

Adakah solusi lain?  Berikut ini saya mencoba menuliskan  salah satu alternatif sekedar sebagai bacaan diwaktu senggang yaitu  dengan mempelajari dan mengenal filosofi Jiwa.

Sekilas tentang pengertian  JIWA

Menurut kamus KBBI, Jiwa artinya Zat Hidup, roh yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan seseorang hidup.  Kata Jiwa berasal dari kata JIVA (bhs. Sansekerta)  yang artinya adalah sama saja yaitu  the immortal essence of a living organism aliasiving being”.  Di tulisan ini, saya sengaja tetap menggunakan bahasa aslinya yaitu Jiva.

Konsep dasar Filosofi tentang JIVA

“Siapakah diri saya?” Ini adalah pertanyaan paling mudah untuk menjelaskan tentang konsep Jiva. Kebanyakan orang tentu akan menyebutkan nama kemudian dikuti dengan identitas lain seperti suku, asal, usul, keturunan dll. Bagi yang merasa diri religus tentu saja dengan bangga akan menyebutkan agama yang dianutnya, walau kadang tidak ditanya. Wakakakk……

Jawaban yang tidak salah tentu saja. Namun dengan konsep Jiva, semua  jawaban tersebut  dianggap hanya sebatas jawaban “kulit luar” dan secara tidak langsung, pemahaman inilah yang kadang menjadi pangkal kekerasan suku atau agama. Berikut adalah penjelasan lebih lengkap Filosofi Jiva ala Wage:

  • Saya bukanlah badan material namun Jiva atau zat hidup atau spirit soul.
  • Jiva tidak bisa memilih tempat kelahiran. Kalau lahir di keluarga orang Jawa ya tentu jadi orang Jawa, kalau lahir di keluarga China ya tentu akan menjadi orang China. Orang Yahudi, Amerika, Arab dll adalah sama saja. Jadi atas dasar apakah kita membenci orang lain hanya karena perbedaan ras?
  • Maniusia memiliki Jiva, binatang juga memiliki Jiva. Manusia tidak bisa memiilih kelahiran, binatang juga sama saja. Jadi atas dasar apakah kita harus membenci mahluk lain?
  • Jiva berasal dari satu sumber yang sama yaitu Sang Sumber Jiva, atau bahasa populernya Tuhan/God/Semesta. Jadi semua orang pada dasarnya adalah sama atau bersaudara karena berasal dari sumber yang sama.

Sampai bagian ini sepertinya bisa dipahami dan diterima oleh banyak orang, atau mungkin sedikit “masalah” pada bagian binatang-nya. Kebanyakan orang akan menolak keras kalau dikatakan bersaudara dengan binatang. “Binatang haruslah lebih hina dari manusia !”.  Menganggap binatang memilki hak hidup dan derajat yang sama juga sepertinya kebanyakan orang akan keberatan. Pola pikir seperti inilah yang menjadi dasar-dasar munculnya bibit kebencian.

Humanisem harus diajarkan sejak kecil, misalnya dengan mencintai semua mahluk hidup.

Bagaimana dengan agama?

Pembahasan yang lebih menarik dan kontroversial adalah “Bagaimana dengan agama?”. Dengan menggunakan filosofi Jiva, jawabannya adalah tetap sama.  Kalau lahir di keluarga rabi Yahudi, dari kecil belajar tradisi, budaya dan dogma agama Yahudi maka  sampai matipun akan menjadi beragama Yahudi, demikian juga dengan mereka yang lahir dari keluarga agama lain. Jadi membenci orang yang beragama berbeda juga adalah suatu kekeliruan.

Suatu hal yang lucu ketika seseorang dengan yakin berteriak “Ini agama pilihanku, yang akan aku bela sampai mati !!!” Hah?! Pilihan?  Saya yakin sebagian besar dari kita beragama karena warisan, bukan karena pilihan.

Dari sudut pandang konsep Jiva, fanatisme agama adalah sama bodohnya dengan fanatisme suku, ras atau keturunan. wage

Perbedaan konsep Jiva, roh dan arwah

Apakah Jiva adalah sama dengan roh/arwah? Pertanyaan ini sepertinya tidak penting untuk ditanyakan dan juga tidak penting untuk dijawab. Filosofi Jiva adalah ajaran yang menekankan pada pentingnya menghargai orang/mahluk lain, tidak membedakan seseorang karena kelahirannya. Sedangkan konsep Roh atau arwah (sepertinya) lebih menekankan pada kehidupan susudah mati, dunia lain (akhirat), surga neraka dll. Kalau dicari padaan kata bahasa Inggrisnya, Jiva akan diterjemahkan menjadi SOUL, dan roh diterjemahkan menjadi SPIRIT. Jadi dari awal sepertinya pembahasannya sudah tidak nyambung.

Roh atau arwah kadang digambarkan menakutkan, gentayangan, muncul tiba tiba di tempat gelap, kesasar dll. Sedangkan konsep Jiva lebih menekankan pada sifat dan kharakter seperti jiwa yang sedih, gembira, ketidaktahuan, pemahaman, kesadaran dan membebaskan diri dari sifat ego atau keAkuan.

Menurut pendapat saya, roh bukanlah sesuatu yang menakutkan. Yang menakutkan justru adalah manusia disaat masih hidup, memiliki kaki untuk menendang, memiliki tangan untuk menampar, pegang senjata, pentungan, main bakar dan beragam tindakan anarkis atau kriminal lainnya. Roh mungkin bisa bikin bulu kuduk merinding, tapi kelakuan manusia bisa bikin rambut berdiri.

Konsep Tuhan menurut ajaran  Jiva

Jiva berasal dari satu sumber yaitu Sang Sumber Jiwa atau PARAMAJIVA. Terjemahan lebih mudahnya adalah Tuhan atau God. ParamaJiva  bukanlah nama Tuhan secara personal seperti halnya Johevah, Allah, Zeus, Mazda, Krishna,  Vishnu dll, tapi hanya sekedar sebutan saja.

Tuhan adalah tidak memiliki nama,  yang harus disebut dengan banar, kalau salah sebut atau salah panggil maka Tuhan akan ngambek, tidak mau menoleh atau bahkan marah besar sambil guling guling tendang gunung. Jadi konsep Paramajiva kurang lebih mirip dengan filosofi Tuhan yang ada di Nusantara, seperti  sebutan Sangkan Paraning Dumadi,  Hyang Urip ataupun sebutan lain yang menunjuk pada sosok Tuhan lainnya. Bingung? Tidak setuju? Ya abaikan saja………

Konsep Jiva adalah ajaran agama?

Jawabannya mungkin YA, tapi mungkin juga TIDAK.  Filosofi jiva ini banyak dianut oleh para praktisi Yoga. Beberapa agama atau kepercayaan di India seperti Jains mengajarkan filosofi Jiva sebagai ajaran utamanya. Sedangkan ajaran Hindu lebih populer istilah Atman-Paramatman yang artinya sama saja dengan kata Jiva-Paramajiva.

Namun walau akar kata dan filosofinya mungkin dari agama, tapi di tulisan ini saya lebih suka membahas sisi humanismenya. Jiva hanyalah penamaan saja dan Anda bisa menggantinya dengan istilah apapun yang disukai.

OPINI PENUTUP

Perang dan kerusuhan berlatar suku dan etnis adalah masalah pelik yang sepertinya tidak akan pernah bisa berakhir. Ketika agama ikut dilibatkan di dalamnya maka konflik akan menjadi semakin rumit. Konflik Arab Palestina dan Israel mungkin adalah salah satu contohnya. Konflik menjadi semakin rumit ketika agama, politik, kekuasaan dan kepentingan bercampur aduk menjadi satu. Percaya atau tidak, konflik etnis dan agama kadang sengaja diciptakan dan dipelihara oleh negara. Kemudian lembaga agama tertentu juga tidak jarang melesatarikannya.  Semua ini memberi andil kasus kekerasan bernuansa ras dan suku bangsa menjadi berlarut larut.

Dengan pendekatan filosofi Jiva maka semua faham kebencian ini bisa diminalkan. Setiap orang tidak bisa memilih tempat kelahiran, jadi membenci seseorang berdasarkan ras, suku dan bahkan agama adalah kebodohan. Kalau hati anda masih punya sedikit sisa ruang atau nurani, maka seharusnya anda juga tidak akan membenci binatang dengan membabi buta.

Apakah ini artinya ajaran tentang Jiva sangat mulia? Dalam lingkup pembahasan tentang kasih sayang terhadap sesama, jawabannya (mungkin) adalah YA, namun dari sudut pandang nasionalisme atau politik dan kekuasaan, jawabannya  adalah sebaliknya.

Demikianlah tulisan Asem dan abal abal hari ini tentang konsep JIVA. Tulisan ini adalah pembuka untuk tulisan lanjutnya  yang berkaitan dengan Jiva seperti: Penghormatan terhadap leluhur, Larangan olah raga Yoga, Agama dan kebencian terhadap binatang serta topik Vegetarian.

Sumber image: empowermagazine.com Thank you for fotografer/image owner

Advertisements

35 thoughts on “Benci China atau Yahudi? Ini Dia Jawabannya

  1. Nuwun Mbah..
    Paman tdk bisa komentar banyak2 melainkan melalui puisi ini mudah2an tdk membosankan.

    KECOAK.
    Man, kecoak sebelah kaki kiri mu….
    Hhhmmm enyahkan!!!
    Makin dekat Man….
    Cepat musnahkan….!!!
    Cepla plak..ceplok..plass…Dia menghindar lari..
    Kejar..terus kejar…kejar lagi dan terus lagi
    Grobayak.krompyang…gedebuk..Hu.h.huh huh…ngos ngosan…
    Stop hentikan, urungkan niatmu!
    Man,..dia harus mati, dia mengganggu…
    Tidak, dia berhak hidup seperti kau dan aku.
    Tapi man?????
    Dia tidak mengganggu, dia hanya mencari makan.
    Aku berdilema, aku menatap layarTelevisi.., berita tentang
    Pengejaran dan penertiban, baku pukul antara manusia manusia tak berdaya melawan Front Penegak Moral
    Man itu hanya seekor kecoak…!!!
    Apa bedanya dg kau dan aku..dia hidup.
    Beda Man..dia binatang kita manusia,mahluk paling sempurna
    Dia menjijikan, bau,..tidak berpendidikan dia Asusila.
    Pokoknya beda, jelas jelas berbeda
    Dia tidak beragama.
    Kafir???
    Ya…
    Kejar lagi..bunuh!!!!!..
    Crotttt….!!! Penyet… .mlethet.

    PamanDalbo

    1. Puisinya yang sangat bagus dan penuh simbol. Saya senyum2 sendiri membacanya. Tulisan saya di awal bulan ini memang rada membosankan dan dipastikan tidak akan menarik minat untuk dibaca apalagi dikometari. Jadi satu komentar dari Paman ya saya sudah sangat puas.

      Saya sih nunggu tulisan Paman yang akan terbit tanggal 10, yang berjudul “Renungan Sesat Agama Sentoloyo”, Sepertinya akan menarik dan menjadi kombinasi yang bagus untuk bulan ini. Ada topik membosankan, ada juga topik menariknya. Yang serba sesat dan dilarang khan biaanya menarik. salam

    2. Nuwun Mbah..
      Walah walah mbah kok jadi sensi to..siapa bilang tulisan mbah membosankan..justru ini yg kita tunggu2 menggugah kembali Jiwa2 yg terlalu lama ter tidur pulas.
      Asah asih asuh
      PD

      Reply wage:
      Membosankan-lah Paman karena memaksa pembaca untuk berpikir, menekuk muka dan mengernyitkan alis. Yang komentar sepertinya sudah bisa ditebak. Nah kalau tulisan menarik itu semacam penghinaan agama.

    1. Duh kenapa ya? Kok DB sering dapat kendala susah diakses ya? Mungkin kena virus abal-abal? :mrgreen: Atau aksesnya pakai jurus abal-abal?

  2. SIAPAkah diri SAYA?
    —————————-
    wah suatu pertanyaan ‘sepele’ namun susah utk dijawab (oleh dan utk sy sendiri, maksudnya),.. ^_^ boljug tu Mbah, _/\_ makasih,
    sy akan mencoba terlebih dahulu memahami pertanyaannya dgn bantuan spt ini..(juga)

    http://en.wikipedia.org/wiki/Strange_loop

    note:
    “We are NOT born with an ‘I’ – the ego emerges ONLY GRADUALLY as experience shapes our dense web of active symbols into a tapestry rich and complex enough to begin twisting back upon itself.”
    ,,(^_^),,

    Reply wage:
    Pertanyaan mudah dan sederhana memang kadang bikin linglung, mirip dengan pertanyaan anak kecil yang susah untuk dijawab. Link-nya unik. Suka dengan gambarnya.

  3. Yaaps..bener mbah..cuma mikir, gmana kalo orang yang fanantik ato cinta sama negerinya sendiri..hehehehheee,,,,mati demi negara keren kayaknya mbah…sebagai pahlawan yg membela ibu pertiwi too….

    Tapiiiiii….tungguu…negara dijajah sapa yah???

    yaps dijajah dirinya sendiri..uhuk…

    Reply wage:
    Cinta negeri sendiri tentu saja bagus, asal tidak tai kucing rasa coklat. Nanti bisa berubah jadi facis. Dulu kita dijajah oleh orang dari negeri lain, sekarang dijajah oleh orang negeri sendiri. Ah, sama saja….

  4. JAWI….JIWA….JAWA

    jadi keinget, pernah ada sesepuh yang berkata kepada saya….:

    “panjenengan ingkang tasih wonten JAWI….monggo pinarak melebet….sumonggo dipun mangertosi sang JIWA….menawi sampun mekaten panjenengan kenging sinebut tiyang JAWA”

    terjemahan bebas versi saya:

    “kalian-kalian yang masih berada di LUARAN….silahkan masuk….masuklah ke dalam dirimu agar kenal dengan sang JIWA…..setelah itu barulah kalian bisa disebut sebagai orang JAWA/orang yang mudheng/mengerti hakikat hidupmu”

    sepertinya nyambung dengan ulasan simbah yang ini….hehe

    salam. Mbah Wage….salam sederek semua…. 🙂

    1. Terima kasih kang Mo. Nasehat yang bagus. Tapi nasehatnya khusus utnuk orang Jawa saja khan? Atau kata Jawa hanya kiasan? Biar ndak nyambung (jaka sembung) yang penting ya tetap bawa golok…..

  5. iya mbah, kemaren tgl 1 saya gw bisa buka DB mbah, saya komeng pake imel.
    apakah karena blog abal abal dan sesat ini dikenal sama operator internet saya mbah..? sudah terkenal dong mbah 😀

    soal tulisannya mbah, sangat menarik, tapi saya belum ngerti juga apa pengertian JIVA itu mbah, apakah ini sama dengan konsep Buddha..? (dimanakah tuhan..?? tuhan itu adalah kau, dirimu)

    mudah mudahan bisa dijelasin lebih lanjut… suwun 😀

    1. @ Bang Banjar,
      Ha..ha…Blog nabi saja banyak musuhnya apalagi blog sesat dan abal2.

      Pesan terpenting dari konsep Jiva adalah menghargai mahluk lain, menghargai orang lain, ras lain, tidak mudah main bunuh dst. Apakah konsepnya sama dengan Buddha, jujur saya tidak tahu. Mungkin sama, mungkin juga tidak atau lebih tepat mirip? Entahlah…..

      Tulisan di blog ini (bukan hanya ditopik ini saja) sebiasa mungkin dibuat apa adanya tanpa berusaha membuat perbandingan langsung atau kesimpulan sepihak. Tujuannya adalah agar menghindari celah untuk didebat (bagi yang doyan debat).

  6. Every “I” is the same “I”, which is the Cosmic “I”.
    The only difference is the subject patterns held as reference point to experience other patterns.
    Due to subject object polarization the subject patterns identified itself as “I am” having the impression of being separated from the rest of the Cosmos, which is its illusion.

    Sumber: The Ultimate Unification Theory yang bisa ditengok di http://www.scientific-spirituality.bpramana.org

    Maaf masih dalam bahasa Inggris karena belum nemu kata kata bahasa Indonesia yang pas.

    1. @ Mas OCM,
      Senang sekali Anda bersedia mampir. Link artikel yang sepertinya bagus dan bermanfaat. Sayang, bahasa Inggris saya rada payah, namun akan berusaha belajar dan memahaminya. salam

    2. Mas Wage,
      Pagi ini saya bangun koq mendapatkan inspirasi untuk menggubah apa yang saya ceritakan di “Sabdadewi – Falsafah ngelmu urip” menjadi sebuah dongeng abal abal tentang OCM di zaman Lemuria. Mungkin akan lebih mudah dicerna.
      Namun karena sudah lama nggak dipakai, bahasa Indonesia saya masih abal abal dan belepotan. Jadi masih perlu banyak latihan.

    3. @ Mas OCM,
      Ide bagus, saya dukung 101% Mas. Saya sudah tidak sabar untuk mambacanya. Bersama ini saya juga sekaligus menawarkan diri jadi editor-nya. Namun harap maklum aja, editornya abal-abal jadi alih-alih tambah bagus namun malah acakadul. wakakakkkkk……..

    4. Wah, bagus mbah, dengan kehadiran pak OCM, blog ini semakin banyak pendekarnya, dari satrio piningit, wiro sableng hingga lemurian golden boy :D…

      Sepertinya blog dongeng budaya nanti akan berganti menjadi dongeng pendekar ya mbah :?:…

      Nah, kalau simbah ini cocoknya jadi pendekar apa ya??… kalau saya memang sudah ‘pedekar’ sejak dulu mbah, alias ‘pendek mekar’ :mrgreen:…

  7. @ Wager,

    Nice topic mbah, dengan tuiisan yang ringan dan kocak khas abal2, bikin bacaan jadi mengena, sentilan sentilun kritikannya dengan tujuan untuk merekontruksi.

    Anyway ngomongin agama… jika di hadapkan dengan moral sosial masyarakatnya… terkadang agama tidak bisa menjawab/ sebagai solusi…. yang bisa menjawab/ menghentikan segala kerusuhan adalah dari hati sendiri-sendiri, belajar mengendalikan nafsu amarah diri dsb.

    Religion vs religious… seperti halnya agama vs spiritual… ada gap dan perbedaannya :)…

    @ OCM,

    Who am I?… siapa aku, siapa saya, siapa diriku?…. I is ego, myself is illusion, me is between the two of them… now, where am I? :wink:…

    Salam jiwa,

    Dewi

  8. kulo nuwun mbah wage,
    wah dah lama saya gak mampir kerumah simbah, ternyata smakin adem ayem tentrem…aura cinta kasihnya smakin terasa ditambah bumbu abal-abalnya yg mantaf…sungguh ulasan yg bermanfaat bg qta semua yg sejatinya memang qta semua bersaudara dlm satu kesatuan/kemanunggalan semesta alam…smoga ulasan diatas smakin memperluas energi cinta kasih semesta alam dlm jagad cosmos..
    salam damai dihati damai di bumi,damai semesta alam

    1. Mas Wisnu TJ, apa khabar?
      Lama menghilang dan syukurlah kalau sehat. Misi dari tulisan di atas memang menyebarkan spirit persaudaraan dan cinta kasih, namun ditulis dengan gaya abal2. Emang tahunya cuma gaya itu doang……. Diajak serius langsung terkencing-kencing, wakakakkkk……

  9. Topik yang menarik,
    ternyata menulis itu juga mengasyikkan ya? kadang ingin menulis seperti kang wage dan yg lainnya jeng dewi yg juga saya sempat lihat gak sengaja….berusaha belajar lagi ternyata blog itu seperti itu, banyak sekali yg harus diprepare sebagai penulis seperti bang wage, entahlah karena beliau hanya mengalir saja ( Genius ) atau dipikir masak2 ( kritikus )atau hanya asal tulis ( preman )…entahlah mungkin tergantung jiwa bang wage saat itu……pertama aku datang ke sini dgn tulisan blepotan…..hehehe banyak yg aku pelajari hanya dgn membaca blog ini tentang arti menulis….ternyata sebuah tulisan itu adalah seni tersendiri…..memiliki jiwa yg lain daripada pribadi kita yg mungkin gampang marah atau strees…..hehehehe….balik ke topik nih biar gak lupa, bagiku pribadi kulit luar yg di maksud sebagai agama adalah benar..karena agama lahir dari tahapan2 kepercayaan yg tumbuh dari jiwa 2 agung pada awalnya….lambat laun makin menipis dan level yg terendah mendekati kepunahan adalah agama, kenapa saya katakan yg terendah karena agama adalah yg tertulis dan bisa musnah, didalamnya agama jiwa2 kesucian tersebut sudah terkotori dengan doktrin2 yg tidak lagi bebas…..seperti bang wage yg mengatakan blognya selalu abal2 karena beliau mungkin tidak mau blognya nanti menjadi agama setelah ribuan tahun nanti, minimal pemikirannya yg murni dan terpapar dialam material dan terbaca lagi di kehidupan selanjutnya…..karena itu bercode, yg saya sebut baju yg dipakai seseorang untuk hidup melewati skenario yg diberikan pada alam dan persetujuan daripada sang roh yg tak pernah menolak apa yg diskenariokan pada dirinya, karena dalam kesadaran antimaterial roh sadar mereka takkan musnah oleh kehidupan………kepercayaan seperti asah asih asuh dll itu tumbuh dalam sanubari orang indonesia yg peka akan alam luhurnya….agama2 yg import dan dikatakan kepunahan sebuah kepercayaan karena tidak mengandung kebenaran dan digantikan dengan yg benar , saya rasa kurang tepat….karena ini menyangkut siklus yg alam adakan jaman pembusukan budhi…kaliyugha atau semacamnya…nah kita sudah melewati jaman itu karena jaman2 yg dikabarkan sebagai kiamat adalah seperti berhentinya jaman pembusukan budhi yg kita menyongsong jamannya budhi atau kertha yugha…….tapi dalam perubahan selalu ada Revolusi yg di katakan sebagai goro2….ini bukan hanya milik Indonesia tapi seluruh dunia dan akan berkelanjutan samapai munculnya alam baru yg luhur dan berkecukupan serta damai……tahapan2 itu terus akan ada sebagai pralina bukan pralaya yg artinya pemusnahan sampai 4 alam…..yg dikatakan surga itu hanya pada bagian alam kedua…..alam bhuah atau hasil daripada karma…….nah bila anda bisa melihat dibelakang seseorang berwarna hijau agak pekat nah itu karma manusia atau bensin hidup…hehehehe,…kalo mau nakal ah gak usah dah! kok bahas begituan……nah skenario itu berdasarkan baju2 alam seperti yg dipakai jaman2 kerajaan dulu……peperangan memperebutkan itulah awal memasuki jaman kaliyuga atau pembusukan budhi atau pemaksaan dari yg seharusnya berupa give……..anugerah dari yg maha tahu, bhatara guru. belajarlah saudara empat itu..panggillah selalu karena hanya itu penjaga kita dari apapun didunia itu…itulah yg paling saklar eh sakral yg di warisi nenek moyang kita…wah saya gak bisa nulis kata2 yg dicoret itu seperti bang wage……keren! beh…..!!!! dah ah gak keren kalo gak bisa sakti nulis kaya bang wage pakai macam2 gambarlah orang jingkrak2lah…emoticon itu lucu…….hik bye dah salam kertha bhumi

    1. Salam Kang Black,
      Bikin blog itu ndak begitu susah koq. Yang terpenting adalah niat. Kemudian tentukan tujuan dan target pasar atau pembaca.

      simbah sendiri ngeblog tujuannya adalah iseng, nyalurkan hobby mendalang, main puisi2an dan fiksi2an. Daripada nonton tv enakan ngeblog. Kemudian target pasarnmya adalah pembaca kesasar yang salah klik.

      Bikin blog itu tidak susah, yang susah adalah kontinyu atau berkelanjutan. Semua orang bisa berbuat baik, tapi yang susah adalah berbuat baik terus menerus. Pekerjaan, bersih2 rumah, kasih sayang, nulis blog pada dasarnya sama saja. Tanpa ada tujuan dan target, semuanya menjadi percuma. Adanya Tujuan, membuat hal susah jadi menyengkan.

      Nulis blog atau nulis komentar itu sebetulnya sama saja, hanya beda tempat nulisnya saja. salam

      **mabuk tuak malam hari.

    2. Met pagi Simbah, kang BB lan sedoyo,

      Maturnuwun mas Blackbird, saya masih belajar, belajar nulis, komment dan berpanggraita 🙂 …

      Saya sering juga membaca pencerahan2 njenengan di blog ini, dengan tulisan2 yg cospleng semacam ini, sebenarnya njenengan punya bakat bikin blog yg besar, apalagi njenengan sudha punya wordpress, tinggal di isi saja halaman2nya.

      Saya suka gambar ikan kecil2 yg bermobilisasi balik menyerang si ikan kakap… sebuah pesan tersembunyi/ sentilan untuk mayoritas yg pongah dan somse, maka kita yg minoritas jangan panik, kita bisa tetap bersatu agar solid… he he he…

      Simbah betul, bikin blog itu seperti nulis di diary awalnya, lalu selanjutnya lambat laun kita bisa arahkan tujuannya, apakah dipakai utk diri sendiri/ pribadi atau bisa di kunjungi teman2 sekaligus meneruskan diskusinya, jika blog di buka utk umum, maka kita bisa saling mengunjungi, sesimpel itu saja. Nilai plusnya, enaknya kalau punya blog sendiri kita bisa menjadi diri kita sendiri.

      Ok kembali ke topik/ komment, yg saya tangkap poinnya, sebaik2 agama/ ageman adalah dalam hati/ nurani, karena jika berupa kertas maka ia akan mudah musnah… that`s makes sense actually. Apalagi jika mereka banyak berkoar-koar berbusa-busa… maka mereka hanya besar mulut doang tetapi akarnya rapuh. Itulah gaya kesan lugas motto kertha bumi 🙂 …

      Dan blog mbah Wage ini… oh damn so beautiful… diam-diam mencuri hati kita memang… *glek… duh jadi kepingin menikmati bir juga… sayangnya saya alergi alkohol… tapi kalau sesekali tuak nggak pa-pa lah… wakakaaaakkk….

  10. Pingback: Dongeng Budaya
  11. ONE

    Allah swt, sang hyang widhi, tuhan, …dll
    He he he semua indah…semua menyebut itu..adalah satu
    Satu, setunggal sejatining tunggal, siji nyawiji, 1= one , one dibaca “wan”…

    Augh ah gelap..aku lo …. wong Indonesia

    Semua ingin number ” wan ”

    He he he yo wis , sing penting jadi :
    Hartawan
    Wartawan
    Gunawan
    Dermawan
    Sukwan
    Hewan….eh,,,

    ha ha aha.ndak boleh ” neg think lo..”…hewan maksunya….”hey kawan”…..ha ha
    Salam kenal dong…..

  12. SIAPA MANUSIA ?

    Akrab lah kita dgn tuhan kita.
    Tahulah kita cina, yahudi, asia, eropa adlah sama manusianya.
    Semua adlah saudara sesama manusia yg hidup menginjak injak bumi yg mulia ini.
    Sama sama suka menganiaya bumi yg mulia ini utk memenuhi hajat hidupnya.

    Eh siapa sih yg bilang manusia paling mulia ?
    He he bumi ini seneng lo kalau tidak ada manusia..
    Coba tanya kenapa…
    Coba tanya aja pada batu batu taman dirumah kita.

    Ha…… Semoga batu mau menjawabnya.
    Pasti mau, asal kita tiap pagi mencium batu itu dan minta maaf dlm hati .
    Ya..selama minimal 5 tahunlah.
    ….heaaaa…aduh gedebuk,..”……

    Nggak percaya, apa percaya….
    Coba deh…….

    Kalau bisa…….hidup pastilah bahagia.

    Keep smile, ” smile bird “

  13. Konsep jiva ini sama dengan konsep atma dalam hinduisme. Dimana atma merupakan bagian dari paramatma. Saya menyebutnya bagian bukan percikan agar tidak salah menafsirkan. Karena atma itu melingkupi seluruh alam semesta. Jadi tiap alam semesta itu pastinya ada kehidupan baik yang terlihat oleh kepala manusia maupun tidak. Dalam budhisme juga tidak menyinggung konsep ketuhanan, bahkan sidharta sendiri dulunya pemeluk hindu. Tapi dia menawarkan solusi baru bagi pencari spritual jadi tidak terkotak kotak.oleh sistem kasta di.india hanya kaum brahmana yang dapat mencapai pencerahan

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s