(Puisi) Mengenang Kelahiran WS Rendra

Banyak cara untuk mengungkapkan pendapat, ada yang halus, kasar, langsung kesasaran, langsung sruduk ataupun mbulet, muter muter. Ada yang doyan mencatut-catut ayat kitab suci banyak juga yang berargumen dengan menggunakan akal dan nurani. Nah, dari beragam cara penulisan komentar tersebut yang paling menarik bagi saya adalah penulisan komentar dengan cara berpuisi, syair, tembang atau apalah namanya. Sesuai dengan filososfi blog ini yaitu “tidak akan membuang komentar” maka bersama ini dalam rangka merayakan hari kelahiran dari sang penyair besar “Si Burung Merak” WS Rendra (7 November 1935 – 6 Agustus 2009), blog ini akan menampilkan beragam puisi karya pembaca.

Puisi pertama menampilkan salah satu karya dari sang Maestro yang berjudul “Kesaksian Akhir Abad”. Puisi ini sangat indah, sarat makna dan perenungan, memuat banyak gugatan,  keprihatinan sekaligus juga kepedulian terhadap kondisi negeri ini.

 

KESAKSIAN AKHIR ABAD

Karya: WS  Rendra

Ratap tangis menerpa pintu kalbuku.
Bau anyir darah mengganggu tidur malamku.

O, tikar tafakur!
O, bau sungai tohor yang kotor!
Bagaimana aku akan bisa membaca keadaan ini?

Di atas atap kesepian nalar pikiran
yang digalaukan oleh lampu-lampu kota
yang bertengkar dengan malam,
aku menyerukan namamu:

Wahai, para leluhur Nusantara!
O, Sanjaya!
Leluhur dari kebudayaan tanah!
O, Purnawarman!
Leluhur dari kebudayaan air!
Kedua wangsamu telah mampu
mempersekutukan budaya tanah dan air!

O, Resi Kuturan! O, Resi Nirarta!
Empu-empu tampan yang penuh kedamaian!
Telah kamu ajarkan tatanan hidup
yang aneka dan sejahtera,
yang dijaga oleh dewan hukum adat.
O, bagaimana mesti aku mengerti
bahasa bising dari bangsaku kini?

O, Kajao Laliddo! Bintang cemerlang Tana Ugi!
Negarawan yang pintar dan bijaksana!
Telah kamu ajarkan aturan permainan
di dalam benturan-benturan keinginan
yang berbagai ragam
di dalam kehidupan:
Ade, bicara, rapang, dan wari.

O, lihatlah wajah-wajah berdarah
dan rahim yang diperkosa
muncul dari puing-puing tatanan hidup
yang porak-poranda.

Kejahatan kasat mata
tertawa tanpa pengadilan.
Kekuasaan kekerasan
berak  dan berdahak
di atas bendera kebangsaan.

O, anak cucuku di jaman cybernetic!
Bagaimana akan kalian baca
prasasti  dari jaman kami?
Apakah kami akan mampu
menjadi ilham kesimpulan
ataukah kami justru
menjadi sumber masalah
di dalam kehidupan?

Dengan puisi ini aku bersaksi
Bahwa rakyat Indonesia belum merdeka.
Rakyat yang tanpa hak hukum
bukanlah rakyat merdeka.
Hak hukum yang tidak dilindungi
oleh lembaga pengadilan yang mandiri
adalah hukum yang ditulis di atas air!

Bagaimana rakyat bisa merdeka
bila polisi menjadi aparat pemerintah
Dan tidak menjadi aparat hukum
yang melindungi hak warga negara?

Bagaimana rakyat bisa merdeka
bila birokrasi negara
tidak menjadi abdi rakyat,
melainkan menjadi abdi
pemerintah yang berkuasa?

Bagaimana rakyat bisa merdeka
bila  hak pilih mereka dipasung
tidak boleh memilih secara langsung
wakil-wakil mereka di dewan perwakilan,
dan juga tidak boleh memilih secara langsung
camat mereka, bupati, walikota, gubernur, dan presiden mereka?

Dan partai-partai politik
menganggap rakyat hanya abdi partai
yang dinamakan masa politik partai!
Atau kawula partai!

Bagaiman rakyat bisa merdeka
bila  pemerintah melecehkan perdagangan antardaerah
dan mengembangkan merkantilisme Daendels
sehingga rela menekan kesejahteraan buruh, petani, nelayan, guru
dan serdadu berpangkat rendah?

Bagaimana rakyat bisa merdeka
bila  propinsi-propinsi sekedar
menjadi tanah jajahan pemerintah pusat?

Tidak boleh mengatur ekonominya sendiri,
tatanan  hidupnya sendiri,
dan juga keamanannya sendiri?

Ayam, serigala, macan, ataupun gajah,
semuanya peka pada wilayahnya.
Setiap orang juga ingin berdaulat
di dalam rumahtangganya.

Setiap penduduk ingin berdaulat
di dalam kampungnya.
Dan kehidupan berbangsa
Tidak perlu merusak daulat kedaerahan.

Hasrat berbangsa dan naluri rakyat
untuk  menjalin ikatan dayacipta antarsuku,
yang penuh keanekaan kehidupan,
dan memaklumkan
wilayah pergaulan yang lebih luas
untuk merdeka bersama.

Tetapi lihatlah selubung kabut saait ini!
Penjajahan tatanan uang,
penjajahan modal,
penjajahan kekeraan senjata,
dan penjajahan oleh partai-partai politik,
masih merajalela di dalam negara!

Dengan puisi ini aku bersaksi
bahwa sampai saat puisi ini aku tandatangani
para elit politik yang berkedudukan
ataupun yang masih berjalan,
tidak pernah memperjuangkan
sarana-sarana kemerdekaan rakyat.

Mereka hanya rusuh dan gaduh
memperjuangkan kedaulatan
golongan dan partainya sendiri.

Mereka hanya bergulat untuk posisi sendiri.
Mereka tidak peduli kepada posisi hukum,
posisi polisi, ataupun posisi birokrasi.

Dengan picik
mereka  akan mendaur-ulang
malapetaka bangsa dan negara
yang telah terjadi!

O, Indonesia! Ah, Indonesia!
Negara yang kehilangan makna!
Rakyat sudah dirusak tatanan hidupnya.
Berarti sudah dirusak dasar peradabannya.
Dan akibatnyta dirusak pula kemanusiaannya.

Maka sekarang negara tinggal menjadi peta.
Itupun peta yang lusuh
dan  hampir sobek pula.
Pendangkalan kehidupan bangsa telah terjadi.
Tata nilai rancu.
Dusta, pencurian, penjarahan, dan kekerasan halal.

Manusia sekedar semak belukar
yang  gampang dikacau dan dibakar.
Paket-paket pikiran mudah dijajakan.
Penalaran amanah yang salah
mendorong  rakyat terpecah belah.

Negara tak mungkin kembali diutuhkan
tanpa  rakyatnya dimanusiakan.
Dan manusia tak mungkin menjadi manusia
Tanpa dihidupkan hatinuraninya.

Hatinurani adalah hakim adil
untuk diri kita sendiri.
Hatinurani adalah sendi
dari kesadaran
akan kemerdekaan pribadi.

Dengan puisi ini aku bersaksi
bahwa  hatinurani itu meski dibakar
tidak bisa menjadi abu.
Hatinurani senantiasa bisa bersemi
meski  sudah ditebang putus di batang.

Begitulah fitrah manusia
ciptaan  Tuhan Yang maha Esa.

……………………………………………………………………………………………….

PUISI KARYA PEMBACA

……………………………………………………………………………………………….

Ego Senyum Sinis

Oleh: Sdr Nurkahuripan

Salam bulan merah yg tersenyum kpd seluruh sedulurnya,.

~Tak ada lagi yg dibahas,yg terbahas dan yg membahas,
saat waktu bertingkah seperti seorang munafik tulen,.
apakah ini penyelarasan kondisi pikiran & hati,,
batin yg sdng brtamasya ke tmpt dimana waktu blm tercipta,,
atau sesuatu yg beratnya melebihi sesuatu yg Ada,. ??

alam mata & af’al berkata:akulah hidup sebenarnya,.
alam atom&hati jg berkata:akulah yg hidup sebenarnya,.
Kosong datang sambil berkata:kalian semua benar,
skrg tinggal bagaimana kalian berjalan,.

Isi pun ikut berkata:bagaimana kt berjalan
sedang non waktu terus menyelimuti kt,.
Ego pun datang dgn senyum sinis dan berkata:
akulah yg paling benar,kalian ikutlah aku,.
Mereka pun berkata serempak :
bagaimana kau benar,kau saja tdk nyata & belum benar,.

Semuanya terdiam dalam kebutaan dan kebisuan,.dan,.TEK…
Dari luar alam kata,nyata,hampa,tanya,dan rasa,.
Penguasa Tunggal alam minus dimensi Tertawa..

………………………………………………………………………..

Karena aku sama dengan dirimu

Senja

Berlari dan terjatuh
Berjalan dan terantuk
Berdiam dan membisu
Lelah, Penat, Gerah ?

Gurat gurat misai kala masa membasuh peluh
Gumam belalang sawah,
Di kala lupa adalah obat dimanakah manisnya sebutir nasi ?
Di kala perih adalah penawar rindu dimanakah luka yang termanis terbuat ?

Cinta hanyalah cinta
Rindu hanyalah rindu
Sedih hanyalah sedih
Luka hanyalah luka
Apakah yang paling sering kau rasakan ?

Jangan kau tanya kepadaku tentang cinta
Jangan kau tanyakan padaku tentang sedih
Jangan kau tanyakan padaku tentang apapun
Karena aku sama dengan dirimu
sama-sama juga bertanya,
tetapi lupa kalau kita juga menyimpan jawabannya.

………………………………………………………………………..

ilustrasi dari sang ilustrator

Oleh : Sdr Nurkahuripan

Aku pernah menelan pil yg sangat2 pahit dan madu yg sangat2 manis,.
darimana aku berasal dan kemana aku akan melangkah,
adalah pendamping hidupku,.

Alam fikirku berkata:sekarang waktu adlh musuh yg nyata bagi diriku,.
namun hatiku justru mengatakan:i a adlh teman yg istimewa bagiku,.
Benakku merasa takdir membelaku ketika
aku berada ditiang gantungan karena membunuh oknum
yg memang seharusnya trbunuh.
tetapi,langkah kakiku brperasaan bhw takdir telah
membunuh kondisiku yg seharusnya tdk terbunuh,..

Sejak lahir ke dunia ini,.mataku sudah tdk lagi melihat,.
hanya Ada kegelapan&kehampaan yg ada didepan,belakang,
dan dikedua sisiku.,
aku hanya meminta kpd sesuatu yg telah membutakan mataku
untuk setiap peranku,dlm semua peristiwaku,.jika aku sbuah batu,pasti aku ingin menjadi pohon,.
jika aku sebuah pohon,pasti aku ingin menjadi seekor hewan,.
jika aku seekor hewan,.pasti aku ingin menjadi manusia,.
Keinginan&pilihan hidup yg selalu berubah,
merupakan relativitas setiap penciptaan,.
tetaplah beraktivitas walaupun terlihat diam,.k
arena,tiada waktu,.kecuali aktivitas segala sesuatu..

# ilustrasi dari sang ilustrator yg selalu berilusi..#

………………………………………………………………………..

Sebuah Puisi ….ahhh…saya kok jadi sedikit melankolis.

Kemiskinan dan Ketelantaran

Oleh : Kang ABR

Kawan…
Kemiskinan hanyalah sebuah pemahaman.
Sebuah rasa yg timbul dari dalam diri sendiri.
Sebuah rasa yg masih serba belum bisa mencukupi.
Menumpuk harta karena rasa kekuatiran.
Takut kekurangan di masa depan.
Akibatkan hilangnya kepedulian.

Kawan……
Ketelantaran hanyalah sebuah perhatian.
Ketelantaran tak harus tak punya ayah-bunda.
Menimpa anak siapa saja.
Yang ayah-bundanya sibuk mencari harta.

Kawan…….
Hilangkan segala kekuatiran.
Esok pasti akan ada riski bagi siapa saja
Yang masih sanggup berbagi.
Paling tidak..bagilah perhatian.

Simpang.

………………………………………………………………………..

Lihatlah Dirimu

Oleh Kang JS

Lihat dan lihatlah dirimu….
Apa cermin sudah kau miliki….meski hanya kecil saja…
Kaca yang bening dan tidak buram….tidak retak.atau berbintik….

Ketika engkau selesai bercermin……
Apakah kau akan bersedih…..atau tersenyum aneh…
Atau menyesal dengan wajah yang hanya begitu doang….

Beranikah kau berteriak atau berujar dengan suara keras lantang….
Mengatakan dan memaksakan kehendakmu bahwa dirimu pangeran atau putri ayu….
Atau engkau mengaku jujur….ternyata wajahmu hanyalah berwajah pas passan..

Semoga saja hati kamu selalu tampan cantik….
Meskipun wajahmu hanya seperti gambar wajah yang tidak jadi…..
Aaah…jangan bersedih….wajah hanyalah tanah liat yang bisa kering rusak….

Tubuh atau wajah …hanyalah bungkus….kurang berarti dan kadang menipu….
Hati itulah sebenarnya wajah tampan dan cantik. yang sebenarnya…..
Kenapa kau tanggalkan atau campakan……sehingga kau tertipu dan kel.. …..

  • 6 October, 2012 at 21:05
    Diposting di halaman Profile Penulis

………………………………………………………………………..

Adakah Yang Tersisa ?

JS

Puisiku memang ngawur dan abal abal……sekedar ocehan burung yang bertenaga baterry……berharap alam tempat kita hidup selalu damai….tentram….alami seperti ditempat surga…….

Masihkan atau adakah yang tersisa…,tentang bau wangi alam……….
Aaaah… pohon bunga sudah tidak tumbuh lagi ..
Tidak ada lagi sisa meski sedikit….meskipun hanya satu hirupan saja……
Yang ada hanya gambar dan ingatan atas bunga itu…..
Rindukah engkau…atas semerbak wangi itu meski dari rumput di pagi hari……

Wangi telah pergi….sepi…
Air tidak lagi mengalir….tanahpun kering…retak…pecah…
Bumi sudah marah..karena panas kerontang…
Jangankan bunga harum…..bunga bangkaipun tidak tumbuh…
Rumput …belalang…ulat….burung….semua seperti pergi… sepi….
Bumi seperti bukan lagi surga….sudah hilang kasihnya……

Bagaimana bila wangi tidak lagi bersemayam di hati……
Bagaimana bila air tidak lagi mengalir….membersikan pikir….
Suara burung berkicau sudah tidak lagi di relung ….
Ketika semua itu sudah meracuni kalbu……maka alampun gaduh……
Gaduh dan gemuruh….bermakna mengaduh…mengharu….
Jangan…jangan kita tertipu…berkeadaan seperti itu……

………………………………………………………………………..

Kawan….
Pelangi hanyalah permainan sinar.
Yang timbul akibat adanya bias.
Bias terbentuk akibat adanya perbedaan.

Kawan….
Pelangi, sangat pendek masanya.
Sekedar selingan kejenuhan atas keseragaman.
Pelangi akan segera menghilang selaras hilangnya perbedaan.

Kawan….
Kondisi yang sama ada pada manusia, tiap kepala beda isinya.
Bahkan bisa berbeda pada kepala yang sama tetapi di saat yang berbeda.
Perbedaan yang membuat beda persepsi terhadap informasi yang sama.
Sayangnya….perbedaan ini mungkin akan berlangsung selamanya.

SimPang
SmP.

………………………………………………………………………..

* di dalam kesunyiannn aku menemukan diriku….amat sangat ketakutannnn….
* di dalam kehammpaan aku menemukan diriku….keraguannnn
* di dalam usaha untuk bertahan hidupp……aku menemukan banyakkk kesalahan
* di dalam kemampuan dan pengertian …..aku menemukan diriku dalam keangkuhan
* di dalam hatiku ….aku tidak menemukan apa2…
* di dalam “cintaku” …….aku menemukan rasa maluuuuuu..
* di dalam ketidak berdayaanku …..aku hanya menemukan satu pilihan tidakk banyak hanya satu
* di dalam kesederhanaanku……aku menemukan banyakkkk manfaat, waktu dan kesempatan
* di dalam waktu ……..aku menemukan banyak penyesalan…
ooohhhh….capekk dechh…..

  • Numpang Lewat :
    Satria Piningit

………………………………………………………………………..

numpang berkhayal lagi ya Mbah….

Manusia Kepada Pohon

modernprimate

Mulanya engkau adalah sebutir biji
yang dibenamkan ke dalam tanah.
Kemudian alam menganugerahimu pertumbuhan,
ke arah atas dan ke arah bawah.
Tumbuh akar yang kuat
menghunjam ke dalam tanah
dan menghisap apapun yang kau butuhkan dari dalamnya.
Batangmu semakin tegak menjulang ke arah langit.
Daun-daunmu semakin rimbun, menatap langsung ke MATAHARI,
mengolah segala mineral yang tehisap dari dalam tanah
menjadi sesuatu yang berguna bagi sekitarmu

seharusnyalah seperti itu.
seharusnyalah dedaunanmu yang rindang bisa menjadi tempat berteduh
bagi makhluk lain di saat panas terik,
bukan menyediakan ulat bulu yang membuat gatal.

seharusnyalah proses hidupmu selalu melepaskan gas
yang sangat berguna bagi kelanjutan hidup makhluk lain di sekitarmu,
bukan meracuninya.
seharusnyalah buah-buahmu bisa diberikan sebagai bahan makanan yang berguna
seharusnyalah seperti itu.

Pohon kepada Manusia :
Mulanya engkau adalah Ruh yang dibenamkan ke dalam saripati tanah
Kenapa kau tak pernah mengambil pelajaran dariku? Apa bedanya?………

  • 31 August, 2012 at 12:20
    Diposting di halaman WALL – Komentar

………………………………………………………………………..

A t e i s

by: Bayu Angora

menjadi ateis itu berat!
karena untuk berbuat baik harus
berdasarkan kesadaran sendiri,
bukan karena pamrih oleh
iming-iming surga dan pahala…

menjadi ateis itu berat!
karena untuk tidak berbuat buruk
harus berdasarkan kesadaran sendiri,
bukan karena phobia oleh
dongeng-dongeng azab dan neraka…

menjadi ateis itu berat!
karena harus mampu
berpikir dengan kepala sendiri,
dan bertindak atas kesadaran sendiri,
bukan karena dogma yang dianggap suci…

menjadi ateis itu berat!
jika anda belum mampu untuk
berpikir dan bertindak seperti itu,
sebaiknya anda beragama!

Jakarta
2012

  • (Dikirim lewat pesan Facebook, bulan Oktober 2012)

………………………………………………………………………..

Advertisements

10 thoughts on “(Puisi) Mengenang Kelahiran WS Rendra

  1. Ibu…………
    Senja kian hari kian merah
    Lukisan alam di ufuk barat kian menyeramkan
    sedangkan sang timur diam seribu bahasa.

    Ibu…………
    Aku belum pernah melihatmu menangis sejak hari itu
    Di temaramnya hari
    Di sela – sela banjir darah dan air mata

    Kau dekap diri ini dengan isak yang tertahan
    Kau besarkan rasa bangga dan percaya diri di hari – hari setelahnya
    Tapi ibu…….
    Kenapa hari ini kau menangis lagi, walau itu kau sembunyikan dariku ?????

    Bukankah engkau pernah bersumpah
    Tak akan menangis lagi
    Dan kaupun pernah melarangku untuk
    Lemah hati dan menjatuhkan air mata itu walaupun sekali saja sejak pertemuan terakhir kita.

    Ibu………….
    Nanda tak begitu faham akan duniamu
    Tapi nanda cuma yakin dalam satu hal
    Bahwa hari itu ada yg begitu menyakitkan, hingga kau menangis lagi

    Ibu………..
    Telah lama nanda tak mendengar senandung kidungmu yg menelusup jiwa
    Lamat dan lirih bagai orang berbisik
    Tapi bisa menidurkan aku di pangkuanmu,

    Ibu…………
    Aku rindu………….
    Akankah kau berikan lagi kedamaian hatimu untukku
    Ataukah kau akan memberikan yang lain kepadaku ?????

    Ibu…………….
    Pernah aku melihatmu menaruh pedang keadilan milik ayah di pangkuanmu
    Kadang pula aku melihatmu menari – nari dengan selendang milik nenek
    Di pekatnya malam, di derunya gelombang samudra yang mengamuk

    Ibu…………..
    Kau pernah berbisik padaku,
    Akan menyanyagiku selamanya
    Tapi kenapa sejak kemarin kau membisu ???

    Marahkah ???????
    Bencikah ?????
    Atau engkau tidak setuju dengan keputusanku ??????
    Salahkah nanda bila meminta ???????

    Ibu…………
    Bukankah semalam telah nanda utarakan padamu
    Ku lepas semua bagai ingimu yang telah terlanjur
    Nanda rela, walau nanda harus seperti kanda RAMA

    Ibu………
    Bukan aku menentangmu, tapi nanda tak tega
    Untuk melihatmu menangis lagi dipekat malam
    Di tempat sunyi, jauh dari nanda,

    Ibu………
    Seperti halnya dirimu
    Aku kan mendampingimu kemanapun engkau pergi
    Walau sampai harus ke ujung langit, nanda akan lakukan untukmu……..

    Ayah……..
    Engkau ajarkan kepadaku makna hidup. Yang lain dari pada yang lain.
    Engkau bentengi diri ini dengan banyak hal yang bagiku sendiri sangat muskil dilakukan.
    Selalu dan selalu engkau layangkan pertanyaan – pertanyaan rumit sehingga sering sakit kepala ini berhari – hari lamanya.
    Kadang pula tiada segan – segan kepalan tangan ataupun tendangan mampir bila kesalahan kecil terjadi tanpa sengaja.

    Ayah………….
    Engkau tanamkan padaku untuk bersabar dan selalu bersabar
    Engkau selalu mengatakan tidak untuk hal** yang sangat ingin dan aku dambakan
    Tiada pernah engkau ijinkan emosi ada dan tampak di raut wajah maupun sikapku

    Ayah……….
    Ku junjung tinggi segala petuahmu untuk mengutamakan kebenaran
    Menghancurkan segala hal – hal yang jelas dan nyata di depan mata terlihat salah
    Tidak perduli orang lain mati – matian menutupi keburukan dengan mengerahkan ribuan orang
    Kalau memang salah…… lantang kan aku bilang salah

    Ayah………..
    Puluhan tahun engkau tunjukkan padaku, satu demi satu hal- hal yang engkau ketahui walaupun dengan samar
    Tapi ada beberapa yang aku tau engkau sembunyikan dariku
    Yang kini menjadikan diriku gelisah tiada menentu…….

    Ayah…….
    Taukah engkau……
    Betapa resah dan gulananya hati anakmu sekarang.
    Banyak hal – hal timpang ada di depan mata.
    Berjejer – jejer berbaris kayak semut.
    Menyembah – nyembah kepada hal benar – benar busuk.

    Ayah……
    Taukah engkau……
    Hormatku akan tetap kepadamu, tapi aku kelimpungan sendiri.
    Kadang menangis tanpa sebab..
    Tersenyum maupun tertawa sendiri di sela – sela rasa sakit yang mendera hati yang tersayat – sayat….

    Ayah…..
    Aku masih da di sampingmu saat ini
    Tapi aku tidak juga dapat berjanji lebih kepadamu
    Bila memang kaki ini sudah tidak dapat lagi menahan resah dan gulana
    Sungguh aku tidak bisa membohongi diriku terus – menerus…
    Sungguh aku tidak bisa menyembunyikan keinginan – keinginanku selamanya
    Sungguh aku tidak akan mungkin bisa mengunci bibir ini rapat – rapat seumur hidupku
    Bila keadaan ini terus dan terus berlangsung..

    Kapan hari engkau tampar diriku karena kelancanganku
    Kapan hari engkau bisukan aku karena kau takut ada yang marah
    Kapan hari engkau cerca aku dengan segala macam dalil dan kemapana hidup
    Tapi apakah aku salah bila bertanya kepadamu duhai ayah….
    Bisu , tulikah mereka sekarang ????
    Bukankah janji itu sekarang sudah masuk pada masanya ????

    Ayah…….
    Kau tau bagaimana aku………..
    Walaupun cuma tangan dan kaki tanpa pelengkap apapun
    Tapi aku masih punya hati yang terus berteriak dan bergemuruh
    Dengan tanganku akan aku ulurka..
    Dengan kakiku akan aku langkahkan
    Dengan Hatiku aku panjatkan segala macam do’a di malam – malam sunyi
    Sebagaimana engkau lakukan di malam – malam yang lalu
    Sebagaimana engkau selipkan di petuahmu
    Walaupun tuli, walaupun bisu, dan walaupun buta tapi mereka juga masih punya rasa..
    Sama sepertiku dan sepertimu….

    para rekan, salam kenal..

  2. Negeriku sekarang sudah sekarat dan sepi dari ramainya suara kebenaran…….

    Di Negeriku ini…..
    Maju , mundur , berhenti atau bergerak …ternyata sama saja nilainya….
    Berkata benar , berkata salah ternyata sama juga nilai serta akibatnya……
    Nilai benar dan nilai salah akhirnya rancu dan membingungkan….
    Hakekat nilai semua keadaan dan wujud sudah jauh dan dibengkokkan maknanya…….

    Di Negeri Sontoloyo ini…..
    Kebaikan selalu kalah dan terjungkal…..
    Sudah sangat banyak Tuhan Besar dan banyak juga Tuhan kecil….
    Mungkin akan lahir bayi bayi kecil yang juga di Tuhankan….
    Tuhan Tuhan yang menyediakan dan memberikan banyak kenikmatan…..
    Para Tuhan Tuhan yang menciptakan agama dan ajaran baru….
    Agama dan ageman baru bagi mereka yang tidak tahan hidup dengan derita……

    Di Negeriku yang Amburadul ini….
    Sebenarnya sedang terjadi bencana dan mungkin adzab yang pedih….
    Peristiwa ini sedang terjadi dengan cara halimun dan sangat halus…..
    Bumi Negeri ini ternyata memang hiduo dan selalu hidup….
    Bumi sebagai Bunda dan Ibu sangat kasih untuk para anak anaknya…
    Bunda kita selalu menangis dan menjerit tanda tidak tega ketika bencana datang…..
    Ingin merangkul dan melindungi tapi semua sudah seperti ditahan dan dilarang….
    Karena ada jalan dan alur kodrat dan takdir untuk merubah segalanya………..

    Kesadaran memang datang selalu dengan terlambat….
    Kesadaran selalu datang dan dibeli dengan nilai nestapa yang besar…..
    Kesadaran yang didapat dengan pengorbanan yang mahal dan cucuran air mata ……
    Semoga Tuhan yang sejati segera turun ke bumiku…..
    Untuk membelenggu dan membungkam mulut tuhan tuhan palsu…
    Membakar dan memusnahkan ajaran pemahaman yang tidak manusiawi… …..
    Ajaran yang sudah membutakan banyak mata ….
    Kepercayaan yang menutup telinga hati dan sanubarai nurani…..

    Sudah waktunya …..
    Jiwa jiwa yang terbelenggu akan bebas dan merdeka..
    Sudah waktunya kebohongan akan terbongkar dan runtuh….
    Penyakit buta dan tuli akan segera ditemukan obatnya…..
    Sudah waktunya pula kebenaran dan hal lurus sebagai pemimpin…..

  3. Puisi puisi kotor ini saya tempelken didinding rumah Mbah Wage….untuk diriku sendiri disini atau disana…..

    Sudah sangat lama , sudah sangat sering kulihat banyak cerita…..
    Cerita yang lama meski dengan gambar dan edit baru….
    Cerita cerita yang selalu diulang ulang dan mungkin basi membosankan….
    Cerita cerita yang dihasilkan dari pikiran akal hati dan nurani…..

    Jiwa dan pikiran memang tidak mengenal atau merasa tentang usia dan tua…..
    Jiwa yang kekal akhirnya harus menyerah dan kalah….
    Jiwa yang dihalangi oleh keadaan jasad yang sudah loyo dan lesu …
    Jiwa yang sembunyi dibalik wajah wajah keriput…tangan kusut dan gemetaran……..

    Apa sebenarnya mati …apa sebenarnya hidup…..
    Apa sebenarnya jiwa dan apa sebenarnya tubuh ….
    Kita seperti dan seakan tidak tahu tentang itu semua ….
    Kita yang memang tidak mau dan tidak pernah memperhatikan…..

    Apa yang kita punya sekarang Ketika waktu dan keadaan sudah sering kita lewati….
    Apa yang kita peroleh selain sering repot mengurus keperluan dan kepentingan jasad…..
    Apakah kita harus terus berjalan diatas jalan yang kemarin yang kita lewati…..
    Jalan yang berawal dan berujung dengan ributnya akal pikiran kita……

    Jiwa raga memang dan seharusnya bersatu..beriringan dalam berjalan…..
    Memenuhi takdir lakon yang semestinya dan seharusnya damai…..
    Jasad seharusnya juga sehat…bersih dan terawat….
    Jiwa dan jasad yang harus tidak dikotori dengan banyak alasan dan ego…..

    Semua dari kita pasti akan berhadapan dan menghadapi dengan karma kita…
    Karma yang berujud keadaan dimenjelang mati dan ketika akan dikuburkan….
    Karma yang berubah sebagai sosok mengerikan dengan muka tidak damai…
    Karma karma buruk seperti penghakim diri ….menakutkan…..

    Neraka adalah budi pekerti buruk , jasad yang sarat dengan nafsu duniawi tercela …
    Liang lahat menanti …tempat sempit dan penuh air…..
    Liang kubur yang curam dalam dan ada api berkobar didalamnya…..
    Keadaan itu adalah haq dan kebenaran….memang begitu peristiwanya…….

    ———————————————————————————————————————-
    Tulisan diatas adalah penggambaran ketika rekan kami sedang takziyah atau mengikuti kegiatan sosial mengantar jenasah dalam kubur …..
    Keadilan pasti akan berlangsung…dosa dan pahala bukan karena tidak mengikuti atau percaya dengan kepercayaan tertentu dan apa lagi didaulat sebagai ajaran yang paling benar……

    Tuhan YME tidak bisa ditipu dan DIA memang tidak akan dan tidak mungkin menipu manusia / mahluk alam semesta…….
    Benar dan salah …dosa dan pahala….semua itu adalah hasil perbuatan dan pola pikir manusia masing masing…..tidak bisa manusia bersembunyi dibalik bingkai bingkai dan lukisan kehidupan…..tidak bisa menghindar meskipun ditutupi dengan pakaian yang gemerlapan dan indah……pakaian yang harus dipaksakan untuk dipakai oleh semua manusia……..
    .

    Salam hormat Mbah Wage dan semua Panjenengan….

    Cerita diatas adalah sekelumit peristiwa dan lakon hidup….ha ha ha peristiwa yang mungkin abal abal dan menipu…….Terima kasih…..

    .

  4. Takjub dan terpana membaca guratan puisi Akang Mbareb di atas. Tanpa sadar mulut saya terbuka mencoba meresapi untaian setiap kata yang tertulis. Mencakupkan tangan untuk Akang untuk komentarnya yang selalu padat berisi. salam

  5. Senja yang hilang

    rani

    langit jingga membawa mentari berpulang
    Langit tak lagi melukis kan manisnya senyumu
    Hanya warna jingga yang menghiasi nya

    Hati kecil ku berbisik mendesiskan namu mu
    Tapi aku tak inginkau kembali lagi
    Hadir mu hanya akan membuat sayatan
    Nyaris kering kembali berdarah

    Biarkan jingga nya yang menemani ku
    dan para burung yang menghiasi nya

    Sukma ku berteriak melafazkan namu mu

    Namun, izinkan warna jingga nya
    Mengobati sayatan luka yang tak lama lagi terobati
    Seriring dengan hilang nya mentari
    Ke peraduan nya bersama burung-burung mulai terlelap

    @rani oktp
    Ranioktapiani89@yahoo.com

    1. erima kasih Sdri Rani,

      Puisi yang indah. Sudah lama sekali blog ini tidak memposting puisi. Maklum warga diblog ini pada kagak doyan puisi, Nanti akan diusahakn ditampilkan lagi. Terima kasih sudah mampir.

  6. saat kekeringan melanda samudra hinda. .angin mamiri menerjang bumi.
    Langkah gontai sikakek yg rapuh. Tiada mampu berlari walau badai sinabung semakin menjadi.
    Lelahnya aku menatapmu. Lelahnya aku menyibak debu.
    Duhai gusti kenapa berat sekali kaki ini melangkah. Dari bulan lalu tak ada jua yg mampu menghentikan dia.
    Apa salah dia?
    Kakek tersenyum renta dalam badan yg kurusmeronta
    Buaian angin baru menyapanya
    Selamat tinggal dunia..terimakasih buah hatiku.

  7. Ini puisi orang gila, atau orang gila puisi ??Tapi orang yang suka berpuisi sering seperti seorang sufi, atau mawar …berduri ….atau mungkin orang ‘kiri’ …
    —————————————————————————
    Mazmur Mawar

    Kita muliakan Nama Tuhan
    Kita muliakan dengan segenap mawar
    Kita muliakan Tuhan yang manis,
    indah, dan penuh kasih sayang
    Tuhan adalah serdadu yang tertembak
    Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
    sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
    dengan baju compang-camping
    membelai kepala kanak-kanak yang lapar.
    Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk
    Dengan pandangan arif dan bijak
    membelai kepala para pelacur
    Tuhan berada di gang-gang gelap
    Bersama para pencuri, para perampok
    dan para pembunuh
    Tuhan adalah teman sekamar para penjinah
    Raja dari segala raja
    adalah cacing bagi bebek dan babi
    Wajah Tuhan yang manis adalah meja pejudian
    yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu

    Dan sekarang saya lihat
    Tuhan sebagai orang tua renta
    tidur melengkung di trotoar
    batuk-batuk karena malam yang dingin
    dan tangannya menekan perutnya yang lapar
    Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma,
    menangis di tepi jalan.
    Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
    Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,
    Para perampok, pembunuh, penjudi,
    pelacur, penganggur, dan peminta-minta
    Marilah kita datang kepada-Nya

    (Wahyu Sulaiman Rendra )
    kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s