Apakah Agama Mencerahkan Ruhani?

ilus-xg42Penulis : Iful Sevenstar – Agama itu untuk mencerahkan ruhani? Demikianlah sering kita dengar pepatah dari para ustadz dan guru agama. lalu saya pun bertanya pada diri sendiri, Benarkah?? karena saya melihat kenyataan yang faktual, ummat beragama hanya sibuk dengan segala pernak-pernik upacara yang dinamakan syariat dan tarekat. Sibuk melaksanakan perintah agama yang berbasis kitab suci dn perkataan para nabi, TETAPI apakah yang didapat?

Pencerahan? atau sekedar capai letih karena sudah melaksanakan ritual seperti puasa, sholat, haji dll. apakah bisa pencerahan dibeli dari perbuatan yang dipaksakan oleh orang lain? meskipun orang tersebut adalah ahli agama.

Di Bulan ramadhan ini ummat Islam yang berpenghasilan tinggi berbondong-bondong pergi Umroh ke Mekkah, dengan tujuan untuk mencerahkan ruhani. Begitu juga masjid-masijid dipadati untuk sholat tarawih, tadarus, itikaf, dengan tujuan untuk pencerahan ruhani.

Kalau saya analisa sendiri, justru bukanlah pencerahan ruhani yang didapat justru yang diperoleh adalah kepuasan karena sudah menamatkan/melaksanakan suatau kewajiban. Yang namanya kepuasan itu adalah harga yang murah, dikarenakan kepuasan itu dijamin tidak akan langgeng, tidak akan tahan lama atau dengan kata lain hanya berlaku sekilas saja. Coba saja lihat sendiri setelah ramadhan lewat, masjid-masijd pun kembali sepi. Ummat islam kembali ke dunianya yang mengasyikan yaitu menikmati keindahan dunia. Disini jelas terjadi pembiasan yang luas biasa dalam beragama, yang menyebabkan ritual puasa ramadhan hanyalah dihargai begitu rendah oleh ummat islam, hanya sekedar menjalankan kewajiban, thats it !. Jangan heran bangsa Indonesia yang mayoritas muslim yang seharusnya beriman malah tergolong bangsa yang korup, bangsa yang miskin, bangsa yang penuh praktek KKN, bangsa yang malang dirundung bencana alam.

Kembali ke tujuan beragama, jadi apanya yang dicerahkan ? pencerahan yang sempurna adalah bila seseorang telah keluar dari belenggu doktrinitas doktrin yang menyebabkan pola pikir tentang dirinya, Tuhan dan alam semesta dipenjara oleh dalil dan dogma yang ada dan telah berlaku ratusan bahkan ribuan tahun.  Karena bila akal pikiran kita dibatasi ruang geraknya oleh dalil-dali dan dogma maka tidaklah mungkin ruhani nya berkembang, jadi akal pikiran itu ibarat kunci gembok, bila kunci gembok itu berhasil di buka maka ruhani pun akan terbang bebas tiada batasnya.

Dalam hal ini sama sekali bukan ajaran agamanya yang salah, ajaran agama yang asesorisnya banyak seperti Kitab suci, hadist dll itu adalah hanya salah satu JALAN atau METODA untuk mencari jalan pulang sebenarnya. Yang namanya jalan atau metoda dalam agama bermacam-macam ada jalan syareat, tarekat,hakekat,makrifat. Yang celaka itu adalah bila ada kepuasaan dan merasa benar akan jalan yang dipakainya, dengan alasan mengikuti sunah Nabi. Kalaulah ditanya pada mereka yg menggeluti syareat, hakekat, tarekat, makrifat PASTI mereka akan berkata bahwa mereka itu adalah mengikuti sunah nabi dan Alquran tidak ada yang mengikuti perintah syetan. Yang BENAR itu adalah menjadikan agama sebagai salah satu jalan dengan berpola pikir dengan penuh KESADARAN, kesadaran adalah harga mati ! semua ritual lahir maupun batin tanpa ada kesadaran maka dipastikan perjalanannya akan melenceng jauh dari kebenaran.

Kesadaran adalah meyakini bahwa dirinya adalah bagian dari Tuhan, meyakini Alam jagat Raya ini adalah bagian dari Tuhan, meyakini para orang tua kita, pendahulu kita adalah bagian dari Tuhan, meyakini bahwa segala kejadian baik atau buruk di dunia berasal dari Tuhan, meyakini manusia itu adalah perwujudan Tuhan yang sempurna. Kalau sudah ada dalam kesadaran tersebut maka kita tinggal mengolah kekuatan yang ada dalam diri kita untuk mengsinergikan dengan kekuatan alam semesta dan kekuatan para orang tua terdahulu yang telah berhasil mencapai kebenaran tertinggi.

Untuk bisa mentransformasikan energy kekuatan dalam diri dengan jagat raya tentulah akal pikiran kita harus benar-benar terbebas dari virus-virus yang menyebabkan kefanatikan buta. Tak kan ada orang berangan-angan masuk surga akan berhasil masuk surga bila pola pikirnya terpenjara, bila jiwa nya dirasuki rasa takut dosa karena melanggar perintah dogma. Surga di alam tinggi itu haruslah dimasuki dengan optimalisasi kekuatan diri bersinergi dengan kekuatan jagat raya. Tak akan pernah menemukan masjid di surga karena membangun masjid di bumi bila pola pikirnya terpenjara dogma, tak kan ada istana kaca di surga bila akal pikirannya dikungkung rasa takut berdosa. Sesungguhnya perasaan TAKUT itu adalah wujud dari penyakit hati, penyakit yang harus diberantas, perasaan takut neraka karena tidak sholat adalah bentuk pola pikir yang terpenjaran nan sempit.

Sekali lagi bukan ajaran agamanya yang salah, yang MUTLAK salah diri kita sendiri yang GAGAL mengambil saripati/ mutiara dari nilai-nilai agama. (Iful Sevenstar)

Sudah saatnya kita berpikir dewasa dan berwatak bijaksana dalam menjalankan perintah agama, sudah saatnya kita membuka tabir-tabir gelap yang menutupi akal pikiran kita, sudah saatnya kita membuang jauh-jauh sifat fanatisme terhadap agama dan aliran, sudah saatnya kita berlari mengejar ketinggalan dalam belajar tentang ketuhanan, sudah saatnya kita menjadi manusia BEBAS !.

August 20, 2011 at 12:34pm · Latest version by Iful Sevenstar

Sumber image: stuffpoint.com (thank’s for photographer)

133 thoughts on “Apakah Agama Mencerahkan Ruhani?

  1. Ini pengalaman panci, bertemu naga ktk temen didepan panci bermeditasi, datang naga, lalu melingkar2 (2 temen yg laen tdk melihat) tubuh temen yg lg meditasi, panci melihat naga melilitnya dan kepalanya menghadap panci, lalu panci bertanya di dlm hati (tdk berucap dlm mulut) siapa kamu? dia menjawab “saya nogo”, panci mengangguk silahkan masuk keraga temen yg lg meditasi.
    Cari2 di googel ttg alam asura-naga, akhirnya dapet (maklumlah googel ini guru yg baik dan penuh info)
    Ttg agama, ajaran buddha dikenal 6 alam kehidupan yaitu (1) alam dewa (2) alam manusia (3) alam asurs (4) alam binatang (5) alam hantu (6) alam neraka
    1 sd 6 alam tsb disebut sbg pudgala/insan yg msh berputar2 dlm roda samsara dan belum dpt membebaskan diri dari segala macam kilisa. Bila ingin keluar dari 6 alam tsb hrs melatih diri (pikiran ucapan dan perbuatan) menekuni bhavana scr benar dibawah bimbingan seorg guru yg mau mengajarkan scr tepat.

    Khusus bicara alam asura berkaitan dgn naga (ghaib) dpt info sbb:
    Alam Asura adlh alam dari roh2 halus yg dimasa sebelumnya pernah melakukan bhavana (pelatihan spritual dari perbagai ajaran) tp berjalan di arah yg tdk sesuai.

    Beberapa sebutan lain asura
    1. Raksasa
    2 yaksa
    3 naga
    4 siluman
    5 gandharva
    6 jin
    7 dsb termasuk iblis dan mara.

    Munculnya alam asura bs disebabkan
    1. Bila ada sesorg insan yg selama hidupnya blm pernah mendengar ajaran2 (agama) yg benar atau mesti mendengar tp tdk percaya (ateis) tp bersifat menantang dgn latihan sesat dan beberapa hasil. Insan tsb tdk berniat kejahatan, hatinya penuh amal dan kebaikan yg dilakukan dgn tulus shg jln mencapai kebuddhaan terputus krn melatih latihan yg sesat serta terlahir memiliki sifat yg buruk ttp tdk terlahir di alam dewa, nanusia, hantu maupun alam neraka krn tlh berbuat amal kebaikan yg tulus, oleh krn itu pd saat kelahiran kembali setelah insan tsb meninggal dunia mk dia akan dilahirkan di alam asura ini.
    2, jika ada seorg insan meski tlh melatih dan berbuat banyak kebajikan ttp kebiasaan buruknya spt kebencian, iri hati, pandangan yg sangat sempit msh blm mampu diatasi scr maksimal mk setelah meninggal dunia tdk bs terlahir di alam dewa, alam samsara maupun alam manusia, ia akan dialam asura.krn dia menjadi roh yg baik dlm dimensi sendiri, roh tsb sering tampil atau muncul di alam manusia dan senang menerima persembahan manusia.
    3. dst
    4. dst

    bersambung krn malas ngetik krn dibelakang panci ada naga yg lg ngintip hiiii,,, serem
    pesan2 kurangi tidur diatas jam 00.00 krn menjelang tutup tahun jaman peralihan betara kala menebarkan kabut beracun, banyak2 bc doa kalacakra, demikian pesannya, benarkah? waduh ada2aja

    1. hehehe.. maaf kang panci.. saya selow dalam memahami kata kata..

      menurut agama nabi dan agama yoga, pembawa kedamaian ya nurani..
      ehhmm.. kalo menurut akang sendiri gimana?

      saya mendengar bahwa agama adalah tongkat kita di dunia ini sebagai pegangan kita berjalan. sesederhana itu dalam penggambaran.
      mungkin untuk bisa memaknai agama mencerahkan nurani, harus bisa mengerti apa itu agama dan apa itu nurani?
      mana yang lebih dulu,nurani apa agama?

      maaf kang saya suka bertanya tanya

    2. Pertanyaannya adalah pendidikan agama, ketimbang apa itu agama.
      Pendidikan inilah yg dimaksud “akan” mencerahkan nurani
      out put dari hasil pendidikan adalah tercerahkan/tidak tercerahkan

      Semua ulama agama2, berperan dlm mendidik umatnya agar mencerahkan nuraninya, @Bluesea99 anda pernah gk diajarkan pendidikan agama oleh guru2mu? lalu bertanyalah dirimu pd dirimu “tercerahkah sy”? jika tercerahkan, tentu perilakunya adalah mencerminkan agamamu yg berasal dari pendidikan.

      sbg contoh pendidikan agama islam

      pendidikan agama islam meliputi seluruh aspek dalam diri manusia, tidak melulu spiritualistis & tidak pula terlalu intelektualistis atau pragmatis dan praktis.
      Pendidikan dalam Islam berkaitan dengan soal ilmu
      ilmu dalam Islam berdimensi iman dan amal.
      Oleh sebab itu pendidikan Islam mengharuskan pemahaman tentang dua hal:
      1. pertama letak iman, ilmu dan amal tersebut dalam jiwa manusia.
      2. Kedua, bagaimana menanamkan itu semua kedalam diri manusia.

      Namun, sebelum berfikir tentang metode atau sistim perlu dijelaskan terlebih dulu konsep jiwa manusia yang akan menjadi obyek pendidikan itu.
      Sebab jiwa manusia memiliki bagian-bagian penting yang saling berkaitan.

      Hakim Tirmidhi (seorang ulama abad ke 9) menulis buku tentang
      Perbedaan antara :
      Sadr (sadar),
      Qalb (kalbu/hati),
      Fuad (nurani)
      dan Lubb (akal pikiran).

      Namun itu semua di atas (sadar, kalbu, nurani dan akal pikiran) merujuk kepada sesuatu yang bersifat batiniyah. Jika seseorang di bedah dadanya tentu sadar, kalbu/hati, nurani dan akal pikiran tidak akan ditemukan secara fisik.

      Kesadaran (Sadr) ada di dalam qalb seperti kedudukan putihnya mata di dalam mata.
      Sadar (Sadr) adalah pintu masuk segala sesuatu ke dalam diri manusia.
      Perasaan waswas, lalai, kebencian, kejahatan, kelapangan dan kesempitan masuk melalui kesadaran (sadr).
      Nafsu amarah, cita-cita, keinginan, nafsu birahi, itu pun masuk kedalam kesadaran (sadr) dan bukan kedalam kalbu/hati (qalb).
      Akan tetapi kesadaran (sadr) itu juga tempat masuknya ilmu yang datang melalui pendengaran atau khabar.
      Maka dari itu pengajaran, hafalan, dan pendengaran itu berhubungan dengan kesadaran (sadr).

      Jadi kesadaran adalah inti atau pusat dari hati (qalb).

      Jika sadar (sadr) ada di dalam hati/kolbu (qalb) maka hati/kolbu itu ada dalam genggaman nafs atau jiwa.
      Namun, kalbu/hati (qalb) adalah raja
      dan jiwa itu adalah kerajaannya.
      “Jika rajanya baik” seperti sabda Nabi, “maka baik pula bala tentaranya
      dan jika rusak maka rusaklah bala tentaranya”.

      Demikian pula baik-buruknya jasad itu tergantung pada hati (qalb).
      Hati (qalb) itu bagaikan lampu dan baiknya suatu lampu itu terlihat dari cahanya. Dan baiknya hati terlihat dari cahaya ketaqwaan dan keyakinan.

      Jika qalb (hati) itu adalah mata maka nurani (fuad) itu adalah hitamnya pupil mata.
      Nurani (fuad) ini adalah tempat bersemayamnya ma’rifah, ide, pemikiran, konsep, pandangan.
      Ketika seseorang berfikir maka Nurninya (fuadnya) lebih dulu yang bekerja baru kemudian hatinya.
      Nurani (Fuad) itu ada ditengah-tengah hati, sedangkan hati ditengah-tengah sadar.

      Jika hati/kalbu (qalb) adalah mata, kesadaran (sadr) adalah putih mata, nurani (fuad) adalah hitamnya pupil mata, maka akal pikiran (lubb) adalah cahaya mata.
      Jika hati/kalbu (qalb) adalah tempat bersamayamnya cahaya keimanan dan kesadaran (sadr) tempat cahaya keislaman, dan nurani (fuad) adalah tempat cahaya ma’rifah maka akal pikiran (lubb) berkaitan dengan cahaya ketauhidan.

      Gambaran diatas mungkin nampak terlalu spiritual atau dalam bahasa Kant transcendent.
      Tapi memang proses berfikir demikian adanya.
      Hanya saja yang ditekankan disini bukan bagaimana ilmu didapat
      akan tetapi bagaimana ia berproses menuju dari ilmu menjadi iman.

      Apabila pendidikan Islam memperhatikan potensi batiniyah manusia seperti di atas maka yang akan lahir adalah manusia-manusia tinggi ilmu dan imannya
      sekaligus banyak amalnya.
      Yaitu manusia-manusia yang hati (qalb), kesadaran (sadr), nurani (fuad) dan fikirannya (lubb) berjalan seimbang.

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s