(Fiksi) Hapus Kolom Agama Pada KTP ? No way !

Penulis: Wage Rahardjo

Di salah satu ruang istana, tampak terjadi percakapan yang sangat serius dan panas antara Raja Sangkuni dengan dua abdinya, Togog dan Semar. Kedua abdi itu sedang mengajukan usul  tentang penghapusan kolom agama pada KTP.

Raja Sangkuni: “Kalian ini aneh aneh saja. Itu tidak mungkin ! Apakah kalian  pura pura  buta dengan sila pertama dari negara kita yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa? Apa kalian mau negeri Kurawa ini berganti menjadi negeri KOMUNIS ?”

Abdi Togog: “Paduka salah mengerti, kami sama sekali tidak mengusulkan agama dilarang di negeri ini, kami hanya ingin kolom agama ditiadakan. Ini adalah dua hal yang berbeda”.

Abdi Semar: “Padukua yang Mulia, menurut pendapat hamba, Ketuhanan artinya percaya dengan Tuhan, masyarakat yang berprilaku pengasih, penyayang  dan ramah tamah. Kalau yang terjadi sekarang itu bukan Ketuhanan Yang Maha Esa tapi Keagamaan Yang Mahe Esa. Disadari atau tidak, selama ini agama telah membuat negeri ini menjadi terkotak kotak. Jadi mohon dipikirkan usul kami”.

Raja Sangkuni: “Oh, maksud sampean berdua, berTuhan tanpa berAgama?  Itu lebih tidak masuk akal lagi! Nanti semua orang mengaku berTuhan dan tidak mau berAgama, itu malah repot !”

Semar: “Tapi Paduka, bukankah sekarang ini banyak orang yang mengaku berAgama tapi  tidak berTuhan? Agama sering dijadikan pembenaran untuk melakukan tidak kekerasan. Korupsi dianggap boleh boleh saja asal rajin sembahyang.  Ini sama dengan  DAGELAN dan menjadi tertawaan dari negeri lain. Ini jelas jelas tidak sesuai dengan sila  Ketuhanan Yang Maha Esa”.  Pada jaman Belanda dulu, identitas agama sama sekali tidak dicatat dan semuanya baik baik saja. Kemudian perbandingan lain, di negeri Hanoman, negerinya para kera, pemerintahnya juga tidak pernah mencatat agama dan kepercayaan warganya. Mereka mengenal motto “In God we trust” jadi yang utama adalah GODnya bukan “In religion we trust,”.

 “NO, NO, NO !” raja Sangkuni memotong dengan cepat penjelasan tambahan dari Togog. Entah kenapa sang raja tiba tiba ikut ikutan berbahasa Inggris, walau kata yang keluar cuma NO dalam jumlah berulang.

“Aku sama sekali tidak suka kalau negeri ini dibanding bandingkan. Masak sih Sampean membandingkan negeri Khayangan ini dengan negeri para Monkey? Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, lain hutan lain SETAN-nya !”  Kali ini raja Sangkuni bukan lagi berkata keras, tapi sudah benar benar berteriak !

Semua orang terdiam, hening. Sejumlah raksasa dan setan yang dari tadi mengintip di balik celah pintu-pun tampak kaget dan melongo karena tidak menyangka tiba tiba namanya  ikut disebut sebut dan dikait kaitkan.

Hening. Setelah terdiam beberapa saat, tiba tiba raja Sangkuni berkata pelan : “Ssst, coba kalian datang lebih mendekat kesini !”  Kedua abdi itupun beringsut duduk mendekat ke arah raja-nya. Para setan dan raksasa-pun ikut ikutan mendekat ingin tahu.

“Sebetulnya aku paham bahwa maksud kalian adalah baik. Tapi kalian juga harus paham bahwa negeri ini bukan lagi milik Embah-mu dan juga milik Embah-ku tapi juga milih Mbah orang atau golongan lain. Di satu sisi, memiliki banyak golongan itu bagus karena berarti memiliki banyak kepala untuk berpikir. Namun di sisi lain, banyak kepala berarti banyak masalah. Semua orang memiliki pendapat dan menganggap pendapatnyalah yang paling benar, harus didahulukan. Di negeri Kurawa ini menghargai perbedaan dan keberagaman itu sudah lama luntur. Susah khan?”

“Jadi kita tidak bisa lagi seenak jidat  main ubah. Semuanya harus mengacu pada Undang undang dan Statua. Perlu membentuk panitia yang jumlahnya berjibut, rapat bertahun tahun, belum lagi harus study banding ke luar negeri. Ngabisin biaya saja yang akhirnya hasilnya bisa ditebak.”

“Menghilangkan kolom agama itu tidak mudah, resiko dan effeknya sangat besar.  Demo  menentang penghapusan kolom agama pada KTP dipastikan akan sangat sengit. Tahu sendirilah kalau demo di negeri kita itu seperti apa? Rusuh dan kagak ada manfaatnya. Yang untuk cuma para provokator lapangan dan pedagang nasi bungkus spesialis demo doang. Kalau kolom agama dihilangkan, nanti  Departemen agama juga akan kehilangan fungsi. Itu artinya pengangguran. Orang yang hidup dan makan dari agama sudah terlalu banyak jadi untuk menghilangkannya jelas akan menimbulkan huru hara. Nanti kalau mereka nganggur karena kehilangan pekerjaan, siapa yang akan memberi mereka makan?

Mendengar penjelaan Raja Sangkuni yang panjang lebar, abdi Togog dan Semar cuma bisa mengurut dada.  Akhirnya kedua abdi itu hanya bisa berguman : “Sepertinya negeri khayangan ini sedangkan krisis identitas dan mencoba berlindung dengan bersembunyi di balik identitas yang disebut agama.  Apakah dengan adanya identitas tertulis maka prilaku menjadi labih baik? Jawabannya sepertinya semua orang sudah tahu. Identitas hanyalah catatan di atas kertas, yang tidak akan berubah menjadi beras, melainkan membuat prilaku menjadi keras. “.

end

wage-sign-rahardjo

Catatan:

Di negara yang menganut faham sekuler, agama adalah urusan pribadi yang sama sekali tidak akan pernah dicatat pada identitas kependudukan.  Jadi mirip dengan passport, kolom agama sama sekali tidak tercantum. Bahkan di sejumlah negara maju, mereka sama sekali tidak mengenal kartu identitas semacam KTP.  Jadi kartu identitas kependudukan warganya tersimpan di kependudukan di wilayah mereka berdomisili, sedangkan untuk kartu identitas diri bisa ditunjukkan dengan beragam cara seperti kartu SIM, asuransi kesehatan, kartu pegawai, kartu pelajar atau bahkan kartu rekening listrik.

18 thoughts on “(Fiksi) Hapus Kolom Agama Pada KTP ? No way !”

  1. Mbah,

    Sudah lama saya berpendapat sama, hilangkan kolom agama di ktp. Mau saya kasih acungan jempol ke atas, kok tidak ada fasilitasnya … Semprul …

  2. Dipasang fasilitas Jempol juga jarang ada yang klik jadi mubazir sehingga terpaksa dihilangkan. Fasilitas Jempol up/down sebetulnya untuk mengukur reaksi pembaca sebagai acuan untuk tulisan bulan depan. Disediakan untuk pembaca yang malas atau bingung harus berkomentar apa, jadi tinggal klik saja tanpa susah-susah ngetik. Tapi ya itu tadi ….mubazir. Kebanyakan pembaca lebih senang ngintip doang.

  3. Mbah Wage, Kang Bala(ne)dewa

    Bener,,, seharusnya kolom agama di identitas tak ada,dgn adanya kolom agama justru negara
    jelas” mengajakan kita untuk terkotak-kotak khm,tapi kalopun terjadi penghapusan,kemungkinan bukan cuma demo.
    Bisa-bisa terjadi bharatayuda,mbah sendiri tau gimana sikap para Pemuja Dogma hehe….

  4. ikutan nimbrung..
    kolom agama di ilangin, kolom pekerjaan di ilangin jg ga mbah…? hahaha katanya fae.sasak biar ga terkotak kotak… krn khan identitas kependudukan sdh terdata di dinas terkait… klo perlu ga ada KTP ya mbah jd klo saya ditanyain cewe tetangga sblh yg cakep bin seksi.. ga ketahuan klo udah berumur hahaha…… perlu, tdak perlu atau benar, salah dinegeri ini trgantung pandangan umum/golongan yg besar jd bila punya pandangan yg kontradiktif dgn mereka cenderung hasilnya sbh vonis menyalahi aturan umum/melanggar hukum/ sesat dsb.. kata raja sangkuni itu ada benernya merubah kolom itu soal gampang… efeknya ini yg bikin ruwet bin semrawut… krn banyak yg menggantungkan nasib di identitas tersebut..

  5. Kalau kolom agama dihilangkan, nanti Departemen agama juga akan kehilangan fungsi. Itu artinya pengangguran. Orang yang hidup dan makan dari agama sudah terlalu banyak jadi untuk menghilangkannya jelas akan menimbulkan huru hara. Nanti kalau mereka nganggur karena kehilangan pekerjaan, siapa yang akan memberi mereka makan?
    ——————————————————————————————————-
    departemen agama jika telah dibubarkan,
    masih mungkin ada seperti religion center atau organisasi2 utk memayungi mereka yang beragama,
    mantan pegawai depag silahkan bekerja/cari makan sesuai keahliannya di organsiasi2 spt itu.

    organisasi2 spt itu jangan dibiayai dari pajak/anggaran negara, tentu saja kekuasaan dan pengaruh organisasi agama itu pun LIMITED/dibatasi. silahkan meminta dana operasionalnya kpd para umat beragama.
    maaf, sbg contoh..bukankah ajaran suatu agama merekomendasikan umatnya untuk membayar zakat, sedekah, infaq, dsbnya?. (^_^)v

  6. Ngopi sek…..Aaaah sayang sekali Resolusi kesehatan 2013 berhenti merokok di urutan pertama. hehee

    ngebrel-ngebrel mbah wage…itu nantinya juga turut membantu para KAFIR MISKIN sudah kafir miskin pulak, aaaah masuk nerakalah kalian semua ini #Logat nagabonar !

    Soalnya mbah sering telinga ini denger “Islam KTP” ,..tapi ngga pernah denger yang namanya “Kristen KTP”, Hindu KTP, Budha KTP apalagi Kong Hu Chu KTP ngga pernah denger oran mengatakannya. (mungkin penganutnya sedikit mbah).

    Aaaah kembali ke Topik mbah !! (sambil nginguk jeng dewi dah buat kopinya belum) eh ternyata belum..lanjut kalo gitu.

    Lha …sekarang ini di kolom KTP sudah bisa mengisi kolom ke tujuh yang isinya “Aliran Kepercayaan” (baca : Penghayat Kepercayaan atau agama LOKAL) jadi sekarang ini diperbolehkan menikah bagi yang tidak masuk kedalam 6 Agama yang disyahkan oleh negara.

    Khan nanti enak mbah kalo ditanya gini “Bro,..sorry bro agama kamu apa ?”
    saya khan bisa jawab “Penghayat Kepercayaan bro ” disingkat PP…dan pasukan pembelanya adalah SATPOL PP. Lha dalah malah guyon thok wi.

    Lha kopi dah datang ..kulo nyuruput kopi dulu mbah ….

    Best regards,
    Ksatria – AntLion

  7. Aaaah….ngikut kopi aaah…di warung si mbah….capek kerja , pingin santai……

    Agama Anda apa dik ??.tanya si mbah pemilik warung……lha apa hubungan ngopi dengan agama diwarung ini mbah …..??…aaah . hanya tanya saja kok dik , sapa tahu adik ini anggota F** yang menyamar dan sweeping warung saya…. saya orang kafir mbah…neh lihat KTP saya ….kata pemilik warung…weeeh …adik orang kafir ya ???…..alhamdulillah slamet slamet dah warung saya dari amuk massal organisasi yang medeni itu….. …..

    1. @Dewi :
      Lha ini Kopi yang bisa “BONGKAR KEBIASAAN LAMA”. Yaitu Kopi jahe (spesial ) jyan tersanjung sekali ini… Agama baru yang bisa “Bongkar kebiasaan lama” kok belum di buat ya !! aaaaah, Agama lama tapi muncul di era baru yang mungkin bisa “membongkarnya”. Semoga eyang sabdo palon beanr adanya.

      Berbicara tentang kopi (gayus mode on ) Ciyus = serius (biasa) Gayus = sangat serius sekali…saya suka bagian yang ada stamina-staminanya gitu…dari pada ngobat kuat terus efek ngga bisa “balik”. #Untuk 18 +

      Diantara mereka yang disuguhin kopi ..saya yang paling beruntung..ada specialnya. hehee.

      Lain kali ngopi lagi biar dibuatin sama chef Dewi..biar semua bisa bergurau bersama dan tetap menertawakan diri sendiri sebelum menertawakan orang lain. Kalo bisa gendeng itu gendeng dhewe,.walau terkadang gendeng itu ngga rame tanpa ajak-ajak gendeng.

      salam Kopi dangdut jeng Dewi …tak ndut gendang ndutttt dutt ..yang disana ~~~ suaranya …TErlalu !!! calon nekat !!

  8. Wakakakkkkk……
    Sukurlah, ada lagi seekor mahluk abal-abal bin setengah gosong mampir di komunitas abal-abal ini……salam abal-abal dan semoga betah.

  9. @ Ksatria,

    Karakter tulisan mas Ksatria selalu pedas, namun nonjok segernya😀

    ini saya racikkan kopi jahe spesial untuk mas Ksatria, rasanya pedas (kritikan) namun bagus untuk stamina (kesadaran), berkhasiat menghangatkan (jiwa) dan anti oksidant dari segala polutan moral :wink:…

    salam kopi jahe,

    dewi

  10. @ Pemilik Warung Kopi,

    Wah, kasihan, bisa berabe, modal jualan untungnya nggak seberapa, kalau di gusur atau di obrak2… kok ya keterlaluan sekali manusia yang ber kTP kan agama itu… he he he…

    Ini saya bikinkan kopi rempah, semoga semua pikiran yang ruwet2 karena perasaan yang gelisah, nelangsah dsb bisa di redam dengan khasiat rempah2 asli dari bumi pertiwi🙂 …

    @ WageR,

    Salut mbah, akhir2 ini embah sering menengok padhepokan kahyangan setelah sekian lama di sibukkan dengan kegiatan di daratan bumi, ini saya suguhin kopi gingseng mbah, biar nggak gampang capek dan bisa nambah energy stamina mbah yang oke punya… maksutnya energy ide2 mbah untuk menulis artikel abal-abal :D…

    Salam semangat kopi,

    Dewi

  11. @ Ksatria,

    Haik!… arigato gozaimas!…

    Terima kasih kiriman lagu kopi dangdutnya… kalau bhs jepangnya ‘kopi dangdut’ itu apa ya? :wink:…

    Kopi dangdut nan ceria cocoknya sandingannya dengan jajan mendut yang manis dan lembut teksturnya, kolaborasikan keduanya, jadi amoy rasanya…

    Mumpung di padhepokan kahyangan, ayo ayo goyang sampai pagi…. mendut yang mendut yang, goyangannya mendut mendut…

    salam dangdut mendut😀,

    dewi

  12. Salam damai Mbah, lama nggak main ke tempatnya Mbah. Bangsa kita kok masih bangga dengan tulisan agama di kartu identitas ya…Padahal di eropa sekarang ini menanyakan agama kepada orang lain adalah tindakan yang kurang ajar ( onbeschaamd ) Karena agama adalah ranah pribadi bukan ranah umum. Tapi yang terjadi di negara kita agama menjadi ranah umum dan kalo mendapat kritikan dianggapnya penghinaan agama. Lha kalo nggak mau dikritik ya nggak usah dipamerin ke umum to ya..simpan aja untuk diri sendiri. Salam damai dari benua dingin.

    Reply wage: Nak Eco, kemana aja nih? Yang jelas, jaga kesehatan ya apalagi lagi sedang musim dingin..🙂

  13. @Chef Dewi: Iie, Dou itashimashite. Wah bahasa Jepangnya apa ya “Kopi dangdut” itu. Misalnya begini gimana KOPI dalam bahasa Jepang menyerap kata dari bahasa Inggris “Coffe” menjadi KOOHI. Sedang Dangdut mungkin menjadi “DANGDUTO” jadi Kopi Dangdut kalo dibahasa Jepangkan menjadi “KOOHI DANGDUTO” hahahahahaa mirip dengan bahasa JAWA.

    Aha….Mendut…I like this..Musim hujan gini Minum KOPI KLUWAK ( nga kuat beli kopi luwak asli) + Mendut..bisa menambah nyawa sehari. hehehe.

    Kembali ke Topik Jeng…saya sedang membuat KTP baru dengan Alamat baru dan juga saya sertakan agama yang “berbeda” antara Agama Istri, Agama anak pertama, Agama anak Kedua dan Agama saya sendiri. Nah tunggu khabar berita selanjutnya apakah nantinya di KK tertulis sesuai dengan pesanan. Hehehehehe ujian Birokrasi pembuatan KTP dan KK 2013. Just Wait and See !!

  14. @ Ksatria,

    Haik… arigato!…

    Nah, kalau kopi mendut bhs nipponnya apa?… he he he… just kidding!

    Hmmm, what`s interesting… saya bisa mengerti jika orang yang udah dewasa mengurus KTP beserta agamanya, tapi kalau anak kecil?… wah, baru kali ini saya mendengarnya.

    Wow, rasanya tak sabar saya mengetahui hasil birokrasinya… he he he…

    Ok, semoga sukses, we`ll wait and I look forward for your next news :D…

    Salam KTP (Katresnan Tanpa Pemaksaan),

    Dewi

  15. @ all..sampurasun….

    Ponakan: hei Man aku sudah betul2 judeg pusing 7 keliling, bagaimana tidak, lah bangsa ini sdh merdeka hampir 48 th,tapi kok kenyataanya hidup semakani gak jelas kemana arh tujuanya, bagai mana masa depan bangsa ini?
    Paman: ha ha ha , he he he hi hi hi hu hu hu hu…
    Ponakan: Man aku ini serius kok sampeyan malah tertawa cengegesan.
    Paman: Le..aku tertawa karna aku senang mendengar kamu skrg sudah mulai mau bicara kenyataan itu artinya kamu sudah mulai dpt pencerahan.
    Ponakan: Maksudmu Man?
    Paman: begini ya le.., meskipun balanda sudah jauh Jepang sudah minggat dan tobat, ini bukan berarti bangsa ini lepas dari penjajahan2 . sadarkah kamu le.. bangsa ini masih di jajah oleh banyaknya Isme isme yg membelenggu melalui ideology2 , coba amati, pagi2 orang2 sudah di kasih sarapan doktrin2, siangnya makan brain washing, malamnya cekoki dan dicengkeram intimadasi2 yg menakutkan.
    Ponakan: tapi Man aku tdk merasa begitu tuh?
    Paman: nah disinilah le.. persoalanya, karena kamu tidak merasa itulah, ibarat orang mabuk km tidak sadar dan tidak merasa kl kmu sdg mabuk over dosis. Jadi le… kl kamu mau bicara soal kenyataan ya, jangan melulu pakai perasaan saja dong., bukalah matamu buka gembok pikiran mu, gunakan hati nuranimu.
    Ponakan: lah selanjutnya kita musti gimana Man??
    Paman : Le..kemerdeka’an adalah hak segala bangsa’ termasuk bangsa sontoloyo, demit, bekasaan, grandong, thethek melek dll nya…maka dari itu penjajahan di atas bumi ini harus seger di hapuskan..
    Ponakan: “Merdeka Man”!!!!

    Asah asih asuh
    PD

  16. @ Paman Dalbo,

    Maturnuwun dialog inspiratifnya, tentang cekok-mencekoki… siapakah yang di cekoki, siapakah yang mencekoki dan untuk apa di cekoki?… he he he… kik kuk.

    Siapakah yang menjajah, siapakah yang di jajah dan untuk apa di jajah?…

    Jajah-menjajah, bangsa kita memang belumlah merdeka secara spiritual, kita masih di jajah, dan yang menjajah kita adalah bangsa kita sendiri. dalam hal ini siapakah yang terjajah?… mereka yang menjajah kita, tidak merasa bahwa mereka selama ini sebenarnya juga terjajah lalu malah menjajah bangsanya sendiri, mereka adalah penjajah yang terjajah, potret buram suatu mental anak bangsa ini.

    Salam merdeka,

    Dewi

Kolom Nama, Mail atau Web bisa dikosongkan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s