Orang Indonesia Bermental Feodal ?

pakaian235Penulis  : Wence Sitara
Judul Asli   :  Feodal

Kadang aku bertanya sendiri, apakah teman-temanku mengerti kalau aku bilang mereka bermental feodal? Kayaknya tidak. Mereka tidak mengerti. Untuk mengerti, mereka perlu perbandingan, perlu pengalaman, kata Martin, temanku orang Jerman yang pernah bertahun-tahun tinggal di indonesia. Perlu pengalaman apa, kongkritnya? tanyaku.

Begini, kata Martin, orang indonesia feodal, angkuh. Apa-apanya tinggal suruh pembantu. Tuan rumah gengsi membersihkan sampah, itu urusan pembantu. Kalau ada apa-apa, tinggal panggil pembantu. Untuk angkat barang belanjaan dari mobil saja panggil pembantu.

Emangnya di barat gimana? tanyaku. Di kami, jawabnya, semua kami kerjakan sendiri. Karena untuk menggaji pembantu seperti di indonesia hanya orang yang sangat kaya saja. Karena, di negri kami ada aturan minimal upah kerja per jam. Ada batasan jumlah jam kerja per minggu. Sabtu minggu libur. Lalu dalam setahun punya hak untuk sekian minggu ambil cuti liburan.

Di negri kami, lanjutnya, kami pisahkan dan angkat sampah sendiri, kerja bersihkan halaman sendiri. Untuk jarak dekat misalnya ke pasar naik sepeda atau jalan kaki. Di indonesia, mana ada yang mau naik sepeda atau jalan kaki. Gengsi. Di kami, boss ke kantor naik sepeda bukan hal aneh. Walikota bahkan mentripun naik sepeda. Di indonesia, baru bupati aja sudah naik mobil mewah, dikawal muka belakang dengan mobil pengawal. Di negri kami, anda bisa ketemu walikota naik sepeda sendirian dan sapalah dengan “selamat siang pak” maka anda akan dijawab disapa balik dengan ramah.

Kami bekerja, pulang kerja belanja untuk keperluan dapur dsb. Kalau ada kerusakan dirumah betulkan sendiri kalau bisa. Karena, semuanya mahal. Betul gaji kami tinggi dibanding dengan di indonesia tetapi untuk barang-barang kebutuhan juga mahal. Upah tukang betulin ledeng per jamnya mahal.

 Terus apa, kritikmu itu gunanya apa? tanyaku.

Ya itu, buat orang indonesia sulit untuk menerima kritik. Untuk mengerti, mereka harus lihat sendiri bagaimana kehidupan di barat. Kalau mereka sudah melihat sendiri, barulah bisa mengerti. Barulah bisa tau bahwa di kami servis itu jauh lebih diutamakan. Mereka bisa lihat bagaimana seorang penjaga toko bersikap ramah pada pelanggan. Pelanggan toko yang tau akan semua seluk beluk barang dagangannya. Bukan bilang “kurang tau” bila ada pelanggan yang bertanya. Bisa lihat bagaimana penjual dengan sabar melayani pelanggan. Beda dengan di indonesia, pelayannya judes, tidak banyak tau tentang barang jualannya dan maunya cepat-cepat untuk meladeni pelanggan selanjutnya yang juga diladeni dengan cepat-cepat.

 Loh, kok anda sepertinya negativ ? tanya saya.

 Sebetulnya orang indonesia itu ramah, cepat senyum dan tidak complicated seperti orang bule. Cuma ramahnya sering dangkal. Hal itu nampaknya tidak masalah bagi sesama orang indonesia. Tetapi bagi kami sering membuat kami bingung. Betul kami tidak banyak senyum, keliatannya kaku dan tidak ramah tetapi kami jujur dan serius. Kami tidak meremehkan orang lain dengan ketawa cengingisan mengejek orang lain. Tapi setelah lama tinggal di indonesia saya juga sedikti ketularan. Cengar cengir liat kawula muda pengangguran yang nongkrong atau keluyuran gak tentu arah.

March 6, 2013 at 7:53am
Dicopy dari Notes Facebook Bapak  Wence Sitara
https://www.facebook.com/notes/wence-sitara/feodal/478451752209042
(Dicopy dengan izin pemiliknya)

10 thoughts on “Orang Indonesia Bermental Feodal ?

  1. angkat barang belanjaan dari mobil saja panggil pembantu.
    ———————————————–
    (misal) kalo gak mampu bayar pembantu,..dgn cara spt ini kah..

  2. Indonesia , negeri yang tidak jelas arah jalan dan tujuanya…..entah ke kiri ato kekanan…..ato muter muter seperti gangsing dan kebingungan……

    Negeri ini mungkin banyak dihuni pemimpin yang sepertinya hebat jos markojos , menyimpan banyak buku dirumah tapi ternyata mereka buta huruf…..seperti perlente tapi ternyata…hmmm begitulah….

  3. thanks, nice posting from mas/mbak Wence Sitara…

    actually you were right, ada benarnya juga…

    terkadang polah didik keluarga yang salah kaprah, hingga tak bisa membedakan mana yang galak untuk disiplin atau galak karena sayang dsb.

    untuk pembantu, saya setuju sekali, bahwa pekerjaan mereka seharusnya di hargai karena jasanya, kita bisa belajar bagaimana negara maju yg tidak memandang sebelah mata pekerjaan ‘servent’ ini, karena dalam aktivitas tsb mengandung filosophy ‘the art of servis’… bagaimana melayani sesamanya…

    ada bagusnya kalau ilmu tsb juga di terapkan di lingkungan negarawan, karena seorang raja/ pemimpin/ presiden itu sejatinya adalah seorang pembantu/ pelayan, yang bekerja bagi rakyatnya :)…

  4. suksma, saya wayan sudarma mohon maaf jika saya ada komentar yang tidak berkenan baik yang sengaja ataupun yang tidak sengaja di web ini atau web lainnya. bukan maksud saya untuk menyinggung atau menghina kerena kebencian namun cuma keisengan saya. saya baru menyadari hal ini sangat tidak bermanfaat dan mendatangkan kesusahan sendiri. skali lagi mohon maaf atas segala komentar saya yang menyinggung hati dan perasaan

    1. Rahayu Bli Wayan Sudarma,
      Di blog abal2 ini, nyaris semua membernya baik hati, jadi tanpa minta maafpun pasti akan dimaafkan. Lagian Bli khan tidak bernah berkomentar rusuh di blog ini? Jadi santai saja……… Saya mewakili teman teman juga minta maaf kalau ada postingan atau komentar yang tidak menyenangkan.
      Salam.

  5. This is colonial culture that already mis adopted from many peoples
    It shall be……… mind set change….and respect…. to each other
    so….starting from…scope….authority….and responsibility …should be clear at the begining.. time..

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s