Traveling abal-abal ke hutan Nara

traveling-nara-00

Penulis: Wage Rahardjo – Setalah lama bergelut membahasa topik agama maka kali dongbud menerbitkan edisi santai yaitu traveling abal-abal.  Saya sebut abal-abal karena lokasi yang saya pilih relatif tidak umum yaitu belusukan masuk hutan.   Apa sih menariknya jalan jalan ke tengah hutan? Untuk lebih jelas selengkapnya silakan dibaca di bawah ini.

Sekilas tentang Nara. Nara adalah sebuah kota kecil yang terletak di negara Jepang bagian tengah. Kota yang mengundang banyak orang berdecak kagum. Wajar saja kara kota Nara bukanlah sembarang kota namun kota tua bekas ibu kota dari negeri Jepang jaman dulu (tahun 710 to 784) sebelum dipindah ko kota Kyoto dan dipindah lagi ibokota yang kita kenal sekarang yaitu Tokyo.  Duh, ribuan tahun lalu mereka sudah memiliki kota yang demikian teratur? Sisa-sisa keteratuan tata kotanya masih tetap tampak dan terpelihara sampai kini. Saat ini kota tersebut memiliki 8 tempat warissan dunia. Namun di tulisan ini, saya tidak akan bercerita tentang kota tapi tentang hutan tuanya (Kasugayama Primeval Forest)  yang juga mendapat pengakuan Wordl Heritage dari Unesco.

Awal Perjalanan

Cerita saya awali dengan mundur sejenak beberapa hari, disaat membaca lembaran majalah gratis yang memuat daftar group jalan-jalan (hiking) berbiaya super murah yang dikelola oleh sejumlah group hiking, yaitu seharga 300 yen (Rp 30.000). Harga yang tentu saja sangat murah untuk ukuran di negara tersebut, karena dengan uang senilai Rp 30.000 nyaris tidak cukup untuk ongkos makasn siang. Sedikit catatan, ongkos makan siang di negeri tersebut adalah sekitar Rp 70.000 sedangkan kalau makan malam malah lebih mahal. Ya, Jepang memang negeri yang mahal . . . . . . .

Singkat cerita, dengan menumpang kereta api dan menempuh perjalanan sekitar 30 menit, saya sampai di stassiun kereta tujuan.  Celingak celinguk sebetar akhirnya saya menemukan nomor pintu keluar (gate exit) yang saya cari. Tampak seorang kakek berdiri memegang bendera berwarna oranya dan tertulis nama group traveling-nya. Nah, itulah orang yang saya cari. Saya mendekat dan memberi salam dan kakek tersebut juga membalas. Dengan tersenyum hangat, kakek tersebut memberikan petunjuk ke arah lokasi.  Tidak terlalu susah untuk memahaminya karena di tiap ujung jalan sudah berdiri “petugas” lain berbendera oranye yang menunjukkan arah. Lokasi yang ditunjuk adalah Taman Kota Nara, sebagai tempat berkumpul sekaligus lokasi start.  Perjalanan dari stasiun ke Taman Kota cuma belasan menit, namun cukup membuat saya takjub.  Kota yang nyaman, bersih, indah dan rapi.

Trotoar di salah satu sudut kota
Trotoar

[Keterangan gambar: pemandangan trotoar di salah satu sudut kota. Perhatikan jalan trotoar yang justru jauh lebih lebar dari jalan mobil].

Rusa adalah mascot dari kota Nara. Binatang itu berkeliaran bebas di taman-taman kota
Rusa liar di taman kota

Rusa adalah mascot dari kota Nara. Binatang itu bisa ditemukan ergerombol dalam jumlah banyak di hampir seluruh sudut kota. Tempat favorit mereka adalah taman-taman kota. Mereka berkeliaran bebas tanpa ada rasa khawatir diusik apalagi disate oleh manusia.

Ha..ha.. di Jepang juga ada jam karet

Setelah mengisi formulir dan membayar biayanya, saya mendapatkan kuitansi pembayaran, kartu anggota, serta kartu asuransi!  Tak ayal, saya harus acungi dua jempol untuk sang panitia.  Tahukah anda bahwa pengelola hiking ini adalah para orang tua dan para pensiun-an. Dengan biaya 300 yen plus asuransi, dipastikan motifnya bukan untuk cari untung tapi nyaris hanya untuk “cari kesibukan”  sesama manula. Maklum saja karena para peserta juga nyaris sebagian besar adalah para orang tua berumur 50 – 70-an tahun.

Group hiking semacam ini relatif populer dan sangat banyak ditemukan di negara tersebut.  Mereka umumnya aktif beraktivitas disaat musim gugur  yaitu disaat alam menampakkan pemandangan indah menakjubkan, daun-daun pohon berwarna merah atau kuning akibat peralihan dari musim panas ke musim dingin (Oktober-November). Bulan lain yang penuh akitivitas Hiking adalah musim semi yaitu disaat bunga ume dan sakura mulai bermekaran, yaitu sekitar bulan Maret-April.

Umumnya hiking dilakukan berkelompok dengan anggota sekitar beranggotakan 10-50an orang. Namum saya kaget bukan kepalang ketika melihat bahwa hiking yang ikuti saat itu ternyata berjumlah 300an orang! [Keterangan gambar: Foto para seserta, sesaat sebelum berangkat. Dilatar depan tanpak seekor rusa sedang merumput]

traveling-nara-0Jalan jalan masuk hutan bersama 300 orang? Yang membuat saya lebih kaget lagi, beberapa pesertanya ada yang berumur 80an tahun. Hah?! Sedikit dicatat bahwa hiking kali ini mengambil rute cukup berat dan berjarak lumayan jauh yaitu 25 km.  Hmmmm…… rada khawatir dan sangsi juga juga melihat umur para peserta jompo tersebut tanpa sadar dan ngaca diri bahwa penulis juga termasuk golongan……. jompo.

Sambil menunggu persiapan regestrasi para peserta yang jumlahanya luar biasa banyak tersebut, saya memuaskan diri dengan bercanda dengan binatang cantik yang merupakan maskot kota Nara yaitu rusa. Binatang ini berkeliaran bebasa di banyak tempat dan koloni terbesar mereka umumnya ada di taman dan sekitar tempat ibadah (kuil).

Akibat membludaknya peserta maka waktu start menjadi molor hampir setengah jam.  Keterlambatan yang sangat tidak lazim terjadi negara tersebut. Budaya mereka ketepatan waktu nyaris tidak bisa ditawar, kereta api dan bus kota juga memiliki jam kedatangan dan keberangkatan sseperti jadwal pesawat. Ada guyonan yang mengatakan bahwa kalau jam kedatangan kereta tidak cocok dengan waktu di jam tangan anda berarti arloji anda yang rusak. Weleh, sampai segitunya……Namun mau apa lagi, namanya juga traveling abal2 dan pengelolanya juga orang orang jompo, jadi keterlambatan bisa dimaklumi.

Komposisi pria dan wanita nyaris seimbang dengan dengan rentang umur seperti yang sudah saya tulis diatas dan hanya segelintir saja terlihat anak remaja.  Namun ada satu hal yang tampak seragam yaitu sebagian orang (tua itu) tampak menggunakan pakaian dan perlengkapan hiking yang relatif modis dan fashionable.

Toilet di Tengah Hutan

Setelah diawali dengan senam masal selama kurang lebih 10 menit, kamipun mulai meninggalkan taman kota, menyebrang jalan besar, menyelusuri trotoar yang lebarnya minta ampun dan beberapa puluh menit kemudian sudah mulai memasuki lokasi hutan. Di lokasi terluar dari hutan tampak berfungsi sebagai kuburan dan penuh dengan batu nisan yang sudah berumur ribuan tahun. Pohon pohon tua juga tumbuh mencuat disana sini. Seram? Ndak juga. Jalan siang hari bareng ratusan orang mana takut? Lagi pula kuburan di Jepang isinya bukan mayat tapi cuma abu doang.

traveling-nara-2Tidak terasa perjalan sudah memasuki kilometer ke 5. Rute awal yang sangat ringan. Jalan hutan yang sangat lebar, landai dan beralaskan kerikil kecil, nyaris terasa ringan untuk dilalui. Para peserta tampak berjalan bercakap-cakap dengan suara kecil dan nyaris tidak terdengar karena ditelan oleh suara tapak kaki di jalan berkerikil. Saya jalan nyaris paling belakang dan beberapa kali harus berlari karena keasikan mengambil gambar. Beberapa pemandu yang bertugas paling belakang tampak tersenyum melihat tingkah polah saya yang seperti monyet tumben masuk hutan……..

traveling-nara-2bRute berikutnya harus berpindah ke jalan yang lebih sempit dan semakin lama semakin sempit dan cukup mendaki. Suasana hutan mulai terasa jelas “Nah, ini baru namanya jalan-jalan masuk hutan” kata saya dalam hati. Namun dasar  negara maju, di tengah hutan yang terpencil sekalipun tetap saja ada bangunan modern yaitu toilet. Saya sebut modern karena toiletnya standard seperti toilet di Jepang umumnya pakai sensor, jadi tinggal pipis dan otomatis nyiram sendiri, tinggal acungi tangan di wastafel maka maka air langsung mengucur keluar.

Lunch Time

Setelah lelah bergumul  jalan naik dan turun akhirnya tibalah waktu yang ditunggu-tunggu yaitu waktu makan siang.  Semua orang berpencar mencari tempat terbaik dan mulai membuka bekal makanannya masing-masing. Ah, teringat dengan masa piknik sekolah disaat saya kecil dulu yaitu semua orang membawa bekal sendiri dari rumah. yang umumnya ketupat, kacang goreng dan telor rebus. Maklum di jaman itu warung makanan susah ditemukan dan disamping itu kebanyakan anak juga tidak punya uang untuk dibelanjakan.  Namun kondisinya berbeda dengan di negeri Jepang.  Membawa bekal makanan adalah merupakan hal biasa. Ke sekolah atau bahkan ke tempat kerja-pun membawa bekal makanan adalah umum ditemukan, terlebih lagi disaat piknik ke tengah hutan seperti sekarang ini. Emang siapa orang sinting yang mau buka warung ditengah hutan? Emang beli para monyet? [Keterangan gambar: nasi kotak, bekal simbah monyet]

traveling-nara-4

Cerita menarik, disebelah saya tampak dua orang pasangan setengah baya yang sedang melakukan masa-masa pendekatan.  Kentara dari pembicaraan mereka yang saya kuping dengan tidak sengaja. Ha..ha..ha…Mereka berdua tampak masih malu malu. Si wanita membawa dua bekal makanan serta dua tremos teh hijau dan memberikannya sebagian pada si pria.  “Terima kasih, masakan-mu enak sekali” kata si pria setelah selesai menyantapnya dan si wanitapun senang  serta tersipu malu.  Dasar usil nguping percakapan orang! Kehidupan dunia kerja yang sibuk di negeri tersebut memang kadang menghasilkan orang orang jomblo yang telat nikah dan ajang seperti ini adalah kesempatan bagus sekaligus murah untuk melakukan pendekatan.  Ah, bagian ini hanya selingan.

Satu jam kemudian ketua rombongan memberikan aba-aba dan peserta mulai berkemas dan berangkat.  Karena berangkat paling akhir, saya bisa melihat dengan jelas bahwa nyaris tidak ada satupun sampah yang ditinggalkan oleh para peserta.  Sepertinya semua orang membungkus dan memasukkan sampahnya dalam masing masing.  Sedikit catatan, disaat tidak ditemuakan keranjang sampah maka orang jepang terbiasa membawa sampah sampai ke rumah. Ah, andai negeriku juga punya budaya bersih seperti ini…..

traveling-nara-5cSetalah lelah dengan jalan tanjakan maka sekarang rutenya mulai didominasi dengan turunan.  Beberapa peserta yang awalnya tampak kelelahan karena harus melalui jalan yang relatif terjal, sekarang seakan kegirangan dengan jalur yang landai. Di bagian ini, nyaris tidak ada hal menarik yang bisa saya ceritakan. Sepanjang perjalanan, dikiri kanan didominasi oleh pohon jenis pinus. Dalam hal kelebatan dan keanekaragamannya tentu saja kalah jauh  dengan hutan hujan tropis.

Perpisahaan

Setalah berjalan nyaris seharian penuh, akhirnya 45 kilo rute habis terjelajahi.  Para panitia tampak berbaris rapi sambil mengucapkan terima kasih dan para pesertapun membubarkan diri dengan tertib. Ah, acara yang cukup melelahkan sekaligus menyenangkan.

Jadi pelajaran  menarik yang bisa saya sampaikan di tulisan ini?  Yang menarik menurut saya adalah kemampuan negeri tersebut dalam menawarkan keberagaman lokasi wisata.  Jepang adalah negeri modern, namun adat , tradisi dan budaya yang sudah berumur ribuan tetap terpelihara. Kemudian yang terpenting menurut saya, memampuan mereka mengelola warisan alam patut diacungi jempol.  67% dari wilayah Jepang adalah berupa hutan jadi wilayah hunian atau yang bisa dihuni prsentatasenya sangat kecil, nyaris hanya 25% saja.traveling-nara-10

Negeri Indonesia warisan alam dan budaya yang sangat melimpah. Hutan hujan tropis contohnya adalah merukan kekayaan keanekaragaman hayati yang tiada bandingannya. Tanpa kepedulian dan pengelolaan yang tepat maka cepat atau lambat warisan nenek moyang ini akan rusak atau bahkan hilang. Siapakah yang peduli?

Jepang contohnya telah melakukan trobosan bagus dengan menjadikan hutan sebagai obyek wisata.  Semuanya itu tentu kembali pada keseriusan serta kemampuan lembaga terkait untuk mewujudkannya.  Namun apakah mungkin?

Disaat generasi muda sekarang tergila gila dengan dengan gatget baru, disaat masyarakat dijejali dengan berita politik, disaat masyarakat berkutat dengan dogma agama dan perayaan artifisial , maka minat pada hutan atau lingkugan tentu tidak akan pernah berkembang atau tertumbuhkan.

Demikian sekilas cerita traveling abal-abal dari hutan Nara.

Osaka, November 2012

wage-sign-rahardjo

Advertisements

10 thoughts on “Traveling abal-abal ke hutan Nara

  1. Salam simbah,poro sedulur @ waduh uenaknya simbah ada kesempatan begitu…ckckck…
    Saya jg suka sekali naik gunung,mbah..tp lokal..hhe,.
    Seorang anak gunung sejati,bukanlah harus cepat sampai tujuan..tapi menikmati setiap langkah proses pendakian…sama sperti simbah…

    Semoga simbah tambah sukses.. Aamiiin..

    #titik terang seseorang bukanlah pada tujuannya,tp pd detik,dimana waktu,kondisi,dan pencapaiannya memenuhi kriteria garis hidupnya#

    1. ==Saya jg suka sekali naik gunung,mbah..tp lokal..hhe,==@nur==

      Aduh, Kang Nur, komentar Akang bisa memancing imajinasi yang bukan-bukan…………

      Tapi anyway simbah waktu muda dulu suka mendaki gunung lokal,…..Duh, jadi bingung khan?!!

  2. Salam Kang WageR , Kang Nur dan para saudara semua.
    Terimakasih kang WageR…. sebuah tulisan yang mengulas sebuah obyek wisata secara lengkap dengan fokus sudut pandang sosial-budaya.
    Hmm… betul-betul kampiun kang WageR.
    Suwun.

    1. Terima kasih Kang. Kalau mau dan niat, semua orang juga bisa.membuat tulisan yang jauh lebih baik dari sekedar tulisan abal2 di atas. Semua orang sebetulnya punya bakat nulis, cuma karena kurang latihan makanya kadang susah untuk merangkai kalimat.

    2. Salam Mbah Wage…Mas ABR . Mas Nurkahuripan dan sedoyo sederek dan porosepuh…..

      Sangat menarik . bikin ngiri , he he …semoga saya bisa jalan jalan ke gunung dan hutan , meskipun hanya abal abal alias mimpi doang…..

  3. @ Mbah Wage,

    Very very nice artikel mbah, complete dengan photo dan pengalaman pribadi sang penulis, tapi ya jangan gitu lha mbah, masak mentang-mentang menikmati jalan-jalan di hutan trus nama ‘simbah’ di ganti dengan nama ‘simon’ :mrgreen:

    I really like all about the japanis culture mbah, saya juga tidak malu untuk membandingkannya dengan indonesia. Negara kita negri yang kaya raya sumber hayatinya, hanya saja SDM nya (bukan sendok makan) yang titik-titik tanda petik… sementara jepang sumber hayatinya tidaklah begitu tititk titik… tapi masyarakatnya sangat super dalam tanda petik :wink:…

    Salut untuk kesadaran dan kecintaan rakyat Nipon dalam menjaga kebersihan dan lingkungan, two thumb up deh! :)…

    REPLY WAGE: 2 thumb up untuk japanis kalture, 10 thumb-up juga untuk Javanis kalture…….

  4. Salam kenal mbah Wage dan para pengujung blok abal-abai ini.
    Membaca tulisan mbah wage kali ini mengingatkan saya akan nara koen dengan daibutsunya. saat itu tahun 1995 hampir setiap minggu selalu berkunjung kesana.

    1. Mbah malah ngiri dengan alam dan hutan di tanah air, lebih lebat dan flora faunanya lebih berbineka. Kalau ditulis pasti lebih menarik…..

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s