Sekali lagi tentang agama pada KTP

ktp-pknbarupos

DONGBUD. Wager. Pengisian kolom agama pada KTP kembali memunculkan polemik. Apakah kolom agama boleh dikosongkan? Bagaimana dengan agama diluar 6 agama yang resmi atau bagaimana dengan penganut kepercayaan? dst, dst. Polemik akhirnya berakhir  dengan disahkan menjadi Undang-Undang Administrasi Kependudukan setelah melalui rapat paripurna DPR pada tanggal 26 November 2013. Pada Pasal 64 Ayat (1) UU Administrasi Kependudukan, setiap warga negara harus memilih satu di antara lima agama yang diakui oleh pemerintah sebagai identitas dirinya.

Jadi masalah sebetulnya sudah selesai dan juga sudah bisa ditebak hasil akhirnya.  Namun entah kenapa saya  merasa tergelitik untuk menuliskan opini setelah membaca komentar dari mentri agama Bpk Suryadharma sbb: “….kolom agama di KTP ini sebenarnya sangat penting untuk mengurus segala administrasi lain nantinya. Misalnya, sebutnya, untuk urusan kematian, upacara kematian pun harus disesuaikan dengan agama yang tercantum dalam KTP yang bersangkutan. Jika tidak dicantumkan, masyarakat tak memiliki informasi tentang agama yang dianut seseorang………” katanya.

Komentar yang sepertinya sangat wajar dan bahkan mungkin juga mewakili pendapat sebagian masyarakat secara umum. Namun di tulisan ini, izinkan saya berbeda pendapat. Agama bagi saya adalah urusan orang hidup dab bukan urusan orang mati. Disaat meninggal maka mayat akan menjadi warisan keluarga atau badan sosial (untuk yang tidak punya keluarga).  Jadi mau dikubur, dibakar, dikremasi, disembahyangi dengan ritual agama A, B atau O dijamin si mati tidak akan bisa protes.

Tanpa identitas agama pada KTP, harus dikubur dengan ritual agama apa? Lha, selama ini kalau ada mayat tidak dikenal, dikubur dengan cara apa? Jawabannya sekali lagi terserah pada orang hidup yang menguburkannya.

: : Apakah apakah saya mendukung penghapusan kolom agama pada KTP?

Asem!!!  Dari dulu saya percaya bahwa untuk kasus di Indonesia, penghapusan kolom agama pada KTP tidak akan mungkin bisa terjadi. Kenapa? Alasannya karena masyarakat kita tergila-gila dengan identitas formal, bukan prilaku. Jadi urusan agama ya harus selalu ditanya, ditulis serta dibuktikan lewat selembar kertas.

Banyak orang khawatir serta tidak bisa membayangkan kalau kolom agama hilang pada KTP ? Kebetulan saya pernah tinggal di negara orang yang tidak mencantumkan agama pada identitas. Rasanya? Ya biasa-biasa saja. Akitivitas beragama berjalan seperti biasa. Jangankan identitas agama system KTP atau kartu penduduk-pun tidak ada di beberapa negara Eropa atau negara maju lainnya. Untuk negara Asia, Jepang juga tidak mengenal sistem KTP. Jadi penduduknya tidak memiliki kartu identitas semacam KTP.

Mungkin banyak dari kita yang tidak tahu bahwa di zaman Belanda dulu, agama juga tidak tercantum pada KTP.  Di negara Palestina-pun kalau tidak salah kolom agama tidak tercantup pada KTP.

Namun zaman sudah berubah, lain negara lain aturan. Agama adalah sesuatu yang sangat vital, urusan hidup mati yang tidak bisa ditawar-tawar apalagi dihapus atau dihilangkan. Agama adalah kebanggaan. Hilangnya kolom agama pada KTP berarti sama dengan hilangkan identitas vital, hilangnya rasa bangga. Semua ini harus ditolak ! Rencana busuk orang-orang sekuler, agenda mamarika, yahudi, iluminati, remason dll

Walau semua orang di negeri ini beragama seragam sekalipun, sepertinya kolom agama akan tetap tercantum dan abadi pada KTP. Hidup KTP !!!

wager

REFERENSI:

Sumber image: Pekanbaru.co

Advertisements

18 thoughts on “Sekali lagi tentang agama pada KTP

  1. Agama adalah urusan orang hidup. Selama tinggal di Indonesia, pertanyaan tentang agama akan terus ditanyakan dan juga dicantumkan.

    SALAM Mbah WAGE..

    Oaaalah Mbah…mbah neh pura pura tidak cerdas saja….yaaa rugi dooong mbah kalau agama dihapus dari KTP , manusia menjadi tidak punya kekuatan dan gaya , tidak bisa pamer , tidak bisa menobatkan kaumnya sebagai kaum paling suci / benar dibanding yang lain…..
    Agama lahir itu kan hanya POLITIK manusia toh mbah ??…alat menghimpun kekuatan untuk bertanding laga dengan agama lain yang dianggap SAINGAN dan MUSUH BEBUYUTAN….

    Agama harus dicantumkan dalam KTP di negeri Indonesia, bagaimana dan bila agama mayoritas di negeri ini BUKAN agama Islam.???….huek.hek…hek….akapah status agama dalam KTP masih dicantumkan ??…..

    Reply wager: :mrgreen:

  2. @ Simbah, PD, Raf, KTP Palsu, All,

    hmmm, pemerintah indonesia raya sepertinya mengintervensi masalah keyakinan penduduknya, ini di mulai sekitar th 1974 an, di mana seluruh warganya di haruskan memilih salah satu agama dari 5 agama yg tersedia sekaligus untuk sesnsus penduduknya.

    sekarang era reformasi dan keterbukaan, dimana warganya yg selama ini merasa ‘dibungkam’ menyuarakan isi hatinya, tak tanggung2 masyarakat juga semakin melek dengan kebebasan hak berkeyakinan yg seharusnya tidak di politisi oleh negara/ pemerintahan.

    nice artikel mbah, ini seperti sebuah kesadaran yang bergaung dan beresonansi :)…

  3. Halo-halo saudara sekalian ,
    Kita memang bangsa yang sudah eksis sejak zaman dulu kala. Tapi soal beragama, kebebasan bersuara – menyuarakan hati nurani – kita masih … terbelakang )-: . Konon, kita adalah bangsa yg sopan, halus budi baha- hahaha-sa nya. SEJARAH telah membuktikan kita juga bisa jadi bangsa yang … bengis … Contohnya, berapa orang mati di zaman lengsernya Bung Karno, berapa orang jadi korban ketika Suharto juga lengser ?
    slumanslumunslametslumanslumunslamet…..

    1. iya ya om Baldew… memprihatinkan dan bikin ngelus dada… lihat saudara2 kita sendiri yang jadi korban dan pelakunya adalah bangsa kita sendiri…

      hiiiiii… ngeri rasanya ada bangsa kok kayak psikopat, sopan santun di depan, tapi di belakang siap menikam :sad:…

      akumelungliwetslumanslumunslamet….

    2. @ wager and All,

      possiblely mbah, as long as we can :

      watch our mind
      watch our thought
      watch our action

      pokoknya do not let that sejarah happen again.

      so we have to watch out- watch out all the time.

  4. Oom Wager, Jeng Dewi Murni berkembenkan sutra ungu (-;

    Sejarah ternyata bisa … menarik … Saya tidak tahu hal ini waktu masih muda dulu. Saya duluuu juga tidak sadar, tidak tahu, bahwa sejarah ditulis dan sering dibelokkan oleh yang sedang berkuasa ! )-: Kita belajar dari sejarah supaya kebodohan2 yg pernah dilakukan tidak dilakukan lagi. Semoga.

    1. @ Om Baldew and All,

      “Homo Homini lupus, Man is a wolf to man”
      (Manusia adalah serigala bagi sesamanya)

      Bahwasanya kehidupan ini dibangun atas berbagai keinginan, begitu juga pada akhirnya nanti… kehidupan ini akan dihancurkan oleh berbagai keinginan manusia yang senyatanya sudah benar2 lost of control, diluar batas… terkadang sampai mengesampingkan nilai2 kemanusiaan, moralitas, adab dsb….

      Inilah yang semestinya dicermati, manusia semakin bertumbuh dengan mengagungkan keinginannya masing2… membangun berbagai kepentingan yang terkadang justru dilalui dengan jalan mengorbankan orang lain…

      Benar adanya jika dikatakan bahwa si Pemenanglah yang akan menuliskan Sejarah… Pemenanglah yang akan mengatur ritme jalannya suatu cerita… sehingga semakin banyak manusia yang ingin menjadi pemenang, pemenang kekuasaan, pemenang tahta, jabatan, harta dsb.

      Mari sejenak berkaca pada diri, apakah agama, keyakinan, kepercayaan, budaya, spiritual yang selama ini kita agung2kan mampu membenahi diri sehingga bisa menjadi manusia yang Terkendali dan Tahu Diri ?…

  5. Punten, kulonuwun, permisi… jika semua mau rendah hati bahwa : semua agama/kepercayaan & yang disembah masing2 agama/kepercayaan itu setara “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah” tdk ada tuhan segala tuhan & tuhan hanya utk masing2 umatnya. Mungkin saja bisa membuka perbuatan baik lebih byk dilakukan. “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” Agama/kepercayaan lokal berhak hidup di wilayahnya. Jgn mudah tersinggung jika mau instrospeksi sbg tamu, sementara tuan rumah disemena2kan. Yang bisa bilang kafir, musrik, berhala dll mhn berkenan untuk mengaca,”apa iya tdk melakukan hal2 yang seperti kafir? Musrik? Berhala? Dll?” #tentunya jgn ada perkecualian dgn bermacam alasan ya…. monggo minum air putih yuk… salam damai

    1. Salam untuk Kang JUDAS,
      Komentar / opini Akang sangat menarik. Semoga damai Kang. salam

      NOTE : tulisan sudah diedit menjadi lebih sederhana

  6. Sy muslim, tp budaya dan adat istiadat msh panci terapkan spt bakar menyan, membuat berbagai simbol2 yg dituangkan dgn berbagai makanan dan buah2an serta menggunakan hari pasaran ktk bekerja he3
    panci cuma jgn diganggu cara2 tsb dan jgn disamakan agama dgn budaya (ente wahabi jgn ganggu kami, biar lah ini menjadi urusan panci) itu aja, masalah KTP dgn diisi pilihan berbagai agama dan kepercayaan silahkan saja asal bs menjamin kebebasan (jgn menghilangkan adat istiadat budaya) menjalankan adat istiadat shg lestari (tdk musnah) terbuang akibat impor budaya barat dan arab, gitu aja keinginan panci

  7. Satu lagi, pikiran mu adalah angan2mu itulah bentuk sholat/sembahyang mu, yg jidad hitam rajin sholat gerakan tubuh yg spt ini gk dibawa pulang, semua akan ditinggal termasuk KTP, rumah, istri dan anak2mu,,, sholat yg akan dibawa pulang, hanyalah nafas yg “walam yalid walam yulad” setiap tarikan dan hembusan nafas, ini yg akan dibawa pulang dan akan dipertanggungjawabkan di akherat kelak dan semua agama, dulu spt ini keadaannya kok bs berubah? krn iblis lbh pintar memasuki pikiran manusia,,, ini saja pesan panci

    1. he3 ada yg ketinggalan, ngomong2 KTP (indentitas) kalau pulang dibawa gk yah?
      siapa tahu malaekat atau para dewa mungkin akan menanyakan KTP?

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s