Maaf kawan, aku tidak bertuhan

ダウンロードPenulis: Kang O`on – [Catatan pengantar dari dongbud. Setahun lalu, blog ini pernah menurunkan tulisan bertema “Ber-Tuhan tanpa beragama“. Walaupun menurut saya, topik tersebut adalah biasa-biasa saja namun beberapa pembaca menanggapinya dengan huboh. “Tidak beragama adalah wajar?”  Ya, bagi saya adalah wajar dan sama sekali tidak masalah. Bahkan saya juga sama sekali tidak keberatan saat seorang rekan berkata; “Aku tidak beragama dan juga tidak bertuhan”, seperti pada tulisan berikut.

Hmmmmm……terlepas dari setuju atau tidak (dengan opini penulisnya), yang jelas perbedaan  kepercayaan /ketidakpercayaan hendaknya tidak sampai merusak nurani dan persaudaaraan, terlebih lagi dalam kontek bernegara. Masak hanya karena beda kepercayaan doang bisa saling tusuk? Perbedaan adalah ajang melatih toleransi, kalau semua sama dan seragam, toleransi apa yang mau dilatih?  Tulisan sampah? Ya terserah, namanya juga blog abal-abal……]

———————————————————————

Maaf Kawan, Aku Tidak Bertuhan…..

Penulis: Kang O`On

Tuhan sebagai konten ajaran suatu/beberapa agama bagaikan virus pikiran atau parasit pola pikir, yaitu menjadikan manusia selalu mengharap, enyembah/ritual, dan bersyukur kepada tuhan. Walaupun pada kenyataan sehari2 mau tak mau manusia sangat menggantungkan nasibnya kepada alam/jagad, lingkungan terdekat/sekitarnya, sesama mahluk hidup, serta SDM/dirinya.

Ya, tidak bertuhan, suatu kondisi yang berpeluang agar dapat mereview diri sendiri jika pada kehidupan ini mengalami kenyataan yg mengecewakan maupun merasa sakses.

Apakah saya kecewa karena si tuhan tidak pernah memperlihatkan wujudnya? Tentu saja tidak, karena tuhan hanyalah konsep maupun kepercayaan/myth dari manusia dan utk manusia lainnya (khususnya yg menyukai tahayul).

Apakah SETELAH mati akan dapat hidup kembali? Manusia dapat hidup dan merasakan sbg (misalnya) saya, karena adanya eksistensi suatu sistem tubuh fisik yg sejak lahirnya menerima input atau proses timbal-balik dari dan kpd para manusia yg telah ada, aka evolusi.

Jadi tidak ada alasan yg logis untuk khawatir, harap2 cemas, maupun galaw mengenai nasib setelah mati, namun. Berusahalah agar scr proporsional dapat aman, nyaman, dan sejahtera dalam mengalami kehidupan ini…TANPA mengajarkan tahayul/myth/kepercayaan/ajaran berkonten yg tidak relevan dgn kenyataan kpd generasi penerus/keturunan maupun anak2 didik/murid.

Oleh kerana itulah, apakah departemen agama perlu dan dibiayai dari anggaran negara? krn itu harus dibiayai dgn dana (non pajak) dari komunitas fans/pemeluk agama saja. Oya,..misalnya jika pernikahan HARUS ada pengesahan dari KUA maka dept agama malah ikut campur urusan pribadi warga negara (yg tidak beragama) dan urusan dinas kependudukan capil.

Tanpa agama dan tuhan, moral para manusia akan merosot?
Tentu saja tidak, tanpa hukum pidana & perdata serta konsep HAM, manusia justru akan punah. Dept. agama pun harus bertanggung jawab jika di negeri ini ada yg dihukum dgn hukuman spt pada ajaran agama atau bukan menurut referensi depkumham.

Bukan suatu kebetulan jika di negara-negara dimana agama dan tuhan malah tidak penting maupun agama tidak dibiayai dari anggaran negara, namun di negara2 itu malah lebih aman, nyaman dan sejahtera dibandingkan di negara2 yg scr langsung/tak langsung mendidik warganya agar agamis dan bertuhan.

Tentu saja sy mendukung niat baik dari para agamis/umat beragama (bagaimanapun sy ini mantan pemeluk suatu agama), namun apakah ajaran agama sebagai referensi para agamis pernah dianalisa dan diuji scr kritis untuk kesuksesan/merealisasikan niat baik itu?

Kang O`On

Dicopy dari halaman komentar:
https://dongengbudaya.wordpress.com/wp-admin/comment.php?action=editcomment&c=1833

Credit image : National Geographic

5 thoughts on “Maaf kawan, aku tidak bertuhan

  1. Ya, negara-negara yang ateistik dan tidak beragama seperti Eropa Utara punya indeks kemanusiaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara yang secara langsung maupun tidak langsung mendidik warganya untuk beragama. Itu sebuah kenyataan.

    Agama pun dapat digunakan oleh pemerintah sebagai sebuah alat legitimasi kekuasaan untuk menciptakan kekuatan eksternal di dalam manusia. Inilah kenapa kita punya sistem teokrasi.

    :mrgreen: Reply dongbud: Ya, begitulah kenyataannya.

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s