Mengatasi banjir dengan Doa

hujan-f4fcd94394087dPenulis: Wage Rahardo – Hujan adalah merupakan berkah alam yang wajib disyukuri. Bayangkan saja, alangkah gersangnya alam kalau tidak ada hujan, tanah menjadi kering, panen gagal dan ibu ibu menjerit histeris karena harga sayur-mayur yang melangit. Namun musim hujan berarti membuat hidup jadi lebih indah, tapi justru lebih susah karena banjir dimana mana.

Sebagian orang tampak pasrah. Pertanda apakah ini? “Apakah ini merupakan murka Tuhan”, kata teman saya yang tampak pasrah. Entahlah, saya hanya balik bergumam kagak jelas : “Manusia itu ibarat tikus. Sebersih bersihnya suatu tempat, kalau sudah ditempati, cendrung akan berubah menjadi kotor, kumuh dan penuh sampah. Wajarlah kalau hujan, lingkungan jadi banjir”. Duh, analogi yang sangat tidak sopan pada sang tikus. 

Berpaling sejenak ke lain tempat, tikus belanda…eh…maksudnya negeri Belanda, nasibnya malah jauh lebih buruk. Hampir 20% wilayahnya dan 21% populasinya berada di bawah permukaan laut. Apakah ini artinya mereka tiap tahun selalu dilanda bencana banjir? Jawabannya ternyata tidak. Kuncinya adalah perencanaan kota yang teratur serta pengetahuan yang memadai tentang pencegahan banjir. 

Belajar dari negeri tikus

Dulu saya sempat berpendapat bahwa banjir sepenuhnya terjadi karena kebodohan manusia yang sok bersih dan praktis, menutup tanah dengan beton atau aspal. Namun dengan kembali menggunakan negeri lain sebagai perbandingan maka jawabannya menjadi sedikit jalas. Di kota-kota negara maju seperti eropa atau negara asia seperti Jepang dan Singapura sebagai contoh, hampir semua sudut kota tertutup oleh beton dan aspal. Bangunan beton bukan hanya di atas tanah namun juga di bawah tanah.  Hampir semua stasiun, dan jalur kereta api di pusat kota terletak di bawah tanah, lengkap dengan mall dan pasar-nya. Yeah, mirip negeri tikuslah. Namun ajaibnya banjir relatif jarang terjadi. Sekali lagi, pengaturan tata kota yang tepat adalah kuncinya.

Setahu saya, banjir di negara maju justru lebih sering terjadi di daerah pegunungan atau pedesaan. Lha, bukankah di daerah pedesaan tanah masih terhampar luas dan belum tertutup beton? Dengan pengamatan abal-abal sambil teringat masa kecil saat bermain di sawah, menunjukan bahwa kemampuan tanah meresap air ada batasnya dan ketika tanah sudah mabuk air maka air akan tergenang atau mengalir ke tempat yang lebih rendah. Jadi hujan di di daerah pegunungan akan membuang kelebihanan airnya ke sungai yang akhirnya menggenangi atau menerjang kota yang ada di bawahnya.  Kota yang tata kotanya amburadul dipastikan akan dilanda banjir besar.

Menjaga kelestarian hutan serta menciptakan daerah resapan air seperti taman atau hutan kota tentu saja sangat penting, namun semua itu belumlah cukup, terlebih lagi disaat perubahan iklim yang tidak menentu seperti sekarang.  Jadi solusi lainnya yang tidak kalah mendesak adalah menciptakan tempat penampung air semacam situ dan bendungan serta mengembalikan fungsi sungai sebagai aliran air. 

Pemerintah Hindia Belanda jaman dulu telah membangun relatif banyak situ atau bendungn sebagai tempat penampungan air. Sebagian situ peninggalan penjajah itu masih ada sampai sekarang, sebagian lagi hilang atau tidak terurus.  Dengan semakin padatnya dan modern suatu kota, bukankah situ  harus semakin banyak?  (Baca : Sudah 57 Situ di Jakarta dan sekitarnya hilang)

Solusi setengah hati: Tanggul abal-abal !

Sungai harus dikeruk dan bebas dari pemukiman liar. Lha, itu harus! Waduk dan sungai harus dilengkapi dengan tanggul yang kokoh dan permanen“, bukan tanggul sederhana yang mudah bolong atau dibolongi. Proyek setengah hati semacam ini sangat berbahaya kerena akan memicu bencana yang jauh lebih besar dan mendadak. (Baca: Tragedi Situ Gintung) Untuk sementara bolehlah sekedar mencegah pemukiman liar masuk kembali, namun untuk jangka panjang tentu tidak bisa dilakukan. Proyek mahal? Ya, tentu saja, namun masih jauh lebih murah dibandingkan bencana yang mungkin timbul. Kalau dilakukan bertahap, sepertinya tidak akan mahal.

Kembali menengok ke negeri lain sebagai study banding, sungai di negeri maju, terlebih untuk sungai di pusat kota/perumahan umumnya tanggul sungai yang luar biasa tinggi, kokoh dan juga lebar yang kadang berfungsi sebagai jalan setapak ataupun jalan mobil. Nah, negara maju dengan curah hujan rintik-rintik saja bikin tanggul tidak tanggung-tanggung, bagaimana dengan negeri ini yang curah hujannya seperti setan? Tentu saja semua ini memerlukan biaya yang sangat besar namun sepertinya sepadan dengan manfaatnya.

Jadi pencegahan bencana banjir adalah merupakan proyek BESAR dan mahal yang harus dilakukan secara serius, bertahap, kontinyu dan berkeseinambungan.

  • Mbah, gimana dengan penggundulan hutan serta prilaku masyarakat yang suka membuang sampah ke sungai? Apakah bagian ini tidak penting?

Lha, ini merupakan hal mendasar yang nyaris tidak perlu disebutkan lagi. Disaat suatu kota besar masih berkutat dengan permasalahan mendasar seperti warganya yang masih suka buang sampah sembarangan, penduduk yang kurang makan sehingga harus cara makan dengan menggunduli hutan,  ataupun kongkalingkong perusahaan penebang kayu, maka maka banjir akan menjadi bencana tahunan yang nyaris tidak bisa ditolak, siapapun presidennya, siapapun pemimpinnya.

banjir23554Contoh foto ruwetnya pemukiman di bantaran Sungai Ciliwung. Credit photo :Antara/ Wahyu PA

 
sungai2334

Contoh sungai di kota Kyoto, Jepang.  Kota ini merupakan ibu kota pada masa lalu sebelum akhirnya dipindah ke Tokyo.  Jadi kerapian tata kota haruslah direncanakan sejak awal dan serius.

  • Duh, lumayan ruwet juga ya? Adakah cara yang lebih gampang?

Jelas ada Nak, caranya yaitu dengan Doa !!! Sebagian orang percaya bahwa ada korelasi tidak langsung antara banjir dengan prilaku masyarakat yang jauh dari agama. Maksiat, minuman keras dan pelacuran adalah salah satunya.  Namun masalahpun menjadi semakin rumit ketika ada kelompok yang mengaku beragama menggunakan isu bajir sebagai sarana untuk menyerang lawan politiknya.  Jadi ada sebagian orang yang berdoa agar banjir surut, namun sebagian orang lagi berdoa agar banjir datang lebih besar dan lebih lama.  Nah, susah khan? Namun itulah uniknya negeri kita.  Kalau tidak gini ya kagak rame.

  • Solusi banjir biasanya solusinya selalu muluk-muluk dan sok ilmuah. Kenapa tidak dicoba pakai solusi alternatif contohnya pakai jasa Pawang Hujan. Ada pengobatan alternatif, ya tentu juga ada solusi banjir alternatif khan?

Wakakakkkk………

wage-sign-rahardjo

Credit photo : http://img.allabout.co.jp/form/tips/img/2012/06/f4fcd94394087d.jpg

37 thoughts on “Mengatasi banjir dengan Doa

  1. Salam simbah,poro sepuh & sedulur semua @
    wahaha,..simbah nulis ttg banjir mantabz bgt…
    Sy sudah gak heran sm banjir mbah(dari kecil udah mbelenger dan bosan,.wkwk),..
    Kemarin hp sampai rusak tercebur,..
    Kalau hemat sy,sdh gak bisa brkata apa2 lg tentang banjir,.jadi, yah terserah alam aja deh,mau apa juga..wkwk…
    Ohya,,bsk tgl 3 kayaknya akan ada banjir besar lg nih,..

    monggo banjir,silaturahmi lg kerumahku,,pintu terbuka lebar

    1. Kang Nur, tulisan ini dibuat sebagai rasa empati terhadap korban banjir. Sekali kali banjir karena hujan yang kelewat deras ya bisa dimaklumi. Namun kalau banjir tiap tahun itu artinya ada yang salah dengan tata kota.

      Ya, terkadang kita memang cuma pasrah dan urut dada yang sudah semakin tipis……. Ikut sedih dengan Hp-nya Kang Nur.

  2. salam simbah, kang nur..
    iya itu mbah permasalahan banjir memang rumit nian, bikin sengsara sekaligus hati dongkol baru-baru ini saya ngalamin yg namanya si banjir itu, gara2 pembangunan gedung kantor yg ga beres (banyak dikurang-kurangin untuk kantong pribadi pejabat2 atas) alhasil pas musim hujan si atap kantor ini jebol dan air pun tumpah ruah masuk menggenangi ruang arsip dan brangkas ah arsip yg harganya sampai 5 tahun hbs sudah, pc saya jg kena (bikin kliyengan) untung uang negara selamet.. geram saya

  3. Salam Kang Wager, Kang Nur, Kang Lesung and all.
    Tulisan yg berkualitas kang Wager.
    Maap.. sedikit.. menambahi tentang banjir di daerah rural/pedesaan yg masih banyak pesawahan, rawa-rawa dan danau. Hal tersebut bisa terjadi karena endapan tanah liat/ clay yg berasal dari batuan kerak bumi yg hancur akibat gesekan dan panas bumi sehingga ikut muncul dipermukaan melalui kepundan gunung berapi yg selanjutnya turun ketanah yg lebih rendah karena terbawa air hujan dan berkumpul di pesawahan, rawa dan danau. Tanah liat ini kedap air sehingga air hujan tertahan di cerukan yg kandungan tanah liatnya tinggi sehingga memicu banjir. Tambahan referensi dari wikipedia ind dan english.
    Tentang pengendalian banjir tak akan berhasil siapapun pemimpinnya…hmmm. saya rasa kurang pas…. coba kalau pemimpin yg punya keahlian mengendalikan hujan… seperti paeang hujan…hehehe… tentunya tak ada lagi banjir karena hujannya disebar merata…. tul nggak kang.
    Salamun Khoirunnirobbi Rohim…. InsyaAlloh…banjirnya sudah nggak dateng lagi kang Nur.
    Nuwun.

    1. Nah, ini dia Satria Pini…….eh maksudnya pakarnya sudah datang. Maunya nulis ilmiah tapi kagak bisa, maunya juga saya link artikel banjir di kloso bedah eh ternyata untuk private. Tulisan di atas hanya menjelaskan contoh sederhana bahwa banjir bisa terjadi di kota ataupun didesa.

      Pawang hujan jadi presiden? nah, ini ide cemerlang. Maunya juga manyisipkan bahasan pawang hujan tapi bingung harus disisip dimana? Nanti tulisan malah tambah panjang. Sepertinya harus ditulis terpisah.

      salam

    2. Wakkkk…. satrio pini..sepuh… karena tak lama lagi purnatugas…hehe.
      Tulisan di klosobedah terkadang diubah jadi private karena… rasa masgul… tak manpu nulis bagus sehingga tak ada yg baca.
      Tanah longsor … selain karena tiadanya pohon besar berakar banyak juga karena lapisan tanah liat yg ikut meresap kebawah/dinding samping danau/bendungan sehingga membuat lapisan tanah liat dibawah permukaan sehingga bila hujan deras turun maka akan membuat lapisan tanah diatas lapisan tanah liat akan tegelincir kebawah karena licinnya tanah liat.
      Idea bagus untuk membuat tulisan tentang pawang hujan kang.

  4. Sudah 56 Situ di Jakarta dan Sekitarnya Hilang

    TEMPO Interaktif, Jakarta: Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengungkapkan sebanyak 56 situ di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabidetabek) selama kurun waktu lima tahun.

    “Jumlah total situ di Jabodetabek berkurang dari 240 situ pada 2003-2004 menjadi 184 situ pada 2009. Pemerintah selalu bilang saat ini ada sekitar 200-an situ,” kata Juru Kampanye Air dan Pangan Walhi Nasional Erwin Rustam yang dihubungi Antara di Jakarta, Sabtu (28/3).

    Menanggapi tragedi Situ Gintung, Ciputat, Tangerang, Banten, Walhi menjelaskan, dari 184 situ yang tersisa pada 2009, hanya 19 dalam kondisi bagus, sisanya mengalami pendangkalan hebat dan rusak parah.

    Sedangkan luas total situ di Jabodatabek berkurang drastis yaitu 2.337,10 hektare untuk total 240 situ, sekarang menjadi hanya 1.462,78 hektare untuk 184 situ.

    “Rata-rata kedalaman situ juga berkurang, yaitu sebelumnya 5-7 meter sekarang tinggal 2,5 – 3 meter, termasuk Situ Gintung yang sekarang tinggal empat meter,” kata Erwin.

    Data-data Walhi tersebut, katanya, merupakan kompilasi data dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penanggulangan Lingkungan Hidup Daerah Jakarta, Dinas Lingkungan Hidup Depok dan Bogor pada 2007 sampai 2008.
    …………………………….
    http://www.tempo.co/read/news/2009/03/28/083166952/Sudah-56-Situ-di-Jakarta-dan-Sekitarnya-Hilang

  5. Sugeng dalu @ Poro Satrio pini… silin… xixixixi….

    Good mbah, ulasan tentang banjirnya sangat menawan dan realistis, terutama peran para tikus di negri sarang tikus.

    Btw, saran kang uncle O-O juga unik, sekiranya perlu di angkat mentri urusan pawang hujan di negri yang kaya banjir (bencana) ini… kecuali kalau hujan duit kagak usah di terjunkan tuh si pawang… xixixixi….

    1. Satria Pini….silin. Wakakakk…….segera disiapkan draft artikelnya.
      Hujan duit? Duh amit2, jangan sampai terjadi deh. Kalau semua orang pegang duit, nanti siapa yang kerja?

  6. Nuwun..
    Mengatasi Banjir dengan Do’a??? duuhhh si mbah ini bikin orang jadi tersesat…bukanya Paman pesimis sih, ayo kita sama2 test dg hal yg sederhana saja, sediakan air stu gelas,
    lalu mari ber doa’a bersama2 selama 7 hari tuju malam, bila perlu undang semua ustad2, bedande2, pastur2 dll, do’a ny,a adlh memohon agar air di gelas itu bisa surut.
    kalau hal yg sesedarhana ini sj tdk bisa jagn harap do’a2 akan merubah keadaan yg lebih kompex.
    Asah asih asuh

    PD

    1. Salam Paman Dalbo, Kang Wager and all.

      Mohon Maap paman, menurut saya … tulisan kang Wager sudah tepat… hmmm.. mungkin perlu sedikit dipoles agar “kinclong”.

      Sebuah “Doa” pada prinsipnya adalah sebuah “permintaan” yang ditujukan kepada yang “Maha Kuasa”. Tentang terkabul-tidaknya itu masalah lain… yaitu tergantung tatacara permohonan/doa kepada “Birokrasi Yang Maha Berkuasa”. … maap … ini sekedar pemahaman saya bahwa “Yang Maha Berkuasa” ini dalam menjalankan “PemerintahanNya dan Hukum-HukumNya” juga menggunakan “Sistem Birokrasi” dan tentunya dibantu oleh para staf….. malaikat dan para makhluk lainnya sebagai para “Penguasa Lokal”… atau dalam bahasa jawa dikenal sebagai “Mbahurekso”.
      Sebuah permohonan/doa yang langsung ditujukan kepada “Yang Paling Berkuasa Tertinggi”….. hal ini seperti mengirimkan surat permohonan… misal ijin usaha .. atau permintaan pengaspalan jalan…dll ditujukan langsung kepada Presiden. Tentu hal ini sangat jarang dikabulkan… memang ada perkecualian…. yaitu permohonan orang-orang tertentu yg dekat. Kesuksesan permohonan tentunya harus melewati jalur birokrasi yang benar…. yaitu pengajuan permohonan kepada penguasa lokal dan berjenjang keatas…. atau model dirangkap/tembusan. Demikian pula permohonan/do’a … juga mengikuti birokrasiNya… yaitu para penguasa lokal dengan tembusan berjenjang ke atas.

      Tentang doa agar air dalam gelas bisa surut….. itu memang terlihat sebagai masalah “sederhana”… tetapi sebenarnya hal tersebut adalah masalah “besar”… itu bertentangan dengan “Hukum Alam” karena gelas kaca kedap air. Tetapi hal tersebut bisa terjadi bila kita mohonkan digerakkan hati orang/makhluk yg lewat dekat gelas itu untuk meminum airnya…. atau …. ini cara yang mengerikan…. dimohonkan bumi gergoncang agar gelasnya pecah. Hal yang berbeda dengan uap air yang melayang di udara…. bisa dijatuhkan dimana saja tergantung angin yang membawanya…. so.. permintaan menolak atau mengirim hujan harus ditujukan kepada angin cq atas perkenan YM Berkuasa.
      Jadi… bila do’a dipanjatkan pada sasaran yang tepat maka kemungkinan terkabul sangat besar.
      Mohon maap…. tiada maksud menggarami lautan… sekedar share pengalaman.
      Nuwun.

    2. Paman Dalbo benar, apa yang beliau sampaikan emang fakta ilmiah yang tidak bisa dibantah. Kang ABR, juga benar karena apa yang beliau sampaikan adalah merupakan fakta spiritual. Kalau semua benar, yang salah siapa? Ya siMbah yang suka menulis tanggung dan….abal-abal

      Saya percaya Paman Dalbo adalah orang yang rajin doa, cuma tidak pamer. Doanya mungkin sambil kerja. Saya juga percaya bahwa Kang ABR adalah type pekerja keras cuma tidak bilang2.

      Dalam kasus tertentu, doa bisa jadi kagak berguna namun dalam kasus tertentu doa ada kalanya juga diperlukan. Contohnya ya dikala bencana dan sudah kehabisan akal. Daripada bengong mengharap bantuan, lebih baik berdoa. Urut dada juga bisa cuma lama lama dada bisa tipis. Bisa bahaya. Doa tampaknya lebih bagus karena kelihatan kelihatan religius. (*ngawur)

      Apa yang didoakan? Mungkin kebanyakan orang berdoa agar banjir atau bencana reda. Menurut saya ini kurang tepat dan saya tidak akan melakukannya. Jadi doa apa yang tepat? Disambung lagi dalam tulisan edisi depan.

  7. Salam Ning Dewi, Kang Wager, Paman Dalbo, Kang Nur, Kang Lesung and all.
    Satrio Pini…. silin……… wakkkkkk
    Eh… kok inget obat antibiotik behuela dan program antivirus komputer.
    Hmmm…. tapi… 🙄 bagus juga idea ning Dewi… kita butuh para Satrio Pinisilin untuk memberantas virus yang menggerogoti hati nurani….. hihi..hehe…hohoho…. wkkkkkk.

  8. Kalau doa hanyalah ucapan saja maka semua perbuatan ucapan doa sepertinya memang percuma dan tidak ada hasil…..hanya suara yang yang kadang didengar diri sendiri atau orang lain….

    Apakah sebenarnya doa ??

    Apa akibat dari suatu doa ??….

    Kenapa kita sering diberi saran untuk berdoa ??

    Doa adalah tali penghubung seseorang kepada hal yang besar dan luar biasa…..ucapan manusia yang percaya kepada Tuhan dirinya…. doa yang mendatangkan sugesti dan kekuatan atau kepercayaan diri

    Doa manusia ibarat seperti ucapan seorang anak kecil / balita yang hanya bisa berucap …ah uh ah uh kepada ibunya……permintaan yang kadang tidak dituruti dan tidak dikabulkan ……

    Sholat atau Sembahyang jelas adalah berisi sekumpulan doa manusia kepada Tuhan YME / Dzat Maha Dahsyat…..

    Apa manfaat dan kegunaan suatu doa dan kenapa kita sering diperingatkan oleh Bapak Ibu kita untuk selalu dan sering berdoa….??

    Bencana besar datang dan pergi sering dihubungkan dengan perbuatan dan doa manusia ……entah bagaimana menghubungkan dan menerangkan hal tersebut……

    Tidak ada manusia berkekuatan seperti Super Man , tidak ada manusia bisa mendatangkan dan menghentikan bencana….

    Semua hal bencana jelas ada hubungan dengan manusia dan alam itu sendiri dan juga dengan Sang Pencipta Alam……

    Doa dan perbuatan nyata adalah tali rantai yang harus saling sambung….agar manusia tidak lupa diri atau lupa dengan kekuatan manusia lain disekitarnya dan juga kekuatan alam yang besar dan tidak diduga …..


  9. Menghilangkan banjir di jakarta memang sulit, ibarat sakit Jakarta itu sudah kronis. Butuh tak sekedar sentuhan teknologi, tapi juga rekayasa sosial. Teknologi bisa dengan membangun/mengaktifkan kembali waduk2, memperbanyak sumur resapan air hujan dan biopori. Untuk gedung dan perkantoran wajib ada sumur resapan air hujan dan mumpuni, untuk perijinan IMB syarat sumur resapan juga harus ada. Untuk pemukiman padat, bisa dibuatkan untuk rombongan.

    Prinsipnya, air hujan dialirkan dulu ke sumur resapan, kalau tak muat baru dialirkan ke selokan. Sebagai gambaran, misalnya di Jakarta dibuat 2 juta sumur resapan, masing2 bisa menampung/menyerap 3m3 air, maka akan menampung 6juta m3 air. Luar biasa kan? Sumur resapan, dana2 kecil juga memperlakukan air hujan sebagai berkah, ditampung untuk kemudian dikembalikan ke tanah. Ini akan mensuplai air tanah. Konsep kanal banjir memang efektif menanggulangi banjir, tapi air cepat terbuang ke laut. jadi air diperlakukan sebagai gangguan yang harus cepat2 dibuang ke laut. akibatnya, kalau kemarau tak ada air.

    mengenai doa. analisanya tepat sekali. Banyak yang menjadikan banjir Jakarta sebagai bahan untuk menyerang Jokowi.

    1. @ Mas Joko,

      Terima kasih atas tambahannya yang sangat ilmiah. Koemtar di pin karena dianggap informatif.

      Sumur resapan memang sangat efektif, murah dan tepat guna. Namun saya kadang khawatir juga dengan faktor perawatan dan keselamatannya. Semoga keberadaan sumur semacam ini bisa terawat dengan baik dan tidak memakan korban bagi anak anak. Kekhawatiran yang mungkin berlebihan.

      Anyway sangat suka khawatir komenar pembukanya : “Butuh tak sekedar sentuhan teknologi, tapi juga rekayasa sosial.” salam – wager

  10. salam…….

    banjir khok repott……..panggil aja “AVATAR”……yg bisa mengendalikn alam …kwkwkkwkkw
    jakarta banjir itu PR nya Jokowi ……jokowi boleh jadi pemimpin ……tapi tuhan memberikan cobaan yang jokowi sendiri ” binggung” …kwkwkkw…..artinya jokowi juga bukan sang “avatar” ….kwkkwkwk……..akan berbahaya buat ” Sang jokowi “……..klu terus menerus dihembuskan ….isu dia adalah pemimpin masa depan …..cobaan akan datang lebih berat buat jokowi ………kwkwkwkwk…….

    keep smileee…..

  11. Nuwun,
    Met pagi Kang O-O, Kang Zoom dan tak terlupa Mbah wage yg ganteng dan semuanya deh.
    Se 7 dg Kang O-O Ibarat suatu system kepemerinthahan, permohonan kita akan sia sia belaka bila tidak tepat pada departemenya atau wewenangnya, nah..hal inilah yg sekarang justru menjadi sytim keyakinan di Indonesia, dimana segala sesuatu di yakini telah di kuasai dan di atur oleh satu sosok yg namanya TUHAN, sehingga segala sesuatu peristiwa di kembalikan pada Tuhan.
    Kita manusia lupa bahkan tdk tahu bahwa hidup didunia ini punya misi masing2 yg perlu di emban, Paman ibaratkan kita ini sedang sekolah , dan kita dlm posisi Kost di bumi.
    Persoalan2 hidup yg kita hadapi adalah persoalan2 yg harus kita selesaikan, kembali lagi ibarat anak sekolah dikasih soal 20, belum saja tugas di selesaikan lalu soal soal itu di kembalikan lagi pada yg memberi soa”Tuhan”, dg dalil bahwa semua terserah Tuhan, semua ada yg ngatur, lahh… lalu tugas manusia apa?
    System keyakinan dan prilaku ini menciptakan suatu kondisi dimana masyarakatnya lebih bersikap Berdo’a KERAS dan bekerja Santai,
    Mereka yakin dg berdo’a keras (bahkan sampai pakai toa segala) segala persoalan akan teratasi dg mudah, walaupun kenyataan tidak begitu, namun dasar manusia yg hobinya ngeyel.
    System keyakinan ini justru cenderung kontra diktiv dg apa yg di yakini sendiri, meraka percaya, Tuhan maha kuasa, Maha tahu dan maha mendengar, namun di sisi lain mereka bersikap tidak percaya dg kekuasaan Tuhan, seolah olah Tuhan perlu di minta 2 di dikte dekte harus begini, begitu dan begana.
    Paman bukan orang yg anti do’a, namun Paman percaya pada satu keEsana yg maha tunggal, Tuhan alam semesta seluruh isi jagad raya ini termasuk manusia.
    Sepertiyang Kang Zoom bilang kita punya tali rantai yg super erat sekali dg Zat yg maha hidup ini yg berada dlm jiwa dan roh kehidupan itunsendiri termasuk ruh manusia.
    Energy/Zat Tuhan itu sendiri sudah ada di alam semesta dan dlm diri manusia, jadi kita tdak perlu lagi merengek rengek, medikte dikte bagai mana Tuhan harus berbuat, justru kitalah yg harus berbuat menyelesaikan soal soal yg diberikanpd kita, karena kita juga sudah punya kekuasaan sendiri.
    Kalo kita merasa nyaman dg do’a’ yah silahkan berdo’alah tpi ingat berbuatlah yg kongkrit danperlu di ingat agar perbuatan kita tidak kontradiktive dg do’a yg kita ucapkan sendiri.
    oh ya… kalo bisa do’a nya pelan2 saja.
    Ngapunten.
    Asah asih asuh
    PD

    1. Salam hormat Paman Dalbo……Mbah Wage….Bapak OO

      Sangat benar bahwa pemahaman ber Tuhan di Negeri ini sepertinya sudah salah kaprah dan salah persepsi…salah mengartikan dan salah dalam pengamalan.sehingga semua menjadi seperti hal yang tidak masuk akal….

      Beragama dan ber Tuhan hanya seperti perbuatan ritual dengan gerak dan doa yang dipercaya sebagai sesuatu yang membuat dirinya sudah merasa begini dan begitu dan sayangnya anggapan perbuatan dan anggapan ini itu ternyata tidak sesuai dengan sifat Tuhan dan dan sifat alam bumi yang dipijaknya…..

      Kata kata DOSA bila tidak dengan ritual begini dan begitu adalah seperti hantu yang mengerikan sehingga manusia seperti diteror dengan ketakutan…..

      Bagi saya DOA adalah sebagai niat dan sumpah terhadap diri atau kepada Tuhanku yang kusembah atas segala perbuatanku dan segala kesuksesan dan keberhasilan atau kegagalan adalah karena perbuatan diri sendiri….lalu dimana dan bagaimana sebenarnya Tuhan dalam kehidupan sehari hari diri kita dan apakah Tuhan nantinya mengabulkan atau menolak atas doa dan perbuatan kita maka dalam hal ini hanya para manusia yang benar jujur lurus dan amanah yang bisa menjawabnya…..

      Doa bagi diri saya pribadi adalah sebagai niat dan tujuan dan BUKAN sebagai sesuatu yang mendatangkan pahala dengan perbuatan dan gerakan monoton yang sangat sedikit dan tanpa perbuatan yang besar dan benar… ,

      Doa adalah suara hati dan niat yang HANYA diketahui dan didengar oleh diri sendiri dan didengar oleh HIDUP yang berada dalam diri kita sendiri…..bila perbuatan itu BENAR maka kita telah mendapatkan sesuatu yang manfaat dan benar pula bila kita berbuat SAL:AH maka Hidup yang ada dalam diri kita PASTI akan memberi hukuman dan peringatan……..

      Mohon maaf bila tulisan saya ngalor ngidul dan salah…. …..

    2. Tuhan adalah HIDUP itu sendiri…..penuh dengan aksi dan reaksi , selalu eksis…seperti bilangan tidak berhingga….energi yang tiada batas…..

      Tidak menodai hidup diri sendiri dan tidak menodai hidup mahluk lain itulah cara benar dan itulah menyembah Tuhan dengan benar…..

      Doa hanyalah sebagai niat dan pengingat bahwa ada Hidup ada dalam diri kita dan selalu mengawasi…..

  12. Entah berita ini benar atau tidak, yang jelas kasus semacam hendaknya tidak boleh ada………..

    News / Megapolitan

    Kisah Miris, Pengungsi Banjir Tolak Nasi Bungkus dan Mi Instan
    Senin, 3 Februari 2014 | 09:06 WIB

    JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah membanjirnya bantuan bagi korban banjir, terselip kisah-kisah miris, bahkan yang membuat marah. Ada pengungsi banjir menolak bantuan karena tidak sesuai selera.

    ”Saya dan tetangga tahun lalu sengaja mengumpulkan uang untuk membeli bahan-bahan makanan bagi korban banjir di sekitar tempat tinggal kami. Namun, mereka menolak dan meminta makanan jadi saja biar praktis,” kata Sartono, warga Cipinang, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

    Warga di lingkungan tempat tinggal Sartono pun kemudian membuat dapur umum dadakan dan memasak semua bahan kemudian diwadahi dalam kotak-kotak yang bersih dan rapi. ”Namun, kami terkejut. Ketika kami datang bawa nasi kotak, korban banjir tanya lauknya apa. Mereka terlihat tidak berkenan dengan lauk-pauk dan nasi dari kami. Sumbangan kami tidak disentuh,” tuturnya.

    Sartono dan para tetangganya hanya bisa terdiam walau marah luar biasa. Meski sederhana, Sartono menjamin nasi serta lauk dari mereka terjamin rasa dan kualitas gizinya.

    Ratih, warga Sentul, Bogor, yang kebetulan berada di sekitar Cawang, Jakarta Timur, akhir pekan lalu terbengong-bengong menyaksikan beberapa korban banjir membuang nasi dan lauk-pauk yang diambilnya dari dapur umum di posko dinas sosial di kawasan itu.

    ”Dia ambil terus dimakan sedikit, lalu dibuang juga di dekat posko itu semuanya. Gila, sudah tidak dimakan, buang sembarangan. Makanan yang dibuang menumpuk, lho. Berarti banyak yang perilakunya seperti itu. Nanti yang membersihkan relawan di situ juga. Parah banget,” ungkapnya.

    Pasokan baju pantas pakai untuk korban banjir menemui nasib sama. Terkadang, karena dianggap jelek, pakaian bekas itu pun hanya teronggok menggunung selama berhari-hari tanpa ada yang menyentuh.

    Seorang warga di Bukit Duri, awal pekan lalu, mengatakan, setelah berhari-hari rumahnya kebanjiran dan hidup di pengungsian, ia tentu bosan dengan mi instan, telur, nasi bungkus, dan pakaian yang buruk. (NELI TRIANA)

    http://goo.gl/CsYqCR

  13. Salam Paman Dalbo, Kang Zoom, Kang PNL, Kang Wager, Mas Joko and all.
    Waaahh….. maturnuwun penjelasan poro sedulur semua, bisa menjadi tambahan ilmu.
    Kang Wager…. memang hal pengungsi banjir di DKI seperti itu sudah terlihat tahun lalu…. mereka justru mengharap kebanjiran agar banyak rejeki datang…
    memang memprihatinkan dan bikin dongkol orang yg dg iklas menyisihkan sebagian rejekinya untuk menolong mereka tapi mereka pilih-pilih sesuai selera.
    hhhhhh… memang keterlaluan.
    Nuwun.

  14. Salam Semua sesepuh disini
    Ulasan dan Komentar2 yang sangat bagus dari Kang PNL, Paman Dalbo, Kang O-O, Jeng Dewi, Kang Zoom, Mas joko, Kang Nur serta Mbah Wage ( Jadi bingung mau comment apa?)
    Sesuai judul Mengatasi Banjir Dengan Doa cuma kok gak ada ya berita2 Tentang tokoh2 agama yang menggelar acara doa bersama ( ata saya gak tau?) tetapi ALAM MEMANG ADIL banjir air di jakarta memberi banjir rejeki bagi daerak lain ( yang tidak banjir air ) contoh kecil dapat order nasi bungkus kwak..kwak…kwak…

    Nyuwun ngapunten Mbah…

  15. Bila ada yang mengatakan bahwa doa bisa mengatasi bencana, maka hal tersebut bisa dibuktikan secara ilmiah.
    Berdoa adalah suatu aktivitas manusia mendekatkan diri atau mengumpulkan energi pada Zat Causa Prima (kalau pas doanya hihihi)…
    Bila manusia berdoanya pas dan cocok pada energi yang TERBESAR maka manusia akan dicharge dengan energi yang TERBESAR pula..

    Cahaya matahari adalah sumber energi sinar kosmik yang dihasilkan dari proses reaksi inti matahari atau reaksi termonuklir fusi…yang menghasilkan energi… salah satunya mempengarihi ionosfir bumi… yang tentu akan mempengaruhi cuaca dan radio… keterangan lengkap sbb:
    http://id.wikipedia.org/wiki/Radiasi_alam

    dan cara pengukurannya cahaya sbb..
    obengplus.com/articles/2297/1/Beda-Lumens-vs-Candela-vs-Lux-dalam-cahaya-lampu.html#.UxHORvlniUI

    Dari teori pengukuran cahaya (doa tersebut di atas), tampak bahwa wirid (pengumpulan energi) dengan jumlah wirid (radiasi doa) yang sama bila dikonsentrasikan akan menghasilkan intensitas terang cahaya yang lebih baik dibandingkan wirid tanpa konsentrasi… contoh terang lampu senter lampu senter…

    Nah dari sini dapat disimpulkan bahwa banyaknya doa atau wirid serta konsentrasi yang pas itu akan dapat mempengaruhi cuaca seperti hujan itu… hanya ingin membuktikan saja… doa itu penting…

    1. Bayangkan…. matahari aja adalah Ciptaan Gusti Allah… Zat Causa Prima… betapa besarnya energi yang akan diperoleh…. apalagi manusia ingin menjadi pawang hujan tentu semua orang akan bisa bila di dirinya tak ada kotoran2 seperti ambisi cluthak sombong dll itu… pasti sekolah pawang hujannya lulus dengan nilai A deh… muachhh… 🙂

    2. @ Senyum,

      Lha mbok monggo dipun sharingkan disini doanya itu seperti apa, bagaimana, dan ayat mana artinya apa?…

      Trus kalau orang bali/ hindu yang jadi pawang hujan itu apa baca ayat kitab alqur`an?…

      apalagi orang Jawa/ nusantara jaman dulu yang belum kedatangan agama import…

      Matahari, bumi, udara, planet dan seisinya itu memang milikNYA… tapi bukan berarti monopoli milik agama tertentu…

      atau mungkin mas M Nachli dan yang lainnya bisa sharing pengalaman pribadinya…

      he he he… sebagai penyeimbang saja 🙂

    3. @ mbakyu Dewi
      Sudah pasti ada toh jeng… salah satunya di pulau jawa banyak yang bisa loh dan sudah PAS channel frekuensi radionya kok… 🙂

    4. Maaf mbakyu Dewi,
      Ralat, bahwa Zat Causa Prima itu, energinya bukan terbesar… namun TAK TERHINGGA… UNLIMITED ENERGY… nah contoh lebih gampang lagi tentang mengumpulkan energi doa dari sumber energi yang tepat dan terfokus menuju obyeknya spt hujan/bencana itu, seperti layaknya kita mengumpulkan energi yang terfokus/terkonsentrasi lewat kaca pembesar/illuminated magnifying glass yang bersumber dari cahaya matahari…. terlampir contohnya… 🙂

    5. @Kang Senyum,
      Ulasan tentang doa yang luar biasa menarik. Sebetulnya sudah sejak lama saya berniat menyelesaikan tulisan tentang kekuatan doa dan kutukan, namun tidak kelar-kelar…..salam

    6. @ Senyum, Simbah,

      maturnuwun, iya siapa sih yg nggak percaya ama kekuatan doa… do`a gitcu lho…

      kamsut saya kalau seandainya tidak ada sinar matahari, apakah masih relevankah doa untuk meminta sinar itu?

      please don`t get me wrong…

      saya tertarik meneliti ‘metrum’ bunyi atau lafal atau doa….

      kalau samawi doa adalah kata yang di ucapkan berulang kali… misal allahu akbar… atau allah maha besar… kalau perlu di ucapkan seribu kali sekali wirid… bisa dalam hati atau di ucapkan dgn keras2…

      jawaban dari alam bisa jadi… ‘iya ya, kami udah tahu kok kalau si allah itu maha besar’…

      sementara ada yg lainnya…. menyuarakan ‘aummmm… atau ooommm’… yg berasal dari getaran energi alam semesta…

      dan respons dari alam semesta di percaya juga bisa beresonansi…

      dan yg menjadi misteri adalah asal ‘metrum’ atau bunyi itu sendiri, dan dari referensi2 terkait Nusantara telah mempelopori asal metrum tsb… seperti dari suara gong lalu berkembang menjadi cikal bakal gamelan dan alat instrumentasi yg lainnya…

      dan menariknya metrum jika di ucapkan dengan lafal yg tepat, energi alam bisa meresponsnya, sayangnya tidak banyak yg mengetahui ilmu ini sehingga generasi pun tidak mengenalnya dan lebih mengenal doa lisan kata dari samawi yg bersifat doktrin, maksutnya dengan mengulang kata berkali2…

      btw, video yg njenengan kirimkan itu kan kayak mainan sy waktu kecil, siang2 mainan kaca pembesar, korek api, kertas dan bisa terbakar… tetapi karena sy tidak pandai maka kertasnyapun masih utuh ^_^…

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s