Kitab Suci dan Pengembara Yang Tersesat

Tulisan ini dicopy dari halaman komentar ditopik : Renungan Sesat Agama Sentoloyo

pengembaratersesatKitab Suci Adalah Petunjuk Hidup?

Pengantar oleh Wager. Bagi kebanyakan umat beragama, Kitab Suci adalah merupakan buku wajib. Begitu pentingnya keberadaan kitab suci ini dan dianggap ibarat peta penunjuk arah. “Hidup tanpa arah dan petujuk, ya  pasti tersesat alias bisa masuk neraka”. Duh, ngeri khan?

Namun percaya atau tidak, ternyata banyak juga orang sinting yang mengabaikan atau bahkan membantahnya.  Mereka hidup nyaris seperti orang buta yang berjalan tanpa arah dan tujuan bukan? Bagi mereka yang sejak lahir emang tidak tahu tentang yang namanya kitab suci, ini sih bisa dimaklumi. Tapi bagaimana dengan mereka yang terang-terangan mengabaikannyal? Nah ini sih parah.

Tapi uniknya ternyata mereka yang membantah punya alasan. Katanya sih: “Manusia pada dasarnya sudah lahir dengan berbekal manual book atau peta jalan yang diinstall otomatis sejak lahir. Peta jalan itu disebut dengan Nurani”.  Ha….ha…..  ada ada saja bukan?

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda kitab suci sebagai buku panduan, manual book atau peta jalan yang sudah pasti benar? Tentu saja YA bukan?

Menurut saya pribadi, kitab suci bukanlah peta perjalanan namun (maaf bagi yang tidak setuju). Omong-omong tentang peta perjalanan, lebih mempercayakannya pada Google Map dan Kompas buatan Indonesia. Ha…ha… kagak nyambung.

Ah, jangan terlalu serius. Artikel ini hanyalah sekedar  menampung beragam opini dan komentar dari para rekan. Masak sih, saya terus yang membuat tulisan?

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Pengembara Yang terSesat

Penulis : Paman Dalbo

Banyak Jalan menuju Roma….

Ah.. telalu jauh ah lagian Paman beulm pernah kasana, kata Roma Paman ganti saja dengan “ Bali” ,

Seorang Pengembara dari Jawa, hendak pergi ke pulau Dewata dengan tujuan utamanya adalah GWK ( Garuda Wisnu Kencana) yg terletak di Jl Raya Uluwatu Jimbaran. Dengan bekal mental dan material yang cukup dan juga Peta penunjuk Jalan wilayah Bali. Sesampainya nyebrang di Gilli Manuk mobilnya melaju tanpa maslah, lancar2 saja.

Sesampainya di Denpasar, dia mulai agak kebingungan, di bundaran bay pass dg julukan Bundaran Simpang Siur, karena ada kira 12 cabang jalannya dan di sana terdapat Patung besar Dewa Ruci yg di bangun kira2 1996. Pengembara berfikir inikah Patung GWK itu..ah..bukan terlalu kecil . Eniweiiii…

Sang pengemabar mulai kelabakan, melihat2 Peta menuju ,jl . Uluwatu Jimbaran. Dilihat2 Peta itu, akhirnya ketemu,dan terus melaju, tapi ketika di ikuti rutenya kok salah. Sang pengembara mulai kehilangan arah dan semakin bingung. Sang pengembara malu bertanya, bersikeras kalau Peta nya sdh paling akurat tidak mungkin salah sdh terbukti turun temurun.

Tingak tinguk ,tolah toleh, kayak orang linglung tapi masih tegar dan angkuh…
Eniweeiiiii

Penduduk setempat melihat kebingungan sang Pengembara dan menawarkan bantuan dg suka rela tanpa pamrih apapun, namun Sang Pengembara gengsi dan bersikukuh pada Peta nya. Namun akhirnya Dia menyerah juga dan menyodorkan Peta itu pada Penduduk Asli sambil menunjuk dan bertanaya kalo jalan yg ini terus mustikemana Pak?

Penduduk Asli tertawa ter kekeh kekeh, ketika melihat Peta itu, ternyata sdh kadaluarsa, dan di cetak pada Zaman neneknya masih sekolah di SR, dan perlu di Update, jalan2 di Bali sudah banyak yg berubah, ada Ring road2 yg begitu panjang. Duuhh untung saja Penduduk Asli masih berbaik hati, dn kenapa tidak pakai GPS saja

Asah asih asuh.


Bacaan tambahan: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/05/19/m49osw-subhanallah-bayi-ini-lahir-membawa-alquran

Advertisements

7 thoughts on “Kitab Suci dan Pengembara Yang Tersesat

  1. hehe..tergantung sih bang… ktnya harus ada dasar(mental/pengetahuan)…iya bener juga sih…ketika tidak ada itu, malah membuat diri tersesat saat pertama kali membaca kitab…nah jika sudah dasar untuk tahu, ya tahu lah mau nyarik apa di sana….

    ini lagi yg riskan….terkadang membaca kitab itu mau cari apa? mau cari yg buruk2 ketemu dah yg buruk2… kalau mau cari yg baik2 banyaak lah..cuma ya hebatnya “hal buruk” itu, ya di teratai yg indah pun masih keliatan bekas makanan siput…jadii ya jelek dikatakan..hehe…

    saya sih ga berani kalau ke “papua” sendiri yg belum tawu isinya, kecuali memang bertualang dan menemukan sesuatu yang bermanfaat..

    1. Sepertinya kata yang lebih halus adalah antik. Sekarang sudah jaman HP dan motor sedangkan kitab suci masih ngomongin tentang kuda. Sekarang sudah masa tenang dan negara sudah berbentuk republik, tapi kitab masih berbentuk kerajaan dan masih dalam suasana perang……..Terima kasih telah berkunjung.

  2. Kalo manual book – hp misalnya – bisa dibaca sendiri dan resikonya kan minim mas, paling banter kalo gak ngerti hp jadi rusak dan perlu biaya service. Tapi kalo kitab suci lebih dari sekedar manual book …

    1. Benar Mas Nur,
      HP kalau dipencet2 tanpa baca manual book, bisa rusak dan akhirnya perlu biaya service. Manusiapun juga kurang lebih sama, tanpa manual book juga dipastikan akan cepat rusak, sakit atau bahkan tewas. salam

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s