Pahlawan Devisa : Apa, Siapa dan Mengapa ?

250px-pahlawan-devisaPenulis: Wage Rahardjo.  Beberapa hari ini,  berita dan demonstrasi menuntut pembebasan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang terancam hukuman pacung di Arab Saudi marak diberitakan.  Kasus yang tentu saja mengundang keprihatinan banyak orang.

Berhubung tulisan semacam ini sudah banyak ditulis oleh rekan lain, (dan kasus semacam ini nyaris akan akan terus muncul tiap tahun) maka saya akan mencoba menuliskan sisi lainnya yang lebih umum yaitu  pengetahuan umum tentang istilah ekonomi yaitu devisa.

Siapa itu Pahlawan Devisa ?

Saya yakin kebanyakan orang pasti tahu artinya bukan? Contoh ya Sartinem, TKW yang kena kasus di atas. Apa itu TKW? TKW (Tenaga Kerja Wanita) adalah merupakan bagian kecil dari kelompok TKI yaitu sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri.  Jadi asal bekerja di negeri orang ya termasuk kelompok TKI.

Para TKI ini menyumbang devisa yang sangat besar bagi pemerintah. Menurut catatan yang saya dapat dari Wikipedia, untuk tahun 2006, devisa yang bisa dikumpulkan oleh para TKI ini adlah sebesar  60 triliyun rupiah. Jumlah yang sangat besar sekali bukan?

Apa itu devisa ?

Apa itu devisa? Apakah devisa adalah merupakan pendapatan dari pemerintah yang dipungut dari TKI? Sepertinya bagian ini banyak orang yang belum mengetahuinya.

Motivasi terbesar seseorang untuk bekerja (di luar negeri) adalah karena gaji atau upah. Upah yang diterima nantinya akan dibawa atau dikirim ke Indonesia, ditabung, dijadikan modal untuk usaha atau (habis) untuk konsumsi.   Nah, uang  asing yang didapat atau dikumpulkan dari luar negeri inilah yang disebut dengan devisa. Jadi sebatas yang saya tahu, untuk konteks di atas devisa artinya upah atau gaji. [wikipedia :devisa]

Devisa sebesar 60 trilyun rupiah seperti berita yang saya kutip di atas artinya  total upah semua TKI (yang terdata) pada tahun tersebut.  Semuanya upah tersebut dimiliki utuh oleh TKI dan tidak ada “satu sen-pun” yang disumbangkan atau disetor untuk kas negara langsung. Sedangkan biaya adminstrasi TKI, pungutan “ini itu” dll itu adalah hal lain dan lepas dari bahasan devisa.

  • Lho, bukankah para TKI itu bayar pajak penghasilan Mbah?

Pajak penghasilan dipungut oleh negara tempat TKI bekerja, jadi kalau bekerja di Arab Saudi, pajak penghasilan dipungut oleh pemerintah Arab Saudi dst. Demikian juga sebaliknya dengan tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia, pajak penhasilannya dipungut oleh pemerintah Indonesia.

Pahlawan koq bermasalah?

TKI terlebih lagi TKW identik dengan pekerja kasar. Anggapan yang sama sekali tidak salah. Maklum saja kerana sebagian besar dari TKI yang “dikirm” ke luar negeri adalah pekerja kasar. Jadi beragam masalah yang mucul dari para TKI tampaknya  akan terus muncul setiap tahun. [Baca: 20 TKI asal Jatim terancam hukuman mati] Tanpa ada tindakan yang konkrit tampaknya kasus semacam ini akan pernah berakhir.

Siapa yang salah? Pemerintah Indonesia yang masih saja suka kirim tenaga kerja kasar? Pemeritah Arab Saudi yang pengadilannya tidak adil? Pembantu yang stress karena tidak paham bahasa dan budaya majikan atau majikan yang pusing karena tidak paham kondisi pembantunya yang lugu?

  •  Jadi gelar Pahlawan untuk TKI adalah salah  Mbah?

Ttidak ada yang salah pada kata tersebut. Para TKW atau TKI telah ikut berkontribusi menggerakkan perekonomian negara dengan aliran dana atau uang dalam jumlah triliunan rupiah ke dalam negeri. Lha, kalau tidak ada mereka, pemerintah cari tambahan sumber dana dari mana? Apa harus printing uang kertas lebih banyak?

Pada dasarnya, semua orang asal berbuat dan melakukan aksi tertentu adalah pahlawan. Guru adalah pahlwan, ayah yang bekerja adalah pahlawan bagi keluarganya,   pemain sepakbola yang mencetak gol disaat kritis adalah pahlwan bagi klubnya bahkan PSK dan Terroris sekalipun adalah pahlawan bagi kelompoknya.

Demikianlah tulisan sempurl tentang pahlawan devisa……..

Wage Rahardjo

Credit image : Berita Antara

4 thoughts on “Pahlawan Devisa : Apa, Siapa dan Mengapa ?

  1. SEMANGAT MEDIA-MEDIA INDONESIA YANG MEMBERITAKAN KASUS TKI DI ARAB SAUDI SAAT AKAN DIEKSKUSI TIDAK SEBANDING DENGAN PEMBERITAAN KETIKA ADA TKI ATAU KHUSUSNYA TKW YANG MENGGOROK LEHER BALITA BERNAMA TALA SEHINGGA LEHERNYA HAMPIR PUTUS.

    Singkat cerita, Zainah, salah seorang ibu guru di kota Yanbu Saudi Arabia, pulang ke rumah namun tidak bisa masuk karena pintu dikunci dari dalam. Dia berteriak memanggil-manggil pembantu dan putrinya yang berusia 4 tahun di dalam rumah namun tiada yang sudi membukakan pintu.

    Karena khawatir dia pun melempar batu ke kaca dapur hingga pecah namun tetap tidak dibukakan. Zainah melanjutkan teriakan dan mulai memanggil tetangganya. Tiba-tiba terdengar suara si pembantu dari dalam rumah yang menjawab, “saya akan menyembelih putrimu”, Zainah shock dan langsung menelpon suaminya yang sedang bekerja. Bocah itu terlanjur tewas mengenaskan.

    Mendengar kabar dari istrinya, Khaled pun langsung loncat ke mobil dan memacu dengan sangat kencang menuju rumah. Karena begitu cepat dalam kepanikan, dia akhirnya menabrak mobil di jalan. Dalam mobil tersebut ada seorang ayah yang baru mau mengantar putrinya pulang rumah. Akibatnya ayah itu pun wafat di tempat sedangkan putrinya yang bernama Farah dibawa ke UGD rumah sakit setempat.

    Saksikan tayangan berikut ini:

    1. turut berduka cita dengan kejadian yang menimpa keluarga ibu Zainah…

      apa benar pembantu tsb berbuat sedemikian tak berperikemanusiaan?…

      maka jangan bicarakan hukuman mati, tetapi bawalah dia ke rumah sakit jiwa. jika memang benar pembantu itu mengidap gangguan jiwa/ tak waras, maka yang memberi hukuman mati juga perlu diperiksakan kesehatan mentalnya.

  2. Devisa adalah kekayaan suatu negara dalam bentuk nilai keuangan… kekayaan itu untuk selanjutnya dipergunakan negara sebagai alat pembayaran atau pertukaran nilai barang jasa dalam rangka membangun sesuatu, sesuai kebutuhan rakyatnya..
    Banyak pahlawan mendatangkan devisa, namun adakalanya pahlawan itu tersiksa kadang pula bertindak nista akibat tak mampu menahan dirinya.. Berbuat nista tentu banyak sebab… mungkin tersiksa hingga berbuat nista disebabkan oleh perbedaan budaya, cuaca, kurangnya bantuan psikis, kurangnya keterjaminan hidup dll.

    Berita harus berimbang tentunya.. kalau jadi jurnalis memuat suatu kabar berita yang benar dan tidak memihak apalagi merekayasa untuk tujuan memojokkan suka agama ras… apa adanya saja tentunya… misalnya sbb
    http://rt.com/news/obama-saudi-abdullah-meeting-093/

    Namun sering kali apa yang terjadi memang tidak ditahui secara pasti dan apa sebenarnya terjadi… maka muncullah berita yang menurut versi A B C D… nah disini perlu kedewasaan buat para pembaca pada berita yang kebenarannya belum tentu benar… apapun itu bentuk pengakuan atau testimoni oleh korban atau pelaku atau saksi atau data lapangan… memang belum tentu menceritakan suatu kejadiaan sebenarnya… jadi berhati-hatilah.. menyaring suatu berita yang disuguhkan.. jangan mudah percaya dan tersulut esmosi..

    Jikalau sampai pada proses peradilan atau hukum untuk mencari keadilan sebagai jalan atau keputusan terakhir mengadili dalam suatu peristiwa atau cerita di pengkabaran. maka itulah berita yang kemungkinan besar mendekati fakta..
    Tapi bisa juga kalau proses peradilan hukum direkayasa sehingga keluar dari fakta sebenarnya… jadi ya sudahlah… pada bersabar saja dan menunggu pada KEADILAN Allah Sang Maha Adil… 🙂

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s