Belajar Ketekunan Dari Bangsa Jepang (?)

250px-ikanJudul Asli :  Ketekunan Yang Langka
Penulis: Prof.Dr.Ir.Andi Hakim Nasoetion

SEORANG dosen kembali dari Tokyo membawa gelar Magister Sains Genetika Ikan. Ia melapor akan keberhasilannya itu. Yang ditanyakan rektornya ialah apa yang membuatnya terkesan dengan program pendidikan pascasarjana di Jepang. Maka ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, seumur-umurnya baru pada ketika itu ia selama bangun hanya memikirkan dan berbicara tentang ikan atau tentang genetika atau tentang genetika ikan. Pagi hari ketika sarapan ia berbincang dengan kawan sekerjanya tentang perilaku ikan. Di dalam laboratorium ia diajak berdiskusi mengenai DNA oleh dosennya, dan sewaktu makan siang di sela-sela memotong-motong filet tongkol, ia berbincang tentang daerah penangkapan tongkol di daerah Kepulauan Aru. Malam harinya sewaktu tidur, ia bermimpi tentang ikan. Tidak diceritakannya apakah sebelum bermimpi mengenai ikan itu keesokan harinya ia menang undian berhadian (karena ada satu mitos jika mimpi mendapatkan ikan akan ketiban rejeki).

Kemudian lagi rektornya bertanya kepadanya peristiwa apa yang paling mengagetkan yang dihadapinya di kampus asalnya sewaktu ia kembali mengajar. TERNYATA IA TERKEJUT SEKALI KETIKA MELIHAT WARGA KAMPUS SEWAKTU SEDANG BERISTIRAHAT TIDAK BERBINCANG MENGENAI ILMU YANG HARUS DITEKUNI-NYA, MELAINKAN MENGENAI UPAYA MENGOKOHKAN IMAN DAN BAGAIMANA CARANYA BERPERILAKU SESUAI DENGAN IMAN MEREKA MASING-MASING.

Tidak ada lagi yang mereka perbincangkan selain bagaimana caranya mendukung perjuangan umat yang seiman. Kalau pun ada bedah buku diantara sesama mahasiswa, maka pokok bahasan bedah buku itu menyangkut masalah yang ada di luar jangkauan, seperti misalnya di Palestina atau Bosnia. Masalah yang kalau hanya dibicarakan tidak ada selesai-selesainya.

Ini mengingatkan rektornya akan peristiwa seorang anggota tim olimpiade matematika internasional asal Denmark berbincang-bincang dengan anggota tim dari Norwegia tentang penyelesaian sebuah masalah matematika yang memerlukan pengetahuan tentang teori Galois. Percakap-an itu mereka lakukan ketika sedang berpesiar dengan kapal di Laut Bosporus.

Apa yang dilakukan di Jepang dan Laut Bosporus itu adalah teladan tentang ketekunan yang diungkapkan ilmuwan biologi dan calon ilmuwan matematika ketika mereka sudah bertekad memilih bidang ilmu itu sebagai perhatian pokok dalam perjalanan hidup mereka. Hasilnya adalah bahwa mereka akhirnya mendalami benar bidang ilmu genetika atau matematika itu dan bukan hanya sekadar pengetahuan tipe-tipe sosial.

Beberapa waktu lalu biologiawan IPB mendapatkan penghargaan akademik dari suatu yayasan. Untuk itu ia diberi tunjangan penelitian kira-kira 40.000 dolar AS. Orang ini dikenal sangat menekuni bidang ilmunya. Demikian pula ada seorang dosen yang mendapat hadiah penelitian dalam bidang ilmu serangga dan lingkungan. Ia juga selalu tekun bekerja dalam bidang ilmunya sendiri. Sama halnya dengan dosen Fakultas Peternakan Unsoed yang di Australia menemukan cara penyimpanan mani beku sapi di dalam tabung sedotan yang terbuat dari plastik setelah usahanya berkali-kali gagal. Untuk itu ia menerima hadiah medali emas penelitian Yayasan Hewlett-Packard.

Ketekunan ketiganya itu tentu saja didampingi oleh kalayak akademik yang tinggi. Namun kalayak akademik yang tinggi saja belum cukup untuk membuahkan hasil penelitian yang cemerlang. Diperlukan kreativitas dan ketekunan melakukan tugas yang tinggi. Ketiga ciri ini yang seharusnya dimiliki oleh orang berbakat yang pekerjaannya adalah menciptakan pengetahuan baru dan atau memperbaiki manfaat suatu pengetahuan.

Apakah di masyarakat akademik perguruan tinggi kita suasana ketekunan dan kesetiaan menangani tugas itu ada atau tidak ada, dapat dirangkum dari poster-poster yang ditempelkan di mana saja di dalam kampus yang dapat dilekati kertas. Sayang sekali, pengumuman yang memenuhi dinding kampus bukan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan ilmu yang ditekuninya, melain-kan mengenai siraman rohani, bedah buku tentang solidaritas Palestina dan berbagai diskusi mengenai berbagai kebobrokan yang terjadi di tanah air.

Tidak ada gagasan-gagasan ilmiah dalam bidang ilmu tertentu yang diperbicangkan. Tentu saja kita harus peduli mengenai pemeliharaan iman, solidaritas keimanan hingga aplikasi keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Namun kalau yang ditangani hanya itu saja, tidak perlu susah-susah belajar di perguruan tinggi, kecuali kalau kita hanya bermaksud mendapatkan gelar dan ijasah saja, bukan kemampuan dan keahliannya. Jika hanya itu yang kita inginkan, lebih baik mengikuti ujian persamaan B.Sc, M.Sc, Ph.D dan MBA di berbagai yayasan “gombal”.

Bagaimana lulusan perguruan tinggi di Indonesia dapat mengimbangi kemampuan akademik lulusan perguruan tinggi yang sudah mapan di negara maju kalau yang ditekuninya selama belajar di perguruan tinggi bukanlah bidang ilmunya sendiri. Apakah dengan “kematangan bermasyarakat” dengan berkonsentrasi penuh ke kegiatan ekstra kurikuler kita mampu menjadi ilmuwan bertaraf internasional?

Melalui media internet saya pernah diserang habis-habisan ketika yang menjadi pemenang medali perunggu pada olimpiade matematika tingkat Asia Pasifik dan olimpiade matematika internasional hanyalah siswa SMU yang bertapak di Jawa. Ketika itu saya dituduh mendiskriminasikan mereka yang berasal dari Luar Jawa. Hujatan itu memang pantas muncul di zaman reformasi seperti sekarang. Namun seharusnya penghujat yang notabene mahasiswa pascasarjana matematika itu mesti menggunakan nalarnya dan bukan pemikiran dengkulnya. Peraih medali perunggu itu ternyata adalah siswa-siswa yang dengan kecintaan menekuni matem-atika dan kebanyakan dari mereka berasal dari sekolah-sekolah yang diselenggarakan masyarakat (swasta), bukan dari sekolah yang diselenggarakan negara (negeri). Atau kalau ia berasal dari sekolah yang diselenggarakan negara, lingkungan keluarganya adalah lingkungan yang menghargai ketekunan kerja. Siapa mereka itu? Boleh ditebak sendiri, lingkungan keluarga yang mana yang dapat membedakan kapan harus menekuni pelajaran tentang keimanan dan ilmu naqliah dan kapan lagi harus tekun menuntut ilmu aqliah.

Karena itu, hendaknya semua orang yang sedang belajar apa saja, untuk tekun mempelajari apa yang seharusnya dipelajarinya agar mendapatkan kelayakan profesional di dalam bidang yang diminatinya. Jangan terjerumus ke zaman Firaun, ketika seleksi menjadi ahli bedah otak dilakukan dengan cara berendam semalam suntuk di Sungai Nil.
Jangan juga terjerumus ke keadaan di Pakistan, ketika seorang Ph.D Fisika Nuklir lulusan MIT melamar menjadi tenaga akademik. Pertanyaan penguji bukan hal-hal yang pelik mengenai dentuman besar (big bang). Sederhana saja, namun cukup mengejutkan karena Doktor Fisika itu diminta melafalkan Doa Qunut. Jika ia tidak hafal doa Qunut, maka pastilah ia seorang Wahabi.

Mari kita renungkan, apa saja yang dapat kita perbaiki mengenai kehidupan akademik di kampus, baik oleh tenaga akademik, tenaga administrasi maupun mahasiswa. Jika mahasiswa berlaku seperti itu, seharusnya tenaga akademiknya merasa bersalah, karena hal itu pertanda bahwa tenaga akademik belum dapat membawakan suasana
akademik ke dalam kampus, termasuk membawa mahasiswanya ke suasana ingin mengetahui.

Pernah seorang dewan penyantun suatu universitas besar di Jakarta yang diselenggarakan masyarakat bertanya pada saya, universitas apa di Indonesia yang suasana akademiknya sudah menyamai suatu universitas penelitian. Jawab saya dengan tegas, belum ada. Dan ketika ia menanyakan alasannya, saya katakan bahwa di kampus saat ini banyak mahasiswa termasuk juga mahasiswa pascasarjana serta dosen hanya menghadiri seminar karena harus menandatangani daftar hadir. Kalau kurang tandatangan di daftar hadir, ada kemungkinan ia tidak boleh ikut ujian atau kredit kenaikan pangkatnya tidak cukup. Kalau begitu halnya, di kampus kita orang hadir di seminar bukan karena ingin tahu lebih banyak, melainkan karena takut tidak lulusujian atau tidak naik pangkat.***

Tambahan referensi juga ada disini:
https://www.facebook.com/julio.adisantoso/posts/10152257462683279

Galau melihat banyak mahasiswa tidak punya niat kuliah. Berikut pencirinya:

  • (1) Pernah 5 menit sebelum kuliah mulai, masuk kelas, lampu agak temaram, mhs banyak duduk, ternyata sedang mengaji. Saat kuliah dimulai, “Ada pertanyaan?”, semua diam.
  • (2) Sebelum kuliah mulai, banyak pengumuman ini itu, tetapi tak satupun pengumuman utk belajar bersama.
  • (3) Berjalan masuk kelas dari arah belakang, tak satupun terlihat membaca buku teks atau catatan. Hampir semua bermain dengan gadget nya atau sibuk dengan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan mata kuliah.
  • (4) Seusai kuliah, dosen masih menutup laptop, seseorang langsung menarik kursi di depan, tanpa ba bi bu, “yuk kita buka Al Quran, belajar membaca surat sekian …”. Apa yang sebelumnya dikaji saat kuliah, tak satupun yang dipermasalahkan, apalagi didiskusikan walaupun banyak yang tidak paham.
  • (5) Tak satupun mahasiswa membawa buku teks mata kuliah yang dijadikan acuan, apalagi yang berbahasa Inggris. Bisa jadi, mahasiswa tidak memilikinya. Mau kemana kita ini ada di kampus?
Advertisements

9 thoughts on “Belajar Ketekunan Dari Bangsa Jepang (?)

  1. Jepang emang negeri yang aneh. Kebanyakan orang gila kerja. Otak mereka isinya kerja melulu. Saat istirahat pun obrolannya tentang kerja. Menjelang akhir pekan biasanya ada acara minum minum. Topiknya, masih seputar kerja. Duh, capek !

  2. biasanya pelajar indonistan akan menggelar istighosah menjelang ujian nasional…

    barusan iseng2 klik judul ‘gelar istighosah menjelang ujian’ di google…

    whe lha… kompak serempak istighosah di lakukan di seluruh propinsi di tanah air…

    kagak nyambung ya, mestinya doa dilakukan cukup dalam hati saja, seharusnya materi ujian yang lebih digiatkan sebelum acara ujian dimulai, bukan malah komat-kamit doanya…

    ya beginilah kalau suatu bangsa sudah ter-doktrinasi mulai pelajar, guru dan dosennya semua setali tiga kutang :mrgreen: ….

  3. Jepang emang negeri yang aneh. Kebanyakan orang gila kerja. Otak mereka isinya kerja melulu. Saat istirahat pun obrolannya tentang kerja. (JU)

    Jepang kurang produktif dalam …beranak pinak. Kurang giat dalam soal esek2. Populasi di tahun 2012 : 127 juta 650 ribu. Di tahun 2060 populasi Jepang diproyeksikan akan menurun drastis, cuma 80 juta. Dari yang ini kebanyakan orang2 …tua . Mungkin transmigrasi akan sangat diperlukan di Jepang ! (Kata Professor Heizo Takenaka ) (-: Perempuan, nampaknya, kurang mendapat tempat selayaknya disana. Jarang kan ada eksekutif kaum ini disana ?

    Jepang memang negara ampuh. Tapi untuk melestarikan negara, budaya dan bangsa Jepang sendiri KB sebaiknya dilupakan dulu.Populasi perlu ditingkatkan. Jangan kerja melulu .

    (Catatan : info saya curi dari Wikipedia, dan ini hanya komentar mbel saja.)

  4. Kang bala, utk jabatan top menejemen top politisi dll posisi perempuan memeng kurang kalau dibandingkan dengan negeri maju lainnya. Lha, pelatih sepakbola putri mereka aja dipegang pria. Untuk urusan pemimpin publik umunya dipegang oleh pria. Sedangkan selebihnya, untuk menejer kecil, kepala toko dll perempuan malah mendominasi. Jabatan manager klub sepakbola atau rugbi sekolah/universitas umumnya nyaris pasti dipegang oleh perempuan.

    Peran perempuan paling dominan umumnya ada di keluarga. Urusan duit 100% ada ditangan permpuan. Prianya tahunya cuma kerja dan kejar jabatan doang.Saya nyaris tidak pernah dengar pria yang berani sama istri…. ha..ha…ha…. Untuk apa pegang jabatan dan posisi tinggi kalau akhirnya tidak pegang duit? Jepang emang negeri aneh dan banyak orang salah duga……..

  5. iya aneh ya mbah, ternyata jepang yang negara maju dan modern pun dalam urusan domestik masih tradisional.

    harusnya kan bisa lebih profesional membagi bujet keuangan, misal uang istri sendiri, uang suami sendiri, lalu ada uang/ tabungan bersama, uang untuk pendidikan anak lain lagi dsb.

    pernah juga kita dengar ceritanya, dalam satu mobil, istri harus duduk di belakang, kalau duduk sejajar di depan dengan suami itu nggak sopan, hingga monarki kerajaan yang penerus tahtanya harus anak laki-laki, bahkan putri Masako pun harus lengser karena tak bisa memberi cucu keturunan berjenis kelamin laki-laki.

    mungkin karena sistem paternalistik itu maka wanita menjadi leluasa berkuasa di sektor domestik saja, kalau sudah begini, kasihan juga si suami kerja susah payah tapi nggak pernah pegang duit.

    ah, lain lagi dengan cerita di tanah air, disini mau backgroundnya islam atau hindu sama saja akarnya, wanita tak mempunyai suara kecuali sebagai kanca wingking, untungnya mereka hidup di alam demokrasi indonesia sehingga masih ada upaya menyamakan kedudukan gender.

    di bali lebih mentrenyuhkan lagi mbah, banyak wanita yang terpaksa jadi kuli batu dsb, sementara si lelaki enak2an kayak raja. sangat enek saya melihat pemandangan ini. usut punya usut itu berlaku bagi sistemnya, dimana anak lelaki memiliki hak warisan dari ortunya, kecuali kalau dalam keluarga itu tak punya anak laki2, maka hak warisan jatuh ke anak perempuan.

    jika sudah besar dan menikah, si lelaki yang sudah enak2an nasibnya itu akan tak segan ‘memeras’ tenaga istrinya, wanita yang menikah otomatis tinggal di rumah suami, kalau suami nggak kerja istri yang banting tulang cari nafka, tetapi tetap kedudukan suami selalu di atas, bak dewa, yang mengatur segalanya, ditambah lagi lngkungan yang selalu membutuhkan suami/ laki2 dalam kegiatan sosialnya, maka praktis peran wanita hanya sebagai kancawingking sekaligus tulang punggung.

    kalau ortu saya lain lagi mbah, karena ibu saya nggak berani minta uang pada suami, maka anak2nya sejak kecil banting tulang cari nafka membantu ibu. bahkan saat hamilpun ibu masih kerja siang dan malam, suaminya dimana?… ada kok, tapi malas saja bekerja, terkadang anaknya protes, tapi ibu akan membela suami pujaan hatinya, tak terasa sifat keras ibu itu juga tidak mendidik anak2nya… harusnya sama2 bekerja, misal suami kerja untuk membantu bayar biaya sekolah dan juga uang kontrakan mislanya, lalu ibu bekerja untuk kebutuhan sehari2/ makan. lha ini tidak, semuanya yang nanggung ibu saya, bebannya bertambah berat karena suaminya cemburuan buta, melarangnya bekerja tetapi juga tidak memberinya nafka, tak segan main kekerasan baik fisik atau kata2. tapi entahlah apa yg memberi kekuatan ibu kok dia bisa bertahan… usut punya usut ternyata ibu saya tak mau menjadi janda, lebih baik disiksa lahir batin oleh suaminya daripada menjadi janda, dan ibu mempunyai prinsip bahwa istri tak akan bisa masuk surga tanpa ridlo seorang suami.

    tapi tidak semua wanita bernasib seperti ibu saya, juga tidak semua laki2 berwatak keras seperti bapak saya, saya juga banyak lihat kok ada wanita yang benar-benar brengsek, berani memaki membentak suami pokoknama benar2 nggak tahu terima kasih dan durhaka pada suami, hanya karena masalah sepeleh seperti uang belanja yang kurang, ibadah, kebersihan dsb. terkadang justru wanita yang kanca wingking itu lebih kethus nada bicranya, mungkin mereka tak pernah bekerja sehingga tak tahu dunia kerja dan sosial dsb. sebaliknya wanita yang bekerja malah bisa berkompromi dan menghargai suaminya.

    bagiamanapun karakter anak akan membentuk dari proses tumbuh kembang dari lingkungannya, kami sendiri memilih menyayangi mereka saja, walaupun selama ini yang kami miliki hanya sosok ayah yang tak pernah bertanggung jawab, suka mukul, suka mencaci dsb, praktis itu semua membuatnya hanya sebagai sosok ayah biologis saja, ketimbang sosok seorang ayah yang benar2 bertanggung jawab dan menyayangi putra-putrinya.

    tapi inilah dunia, tidak ada keluarga yang sempurna juga tak ada ortu yang sempurna, kelebihan bapak saya beliau sangat rajin beribadah, sholat wajib 5x belum di tambah sholat sunah belum lagi jadwal puasanya yang rutin walaupun tidka musim puasa, semua itu beliau laksanakan agar bisa masuk surga atau minimal tidak masuk neraka. bapak saya muslim yang taat dan fanatik, sayangnya nggak diimbangi dengan kehidupan yang real, shubuh dia bangun tidur untuk sholat, sesudha sholat dia tidur lagi karena ngantuk, karena sering puasa, ia akan bangun kalau mau sholat dluhur saja terus istirahat, di lanjutkan sholat ashar, ngobrol santai sholat lagi maghrib di lanjutkan isya` dst… begitulah jadwalnya tiap hari, praktis dia tak mau kerja, kan ada istrinya. kalau anaknya merengek minta uang jajan tidak segan2 poporan yang kami dapatkan, kalau kita berani melawan bicara/ berbeda pendapat, bisa2 kami di-bal2 seperti maling, terkadang dia mau kerja tetapi kadang2 saja itupun kalau dia lagi dok ser atinya. kalau ibu bikin bancakan tak segan bapak akan ‘menyiwak’ ibu, karena bancakan haram hukumnya, itulah mengapa ibu tak pernah bikin wetonan dsb, takut di omelin sama suaminya yang cerewet, lalu akhir2 ini ibu aktive dalam kegiatan pengajian di masjid kampung, si ibu malah sekarang ikut2an jadi fundamental, ibu lebih suka semua anak perempuannya berjilbab, hingga pernah upacara pengantin adik kami yang memakai adat jawapun ibu tak mau pakai konde, tapi pakai baju muslim brukut.

    anyway, saya juga nggak ngerti anak2 jaman sekarang yang manjanya super, sampai hati berani mencaci maki ortu hanya karena nggak dibeliin hp… hmmmm….

    maaf mbah, hari minggu ngelantur, teringat masa-masa remaja, dulu dan sekarang 🙂 …

  6. Kalau cerita monarki itu benar, tapi cerita istri tidak sopan duduk didepan didalam mobil. Wakakakkk……omong2 ini dengar cerita dari mana sih? Jepang emang kolot tapi di sisi lain juga sangat ultra nodern. Negeri mereka sangat modern namun juga sekaligus….. tradisionil.

    Budaya tradisional Urusan keuangan rumah tangga, emang hampir 100% adalah urusan perempuan dan itu sudah merupakan budaya mereka yang terbukti ampuh. Setiap ibu rumah tangga memiliki catatan detail tentang pengeluarannya. Kalau prianya pegang duit dijamin habis tidak jelas juntrungnya dalam hitungan hari. Apalgi barang elektronik dan teknologi sangat menggiurkan di Jepang. Jadi yang terbaik menurut mereka ya keuangan dikontrol perempuan.

    Kita boleh saja tidak setuju tapi mau apa lagi? Menurut mereka, itulah yang terbaik dan kadang mbah juga menganggap ada benarnya. Pria dewasa kalau pegang gaji akan mudah tergoda cari hiburan dan main game. Wakakakkkk……..

    1. wakakaakk… kirain tergoda apaan, ternyata tergoda main game board an, mungkin masa kecil simbah kurang bahagia nggak pernah pegang hp atau game online, lha masa kecil simbah kan belum ada teknology apalagi robot masuk desa, hanya mengenal bakiak, gedebong dan kelereng 🙂 … xixixixi…

  7. tapi inilah dunia, tidak ada keluarga yang sempurna juga tak ada ortu yang sempurna, kelebihan bapak saya beliau sangat rajin beribadah, sholat wajib 5x belum di tambah sholat sunah belum lagi jadwal puasanya yang rutin walaupun tidka musim puasa, semua itu beliau laksana. kan agar bisa masuk surga

    Mana ada keluarga sempurna. Satu keponakan saya, Endang, punya pacar. Karena kurang hati-hati atau kurang pinter dia …kecelakaan. Mengandung. Ya terpaksa …cepat-cepat menikah. Ketika si bayi lahir pertama kali ikut ortu bapaknya. Beberapa bulan kemudian , entah kenapa bayi diambil ibunya, dititipkan ortu si Endang.

    Singkat cerita, bapak Ninik, si bayi, tidak mau anaknya, dan tidak mau sama Endang lagi, karena dia punya …pacar baru, yang kemudian dinikahi setelah menceraikan Endang.

    Dari kecil Ninik dianggap sebagai … anak sendiri oleh ortu Endang. Nenek dan kakeknya yang sekarang mengasuhnya dia panggil dan anggap sebagai …ortu. Endang ? Pergi tanpa pesan. Entah kemana. Semua beaya : pakaian, uang saku, uang sekolah, semua jatuh pada kakek dan neneknya.

    Setelah besar Ninik tahu siapa sebenarnya ibu BIOLOGIS nya, tapi ya cuma sebatas itu. Nyaris tidak ada hubungan emosional antara anak dan ibu. Bapak biologis nya ? Ninik nggak pernah …tahu. Ninik sekarang kelas dua SMA ,nenek yang merangkap ibunya sudah berusia hampir tujuh puluh tahun. (Kakek yang merangkap bapaknya meninggal dunia dua tahun yang lalu dalam usia tujuh puluh dua tahun,)

    Saya cuma berharap Ninik bisa …mandiri sebelum ibu/neneknya tua tanpa …penghasilan.

    Keluarga tidak sempurna, mau apa ? Jalani hidup sebaik mungkin. Berusaha supaya dia bisa lulus SMA. Sukur-sukur bisa …kuliah nanti … Yang jelas Ninik tahu ada orang-orang yang mencintainya . Tidak perlu ibu, bapak kandung.

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s