Malaikat Di Atas Kabah

943304_658084954219500_666769723_nJudul asli: ANGEL ON KAABA
Penulis :  Lutfi Alaihi Salam

Angel on Kaaba, demikianlah judul yang tertulis di atas layar blackberry milik seorang mahasiswi saya. Sambil berucap, “Subhanallah DR. Lutfi, Subhanallah. Saya jadi merinding melihatnya” ia menyodorkan BB-nya ke telapak tangan saya, berharap saya juga memperlihatkan respond keterkejutan yang sama. Namun, alih-alih terkejut saya hanya lirih menjawab datar:

“Oh yang itu. Kebetulan saya pernah melihatnya di teve. Saya masih ada banyak file semacam itu kalau anda mau lihat.”

Lalu saya buka file-file di laptop saya, berbagai file dan gambar yang memperlihatkan mu’jizat- mu’jizat semacam itu. Tak terhitung berapa kali murid saya berdecak kagum dan mengagungkan azma Allah.

Setelah selesai semua file di perlihatkan ia berucap “Subhanallah, maha suci Allah dengan segala firmannya. Saya merinding sekujur-kujur, Pak”.

Kemudian saya menutup laptop dan menerangkan, “Tapi Dik, masalahnya semua file yang saya perlihatkan pada Adik,semuanya terbukti hoax alias rekayasa, alias tipu-tipuan. “

“Hah, mana mungkin?”

“Apanya yang mana mungkin? Berkat teknologi, tidak ada yang tidak mungkin. Dan tentang file Angel on Kaaba itu, bukan hanya saya tidak percaya keasliannya, tapi juga saya percaya yaqin haqul

yaqin bahwa file itu asli rekayasa dan bertujuan untuk membodoh-bodohi.”

“Tapi Doktor Lutfi, saya langsung merinding dan takjub melihat semua file itu.”

“Ya … itu kan masalah psikologis manusia. Itu sama sekali tidak membuktikan bahwa kejadian itu benar-benar asli. Kalau anda dicium dengan mesra dibagian tengkuk oleh pacar anda, khan chemistry yang ditimbulkan juga sama, tokh? Bedanya anda tidak akan berucap subhanalllah, tapi – oh yes, oh no dan oh my god.” seringai saya polos. Sementara ia tersipu dan pipinya memerah.

“Religion is a matter of psychology. Manusia senang dengan sensasi-sensasi psikologis seperti ketenangan, merinding, melankholi, dll, dan agama memanfaatkan kehausan manusia akan sensasi-sensasi itu. Namun tidak berarti bahwa agama itu lantas benar hanya karena sensasi-sensasi yang ditimbulkan dari momen-momen semacam itu.”

“Orang Islam merasa tenang dan mengalami moment of transcendent ketika wiridan, orang Kristen kharismatik merasakan sensasi yang sama ketika berbahasa roh, orang Buddha dan Hindu merasakan sensasi yang sama ketika membaca mantra dan meditasi, nah kalau semua merasakan ketenangan yang sama, berarti kita tidak perlu beranggapan kalau wiridan itu hanya satusatunya jalan untuk mencapai momen-momen ilahi atau merasa Islam itu satu-satunya jalan menuju tuhan, lha wong semua orang di semua agama juga merasakan hal yang sama dengan metoda mereka. Yang jelas di sini yang berperan adalah psikologi belaka. Bahkan buat para saintis yang kebanyakan atheis atau agnotis, mereka merasakan moment of transcendence ketika bergaul dengan alam, mengamati grand canyon, meneropong angkasa raya, menelaah kompleksitas bakteri dan virus dsb. Chemistry yang sama di dapat dengan cara yang berbeda dan bahkan lewat kacamata pandang ketuhanan yang berbeda pula. Jadi apa spesialnya dengan kemerindingan anda melihat ‘Angel on Kaaba’ itu?

Coba adik pikir, seandainya kejadian di kabah itu benar, seharusnya ia terlihat oleh ratusan atau jutaan orang yang sedang tawaf, dan tak lama setelah itu otoritas perhajian di Arab Saudi akan mengumumkan mujizat itu, kenyataannya kan tidak. Tidak ada keterangan resmi dari kerajaan Arab Saudi untuk hal tersebut. Seharusnya jutaan orang yang tawaf itu mengabarkan hal yang sama serempak kepada keluarganya di seluruh dunia. Faktanya kita pun hanya tahu lewat file yang di download lewat youtube.”

“Oh iya yah…. ” ucap sang mahasiswi itu lemas.

“Saya ingin membuat adik melihat poin-poin penting dari kejadian ini, begini:

Pertama, adanya mujizat dalam suatu agama, tidak membuktikan keabsahan agama tersebut. Kalau kita memakai klausula tersebut, maka agama Kristen dan Hindu jelas-jelas terbukti benar, karena banyak laporan didapati tentang patung Yesus yang mengeluarkan darah, patung Maria yang menangis, atau juga pengalaman stigmata dari beberapa imam katolik dimana tangannya mengeluarkan darah dsb. Yang unik lagi di agama Hindu, patung Ganesha bisa menyedot susu yang dipersembahkan ke hadapannya, dan ini terjadi tidak satu dua patung, tapi di banyak tempat di hari yang sama ketika umat hindu merayakan hari Dewa Ganesha.

Kedua, kita harus jujur pada intelektualitas kita sendiri. Niat baik untuk membuat orang taubat, tidak boleh ditambahi dengan kebohongan dengan merekayasa file, film dan cerita.

Kalau terhadap mujizat- mujizat dalam agama lain orang Islam bisa berkilah, “Ah itu kan mungkin jin kafir yang berbuat, atau setan yang lagi cari sensasi.” Maka hal yang sama bisa dipakai oleh non-muslim terhadap mujizat- mujizat Islam, “Ah itu kan jin Islam atau setan yang lagi gak ada kerjaan.”

The bottom idea is logika yang sama harus kita pakai untuk setiap penilaian, bukan standar ganda. Kalau kita pakai alasan Allah kan maha besar, bisa melakukan mujizat apapun, kalo begitu dengan alasan yang sama orang Kristen akan bilang “Allah itu maha besar sehingga ia bisa mewujud menjadi seorang manusia yang adalah Yesus atau Isa Almasih, jadi Isa itu tuhan yang mewujud,” nah alibinya kan sama juga. Jadi jujurlah.

Mengajak orang lain taubat, atau menyi’arkan agama kita tidak boleh dengan pola-pola kampungan yang hanya akan membuat malu diri kita sendiri.

Jujur, tegas, dan adil. Demikianlah seharusnya kita beragama. Kita tegas menentang kristenisasi dengan cara membagi-bagikan indomie, kita juga harus tegas mengutuk dan menentang kelakuan HTI, FPI, dan para eskstrimis lainnya yang hanya mengedepankan kekerasan dan ingin menyeret negara ini ke dalam pusaran kebodohan, kekerasan dan kemunduran dengan mengganti demokrasi dengan syariat Islam. “

Mahasiswi ini termenung sejenak, termanggut-manggut dan berkata, “Trima kasih Doktor Lutfi. Semua penjelasan bapak begitu gamblang, jelas, sederhana, tandas, logis dan benar. Saya ingin berbagi misi dengan bapak, untuk menyebarkan agama tanpa mitos dan kekerasan.”

Begitulah cara saya menyadarkan setiap orang dalam lingkaran pengaruh saya, yakni bersikap jujur, tegas, dan adil, seru sekalian alam.

#angel_on_kaaba #LMH