Warung Kejujuran di Jepang

image-wkj3
credit image : net farmers.com

DONGBUD – Wage Rahardjo. Apakah Anda adalah orang yang jujur? Sepertinya sebagian besar dari kita akan menjawab “Ya”. Kalau Anda menemukan dompet di jalan dan di dalamnya berisi puluhan lembar uang seratus ribuan, Anda dengan jujur akan mengembalikan ke pemiliknya? Saya percaya Anda akan mengembalikan ke pemiliknya bukan?  Tapi kalau siMbah sih jujur aja, tergantung situasi dan kondisi. Kalau uang didompetnya banyak dan pemiliknya terlihat kaya ya langsung diembat.  Atau kalau dikembalikan ke pemilik  minimal minta imbalan-lah wakakakkk……

Anda mungkin adalah orang yang jujur, tapi bagaimana dengan orang-orang di sekeliling Anda, teman, masyarakat, negara atau orang-orang di pemerintahan? Hmmm……kalau dilihat dari beragam kasus korupsi, penipuan dll, sepertinya kita harus jujur mengakui bahwa kejujuran adalah barang langka di negeri ini.

Omong-omong tentang kejujuran, semua orang cendrung mengaku jujur. Namun walau banyak orang mengaku jujur, kenapa kita tidak mampu menciptakan negeri yang bersih bebas korupsi? Pejabat bukanlah alien yang datang dari planet lain tapi datang dari  kita-kita juga. Kalau semua orang mengaku diri jujur, darimana-kah datangnya korupsi dan ketidakjujuran di negeri ini?

  • To de poin aja Mbah, kagak ngerti aku. Ini lagi ngomongin apa sih?

Wakakakkk…… mbah juga bingung di atas lagi ngomongin apa sih? Langsung saja ke topik utama. Topik kali ini adalah membahas tentang warung kejujuran. Beberapa tahun lalu, di berbagai media pernah mencul berita menarik yaitu tentang “Warung Kejujuran”.

Sekilas tentang Warung Kejujuran

Sesuai dengan namanya, Warung Kejujuran benar-benar menuntut kejujuran khususnya dari pembeli. Kenapa? Karena warung kejujuran yaitu warung tanpa penghuni, tanpa kasir atau penjaga! Cara transaksinya adalah: barang yang dibeli dibayar (dengan jujur) sesuai dengan harga yang tertera pada label harga. Pembayaran dilakukan dengan meletakkan atau memasukkan uangnya di tempat atau kotak yang telah disediakan. Karena tidak ada kasir atau penjaga maka traskasi pembayarannya sepenuhnya dipercayakan pada kejujuran pembelinya. Menarik bukan?

Ide menarik ini kemudian di ujicobakan di beberapa kantin sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai perguruan tinggi. Jadi diharapkan sifat jujru mulai tertanam sejak usia dini yang dimulai dari lembaga pendidikan. Dari sejumlah info yang saya baca, saat itu telah berdiri sekitar 20 warung kejujuran di Indonesia. Selain di lingkungan sekolah, sejumlah kantor atau departemen pemerintah juga mencoba menerapkan ide unik ini, salah satunya adalah KPK, departemen agama dll.

Merugi dan akhirnya bangkrut

Entah apa sebabnya, yang jelas keberadaan warung kejujuran ini satu demi satu mulai menghilang atau tidak terdengar lagi khabarnya. Program Warung Kejujuran yang dirintis oleh KPK misalnya, yang berjumlah sekitar 17 warung, dilaporkan  merugi. Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan, mengatakan, kerugian tersebut disebabkan oleh perilaku masyarakat yang masih belum dapat berlaku jujur.  “Weleh, jangankan di lingkungan KPK, di depertemen agama saja orang masih nyolong Pak!”

Sebelum terlanjur diprotes oleh pembaca lain, perlu juga saya tulis bahwa di beberapa tempat (mungkin) warung kejujuran ini masih ada atau bahkan telah  berdiri beberapa warung baru, namun yang jelas kalau dibandingkan bangunan tempat ibadah, sepertinya nyaris tidak sebanding. (Maaf perbandingan ngawur)

Study Banding ke negeri Jepang

Kita lupakan sejenak “angat-angat tai ayam” warung kejujuran di dalam negeri. Sekarang saya mencoia bercerita sejenak sekaligus study banding warung kejujuran di negeri lain yaitu Jepang.

Di negeri Jepang, warung kejujuran adalah hal yang umum dan bisa ditemukan di banyak tempat.  Mereka menganggapnya bukan hal yang aneh atau sesuatu yang luar biasa dan  tidak berlebihan kalau saya sebut sebagai bagian dari budaya mereka. Warung jenis ini, terlebih lagi di daerah pedesaan, nyaris bisa ditemukan di banyak tempat tempat. dengan segala bentuk, dagangan dan keunikannya.

image-wkj2
credit image : yausuke san blog

Di negeri barat, warung kejujuran umumnya diikenal dengan istilah Honesty Box. Nah, di negeri Jepang, mereka tidak menggunakan embel-embel kata “jujur” namun cukup dengan nama Unattendant Shop, warung tanpa penjaga atau dalam bahasa aslinya disebut Mujin Hanbai. Dari link yang saya ambil dari google image (link: Mujin Hanbai) Anda bisa melihat ratusan atau bahkan ribuan image dari warung kejujuran ala Jepang dan di blog ini saya tampilkan beberapa di antaranya seperti yang tampak pada gambar di atas.

Kejujuran bagi mereka sifatnya adalah wajib. Beli barang ya harus dibayar. Ada orang (penjaga) ataupun tidak, bukanlah alasan untuk nyolong. Untuk barang mahal seperti barang elektronik mungkin bisa dimaklumi kalau orang nyolong, tapi untuk barang kebutuahan sehari seperti buah, telor atau sayur sepertinya dianggap aneh kalau bersikap tidak jujur. Tentu saja tidak ada sawah yang tidak ada hama-nya. Maling dan nyolong bukan berarti tidak ada tapi yang jelas, warung kejujuran tetap hidup dan eksis di negara tersebut.

Keunikan lain, dari warung kejujuran di Jepang adalah dari sisi bangunannya, ternyata sama sekali tidak bisa disebut sementara atau ala khadarnya karena terkadang warung kejujuran tersebut bisa jadi semi atau bahkan permanen.

Ongkas tenaga kerja di negara maju memang super mahal jadi mungkin mungkin saja menjadi salah satu alasan. Jadi dengan berbisnis warung kejujuran dianggap lebih menguntungkan.Tentu saja dengan catatan pembeli atau kharakter masyarakatnya kebetulan mendukung.

Namun seperti halnya di Indonesia, warung kejujuran kadang lebih tepat disebut dengan warung amal, jadi keberadaannya bukan dengan motif bisnis. (Walaupun yang serius juga ada). Di daerah metropolitan Tokyo saya pernah menjumpai orang tua kaya yang hobby berkebun sayur. Disaat panen melimpah dan tidak habis dimakan sendiri, maka pemiliknya mencoba membaginya sedikit dengan orang lain. Namun membagi dalam filosofi ala Jepang kadang bukan berarti dikasih gratis tapi dijual dengan harga sangat murah. Nah, kalau sudah dikasih harga super murah, apakah Anda masih mengaku punya nurani untuk tidak membayarnya? Walaupun penjualnya mungkin sudah kaya raya tentu bukan menjadi alasan pembenaran untuk nyolong bukan?

Mereka bisa, mengapa kita tidak?

Mengapa warung kejujuran bisa membudaya di negeri mereka sedangkan di negeri kita yang religius malah bangkrut?  Padahal kalau ditilik dari sisi agama, mereka adalah termasuk golongan pemeluk animisme alias penyembah batu dan pohon besar. Bagaimana dengan departemen agama di negeri kita? Dengan ketaatan ibadah dan beragama yang luar biasa di negeri ini harusnya warung kejujuran bisa berkembang membludak di negeri ini.

Mungkinkah agama bagi kita tidak lebih dari identitas, tradisi atau kegiatan seremonial belaka jadi wajar saja kalau tidak korelasinya  dengan kejujuran?

  • Asem Mbah, jangan dikit-dikit membawa-bawa nama agama dong! Kuping jadi panas nih!

Ya udah, topik langsung ditutup agar tidak panas dan silakan kuping direndam pakai air es aja agar adem dan melar.

WAGE RAHADJO

Referensi :

53 thoughts on “Warung Kejujuran di Jepang

  1. hehehehe……kejujuran adalah…..buah kesadaran…..orang tidak sadar.. atau… setengah sadar ….disuruh jujur …….apalagi kemasukan……khan saya pernah bilang ….bertapa nya 7 gunung 7 lautan yang anggker ….lho khok masih bisa menipu orang…………..kwkwkkwkw

    bukan tergantung …dari agamanya…..kwkwkwkkw
    sedangkan setan bisa dia tipu …..apalagi manusia ….kwkwkwkwwk
    betul2 begooo bin tolol…..klu membuat warung kejujuran sebagai tolok ukur….kwkwkwk
    dan betul2 bego dan tolol…klu mau percaya sama orang….. tanpa ada jaminan…..yang pasti.
    meskipun begitu….. kita masih bisa memilih yang terbaik dari yang terburuk ….gituuu.

  2. Jadi sadar ni mbah,saya pribadi juga blm bisa jujur…jujur jg msh tergantung kondisi…

    ide warung kejujuran boleh jg sih… Tp,mustaroh lah kalau di terapkan di negara religius ini… Wong sandal jepit merek bowling di tempat ibadah aja lenyap di gondol jin…wkwkwk….

    Tapi menurut saya pribadi,sebenarnya masyarakat kita ini bukannya tidak bisa atau mau jujur… Tapi karena sudah kebiasaan pinjam lupa balikin… Atau karena mempunyai rasa memiliki yang tinggi, jadi mereka memperlakukan barang orang seperti barang sendiri yang harus dijaga dan di rawat baik baik… Hehehe… Kebetulan saya perokok mbah, jadi kalau perokok biasanya curanrek sudah lumrah… Kalau rokok pasti jelas hilang nya kemana,tapi kalau korek,selalu terjadi hal mistis yang menyebabkan korek hilang tanpa bekas…

    Gak nyambung y mbah???hehehe..
    Yang penting komentar dengan hati senang mbah…wkwkwk

  3. Selamat pagi simbah, kang PNL, para pengunjung semua.

    Waaahh…. simbah memang brilian…. bisa mengambil topik pada saat yg tepat.
    ehem.. sesuai slogan kampanye pilpres… yg satu berslogan pemimpin jujur dan menantang kesiapan rakyat tentang kejujuran… yg satunya lagi berslogan pemberantasan korupsi.
    Inti kedua slogan tersebut sama…. Sebegitu pentingkah sebuah kejujuran?

    Kejujuran hanyalah sebuah output respon alamiah (natural respon) dari semua jenis makhluk hidup terhadap input yg masuk ke otak.
    Contoh:
    Input berupa rangsangan nyeri/ sakit maka yg terkena nyeri akan memberikan respon output yg mencerminkan rasa kesakitan (seringai/ teriakan kesakitan). Input berupa visual sensual maka yg terkena rangsangan tersebut akan berespon … dongkraknya hidup… hehe.. kecuali yg impoten.
    Hal tersebut diatas menunjukkan tak ada perbedaan antara manusia dengan binatang.

    Perbedaan antara manusia dengan binatang adalah manusia lebih cerdas/ pandai dalam mengambil sikap/ berespon terhadap input masukan yg diterima otak karena adanya kemampuan pembelajaran berdasar pengalaman dalam menjalani kehidupan. Apabila ternyata respon output yg diambil secara natural (jujur) justru berdampak negatif bagi dirinya/ keluarganya/ lingkungannya maka untuk selanjutnya dia akan mengambil sikap (output) yang tidak natural/ alami, misalnya berpura-pura tidak terkena rangsangan input yg masuk ke otaknya atau berespon kebalikan dari sikap/ respon naturalnya.
    Contoh:
    Anak yg ditanya oleh seseorang/ tamu apakah bapaknya ada dirumah maka anak tersebut akan bicara (jujur) bahwa bapaknya ada di dalam rumah. Apabila tidak ada hal yg negatif terhadap dirinya dan bapaknya maka anak tersebut akan tetap konsisten bicara jujur apa adanya…. sampai suatu ketika ternyata kejujurannya justru berdampak negatif terhadap dirinya atau bapaknya… misalkan ternyata tamu tersebut penagih hutang yg memukuli/ menyiksa bapaknya karena belum bisa bayar hutang… disini mulai ada pembelajaran pada si anak bahwa menjawab/ bersikap jujur apa adanya justru berefek negatif terhadap bapaknya (sakit, mati)… maka untuk selanjutnya si anak tersebut akan berhati-hati bila akan menjawab (berespon) terhadap pertanyaan (input) seseorang. Si anak akan menilai dulu input maupun pembawa/ penyampai input yg dia diterima… apakah akan berdampak positif, netral atau negatif…. baru dia akan mengambil sikap/ merespon input tersebut.
    Keahlian menutupi respon natural ini yang sangat diperlukan untuk tetap hidup terutama bagi yg berprofesi di bidang hukum/ diplomat/ intelejen/ pertahanan militer/sipil.

    So…. kejujuran hanyalah sifat natural alamiah yang tidak ada perbedaan antara manusia dengan binatang. Yang terpenting adalah tujuannya…. apakah demi kebaikan orang banyak ataukah untuk diri pribadi.

  4. Untuk kang PNL.
    Semoga tetap sabar dan eksis, kelihatannya kang PNL pernah mengalami kejadian pahit akibat kejujurannya.
    Saya sependapat dengan kang PNL, kejujuran = kebodohan karena yg jujur belum pernah mengalami dampak negatif dari kejujurannya.
    Orang yang cerdas adalah orang yang tahu kapan harus bersikap jujur.
    Salam kang PNL.

    1. Orang yang baik adalah orang yg menggunaan kejujuran atau kebohongannya demi manfaat terhadap orang lain/ orang banyak.

  5. Salam simbah.
    Contoh kasus dalam topik diatas sangat menarik, nemu dompet isi uang ratusan ribu segepok. Apa sikap/ tindakan kita?
    Pertimbangan kemungkinan:
    1. Jumlah uang tersebut masih utuh.
    2. Jumlah uang tersebut tinggal sisanya (misal dompet tersebut sebelumnya berada dalam tas yg bersisi penuh intan berlian atau berisi uang ribuan dollar…. dompet tersebut terjatuh saat tasnya dibuka oleh perampoknya.
    Apakah tindakan kita? ruwet dan membingungkan untuk mengambil sikap khan?

    1. Pertimbanga awal:
      Di saat kita memungutnya dan hendak memeriksa isinya… ada kemungkinan orang yg punya dompet tersebut masih ada disitu dan melihat dompetnya ada ditangan kita…. maka sangat mungkin kita akan diteriaki sebagai pencopet.
      Kalau kejadian ini tidak terjadi maka selanjutnya adalah seperti contoh kasus diatas. Jadi hanya sekedar memeriksa dompet orang yg terjatuh saja bisa berdampak negatif bagi kita.
      So… lebih bijak bila kita pura-pura tidak melihat dompet tersebut… siapa tahu nanti akan ditemukan oleh pemiliknya yg menyadari kalau dompetnya terjatuh dan menyusuri jalan yg dia tempuh sebelumnya.

  6. Berikut ini contoh yg lebih gawat.
    Ada seseorang yg tidak dikenal berdarah-darah lari ke rumah kita sambil memohon perlindungan atau untuk bersembunyi karena dikejar banyak orang mau dibunuh. Saat itu kita tidak/ belum tahu duduk masalahnya.
    Nah…. ini masalah besar yg kita hadapi tentang hidup matinya seseorang.
    Apakah kita membiarkan orang tersebut bersembunyi di dalam rumah kita dan siap berbohong pada para pengejarnya serta kita siap menghadapi amukan masa yg mengejarnya?
    Apakah kita tolak dan tutup rapat pintu rumah kita dan membiarkan orang tersebut dibantai di depan pintu rumah kita?
    Apakah kita ikut menangkap dan menghajarnya serta menyerahkannya pada kerumunan massa?

    1. So… kejujuran merupakan hal yg tidak sederhana bila ditinjau dari dampaknya.
      Hal ini tidak mudah dipahami oleh banyak orang termasuk para tim suksesi.

    2. Contoh negara China yg memberlakukan dan konsekwen melaksanakan hukuman mati buat pelaku korupsi tapi toh korupsi masih tetap ada di sana.
      So… lebih baik membuat suatu sistem atau aturan yang meminimalisir bahkan meniadakan kesempatan terjadinya tindakan korupsi. Pencegahan lebih baik dari pada mengatasi masalah.

  7. Berhubung belum ada respon komentar, saya lanjut komen ya mbah.

    Mengomentari tentang warung kejujuran, di jepang jauh lebih banyak dan tetap eksis sedangkan di negara kita hanya sedikit dan lenyap dengan segera.
    Apakah warung kejujuran ini bisa digunakan sebagai tolok ukur kejujuran?
    Apakah ini berarti bangsa kita banyak yang tidak jujur dan orang jepang banyak yg lebih jujur?

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu difahami sosial-budaya setempat.
    Masyarakat jepang lebih tinggi tingkat sosial ekonominya dibandingkan masyarakat kita. Oleh karena itulah mereka lebih tahan terhadap “godaan” mencuri barang yg sepele/ remeh/ kurang berharga di mata mereka. Dan warung kejujuran memang hanya menjual barang remeh/ sepele/ kurang berharga yang justru tidak sebanding bila menggaji orang untuk menjaga/ melayani pembeli di warung tsb. Barang yg dijual hanyalah barang kelebihan produksi (bukan barang “kulakan”/ barang yg dibeli untuk dijual lagi).
    Berbeda kondisi dengan masyarakat kita yg kebanyakan bukan masyarakat produktif, sehingga untuk mengisi warung kejujuran harus mengeluarkan uang modal buat membeli bahan yg akan dijual. Dari sisi ini saja sudah terlihat adanya kemungkinan besar akan mengalami kerugian bila kita mengadakan warung kejujuran meskipun seandainya masyarakat kita lebih banyak yg jujur dibandingkan di jepang tetapi berhubung bahan yg dijual di warung kita masih menggunakan modal dan di jepang yg di jual di warungnya adalah barang bersisa yg kalaupun dibuang tidak akan merugi.
    So…. keberadaan Warung kejujuran tidak dapat digunakan sebagai tolok ukur kejujuran suatu masyarakat.

    1. Demikian pula kasus hilangnya sendal/ sepatu yg bagus di tempat ibadah (masjid) di wilayah negara kita. Berhubung masyarakat pengunjung tempat ibadah tersebut sosial ekonominya rendah maka lebih mudah tergiur/ tergoda untuk memilikinya atau menjualnya (mendapatkan uang) sehingga mendorong dia untuk mencuri barang bagus/ mempunyai nilai jual tinggi. Padahal mungkin dia (si pencuri) sebelumnya termasuk orang yg jujur tetapi lagi kepepet kebutuhan uang yang sangat mendesak dan tak ada jalan lain sehingga dia mencuri.
      Beda dengan masyarakat eropa yg lebih kaya sehingga tak tergoda untuk mencuri sendal/ sepatu bekas pakai.

    2. Salam kang Omie,

      Komentar Akang sangat jeli dan tepat sasaran. Keberadaan warung kejujuran memang tidak bisa dipakai sebagai tolok ukur tingkat kejujuran suatu masyarakat/negara.

      Kondisi masyarakat Jepang dan Indonesia memang berbeda dan harus diakui bahwa penduduk mereka lebih serius atau agresif dalam berproduksi dan menurut saya itu adalah merupakan dasar awal menuju kemajuan ekonomi. Sedangkan di masyarakat kita lebih cendrung konsumtif.

      Topik di atas hanyalah sekedar pancingan agar para rekan mau berpikir lebih kritis terhadap masalah-masalah sosial seperti korelasi antara kejujuran/ tingkat kriminal dengan tingkat perekonomian ataupun kehidupan relegi.

      Blog abal2 hanyalah sekedar mencoba menulis topik nyeleneh ditengah kepungan topik politik dan agama.

      salam

    3. Salam simbah.
      Benar benar mengagumkan siEmbah Jenggot Uban… saya sangat berterima kasih sehingga bisa menumpahkan uneg-uneg tentang kejujuran agar bisa jadi bahan telaah karena banyak yg salah persepsi.
      Matur nuwun ya mbah…. dan mohon maaf… telah mendominasi komentar di topik ini.

    4. Kang Omie,

      Kalau tdk ada orang2 spt Akang, blog malah jadi sepi dan hambar. Maklum, pengunjung disini khan bisa dihiitung dgn jari. Jadi dari pada sepi silakan didominasi saja, toh tidak akan ada rekan yang marah…….

      Kang Omie telah memberikan masukkan yang berharga utk topik di atas. Berkat komentar Akang, beberapa bagian saya revisi atau tepatnya dihilangkan, seperti kalimat “….warung kejujuran mungkin bisa ddijadikan acuan untuk mengukur tingkat kejujuran masyarakat…..”.

      Sudah lama saya ingin membuat tulisan hubungan antara kriminalitas dan kemiskinan, cuma masih pikir2, karena masih banyak yang harus direvisi namun komentar Kang Omie di atas membuat artikel lama tersebut saya utak-atik lagi.

      salam

    5. Waahh…. bisa saja simbah mendongkrak semangat saya buat nulis komentar.
      Ditunggu topik tulisan “Kejujuran dan kriminalitas”nya ya mbah…. karena topik ini rawan salah persepsi seakan-akan menuduh orang miskin tidak jujur sehingga melakukan tindakan kriminal… atau persepsi lainnya, karena dia jujur sehingga menjadi miskin… nah.. ini tingkat kesulitan nulisnya sangat tinggi. Jempol buat simbah.

  8. Salam simbah,poro sedulur semua @ hahaha,.artikel yg benar2 menarik dan bernilai mbah…
    Kejujuran mesti disangkutpautkan dgn agama,tdk bs tdk…
    Kan agama adalah pengamalan yg kan menjadi pengalaman..sdg pengalamanlah yg nantinya ditanya di akirat sonoh..hha,.

    Disini standar kejujuran(pake standar mbah,soalnya ada tingkatanya dan juga lihat sikon tadi),masih jauh dgn dinegeri sakura.Sy blm pernah kesana(boro-boro,makan sj suliit),.tapi sy tahu,bahwa orang jepang punya kpribadian yg jujur diatas rata2,.
    Jepang itu negeri hebat,asli..
    Mudah2an negeri ini jg bakal hebat,nanti..

    1. Salam Kang Nur, Semoga keluarga sehat.

      Melihat dunia luar akan membuat wawasan menjadi luas. Walau tidak melihat langsung dengan kepala sendiri bisa lewat buku, gambar atau tulisan.

      Walau kita tidak bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri, toh masih ada anak cucu yang mungkin akan melihatnya. Yang penting ilmu, semangat belajar dan harapan tidak boleh putus dan inilah warisan terbesar untuk sebaiknya kita wariskan dan tularkan.

      (***perasaan koq seperti menggarami lautan ya?!!)

  9. Salam simbah @ kembali mbah,.semoga keberuntungan dan kebahagiaan selalu menaungi keluarga simbah…

    Hha,.Benar mbah,.itulah pentingnya study banding..
    dulu sy pernah debat sm seorang teman yg nasionalisnya sangat super tulen skali..
    Wktu itu sy mengulas negara jepang,.eh dia yg mulai duluan membanding2kan dgn indonesia,.dan trjadilah debat sengit(seolah sy mbela jepang,pdhl sy gak gitu),sy hanya menaruh salut sm negara jepang.akirnya keluar jurus maut sy(kenyataan),sy ajak dia nyoba nilik dari kepribadian,prinsip,sifat,teknologi,pabrik,dll.
    Yah,jelas kt belum sebanding..

    Jadi,cobalah berlaku jurdil dulu,,dgn mengakui mereka,.baru kt lakukan apa yg kt bisa(maksud sy kan gtu mbah),.hha,.

  10. Ohya mbah,ada 2 lagi mbah.. Otak(asli,jepang kreativ bgt otaknya.dari robot sampe hentainya kyk gitu), sama, Nyali(waduh,yg ini jgn tanya.jepang 92,999% otak patah,.negara kecil kyk bgtu bs ngjajah negara yg besar2,blm bunuh dirinya sm kalo ngemban tugas,buset)

    1. Kang Nur yang baik,

      Kita punya pemikiran yang mungkin sama. Menurut saya, peradaban, budaya, ataupun pengeetahuan berkembang lewat proses kontak atau asimilasi deengan budaya lain. Belajar budaya lain bukan berarti mencotek atau mencopy habis habisan, tapi mengenal dan memahami spirit atau nilai-nilai positifnya.

      Belajar dari negara lain menurut saya tidak ada bedanya dengan belajar dari tetangga. Kalau rumah tetangga selalu bersih atau anggota keluarganya punya ilmu, apa salahnya belajar dan meneladaninya.

      Menurut saya, kearifan, budaya, nilai-nilai positif atau spiritual adalah sama, tidaklah mengenal batas negara, jadi baik bersumber dari budaya lokal daerah sendiri atau dari luar adalah sama saja.

      salam

  11. Salam,simbah yg rendah hati dan selalu bersahaja @

    benar sekali mbah,.seperti itulah individu/kelompok yg mau maju..karena cara berpikirnya yg luas..kt ambil satu contoh saja nilai positif dari bangsa jepang,yakni gaya hidup..para pemuda disana,jelas jauh dgn para pemuda disini(segi kerajinan saja),.hal itu sesungguhnya karna ditanamkan falsafah hidupnya sejak usia dini..
    Cobasaja kita,bilamana tiap2 keluarga(30%saja dari jumlah penduduk),diterapkan falsafah jawa,atau smacam kearifan lokal,atau terlebih lg moral pancasila.maka pasti virus tsbt akan merangsang yg 70%nya..

  12. HE HE HE HE

    Jujur ya jujur
    kalau tdk tahu arti dan perilaku jujur
    Orang tuh…
    pasti…ahli bengkok, maaf lo

    Tahu cara cek kita tinggal di komunitas buruk atau baik ?
    Bagaimana cara cek sistem kita buruk atau baik ?

    Ya …
    Berperilakulah kita jujur seadanya
    Kalau kita banyak teman …………………………………………itu komunitas baik
    Kalu kita dapat dapat kenaikan struktural , jabatan ……. Itu sistem baik

    Kalau masih bingung ,
    Rokokan aja ama minum minuman yg kita sukai
    Hi hi hi hi

  13. @ PNL, Monang, Omie, Nurkahuripan, SUARA,

    Terima kasih tulisannya yang jujur, indah dan apa adanya 🙂 …

    @ Simbah,

    Thank you, very nice topic indeed, sorry agak lama komment, saya harus ke warnet dulu untuk melihat ‘mujin hanbai’ lebih jelas lagi, dan memang sangat cantik kulturnya 🙂 …

    @ ALL,

    Pertama yang saya cari adalah kata ‘jujur’ itu berasal dari bahasa mana?… kalau ‘bubur’ saya sudah tahu… bubur kacang hijau itu bergizi, tapi kalau (terlalu) jujur kacang ijo ya ancur-ancuran alias merugi… xixixixi…

    Benar juga, bisa dari mental atau memang karena sikon… bukan nikon, tapi situasi dan kondisi.

    Ada perasaan terharu, bangga dan terenyuh sekaligus menampar budaya kita yang konon berbudi pekerti luhur belum lagi di tambah ajaran agama plus plus, tapi kok mentalnya jadi kayak begini??…

    Sekalipun profesi ini tidak memandang status, kasta, ekonomi, pendidikan maupun agama. Tapi ada semacam rahasia publik yang mungkin semua orang sudah ketahui, bahwa ada sebagian masyarakat kita menjadikan profesi mencuri atau mengutil adalah sesuatu yang di anggap hal yang biasa atau bisa di benarkan. Mohon maaf, ada suatu suku tertentu yang menjadikannya kebiasan dari generasi ke generasi, sehingga tak heran walaupun mereka giat beribadah tapi kegiatan ‘ini’ juga tak kalah giatnya. Yang memprihatinkan adalah dari orang dewasa, baik pria maupun wanitanya bahkan anak-anaknya mengidap penyakit ‘kleptomia’. Bahkan tak jarang jika temannya itu masuk bui, maka akan ada orang yang bertanggung jawab, entah itu saudaranya atau bahkan kepala RT nya sekalipun.

    Di jaman rejim diktaktor para ‘garong’ di beri shock therapy dengan operasi ‘petrus’… apakah itu lantas menjadikan para kriminal jera?… jawabannya bisa tidak, terlebih yang memberi mandat adalah mbahe/ biangnya/ dedengkot preman?? … ya sama saja bohong, beraninya hanya mengejar maling kecil, tapi maling negara di biarkan berkeliaran meraja lela.

    Ok, kembali ke topik warung kejujuran…

    Budaya malu, rupanya sudah tertanam kuat di mental dan jiwa mereka sejak kecil atau mungkin sejak di kandungan ibu…

    Mereka mungkin tidak malu jika telanjang bersama di tempat pemandian pemandian umum atau ‘onzen’ tapi budaya mereka bersih (lingkungannya), terbuka (tidak anty orang asing), dan jujur (tidak doyanan).

    Bandingkan dengan kultur masyarakat kita yang konon negara beragama xxx terbesar di dunia, belum lagi umat beragama lainnya yang ikut terkena arus. dimana dosa besar jika tangan bersentuhan/ bersalaman dengan orang asing/ yang bukan muhrimnya apalagi menampakkan auratnya sekalipun di pantai. Tapi kalau mencuri/ korupsi jalan terus bahkan kalau perlu secara berjama`ah… perkara dosa kan nanti bisa di tebus/ tobat ke tuhannya lagi, udah beres. bila perlu pakai ajian baca ayat tertentu biar aman dan selamat. Jian budaya wong pekok, raga mereka saja yang tinggal dan hidup di nusantara, tapi jiwa mereka sontoloyo, seperti tertipu ajaran sontoloyo 😛

    So, dalam hal ini, jika agama tak bisa membendung praktek klepto mania, sekiranya semoga masyarakat memiliki kesadaran yang berasal dari mata hatinya, bahwa ‘pembinaan’ dan didikan anak/ bakal generasi sejak dini itu yang utama, lalu gemblengan lingkungan juga tak kalah vitalnya, dan yang terlebih penting adalah memiliki mental disiplin dari diri sendiri.

  14. hehehehhe si mbah juga mau berbuat baik sangat tuh dengan langsung mengembalikannya kerumah si pemiik dengan alasan ojek jauh jadi perlu ongkos pulah….di jepang tak perlu repot kaya si mbah karena cukup datang ke pos polisi terdekat saja………asem si mbah memang mengingatkan peristiwa waktu saya gak punya uang, tapi saya hanya bilang mungkin ini rezeki yg Tuhan kasih ke saya melalui dompet ini ada uang seratus ribu dengan dompet penuh kartu penting….langsung saja saya kembalikan degan keadaan kosong karena jujur buat makan waktu itu hahahhahahahahaah memang mbah asem nih…….nah saya kembalikan ke orang yg punya eh malah dikasih lima puluh ribu lagi lo jadi 150,000 keren……..hari berlanjut ada kejadian lagi waktu saya gak kekurangan uang tentunya nemu dompet yg penuh kartu identitas lengkap pemiliknya keturunan cina kalo gak salah…lah gak isi uang lagi tapi saya gak minat bila ada uangnya pun karena saya berusaha jujur takut rezeki berkurang kalo gak jujur……saya antarka kerumah si pemilik eh malah cuma diambil dan bilang teerima kasih saja dan dia kembali asyik ngobrol dengan tamunya lagi tanpa memperhatikan ongkos ojek ku….hehehehhe saripada malu saya balik badan,,,,toh saya sudah untung tahun lalu dengan150 ribu itu.

    love you all

  15. jadi maksud @ Kang kampret …..

    ternyata si kampret punya….. kriteria etika dan norma double standart atau triple standart…..kwkwkw….

  16. Ketika seorang teman bertanya

    “ Benarkah jika nanti di akhirat Manusia Manusia yang berdosa akan dimasukan ke Neraka ? ”.

    Maka akupun bingung harus menjawab bagaimana ?.
    Jika aku menjawab “ Benar “, maka aku sudah berbohong,
    jika aku menjawab “ Salah “ maka sama juga aku sudah berbohong.

    Jika aku tidak mau berbohong, maka jawaban yang jujur adalah dengan jawaban “ Tidak tahu “.

    Jika menemukan Uang/barang di Jalan, pasti aku ambil.
    Namanya juga nemu.

    Jika aku tahu milik siapa Uang/barang yang aku temukan di jalan, pasti aku akan mengembalikannya. ( jika hal ini yang terjadi, itu bukanlah kejujuran, namun kewajiban ).

    Namun jika aku tak tahu milik siapa Uang/barang yang aku temukan di jalan, maka aku pasti menggunakannya untuk sendiri. ( jika hal ini yang terjadi, maka itu bukanlah ketidak jujuran, melainkan hak).

    Jika pemilik Uang/barang bertanya kepadaku “ apakah kamu menemukan Uang/barang milikku ? “.
    Aku menjawab “ tidak “ itulah kebohongan.
    Aku menjawab “ betul “ itulah kejujuran.

    Akhirnya tetap saja, yang dinamakan jujur atau bohong hanyalah sebuah kata kata yang tidak sesuai dengan kenyataan.

    Terimakasih atas lahannya .

    1. Akang ini benar-benar jempolan. Sungguh suatu keberuntungan besar bagi blog ini mendapat kunjungan orang besar seperti Akang. Saya hanya bisa berdoa semoga Akang sehat selalu.

    2. ah bisa saja kang wager ini, saya hanya senang belajar kang, entah kenapa dari dulu sampai saat ini kok gak pinter pinter, makanya ketika jalan jalan nemu alamat ini, saya ikut berteduh, sebab banyak manfaat yang bisa diambil.
      Semoga kaberadaan saya disini tidak mengganggu, dan terimakasih atas doanya semoga akang dan semua sobat sobat disini sama sama dalam keadaan sehat selalu. Salam.

  17. salam sejahtera, nyuwun sewu , ngapunten

    jujur ada 2 katagori, ….jujur ama diri sendiri dan jujur ama sesama…

    kedua jujur tsb, diatas sdh pasti berurusan ama Tuhan…

    utk melatih jujur ama sesama ,….. hrs dimulai jujur ama diri sendiri sejak dini .. itulah yg tdk disadari dan terlewatkan oleh kebanyakan orang

    silahkan mencoba jujur ama diri sendiri…

    1. @ Kang HB,
      “Jujur pada diri sendiri”
      Nah ini dia topik yang saya sukai. Cuma susahnya minta ampun. Sampai sekarang tidak bisa jujur pada diri sendiri.

      Jujur, saya masih suka lihat paha mulus atau dada besar, seperti kejadian tadi siang. “Mbah, kamu tadi melirik dengan curi-curi ya?” Tanya hati kecil saya. Tentu saja Ya, namun dengan MUNAFIK saya menjawab dengan keras “Tidak !!!!”

      Tapi air liur saya hampir netes, tidak bisa menutupi kebohongan. Akhirnya saya mencoba menjawab dengan jujur YA. Tanpa tahu malu, sayapun langsung mengampiri gadis bahenol di depan kasir sambil berkata:

      “Mbak, paha dua. Pakai nasi. Minumnya teh manis”…….

      (** cerita mabuk tuak

  18. @ wager
    nah itu baru ceritanya ok dan asyik……
    lebih mantap lagi & asyik waktu bayar di kasir ngaku makan paha 1, minum nya teh tawar sambil lihat dada mulus ,. dada besar, sambil air liurnya ngocor-ngocor,…….
    Akhirnya si malaikatnya lupa catat……krn ikut2an air liurnya juga ngocor2…

  19. nama besar tajimalela kok kalimatnya tidak sun medal sun madangan,madang aja x yah? Wereu atuh.isin ah ku ngaran? Kapan mahkota binokasih di iring2 kepangrango?? Ngahuleng?

  20. Terimakasih atas komentarnya tentang nama Tajimalela.
    Mungkin yang Anda maksud adalah Prabu Tajimalela pendiri kerajaan Himbar Buana. Sebab hanya beliaulah yang pernah mengatakan :

    “Insun medal; Insun madangan”. “Aku dilahirkan; Aku menerangi”

    Sedangkan Saya, meskipun bernama Tajimalela namun bukanlah seorang Prabu apalagi seorang pendiri Kerajaan Himbar Buana.
    Lalu mengapa Saya harus malu dengan nama Saya sendiri ?.

    Seperti Pak Muhammad tidak perlu merasa malu dengan namanya sendiri, karena beliau bukanlah Nabi besar Muhammad SAW, beliau hanyalah seorang tukang service elektronik di Kampung saya.

    Mengenai Mahkota Binokasih (sekarang ada di Musium Prabu Geusan Ulun Sumedang) , Saya tidak tahu kapan akan di iring iring ke Pangrango , dan Sayapun tidak tahu untuk apa Mahkota di iring iring ke atas Gunung ?. Tahu atau tidak, sama sekali tidak berpengaruh untuk Saya, lalu kenapa harus ngahuleng ? asa teu perlu ngahuleng he he he.

    Yang jelas Saya tahu ,adalah bahwa diskusi yang ini jauh melenceng dari topik thread, terimakasih.

  21. sudah tau ga nyambung pake dibls. Kocak berat…yg stres ane atau sampean?? Ojo dumeh ojo rumangso toh cung..sok bijaksana “hidup ini tak semudah cocote mario teguh,apalagi sok kalem kaya tajimalela” malu sama NAMA SAMARANMU..hei semua jawab aku bertanya jika kalian benar2 wong waras. 1.siapa sejatine ratu sekarjagad sukmawjijaya? 2. Dia ratu samudra apa hub dgn KRK? Ayo sopo kang merasa linuwih.babarake sampe ngelay cah cah.

    1. Kang Mandala angin, perjalanan sampai saat ini Panci sdh sampai di segi 3 (tiga) telaga (lebak cawene) yg mengelilingi gunung Talag Remis , 3 titik tsb terletak di Majalengka (selatan), Cibulan (barat) dan Darma loka (utara) .. 3 titik tsb terkait dgn kerajaan Galuh yaitu pendiri kerajaan Galuh I Wretikandayun dgn istrinya seorg bidadari yaitu Pwah Bungatak Mangale-ngale (ibu ratu ini mirip dgn Kendedes yg sbg wanita yg menurunkan raja2 di jawa, kalau beliau raja2 sunda) … saat itu tempo dulu di Darmaloka ada ramalan ttg datangnya SP/IM kesana (yaitu ttg ulama ghaib yg dikelilingi 3 lautan mirip dgn 3 lokasi tsb di atas, bunyi ramalan di darmaloka “nanti akan datang ulama dari timur laut (dari timur menurut Panci, timur = ghaib/gelap/piningit (spt perjalanan sang surya/matahari dari timur (gelap) ke barat (terang)) … nah ratu Pwah Bungatak Mangale-ngale ini panci mau bertanya “apa artinya bungatak mangale-ngale?” xi3

    2. Ada yg kurang lengkap, seharusnya “nanti jika datang ulama dari timur laut, Dharma akan kembali lagi” ,,, saat ini memang ajaran Dharma sdh tidak dipakai lagi, apa ada yg tahu ttg arti dharma dan dharmaloka?
      di bulan puasa bs menjelaskan ttg dharma mendapat pahala yg berlipat2 xi3

    3. Dari akhir cerita sbgmn diceritakan uga wangsit silihwangi “nanti di laut utara, telur burung akan pecah,,, dst (agak lupa tulisannya), telor adlh simbol kelahiran dari alam ghaib ke dunia, kalimat ini sering ditulis oleh pujangga dgn tulisan “BRO DI JURU, BRU DI PANTAU, NGALAYAH DI TENGAH IMAH” tanda jaman kemakmuran telah dimulai

    4. kemudian tulisan yg laen, akan ada bencana alam seluruh dunia (goro2), nah itu pd waktu pembelajaran budak angon di lebak cawene sdh wisuda, berbarengan dgn waktu bencana tiba, yg ditandai meletusnya 7 gunung bersamaan, mk bangkrutlah perekonomian seluruh negara, mk saat itulah budak angon pengetahuannya sdh paham ttg bgmn cara bekerja di lebak cawene, mk budak angon dipanggil2, hanya dgn senjata tri sula veda, gerakan (veda) memutar melahirkan bro di juru, bru dipanto, ngalayah di tengah imah, menolong negaranya pd pasca bencana, mungkin spt itu cerita dari buku yg dibeli di warung kejujuran xi3 panci korban hayalan

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s