Kolom Agama Boleh Kosong ? (Losing My Religion)

Catatan Dongbud: Artikel ini awalnya dimuat di blog pribadi Sang Penulisnya, http://avenk27.wordpress.com/ namun karena satu sebab dan alasan yang kata Beliau bersifat personal, maka artikel ini dihapus dan disumbangkan ke dongbud. Mudah-mudahan bermanfaat. 


Judul asli : Losing My Religion
Penulis :  Raff
………………………………………………….

— Maksudnya dikosongin saja?
Iya, nggak perlu ditulis. Saya percaya Tuhan, bukan percaya agama.

— Nggak bisa, Mas. Form ini mesti diisi lengkap.
Oh, begitu. Ya sudah isi saja.

— Apa, Mas?
Aku menyodorkan fotokopi kartu keluargaku.

Seperti yang tertulis disitu saja.
— Kristen?

Ya, jawabku pelan.
Ia tertawa.

Aku tak tahu apa yang ia tertawakan.

***

Aku mengingat kembali apa yang terjadi beberapa tahun lalu, ketika aku membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) di kantor kelurahan untuk pertama kalinya. Kala itu wacana penghapusan kolom agama di KTP belum lama digulirkan. Aku disambut gelak tawa sang petugas kelurahan ketika hendak mengutarakan maksudku.

Maksudku, bukankah Tuhan dan agama adalah dua hal yang berbeda?

Aku tak membenci agama. Aku terlahir dalam keluarga yang amat taat menjalankan perintah agama. Hanya saja, setelah sekian lama merenungkan kehidupan beragamaku, pada akhirnya aku menyadari bahwa aku bukanlah seorang suci. Aku pun tak merasa menjadi orang yang ‘tercerahkan’.

Dalam konteks kejadian yang kualami, Marx benar, bahwa agama hari ini memang diproyeksikan sebagai kesadaran palsu dan menjadi legitimasi penguasa untuk menindas. Maka seketika itu pula, aku menanggalkan jubah agamaku. Aku mempercayai Tuhan, tentu saja, tetapi tidak demikian halnya dengan agama.

William James, seorang psikolog dari Amerika, dalam salah satu bukunya yang berjudul Varieties of Religious Experience berusaha menjelaskan fenomena keagamaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan individu manusia. Manusia sebagai individu dan bukan manusia sebagai kelompok angka-angka statistik belaka.

William James melihat bahwa agama hanya berarti apabila dialami sebagai pengalaman pribadi. Artinya, ada pengalaman pribadi yang bisa diterangkan dengan menggunakan simbol-simbol dari agama tertentu yang dihayati secara sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dari narasi kehidupan seseorang. Beragama dalam arti itu tidak lagi berputar di segi argumentasi belaka, tetapi sudah masuk kedalam kesaksian pribadi tentang bagaimana sosok imanen dan transenden yang dinamakan Tuhan telah beraksi secara konkret dalam kehidupan personal seorang pemercaya. Aspek inilah yang sangat dangkal di Indonesia. Selama ini, argumen yang ada hanyalah berputar pada pertanyaan: agama mana yang paling benar?

William James juga melihat bahwa ada dua macam manusia penghayat keagamaan, yaitu manusia yang lahir dua kali (twice born) dan manusia yang lahir satu kali saja (once born). Manusia yang lahir dua kali adalah manusia yang mengalami suatu pengalaman relijius traumatis; suatu perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Perjumpaan pribadi itu bisa diceritakan dengan narasi yang terstruktur rapi sehingga dapat pula dimengerti oleh orang lain. Narasi akan berupa deskripsi tentang hal-hal yang sedikit demi sedikit akhirnya membawa seseorang sehingga mengalami hal traumatis tersebut. Dan setelah hal traumatis berupa pengalaman relijius yang menggoncangkan itu dialami, subyek akan berubah total. Berubah total dalam artian ia akan menjadi seorang yang percaya penuh bahwa Tuhan memang berperan dalam hidupnya dan bahwa ada misi tertentu dihidupnya. Tuhan tidak lagi menjadi suatu kekosongan seperti yang dialami oleh sebagian besar dari kita, tetapi merupakan suatu pemaknaan yang terkait erat dengan hidupnya dalam hari per hari, menit per menit, detik per detik. Sedangkan manusia yang lahir satu kali adalah mereka yang tidak pernah mengalami pengalaman relijius traumatis. Ia malah terjebak menjadi penyembah agama, bukan penyembah Tuhan. Tak heran bila seorang kawan sempat mengatakan padaku bahwa agama hari ini adalah sebentuk berhala baru.

Tak dapat dipungkiri bahwa umat beragama di Indonesia terutama terdiri dari mereka yang lahir hanya satu kali saja. Memang terlihat relijius, tetapi hanya relijius suam-suam kuku saja. Aku jarang menemukan seseorang pemercaya yang ‘asli’, yang tahu bahwa sesuatu yang dipercayainya adalah benar menurutnya walaupun orang lain tidak mempercayainya. Hal itulah yang bermakna signifikan secara rohaniah baginya karena tidak ada lagi yang bisa menggoyahkan keyakinannya.

Mereka yang lahir hanya satu kali, umumnya, pengalaman relijiusnya hanya seperti itu saja. Komunal, berupa perayaan hari raya yang semakin lama semakin terasa membosankan, yang mencari Tuhan ke sana kemari tetapi tidak juga ditemuinya. Begitulah kurang lebih menurut William James, dan sayangnya, seperti itulah situasi di Indonesia sekarang.

***

— Mas, biayanya Rp 50.000,-.
Lho, bukannya di loket depan tertulis biayanya hanya Rp 20.000,- atau bahkan gratis bila membuat KTP untuk kali pertamanya?

— Oh, itu peraturan lama, Mas. Sekarang biayanya Rp 50.000,-.
Aku menyodorkan selembar uang  Rp 50.000,- kepadanya dan menertawakannya sambil berlalu pergi. Dari balik pintu kulihat ia mengernyit heran.

Sudahlah, batinku. Beragama dan bertuhan memang dua hal yang berbeda. Kenyataannya, beragama  memang tak melulu menjamin seseorang berbuat jujur.

………………………………………………….

Advertisements

11 thoughts on “Kolom Agama Boleh Kosong ? (Losing My Religion)

  1. Salam kepada semua saudaraku……

    Tulisan yang menarik untuk direnungkan…..

    Kita sebenarnya menyembah Tuhan atau Agama , maka dalam pertanyaan ini hanya diri sendiri yang bisa menjawabnya…..

    =================================================-
    Sudahlah, batinku. Beragama dan bertuhan memang dua hal yang berbeda. Kenyataannya, beragama memang tak melulu menjamin seseorang berbuat jujur.
    .=================================================

    Seseorang melakukan perbuatan jujur pastinya ada sebab yang mendasar , apa disebabkan karena dirinya beragama , mungkin iya dan mungkin tidak …
    Saya lebih menduga bahwa orang jujur adalah seseorang yang mengerti makna dari arti suatu kebenaran , mengerti tentang arti hidup dan dia sebagai pelaku dari suara hati nurani….

    Beberapa dari kita mungkin percaya bahwa Tuhan dalam melihat dan menilai kebenaran manusia bukan dilihat apa agamanya tetapi dilihat dari perbuatan , niat dan suara hatinya….

    .
    Tuhan sebenarnya dimana dan dengan cara apa manusia bisa bertemu dengan Tuhan??…

    Untuk bisa bertemu dengan Tuhan , kenapa harus berkeinginan seperti itu . lha wong Tuhan itu tidak ada perwujudan , tidak ada suatu benda wujud yang bisa menggambarkan dzat Tuhan , tidak ada kemampuan manusia untuk menemui Tuhan.., tidak ada ilmu hasil temuan manusia untuk mencapai itu..

    Tuhan adalah Hidup , sebagai asal muasal keberadaan hidup , maka kita bisa merasa kehadiran Tuhan dalam diri kita sendiri bila kita mau dan belajar mengerti dan memaknai hidup diri kita sendiri….

    Hidup itu ada dan wujud dan beraneka ragam , hidup kita dan hidup mereka semua / bumi / dunia / alam semesta….

    Hidup ini seperti tulisan , suara dan gambar ….ada kebenaran dan ada penyimpangan / keburukan / nafsu buruk.dan sebagai manusia pencari Tuhan maka wajib hukumnya bagi kita untuk memilih suara ,tulisan gambar baik dan benar lalu melakukan dan meninggalkan atau menjauhi semua yang buruk…….

  2. Tak dapat dipungkiri bahwa umat beragama di Indonesia terutama terdiri dari mereka yang lahir hanya satu kali saja. Memang terlihat relijius, tetapi hanya relijius suam-suam kuku saja. Aku jarang menemukan seseorang pemercaya yang ‘asli’, yang tahu bahwa sesuatu yang dipercayainya adalah benar menurutnya walaupun orang lain tidak mempercayainya.

    Masyarakat d Negeri ini ,tidak mungkin menerima dan mempercayai seseorang sebagai pencinta dan pemercaya Tuhan tanpa mempunyai/ memeluk agama ( terutama agama X ), mereka lebih percaya syareat agama dari pada perilaku dan perbuatan baik karena amalan baik dan benar dianggap tidak berguna dan hilang tanpa amalan syareat agama…..he he ini seperti politik cerdas agama , propaganda untuk memenangkan partai dan menjadi pemimpin di negeri ini……….

    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    Mereka yang lahir hanya satu kali, umumnya, pengalaman relijiusnya hanya seperti itu saja. Komunal, berupa perayaan hari raya yang semakin lama semakin terasa membosankan, yang mencari Tuhan ke sana kemari tetapi tidak juga ditemuinya. Begitulah kurang lebih menurut William James, dan sayangnya, seperti itulah situasi di Indonesia sekarang.

    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    Memang benar , begitulah adanya kondisi di negeri ini…
    Kita menjadi seperti tersisih dan tidak dianggap bila kita percaya dan sebagai pencari Tuhan dengan cara yang tidak sama dengan mereka…..

    1. Aduh , kenapa tulisan jadi BESAR begitu……

      Semoga Admin / Kang Wage bisa mengecilkan kembali…..he he he…Thank’s

      Salam hormat kepada semua saudaraku , sebagai pecinta dan penyembah Tuhan dengan baik dan benar , sebagai para petualang hidup , para pelaku kebenaran dengan dasar rasa hati nurani dan peri kemanusiaan…….

      Salam Damai dan Sejahtera kepada semua Mahluk ……….

      God Bless You…….

    1. Kalau hanya pengaturan tingkah laku Manusia di muka Bumi ini, tidak perlu pakai Kitab peraturan Agama tek tek bengek segala.

      Belekok : Tong, kenapa mencuri itu dilarang oleh Agama ?

      Tongo : Ah kalau masalah seperti itu tidak perlu bawa bawa Agama tong.

      Belekok : Lho bagaimana mungkin tanpa Agama bisa ada larangan larangan Tuhan ?

      Tongo : ya mungkin saja kok, bahkan bisa aku buktikan bahwa tanpa agama tek tek bengek ,Manusia bisa menjauhi apa yang di larang Tuhan.

      Belekok : coba buktikan biar aku mengerti

      Tongo : Itu HP kamu baru ya ? mahal sepertinya, boleh tidak jika HP mau suatu saat nanti aku curi ?

      Belekok : ya tidak boleh dong tong,

      Tongo : Boleh tidak Istrimu suatu saat aku slingkuhi ?

      Belekok : ya tidak boleh tong

      Tongo : Boleh tidak badan kamu aku pukul dengan besi ?

      Belekok : ya tidak boleh tong

      Tongo : Boleh tidak aku fitnah kamu ?

      Belekok : ya tidak boleh tong

      Tongo : Boleh tidak kamu aku bunuh

      Belekok : ya tidak boleh tong

      Tongo : ketika kamu sedang kelaparan, haruskah aku memberimu bantuan makanan ?

      Belekok : ya harus tong, masa tega membiarkan sahabat kelaparan ?

      Tongo : Ketika kamu kecelakaan di jalan, haruskah aku menolongmu ?

      Belekok : ya harus tong, masa tega membiarkan sahabat yang sedang celaka ?

      Tongo : jika suatu saat kamu mati, haruskah aku menguburmu ?

      Belekok : ya harus tong, masa tega membiarkan sahabat mati mayatnya membusuk tanpa di kubur

      Tongo : Nah semua jawaban kamu tentang apa yang harus di kerjakan atau apa yang tidak boleh dikerjakan ternyata tidak perlu melihat dahulu Kitab Agama ataupun Kitab kitab peraturan lainnya kan ?.
      Sebab Tuhan sudah membekali pedoman kehidupan/aturan secara langsung tanpa pakai perantara, hanya saja kamu lebih senang mempercayai apapun yang datang dari luar dirimu, sedangkan Nuranimu sendiri di abaikan.
      Pantas saja semakin banyak Orang orang beragama namun tingkah laku seperti yang tidak beragama, sebab Nuraninya masing masing entah di tutupi oleh apa sehingga samasekali tidak muncul di dalam kehidupannya sehari hari.
      Tinggal pilih, mau aturan Tuhan atau aturan buatan Manusia yang akan di ikuti ? semua terserah kamu.

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s