Mati Sajroning Urip (Mati Dalam Kehidupan)

img-250px3shellPenulis: Sdr Iful Sevenstar

Mati Sajroning Urip atau mati dalam kehidupan adalah pembuktian secara lahir batin diri kita sendiri yang disebut manusia seutuhnya. Ternyata praktek mati sajroning urip tersebut bukanlah suatu ritual khusus/ inisiasi/ fanasisasi dalam perilaku meditatif melainkan perbuatan/ etika kita sehari-hari dalam menjalankan kehidupan ini. Sungguh suatu hal yang amat sangat berat ketika manusia memasuki maqamat ini, karena tidak dapat diperoleh dari ilmu budi pekerti, ilmu fikih, ilmu agama, ilmu syariat, ilmu tarekat, ilmu makrifat maupun filsafat. Maqamat ini sudah masuk dalam koridor DIRI PRIBADI yang paling dalam, oleh orang lain sering disebut dalam wilayah ROH. Dengan kata lain ” tak ada daya upaya ku ke selain AKU yang yang berupaya di segala daya upaya “. Penglihatan ku adalah mata KU, pendengaran ku adalah telinga KU, perkataan ku adalah kata-kata KU, pikiran ku adalah akal dan logika KU, gerakan ku adalah perbuatan KU, firasat ku adalah firasat KU, nafas ku adalah AKU. Akhirnya diri ku adalah wujud AKU.

Adanya penjungkirbalikan keadaan ini tentulah karena diri kita sendiri yang berbuat, diri kita sendiri yang telah menyadari akan hakekat kehidupan dan kebenaran itu sendiri. Seiring dengan laju pemahaman maka jiwa nya pun akan melaju menuntut jiwa yang berkwalitas tinggi, Jiwa yang berkwalitas tinggi adalah jiwa yang terhampar tak terbatas untuk diisi oleh energy-energy kebenaran yang ada di jagad raya yang tak terbatas ini baik nyata maupun abstrak. Jiwa yang berkwalitas tinggi sudah terbebas dari symbolisasi nama-nama seperti Tuhan, Allah, Rasul, Malaikat, Iblis, Alam semesta, Kitab suci, syariat, hukum Agama, Manusia dll. Semua symbolisasi itu lebur dalam satu kebenaran saja, tak ada hukum diluar dirinya yang berlaku di jiwa tersebut selain HUKUM AKU.

KEYAKINAN, itulah sumber energy/ kekuatan untuk bisa me RASA kan adanya duplikasi diri kita yang berderajat tinggi. keyakinan itu ibarat pohon yang tumbuh dalam batin kita semakin pohon itu tumbuh menjulang ke atas maka proses mati sajroning urip akan berjalan mulus dan sempurna. Mengolah keyakinan itu sudah ada di ranah metafisik / kebatinan, artinya yang hanya bisa mengolah supaya keyakinan itu tumbuh dan berdayaguna tak lain adalah jiwa kita yang sudah HIDUP dan MENGHIDUPKAN, bukan di jiwa yang mati dan mematikan. Jiwa yang mati adalah hati nurani yang mati, pikiran sehat yang mati, yang berkuasa adalah jiwa-jiwa yang rendah, yang negatif atau disebut NAFSU.

Hidup di dunia dalam mati sajroning urip atau ‘ antal mautt qoblatul mautt’ itu adalah KUNCI untuk meretas jalan ke kehidupan abadi. Tak kan bisa kita melenggang ke surga seperti dalam ajaran agama apapun namanya hanya bermodal amal soleh dan ibadah yang banyak, yang ada adalah jiwa kita melenggang gentayangan ke negeri yang entah apa namanya. Ternyata, manusia hidup di dunia ini adalah SEBENARNYA untuk mereka yang sudah sadar adalah untuk melakoni mati dalam kehidupan untuk MEMBEBASKAN diri kita dari jerat-jerat / perangkap / penjara yang diciptakan oleh dirinya sendiri. BEBAS hidup lepas tak ada ikatan apapaun selain dengan Sang AKU yang mewujud dalam diri..

March 5, 2012 at 10:13am
Latest version by Iful Sevenstar in BEBASKAN BERSUARA (Facebook FIles)
Sumber image: wikipedia

2 thoughts on “Mati Sajroning Urip (Mati Dalam Kehidupan)”

  1. Ketika diberitahu untuk mencoba tidur pulas sambil kesadaran terjaga, maka di benakku timbul prasangka bahwa si pemberitahu adalah seorang yang kurang waras, sebab hal itu harus secara nyata bisa dilakukan bukan hanya sekedar teori belaka.
    Namun dengan latihan yang tekun dan tekad yang kuat, barulah diketahui bahwa memang benar, Jasmani bisa ditidurkan dengan kesadaran yang tetap terjaga.

    Mati sajroning urip jika dalam praktek kehidupan sehari hari sangatlah sederhana yaitu :

    “ JANGAN ADA PERASAAN MEMILIKI DAN DIMILIKI “

    Ini milik saya, itu milik si anu, saya milik si anu si anu adalah milik saya, saya bagaimana si anu si anu bagaimana saya, kesemua itu hanyalah mimpi belaka.
    Dalam tidur aku bemimpi……, mimpi memiliki Istri cantik, Mobil banyak Rumah mewah dan Uang segunung, namun ketika terbangun, kesemua itu lenyap…,hilang tak berbekas.
    Maka dari itu janganlah hidup di dunia mimpi, hiduplah di dunia nyata.
    Di dunia nyata dari mulai terlahir menjadi Bayi,Anak anak, Remaja ,Dewasa ,menikah, memiliki anak, pekerjaan, kendaraan, tempat tinggal, terasa benar benar nyata.
    Namun ketika ajal teralami, semua yang terasa nyata tersebut hilang lenyap tanpa bekas. Lalu apa bedanya mimpi dengan kenyataan ?.
    Orang mati tidak ingin apa apa, tidak punya tujuan apa apa, tidak punya perasaan apa apa, tidak ada pikiran apa apa.
    Tidak ingin apa apa, tidak punya tujuan apa apa, tidak punya perasaan apa apa, tidak ada pikiran apa apa, hanya menjalani kehidupan sesuai keadaan saat itu , yang penting keberadaan kita bermanfaat bagi kehidupan di sekeliling Kita dan diri kita sendiri tanpa embel embel nanti dapat hadiah ini itu, ganjaran itu ganjaran ini.
    Namun mati sajroning urip dalam pelaksanaan secara nyatanya, lebih berat daripada berlatih tidur pulas sambil kesadaran terjaga, bukan hanya sekedar teori belaka.

  2. Salam, sejahtera

    Tanpa Pikiran , bathin yg bersih,dan jernih hal ini akan sngat sulit. apalagi pd kondisi spt zaman ini ., klu pikiran dan bathin tdk bersih dan jernih…. mungkin salah alamat,( bisa jd sang aku yg lain) serupa tp tak sama…….mudah2an tdk salah alamat

Kolom Nama, Mail atau Web bisa dikosongkan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s