Gudeg Pawon : Spiritualitas Dalam Sepiring Nasi

img-250px-fb-pawonPenulis: Janget Kinatelon. Seorang warga Jogja berjualan nasi gudeg. Gudeg ini sangat disukai orang orang, sehingga ketika jam 5 pagi digelar, hanya dalam 1 atau 2 jam langsung ludes dibeli pelanggan.

Tetapi, ini juga berarti musibah. Musibah bagi pedagang nasi gudeg lainnya yang jadi tidak laku dan tidak mendapatkan uang. Penjual gudeg yang laris itu ternyata menyadari keluhan keluhan penjual gudeg tetangganya. Sehingga dia mengalah dengan tidak menjual nasi gudeg pada pagi hari, dan hanya berjualan pada malam hari mulai jama 22.30 (setengah sebelas malam). Pun begitu, dia tidak kehilangan pelanggan, sehingga jualannya tetap laris seperti biasanya. 

Jika anda datang jam 12 malam keatas, dijamin, anda tidak akan kebagian tempat duduk, dan akan terpaksa makan didapur sambil duduk diskursi kayu yang kecil. [ Janget Kinatelon ] Link sumber: https://www.facebook.com/

2 thoughts on “Gudeg Pawon : Spiritualitas Dalam Sepiring Nasi”

  1. Nikmatnya Gudeg Pawon di Tengah Malam

    Oleh: Maria Serenade Sinurat, Amanda Putri Nugrahanti & Harry Susilo
    Minggu, 20 Juli 2008 | 07:32 WIB
    Sumber Kompas.com

    MENEMUKAN Kota Yogyakarta yang ”waton-waton asal kelakon”, biar lambat asal selamat, mungkin sudah susah. Jalanan kini karut-marut. Namun, soal lidah, jangan salah! Kota ini masih setia menggoda pendatang dengan gudeg yang sedikit cicip langsung merangsang indera pengecap.

    Selamat datang di Kota Gudeg! Kalau pagi buta perut sudah minta jatah, di sepanjang jalan Malioboro para penjaja gudeg sudah menanti. Siang hari, tengok kawasan Wijilan—dikenal sebagai kawasan sentra gudeg—yang mayoritas menjual gudeg kering.

    Malamnya, kawasan Jalan Laksda Adi Sucipto bisa jadi pilihan. Lebih malam lagi? Coba mampir di gudeg pawon yang terletak di Jalan Janturan Nomor 36-38 Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta.

    Jarum jam hampir menunjuk pukul 23.00 malam ketika tiba di warung gudeg Rubiyem atau akrab disapa dengan Mbah Prapto Widarso (72). Bagi yang baru pertama kali datang, mungkin bisa tersesat karena tidak ada papan penanda warung.

    Tanya saja penduduk lokal dengan menyebut nama gudeg pawon, mungkin mereka akan rela menjadi penunjuk jalan ke lokasi. Sesuai dengan namanya, pawon—yang artinya dapur—warung gudeg satu ini memang menyajikan sensasi makan di dapur. Di ruangan berukuran 4 meter x 6 meter yang dindingnya mulai menghitam, pengunjung bisa langsung memesan.

    Pada Rabu (16/7) malam itu Mbah Prapto ditemani anak dan menantunya melayani pengunjung. Di pawon itu ada tiga tungku yang dua di antaranya tetap menyala. Tungku pertama untuk memasak nasi, yang lain untuk memanasi telur yang dimasak dengan santan.

    Kuali dan panci berukuran besar diletakkan di tempat cuci piring tidak jauh dari tungku. Opor ayam terus dipanaskan di sisi lain pawon dengan kompor minyak tanah. Begitu memesan, salah satu dari anggota keluarga akan segera mengambil piring, menaruh seporsi nasi yang tidak terlalu banyak, kemudian membubuhkan gudeg, sayur nangka muda atau gori yang dimasak dengan gula merah, ditambah dengan daun singkong.

    Atas permintaan konsumen, lauk lain seperti sambal goreng krecek atau kulit sapi yang sedikit pedas dan berkuah, ayam opor, tahu, tempe atau telur pun dibubuhkan. Bagi yang suka pedas, meng-kletus (menggigit) cabai rawit segar melengkapi perjalanan menjelajah rasa menjadi semakin mantap.

    Tak berbeda

    Sebenarnya apa yang tersaji tidak berbeda dengan gudeg yang dijual di tempat lain. ”Ya, gudeg seperti biasa saja tidak ada yang berbeda,” ujar Bambang, menantu Mbah Prapto, yang delapan tahun terakhir ikut terjun di pawon.
    Gudeg yang dijual Mbah Prapto adalah jenis gudeg basah yang merupakan perpaduan rasa manis dan gurih. Proses pembuatannya berbeda dengan gudeg kering yang umumnya dimasak lama dengan lauk dibacem agar bisa tahan lama. Adapun gudeg basah disajikan dengan lauk berkuah yang segar.

    Sumarwanto (47), anak kedua Mbah Prapto, menceritakan, proses pembuatan gudeg dimulai pukul 09.00. Seluruh keluarga terlibat dalam memproses 10-15 kilogram nangka muda, 200 butir telur ayam, dan 15 potong ayam kampung beserta krecek, tempe, tahu, kelapa, dan gula merah.

    Sepupu Sumarwanto, Tuti, hingga kini bahkan bisa mengupas kulit 200 butir telur ayam dalam waktu setengah jam! ”Ya, setiap hari kerjanya begitu, jadi sudah biasa saja,” katanya.
    Pukul 17.00 semua proses berhenti. Waktunya untuk istirahat. Sekitar pukul 21.00 aktivitas kembali dimulai. Mereka menanak nasi dengan dandang yang terbuat dari tanah liat dan memanasi gudeg serta lauk-pauknya di tungku berbahan bakar kayu yang didatangkan dari Gunung Kidul.

    Sumarwanto mengaku tidakpernah menghitung secara detail berapa porsi yang terjual setiap hari. Yang pasti, ketika buka pukul 23.00, setidaknya pukul 01.30 gudeg sudah ludes. Jika dihitung, dari 15 ekor ayam kampung yang bisa dipotong sepuluh, ditambah 200 butir telur ayam, setidaknya 350 porsi gudeg terjual setiap malam.

    Tak heran, usaha ini juga menjadi ”dapur” yang menghidupi keluarga Prapto Widarso. Bahkan, dari tiga anaknya, dua di antaranya beserta para menantu terlibat di penjualan warung gudeg ini.

    Selain itu, salah satu keponakan Mbah Prapto pun kecipratan dengan berjualan minum. Tengah malam Mencicipi gudeg tengah malam apa enaknya? Tetapi, justru itu yang dicari oleh beberapa pengunjung yang bingung mencari pengganjal perut selepas pukul 23.00.

    Wildan Rais (25) adalah salah satu pengunjung yang mencari kenikmatan makan tengah malam. ”Sudah makan malam, sih. Tapi kalau tengah malam lapar, ya cari ke sini,” ujar wiraswastawan yang berdomisili di Yogyakarta ini.

    Bagi Wildan, gudeg Mbah Prapto ini cocok di lidahnya yang tidak begitu akrab dengan rasa manis. ”Gurih, tidak manis sekali seperti gudeg kering. Porsi nasinya pun tidak begitu banyak,” katanya.

    Pengunjung lain, Siti Asrowiyah, datang dengan keempat anaknya, Nizar, Danang, Lisa, dan Gustin, serta seorang cucunya, Angga. Tak lupa, ia membawa seplastik emping melinjo serta dua kantong rempeyek guna menemani gudegnya.

    Danang, seorang pebisnis, mengaku hampir setiap hari mampir ke gudeg pawon untuk menikmati santap tengah malamnya. ”Anak saya yang sering mengajak. Kalau tiba-tiba dia terbangun tengah malam, pasti mengajak makan di sini. Lagi pula gudegnya masih panas, disantapnya pun jadi seger,” ujarnya.

    Atmosfer di dalam pawon itu hangat. Tidak hanya karena kedua tungkunya menyala. ”Suasana ini yang kami cari, makan di dapur tradisional. Sepertinya tidak ada di tempat lain,” kata Nizar yang mengaku senang berwisata kuliner.

    Makan besar tengah malam yang katanya bisa membuat ukuran pinggang bertambah tidak membuat para pengunjung berhenti datang. Semakin larut justru semakin banyak pengunjung hingga membentuk antrean.

    Sumber Kompas.com

  2. Gudeg Pawon, Menikmatinya Langsung di Dapur

    27 Maret 2013 13:08 wib
    Sumber : Metronews

    Metrotvnews.com: Menikmati sepiring nasi putih panas yang diguyur gudeg, dibubuhi sambal rambak dan sepotong daging ayam ataupun telur, tentu lazim dilakukan di Yogyakarta. Namun, menyantapnya di tengah malam, langsung di dapur tempat nasi dan kawan-kawannya itu dimasak, tentu istimewa.

    Kami melakukannya di awal pekan ini. Malam terasa dingin karena Yogyakarta sempat disiram gerimis. Jalanan kota mulai sepi. Namun di mulut sebuah gang kecil di Jalan Janturan, Warungboto, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, keramaian baru saja dimulai. Beberapa mobil dan motor berjejer di muka sebuah rumah.

    Ya, rumah itu, tepatnya dapur di dalamnya, yang mereka tuju. Inilah salah satu lokasi makan gudeg legendaris di Yogyakarta. Di sini tak ada kursi dan meja makan lazimnya tempat penjual gudeg lainnya.

    Di bagian mukanya hanya tampak meja kayu sederhana yang di atasnya terdapat jeruk peras, teh, dan wedang uwuh.

    Hanya sebuah papan nama kecil yang digantung, bertuliskan ‘Gudeg Pawon, Selera Nusantara Buka Jam 22.30’, yang menjadi penanda mengapa rumah itu istimewa.

    Di muka rumah memang hanya tampak aktivitas meracik minuman. Namun, di samping itu, kehebohan telah terjadi. Antrean pembeli mengular, lebih dari 10 orang. Kami pun mengantre hingga 15 menit sebelum akhirnya sampai di pintu dapur nan ikonis itu.

    Lima dekade
    Gudeg Pawon, kata Sumarwanto, 52, yang mengelola Gudeg Pawon saat ini, dirintis almarhumah ibunya, Prapto Widarso. “Sudah sejak 1958 ibu berjualan,” ungkap Sumarwanto.

    Penamaan Gudeg Pawon, yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘Gudeg Dapur’, didapat dari pembeli. Di sini, jika bertandang langsung ke dapur pun kita akan dilayani di antara jajaran panci, tungku kayu bakar yang menyala-nyala, serta kesibukan Sumarwanto dan timnya memasak.

    Setelah sepiring nasi, gudeg, dan kerabat menu lainnya didapat, kami mencari tempat bersantap. Bisa lesehan di teras rumah, di depan dapur, juga makan langsung di dapur.

    “Dulunya, ibu berjualan di Pasar Sentul pukul tiga pagi. Pukul dua belas (malam) sudah masak. Namun, sebelum dijual ke pasar, para pembeli sudah banyak datang ke rumah untuk makan. Awalnya mereka datang ke rumah pukul tiga pagi. Lama-kelamaan, pembeli makin banyak dan datang lebih awal, pukul dua belas sudah datang. Bahkan sering, gudeg yang hendak dijual di pasar habis,” kata Sumarwanto.

    Mulai 2000, Prapto Widarso memutuskan hanya berjualan gudeg di rumah, tidak lagi di pasar. Sang ibu pun berjualan lebih awal, yaitu sekitar pukul 22.30 WIB.

    Namun, karena pembeli yang datang semakin banyak dan mereka mengaku datang dari jauh, waktu buka dipercepat dari jadwal yang tertulis. Sejak pukul sepuluh malam, pembeli sudah bisa menyantap Gudeg Pawon, walau di papan pengumuman tetap tertulis Gudeg Pawon buka pukul 22.30. “Jam sepuluh malam kami sudah buka untuk memudahkan mereka yang datang dari jauh karena sejak pukul 21.00 sudah ada yang datang,” ungkap Sumarwanto.

    Gudeg Pawon termasuk jenis basah. Di Yogyakarta, memang ada pula gudeg kering yang tak menyisakan kuah saat disajikan. Karakter itu dipertahankan Sumarwanto. Kendati sang ibu meninggal tiga tahun lalu, resep, cara memasak, hingga kondisi dapur tetap dipertahankan.
    “Dari dulu memang gudegnya gurih. Peninggalan orangtua jangan diutak-atik,” kata Sumarwanto.

    Di dapur berukuran 7×9 meter yang dinding-dindingnya menghitam karena jelaga, salah satu kekayaan tradisi kuliner Yogyakarta itu dipelihara. Di sana, nasi tetap ditanak dengan tungku kayu bakar.

    Warga lokal dan pelancong
    Sukanto, 56, warga Yogyakarta yang lebih dari 20 tahun rutin kembali ke Gudeg Pawon, mengaku setiap kunjungannya selalu sama. Cita rasa tak pernah berubah.

    “Hanya lokasi parkirnya yang sekarang lebih dikelola. Saya memang suka rasa gudeg yang lebih segar dan terasa lebih nikmat kalau setelah dimasak langsung kita bisa makan, bahkan langsung di dapurnya,” kata Sukanto yang mengaku selalu datang bersama rombongan. Suasana dapur membuat mereka asyik berlama-lama mengobrol sambil bersantap.

    “Saya datang biasanya di atas jam sebelas malam seperti ini. Istilahnya, pancal kemul atau makan sebelum tidur,” kata Sukanto.

    Bukan cuma warga Yogyakarta, Gudeg Pawon juga sukses memikat pelancong. Salah satunya, Yuni, 34, warga Balikpapan yang bertandang ke Gudeg Pawon untuk kedua kalinya dalam kunjungan tiga harinya ke Yogyakarta. “Rasanya tidak terlalu manis dan karena di dapur, rasanya lebih fresh,” ungkap Yuni.

    Kendati telah lazim menjadi bagian aktivitas wisata kuliner para pelancong, di sini seporsi nasi yang diguyur gudeg cukup dihargai Rp6.000. Jika ditambah telur, Rp8.000. Buat yang menambah ayam, harganya Rp15 ribu.

    Ingin mencoba? Jangan lewat tengah malam! Karena, lazimnya gudeg pawon tandas sebelum pukul satu malam. (MI/Ardi Teristi Hardi)

    Sumber : Metronews

Kolom Nama, Mail atau Web bisa dikosongkan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s