Beberapa Catatan dari Israel

israel-pertanian2

Mengenal negeri sendiri adalah penting, namun mengenal negeri lain juga tidak kalah pentingnya. Dengan mengenal negara lain maka banyak hal yang bisa kita pelajari, kita tiru ataupun sebaliknya, kita hindari.

Berikut ini Dongbud mencoba menghadirkan artikel “menarik” yang menulis sisi lain tentang negara Israel.  Negara kecil yang mungkin membuat sebagian orang gemas, alergi dan gatal-gatal. Negara kecil yang mungkin saja tidak lama lagi akan musnah atau hilang dari peta bumi.

Entahlah….. Namun sebelum musnah, mengapa kita mencoba belajar sedikit rahasia kedigjayaan mereka dalam bidang ethos kerja, teknologi, khususnya teknologi pertaniannya? Maaf, walaupun cuma artikel copy paste, mudah-mudahan tidak mengurangi manfaatnya. [dongbud]


Dongbud File. Copas Artikel. Salam hormat dan terima kasih untuk penulisnya.


Beberapa Catatan dari Israel

Penulis: Luthfi Assyaukanie’ s Notes

Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal berkesan yang saya dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota Tua yang kecil namun penuh memori konflik dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga keramahan orang-orang Israel. Saya kira, siapapun yang menjalani pengalaman seperti saya akan mengubah pandangannya tentang Israel dan orang-orangnya.

Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel mengatakan kepada saya bahwa orang-orang Israel senang informalities dan cenderung rileks dalam bergaul. Saya tak terlalu percaya dengan promosinya itu, karena yang muncul di benak saya adalah tank-tank Israel yang melindas anak-anak Palestina (seperti kerap ditayangkan oleh CNN and Aljazira). Tapi, sial, ucapan diplomat itu benar belaka. Dia bukan sedang berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari sekitar 15 lembaga yang berbeda menunjukkan bahwa orang-orang Israel memang senang dengan informalities dan cenderung bersahabat.

Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi mengeluarkan joke-joke terbaiknya tentang kegilaan orang Yahudi. Dia mengaku mengoleksi beberapa joke tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur yang katanya “more jewish than me.” Dalam jamuan lunch, seorang diplomat Israel berperilaku serupa, membuka hidangan dengan cerita jenaka tentang persaingan orang Yahudi dan orang Cina.

Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari cerita tentang Israel. Pada satu sisi, manusia di negeri ini tak jauh beda dengan tetangganya yang Arab: hangat, humorous, dan bersahabat. Atau semua budaya Mediteranian memang seperti itu? Tapi, pada sisi lain, dan ini yang membedakannya dari orang-orang Arab: kecerdasan orang-orang Israel di atas rata-rata manusia. Ini bukan sekadar mitos yang biasa kita dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya itu tak pernah bisa menandingi Israel.

Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan sendirinya ketika kita bergaul dengan seseorang. Tidak yang laki-laki, tidak yang perempuan, semua orang Israel yang saya ajak bicara memancarkan kesan itu. Patutlah bahwa sebagian peraih nobel dan ilmuwan sosial besar adalah orang-orang Yahudi.

Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang Israel, paling tidak para pejabat, pemikir, budayawan, diplomat, penulis, dan profesional, yang saya jumpai, semuanya lancar dan fasih berbahasa Arab. Mereka senang sekali mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Arab. Berbahasa Arab semakin membuat kami merasa akrab. Belakangan baru saya ketahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa formal/resmi Israel. Orang Israel boleh menggunakan dua bahasa, Ibrani dan Arab, di parlemen, ruang pengadilan, dan tempat-tempat resmi lainnya.

Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja sangat cerdas, bukan sekadar mengakomodir 20 persen warga Arab yang bermukim di Israel. Dengan menguasai bahasa Arab, orang-orang Israel telah memecah sebuah barrier untuk menguasai orang-orang Arab. Sebaliknya, orang-orang Arab tak mengerti apa yang sedang dibicarakan di Israel, karena bahasa Ibrani adalah bahasa asing yang bukan hanya tak dipelajari, tapi juga dibenci dan dimusuhi. Orang-orang Israel bisa bebas menikmati televisi, radio, dan surat kabar dari Arab (semua informasi yang disampaikan dalam bahasa Arab), sementara tidak demikian dengan bangsa Arab.

Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras, benar, jika kita melihatnya di airport dan kantor imigrasi. Mereka memang harus melakukan tugasnya dengan benar. Di tempat2 strategis seperti itu, mereka memang harus serius dan tegas, kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka, yang diincar dari delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya..

Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport dan kantor2 imigrasi (termasuk kedubes dan urusan visa). Israel dibangun dari sepotong tanah yang tandus. Setelah 60 tahun merdeka, negeri ini menjadi sebuah surga di Timur Tengah. Lihatlah Tel Aviv, jalan-jalannya seperti avenues di New York atau Sydney. Sepanjang pantainya mengingatkan saya padaSeattle atau Queensland. Sistem irigasi Israel adalah yang terbaik di dunia, karena mampu menyuplai jumlah air yang terbatas ke ribuan hektar taman dan pepohonan di sepanjang jalan.

Bangsa Israel akan membela setiap jengkal tanah mereka, bukan karena ada memori holocaust yang membuat mereka terpacu untuk memiliki sebuah negeri yang berdaulat, tapi karena mereka betul-betula bekerja keras menyulap ciptaan Tuhan yang kasar menjadi indah dan nyaman didiami. Mereka tak akan mudah menyerahkan begitu saja sesuatu yang mereka bangun dengan keringat dan darah. Setiap melihat keindahan di Israel, saya teringat sajak Iqbal:

Engkau ciptakan gulita
Aku ciptakan pelita
Engkau ciptakan tanah
Aku ciptakan gerabah

Dalam Taurat disebutkan, Jacob (Ya’kub) adalah satu-satunya Nabi yang berani menantang Tuhan untuk bergulat. Karena bergulat dengan Tuhan itulah, nama Israel (Isra-EL, orang yang bergulat dengan Tuhan) disematkan kepada Jacob. Di Tel Aviv, saya menyaksikan bahwa Israel menang telak bergulat dengan Tuhan.

Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah yang mereka sulap dari bumi yang tandus menjadi sepotong surga. Bahwa mereka punya alasan historis untuk melakukan itu, itu adalah hal lain. Pembangunan bangsa, seperti kata Benedict Anderson, tak banyak terkait dengan masa silam, ia lebih banyak terkait dengan kesadaran untuk menyatukan sebuah komunitas. Bangsa Yahudi, lewat doktrin Zionisme, telah melakukan itu dengan baik.

Melihat indahnya Tel Aviv, teman saya dari Singapore membisiki saya: “orang-orang Arab itu mau enaknya saja. Mereka mau ambil itu Palestina, setelah disulap jadi sorga oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka buat saja di negeri mereka sendiri surga seperti Tel Aviv ini?” Problem besar orang-orang Arab, sejak 1948 adalah bahwa mereka tak bisa menerima “two state solution,” meski itu adalah satu-satunya pilihan yang realistik sampai sekarang. Jika saja orag-orang Palestina dulu mau menerima klausul itu, mungkin cerita Timur Tengah akan lain, mungkin tak akan ada terorisme Islam seperti kita lihat sekarang, mungkin tak akan ada 9/11, mungkin nasib umat Islam lebih baik. Bagi orang-orang Arab, Palestina adalah satu, yang tak bisa dipisah-pisah. Bagi orang-orang Israel, orang-orang Palestina tak tahu diri dan angkuh dalam kelemahan.

Sekarang saya mau cerita sedikit tentang Kota Tua Jerussalem, tentang al-Aqsa, dan pengalaman saya berada di sana. Percaya atau tidak, Kota Tua tidak seperti yang saya bayangkan. Ia hanyalah sekerat ladang yang berada persis di tengah lembah. Ukurannya tak lebih dari pasar Tanah Abang lama atau Terminal Pulo Gadung sebelum direnovasi. Tentu saja, sepanjang sejarahnya, ada perluasan-perluasan yang membentuknya seperti sekarang ini. Tapi, jangan bayangkan ia seperti Istanbul di Turki atau Muenster di Jerman yang mini namun memancarkan keindahan dari kontur tanahnya. Kota Tua Jerussalem hanyalah sebongkah tanah yang tak rata dan sama sekali buruk, dari sisi manapun ia dilihat.

Sebelum menuruni tangga ke sana, saya sempat melihat Kota Tua dari atas bukit. Heran seribu heran, mengapa tempat kecil yang sama sekali tak menarik itu begitu besar gravitasinya, menjadi ajang persaingan dan pertikaian ribuan tahun. Saya berandai-andai, jika tak ada Golgota, jika tak ada Kuil Sulayman, dan jika tak ada Qubbah Sakhra, Kota Tua hanyalah sebuah tempat kecil yang tak menarik. Berada di atas Kota Tua, saya terbayang Musa, Yesus, Umar, Solahuddin al-Ayyubi, Richard the Lion Heart, the Templer, dan para penziarah Eropa yang berbulan-bulan menyabung nyawa hanya untuk menyaksikan makam, kuburan, dan salib-salib. Agama memang tidak masuk akal.

Oleh Guide kami, saya diberitahu bahwa Kota Tua adalah bagian dari Jerussalem Timur yang dikuasai Kerajaan Yordan sebelum perang 1967. Setelah 1967, Kota Tua menjadi bagian dariIsrael. “Dulu,” katanya, “ada tembok tinggi yang membelah Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat. Persis seperti Tembok Berlin. Namun, setelah 1967, Jerussalem menjadi satu kembali.” Yang membuat saya tertegun bukan cerita itu, tapi pemandangan kontras beda antara Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat dilihat dari ketinggian. Jerussalem Timur gersang dan kerontang, Jerussalem Barat hijau dan asri. Jerussalem Timur dihuni oleh sebagian besar Arab-Muslim, sedangkan Jerussalem Barat oleh orang-orang Yahudi.

Saya protes kepada Guide itu, “Mengapa itu bisa terjadi, mengapa pemerintah Israel membiarkan diskriminasi itu?” Dengan senyum sambil melontarkan sepatah dua patah bahasa Arab, ibu cantik itu menjelaskan: “ya akhi ya habibi, kedua neighborhood itu adalah milik privat, tak ada urusannya dengan pemerintah. Beda orang-orang Yahudi dan Arab adalah, yang pertama suka sekali menanam banyak jenis pohon di taman rumah mereka, sedang yang kedua tidak. Itulah yang bisa kita pandang dari sini, mengapa Jerussalem Barat hijau dan Jerussalem Timur gersang.” Dough! Saya jadi ingat Bernard Lewis: “What went wrong?”

Ada banyak pertanyaan “what went wrong” setiap kali saya menyusuri tempat-tempat di Kota Tua. Guess what? Kota Tua dibagi kepada empat perkampungan (quarter): Muslim, Yahudi, Kristen, dan Armenia. Pembagian ini sudah ada sejak zaman Salahuddin al-Ayyubi. Menelusuri perkampungan Yahudi sangat asri, penuh dengan kafe dan tempat-tempat nongkrong yang cozy. Begitu juga kurang lebih dengan perkampungan Kristen dan Armenia. Tibalah saya masuk ke perkampungan Muslim. Lorong-lorong di sepanjang quarter itu tampak gelap, tak ada lampu, dan jemuran berhamburan di mana-mana. Bau tak sedap terasa menusuk.

Jika pertokoan di quarter Kristen tertata rapi, di quarter Muslim, tampak tak terurus. Ketika saya belanja di sana, saya hampir tertipu soal pengembalian uang. Saya sadar, quarter Muslim bukan hanya kotor, tapi pedagangnya juga punya hasrat menipu.

Namun, di antara pengalaman tak mengenakkan selama berada di perkampungan Islam adalah pengalaman masuk ke pekarangan al-Aqsa (mereka menyebutnya Haram al-Syarif). Ini adalah kebodohan umat Islam yang tak tertanggulangi, yang berasal dari sebuah teologi abad kegelapan. You know what? Saya dengan bebasnya bisa masuk ke sinagog, merayu tuhan di tembok ratapan, dan keluar-masuk gereja, tanpa pertanyaan dan tak ada penjagaan sama sekali.

Tapi begitu masuk wilayah Haram al-Syarif, dua penjaga berseragam tentara Yordania dengan senjata otomatis, diapit seorang syeikh berbaju Arab, menghadang, dan mengetes setiap penziarah yang akan masuk. Pertanyaan pertama yang mereka ajukan: “enta Muslim (apakah kamu Muslim)?” Jika Anda jawab ya, ada pertanyaan kedua: “iqra al-fatihah (tolong baca al-fatihah). ” Kalau hafal Anda lulus, dan bisa masuk, kalau tidak jangan harap bisa masuk.

Saya ingin meledak menghadapi mereka. Saya langsung nyerocos saja dengan bahasa Arab, yang membuat mereka tersenyum, “kaffi, kaffi, ba’rif enta muslim (cukup, cukup, saya tahu Anda Muslim).” Saya ingin meledak menyaksikan ini karena untuk kesekian kalinya kaum Muslim mempertontonkan kedunguan mereka. Kota Tua adalah wilayah turisme dan bukan sekadar soal agama. Para petinggi Yahudi dan Kristen rupanya menyadari itu, dan karenanya mereka tak keberatan jika semua pengunjung, tanpa kecuali, boleh mendatangi rumah-rumah suci mereka.

Tapi para petinggi Islam rupanya tetap saja bebal dan senang dengan rasa superioritas mereka (yang sebetulnya juga tak ada gunanya). Akibat screening yang begitu keras, hanya sedikit orang yang berminat masuk Haram al-Syarif. Ketika saya shalat Maghrib di Aqsa, hanya ada dua saf, itupun tak penuh. Menyedihkan sekali, padahal ukuran Aqsa dengan seluruh latarnya termasuk Qubbat al-Shakhra sama besarnya dengan masjid Nabawi di Madinah. Rumah tuhan ini begitu sepi dari pengunjung.

Tentu saja, alasan penjaga Aqsa itu adalah karena orang-orang non-Muslim haram masuk wilayah mesjid. Bahkan orang yang mengaku Muslim tapi tak pandai membaca al-Fatihah tak layak dianggap Muslim. Para penjaga itu menganggap non-Muslim adalah najis yang tak boleh mendekati rumah Allah.

Saya tak bisa lagi berpikir. Sore itu, ingin saya kembali ke tembok ratapan, protes kepada Tuhan, mengapa anak bontotnya begitu dimanja dengan kebodohan yang tak masuk akal.

  • Sumber artikel: Unknown
  • Sumber image:  Israel Argiculuter Speciality Tour, Geoty

.

Advertisements

24 thoughts on “Beberapa Catatan dari Israel

  1. Copypaste pertanyaan menarik mbah,
    Kalo kafir menguasai nusantara(bkn indonesia) dibilang menjajah, tp kalo muslim menguasai spanyol(cordoba) ato turki thd byzantium dibilang jaman keemasan islam..
    Trus apa standartnya si penjajah tulen.?

    1. Kang Arya Suro,
      Menurut saya tidak ada standarnya. Kasusunya mirip dengan pindah agama. “Pindah agama dari mana ke mana” maka istilah, perlakuan atau hukumnya adalah berbeda. Jadi “standard” ya dinilai dari sudut yang paling menguntungkan.

  2. inspiring artikel mbah, tapi akan lebih bagus lagu kalau di lengkapai photo2nya 🙂

    saya salut dengan israel, bukan karena ia bisa mengalahkan palestina, tapi karena etos kerja dan jiwa berbangsanya.

    andai kita juga punya kedaulatan spiritual seperti mereka….

    salam cap jempol buat penulis artikelnya :)…

  3. inspiring artikel mbah, lebih bagus lagi kalau di lengkapi dengan photo2nya 🙂 …

    seluruh dunia angkat jempol buat israel, bukan karena ia bisa mengalahkan palestina, tapi karena etos kerja dan spirit kebangsaannya.

    oh ya, kalimat : Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas….

    itu maksutnya apa ya mbah? ada yang tahu nggak? saya kok rada bingung…

    makasih…

    1. Dewi,

      Usulan memberi photo adalah bagus, cuma masalhnya artikel di atas adalah copy paste catatan perjalanan orang, jadi sepertinya tidak relevan kalau saya melampirkan photo yang saya comot dari tempat lain. Dari sisi kaidah penulisan menurut saya adalah salah.

      Sepertinya ada beberapa salah ketik atau tertukar kata pada artikel di atas, namun saya tetap “menampilkan apa adanya”. Revisi kadang saya lakukan, namun hanya sebatas salah ejaan (spelling), spasi dan tanda baca.

      Artikel di atas telah menimbilkan polemik di beberapa media/blog dan saya mengambil resiko dengan memuatnya di blog ini. Maklum, khan blog ini bukan blog homo, namun blog hetrogen dalam arti pengunjungnnya beragam. Diantara sebagian pembaca yang tidak suka, ada juga mereka yang mau belajar tanpa peduli asal ilmunya entah dari bangsa israel, China atapun bangsa Kuntilanak……

      salam

    1. Dear pak Wager,
      Saya dengarkan bahwa alunan musik yang dihasilkan dari harp itu menentramkan, I’m speecless pak Wage..

      Salam

    2. Om Daniel,
      Duh, saya jadi ndak enak berulang kali dikirimi lagu sendirian. Saya bagi ke rekan pembaca yang lain saja ya.

      Berikut saya juga ikutan kirim musik. Semoga kedamaian tercipta di negeri Arab. salam

    3. Om Wager,
      Memang musik media yang menenangkan, dan alat harp aslinya adalah alat musik khusus yang tidak bisa dilink-kan dengan alatmusik lain. karena itu adalah “sacred”. Bisa merusak kedamaian tentunya.
      Salam.

    4. Om Daniel, mau tanya nih,
      Kenapa alat musik Harp kebanyakan dimainkan oleh kaum perempuan? Sepertinya pemusik harp pria. relatif jarang saya lihat.

    5. Om Daniel,
      Oh terimakasih om terimakasih… hatiku kembali tenang damai setelah mendengar alunan lagu instrumentalia Stairway To Heaven yang dimainkan dengan petikan jari jari indah lincah gemulai lentik pada snaar harp, oh ternyata sangat membantu sekali untuk menyembuhkan hatiku yang lagi galau ini, Sekali lagi terimakasih Om atas bantuannya menampilkan lagu terindahnya…

  4. artikel propaganda yang menyesatkan!!

    ‘negara’ israel adalah hasil dari perampasan tanah air bangsa palestine yang telah mereka (bangsa palestine) diami ribuan tahun.

    tiba2 tahun 1948 milisi2 israel yang dikumpulkan dari berbagai penjuru melakukan perampasan dan mengusir orang palestine dari tanah mereka, dari rumah2 mereka sendiri.

    ibaratnya bangsa lain tiba2 menginvasi tanah jawa dan merampasnya dari kalian semua, menjadikan kalian manusia2 yang terusir, berdasarkan klaim bahwa tanah jawa adalah milik moyang mereka ribuan tahun lalu.

    kalau kalian tidak paham juga saya hanya bisa berdoa semoga kalian mengalami bagaimana rasanya diusir semena-mena dari tanah kalian sendiri. nanti kalau sudah mengalami sendiri saya jamin kalian akan paham.

  5. Dukka atau penderitaan ada banyak ragam. Miskin, sakit, bodoh, putus cinta, trtindas, djajah, dll a/ bagian dari dukha. Namun tkadang kita tidak sadar bahwa dukha tbesar a/ pnyakit hati : benci, syirik, tamak….kita tkena pyakit ini namun tidak myadarinya…miris bukan?namun ini realita!
    Dari dunia tcipta sampai saat ini, perang hanyalah meninggalkan penderitaan…., siapapun yg mjadi hakim atas hidup saudaranya a/ tidak benar kcuali Dia yg bisa mberi khidupan.
    Memiliki jiwa dan hati ksetiakawan tidaklah salah, sbaliknya harus diapresiasi…namun pmbelaan yg mbabibuta bukankah hanya mbawa kpd kbodohan…, ada negeri di ujung sana katanya sedang dtindas oleh tetangganya…bgitu jauh negeri itu namun pnderitaannya dekat sekali d hati ini, tapi taukah kau saudara….bukalah pintu rumahmu, bjalanlah dan lihatlah skelilingmu banyak sekali mereka yg tkena gangguan jiwa atau para gelandangan bkeliaran namun tidak ada yg tketuk hatinya tuk mnolong mereka…..dimanakah jiwa sosial itu????? mereka itu saudaramu “satu bangsa,satu bahasa, satu kampung, bahkan satu agama”. Yang bisa kita lakukan hanya mjauhi, mgusir atau bpaling,mnutup mata & hati, mbiarkan sang waktu yg bjalan bsama mereka.
    Tlalu jauh bila kita mnilai mana anak Tuhan, mana bangsa kafir….bila pribadi tidak bisa bkata2 & dpenuhi benci yg tak beralasan.
    Ada tertulis ” iman tanpa aksi adalah mati”, hukum yg ptama a/ iman kpada Allah, hukum yg kedua a/ kasih. Kasih itu tidak mnanyakan apa agamamu atau apa suku bangsamu

  6. Om Daniel ini gravatarnya hitam, maklum kebanyakan “caring” jadi makin hitam karena sering nontok paskibraka lagi pada latihan upacara

    1. tak tik tok tik tak tok…. suara sepatu para paskibraka berbaris di kejauhan….. berbaris membawa bendera sang saka merah putih menuju tiang bendera…. waah keren habis…

  7. mau kah kamu mengerti arti dan maknanya hidup ini …contoh sebagian kecil ….Bunda theresa…

    Perkataan IBU TERESA (Silahkan Dibaca)
    12 Maret 2013 pukul 19:03
    Inilah perkataan yang diucapkan ibu Teresa sebelum Berpulang Kehadapan Allah BAPA.

    “Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri dia sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya tertutup, yang merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat – kemiskinan spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi.”

    Mereka yang miskin secara materi bisa menjadi orang yang indah. Pada suatu petang kami pergi keluar, dan memungut empat orang dari jalan.Dan salah satu dari mereka ada dalam kondisi yang sangat buruk. Saya memberitahu para suster : “Kalian merawat yang tiga; saya akan merawat orang itu yang kelihatan paling buruk.” Maka saya melakukan untuk dia segala sesuatu yang dapat dilakukan, dengan kasih tentunya.Saya taruh dia di tempat tidur dan ia memegang tangan saya sementara ia hanya mengatakan satu kata :” Terima kasih ” lalu ia meninggal. Saya tidak bisa tidak harus memeriksa hati nurani saya sendiri.Dan saya bertanya : ” Apa yang akan saya katakan, seandainya saya menjadi dia ?” dan jawaban saya sederhana sekali.Saya mungkin berusaha mencari sedikit perhatian untuk diriku sendiri. Mungkin saya berkata :” Saya lapar, saya hampir mati, saya kedinginan, saya kesakitan, atau lainnya”.Tetapi ia memberi saya jauh lebih banyak ia memberi saya ucapan syukur atas dasar kasih.Dan ia mati dengan senyum di wajahnya. Lalu ada seorang laki-laki yang kami pungut dari selokan, sebagian badannya sudah dimakan ulat, dan setelah kami bawa dia ke rumah perawatan ia hanya berkata :”Saya telah hidup seperti hewan di jalan, tetapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi dan dipedulikan.” Lalu, setelah kami selesai membuang semua ulat dari tubuhnya, yang ia katakan dengan senyum ialah :”Ibu, saya akan pulang kepada Tuhan” – lalu ia mati. Begitu indah melihat orang yang dengan jiwa besar tidak mempersalahkan siapapun, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Seperti malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya secara rohani sedangkan miskin secara materi.* Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.* Hidup adalah keindahan, kagumi itu.* Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.* Hidup adalah tantangan, hadapi itu.* Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.* Hidup adalah pertandingan, jalani itu.* Hidup adalah mahal, jaga itu.* Hidup adalah kekayaan, simpan itu.* Hidup adalah kasih, nikmati itu.* Hidup adalah janji, genapi itu.* Hidup adalah kesusahan, atasi itu.* Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.* Hidup adalah perjuangan, terima itu.* Hidup adalah tragedi, hadapi itu.* Hidup adalah petualangan, lewati itu.* Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.* Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.
    Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.

    1. makasih pencerahannya Om PNL, inspiratif sekali.

      simbah, mungkin komment ini nanti bisa di unggah sebagai artikel tersendiri.

      keharuman cinta bunda Teresa memang ruaarrr biasa.

      salam kasih dan damai.

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s