Kakawin Sutasoma

DLM0087S_27.tifKakawin Sutasoma adalah salah satu kitab yang termasyur dan sangat penting dalam sejarah Indonesia. Mengapa penting? Ya tentu saja karena landasan dasar pemersatu bangsa yaitu  “Bhinneka Tunggal Ika” diambil dari salah satu bait dari kitab Sutasoma. 

Apa sih sebetulnya kitab Sutasoma itu, apa isinya, siapa penulisnya dst, saya coba tulisankan ataupun mendiskusikan. Ah, sebetulnya sama sekali tidak tepat disebut “menuliskan” karena isinya tidak lebih dari opini serta copy paste saja..

Keterangan gambar: lukisan Bali gaya Kamasan yang mengisahkan tentang Sutasoma.  Sumber image: –

Kitab Jawa atau Kitab Bali ? 

Kakawin Sutasoma tentu saja merupakan kitab Jawa, ditulis oleh Mpu Tantular dan tahun pembuatan yaitu sekitar abad ke-14 NAMUN uniknya kitab ini nyaris “tidak populer” di tanah Jawa. Kitab ini justru sangat populer di daerah Bali yang bisa dilihat dari banyaknya salinan naskah yang ada serta masih dibaca atau dilantunkan hingga kini. Cerita tentang Sutasoma juga banyak ditemukan pada seni lukis Bali.

Satu satunya naskah dari Jawa yang ditemukan adalah berasal dari daerah sekitar pegunungan Merapi dan Merbabu di Jawa Tengah, sehingga sering disebut “Koleksi Merapi-Merbabu”. [Referensi Wikipedia]

Berbeda dengan naskah dari Jawa yang (tentu saja) berhuruf Jawa, naskah dari Bali adalah berhuruf Bali, namun bahasa yang digunakan tetap bahasa Jawa Kuno yang di Bali disebut dengan bahasa Kawi.

Ah, sepertinya ulasan yang tidak terlalu penting. Darimanapun asal atau sumbernya, yang jelas salah satu bait dari kakawin ini mengajarkan kita tentang indahnya keberagaman.  Kemudian cerita tentang Sutasoma juga banyak memuat ajaran mulia tetang moral dan pengorbanan.

Sedikit cerita, dimasa masih muda dulu, sayapun pernah membuat beberapa lukisan bertema Sutasoma, menampilkan adegan Sang Tokoh yang sedang dimakan oleh seekor naga. Tema ini adalah adegan yang paling disukai oleh para pelukis tradisional. Tema lain yang juga populer adalah Sutasoma yang merelakan diri dimakan oleh harimau demi menyelamatkan anak harimau yang hendak dimakan oleh induknya. Karena cuma berstatus sebagai seniman abal-abal, lukisan Sutasoma yang saya buat nyaris sebulan penuh itu akhirnya menjadi koleksi sarang laba-laba alias tidak laku dijual. Ha…ha….ha….

SUTASOMA VERSI CERITA/MYTHIOLOGI

Ringkasan Cerita (sumber Wikipedia)

Calon Buddha (Bodhisattva) dilahirkan kembali sebagai Sutasoma, putra Raja Hastinapura, prabu Mahaketu. Setelah dewasa Sutasoma sangat rajin beribadah, cinta akan agama Buddha. Ia tidak senang akan dinikahkan dan dinobatkan menjadi raja. Maka pada suatu malam, sang Sutasoma melarikan diri dari negara Hastina.

Maka setelah kepergian sang pangeran diketahui, timbullah huru-hara di istana, sang raja beserta sang permaisuri sangat sedih, lalu dihibur oleh orang banyak.

Setibanya di hutan, sang pangeran bersembahyang dalam sebuah kuil. Maka datanglah dewi Widyukarali yang bersabda bahwa sembahyang sang pangeran telah diterima dan dikabulkan. Kemudian sang pangeran mendaki pegunungan Himalaya diantarkan oleh beberapa orang pendeta. Sesampainya di sebuah pertapaan, maka sang pangeran mendengarkan riwayat cerita seorang raja, reinkarnasi seorang raksasa yang senang makan manusia.

Alkisah adalah seorang raja bernama Purusada atau Kalmasapada. Syahdan pada suatu waktu daging persediaan santapan sang prabu, hilang habis dimakan anjing dan babi. Lalu si juru masak bingung dan tergesa-gesa mencari daging pengganti, tetapi tidak dapat. Lalu ia pergi ke sebuah pekuburan dan memotong paha seorang mayat dan menyajikannya kepada sang raja. Sang raja sungguh senang karena merasa sangat sedap masakannya, karena beliau memang reinkarnasi raksasa. Kemudian beliau bertanya kepada sang juru masak, tadi daging apa. Karena si juru masak diancam, maka iapun mengaku bahwa tadi itu adalah daging manusia. Semenjak saat itu beliaupun gemar makan daging manusia. Rakyatnyapun sudah habis semua; baik dimakan maupun melarikan diri. Lalu sang raja mendapat luka di kakinya yang tak bisa sembuh lagi dan iapun menjadi raksasa dan tinggal di hutan.

Sang raja memiliki kaul akan mempersembahkan 100 raja kepada batara Kala jika beliau bisa sembuh dari penyakitnya ini. Sang Sutasoma diminta oleh para pendeta untuk membunuh raja ini tetapi ia tidak mau, sampai-sampai dewi Pretiwi keluar dan memohonnya. Tetapi tetap saja ia tidak mau, ingin bertapa saja.

Maka berjalanlah ia lagi. Di tengah jalan syahdan ia berjumpa dengan seorang raksasa ganas berkepala gajah yang memangsa manusia. Sang Sutasoma hendak dijadikan mangsanya. Tetapi ia melawan dan si raksasa terjatuh di tanah, tertimpa Sutasoma. Terasa seakan-akan tertimpa gunung. Si raksasa menyerah dan ia mendapat khotbah dari Sutasoma tentang agama Buddha bahwa orang tidak boleh membunuh sesama makhluk hidup. Lalu si raksasa menjadi muridnya.  Lalu sang pangeran berjalan lagi dan bertemu dengan seekor naga. Naga ini lalu dikalahkannya dan menjadi muridnya pula.

Maka akhirnya sang pangeran menjumpai seekor harimau betina yang lapar. Harimau ini memangsa anaknya sendiri. Tetapi hal ini dicegah oleh sang Sutasoma dan diberinya alasan-alasan. Tetapi sang harimau tetap saja bersikeras. Akhirnya Sutasoma menawarkan dirinya saja untuk dimakan. Lalu iapun diterkamnya dan dihisap darahnya. Sungguh segar dan nikmat rasanya. Tetapi setelah itu si harimau betina sadar akan perbuatan buruknya dan iapun menangis, menyesal. Lalu datanglah batara Indra dan Sutasoma dihidupkan lagi. Lalu harimaupun menjadi pengikutnya pula. Maka berjalanlah mereka lagi.

Hatta tatkala itu, sedang berperanglah sang Kalmasapada melawan raja Dasabahu, masih sepupu Sutasoma. Secara tidak sengaja ia menjumpai Sutasoma dan diajaknya pulang, ia akan dikawinkan dengan anaknya. Lalu iapun berkawinlah dan pulang ke Hastina. Ia mempunyai anak dan dinobatkan menjadi prabu Sutasoma.

Maka diceritakanlah lagi sang Purusada. Ia sudah mengumpulkan 100 raja untuk dipersembahkan kepada batara Kala, tetapi batara Kala tidak mau memakan mereka. Ia ingin menyantap prabu Sutasoma. Lalu Purusada memeranginya dan karena Sutasoma tidak melawan, maka beliau berhasil ditangkap.

Setelah itu beliau dipersembahkan kepada batara Kala. Sutasoma bersedia dimakan asal ke 100 raja itu semua dilepaskan. Purusada menjadi terharu mendengarkannya dan iapun bertobat. Semua raja dilepaskan.

SUTASOMA VERSI KITAB/KaKAWIN

Bagian Depan, berisi syair-syair tentang Manggala. Manggala artinya pemujaan. “Manggala ini memuja Sri Bajrajñana yang merupakan intisari kasunyatan. Jika beliau menampakkan dirinya, maka hal ini keluar dalam samadi sang Boddhacitta dan bersemayam di dalam benak. Lalu beberapa yuga disebut di mana Brahman, Wisnu dan Siwa melindungi. Maka sekarang datanglah Kaliyuga di mana sang Buddha datang ke dunia untuk membinasakan kekuasaan jahat.” [Text di salin mentah dari Wikipedia]

Sutasoma Manggala 1

Çrî Bajrajñâna çûnyâtmaka parama sirânindya ring rat wiçes. lîlâ çuddha pratis.t.hêng hredaya jaya-jayângken mahâswargaloka ekacchattrêng çarîrânghuripi sahananing bhur bhuwah swah prakîrn. asâks.ât candrârka pûrn.âdbhuta ri wijilira n sangka ring Boddhacitta

Sri Bajrajñana, manifestasi sempurna Kasunyatan adalah yang utama di dunia. Nikmat dan murni teguh di hati, menguasai semuanya bagai kahyangan agung. Ia adalah titisan Pelindung tunggal yang menganugrahi kehidupan kepada tri buwana – bumi, langit dan sorga – seru sekalian alam. Bagaikan terang bulan dan matahari sifat yang keluar dari batin orang yang telah sadar.

Sutasoma Manggala 2

Singgih yan siddhayogîçwara wekasira sang sâtmya lâwan bhat.âra
Sarwajñâmûrti çûnyâganal alit inucap mus.t.ining dharmatattwa
Sangsipta n pèt wulik ring hati sira sekung ing yoga lâwan samâdhi
Byakta lwir bhrântacittângrasa riwa-riwaning nirmalâcintyarûpa

Ia yang diterangi, yang manunggal dengan Tuhan, memang benar-benar Raja kaum Yogi yang berhasil.Perwujudan segala ilmu Kasunyatan baik kasar ataupun halus, diajikan dalam sebuah doa dan puja yang khusyuk.Singkatnya, mari mencari-Nya dengan betul dalam hati, didukung dengan yoga dan samadi penuh.Persis bagaikan seseorang yang merana hatinya merasakan rasa kemurnian Yang Tak Bisa Dibayangkan.

Sutasoma Manggala 3

Ndah yêka n mangkana ng çânti kineñep i tutur sang huwus siddhayogi. Pûjan ring jñâna çuddhâprimita çaran.âning miket langwa-langwan. Dûrâ ngwang siddhakawyângitung ahiwang apan tan wruh ing çâstra mâtra. Nghing kêwran déning ambek raga-ragan i manah sang kawîrâja çobha.

Maka itulah ketentraman hati yang dituju seorang yogi sempurna. Biarkan aku memuja dengan kemurnian dan kebaktian tak tertara sebagai sarana untuk menulis syair indah. Mustahil aku akan berhasil menulis kakawin sebab tiada tahu akan tatacara bersastra. Namun, sungguh malu dan terganggu oleh pikiran akan sebuah penyair sempurna di ibukota.

Sutasoma Manggala 4

Pûrwaprastâwaning parwaracana ginelar sangka ring Boddhakâwya.
Ngûni dwâpâra ring treat kretayuga sirang sarwadharmânggaraks.a .
Tan lèn hyang Brahma Wis.n.wîçwara sira matemah bhûpati martyaloka. Mangké n prâpta ng kali çrî Jinapati manurun matyana ng kâla murkha

Pertama dari semua cerita yang saya gubah diturunkan dari kisah-kisah sang Buddha.Dahulukala ketika dwapara-, treta- dan kretayuga, beliau merupakan perwujudan segala bentuk dharma. Tiada lain sang hyang Brahma, Wisnu dan Siwa. Semuanya menjadi raja-raja di Mercapada (dunia fana).Dan sekarang pada masa Kaliyuga, Sri Jinapati turun di sini untuk menghancurkan kejahatan dan keburukan.

Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5. Lengkapnya ialah:

Sutasoma 139.5

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal.
Terpecah belahlah itu, tidak ada kebenaran  yang mendua

Sutasoma 148.1

Nâhan tântyanikang kathâtiçaya Boddhacarita ng iniket .
Dé sang kawy aparab mpu Tantular amarn.a kakawin alangö .
Khyâtîng rat Purus.âdaçânta pangaranya katuturakena .
Dîrghâyuh sira sang rumengwa tuwi sang mamaca manulisa

Maka inilah akhir dari sebuah cerita indah dan digubah dari kisah sang Buddha. Oleh seorang penyair bernama mpu Tantular yang menggubah kakawin indah.Termasyhur di dunia dengan nama Purusadasanta (pasifikasi raja Purusada).Semoga semua yang mendengarkan, membaca dan menyalin akan panjang umurnya.

Sutasoma 148.2

Bhras.t.a ng durjana çûnyakâya kumeter mawedi giri-girin.
Dé çrî râjasa raja bhûpati sang angd.iri ratu ri Jawa.
Çuddhâmbek sang aséwa tan salah ulah sawarahira tinut.
Sök wîrâdhika mêwwu yêka magawé resaning ari teka

Hancur lebur para durjana, tak berdaya, gemetar, takut karena ngeri.Oleh Sri Rajasa yang bertakhta di Jawa.Para abdinya berhati murni dan melaksanakan segala perintahnya tanpa salah.Sungguh banyak para pahlawan unggul, jumlahnya ada ribuan yang memberikan rasa takut kepada para musuh.

Sutasoma 148.3

Ramya ng sâgara parwatêki sakapunpunan i sira lengeng.
Mwang tang râjya ri Wilwatikta pakarâjyanira n anupama.
Kîrn.êkang kawi gîta lambing atuhânwam umarek i haji .
Lwir sang hyang çaçi rakwa pûrn.a pangapusnira n anuluhi rat

Indahlah laut dan gunung di bawah penguasaannya.Dan ibukota Wilwatikta (= Majapahit) sungguh indah di luar bayangan.Banyaklah jumlah para penyair, tua dan muda yang menggubah nyanyian dan kakawin yang menghadap sang ratu.Bagaikan Dewa Candra kekuasaannya menyinari dunia.

Sutasoma 148.4

Bhéda mwang damel I nghulun kadi patangga n umiber i lemah.
Ndan dûra n mad.anêka pan wwang atimûd.ha kumawih alangö.
Lwir bhrân.tâgati dharma ring kawi turung wruh ing aji sakathâ.
Nghing sang çrî Ran.amanggalêki sira sang titir anganumata.

Berbeda dengan karyaku bagaikan gajah yang terbang di atas tanah. Mustahillah menyamai karena orang bodoh yang seolah-olah menulis kakawin indah. Seperti seseorang yang bingung mengenai kewajiban seorang penyair tidak mengenal peraturan bersyair.Namun Sri Ranamanggala juga yang menjadi panutanku.

Opini, Disikusi dan Pendapat

Penggalan dari kekawin Sutasoma yang dipakai motto oleh negara saat ini sepertinya sangat tepat dan pas dengan kondisi keragaman yang ada di Nusantara. Keragamanan yang dimaksud adalah dalam bentuk luas, bisa berupa toleransi agama, ras, suku ataupun toleransi keragaman lainnya.

Namun sampai kapankah motto Bhinneka Tunggal Ika ini bisa menjadi perekat dan pemersatu bangsa? Sepertinya tidak ada seorangpun yang mampu menjawabnya. Dilihat dari kecendrungan ketidaktoleransian sejumlah orang, organiasasi massa ataupun partai politik, baik diakui atau tidak diakui, sepertinya motto yang sudah disepakati ini perlahan lahan mulai kehilangan kekuatannya.

Kalau dilihat dari filosofi dasar atau latar belakang dari kekawin Sutasoma ini memang ditujukan (hanya) pada toleransi antar agama  HinduSiwa dan Buddha saja. Wajar saja karena agama yang ada saat itu hanyalah 2 agama tersebut.  Walaupun toleransi yang dimakud (mungkin) kebablasan yaitu DIANGGAP SAMA, namun di kala itu sepertinya filosofi ini sangat cocok dan berfungsi sebagai mana mestinya.

Bagaimana dengan situasi sekarang ini? Apakah filosofi dasar dari Kekawin Sutasoma masih relevan digunakan? Entahlah. . . . . .

wager.png

 

 

 

.

3 thoughts on “Kakawin Sutasoma”

  1. Pak Wage,
    Topik ini om sangat suka, tentang kawin. Hmmm, nikmat berjuta rasanya. Hahaha . Eh maksud om seperti teori himpunan matematika juga loh. Ekstrim A… (wanita) dan Ekstrim B…. (pria), dipadukan jadi Turunan Baru Yang Menyatukan Keekstriman dari A dan B menjadi produk baru C… Hmmm apa itu C?.
    Maaf, sedikit canda saja Pak Wage.
    Salam

    1. Ha..ha…ha….
      Komentar yang lucu. Disini bebas bercadna koq, Wong namanya juga blog abal2.

      Sedikit bahas tentang canda, gaya bercanda di atas, yaitu memplesetkan kata seperti kakawin menjadi kawin, kalau di Jepang disebut oyaji gyagu alias canda gaya orang tua. Contoh lain:

      “Mbah, sudah mandi ?”
      “Ah, mati ?!! Sentoloyo lu, gua masih hidup tahu !!”

      Ha…ha…ha…
      Saya cukup sering bercanda dengan memplesetkan kata. Mungkin ini tanda2 kalau saya sudah ….tua?.

      salam

  2. Luar biasa suci dan tulus hati Empu Tantular
    Beliau sangat memahami perbedaan yang manunggal
    Saya fikir beliau tidak hanya merenungkan Siwa Budha, namun berbagai perbedaan yang sebenarnya satu.
    Jadi sangatlah relevan dijadikan pegangan kita semua, bahkan di kaki burung Garuda yg sebagai lambang negara kita tertulis Bhinneka Tungal Ika

    Selamat mas Wage dan mas Daniel yang luar buasa
    Salam
    Nyoman Kertia

Kolom Nama, Mail atau Web bisa dikosongkan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s