Horee ! Akhirnya Kepala Daerah Kembali Dipilih DPRD

rapat-dprPenulis : Wage Rahadjo. Di penghujung bulan September 2014 ini, sejarah perjalanan demokrasi di Indonesia kembali memasuki “babak baru” yaitu pemilihan kepala daerah kembali dilakukan oleh DPRD. Dengan pemilihan model baru ini maka diharapkan akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas, bebas dari praktek politik uang, penghematan anggaran biaya pilkeda dll.  

  • Kualitas apaan Mbah?  Bukankah ini berarti kemunduran demokrasi?

Duh, Sampean berpikiiran terlalu negatif Nak. Para wakil rakyat itu bukan orang sembarangan. Mereka adalah kumpulan orang-orang terbaik dan terpercaya pilhan rakyat, jadi apa yang mereka lakukan sudah pasti demi rakyat buaaanyak Nak.

Tidak ada istilah kemuduran, yang benar adalah mengembalikan ke posisi semula sesuai UUD 45. Bukankah dulu semua pemimpin di negeri ini dipilih oleh anggota dewan? Bahkan presiden-pun dulu dipilih oleh anggota dewan dan entah karena apa akhirnya dipilih secara langsung meniru-niru pemilu di Amerika. Nah, ini khan parah dan kagak benar Nak, apalagi ikut-ikuran bikin acara debat calon segala.

Memang sih, peran rakyat dalam memilih pemimpin nantinya akan menjadi berkurang atau tepatnya nyaris tidak ada, tapi khan semuanya sudah diwakilkan? Setidaknya dengan model pemilihan pikada baru rasa lama ini maka beragam konflik dan benturan selama masa kompanye bisa dihindari. Rakyat juga memiliki lebih banyak waktu untuk beraktifitas jadi tidak jenuh dengan pemilu dan pilkada melulu, apalagi kalau sampai pilkeda diulang karena dianggap bermasalah. Nah, repot khan?

  • Ah, aku ndak percaya Mbah. Ujung ujung-nya khan duit dan kekuasaan juga ?

Lha, itu lain masalah Nak. Wakil rakyat juga manusia jadi perlu duit agar dapur bisa ngebul. Saat rapat juga ada uang rapat-nya jadi itu juga pemasukan, nanti revisi UU, dapat duit lagi. Kekuasaan juga artinya duit. Kalau kekuasaan hilang ya pemasukan juga hilang. Sampean kira semuanya gratis?

Politik ya artinya berebut kekuasaan. Partai manapun adalah sama saja. Demi kekuasaan, segala cara akan dilakukan. Pihak yang kalah akan berkumpul dan membuat atau merevisi UU untuk menjegal pihak yang kalah. Disaat sudah berkuasa maka giliran pihak yang dikalahkan yang akan merevisi UU. Begitulah seterusnya. Bukan hanya sebatas pilkada saja. Kita mah jadi penonton atau obyek penderita doang.

Saya cendrung percaya bahwa di masryarakat yang kualitanya rendah maka cendrung akan menghasilkan kualitas pemimpin atau wakil rakyat yang juga berkualitas rendah. Apakah ini artinya kualitas kita secara keseluruhan adalah rendah? Entahlah…… Yang jelas, saya ataupun tulisan di blog ini sih tidak keberatan disebut kualitas rendah. Itu artinya kita harus meningkatkan diri bukan?

Minggu ini, dunia antariksa dikejutkan oleh keberhasilan pesawat antariksa India sudah berhasil memasuki orbit planet Mars. Rakyat dan media di negeri tersebut sibuk membahas dan memberitakannya. Sedangkan negeri ini rakyat dan pemeritah masih sibuk dengan urusan pilkada lansung atau tidak langsung atau bahkan sebagian orang masih berkutat dengan perbedaan antara 6 x 4 atau 4 x 6. Duh !

  • Ndak nyambung Mbah !

Ha…ha…ha… benar juga. Sebagai penutup, saya berharap dengan pilkada lewat DPRD maka akan negeri ini akan menjadi lebih baik. Kalaupun toh nantinya pilpres langsung juga dihapuskan yang berarti presiden dipilih oleh MPR, harapan saya tetap sama yaitu semoga negeri ini menjadi bertambah bagus.

Politik adalah kekuasaan, siapa yang berkuasa dialah yang mengatur dan kita sebagai rakyat cuma jadi penonton atau kuda tunggangan doang.

wager.png

22 thoughts on “Horee ! Akhirnya Kepala Daerah Kembali Dipilih DPRD”

  1. Mbah, kommentku tak pindah di sini aja, di sebalah ada orang gila mbah 0_o

    Ikut berdukacita…

    Hari ini, serikat pekerja desain dan cetak baliho pilkada gelar istighosah. Solidaritas tukang sablon dan biduan elekton pun rapatkan barisan. Bendera setengah tiang siap dikibarkan. Ini semua reaksi dari job kampanye yang dipastikan hanya tinggal kenangan.

    Lembaga survey mulai ancang2 antara gulung tikar atau ganti orientasi jadi surveyor perkreditan. Pengamat politik sibuk urus berkas buat daftar CPNS demi parameter masa depan yang lebih menjanjikan di persepsi mayoritas calon mertua. Anggota KPU dan Bawaslu juga akan lebih terasah skill domino dan caturnya akibat berkurangnya pekerjaan.

    Telah berpulang ke haribaan DPR, demokrasi Indonesia dalam usia 16 tahun. Akan dikebumikan hari ini, bersama dikebumikannya harapan akan hadirnya pimpinan2 daerah bermutu hasil seleksi rakyat.

    Jangan lagi pernah bermimpi ada gubernur mencak2 saat menemukan pungli di bea cukai, walikota histeris di taman bunga, atau walikota yang meminjamkan jabatan lewat twitter. Pemimpin2 daerah unik yang hebat dan lahir dari rakyat ini akan berganti oleh tokoh2 politik kaku, produk partai, hasil kongkalikong dengan mereka yang mengatasnamakan rakyat, entah rakyat dari planet mana.

    Konon ini demi menyelamatkan puluhan triliun uang rakyat. Tapi sebenarnya sama saja. Karena harus dibarter dengan kehilangan “rejeki” lima tahunan dari sembako dan amplop serangan fajar. Jadi jatuhnya seperti 4×6 dan 6×4, hasilnya tetap sama, 24.

    Belum lagi ibu2 yang akan kehilangan kesempatan melihat wajah Ganteng-ganteng Hamdan Zoelva, mengingat perkiraan minimnya potensi gugatan pilkada.

    Yang diuntungkan sementara hanya perusahaan sedot WC, cuci sofa, dan badut ultah. Space iklan di pohon2 dan tiang listrik tak lagi harus berbagi dengan wajah2 calon kepala daerah.

    Diakui atau tidak, ini adalah catatan sejarah sekaligus prestasi terbesar yang dihasilkan satu dekade pemerintahan SBY, selain menghasilkan 5 album lagu mengalahkan Raisa dan Afgan.

    Tapi disamping itu, ini juga jadi berita duka nestapa ke dua di minggu ini, selain berita Spongebob yang dieliminasi KPI.

    Menyoal wewenang KPI, jika saja lebih jeli, sebenarnya tontonan rapat voting semalam lebih layak diawasi karena sarat konten berbahaya yang terstruktur, sistematis dan masif. Selain pembohongan publik lewat akting walkout, disinyalir ada indikasi penistaan agama lewat kalimat takbir yang diucapkan pada tempat yang tidak semestinya.

    Sangat disayangkan jemaah haji kita sudah lebih dulu berangkat ke tanah suci. Andai belum, mungkin mereka bisa latihan manasik haji dengan melempar jumrah di gedung itu saat voting semalam.

    Pada akhirnya, selamat menjadi penonton dagelan. Mari mencari hikmah saja, bahwasanya bersyukurlah kita yang jadi rakyat meskipun dengan embel2 “kecil” tapi menyongsong hari tua dalam damai, daripada menjadi rakyat dengan embel2 “wakil”, tapi menyongsong hari tua dengan jadi sampel pesakitan majalah Hidayah.

    Betapa luar binasa hebatnya prestasi wakil rakyat kita, hingga pilihan kita kini hanya ada dua : Menelan dengan getir, atau segera ke imigrasi, mengurus passport, ganti kewarganegaraan Zimbabwe:mrgreen: ….

  2. iya, bener, saya juga tidak setuju, tapi… itulah indonesia, undang2 itu dibuat hanya untuk dilanggar… dan mengenai pergantian pemerintahan baru yang meninggalkan prestasi yang luar binasa hebatnya itu, siapa tahu mungkin presiden baru nanti bisa merombaknya, ya hitung2 kalau mengadakan rapat kan juga untuk memberi uang saku kepada wakil rakyat … (entah rakyat dari planet mana yang di wakili):mrgreen:

  3. senayang jadi ajang pergerakan & manuver politik ……politik otak kotor ….koalisi merah putih …….semoga rakyat cepat tahu dan cepat sadar ………ada 3 hal yang harus dilakukan ….

    1. Mahkamah Konstitusi harus pertahankan UU dan PP sebelum Pil PRES…..yg sudah sesuai…..batalkan demi keadilan semua yang mengandung manuver politik otak kotor …….

    2.seluruh rakyat indonesia harus memaksa tanpa syarat …..sebelum pilleg……seluruh partai yang ikut dalam pemilihan pilleg harus menandatangani ….nota persetujuan dan perjanjian….dari rakyat …..jangan seenaknya setelah jadi pileg …dgn meminjam atas nama rakyat….untuk melancarkan aksi otak kotor nya …..dan ini harus menjadi syarat dari KPU… untuk ikut pilleg

    1. rakyat secara serentak dan tegas …mengingatkan hak DPR….yang telah melampaui wewenang……..apabila tidak diindahkan bubarkan saja DPR …..kita mengadakan pilleg ulang …setiap partai harus sudah memiliki nota persetujuan dan perjanjian dgn rakyat….sebelum mengikuti pilleg ulang…

    untuk menangkis manuver politik otak kotor ……( MK ) Mahkamah Konstitusi harus lebih rasional & jangan ragu2…libas aja …rakyat pasti bela kebenaran……. …menyikapi pergerakan dan manuver politik ..koalisi merah putih…..

    Semoga rakyat tetap sadar ……Negara Dalam Keadaan Genting……waspadai koalisi merah putih
    TNI & POLRI ……harus lebih siap dan siaga penuh …..

    Semoga Tuhan Melindungi …..kebenaran dan keadilan ….. Aminn

  4. salam sejahtera,
    mungkin ada baiknya melihat realitas, kadang disuatu wilayah ada yg namanya massa itu identik dengan kaum raksasa…..ketua organisasi masyarakat, atau ketua preman berpengaruh pun dapat menjadi pemimpin lo kalo dipilih langsung dari rakyat, yg dimaksud pemilihan melalui perwakilan adalah musyawarah mufakat lebih tetapnya sebelum akhirnya voting…..raksasa itu sifat2 manusia juga, karakter nya yg berdasarkan suara banyak bukan mengandalkan kualitas dari pemilihan sayembara…..hehehehe

  5. realitas apaan?… mengerikan -_-

    http://baranews.co/ web/read/22127/3.prediksi. mengerikan. ahok.setelah.prabowo. cs.menangkan. pilkada.dprd#.VCc5wldrJFp

    kalau kembali ke mental feodal atau terpusat malah seperti orde baru alias ABS= yang penting bapak senang:mrgreen:

  6. SBY, “Presiden Terlicik yang Pernah Dimiliki Indonesia”

    Seharusnya kita, rakyat Indonesia pendukung pilkada langsung sadar bahwa ketika SBY melalui akun YouTube-nya, pada Minggu, 14 September 2014 menyatakan sikapnya bahwa dia (tentu saja otomatis Partai Demokrat) telah mengambil sikap untuk mempertahankan pilkada langsung, karena itulah yang sangat diinginkan rakyat, sesungguhnya dia sedang mengulangi taktiknya membohongi parpol-parpol pendukung pilkada langsung (PDIP cs), dan terutama kita, rakyat Indonesia. Parpol-parpol sebesar PDIP saja bisa diperdayai, apalagi rakyat biasa.

    • Taktik Lama SBY

    Taktik yang sama sebetulnya pernah SBY lancarkan ketika menjelang Pilpres 2014, yaitu dalam beberapa pernyataannya yang memberi indikasi kuat bahwa pihaknya tidak bakal mendukung dan memilih Prabowo-Hatta. Hal itu tercermin antara lain dengan pernyataannya bahwa dia tidak akan memilih calon presiden yang berbahaya bagi bangsa dan negara. Meskipun tidak menyebutkan nama, jelas yang dimaksudnya adalah Prabowo Subianto. Karena ketika itu SBY menyampaikan pernyataannya itu disertai dengan sindirannya ada calon yang manifesto politik parpol-nya ingin UUD 1945 dikembalikan seperti sebelum amandemen, dan anti terhadap investor-investor asing yang dikatakan telah menguasai Republik ini. Hanya Gerindra-lah yang mempunyai manifesto politik sepert itu.

    Di lain kesempatan SBY juga menyatakan bahwa Partai Demokrat memutuskan netral, artinya tidak berkoalisi dengan PDIP/Jokowi, maupun dengan Gerindra/Prabowo. Faktanya, para petinggi dan kader Demokrat dalam sikapnya berpihak kepada Gerindra/Prabowo, dan dibiarkan. Mungkin diam-diam diapun bersikap yang sama. Bahkan saat pencoblosan, mungkin SBY memilih Prabowo.

    Mundur lagi ke belakang, putusnya hubungannya dengan Megawati, berawal dari ketidakjujuran SBY ketika ditanya Megawati yang waktu itu menjadi atasannya (Megawati presiden, SBY menteri), menjelang Pilpres 2004. Waktu itu lebih dari sekali Megawati meminta konfirmasi kepada SBY, apakah benar dia akan ikut mencalonkan diri sebagai presiden. SBY menjawabnya, tidak. Ternyata, diam-diam dia sedang menyusun strateginya untuk mencalonkan diri di Pilpres 2004, bersaing dan berhasil mengalahkan Megawati.

    Ketika itu strategi yang dijalankan SBY adalah strategi mengambil hati rakyat Indonesia, yang dilakukan dengan menempatkan dirinya sebagai korban yang dizalimi Megawati. Mayoritas pemilih di Pilpres 2004 itu berhasail diperdayai, sehingga memilihnya, dan dia menang. Sejak itu SBY berkali-kali menggunakan strategi sebagai “korban yang zalimi”, sasaran teroris, dan lain-lain, untuk mendapat simpatik dari publik, tetapi lama-kelamaan sudah tidak mempan lagi. Karena rakyat jenuh dan mulai muak dengan taktik yang terus diulang-ulang itu. Strategi itu menjadi bumerang baginya, setiap kali dia curhat ke publik, bukan simpatik yang didapat, melainkan antipati dan kecaman.

    Saya pernah mengkritik sikap Megawati yang ngotot tidak mau berdamai dengan SBY, dari 2004 sampai sekarang, ternyata Megawati benar, saya keliru. SBY memang sosok yang tidak bisa dipercaya. Orangnya kelihatan saja lembut dan bijak di depan, tetapi di belakangnya sebaliknya.

    Puncak dari sikapnya ini ditunjukkan menjelang akhir masa jabatannya sebagai Presiden. Dengan mewariskan kembalinya sebagian kekuatan Orde Baru melalui Pilkada tidak langsung.

    Seharusnya memang sejak awal kita tidak percaya dengan SBY dalam hal RUU pilkada ini. Karena sejak awal, bukankah SBY-lah inisiator dari hasrat untuk mengubah sistem pilkada langsung oleh rakyat menjadi kembali pilkada oleh DPRD?
    + Karena Kader Demokrat Selalu Kalah di Pilkada

    Inisiatif SBY itu berawal dari Juni 2012. Kemungkinan besar inisiatif SBY itu didasarkan kepada kekhawatirannya bahwa di hampir semua pilkada langsung, kader-kader Demokrat selalu kalah. Hal ini diyakini sebagai dampak dari tertangkapnya mantan bendahara DPP Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, pada 7 Agustus 2011, setelah dinyatakan buron oleh KPK sejak April 2011. Tertangkapnya Nazaruddin dengan “nyanyian mautnya” berhasil menyokot petinggi-petinggi lainnya di Demokrat. Satu persatu petinggi Demokrat, ditangkap dan dipenjarakan KPK. Akibatnya, kredibilitas Demokrat terjun bebas di mata rakyat. Dampaknya hampir di semua pilkada, kader (yang didukung) Demokrat kalah.

    Semakin khawatir dengan fenomena ini, yang memunculkan ide SBY untuk berinisiatif mengajukan perubahan UU Pilkada tersebut. Dengan dasar pertimbangan, di pilkada langsung, semakin tipis kader Demokrat bisa menang, karena rakyat sudah tidak percaya lagi kepada mereka. Rakyat tidak bisa diatur. Tetapi, kalau di DPRD, pasti semua itu bisa diatur.

    Ketika mengajukan inisiatif dan naskah akademik RUU Pilkada yang isinya pilkada diubah menjadi melalui DPRD, pada 6 Juni 2012, semua parpol, termasuk Gerindra cs menolaknya. Dalam rentang waktu pembahasan RUU tersebut selama dua tahun ini, pemerintah dua kali mengubah usulannya. Awalnya mengusulkan gubernur dipilih oleh DPRD, bupati/walikota dipilih langsung. Berubah menjadi sebaliknya, gubernur dipilih langsung, bupati/walikota dipilih oleh DPRD.

    Setelah Prabowo kalah di Pilpres 2014, yang dikuatkan oleh MK pada 21 Agustus 2014, Gerindra dan parpol-parpol pendukungnya yang bergabung di Koalisi Merah Putih tiba-tiba berubah sikapnya 180 derajat. Mereka segera memanfaatkan RUU Pilkada tersebut dengan mendukung semua kepala daerah harus dipilih oleh DPRD. Tentu saja dengan maksud dan strategi politik tersembunyi terhadap pemerintahan Jokowi-JK, mengepung Jokowi dari seluruh daerah, melemahkannya, bilamana perlu melengserkannya di tengah jalan. Amien Rais pernah mengutarakan agendanya untuk dalam satu tahun akan melengserkan Jokowi.

    • Strategi Licik SBY

    SBY sebenarnya diam-diam sangat senang, karena KMP malah mendukung lebih dari apa yang diainginkan, yaitu bukan hanya gubernur, atau bukan hanya bupati/walikota, tetapi dua-duanya, yaitu gubernur dan bupati/walikota harus dipilih oleh DPRD. Tetapi, seiring dengan itu pula, semakin besar pula penolakan dari rakyat terhadap pilkada tidak langsung. Tentu, SBY tidak berani terang-terangan menentang kehendak rakyat itu, mengingat citranya selama 10 tahun menjadi presiden relatif cukup baik. SBY adalah sosok yang sangat mementingkan pencitraan, dia tentu tak mau citranya rusak di mata rakyat, tetapi itulah yang kini terjadi.

    SBY sangat pintar menyembunyikan perasaan sebenarnya, sambil diam-diam menyusun strategi baru, bagaimana caranya untuk tetap bisa tampil dengan pencitraan sebagai presiden yang perduli terhadap aspirasi rakyat banyak, tetapi bersamaan dengan itu mendukung pilkada tidak langsung.

    Pada Minggu, 14 September 2014 itu dimulailah strategi dan sandiwara politik itu. Dengan memanfaatkan akun YouTube-nya, “Suara Demokrasi”, SBY menyatakan bahwa dia mendukung untuk mempertahankan Pilkada langsung oleh rakyat. Alasannya secara historis, pilkada langsung sudah sangat sesuai dengan aspirasi rakyat.

    Sandiwara dilanjutkan oleh Ketua Harian Partai Demokrat Syarief Hasan, yang melalui konferensi persnya beberapa hari setelah pernyataan SBY itu, menyatakan mendukung sepenuhnya pilkada langsung, dengan embel-embel pilkada langsung dipertahankan dengan sepuluh perbaikan yang harus dilakukan.

    Setelah itu, tibalah permainan sandiwara puncak digelar. Tempatnya di gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta Pusat, waktunya, Kamis, 25 September – 26 September 2014 dini hari, melalui penyampaian pendapat oleh fraksi-fraksi, perdebatan dan lobi-lobi yang alot dan melelahkan.

    Dalam penyampaian pendapatnya, Partai Demokrat menyatakan mendukung mempertahankan pilkada langsung tetapi harus dengan syarat mutlak, yaitu DPR harus setuju dengan 10 syarat yang disebutkan itu. Padahal sebelumnya 10 syarat itu tidak pernah disinggung, apalagi sebagai syarat mutlak. Dengan usulan Demokrat itu, maka akan terdapat tiga opsi, yaitu opsi pilkada tetap langsung oleh rakyat, pilkada tidak langsung (oleh DPRD), dan ketiga pilkada langsung dengan 10 syarat mutlak yang disampaikan Demokrat itu.

    Sangat gampang ditebak, Demokrat sengaja menyampaikan 10 syarat mutlak itu, karena mereka yakin, semua fraksi, termasuk PDIP cs, pasti menolaknya. Oleh karena itu ketika juru bicara Demokrat, Benny Kabur Harman menyampaikan pendapat dan usulanya itu, dan langsung didukung sepenuhnya oleh PDIP dan PKB, tanpa dapat dicegah, spontan Benny menunjukkan ekspresi terkejut. Dia kaget luar biasa, PDIP, PKB dan Hanura malah mendukung usulannya yang diharapkan akan ditolak PDIP cs itu.

    Skenario Demokrat adalah sebagai berikut, jika opsi ketiga itu disetujui untuk ikut dimajukan dalam voting, maka pasti semua anggota Fraksi Demokrat akan memilih opsi ketiga mereka ini. Jadi, tidak ada tambahan suara dari Demokrat untuk opsi pertama. Perhitungan Demokrat, PDIP cs akan tidak setuju dengan opsi pilkada dengan 10 syarat mutlak itu. PDIP, PKB dan Hanura diyakini akan tetap bertahan dengan opsi pertamanya. Dengan demikian mereka pasti kalah suara dengan KMP ketika voting diadakan. Maka itu Benny spontan kaget ketika PDIP, PKB, dan Hanura justru menyatakan setuju ikut mendukung opsi ketiga Demokrat itu. Karena. jika voting dilakukan, opsi pertama bisa saja nol suara, beralih semuanya ke opsi ketiga. Padahal aslinya SBY dan Demokrat hanya ingin opsi kedua yang menang. Maka, tidak ada jalan lain, selain plan B dilaksanakan: Demokrat harus segera walkout, agar PDIP, PKB dan Hanura berhadapan sendiri dengan KMP. Dengan demikian PDIP cs itu sudah pasti kalah. Dan, itulah yang terjadi.

    Maka itulah, Benny terpaksa melanjutkan sandiwara Demokrat, meskipun PDIP, PKB, dan Hanura dengan jelas-jelas menyatakan mendukung opsi ketiga itu. “Sebagai partai yang menjunjung tinggi kesantunan, kami tidak ingin keberadaan kami menjadi persoalan. … Dengan demikian, kami mengambil sikap netral dan walkout dari persidangan,” kata Benny disambut dengan tepuk tangan riuh dari fraksi-fraksi di KMP.

    Karena tidak punya alasan yang tepat atas tindakan walkout itu, maka Benny asal bunyi saja, ketika ditanya wartawan, kenapa sudah didukung PDIP, PKB, dan Hanura, kok malah walkout? Kalau tidak walkout, kan pasti pilkada langsung (meskipun dengan 10 syarat) itu yang menang? Benny beralasan, dukungan ketiga parpol itu hanyalah pura-pura, lip service saja. Apa indikasinya kalau dukungan itu hanya pura-pura? Sesuatu yang sangat tidak mungkin, karena kalau PDIP cs itu hanya pura-pura mendukung, malah itu merugikan mereka sendiri, karena pasti kalah ketika voting dilakukan.

    Juga, bagaimana bisa dia mengatakan khawatir keberadaan Demokrat menjadi persoalan, kalau keberadaan mereka justru sangat penting dan dibutuhkan agar opsi pilkada langsung itulah yang menang?

    Kemungkinan besar, yang dimaksud Benny dengan “kerberadaan Demokrat bisa menjadi persoalan” itu ada;ah persoalan bagi KMP.
    Lebih konyol lagi, ketika ditanya wartawan, seusai rapat paripurna itu, Benny menuduh pernyataan dukungan dari PDIP dan PKB terhadap opsi yang diajukan Demokrat itu hanya pura-pura, “lip service”, pemanis bibir saja. Dari mana sampai diabisa menarik kesimpulan atas tuduhannya itu? Jelas sekali, ini hanya alasan yang terlalu dicari-cara, yang semakin menujukkan belangnya Demokrat.
    Hal ini diperkuat dengan tidak beraninya Syarif Hasan dan Ibas untuk melayani wawancara watawan. Kedua petinggi Demokrat itu memilih menghindar dari wartawan. Kalau tidak merasa bersalah, kenapa takut dengan wartawan? Ternyata Demokrat itu, berani berbuat, tetapi tidak berani bertanggung jawab. Sudah licik, pengecut pula!

    • SBY Selalu Berseberangan dengan KPK

    Jelaslah sudah, di penghujung masa jabatannya sebagai presiden, SBY telah berperan penting untuk mengembalikan kekuatan Orde Baru kepada rakyat, yang dulu dengan mati-matian disingkirkan oleh rakyat pada Mei 1998. Hal ini tidak sepenuhnya mengherankan, karena bagaimana pun masih ada bibit-bibit Orde Baru pada dirinya, sama dengan tokoh-tokoh penting lainnya di KMP: Prabowo Subinato, Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie, dan juga Amien Rais, sang reformis bunglon.

    Demikian juga semakin jelas sikap SBY dan Demokrat yang sesungguh selalu bertentangan sikap dengan KPK, cocok benar dengan sikap umumnya parpol-parpol di KMP, terutama PKS, yang sebenarnya sangat ingin KPK dibubarkan.

    KPK secara nyata-nyata menentang pilkada tidak langsung, karena menurut KPK berdasarkan pengalaman mereka dalam melakukan berbagai penyidikan kasus korupsi, justru pilkada oleh DPRD-lah yang akan semakin menyuburkan korupsi. Yaitu melalui kongkalikong kepala daerah dengan DPRD. Karena setelah terpilih dan sepanjang menjadi kepala daerah, keterikatan dan hutang budi antara kepala daerah dengan DPRD itu tetap ada. Kepala daerah akan selalu tunduk pada apa maunya DPRD, kalau tidak ingin diganggu, atau dilengserkan oleh DPRD.

    Sebelumnya akhirnya opsi pilkada tidak langsung yang menang, pada Kamis (25/9) malam, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menilai, argumentasi bahwa kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat cenderung melakukan korupsi tidaklah tepat. Bambang mengatakan, anggota DPRD yang terjerat korupsi selama ini justru lebih banyak daripada kepala daerah.

    “Berdasarkan data Djohermansyah Johan (Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri), kepala daerah yang kena kasus korupsi 290 orang. Data kita, DPRD yang kena itu sudah 3.600-an. Waduh berarti 1 tahun 300 tuh dengan jumlah kabupaten dan kota yang sama. Artinya yang paling korup DPRD-nya dong?” kata Bambang.
    “Kalau kekuasaan diberikan kepada orang korup itu dengan sistem pemilihan tak langsung, selesailah. Ketemulah dua kekorupannya,” ujar Bambang.

    Bambang menambahkan, kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah cenderung terjadi setelah pilkada sehingga tidak berkaitan dengan proses pilkada langsung. Dia mencontohkan kasus penyuapan beberapa kepala daerah kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mokhtar untuk memenangi sengketa pilkada.
    + “Dari situ dapat kita simpulkan, korupsi kepala daerah tidak ada hubungannya dengan pemilihan langsung,” ujarnya. (Kompas.com)

    Perjuangan belum selesai, saya yakin RUU PIlkada dengan sistem pilkada tidak langsung itu pasti akan segera digugat ke Mahkamah Konstitusi setelah disahkan. Dan, saya percaya MK akan lebih mendengar aspirasi rakyat daripada DPR dan SBY.
    Sebagai hukumannya, kita, rakyat pendukung pilkada langsung, harus lebih tegas dan total, untuk menghukum semua parpol pendukung pilkada tidak langsung itu, dengan tidak akan memilih mereka di pemilu 2019.

    SBY pasti sedang berbohong, ketika dari Washington DC, Amerika Serikat, menyampaikan kekecewaannya atas menangnya pilkada tidak langsung. Kalau sungguh-sungguh dia kecewa, pasti sejak awal dia tak akan pernah mengizinkan Demokrat walkout dari ruang sidang DPR itu, karena SBY pasti tahu dengan tindakan walkout itu justru memberi kemenangan kepada pilkada tidak langsung. Buktinya, SBY sama sekali tidak mempermasalahkan tindakan walkout itu. Saya percaya, kalau dikatakan walkout itu sebenarnya merupakan bagian strategi kunci dari SBY sendiri.

    Dari ulasan tersebut di atas, rasanya tidak berlebihan jika saya katakan, “SBY adalah presiden paling licik yang pernah dimiliki Indonesia”.

    SBY akan dicatat dalam sejarah Republik ini, sebagai presiden yang berperan penting berhasil mengembalikan sebagian kekuatan Orde Baru kepada rakyatnya melalui pilkada tidak langsung. SBY adalah “Bapak Pilkada Tidak Langsung”. ***

  7. ….Kang @ sby…..kayaknya sich seperti itulah ……tp bagi kita yach…..sebagai rakyat kecil …..kita simpan saja di hati …..apa yang telah dilakukan pemimpin kita SBY…..kalau dalam waktu dekat …..pemilihan tidak langsung tetap disahkan ……rakyat sudah bisa mengerti semua skenario ini….dan itu artinya rakyat harus cepat mendesak …pelantikan ….JOKOWI _ JK …..di percepat ……sebelum KMP ……… membuat manuver lagi ….merubah UU ….untuk melemahkan posisi presiden terpilih Jokowi – Jk……

    sebenernya …..ada pertanyaan yang muncul dari dalam hati …..seandainya benar SBY dan partainya demokrat melakukan sandiwara kecil di gedung Parlemen …….di akhir jabatan beliau…..ini sungguh2 aneh …….tentu beliau tidak semudah itu menukar nama baiknya….dengan sebuah rencana kecil…..

    kalau bukan rencana kecil …….tentu rencana besar …….??????????
    maaf sensor……karena beliau masih menjabat sebagai Presiden …..secara pribadi sy harus menghargai …….beliau

    jgn tanya saya ….tanyakan saja di dalam hati nurani kalian masing2……pasti anda tahuuuu…

    1. Hati nurani : yang saya tahu hati nurani ndak pernah … bohong. Banyak orang di Nusantara mengikuti kata pemimpin mereka, dus sering … salah.

  8. ada cerita rakyat kecil ……judulnya ……kerajaan Singosari…..

    tokoh yang paling lucu dan menyedihkan itu …..adalah …..” KEBO IJO ”

    terus apa hubungannya dgn kondisi sekarang ……PRABOWO …sepertinya hampir mirip tokoh ……” KeBO IJO “…….

    sttttt…..jgn ribut ….ada hubungannya dgn coment diatas……hahaha…

  9. Selamat datang Pak SBY

    Ada yg tau apa itu ‪#‎ShameOnYouSBY‬
    ‪#‎ShameByYouSbY‬
    ‪#‎WelcomeMrLiar‬

    Itu adalah PEOPLE POWER
    kenapa harus ada people power, krn itu adalah KUASA RAKYAT untuk menggugat para pejabat ditingkat Lembaga Tinggi dan Tertinggi

    Kalau ada cara lain dimna bisa seorang rakyat biasa mengemukakan pendapatnya secara LANGSUNG JELAS DAN DITANGGAPI, tanpa takut ditangkap dan dihukum, tolong sebutkan cara itu

    Kecuali kalo anak menteri Atau anak anggota dewan?
    Pastilah akan didengar dan ditanggapi
    Maaf aku cuma anak rakyat kebanyakan yg tdk punya kuasa apa
    Yang bisanya cuma teriak

    #WelcomeMrLiar
    Apakah Bapak sehat?

  10. Kang @ SBY…..yuk…yuk… ramai2 buat …….” KOALISI RAKYAT SEMESTA ”

    tanya Kang @wager …setuju tidak ……..terus tanya …temen2 yang lain padeee setuju tidakkkk

  11. Surat ini saya tulis pada jam yg uncivilized karena setelah ikut berbicara ttg “perpu” di El Shinta ( jam 01:30 dinihari) tidak bisa tidur lagi karena sedih. Dutch wife (guling tidak punya). . Hiburannya hanya membuka mail, dan menunggu esok hari untuk mengambil uang pensiun yg sedikit (menurut istilah Presidenmu yang badut itu. Walaupun sedikit tetapi saya syukuri karena memberi kehidupan. Beberapa hari yl Presiden badut itu menerangkan bahwa gaji Menteri dan Presiden terlalu sedikit.. Kok sampai hati berkata begitu tanpa melihat struktur remunerasi gaji professor, dan lain pegawai tinggi. Hanya memikirkan dirinya sendiri)..

    Yg saya omongkan tadi sederhana: Presiden hendak mengeluarkan “perpu”–perpu itu bisnisnya Pemerintah NKRI. Tetapi kok Rapatnya di Hotel dengan Demokrat yg anggautanya bodo2 tidak tahu “membedakan” all out dengan walk out.

    Saya juga berbicara ttg logical non sequitur. Pengambilan keputusan di DPR dianggap syah tanpa menghitung quorum–karena quorum sudah ditentukan pada awal Rapat. Rapat desa saja memerlukan kuorum untuk mengambil keputusan pada saat keputusan akan diambil, bukan pada awal Rapat.
    .
    Salam sebel, (mungkin Anda tidak setuju dengan konotasi itu karena lebih berbudi.dan bijaksana dp saya).. “dp” harus dibaca penuh seperti di jaman Orde Baru.

  12. syg sekali obrolan2 kangmas semua,tak berpengaruh samasekali buat apa yg diperbincang.
    Kita ngobrol gimana supaya oyes tahan lama ajah..mantapp loooh.

  13. saya setuju pendapat poro pinisepuh tentang seruan moral… maju terus!!

    sudah bukan jamannya lagi protes turut pinggir dalan, gontok2an memenuhi jalan apalagi membawa2 obeng atau pedang atau apalah.

    lewat ‘tulisan’ ternyata juga bisa mengguncang posisi nyaman mereka, kesadaran ala people power ini konon seperti bola salju yang menggelinding. sayangnya ocehan twitter ‘shame on you sby’ secara mendadak menghilang alias dicekal secara sepihak oleh mentri infotelekomunikasi, padahal sudha di follower lebih dari seperempat juta penduduk. ini menunjukkan besarnya respons rakyat yang kebetulan tidak memiliki akses dan kesempatan bertatap muka secara langsung dengan para wakil rakyat tapi bisa menyuarakan aspirasinya lewat dunia maya.

    saya mendukung seruan moral ini, sebagai rakyat kita juga harus bisa memposisikan diri untuk menjadi/ sebagai ‘pengingat’ penguasa yang saat ini lagi kejar tayang memproduksi sinetron opera sabun ‘tragedi demokrasi ala sby’… sebuah reality show yang sarat akan kepentingan sebagian kelompok di DPR😮 …

  14. Melihat kericuhan sidang paripurna dpr semalam, ada yg berkomentar: “mau dibawa kemana bangsa ini?”.. Bagiku itu pertanyaan yang tidak tepat. Bangsa ini tetap bangsa Indonesia. Yg benar pertanyaannya: “Mau kemana para PEKERJA PARTAI ITU….?

    ‪#‎RakyatGugat‬

    1. negara ini tergantung fraksi atau partai.mana yg kuat itu yang menang. So..kita tonton saja pak sby. .lebih penting mana negara atau partai?

    2. Inggih pak SBY,

      kita semua juga prihatin, semoga dengan pergantian pemimpin, bisa membawa perubahan yang positive kedepannya. apalah artinya seorang presiden, what can he do menghadapi MPR, tapi pasti rakyat nanti nggak akan tinggal diam.

      life is not just for today, there will always be tomorrow, there will be always a chance. …. and change.

      @ RP,

      iya abang, saya bukan bu hakim, saya nggak punya palu, saya hanya punya tanduk ^_*…

  15. bagi penggemar RP sejati tersembunyi ini noku 082216922713. Ayo kita berbagi…bg wanita jomloh majuuu sy siap nyosor hehe pembenci RP kalaut sajahhh hahaha. Mari kita eratkan tangan.satukan asa,visi misi dan mosooo. Salam berjoged riang..hati senang gembira.
    @ dewi montok kalau kecirebon hub kakang.nanti tak jamu mau apa aja tp byr sendiri hehehe maklum bang RP blum buka brankas harta amanahnya hehe.salam damai sejahtera dan bahagia selalu buatmu,keluargamu,tetanggamu dan seluruh saudara dan rekan2mu termasuk seluruh leluhurmu . Raja Phandita mengucapkan salam sejahtera.mksh

Kolom Nama, Mail atau Web bisa dikosongkan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s