Seno Gumira Ajidarma: Dodolotdodolitdodolitbret

Cerpen karya Seno Gumira Ajidarma

(Kompas Minggu, 26 September 2010)

 “Mana ada orang bisa berjalan di atas air.” pikirnya. Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa dg benar. “Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik,” karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan2 bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijal di mana2?”

Adapun dongeng yg didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yg berdoa dg benar, akan mampu berjalan di atas air.

Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yg dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air. Namun, ia juga sangat sadar sesadar2nya, pembayangan yg bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dg mata kepala sendiri.

“Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya,” untuk menegaskan kebebasan jiwa yg akan didapatkan siapa pun yg berdoa dg benar,”

Justru krn itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yg ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dg cara yg benar. Adapun yg dimaksudnya berdoa dg benar bukanlah sekedar kata2nya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dg kepercayaan yg mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatau yg benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yg akan lebih benar.

Kebahagiaan yg telah didapatkan membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun ingin selalu membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara doa yg benar. Ternyata tidak sedikit pula orang yg percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bhw dg berdoa scr benar, bukan hanya krn cara2nya, ttp jg krn tahap kejiwaan yg dpt dicapai dg itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yg lebih memungkinkan utk mencapai kebahagiaan.

Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sbg Guru Kiplik. Mereka yg telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dpt dicapai dg berdoa secara benar, merasa sgt berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi. “Ijinkan kami mengikutimu Guru, ijinkanlah kami dapat mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.

Namun Guru Kiplik selalu menolaknya. “Tidak ada lagi yg bisa daku ajarkan selain mencapai kebahagiaan,” katanya,” dan apalah yg bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”

Guru Kiplik bukan semacam manusia yg mengaggap dirinya seorang nabi, yg begitu yakin bisa membawa pengikutnya bisa masuk surga. Ia hanya seorang yg ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.

Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, berdoa dg cara yg benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu ttempat ke tempat yang lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yg benar. Di setiap tempat orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yg benar.

Sementara itu, kadang2 Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yg berdoa dg benar bisa berjalan di atas air. “Ah itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.

Suatu ketika dlm perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu, sehingga di tengahnya terdapat sebuah pulau. Ia telah mendengar kabar bahwa di pulau tersebut terdapat orang2 yg belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang2 itu kemungkinan besar belum mengetahui dara berdoa yg benar, krn tentunya siap yg mengajrkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tida lagi yg bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng2 kepala. “Danau seluas lautan.” pikirnya, “apalagi yg masih bisa kukatakan?”

Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa menapai pulau itu, yg konon terletak tepat di tengah danau, benar2 tepat di tengah, shg jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, krn kedudukannya hanyalah bagaikan nokytah di danau seluas lautan.

Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yg ditempuh Guru Kiplik. Namun akhirnya ia sampai juga ke pulau tsb. Ternyata bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun untuk dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekedar hanya utk melihat dunia. Tidak terdapat satu pun perahu di pulau itu.

“Jangan2 mereka mengira bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah dnau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.

Namun alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di sampijng bekerja juga tidak purus2nya berdoa! “Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik,” mereka berdoa dg cara yg salah.”

Maka dg penuh pengabdian dan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan mereka cara berdoa yg benar. Setelah bbrp saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yg salah itu.

Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yg salah tsb, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri! “Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk krn cara mereka berdoa yg salah,” pikir Guru Kiplik. Sebenarnya cara berdoa yg diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi. “Jangan2 setan sendirilah yg selalu menyesatkan mereka dg cara berdoa yg salah itu,’ pikir Guru Kiplik lagi.

Guru Kiplik hampir2 merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yg luar biasa, akhirnya sembilan org itu berhasil juga berdoa dg cara yg benar. Saat itulah Guru K8iplk merasa sudah waktunya untujk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yg benar. “Syukurlah mereka terhindar darti kutukan yg tidak dg sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

Pada saat waktu berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dg cara yg benar. Baru saja selesai berdoa, salah satu awak perahunya berteriak. “Guru! Lihat!” Guru Kiplik pun menoleh ke arah yg ditunjuknya. Aloangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari2 di atas air!

Guru Kiplik terpana, mayanya terkejap2 dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yg baru saja diajarinya cara berdoa yg benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yg bisa lebih benar, shg mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari2 di atas air?

Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak2. ” GUru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yg benar!”

= Dongbud File. Copas Artikel. Terima kasih dan salam hormat untuk penulisnya. =

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s