ISIS dan Opini Ala Khadar

peta-isisHalaman ini membahas seputar topik IS / ISIS di Irak dan Suriah dan sejenisnya, baik berupa link, video, berita, opini, konspirasi, kecaman ataupun dukungan.

Secara umum kemunculan ISIS tergolong mengejutkan atau fenomenal. Walaupun dikecam oleh banyak kalangan namun tidak bisa dibantah bahwa gerakan ini mampu menghimpun banyak simpati dan pengikut serta pengaruhnya terasa di hampir banyak negara.  

Kebanyakan info yang tertulis di media masa cendrung negatif. Benarkah ISIS sejelek dan sesadis itu? Kalau melihat dari beragam cuplikan video dan gambar ya memang benar ……….. sadis. Namun sebagian orang mungin berpendapat berbeda seperti beragam teori konspirasi yang menulis “ISIS adalah produk buatan Amerika !”

Opini pribadi saya cendrung mengatakan motifnya tidak lebih hanya kekuasaan belaka. Agama hanyalah kuda tunggangan semata. Kalau pakai motto : “Mari berjuang atas nama Kuntilanak dan demi kapling tanah Neraka !”, dijamin pasti tidak laku dijual.

Kemunculan gerakan ini mungkin membuat sebagian orang Islam senang, namun juga tidak malah susah. (Baca: ISIS Membuat Hidup Corbin Sebagai Seorang Mualaf Tidak Aman). Entahlah mana yang benar, namun satu hal yang saya tahu dan yakin benar, salah satu sahabat saya,  warga abal-abal jaga,  adalah orang Islam yang sangat humanis dan selalu menolak cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan.

Kenapa prilaku bisa berbeda? Saya cuma bisa menduga-duga “Islamnya mereka mungkin tidak sama dengan Islamnya teman saya.”.  Walaupun memakai buku atau kitab yang sama, output-nya bisa jadi sangat berbeda. Entahlah…… opini anda mungkin berbeda.

PS: Topik uji coba. Kalau diskusi menjadi liar tidak terkendali maka halaman ini akan ditutup. Semua orang harus memoderasi dirinya sendiri.

Advertisements

3 thoughts on “ISIS dan Opini Ala Khadar

  1. Menurut saya, Islam ya Islam. Islam yg diterapkan ISIS dan Islam yang dipeluk oleh tetangga saya adalah agama yang sama. Yang membedakan adalah orang yang memeluknya. Tetangga saya jauh lebih manusiawi dan menghargai sesama dibandingkan dengan orang-orang ISIS. Tingkat pendidikannya, cara berpikirnya, kepribadian tetangga saya menghasilkan kelakuan islami yang jauh berbeda dari orang-orang ISIS. Tapi, sekali lagi, ini menurut saya……mungkin benar kata orang….agama hanya untuk orang-orang yang berpikir. Begitu pendapat saya, mbah Wage…..

  2. Penghinaan atau Pesan yang tak Sampai?

    Kang Hasan

    Saya postingkan kembali karikatur di Koran terbitan London Al-Quds al-Arabi dan dimuat ulang di Jakarta Post, kemudian menuai protes, dianggap sebagai penghinaan terhadap Islam. Mari kita simak gambarnya. Mari kita simak gambarnya. Gambar terdiri dari 2 bagian. Di latar belakang tampak orang bersenjata sedang menodong, siap membunuh beberapa orang dengan mata tertutup disaksikan oleh beberapa orang lain mobil. Di latar depan, seseorang sedang mengibarkan bendera. Bendera hitam dengan tulisan “laa ilaha illallah Muhammad rasulullah”, dengan gambar tengkorak menyatu dengan tulisan itu.

    Bagian inilah yang menuai protes. Tulisan kalimah syahadat yang suci dijajarkan dengan gambar tengkorak dianggap melecehkan. Tengkorak adalah simbol kejahatan. Karenanya tidak pantas dijajarkan dengan kalimah suci. Menjajarkannya adalah sebuah penghinaan.

    Mari kita bayangkan gambar itu dengan sedikit perubahan. Kita hilangkan gambar tengkorak pada bendera itu. Apa yang kita lihat? Yang kita lihat adalah orang bersenjata, menodongkan senjata kepada sejumlah orang dengan mata tertutup, siap membunuh mereka. Kejahatan pembunuhan dilakukan di bawah naungan kalimah suci, “laa ilaha illallaah Muhammad rasulullah”.

    Pada gambar imajinatif kita, tak ada lagi kalimah suci yang dijajar dengan gambar tengkorak. Jadi taka da lagi penghinaan. Umat Islam tak perlu lagi merasa terhina. Tapi tunggu dulu. Benarkah begitu? Saya ulangi lagi kalimat saya di paragraf atas. “Seseorang siap membunuh beberapa orang lain di bawah naungan kalimah suci, laa ilaha illallah.” Tidakkah umat Islam merasa terusik dan terhina dengan gambar itu? Menurut saya terhina. Karena pembunuhan adalah kejahatan keji yang tak patut dilakukan di bawah naungan kalimah suci.

    Tapi dari berbagai komentar pada 2 posting saya kemarin, orang hanya sibuk berfokus pada gambar tengkorak yang dijajar. Kalau tengkorak dihilangkan, maka tak ada lagi masalah. Tak ada penghinaan.

    Karikatur adalah pesan grafis. Makna pesan disampaikan berbasis pada presepsi. Presepsi dibangun berdasarkan atas informasi yang tersedia terlebih dahulu di benak penerima pesan. Ketika kartikatur Jakarta Post itu dipubikasikan, benak sebagian pembacanya, dalam hal ini umat Islam Indonesia, hanya terisi oleh satu fakta, yaitu kalimat yang tertulis di bendera adalah kalimat suci. Maka bila ia dijejerkan dengan gambar tengkorak, maka ia sebuah penghinaan.

    Ada sebuah fakta lain yang tak tersedia di situ. Gambar grafis bendera itu memuat dua jenis pesan. Satu, ia adalah teks suci kalimah syahadat. Kedua, ia adalah gambar grafis bendera ISIS, sebuah organisasi teroris yang bengis. Ya, ISIS menggunakan kalimah suci tadi sebagai lambang mereka. Tulisan laa ilaha illallah dalam sembarang jenis huruf (font) adalah tulisan suci, kalimah syahadat belaka. Tapi tulisan itu dalam font tertentu, dalam hal ini font yang tertulis pada bendera, bermakna dua: kalimah suci, dan/atau lambang ISIS.

    Pembuat kartun hendak menyampaikan pesan bahwa ada organisasi bengis bernama ISIS yang sedang menebar teror pembunuhan. Untuk menguatkan kesan bengis ia menambahkan gambar tengkorak pada bendera ISIS. Tapi karena pembacanya, dalam hal ini sebagian umat Islam Indonesia, tidak familiar dengan lambang ISIS. Akibatnya yang terbaca oleh mereka bukan “bendera ISIS dengan pesan bengis yang dikuatkan dengan tekorak” melainkan sekedar “kalimah syahadat yang dijajar tengkorak”. Maka pesan yang tersampaikan adalah penghinaan kepada Islam.

    Kesalahan redaksi Jakarta Post adalah mereka gagal memahami pembacanya, yang tidak familiar dengan bendera ISIS. Tapi sebenarnya mungkin mereka tidak gagal. Yang protes sebenarnya dalam kesehariannya bukan pembaca Jakarta Post. Pembaca Jakarta Post dalam benak redaksi adalah para ekspatriat dan orang lokal yang terbiasa membaca media berbahasa Inggris. Asumsinya, mereka mengenal lambang ISIS. Kelalaian mereka adalah bahwa mereka lupa bahwa media ini juga dapat terbaca oleh orang lain yang tidak paham lambah ISIS.

    Jadi, saya melihat kasus ini sebagai sebuah kasus pesan yang tidak sampai. Pesan yang dipahami secara keliru. Apakah ada niat menghina oleh Jakarta Post? Kalau ada niat menghina, niatnya terletak bukan di Jakarta Post, tapi penerbit pertama karikatur ini, yaitu Koran Al-Quds al-Arabi. Siapa mereka? Menurut Wikipedia, pengelola Koran ini adalah orang-orang Palestina yang bermukim di Inggris. Kalau mau dituntut, mereka juga harus dituntut. Tapi saya tidak percaya mereka berniat seperti itu. Saya percaya mereka sekedar mengirimkan pesan tentang kekejaman ISIS.

    Masalah lain yang menggelitik batin saya adalah kenyataan bahwa orang lebih sensitive terhadap pesan “tengkorak dijajar dengan kalimah suci” ketimbang “sejumlah orang dibunih di bawah naungan kalimah suci”. Catatan lain, kalimah suci itu dipakai di berbagai tempat, di antaranya pada bendera Saudi Arabia. Ketika kita melihat tulisan “laa ilaha illallah” dalam hal itu, apa yang kita lihat? Kalimah suci atau sekedar bendera Saudi Arabia? Kalau kebetulan ada yang marah dengan negara itu, lalu membakar bendera, maka apa yang kita lihat? Orang marah kepada Saudi, atau orang sedang menghina Islam?

    Mikir!!!

    (Pemred Jakarta Post sekarang jadi tersangka akibat kasus ini.)

    Tempo.com : Pemred Jakarta Post Jadi Tersangka Penistaan Agama

    1. iya bener mbah, kata cak Lontong lewat survey kocaknya di jejaring sosial… kita harus mikiiiirrrr….

      memang sulit menyadarkan mereka, seperti halnya mereka tak pernah bisa memahami dunia luarnya selain majikannya, yang ada di kepala mereka hanya serba tuannya melulu… arabpatinggenah… mikiiiiiirrrr….

      -_-

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s