Demi Tuhan Saya Atheis

Penulis: Mohamad Guntur Romli. 

Judul di atas adalah kutipan dari kaus yang sering dipakai Dadang. Seorang pria yang mengenalkan dirinya sebagai pelukis dan mendirikan sebuah organisasi bernama Jaringan Kafir Liberal—disingkat JAKAR. Akronim yang ingin dinisbatkan pada kelamin laki-laki, namun karena Dadang memiliki lidah Sunda maka pengucapan ”z” terpeleset menjadi ”j”.

Kaus ”Demi Tuhan Saya Atheis” dipakai ke mana-mana oleh Dadang, baik pada acara-acara diskusi, pertemuan di hotel-hotel mewah, hingga lesehan-lesehan santai atau seperti pengakuan Dadang sendiri pengajian-pengajian yang dihadiri orang berjubah dan berjenggot.

Tidak hanya memaklumkan bahwa dirinya ”atheis” dan ”kafir liberal” Dadang juga memberikan kritik yang tajam — yang disertai gurauan dan cengengesan — terhadap agama-agama yang disebutnya ”impor”.

Agama-agama yang diklaim resmi di negeri ini dalam kategori Dadang — dan saya pun bersetuju — semua adalah ”agama-agama impor”. Dadang pun menyatakan, pengikut-pengikut dari ”agama-agama impor” inilah yang tak sedikit membuat keributan, dan menyingkirkan agama dan kepercayaan ”asli” di negeri ini.

Setelah menarik perhatian dengan diktum dan organisasi yang dibentuknya, Dadang pun menawarkan kaus hasil sablonannya itu. Dadang juga aktif di media sosial: facebook dan twitter.

Kemunculan Dadang bersama penyataan, kaus, komentar dan ”jaringan”nya di acara-acara umum ditanggapi santai, penuh gurau dan geli. Tak ada yang menganggap Dadang melakukan penodaan agama. Tak ada yang menganggap serius atau diambil hati.

Meskipun tak jarang kemunculan Dadang seperti sabotase terhadap acara diskusi yang serius. Yang sebelumnya kening sampai berkerut, dan para narasumber berdebat sampai urat leher benjol-benjol, ketika Dadang muncul tertawa terbahak-bahak mendengar komentar Dadang itu.

Meskipun aktif ”berkampanye” via kaus, facebook, twitter, dan ”berkhotbah” di diskusi-diskusi, adakah yang terpengaruh menjadi atheis atau tertarik masuk JAKAR versi Dadang? Setahu saya belum ada.

Namun nasib Alexander Aan seorang pegawai negeri di Dharmasraya, Sumatra Barat tak semujur nasib Dadang di Jakarta. Kini ia diadili dengan dakwaan menistakan agama hanya karena pengakuannya sebagai atheis melalui akun di facebook.

Proses Aan menjadi atheis terlihat alamiah, ia mempertanyakan kuasa Tuhan di tengah kezaliman-kezaliman yang ditemui di sekelilingnya. Kalau manusia bisa berbuat apa saja, jahat, buruk, kejam, brutal, dan seperti dibiarkan, di mana Tuhan yang Mahapengasih dan Mahapenyayang?

Pertanyaan yang klasik dan tua, setua gugatan manusia terhadap konsep agama, keadilan, dan kuasa Tuhan. Namun ternyata bagi masyarakat sekitarnya ditimpali dengan kehebohan dan ancaman fisik.

Polisi yang awalnya dengan dalih mengamankannya dari amuk massa, ternyata menetapkannya sebagai tersangka, proses pun bergulir hingga kini ia duduk di kursi pesakitan, hanya gara-gara ia mempertanyakan lagi kuasa Tuhan dan agama dalam merespon kezaliman dan kejahatan yang terjadi dalam kehidupan dunia ini.

Karakter dan tulisan Aan mungkin tidak seperti Dadang yang penuh gurau dan galau, ia dianggap serius dengan pernyataan-pernyataannya, kalau serius mengapa tidak ditanggapi dengan serius juga dengan bantahan balik dan argumentasi yang bisa mematahkan klaim-klaimnya?

Kalau Aan dianggap ”tersesat” karena mengaku dirinya sebagai atheis, mengapa pihak yang superior yang menganggap dirinya paling benar dan beriman tidak menunjukkan jalan yang lurus dan benar? Dengan cepat-cepat ingin membungkam dan memasukkan Aan ke dalam penjara secara tidak langsung mereka menganggap bahwa pendapat dan komentar Aan bisa menaklukkan dan mematahkan keyakinan mereka terhadap Tuhan dan agama.

Saya teringat ucapan Gus Mus (KH Mustofa Bisri), hal yang ironis ada pihak yang dianggap tersesat, tapi bukan ditunjukkan jalan yang benar justru dikamplengi (ditempeng, dipukul).

Apakah dengan intimidasi melalui massa, jeratan pasal-pasal karet, ancaman mendekam dalam jeruji lima tahun bisa mengubah keyakinan Aan? Saya yakin tidak. Kekerasan terhadapnya hanya akan mempertebal apa yang sudah ia yakini sebelum ini.

Justru saya merasa dengan melakukan kekerasan, intimidasi, dan penghakiman terhadap Aan secara tidak langsung kita sudah membenarkan sangkaan atheisme, bahwa kekerasan dan kezaliman sering diatasnamakan oleh pengikut yang mengaku bertuhan dan beragama.

Tiba-tiba saya mendengar Dadang berkata sambil terkekeh-kekeh, ”karena itu, demi Tuhan, Saya Atheis”

Jumat, 13 April 2012 | 10:30

Mohamad Guntur Romli

Penulis dan aktivis. Bukunya yang sudah terbit, “Dari Jihad Menuju Ijtihad”, “Ustadz, Saya Sudah di Surga”, “Muslim Feminis” dan yang baru terbit “Syahadat Cinta Rabiah al-Adawiyah”.

Sumber artikel : http://www.beritasatu.com/blog

= Dongbud File. Copas Artikel. Terima kasih dan salam hormat untuk penulisnya. =

Kolom Nama, Mail atau Web bisa dikosongkan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s