Satrio Piningit bagian IV, ” Agamanya Apa Sih?”

trowulan-wiki-350pxWage Rahardjo. Satrio Piningit adalah topik yang sangat populer. Artikel dengan topik ini bisa ditemukan dalam jumlah yang berjibum. Namun dari beragam artikel yang ada, sepertinya ada satu hal yang kurang dan nyaris tidak tidak pernah diulas oleh para bloger, yaitu agama. “Satrio Piningit itu agama-nya apa sih?”. Pertanyaan yang mungkin konyol dan sepele namun menurut saya sangat sangat penting ting ting.

  • Lho Mbah?! Bukankah agama Satrio Piningit itu sudah jelas dan pasti yaitu Islam?

Mungkin, tapi maaf, saya berpendapat beda. Bolehkan? Menurut saya, Satrio Piningit versi ramalan Joyoboyo jelas bukan orang Islam. Alasannya, ya karena agama Islam saat itu belum dikenal. Jadi agama Satrio Pingingit versi Joyoboyo adalah sesuai dengan agama yang berkembang pada masa itu seperti agama Siwa, Buddha, Kejawen atau bahkan mungkin penganut Animisme.

  • Asem Mbah ! Jadi Satrio Piningit adalah non Muslim? No Way dan itu jelas tidak mungkin kin kin !!!

Tenang saja Nak. Tidak perlu panik. Sampean benar bahwa itu adalah tidak mungkin. Mbah sendiri, walau penganut Animisme juga kagak setuju koq kalau pemimpin di negeri ini dipegang oleh non Muslim, karena bisa-bisa tiap hari rakyat demo melulu. Apalagi kalau ada bencana alam, bisa jadi semuanya akan dihubung-hubungkan dengan agama sang pemipinnya. Jadi pemimpin di negeri ini haruslah muslim. Titik.

Masalahnya sekarang, apakah kalau Satrio Piningitnya seorang muslim maka dijamin negeri akan sejahtera, tidak akan ada demo, mengunggat atau menjegal kebijakannya? Lagi lagi menurut pendapat siMbah, di negeri Kurawa ini siapapun tidak bisa memberikan jaminan.

Berdasarkan catatan sejarah yang ada, masalah agama tidak akan pernah bisa selesai di negeri ini, akan selalu menjadi isu panas. Pemimpin walaupun sudah muslim tetap saja ada pihak-pihak yang akan tidak puas. Negeri ini seakan sudah dikutuk untuk memiliki jumlah penduduk “tidak pernah bisa puas” terbesar didunia.

Ya, begitulah, urusan agama tidak akan pernah selesai di negeri Kurawa ini.Siapapun yang jadi pemimpin di negeri ini pasti tidak akan bisa tidur nyenyak. Menjadi pemimpin artinya menjadi orang yang berkuasa. Kekuasaan adalah uang atau kekayaan dan agama hanyalah kuda tunggangan belaka.

Duh, mungkin karena itulah maka Sang Satrio Piningit ogah muncul?

wage-sign-rahardjo

Artikel terkait :

 Sumber image : –

Advertisements

110 thoughts on “Satrio Piningit bagian IV, ” Agamanya Apa Sih?”

    1. “Aku bersumpah dengan jiwa yang tidak pernah merasa puas. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang belulangnya”. (Q.S Al-Qiyamah:5)
      Coretan atas: “tidak pernah bisa puas” penduduk negeri ini terbesar didunia.

    1. “Dan ada orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur-adukkan pekerjaan yang baik dengan yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S At-Taubah:102)

  1. cuplikan

    Kalian pikir situasi 2016 sudah buruk? Tunggu sampai kalian mendengar ramalan paranormal yang lebih pesimis lagi sepanjang seminar di Jakarta, yang iseng saya ikuti untuk mengisi akhir pekan.

    “Sebut nama sendiri… saya sehat bugar…harmoni dan bahagia,” ujar pria berkacamata itu di depan puluhan peserta.
    Di panggung auditorium yang mungil itu, pria menjuluki dirinya sebagai Ki Narto memperagakan cara menyayangi tubuh sendiri. Nyaris seluruh peserta hikmat mengikuti petuah sang pembicara. Mereka serempak menaruh tangan di dada. Sambil memejamkan mata, mereka melakukan sugesti rasa sayang kepada diri sendiri. Mengikuti perintah Ki Narto, tak beberapa lama giliran pundak orang di sebelah kanan masing-masing yang mereka tepuk pelan beberapa kali. Tujuannya adalah memindah rasa sayang kepada orang lain.
    Saya sempat terdiam lama. Dengan canggung saya mencoba mengikuti gerakan orang-orang di sekitar. Bagaimanapun juga, saya termasuk peserta.
    “3..2…1 di sini senang di sana senang, di mana-mana hatiku senang!”
    Semua orang di ruangan menyanyikan lagu anak klasik “Di sini Senang Di Sana Senang”.
    Seminar macam apa yang saya ikuti ini sebenarnya?
    Semua bermula, beberapa hari sebelumnya ketika saya menyimak kalender. Tahun 2016 sudah mendekati akhir. Bagi banyak orang, termasuk di Indonesia, 12 bulan terakhir adalah masa-masa kurang menggembirakan. Di Tanah Air kita harus berhadapan dengan dampak perlambatan ekonomi, beberapa kali serangan teror, hingga suhu politik panas sektarian yang melanda ibu kota dan terpaksa disaksikan orang-orang yang sebetulnya bukan penduduk Jakarta. Kabar dari luar negeri pun tak menggembirakan hati. Amerika Serikat memilih sosok Donald Trump menjadi presiden, politikus yang berulang kali mengucapkan kebencian pada kaum muslim dan imigran. Filipina, negara tetangga, memiliki presiden baru Rodrigo Duterte yang segera berkalang pelanggaran HAM. Perang Suriah, dengan segala dampaknya pada situasi dunia, tak kunjung berakhir. ISIS masih bercokol saja di Timur Tengah. Daftar kabar-kabar tak mengenakkan ini bisa terus bertambah seakan tiada ujung.
    Seperti kebanyakan orang, saya gamang menghadapi 2017. Seperti apa situasi Indonesia tahun depan? Akankah lebih baik, atau justru bisa memburuk? Di tengah suasana galau semacam itu saya melihat selebaran acara bertajuk “Sarasehan Metafisika Study Club” awal bulan ini. Tema seminar itu adalah “Meneropong kejadian tahun 2017”. Sepertinya ini acara yang perlu saya ikuti. Toh, seminarnya digelar akhir pekan, setidaknya saya ada alasan tidak berdiam saja di rumah.
    Seminar ini digelar di sebuah restoran Jakarta Selatan yang memiliki gedung pertemuan cukup besar di halaman belakang. Saya terlambat satu jam dari jadwal saat tiba di lokasi.
    Sepanjang tempat parkir menuju ruang seminar, berjejer meja-meja yang menjajakan bermacam buku dan pernak-pernik metafisika. Saya melihat judul-judul buku seperti “Zaman Edan Ranggawarsita”, “Kitab Sihir: Rahasia Kuno”, hingga “Sains & Spiritualitas”. Itu belum termasuk berbagai versi kartu tarot, cincin, dan kalung yang saya tak tahu apa fungsinya. Saya tak berminat melihat-lihat lebih lama karena acara sudah dimulai.

    1. Ketika masuk dalam auditorium dan memperoleh tempat duduk, pembicara bernama Endang mulai membacakan ramalannya mengenai situasi Indonesia pada 2017. Untung belum terlambat. Dia meramal menggunakan medium tarot, sehingga lebih populer dijuluki Endang Tarot.
      “Di kuartal ketiga 2017 akan muncul figur yang menjadi sosok harapan,” kata Endang Tarot mempresentasikan ramalannya di layar lebar menggunakan komputer. “Di saat situasi gaduh akan muncul satu figur yang kalimatnya seperti Sabdo Pandito, tak terbantahkan!”
      Saya melihat kanan-kiri. Nyaris semua kursi penuh terisi. Peserta beragam sekali. Anak muda, perempuan sepuh, pria paruh baya, sampai orang-orang dengan dandanan mencolok. Saya menduga mereka sesama paranormal.
      Kesan pesimis mewarnai ramalan-ramalan Endang tentang 2017. Misalnya saja, saat membahas situasi politik dia meramalkan adanya kegaduhan yang terjadi di masyarakat. Dalam ramalannya masyarakat akan berseteru satu sama lain, sampai datang sosok yang akan mendamaikan. Siapa sosok tersebut? Endang Tarot tidak memberikan nama maupun inisial.
      Sesi pembacaan tarot berakhir tak sampai satu jam. Sesi selanjutnya ganti diisi oleh pria bernama Gunadi. Pirantinya terkesan canggih untuk ukuran paranormal. Gunadi menggunakan software astrologi yang dapat menunjukan rasi bintang, buat menjelaskan bagaimana dampak pergerakan benda langit terhadap kehidupan manusia di hari-hari tertentu. Konstelasi rasi tersebut dipilah-pilah ke dalam grafik dan tabel, yang akan memberikan sebuah garis yang menjadi pertanda baik dan buruknya tahun tersebut. Warna garis tersebut merah. Gunadi menjelaskan merah merupakan tanda Waspada.
      “Makanya goro-goro ini akan terjadi atau bencana terjadi, karena bumi akan self healing,” kata Gunadi. Bumi menyembuhkan diri, dari apa?

      “Dari perang, dari bencana, dari mana saja! Karena (populasi) kita sudah overload,” ujarnya lebih lanjut, untungnya sebelum saya nekat bertanya.
      Kekacauan agaknya menjadi tema utama seminar ini. Indonesia mengakrabi ramalan-ramalan pesimis semacam ini. Materi yang saya tangkap, setidaknya dari dua pembicara awal, Indonesia memang harus mengalami chaos menyerupai dunia Mad Max, sebelum akhirnya bangkit menjadi bangsa besar.
      Masyarakat Indonesia memang dekat dengan dunia klenik dan ramalan. Beberapa tahun lalu, kita ingat, televisi rutin menampilkan peramal kondang untuk membahas kondisi Indonesia. Sosok yang saya akrabi misalnya Mama Laurent, kini dia sudah meninggal. Mama Laurent rutin meramalkan kawin-cerai artis-artis Indonesia, serta macam-macam kejadian yang terjadi di Indonesia. Saya ingat dulu dia meramalkan jebolnya bendungan Situ Gintung, meskipun tentu saja tanpa menyebut nama bendungan tersebut.
      Lalu saya terkesiap mendengar paparan seorang paranormal yang nadanya tak terlalu negatif dalam seminar yang saya ikuti. Erwin Bagindo, nama pria itu, mengaku biasanya meneropong bisnis hiburan di Tanah Air. “Boleh jadi ekonomi sangat lesu tahun ini, tapi menjelang ganti tahun depan, kalau dalam Cina itu tahun ayam, kiprahnya cukup bagus, cukup mencengangkan.”

    2. Ternyata harapan saya terlalu tinggi. Setelah berbicara lebih lanjut, ramalan Erwin lagi-lagi membelok ke arah pesimisme. Dia meyakini pada 2017 akan terjadi konflik etnik di Indonesia.
      “Masih ada ujian yang cukup prihatin, takutnya ini kaum etnis yang kena. Bukan pribumi, kaum etnis yang jadi korban nanti!”
      Terganggu dengan jawaban tiga peramal yang semuanya melulu soal kekacauan dan pesimisme yang bertendensi rasis, saya bergegas mencari orang yang pertama kali menyebut istilah ‘goro-goro’ (kegaduhan/bencana) dalam seminar tersebut: Permadi. Dia mengklaim sudah meramal kemenangan Donald Trump dalam pemilu AS sejak jauh-jauh hari.
      Permadi mengaku ramalannya terkait dinamika politik domestik maupun global, berdasarkan Jongko Joyoboyo. Itu adalah nubuat klasik dari seorang pujangga kerajaan Kediri yang punya pengaruh besar dalam budaya Jawa. Sosok Joyoboyo sudah menyerupai Nostradamus sang peramal besar Eropa.
      Permadi menilai demonstrasi umat Islam menuntut Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diadili atas kasus penistaan agama, merupakan awal dari rangkaian peristiwa kegaduhan yang akan mencapai puncaknya pada 2017. Permadi selain merupakan paranormal, adalah politikus Partai Gerindra yang menjadi oposisi Presiden Joko Widodo. Permadi beranggapan seharusnya Ahok ditahan karena mengomentari surat Al Maidah. Kekacauan ini baru akan berakhir setelah 2018, ketika muncul sosok pemimpin yang akan mempersatukan semua orang.
      Sosok ini akan membawa Indonesia menjadi negara besar. Mengalahkan Rusia, Cina, bahkan Amerika. “Akan muncul pemimpin sejati yang bernama Satrio Piningit,” seru Permadi. “Tuhan akan mengeluarkan, (dan) sekarang sedang menggembleng. Di bawah satrio piningit, Indonesia menjadi mercusuar dunia!”
      Dan, yang paling mengejutkan, dia mengaitkan politik AS dengan kepastian munculnya Satrio Piningit. Indonesia akan menjadi negara maju karena—menurut Permadi—di bawah kekuasaan Trump, AS bakal mengalami kemunduran.
      “Sejak semula, saya sudah mengatakan Donald Trump yang akan menang! Karena Amerika akan dihancurkan oleh Tuhan!”
      Ruangan auditorium lebih hening ketika Permadi menyerukan Ramalan-ramalannya. Ada yang termenung, ada yang mengangguk-angguk tanda setuju. Tapi, tak semuanya diam. Beberapa peserta di sebelah saya kasak-kusuk. Ya jelas saja akan ada perubahan setelah 2018, karena 2019 kan waktunya pemilihan umum. Betapa luar biasa analisis paranormal sekaligus politikus partai oposisi ini.
      Sesi Permadi harus berhenti lebih cepat. Pukul setengah dua, dia pamit menemui rekan-rekannya yang ditangkap polisi lantaran dituduh terlibat makar. Mendadak terlintas di benak saya, penangkapan 10 orang atas tuduhan makar itu sudah diramalkan Permadi atau tidak ya?
      Ya sudah, tampaknya saya harus ikhlas menerima kesimpulan bahwa 2017 bukan tahun menggembirakan. Setidaknya dari sudut pandang paranormal.

    3. Tibalah sesi terakhir seminar, sesi Ki Narto. Pria nyentrik yang mengenakan baju dan rompi kombinasi hitam-putih serta aksen merah di kerah. Saya siap menerima wejangan pesimis lainnya untuk membuat hari menjadi lebih kelabu. Prediksi saya meleset. Tidak ada pembicaraan soal politik dan kegaduhan. Ki Narto hanya mengajak peserta menyayangi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.
      Setelah menyanyi “Di Sini Senang, Di Sana Senang” selama beberapa saat, saya dalam hati bersyukur Ki Narto mengajak peserta berpikir positif, mencintai tubuh dan orang-orang di sekitarnya. Pengalaman pertama saya mendatangi seminar paranormal, yang beruntun memberi pertanda jelek soal 2017, jadi terasa tak buruk-buruk amat. Saya lantas ikut bersemangat bernyanyi.
      “3..2…1 di sini senang di sana senang, di mana-mana hatiku senang!”
      “Lebih kencang lagi!” kata Ki Narto. “Di mana-mana hatiku senang!”

      https://www.vice.com/id_id/article/pengalaman-mengikuti-seminar-paranormal-meramal-nasib-indonesia-yang-suram-pada-2017

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s