Dharani Kharana : CAHAYA BerSABDA Pada Sang Diri”

Katagori Sastra. Buah Karya : Kang Dharani Kharana

250px-dunia-kuburSeluruh Kehidupan Tertopang Getaran Sabda Nyanyian Semesta, Merupa Kebeningan Cahaya Membujuk Sejati,

Ini-Itu Terpelihara Berselimut Samudera Kasih-Sayang. Tiada Batas Bertepi Seiring Indah Melantun Dawai-Harpa-Nirwana.  Sabda Violin Meretas Sukma Tiada Bertuan. Seruling Surgawi Nyanyian Keberadaan Dentang Lonceng Dewata Memenuhi Dalam AUMan Harimau Di Lima Kesenyapan 

Kesadaran Duniawi Bukan-Tabu Pada Sejati Melayani Pekerjaan Badan Swa Di Raga

YA,
Pekerjaan Badan Melayani Kehendak BebasNya Alur Sebab-Akibat

Lahir Se-Diri
Hidup Se-Diri
Matipun Se-Diri

Bersama Badan Pun Seluruh Perangkat ini-itu Diri Tak Terduakan Walau Dikloning Menjadi Satu-Dua-Tiga-Dst Kesadaran Hanya Satu Yakni Diri

Diri-Kesadaran-Diri Satu Tidak Terduakan,
Tak Ada Diri Kedua
Selain Bayangan Sendiri,
Hanya Kesadaran Diri Milik Satu-SatuNya,
Tak Ada Diri-Yang-Kedua,
Swa Diri,
Dharma

“INILAH SEJATI”
IA Kebenaran Sejati,
IA Bukan Yang Berbatas,
Yang Tiada Batas Terjawab

Sinar,
“CAHAYA KEMURNIAN”

Oleh Kesadaran Tiada Diri Selain Sang Diri Me’Rupa CAHAYA Lalata Kebijaksanaan Seumpama Kelir Di Pusat kHening’An Kepala,
Sedemikian Alis Tenggorokan
Kehati Keusus Dan Selanjut Menuju Pemenuhan Pengetahuan Melayani Kehidupan,

Suara,
“SABDA PELEBURAN”

TerSABDAkan Pada
KARaNA Sedemikian Pasti Dalam Karani
Diri Tak Berbohong Mendua Pada Diri Selain Melantunkan Penegasan Kebenaran SABDA KARaNA Seumpama Ibu Jemari Perut SriGalaksi Cakrawala Bima Sakti

TaUTUHa
“KESADARAN”

Kesadaran Seumpama Dalang Disinari’Cahaya’Penerang Guna Melakon Wayang-Wayang Kehidupan Terbayang Di Kelir

Dan Bila Ki Dalang Mati Yang Bersisa Adalah Seumpama Sinar Dan Kelir Kehidupan,
Sedangkan Wayangnya Berhimpit Bersesakan Di Dalam Kotak Sempit Pengap Gelap Gulita

Kebenaran,
UTUH Tak Bisa Di Pisah-Pisah

Kebenaran Menghidupi Dirinya Sendiri,Ki Dalang Hanyalah Pewaris Laku,
Jadi Hentikanlah Kesombongan Hasil Kebodohan Menganggap Pembohongan Diri Sebagai Penghidup Dan Penjaga Kebenaran,
Sejati Kebenaran Maha Pemberani Tak Butuh BodyGod Penjaga Pemelihara,
IA Memelihara Diri Sendiri

Rupa-Rupa Ini-Itu
Sengaja Tercipta Dicipta Dalam Untaian Rantai Sebab-Akibat Rencana Evolusi Semesta,
Jalan

Agar Diri Mempertanyakan Sesiapa Mencipta -Bagaimana-Untuk Apa Oleh Idep-Kesadaran Pemenuhan-Intelektual Sendiri-Sendiri

Sebegitulah Kebebasan Di Sertakan Dalam Diri Berbentuk Kecerdasan Menggapai Kebijaksanaan Melahirkan Laku Budi Kesadaran Hidup,

Bebas Mempertanyakan Apa-Sesiapa-Mencipta, Sedemikan Menggapai Budi Tertinggi Melampaui Rasa Kematian

Kebijaksanaan Tertinggi Sejalan Daya-Upaya-Budi Menjadi BUDIDAYA,
BUDDAYA
“Hingga Suatu Masa Kesadaran Tertinggi Kembali Untuk Membungkam Kepalsuan,
Pemelihara Kegelapan

IA Hadir Dalam Jawaban Yang Tak Terurai Pada Bahasa Sebab Tiada Wujud Bila Di Wujud Menyimpang,
Apa Yang Dapat Dijelaskan Kedalam Bahasa Manusia Menjadi Salah Oleh IA Bukan Bentuk Wujud Hanya Melakui,
Laku Adalah Kebenaran,
Dharma

“Tiada Wujud Di Wujud Bahasa Manusia Menjadi Maha-Wujud”
“Tiada Batas Dibatasi Bahasa Menjadi Maha-Batas”

Dan Wujud Terdekat Tiada Wujud Diri Manu Merupa Kasih-Sayang Terpancar Dalam Sinar Laku Tersabda Budi

Tak Ada Penjelasan Selain Menjalani Kesadaran Berdiri Kukuh Pada ITU Dalam Suara Sinar Guna Meng’ESA
Laku

Sesuatu Yang Tabu Sejatinya Belumlah Tabu,
Sebab Idep Kesadaran Pasti Mempertanyakan Oleh Kehendak Bebas,
Terbungkam Pun Terdorong Oleh Kegelapan Yang Sama Diluar Diri Sebagai Rwa

Walau IA Sendiri Tau Pembungkaman Itu Sangatlah Menyakiti Kehendak Bebas
Namun Pekatnya Doktrin Kegelapan Di Diri Manusia Menjadi Sulit Mendobrak Pembekap-Kebenaran,

Oleh Kehendak Bebas Manusia Dapat Berdiri Merupa Kesempurnaan Dalam Kesadaran Tertinggi,
Pun Terendah Dalam Kebodohan Menjadi Landasan Alam Kegelapan

Namun Semua Ini Jalan,
Kehendak Bebas Menentu Pilihan Menyikapi Kehidupan Berdiri Dalam Gelap Atau Melebur Cahaya

Sejati Hanya Bercanda-Gurau Dalam Kedamaian Kesadaran Tertinggi Pengetahuan Sejati Diri, Pingit,
Tabu

Bertanyalah Saja Jika Ingin Terjawab,
Bila Jujur Mengakui Diri Bahkan Pertanyaan Sendiri Itu Ada Timbul-Tenggelam Di Diri

Namun Oleh Rasa Takut Pada Penebar Ketakutan Menjadikan Ketakutan Sebagai Sumber Penghidup,
Oleh Kebenaran Ia Penghidup Ketakutan

Apa Yang Tidak Semestinya Ditakuti Sebab Keyakinan Sendiri Seakan Olehnyalah Hidup,Sejati Kegelapan Pemelihara Ketakutan

Terimalah KasihNYA Tanpa Berbatas Ketakutan Buah Pikiran Manusia Sendiri

Men-Takut-i Penghidup Badan Halnya Takut Pada Pemberi Kehidupan,
Jika Takut Sama Saja Menakuti Kehidupan,
Menakuti Kehidupan Berarti Menolak Kasih-Sayang Dari Kekuatan Penghidupnya

jika Begitu Adanya,
Diri Sendirilah Yang Paling Berperan Melakukan Penolakan Pada Penghidupan Yang Layak

Jika Memberi Sedikit Ruang Kesadaran Bahwa Keberadaan Diri Penyebab brrkehidupan Dalam Alur Sebab-Akibat,
IA Dirinya Memelihara KehidupanNya Oleh Kekuatan Penghidup BadanNya Sendiri Tertopang Kekuatan Penghidup Seluruh Keberadaannya INI-ITU

Kebenaran
Sejatinya Tak Ada Pelarangan Kecuali Membungkam Kebenaran Sejati Dengan Pembenaran,
Seluruh Keberadaan Adalah Sebab-Akibat

Ketahuilah Tak Mempertanyakan Bila Hanya Bayu-Sabda Tanpa Idep’Kesadaran Seperti Halnya Tanaman Pohon Atau Api Tanah Angin Batu dstdst Yang Tercipta hanya Disertai “Bayu-Penghidup Sabda-Suara Saja”
Maka Gelap Pengetahuan Tanpa Cahaya Kesadaran

Idep-Kesadaran Seumpama Dalang Prosesor Cahaya Guna Mengendarai Badan Wayang Di Kuru Kelir Kehidupan

Oleh Maha Pencipta Yang Tiada Wujud,
Mawujud Seluruh Pertanyaan Berawal Pada Kesadaran Terjawab Oleh Kebijaksanaan Sumber Budi Pengetahuan Tertinggi

Penyertaan Idep-Kesadaran Yang Juga oleh Maha Pencipta ITU Sendiri Jugalah Menjadikan Diri Manu ini Sebagai Mesin Pencari-Jawab Tiada-Batas

Oleh Kegelapan Dirinya Sendiri Menanam Pelarang-Melarang Idep Rasa Pikiran Yang Dicipta Alam Kegelapan, Sedemikian Manusia Semakin Menderita Oleh Menghadap-Hadapkan Diri Pada Cahaya Pengetahuan,
Lupa Kesempurnaan Diri Guna Melebur Cahaya Penerang Kehidupan

Tapi Begitulah Adanya,
Omongan-omongan Basi Manusia Kita Hanya Sebatas Jangan-Begini Jangan-Begitu,
Ini Boleh Itu Jangan,
Itu-Ini Jangan-Boleh,
Ini-itu boleh-Jangan,
Jangan-itu Boleh-ini,
Boleh-ini Jangan-Itu,
Mata-Gosok Mata-Ilang
Obat Ampuh Pengabur Mata Kebijaksanaan Yang Di Cipta Penguasa Kegelapan

Permainan Kata-Kata Yang Sengaja di Setting Guna Memusingkan Hanya Membuat Manu Lupa Mengurus Badan Kehidupan Sendiri Yang Guna Sejati Turun Ke Bumi Agar Mengusaha Kemampuan Terbaik, Menjadi Sekaya Bisa Sehingga Dapat Berbagi Pengetahuan Kemakmuran Pada Yang Belum Menyadari Kemuliaan

Kebenaran Sejati Bukan Semata Menebar Cocot,
Namun Sekaligus Menanam Kekuatan Maha Penghidup Di Kehidupan Sedemikian Dapat Diketahui’NYA Pengetahuan Pemenuhan Kemakmuran

Itulah Mengapa IA Termulia Di Sebut Tuhan Hidup Oleh GUNA Badan Manusia Di Perlukan Sebagai Antena Penyambung Antara Tiada Wujud Kedalam Pewujudan,
Dan Hanya Kesadaran Badan Yang Masih Hidup Dapat Menjadi Penyambung,
Kesadaran Yang Sudah Mati Tinggal Di Alam Penyesalan Diri

Kemakmuran Ditopang Oleh Spirit (Semangat) Penghidup Untuk Memudahkan Diri ini-Itu Berselaras Alam Diluar Diri Yakni Pemenuhan Segala Di Alur Budi

Budi Hidup Terhidupi Spirit Penghidup Masing-Masing Diri,
“Selain itu BUKAN atau BUKAN Selain itu”
Sejati Budi Bukanlah Jalan,Budi Merupa Hasil Kebijaksanaan

Pengetahuan Tertinggi Berawal Mula Pemenuhan Intelektual,
Kebenaran Sejati Lembut Penuh Kasih Sayang Dalam Pelayanan,
Bertolak Belakang Dengan Alam Kepalsuan Yang Intimidatif Dan Kasar Tiada Budi,
Sok Tegas Oleh Ambisi Penguasaan

Ketahuilah Kebijaksanaan Hanya Bangkit Oleh Kehendak Bebas,
Sedemikian Bila Di Logigakan Guna Pemenuhan Intelektual Bahwa Pengetahuan Tertinggi Timbul Oleh Pertanyaan Tertinggi

Namun AMAT Bertolak-Belakang Yang Tertinggi Membatasi Pengetahuan Tertingginya Sebegitu IA Tidak Bisa Lagi Disebut Tertinggi

jikapun YA,
Benar Pelarangan Ada, Ketahuilah Maha Sempurna Kemuliaan Semesta Mewujud Semua Ini Dalam Kebijaksanaan Tertinggi,
IA Menyertakan Perangkat 7 Gerbang Super Berlapis-Lapis Seumpama Pengaman Laku Budi Tanpa Harus Disebut Larangan,
Namun Itu Bekerja Otomatis Melarang Oleh Kesadaran Sejati
Begitu Adanya,
Bukan Larangan

“Oleh Adanya Sebab-Akibat” Seluruh Kehidupan Semesta Berjalan Dalam Kebijaksanaan Tertinggi Apa Adanya,
Merupa Kebenaran

Tak Satupun Sebab Menjadikan Keharusan Baginya Mempertegas Kesempurnaan Ciptanya Ke Dalam “BATAS” Aturan Apalah Pelarangan Yang Otomatis Mengeliminir Ketiada-Batasan itu Sendiri

Guna Kehidupan Di Adakan Agar Manusia Berevolusi Melepas Sumber Ikatan Penderitaan,
Oleh tiada Pengetahuan Sejati Kegelapan Membutakan Pengetahuan Menjadikan Manusia Salah Memilih Posisi Berdiri Sejingga Larut Dalam Penderitaan

Tanpa Kebenaran Sejati Manusia Mendirikan Kesadaran Di Kegelapan Menghadap Cahaya Kehidupan Sehingga Tak Lagi Memiliki Kemampuan Menyelaraskan Seluruh Kehidupan Di Jalan Terbaik Sebagai Kewajaran

Yang Terbaik Memiliki Kesadaran Berdiri Dalam Sinar Kehidupan Mengamati Kegelapan,

Melebur “ESA” Sinar Kehidupan Mengamati Kegelapan

Damai Di Hati,
Damai Di Dunia

By : Ray-in-Maya

Advertisements

Nama, mail dan website BOLEH diKOSONGkan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s